Tante Iin

27 08 2009

Sekarang saya ingin lagi membagikan pengalaman saya sewaktu tinggal di salah satu kost-kostsan di Bandung. Rumah kost saya hanya mengontrakkan 1 kamar, yang punya rumah namanya Tante Iin dan suaminya Pak Asep.

Keluarga ini sangat baik dan ramah terhadap saya dan tidak heran mereka menganggap saya seperti anak kandungnya dan sering juga saya tidak bayar uang makan dan memang saya makan di rumah itu biar nggak susah-susah dan teratur makannya. Sedangkan kamar yang saya kontrak tepat di depan dan agak terpisah dari rumah tapi masih satu gerbang dengan yang punya rumah.

Itulah sekilas situasi pada saat saya mengalami kejadian ini.

Okey kita langsung saja saat itu saya hendak nonton Televisi ke rumah tante Iin sebelum saya masuk saya panggil

“Teteh…. teteh…..”

Nggak ada yang menyahut dari dalam rumah, dengan pelan kudorong pintu rumahnya eh ternyata nggak dikunci saya langsung aja masuk dan kutelusuri seisi rumah kok ngak ada orang ya… sepi amat ini rumah pada kemana semua penduduknya, agak ke dapur sedikit eh… terdengar suara gemercik air di kamar mandi siapa yang mandi ya, saya agak penasaran dan belum ada pikiran kotor saat itu gue liat eh ada ventilasi di atas pintu kamar mandi akhirnya saya jadi kepingin ngeliat siapa yang ada di kamar mandi.

Kamar mandi tante Iin memang agak besar dan sangat terang terlihat dari luar, aku mengambil kursi dan menaiki kursi. Benar tante Iin dengan T-shirt dan celan pendek masuk. Aku berdebar rupanya tadi baru mau beres-beres mau mandi. Dibuka kaosnya melalui kepala sehingga tampaklah BH warna cream.

Belahan susunya makin jelas ketika dia menunduk melepas celana pendeknya. Dan makin jelas lagi ketika BHnya dia lepas juga. Wow.. susunya!

Ukurannya sedang-sedang aja, mungkin sekitar 34, tapi benar-benar bulat. Ujung buah dadanya bulatan coklat yang agak besar dan putingnya begitu kuncup seperti buah dada Vivid bintang Porno yang terkenal itu. Khas buah dada seorang Ibu-ibu. Putih dan mulusnya…

CD warna cream dilepas juga. Jembutnya di cukur habis dan terlihat sangat seksi diujung selangkangannya. Tadinya aku mengharapkan lebatnya jembut, sebab kaki dan lengan tante Iin berbulu. Tapi justru aku bisa menikmati gundukan kewanitaan tante Iin yang mulus. Penisku tegang. Kupelorotkan kolor celana pendekku dan mulai mengelus-elus batangnya.

Di rumah aku memang biasa memakai oblong dan celana kolor pendek tanpa CD. Aku mulai mengocok waktu tante Iin menyabuni tubuh mulusnya. Kocokan tambah cepat ketika dia dengan agak lama menyabuni sepasang buah dadanya, sambil meremas-remas seolah memang sengaja merangsangku. Sampai akhirnya aku tak bisa menahan lagi untuk menyemprotkan air maniku ketika tante Iin mengucel-ucel susunya dengan handuk….

Sejak itu, mengintip tante Iin mandi menjadi “tugas pagi”ku yang rutin. Kadang sampai muncrat, seringnya hanya “menggantung”. Kalau tak bisa “nyampai” begini, aku meneruskan kocokanku di kamar sambil berkhayal menyetubuhi tante Iin. Tak enak memang kalau hanya nggantung” saja.

Begitulah kerjaanku hampir setiap hari, sampai pada suatu pagi seseorang memergoki tingkah rutinku …. Rutinitas membuat jenuh. Pagi itu sehabis ngintip tante Iin aku tak berhasil orgasme. Maklum, pemandangan yang sama dan rutin, mengurangi efek rangsangan. Aku benar-benar ingin meningkat dengan menyetubuhi tante Iin, tapi kayanya tak mungkin. Gagal mencapai puncak, kusimpan kembali penisku lalu duduk di kasur.

“Nak Larry”

Seseorang memanggilku, kayanya suara Tante Iin, Isteri Pak Asep.

”Ya Tan”

“Tante ingin bicara, boleh masuk?”

Bergegas aku berbenah diri, untung penisku udah cukup surut sehingga tak menonjol di kolor tanpa CDku. Aku membuka pintu, di depanku berdiri tante Iin dengan dasternya seperti biasa. Wajahnya kelihatan lebih segar, jadi makin tampak putih. Daster yang biasa dipakai itu memang agak ketat, cukup menonjolkan lekukan tubuhnya.

“Silakan masuk Tante” kataku hormat.

“Tumben, pagi-pagi, ada apa Tante?” lanjutku.

Tante Iin masuk, menutup kembali pintu kamarku, dan duduk di kursi belajarku, satu-satunya kursi yang tersedia. Aku kembali duduk dikasurku menyender ke dinding. Aku memang sengaja tak menggunakan dipan, hanya tikar rotan dan kasur yang dibentang di lantai kayu. Tante Iin duduk menghadapku menyilangkan kakinya. Karena posisiku lebih rendah, aku “terpaksa” mengamati sepasang kaki Tante Iin. Ternyata indah juga. Mirip kaki Vivid bintang Favoritku dalam Bintang Porno, panjang putih dan mulus dengan hiasan bulu-bulu halus. Aku sama sekali tak pernah mengamati Tante Iin, karena memang minatku tidak pernah ada untuk menikmati tubuhnya orang yang sangat baik dan ramah ini. Baru kali ini aku menikmati kaki indahnya.

“Gini nak…” tak berlanjut. Diam agak lama.

“Kenapa Tante?”

“Tante mau bicara langsung saja ya…”

Tiba-tiba aku berdebar. Ada apa nih, mungkinkah dia menyuruhku pindah sebab aku dengar ada keponakannya yang baru masuk Unpad dan cari tempat kost? Semoga jangan deh, aku udah amat betah di sini, lagian aku bisa kehilangan tante Iin mandi…

“Tante tahu apa yang Nak Larry kerjakan tiap pagi” suaranya pelan, halus, tapi bagi telingaku bagai petir di cuaca buruk, menggelegar.

Memang sudah hukum alam, barang busuk toh akhirnya tercium juga. Aku tak menjawab, hanya tertunduk malu, amat malu. Bayangkan, orang yang aku hormati ini tahu setiap pagi aku mengintipnya mandi…

“Kenapa Nak Larry lakukan?”

“Hmm.. eh …” gugup banget, keringat dingin.

“Kenapa nak?”

“Maafkan saya Tan…” hanya itu.

Dia diam menunggu kalimatku berikutnya.

“Nak Larry kan saya anggap anak sendiri” lanjutnya lagi setelah aku membisu.

“Benar Tante, mohon Tante maklum”

“Maklum apa”

“Umur saya sudah cukup untuk menikah, tapi sekolah belum selesai, jadi saya suka me… itu”

“Masturbasi maksud Nak Larry?” langsung aja si Tante ini.

“Benar Tan, saya hanya membutuhkan rangsangan untuk melakukan itu” lancar aja jawabku sekarang.

“Okey, Tante bisa memaklumi, cuman Tante khawatir kalau nak Larry keterusan trus berbuat ke orang lain”

“Engga dong Tan..”sahutku cepat.

“Okey, janji ya?” katanya sambil bangkit dan ikut duduk di kasur di sebelahku.

“Saya janji Tante”

“Jangan teruskan ya”

“Baik Tante. Tante enga bilang bapak kan?”

“Tergantung”

“Tergantung apa Tante” tanyaku sambil mulai berani memandang wajahnya, ingin tahu.

Aduuhh… Daster Tante berkancing di tengah-tengah dadanya. Diantara dua kancing itu ada tepi kain yang menganga menampakkan sedikit bulatan daging putih, tepi buah dada Tante. Dasar kurang ajar, udah dimarahin masih sempat juga mencuri pandang ke dada montok Tante…

“Ada syaratnya” katanya sambil meluruskan kaki dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.

Tepi dasternya sedikit tersingkap menampakkan sedikit paha yang amat putih.

“Apa Tan?” mendadak penisku mulai menggeliat. Celaka nih, aku tak pakai CD.

“Satu, kamu tak boleh mengulangi lagi”

“Saya kan udah janji Tan”

“Dua, jangan sekali-kali mengintip tante”

“Saya udah janji juga Tan”

“Tiga……”

Diam.

Lagi-lagi aku memandangnya menunggu. Tante masih membisu, menatap tajam mataku. Aku “ngeri”, mataku sedikit ke bawah menghindari tatapannya, justru menemukan pemandangan lain. Dada besar Tante Iin bergerak naik-turun seirama alunan nafasnya yang ternyata mulai memburu! Ada apa nih?

“Yang ketiga apa Tan”

Tante Iin masih diam, masih tajam menatapku, nafasnya tambah ngos-ngosan. Aku makin bingung!

Tiba-tiba Tante Iin melepas kancing dasternya yang paling atas, perlahan tapi pasti lalu kancing kedua, dan stop. Belahan dada putih itu terhidang di depanku. Belahan “dalam” yang menunjukkan bulatnya buah kembar disamping kiri dan kanannya. Penisku makin tegang!

Masih menatap tajam, diraihnya tanganku dan dituntunnya ke belahan itu. Aku langsung merasakan lembutnya dada Tante. Tante Iin menginginkanku? Tapi aku kurang yakin, tanganku masih pasif menempel di dada.

“Yang ketiga… asal Nak mau sama Tante …” barulah aku yakin.

Tanganku langsung bergerak menyusup dan meremas. Baru aku menyadari ternyata Tante Iin tak memakai BH. Kenapa tak kulihat dari tadi? Memang engga ada niat sih. Sekarang sih berminat, kontolku udah ngaceng…..

“Ooohhhhh …. terus Nak ….”

Reaksinya ketika aku makin semangat meremasi dadanya. Benar-benar dada istimewa, besar, lembut halus, putingnya sudah mengeras, tapi tentu saja tidak sekenyal dada sahabat sekuliahku yang kuperawani.

Tante Iin merebahkan tubuhnya ke kasur terlentang. Aku langsung menindih tubuhnya. Empuk …. Kedua tangannya meraih kepalaku dan kami lalu berciuman, ciuman panas, lidah tante begitu “ganas” mengerjai mulutku.

Tangannya ke bawah memelorotkan kolorku dan langsung menggenggam penisku. Dilepaskan ciumannya dan matanya melirik ke bawah.

“Punya nak Larry panjang ….”

Kusingkirkan tepi-tepi kain dasternya sehingga buah dadanya secara utuh terbuka, lalu kuserbu dengan mulutku. Dengan gemas bukit kembar itu aku ucel-ucel. Tante mengerang menikmati ucelanku. Tapi melarangku untuk menggigiti buahnya.

“Entar berbekas Nak …”

Benar juga. Tanganku juga kebawah menyingkap dasternya dan menelusup CDnya. Basah… kupermainkan itilnya dengan ujung telunjuk.

“Ooooghhhh…. Naaaak….”

Tak hanya itilnya, jariku terus ke bawah, menusuk.

“Oow!, pelan-pelan dong”

Cepat-cepat kutarik jariku, lalu menusuk lagi, perlahan.

”Aahhhhhh… sedaaap…”

Liang vaginanya makin membasah.

Tiba-tiba Tante Iin menolak tubuhku, jariku terlepas. Tante Iin langsung melepas kolorku, penisku mencuat.

“Ayo…. masukin… sekarang…”

Kulepas dasternya dan kupelorotkan CD, jembutnya tebal, itilnya menonjol gede… Tapi lubangnya kok engga kelihatan? Tubuh telanjang Tante Iin tergolek dengan kaki membuka lebar. Masa sih… liang itu begitu sempit?

Kubuang oblongku. Kutempatkan kedua lututku di antara pahanya yang mengangkang, kutempelkan penisku di bawah clit-nya.

“Pelan-pelan.. ya… Nak…. Tante udah lama engga..”

“Iya Tan. Udah lama engga?”

Aku mulai menusuk.

“Oooh …….” Busyet, mentok.

Tekan lagi dengan menambah tenaga. Uuhh, sempitnya. Rasanya aku tak percaya. Wanita matang berusia sekitar 35 tahun ini kok punya liang vagina yang sempit banget.

Sambil menggoyang pinggul, aku menambah tenaga tusukanku lagi. Nah, masuk deh.

“Aaaaaaahhhhhh…. sedaaaaapppp ..”

Tusuk lagi sampai penisku tertelan habis. Terasa banget jepitan dinding vaginanya dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelusi kepala penisku.

Aku mulai memompa. Pompaanku dibalas. Pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penisku serasa dilumati dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi. Ketika pinggulnya berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba aku merasakan jepitan teratur di dalam sana, sekitar 4 – 5 kali denyut menjepit, baru bergoyang aneh lagi.

Wah, tak kusangka, sedap juga wanita dewasa ini. Menyesal aku karena selama ini tak memperhatikannya. Wanita dengan wajah yang biasa-biasa saja, tubuh molig, punya ketrampilan berhubungan kelamin yang istimewa. Gerakan anehnya makin bervariasi. Terkadang aku malah meminta Tante Iin berhenti bergoyang buat menarik nafas panjang. Lumatan dinding-dinding vaginanya pada penisku membuatku geli-geli dan serasa mau ‘nyampe’. Aku tak ingin cepat-cepet sampai, masih ingin menikmati “elusan” vagina. Tapi Tante Iin makin galak, gerakannya makin liar…. Hingga aku menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi. Justru aku makin cepat bergerak mengimbangi goyangan pinggulnya. Aku sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat …

Dan akhirnya… pada tusukan yang terdalam, kusemprotkan maniku kuat-kuat, aku mengejang, melayang… , menggetar. Pada detik-detik aku melayang tadi, tiba-tiba kakinya yang tadi mengangkang, diangkat dan menjepit pinggulku kuat-kuat. Amat kuat. Lalu tubuhnya mengejang beberapa detik mengendor dan trus mengejang lagi.

”Aaaaaaaahhhhhh” Tante Iin benar-benar teriak.

Aku khawatir teriakannya terdengar sampai tetangga, makanya kututup mulutnya dengan mulutku. Beberapa detik dia histeris. Lalu jepitan kakinya terasa mengendor. Kakinya jatuh ke samping, tangannya juga, rebah dan lemas….

“Terima kasih Naak …” pipiku diciumi.

“Saya juga Tan …. Tante sedap banget” kataku jujur.

“Ah masa… Nak Larry bukan main”

“Kenapa Tan?”

“Udah lama Tante puasa lho…”

“Ah masa”

“Benar”

“Emangnya Bapak …”

“Pagi udah berangkat, pulangnya malem, udah lama engga menyentuh Tante”

“Tante jangan bilang ke Bapak ya”

“Iyaa dong, gila apa”

“Maksud saya, tentang mengintip itu…”

“Jangan khawatir, asal …”

“Syarat yang ketiga? Syarat yang nikmat begini sih okey aja” potongku.

Tante Iin langsung menciumi mukaku.


Aksi

Information

One response

7 05 2010
anderson

saya juga mw tnte…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 333 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: