Buah Dada Pasienku

5 10 2009

Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokter umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.Aku pun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.

“Ah kamu bisa aja”

“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.

Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.

Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku.

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tionghwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil-kecil warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.

Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu?” sapaku.

“Ini Dok sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”

“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu?“

“Benar dok”

“Badannya panas?”

Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.

“Agak anget kayanya”

Kayanya radang tenggorokan.

“Trus mulesnya. Ke belakang terus engga?”

“Iya Dok”

“Udah berapa kali dari pagi?”

“Hmmm… dua kali”

“Ibu ingat makan apa saja kemarin?”

“Mmm rasanya engga ada yang istimewa, makan biasa aja di rumah”

“Buah-buahan?”

“Oh ya… kemarin saya makan mangga, 2 buah”

“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.

Seperti biasa, aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.

Stetoskopku udah kupasang ke kuping. Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu”

“Eh.. hmmm.. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.

Oohh… bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. putihnya dan menjulang.

Sejenak aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikit pun niatan untuk berbuat lebih.

Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.

“Maaf Bu ya..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas.

Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.

“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walau pun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.

Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya.

Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas. Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.

Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.

“Cukup Bu.”

Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.

“Sakit apa saya Dok” tanyanya.

Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisinya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah.

“Radang tenggorokan dan disentri”

“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.

“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.

“Karena apa Dok disentri itu?”

Sepasang pahanya masih terbuka. Ah! Kenapa aku jadi nakal begini? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun dari pembaringan.

Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”

Oo.. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.

Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”

“Apa Bu, kok engga sekalian tadi”

Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.

“Maaf Dok .. saya khawatir.. emmm ..” Diam.

“Khawatir apa Bu?“

“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir.”

“Setahu saya itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap-siap mau pulang.

“Benar Dok”

“Ibu merasakan keluhan apa?”

“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”

“Oh… itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara”

Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar-benar montok itu.

“Saya engga tahu Dok”

“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku.

“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.

“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”

Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”

“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”

“Terima kasih Dok”

“Sama-sama Bu, selamat sore”

Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu. Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu udah baikan?”

“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”

“Perutnya?”

“Udah enak”

“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit?”

“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”

“Udah diperiksa belum..?”

“Udah sih cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.

“Cuman apa.”

“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”

“Memang terasa ada, gitu “

“Kayanya ada kecil tapi ya itu… saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa? Ah, jangan ge-er kamu.

“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.

“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba-tiba, seperti di luar kontrol.

“Eh.. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu-malu.

Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.

“Baiklah, kalau Ibu yang minta”

Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus!

Oh ya… Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah… paha itu lagi makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun! Baru kali ini aku terangsang oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”

Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.

“Dada kanan Bu ya.”

“Benar Dok”

Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari-jariku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja..

“Maaf ya Bu.” kataku sambil mulai mengurut.

Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow! bukan main padatnya buah dada wanita ini.

Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu?”

“Eehh… di dekat puting Dok… sebelah kanannya.”

Aku menggeser cup BH-nya lebih ke bawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba-tiba sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan BH-nya tanpa menunggu persetujuanku.

Oohhh… jangan dong. Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apalah..

Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan.. Syeni memelorotkan sendiri cup-nya…

Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya… benar-benar bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, puting kecilnya berwarna pink, merah jambu!

Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh puting merah jambunya itu.

Dan.. puting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang!

Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda-tanda kangker.

“Yang mana Bu ya.”

Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar-benar tegang sekarang.

“Itu Dok… coba ke kiri lagi.. Ya… itu.” katanya sambil tersengal-sengal.

Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terangsang.

“Oh… ini.. bukan Bu… engga apa-apa”

“Syukurlah”

“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti.

Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya.

Tapi …

“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri.” katanya sambil menggeser BH-nya ke bawah.

Hah? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang.. puting kirinya pun sudah tegang. Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan… melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong… aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok?” pertanyaan yang mengagetkan.

“Ah.. engga apa-apa… cuman kagum”

Ah! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.

“Kagum apa Dok”

Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.

“Indah .”

Lagi-lagi aku lepas kontrol

“Ah… dokter bisa aja… indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.

“Apalagi .”

“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !

“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.

Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.

Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.

Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.

“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”

“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka.

Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?

Gila!

Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya.

Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please… ayolah…” Tangannya meremas celana tepat di penisku.

“Ih kerasnya..”

“Engga bisa dong Bu ..’

“Dokter udah siap gitu…”

“Iya.. memang.. Tapi masa…”

“Please dokter… Cumbulah saya.”

Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini?

“Nanti aja. Tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga.

“Saya udah engga tahan.”

“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.

“Okey… okey. Bener ya Dok”

“Bener Bu”

“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”

“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.

“Ehhhhfff”

Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.

“Habis Dok”

Dia langsung berberes. Rapi kembali.

“Dokter belum mau pulang?”

“Belum. Silakan duluan”

“Baiklah, kita duluan ya”

Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.

Syeni masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.

Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.

“Dok …”

“Ya. Syeni .”

Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini. Benar-benar.. ehm.

Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener.

Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda, cantik dan sexy, dengan gaya menantang.

Ku buka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar-benar mendebarkan.

Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan BHnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi…

Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh.. Maaassss..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas!

Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayi pun menyentuhnya. Syeni memang ibu muda yang belum punya anak.

“Maaaasss.. Sedaaaap..” rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi puting dadanya.

Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan puting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Aku pun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan mengeksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.

Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba-tiba sekarang bergerak menolak punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya, Mas.” kata Syeni

Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari CD-ku, membuatku makin tegang aja. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow.. bukan main..” katanya sambil menatap penisku.

Wah tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila!

Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing”…

Kemana CD-nya? Oh.. dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.

“Kapan melepasnya?”

“Tadi, sebelum turun.”

Kupelorotkan roknya sampai benar-benar lepas.. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambut kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.

Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena..

“Maass.. masukin mas.. Syeni udah engga tahan lagi..”

Wah, dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.

“Uuuuuhhhhhh.. sedaaaapppp ..” rintihnya.

Padahal baru kepala penisku aja yang masuk. Aku menekan lagi.

“Ouufff.. pelan-pelan dong Mas..”

“Sorry…”

Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.

Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti… Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya.

Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak-acakan. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau? Siapa yang kamu setubuhi ini? Pasienmu dan isteri orang Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.

Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan?

Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang.

Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya… sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.

Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku. Karena memang aku tak mampu menahan lagi..

Creetttttttt………..

Ku semprotkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut…

Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.

Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …

Oh.. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku. Pasien yang memiliki vagina yang “legit”.

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih HP-nya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar Spanyol.

“Siapa Syen” tanyaku.

“Koko, Suamiku” Oh.. Mendadak aku merasa bersalah.

“Curiga ya dia”

“Ah… engga.” katanya sambil menghambur ke tubuhku.

“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.

“Suamimu tahu kamu ke sini”

“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter”

Tiba-tiba dia memelukku erat-erat.

“Terima kasih ya Mas… nikmat sekali.. Syeni puas”

“Ah masa… “

“Iya bener… Mas hebat mainnya.”

“Ah… engga usah basa basi”

“Bener Mas… malah Syeni mau lagi .”

“Ah… udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”

“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”

“Gimana nanti aja… entar jadi lagi”

“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.

“Oh ya..?”

“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.

“Kok BH-nya engga dipakai?”

“Entar aja deh di rumah”

“Entar curiga lho, suamimu”

“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”

Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blouse ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Buah dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terangsang lagi. Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”

“Habis… kamu sexy banget sih …”

“Ah… masa… Kok bajunya belum dipakai?”

“Entar ajalah… mau mandi dulu.”

Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat-erat sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.

“Syeni pulang dulu ya Yang. Kapan-kapan Syeni mau lagi ya.”

“Iya… deh. Siapa yang bisa menolak..”

Tapi, kenapa nih… Penisku kok bangun lagi.

“Eh… Bangun lagi ya…” Syeni ternyata menyadarinya.

Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.

“Mas mau lagi..?”

“Ah… kamu kan ditunggu suami kamu”

“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.

“Udah malam Syen, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda-benda yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku…

Penisku langsung menerobos vaginanya. Syeni bergoyang bagai naik kuda. Sekali lagi kami bersetubuh.

Kali ini Syeni mampu mencapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprot vaginanya dengan air maniku.

Lalu dia rebah menindih tubuhku… Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana..” katanya sebelum pergi.

“Ngaco… suamimu?”

“Kalo dia sedang engga ada dong…”

Baiklah, kutunggu undanganmu.

Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy.


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 334 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: