Doraemon X: Mesin Penambah Umur

13 04 2010

Pada suatu siang, Nobita pulang sekolah dengan wajah kusut dan perasaan kesal. Sesampai dikamarnya, Nobita melemparkan tas sekolah yang ia bawa tanpa melihat arahnya. Tanpa sengaja tas itu mengenai Doraemon yang lagi asyik tiduran diatas lantai.

“Aduh.. Nobita ada apa sih pulang-pulang kok marah-marah gitu?”, tanya Doraemon sambil mengusap-usap kepalanya.

“Oh, maaf-maaf Doraemon, aku nggak sengaja!”, sahut Nobita dan meninggalkan Doraemon.

Sekesal-kesalnya Nobita tapi untuk urusan perut lapar, ia tak pernah tidak memperhatikannya. Dengan perut kenyang Nobita kembali kekamarnya.

Bertemu muka dengan Nobita yang sedang murung, Doraemon kembali bertanya, “Ada apa kok murung terus? Apa ulanganmu jelek lagi? Apa dimarahi gurumu lagi?”.

“Kalau urusan ulangan jelek dan dimarahi guru itu biasa, ini lain”, jawab Nobita.

“Lalu ada apa?”, tanya Doraemon lagi.

“Ini soal uang. Teman-teman sepakat urunan 1000 yen per anak untuk tamasya ke pantai padahal tabunganku udah habis. Gimana dong, Doraemon?”, tanya Nobita.

“Ya nggak usah ikut!”, jawab Doraemon santai.

“Uhh.. malu dong sama teman-teman!”, kata Nobita dengan wajah melas.

“Eh, Doraemon punya nggak mesin untuk menghasilkan uang?”, tanya Nobita.

“Nggak ada mesin seperti itu, yang ada mesin-mesin untuk membantu orang memperoleh uang”, ujar Doraemon.

“Apa itu?”, tanya Nobita penasaran.

“Contohnya ini, Mesin Penambah Umur”, ucap Doraemon sambil mengeluarkan sebuah mesin dari dalam kantong ajaibnya.

“Bagaimana caranya dapat uang dengan mesin itu?”, tanya Nobita tak yakin.

“Dengan mesin ini umurmu bisa bertambah dan dengan bertambahnya umurmu kamu dapat memperoleh pekerjaan orang dewasa”, kata Doraemon.

“Bekerja? Malas ahh..”, ucap Nobita.

“Dasar kamu pemalas, mana bisa dapat uang kalau tanpa bekerja?”, tanya Doraemon dengan kesal.

Tapi Nobita tak menanggapi lagi ucapan Doraemon karena sudah tertidur tak tertarik dengan usulan Doraemon.

Malam hari setelah Nobita menyelesaikan tugas-tugas sekolah, dilihatnya mesin penambah umur yang diperlihatkan Doraemon siang tadi tergeletak di pojok kamar. Ia menjadi penasaran untuk mencoba mesin itu. Ia kepingin tahu wajahnya pada waktu dewasa nanti. Tak tahu cara mengoperasikan alat itu, dicarinya Doraemon. Doraemon yang sedang asyik menonton acara “Goyang Inul”, dari televisi ditarik paksa oleh Nobita kekamarnya.

“Ada apa sih gangguin aja?”, tanya Doraemon kesal.

“Ini gimana cara pakainya?”, tanya Nobita dengan menunjukkan mesin itu.

Setelah menerangkan caranya pada Nobita, Doraemon kembali keruang tengah menyelesaikan acara kesayangannya.

Khawatir diketahui orang tuanya, Nobita mengunci pintu kamar sebelum mencoba alat itu. Setelah memasang beberapa kabel ke keningnya, ia memutar saklarnya pada angka “15 tahun”. Lantas dipencetnya kenop yang ada di alat itu. Jleb.. sekarang Nobita sudah berubah menjadi pemuda berusia sekitar 25 tahunan. Segera ia lepas semua kabel dari keningnya, lalu mendekat pada cermin yang terletak didekat jendela.

“Wah, alat Doraemon hebat! Aku jadi pemuda ganteng..”, kagum Nobita pada dirinya sendiri.

Tak puas hanya melihat wajahnya saja, Nobita lalu melepas semua pakaiannya hingga telanjang.

Terus mengagumi dirinya sendiri Nobita tak sadar bahwa tetangganya yang baru saja pindah disamping rumahnya, melihatnya telanjang dari jendela kamar Nobita yang ada dilantai atas. Nyonya Michiko, tetangga Nobita adalah wanita berumur 29 tahun, istri seorang karyawan swasta dan telah 4 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Melihat ada seorang pemuda dikamar Nobita, nyonya Michiko sedikit heran karena ia tahu bahwa Nobita anak tunggal. Keheranan nyonya Michiko terganti dengan rasa penasaran pada pemuda yang saat ini dilihatnya lagi telanjang.

Beberapa menit sudah berlalu tapi Nobita masih tetap belum puas memandangi dirinya sendiri dari cermin dimukanya. Secara tak sadar tangannya yang lagi mengusap lembut tubuhnya sendiri melewati daerah kemaluannya. Rangsangan ringan yang tak disengaja pada pemuda seusia Nobita saat ini membuat burungnya yang menggantung berubah mengeras dan berdiri. Tentu saja hal ini membuat Nobita agak kaget. Dipegangnya burung itu sehingga ukurannya makin lama makin besar dan semakin keras. Tegak berdiri pada ukuran maksimalnya, Nobita merasakan keenakan ketika mengusap burungnya. Usapan tangan dan sedikit remasan pada burungnya membuatnya lupa diri.

Muka Ny. Michiko menjadi merah melihat dengan jelas kejadian itu melalui jendela kamarnya. Merasa malu karena mengintip pemuda telanjang tapi segan menghindarinya karena desakan nafsunya juga sudah tinggi. Tak terasa tangannya sudah masuk berada dibalik kimononya, mengusap-usap permukaan celana dalamnya hingga agak basah. Tapi tak lama kemudian ia terpaksa harus menyudahinya karena kedatangan suaminya dari pulang kerja.

Nobita yang masih heran dan bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya tadi bergegas mengenakan kembali pakaiannya dan merubah kembali tubuhnya ke bentuk semula ketika mendengar teriakan Doraemon mengajaknya makan malam bersama. Setelah membuka pintu kamar, ia segera keruang makan untuk bergabung dengan keluarganya dan Doraemon.
Dilihatnya Doraemon sudah melahap makanannya sambil berkata pada Nobita,

“Cepat Nobita.., sebelum kuhabiskan semuanya! Nonton goyang Inul bikin perutku ikut lapar”.

Nobita yang khawatir nggak kebagian makanan, segera ikut bergabung.

Malamnya ketika Doraemon dan Nobita akan beranjak tidur, Nobita menyempatkan diri menghirup udara malam yang segar melalui jendela kamarnya yang terbuka. Tiba-tiba Nobita memanggil Doraemon yang lagi siap-siap berangkat tidur.

“Sini Doraemon.. ayo cepat sini!”, perintah Nobita.

“Ada apa sih?”, tanya Doraemon menuju ke jendela.

Tanpa komentar lagi keduanya langsung memelototi sebuah pemandangan yang menghebohkan.

Keduanya melihat tuan dan nyonya Michiko sedang asyik melakukan adegan panas.

“Apa sih yang mereka lakukan?”, tanya Nobita.

“Ssst.. ini lebih asyik dari goyang Inul!”, kata Doraemon sambil menarik Nobita menjauh dari jendela.

“Uhh.. Doraemon ada apa sih main tarik aja!”, ujar Nobita.

“Jangan ramai nanti mereka tahu kalau diintip. Pake ini aja, Mesin Teleskop Penembus Dinding! Cepat pasang yang ini ke jendela, kita tonton dari layar ini”, kata Doraemon sambil mengeluarkan sebuah alat dari kantong ajaibnya dan memberi arahan pada Nobita.

Ternyata yang dikatakan Doraemon benar. Dari layar kecil yang terhubung dengan kamera kecil terarah kerumah tetangga Nobita, mereka berdua dapat lebih jelas melihat apa yang dilakukan oleh tuan dan nyonya Michiko.

Terlihat Ny. Michiko dengan buasnya menunggangi suaminya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Dengan bermandikan keringat tuan dan Ny. Michiko terus menggerakkan semua bagian tubuhnya hingga keduanya lemas terlentang diatas ranjang.

“Hehehe.. asyiik!”, ucap Doraemon.

“Apanya yang asyik?”, tanya Nobita tak mengerti samasekali.

“Nobita kamu masih kecil jadi ya belum mengerti soal begituan”, jawab Nobita.

“Soal begituan apaan?”, kejar Nobita.

“Huh, kalau kuterangkan aku yang capek, ini pake aja, aku mau tidur”, jawab Doraemon sambil menyerahkan sebuah alat mirip helm yang baru dikeluarkan dari kantong ajaibnya.

“Apa ini?”, tanya Nobita lagi.

“Itu adalah Mesin Kamasutra, udah pakai aja dikepalamu nanti kamu tahu sendiri, aku mau mimpi ngebor Inul”, jawab Doraemon lalu tidur.

Setelah naik keatas ranjangnya, Nobita mengenakan alat tersebut. Sebuah bayangan seakan-akan muncul didepan matanya. Bayangan-bayangan itu menerangkan perihal soal sex dan semua yang ditanyakan dalam pikiran Nobita dapat terjawab dengan jelas. Satu jam berselang dan Nobita mulai merasa ngantuk tapi ia masih enggan untuk mengakhiri penjelajahan dalam dunia sex yang baru saja dimasukinya. Merasa cukup iapun kemudian tertidur dengan masih memakai Mesin Kamasutra dikepalanya.

Dalam tidurnya, Nobita bermimpi bertemu dengan Shizuka, teman sekelasnya. Dalam mimpi itu Nobita dan Shizuka sama-sama telanjang dan sedang mandi dipantai yang sepi. Mereka berdua saling mendekatkan tubuh dan berciuman mesra sampai sebuah ombak yang datang menjatuhkan mereka berdua. Dengan saling berdekapan mereka terseret ombak hingga kepinggir pantai berpasir. Diatas pasir putih itu Nobita menindih Shizuka sambil terus bercumbu. Burung Nobita yang telah berdiri mengeras menancap pada liang kewanitaan Shizuka yang masih gadis. Berdua mereka membuat irama seiring desiran angin pantai. Saling menatap keduanya melepas hasrat yang telah sampai puncaknya.

Sementara itu Doraemon juga bermimpi melihat langsung Inul lagi menari dan berjoget didepannya diiringi alunan melodi dangdut. Dalam mimpi itu, Doraemon juga lagi bersiap-siap untuk memasukkan burungnya kedalam liang kewanitaan seorang wanita cantik yang telah berbaring terlentang dilantai tempatnya berdiri. Wanita itu memiliki wajah persis seperti Ny. Michiko tetangga Nobita.

“Ayo.. Doraemon cepat masukin!”, pinta wanita itu.

Entah dengan alat apa batang kemaluan Doraemon bisa menjadi mirip mata bor yang besar. Lalu dengan memencet sebuah tombol ditangannya batang kemaluan Doraemon bisa berputar layaknya mesin bor, ngiing.. itulah bunyinya. Pelan tapi pasti Doraemon memasukkan batang kemaluannya yang terus berputar kedalam liang kewanitaan wanita cantik itu. Ngiing.. keluar masuk batang kemaluan Doraemon mengebor liang kenikmatan wanita itu.

“Aaah.. terus Doraemon.. aahh.. sshh.. ohh.. bormu enak!”, teriak wanita itu keenakan sambil bergelinjang gelinjang liar.

Lalu Doraemon memencet tombol lagi di jam tangannya sehingga putaran batang kemaluan makin cepat disertai gerak hentakan maju mundur persis dengan mata bor hammer drill.

“Oooh.. ahh.. a.. aku keluar Doremoon!”, teriak wanita itu sambil menarik pantat Doraemon agar batang kemaluannya masuk hingga batas terdalam.

Dengan segera Doraemonpun memencet lagi tombolnya untuk mengurangi kecepatan putar dan mematikan gerak hentakan batang kemaluannya. Dirasakannya gemuruh tekanan cairan hangat yang keluar dari liang kenikmatan wanita itu pada sekujur batang kemaluannya. Pencetan tombol berikutnya membuat arah putaran batang kemaluannya berbalik dan sedikit demi sedikit keluar meninggalkan liang kewanitaan wanita itu. Byoor.. menyemburlah cairan hangat yang sangat banyak dari liang kewanitaan itu hingga membasahi seluruh tubuh Doraemon. Tak mau kalah, Doraemonpun memencet lagi tombol dijam tangannya. Dan ujung batang kemaluan Doraemon terbuka katupnya sehinga croot.. croot.. croot.. menyemburlah cairan pekat yang tak kalah banyak membasahi seluruh tubuh wanita yang terbaring lemas itu.

Byuur, sebuah siraman dari Ibu Nobita membangunkan Doraemon dari tidurnya dan membuatnya lari tunggang langgang dengan arah tak menentu. Byuur lagi, sekarang giliran Nobita.

“Brr.. hi.. dingin!”, ucap Nobita.

“Ayo bangun cepat Nobita, kamu bisa kesiangan ke sekolah!”, teriak Ibu Nobita.

Nobita pun segera berlari ke kamar mandi dan segera bersekolah, sementara Doraemon duduk-duduk santai mengeringkan bulu-bulunya di teras rumah.

Sepulang sekolah Nobita langsung masuk rumah dan berteriak-teriak mencari orang yang ada dirumah. Tapi tak satupun jawaban yang ia dapatkan. Sampai dihalaman belakang ia masih celingukan kekiri dan kekanan. Lantas didengarnya sebuah teriakan dari rumah Ny. Michiko.

“Hai.. Nobita, kamu mencari siapa?”, teriak Ny. Michiko bertanya padanya sambil sibuk menjemur seprei.

“Oh, Ny. Michiko, saya mencari Ibu dan Doraemon”, jawab Nobita sambil berjalan mendekat kearah rumah Ny. Michiko.

“Mereka tadi keluar untuk belanja, soalnya di pasaraya ada obral besar”, jawab Ny. Michiko.

“Terima kasih!”, ucap Nobita sopan menyembunyikan kekecewaannya karena sudah lapar.

“Nobita, kamu sudah makan?”, tanya Ny. Michiko yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Nobita.

“Ayo makan siang ditempatku”, ajak Ny. Michiko.

Dengan malu-malu, akhirnya Nobita menerima ajakan makan siang itu.

Pada saat makan siang Ny. Michiko bertanya pada Nobita perihal pemuda yang terlihat dikamar Nobita. Meskipun terkejut tapi Nobita berusaha keras menyembunyikan hal yang sesungguhnya dengan berbohong bahwa pemuda itu adalah saudara jauhnya yang lagi mencari pekerjaan sambilan karena sedang membutuhkan uang. Dengan wajah berbinar Ny. Michiko meminta Nobita untuk menyampaikan pada saudaranya bahwa ia membutuhkan orang untuk membersihkan rumah. Merasa ada kesempatan emas, Nobita segera pulang selepas melahap makan siangnya.

Segera setelah Nobita merubah wujudnya menjadi pemuda berumur 25 tahunan ia kembali kerumah Ny. Michiko, tapi kali ini lewat pintu depan. Nobita dewasa memperkenalkan diri sebagai Eifuku dan disambut dengan ramah oleh Ny. Michiko yang hanya memakai kaos panjang tipis sebatas paha tanpa bawahan. Ny. Michiko juga memohon maaf atas pakaiannya yang kurang sopan karena sedang mengepel lantai rumah. Eifuku alias Nobita segera menawarkan bantuan yang segera diterima oleh Ny. Michiko.

Karena akan melakukan pekerjaan yang cenderung basah maka Eifuku memohon ijin untuk melepas pakaiannya. Tanpa berpikir panjang lagi, Ny. Michiko langsung menyetujuinya bahkan diam-diam hal itulah yang diharapkannya. Hanya dengan celana dalam Eifuku segera memulai pekerjaan mengepel lantai itu. Ny. Michiko yang memperhatikan benjolan besar dari depan celana dalam Eifuku sempat tertegun dan salah tingkah dengan wajah merah dipipinya.

Satu jam berlalu dan Eifuku alias Nobita telah menyelesaikan pekerjaannya. Tapi Ny. Michiko mencoba mengulur waktu dan menunjukkan sebuah kolong berukuran 1×1 meter mirip ruangan kecil tapi panjang untuk dipel juga. Eifuku pun menuruti saja perintah itu meskipun dia yakin bahwa kolong itu tak ada gunanya dibersihkan. Dengan susah payah Eifuku berusaha menyelesaikan secepatnya. Namun baru separohnya dipel, Ny. Michiko ikut pula masuk kedalam kolong sempit itu dengan dalih ingin melihat hasil pekerjaan Eifuku.

Kolong sempit itu membuat tubuh Eifuku dan Ny. Michiko saling bersentuhan. Dengan berdesakan Ny. Michiko memaksakan diri sampai pada ujung kolong dengan tengkurap sementara Eifuku memberinya jalan dengan bertumpu hanya pada tubuhnya bagian kanan. Tak kuat menahan tumpuannya, tubuh Eifuku terjatuh tak sengaja menindih Ny. Michiko dengan posisi tengkurap juga. Tak pelak benjolan bagian depan celana dalamnya menyentuh serta bergeseran pada pantat dan selakangan belakang Ny. Michiko. Burung Eifuku sontak mengeras berdiri yang dirasakan pula oleh Ny. Michiko. Mendesah pelan ia pun mencoba menggoyangkan pinggulnya dan merapatkan kakinya menjepit benjolan batang kemaluan Eifuku. Sedikit terkejut oleh jepitan itu, Eifuku malah mendorongkan tubuhnya sehingga batang kemaluannya yang panjang dan besar mengeras itu tak hanya menerobos celana dalamnya tapi juga menerobos jepitan kaki Ny. Michiko hingga mencapai bagian depan daerah kemaluan Ny. Michiko.

Desahan pelan Ny. Michiko semakin menjadi-jadi seakan membuat ajakan pada Eifuku alias Nobita. Merasa ada kesempatan untuk mempraktekan ilmu dari mesin kamasutra yang dipelajarinya semalam, Eifuku membuat gerakan. Kaos tipis Ny. Michiko ia tarik keatas hingga lepas, cumbuannya ia lemparkan pada tengkuk hingga sekujur tubuh Ny. Michiko. Lalu dilepaskannya celana dalam Ny. Michiko yang masih tengkurap dan melanjutkan cumbuannya pada daerah kemaluan Ny. Michiko sambil melepaskan celana dalamnya sendiri. Ny. Michiko mengerang keras sambil bergelinjang merasakan kenikmatan lidah Eifuku menerobos liang kewanitaannya.

Beberapa saat kemudian giliran batang kemaluan Eifuku alias Nobita menerobos liang kewanitaan Ny. Michiko. Desahan dan erangan silih berganti keluar dari mulut Ny. Michiko seiring dengan gerak maju mundur pinggul Eifuku, remasan tangan Eifuku pada payudaranya dan jilatan lidah Eifuku pada tengkuknya. Keluarnya cairan hangat kewanitaannya dari dalam liang kenikmatannya menyudahi desahannya dengan napas tersengal-sengal. Eifuku melepas batang kemaluannya yang telah basah kuyub dari liang kewanitaan Ny. Michiko. Lantas ia membalikkan badan Ny. Michiko yang masih lemas itu.

Wajah cantik Ny. Michiko dicumbuinya dan bibir mungil Ny. Michiko menjadi korban lumatan mulut Eifuku. Ny. Michiko hanya membiarkan perbuatan Eifuku itu dengan mata terpejam sembari mengumpulkan tenaga baru. Sedikit demi sedikit kedua kaki Ny. Michiko melebar memberi jalan batang kemaluan Eifuku yang ada diantaranya. Sambil memberi hisapan yang dalam pada pangkal leher kiri Ny. Michiko, Eifuku alias Nobita mendorong masuk batang kemaluannya hingga tempat yang terdalam. Terbelalak mata Ny. Michiko sambil menjerit keenakan. Dilanjut dengan desahan lirih dan erangan sepotong-sepotong membuat Eifuku lebih beringas dan mempercepat gerak maju mundur pinggulnya. Sambil mengapitkan kedua kakinya pada bagian belakang kaki Eifuku, Ny. Michiko menekan-nekan selakangan Eifuku dengan jarinya. Tak lama kemudian batang kemaluan Eifuku berdenyut hebat diiringi dengan semburan cairan pada ujungnya. Timbullah efek berantai dari semburan yang mengenai dinding liang kenikmatan Ny. Michiko. Sambil mendekap erat tubuh Eifuku yang menindihnya, dilepaskan pula cairan kewanitaanya dari liang kenikmatannya.

Eifuku alias Nobita balik kerumah dengan tubuh capek tapi puas karena memperoleh pengalaman baru dan uang sebesar 1000 yen. Namun belum sempat beristirahat panjang ia mendengar ibunya dan Doraemon datang sehingga ia harus segera merubah wujudnya kembali sebelum ibunya tahu. Kembali menjadi Nobita kecil lagi, ia sudah tak sabar menceritakan pengalamannya pada Doraemon.

Mendengar cerita Nobita dari awal hingga akhir membuat Doraemon tercengang.

“Nobita kamu benar-benar pandai”, puji Doraemon.

“Sekarang uangnya mana?”, tanya Doraemon.

“Eh.. ini hasil jerih payahku, kamu jangan minta bagian”, ucap Nobita sombong sambil merogoh sakunya.

Tapi setelah ia keluarkan isinya hanyalah kertas putih kosong.

“Huahaha.. kamu benar-benar bodoh Nobita.. seharusnya kamu keluarkan dulu uangnya dari sakumu sebelum kembali ke usiamu semula”, ejek Doraemon sambil tertawa keras.

“Jadi.. jadi..”, ucap Nobita bingung dan gugup.

“Ya uangnya ikut berusia muda alias belum dibuat dan hanya berupa bahannya yaitu kertas. Kalaupun kamu balik lagi prosesnya akan malah kumal atau jadi debu. Karena kertas kalau sudah tua kan kumal. Hehehe..”, kata Doraemon menerangkan sambil terus tertawa.

Sementara Nobita hanya dapat menangis.

E N D


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 329 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: