Tante Hesti

22 07 2009

Waktu itu aku masih kelas 2 SMA di daerah Jakarta Selatan, aku tinggal sama bokap, cuma bokap aku suka pergi dinas keluar atau dalam negeri sehingga aku sering tinggal ber-2 dengan tanteku.

Begini ceritanya… Tante Hesti belum menikah karena tunangannya sudah menikah dengan orang lain umurnya kira-kira 36 tahun, tinggi 168 cm dan Bra 36A (aku tau setelah tante tidur dipelukan aku), mulanya aku biasa aja dengan kehadiran tante Hesti, namun karena seringnya kami berdua di rumah maka aku sering melihat hal-hal yang bisa bikin aku konak, contohnya kalau tante sering berpakaian minim dan transparan.

Suatu sore aku baru pulang sekolah karena lelah habis bermain basket hanya tidur-tiduran di depan TV, tiba-tiba terdengar suara mobil masuk dalam garasi, oh ternyata tante Hesti pulang dengan menenteng tas kerja.

“Hallo tante, baru pulang?” tanyaku pada tante Hesti.

“Iya Al, tante cape sekali.”

Mungkin karena udara diluar panas sekali kemudian tante langsung masuk kamar mengganti baju, namun alangkah terkejutnya aku dan kontolku melihat tante hanya mengenakan daster putih transparan dengan tidak memakai BH dan nampak CD hitam transparan sehingga terlihat bulu-bulu halus di sekitar memek tante, lalu tante berdiri dihadapanku (pas diatas TV ada AC) sehingga dengan leluasa aku melihat pemandangan indah dalam hidupku, kemudian duduk disebelahku sambil sedikit-sedikit melirik kearah tetek tante. Dari disitulah aku jadi penasaran untuk nyobain memek tante Hesti, malamnya aku hanya bisa onani sambil membayangkan pemandangan tadi siang.

Keesokannya waktu aku pulang sekolah ternyata tante sudah pulang kerja, seperti biasanya sebelum aku menyapa aku terpana melihat paha mulus tante yang hanya menggunakan celana stret warna putih menerawang sehingga jelas CD warna ungu dengan model G-string yang hanya menutupi garis memek tante.

“Hai tante, sudah lama pulang kerja?”, namun sapaan aku tadi dengan disertai rasa sakit di pangkal paha (pura2).

“Kenapa Al?” tanyanya.

“Ini tante, tadi main basket keram!” lalu aku pergi mandi dengan niat tidak mau memakai CD biar terasa kalau bergesekan dengan tante Hesti.

Pas aku selesai mandi ternyata tante mandi juga dikamar mandi pribadi. Jam menunjukkan pukul 20.00. Waktu itu hujan deras sekali diluar, tante Hesti keluar dari kamar (seperti biasa aku disuguhkan pemandangan meky + tetek) dengan memakai daster tipis warna hitam dengan CD putih transparan.

“Tante cape tidak kalau pijit kaki aku yang tadi keram?” tanyaku memaksa.

“Boleh, tapi kalau tambah sakit jangan salahkan tante ya?.”

Aku tengkurap diatas kasur mini, tante pun mulai mijit betis karena pikiran aku teringat waktu pulang sekolah tadi sehingga kontolku terasa sesak waktu tengkurap.

“Sekarang dengkulnya sini,” aku langsung berbalik tanpa ingat perubahan yang terjadi di celana Boxer hitamku.

Tante hanya tersenyum melihat kontol aku.

“Kok kamu ngaceng Al?” dengan malu aku bilang,

“Tau nih tante mungkin karena dipijit tante kali”

“Masa dipijit kakinya punya kamu yang tegang?” dengan tiduran sambil dipijit berhadapan aku ngerasa tambah konak kontolku sehingga kepala kontolnya keluar, tante Hesti mendesis

“HAA.. H!” mungkin karena tante kaget melihat kontolku ia berkata,

“Al, tante baru lihat burung cowok gede gini?” (ukuran kontol aku 22 cm, diameter 4 cm), tidak tau apa yang terjadi tiba-tiba aku berani bertanya,

“Emang punya tunangan tante tidak segini?” tante Hesti hanya tersenyum malu, entah disengaja atau tidak tante meremas-remas kepala kontolku sambil lidahnya melet-melet setengah dari mulut, aku hanya berdesah nikmat sambil ngusap rambut tante.

“Al, tante pingin ngerasain kontol yang gede kaya gini, boleh tidak?” aku tidak terbawa nafsu aku hanya nanya.

“Berapa gede punya tunangan tante?”

“1/4 punya kamu.”

“Kalo gitu boleh deh, cuma dikamar mama ya? Biar romantis!”

Kemudian aku dituntun ke kamar, aku hanya berdiri berhadapan kemudian kami berpelukan sambil melumat bibir tante yang tebal, tangan kiri aku merayap kearah tetek dan yang kanan aku usap-usap dan remes pantat tante Hesti, tangan tante mungkin juga tidak mau kalah menarik celana sehingga dengan tarik sedikit celana muncullah kontolku yang udah ngaceng abis. Kemudian tante turun kearah perut terus sampai tersodok kontolku, sempat terdiam tante melihat kontolku.

“Jangan lama-lama cium ya Al, tante pingin kontol kamu!”

1/2 jam puas spongin kontol aku lalu mengarahkan kearah memek tante yang udah basah, tante menarik badanku sampai terjatuh dikasur mama yang empuk,

“Cepat Al, jangan siksa tante.. please..”

Kemudian aku turunkan kepalaku kearah memek tante yang udah berlendir dan beraroma bunga (ternyata tante Hesti rajin merawat memeknya dengan terapi pengasapan). 15 menit puas jilatin dalem memek tante, mulut tante tak berhenti-hentinya bilang.

“Oooh… Al.. jangan dimainin terus.. masukin dong Al..” sambil suara terputus-putus.

“Ooh… ochh…”

Aku bimbing kontolku kearah memek terus aku gesek-gesek sambil teken ke dalam, terasa sempit memek tante sehingga aku tanya.

“Tante belum pernah ML ya? Kok sempit begini tan..?”

“Bukannya belum tapi kontol kamu yang kegedean untuk memek tante Al..” sambil merem melek mata tante dengan sedikit demi sedikit akhirnya masuk 1/2, mata tante melotot akhirnya aku hentak dengan kerasnya…

“Blessss..” masuk semua tante menjerit histeris…

“Sakit Al… pelan-pelan”

“Nikmatin aja tante, Al juga nikmat tante.. memek tante legit amat sih..”

“Oochh.. ooh… A.. ll.. och nikmat banget kontol kamu..” sambil terus aku gesek, tekan dengan keras aku merasakan peju tante beberapa kali keluar dengan mencakari tangan aku..

2 1/2 jam kami ngentot akhirnya teras penuh di ujung kontolku,

“Tante.. Al mau kelu..ar..” aku mendesis-desis menahan keluarnya maniku..

“Keluarin di da.. lem me.. mek tante aja”, dengan suara terputus-putus akhirnya pejuku muncrat di dalam.

Memek tante Hesti sampai banjir keselangkangan. Tante Hesti terkulai lemas dengan memeluk badanku sambil menciumi mukaku.

“Al.. kenapa tidak dari kemarin aja sih tante tau kalo kontol kamu kaya begini? Tante begitu tante mendingan aja kawin sama kamu biar setiap hari tante dientot sama kamu…”

“Tidak usah kawin tante, kalo tante mau tiap hari juga Al kasih, Al juga ngerasa ketagihan sama memek tante…” kemudian kami tertidur sampai pagi.

Hari itu tante minta cuti dengan menelpon kawannya sehingga kami berdua bisa seharian ngentot. Itu lah ceritaku yang udah lama terpendam. Sekarang tante Hesti berada di Australia untuk melakukan riset, aku pun merindukan memek tante Hesti namun kami sering telepon malah terkadang kami bercumbu di telepon.

Tante, Al merindukan kamu…. Thanks Tante…. Miss ‘U…


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: