Susu Meita

28 05 2009

Nama gua Radit gua masih kuliah di salah satu PTS di Jakarta. Gua orangnya biasa aja… tapi banyak yang bilang badan gua gagah tinggi gua 175, dulu di SMU gua termasuk salah satu cowok yang di “PUJA” sama wanita… dari kelas 1 sampai kelas 3.

Cerita ini berawal pas gua duduk di SMU, pertama kali gua masuk kelas 3. gua pindahan dari Surabaya. SMP gua di Jakarta cuma sampai kelas 2 semester 1. kelas 2 SMP selanjutnya gua terusin di Surabaya. Maklum bonyok pindah kerja melulu terpaksa gw ikut juga.

Baca entri selengkapnya »





Oral Seks dengan Amoy

23 05 2009

Halo, masih ingat dengan Leni teman kostku, dalam ceritaku yang kedua: Kenikmatan oral sex. Nah sejak kejadian tersebut, hampir tiap hari kami melakukan oral sex, sehingga kami bisa saling meneguk air surgawi lawan masing-masing. Setiap aku ereksi, aku selalu mencari kesempatan untuk main dengan Leni, sehingga spermaku tidak terbuang sia-sia karena selalu habis ditelannya, tentu saja aku juga selalu menyedot cairan cintanya.

Sayangnya kenikmatan tersebut cuma bertahan satu bulan, entah karena apa sehingga Leni harus pindah kuliah di kota kelahirannya. Waduh, penisku sangat sengsara, air maniku kembali terbuang sia-sia. Setiap malam ereksi terus selama beberapa jam, sampai susah tidur, mendambakan kocokan tangan dan bibir cewek.

Sampai suatu hari, ketika sore pulang kerja, Mei-Mei temen kostku mau pinjam film dvd Lord of the Ring 2 milikku. Aku perbolehkan, tapi nanti malam saja, kataku kepadanya. Sebagai gambaran, Mei-Mei tuh anak SMU kelas 3, lumayan facenya, supel, rada kurus, tapi dadanya proporsional, kencang dan indah. Malamnya, aku tuh lupa mau pinjamin dia film, tapi malah nonton BF yang barusan kupinjam tadi siang dari temanku. Kubuka pakaianku sampai telanjang bulat, karena badanku jadi panas atas bawah karena BF.

Dengan posisi duduk, kukocok pelan-pelan penisku yang sudah berdiri tegak, sambil nonton BF. Dalam film tersebut, diperlihatkan, cewek bule cakep sedang mengoral penis lawannya dengan sangat menggairahkan dan sangat menikmatinya, seperti makan ice cream.

Sedang asyik-asyiknya mengocok, tiba-tiba kamarku terbuka dan Mei-Mei, dengan sedikit berteriak

“Mana filmnya? Ihh gila, ngapain Ko? Jorok banget”

Kontan aku langsung terloncat dari dudukku sambil menutupi penisku yang berdiri,

“Akh..aku aku..” kataku tergagap.

Mei-Mei langsung masuk kamarku dan menguncinya,

“Hayo, nonton BF kok sambil telanjang? Ngapain saja tuh?”

Kataku “Akh, kegiatan rutin cowok kok”

Lalu dengan cueknya dia juga akhirnya ikutan melihat film BF, sementara pinggang ke bawahku kututupi selimut. Tontonan BF saat itu yaitu 2 manusia berlawanan jenis sedang mengoral kelamin lawannya. Lalu Mei-Mei tanya padaku,

”Ko, emang enak gituan? Kok mereka tidak jijik ya?”

“Kamu pernah terangsang belum? Masa belum pernah?”.

“Pernahlah, aneh kamu Ko”, katanya.

“Lalu rasanya seperti apa? Apakah kamu merasakan sensasi aneh dibagian-bagian tertentu tubuhmu? Pernah tidak masturbasi?”, tanyaku.

“Ya ada rasa geli-gelinya, masturbasi? Maksa keluar sel telur wanita? Belum pernah tuh, sakit kan?”, jawabnya.

“Gila, justru tidak sakit, tapi malah sangat nikmat, itulah salah satu hal yang paling nikmat di dunia, namanya sex! Apapun bentuknya, masturbasi, onani, oral, anal, senggama, dll.”

“Lalu diantara semua kegiatan tadi, yang paling enak yang mana Ko?”

“Ya, kalau dari urutan terbawah, masturbasi/onani karena sendirian melakukannya, lalu oral sex dan yang paling nikmat tiada tara adalah senggama”, jawabku dengan enteng.

“Aku yakin Ko Tedi pernah senggama kan? Ngaku aja deh!” protesnya.

“Sayang sekali tebakanmu salah, justru belum pernah! Milikku hanya kuberikan untuk istriku kelak, yee!” balasku dengan bangga, “Tapi kalau oral sex sih pernah, dengan Leni.”

“Hah? Dengan Ci Leni? Teman satu kost kan? Masa sih? Kapan? Kok aku tidak pernah tahu, gila loe, lalu kamu ambil kesuciannya dan tidak tanggung jawab?”

“Masa aku main dengan Leni harus omong sama kau? Lagipula dia sudah tidak perawan karena pernah senggama dengan pacarnya waktu SMA. Kami melakukannya atas sama-sama saling suka kok, kami tidak senggama lho, cuma oral sex. Hampir tiap hari kami melakukannya, enak lho, nikmat sekali, lagipula aman karena tidak merusak selaput dara cewek, nyesel deh kamu tidak pernah merasakannya,” godaku.

“Emang bener nikmat? Serius nih tidak sakit atau selaput daraku, eh mak.. maksudku selaput dara tidak pecah?” tanyanya dengan malu karena salah ucap.

Aku mengangguk mengiyakan, aku yakin sekali, Mei-Mei pasti mau diajak oral sex. Film BF yang kupause tadi lalu kuresume lagi. Melihat ekspresi wajahnya yang putih itu, kelihatan bahwa dia mulai terangsang, napasnya berat dan wajahnya memerah. Penisku yang setengah tegang, akhirnya jadi tegang lagi.

Kami dalam keadaan duduk saat itu. Kupeluk Mei-Mei dari belakang pelan-pelan lalu kugerai rambut yang menutupi pipi kanannya dan kudaratkan ciumanku di pipi kanannya. Mei-Mei masih tegang karena tidak pernah dipegang cowok. Apalagi penisku yang sudah ereksi dari tadi, menempel di pantatnya, walau pinggangku masih terlilit selimut. Kugenggam tangan kirinya dengan tangan kananku, tangan kiriku memeluknya, sementara bibirmu mulai menciumi pipi, leher, dan telinganya.

“Ohh..sstt” desisnya.

Aku cium bibirnya yang mungil, pelan saja dan dia mulai menanggapinya. Kupermainkan lidahku dengan lidahnya, sementara kuputar pelan-pelan tubuhnya sampai menghadapku (masih dalam keadaan duduk). Dengan cukup cepat, kuganti film BF tersebut, dengan lagu mp3 barat yang romantis. Kupeluk mesra dia, kedua tanganku mengelus-elus punggungnya dan terkadang kuremas lembut kedua pantatnya. Aku sangat suka pantat cewek, begitu menggairahkan, apalagi yang padat berisi, ingin rasanya meremas dan menciuminya. Penisku yang tegak lurus terkadang kugesekkan keperutnya. Bingung dia harus memperlakukan penis seperti apa. Langsung kubimbing tangannya untuk mengelus-elus dan mengurut seluruh bagian penis dan kedua bijinya. Memang kalau cewek yang pegang penis, sungguh berbeda jauh nikmatnya apalagi sudah beberapa minggu penisku ini mendambakan kocokan dan emutan cewek lagi.

Kurebahkan Mei-Mei pelan-pelan, bibirku semakin bergerilya di bibirnya, leher dan telinganya.

“Ohh, sst..” desahnya, yang semakin membuatku bernafsu.

Dengan bibirku yang tetap aktif, tangan kananku mulai menelusuri badannya, kuelus-elus pundaknya, lalu turun ke dada kanannya. Kuraba pelan, lalu mulai remasan-remasan kecil, dia mulai menggeliat (geliatnya sangat sexy). Wah gila, kenyal dan kencang, semakin kuperlama remasanku, dengan sekali-kali kuraba perutnya. Tanganku mulai masuk didalam bajunya, mengelus perutnya dan Mei-Mei kegelian. Tanganku yang masih di dalam bajunya, mulai naik ke dadanya dan meremas kedua gunung kembarnya, jariku keselipkan dibranya agar menjangkau putingnya untuk kupermainkan. Mei-Mei mulai sering medesah,

“Sst.. ahh.. ohh”

Karena branya sedikit kencang dan mengganggu aktivitas remasanku, maka tanganku kulingkarkan ke belakang punggungnya.

Kait branya kubuka, sehingga longgarlah segel 2 bukit kembar itu. Bajunya kusingkap keatas, wah indah sekali dadanya, putih mulus, kedua putingnya mencuat mengeras ingin dijilati. Sudah saatnya nih beraksi si lidah. Kujilati, kusedot-sedot, kucubit, kupelintir kecil kedua putingnya. Mei-Mei mulai meracau tidak karuan manahan nikmatnya permainan bibirku di kedua dadanya. Kubuka baju dan branya sehingga tubuh atasnya bugil semua.

Tubuhnya yang putih, dua bukit ranum dengan 2 puting mencuat indah, wajahnya memerah, keringat mengalir, ditambah desahan-desahan yang menggairahkan, sungguh pemandangan yang tidak boleh disia-siakan. Kuciumi bibirnya lagi, dengan kedua tanganku yang sudah bebas bergerilya di kedua bongkahan dadanya. Nafas kami menderu menyatu, mendesah, ruangan kamarku menjadi semakin hangat saja.

Dengan adanya lagu yang sedang mengalun rada keras, kami memberanikan diri mendesah lebih keras. Kuciumi dan kujilati badannya, mulai dari lengan atas, naik ke pundak dan leher, turun ke dadanya. Sengaja kujilati bongkahan dadanya berlama-lama tanpa menyentuh putingnya, kupermainkan lidahku disekitar putingnya. Tiba-tiba lidahku menempel ke puting kanannya dan kugetarkan cepat, tangan kiriku mencubit-cubit puting kirinya, Mei-Mei semakin kelojotan menahan geli-geli nikmat. Enak sekali menikmati bukit kembar cewek, inginnya nyusu terus deh. Tangan kananku mulai merayap ke pahanya, kuelus naik turun, terkadang sengaja menyentuh pangkal pahanya.

Terakhir kali, tanganku merayap ke pangkal paha, dengan satu jariku, kugesek-gesekkan ke vaginanya yang ternyata sudah basah sampai membekas keluar di celana pendeknya. Kedua kakinya langsung merapat menahan geli. Tanganku mengelus pahanya dan membukanya, menjalar ke kemaluannya, lalu semua jariku mulai menggosokkan naik turun ke bukit kemaluannya.

“Ah gila..uhh hmm”, geliatnya sambil meremas bantalku.

Kulumat bibirnya, tanganku mulai menyusup kedalam celananya, menguak CD-nya, meraba vaginanya. Mei-Mei semakin terangsang, dengan desisan pelan serta gelinjang-gelinjang birahi. Tak lama kemudian dia mendesis panjang dan mengejang, lalu vaginanya berdenyut-denyut seperti denyutan penis kalau melepas mani. Mei-Mei lalu menarik nafas panjang. Basah mengkilap semua jariku, mungkin tidak pernah terangsang seperti ini, lalu kujilat sampai kering.

“Lebih enak dan gurih, perawan mungkin memang paling enak,” kata hatiku.

“Koko nakal, ” katanya sambil memelukku erat.

Sudah saatnya penisku dipuaskan. Kucium bibirnya lembut, kubimbing lagi tangannya untuk meremas dan mengurut penisku. Gantian aku yang melenguh dan mendesis, menahan nikmat. Posisiku berbaring di bawah dan Mei-Mei mulai menyerbu tubuhku sambil tetap memijat penisku, mencium dan menjilat dadaku, putingku, perutku dan akhirnya sampai tepat didepan tonjolan penisku. Mei-Mei lalu membuka balutan selimut yang melingkari pinggangku, dan penisku melompat keluar. Kaget dan tertawa tertahan Mei-Mei melihat penisku.

“Ih lucu deh, gemes aku jadinya, harus digimanain lagi nih Ko?”, tanyanya bingung sambil tetap mengelus-elus batang kejantananku.

Terlihat disekitar ujung penisku sudah basah mengeluarkan cairan bening karena ereksi dari tadi.

“Ya diurut-urut naik turun gitu, sambil dijilat seperti menikmati es krim” sahutku.

Ditimang-timangnya penisku, dengan malu-malu lalu dijilati penisku, ekspresi wajahnya seperti anak kecil.

Mulai dimasukkan penisku ke mulutnya dan

“Ahh Mei, jangan kena gigi, rada sakit tuh, ok sayang?”

“Hmm, ho oh”, mengiyakan sambil tetap mengulum penisku.

Nah begini baru enak, walaupun masih amatir.

“Yess..” desahku menahan nikmat, terlihat semakin cepat gerakan naik turun kepalanya.

“Ko, bolanya juga?” tanyanya lagi sambil menunjuk ke zakarku.

“Iya dong sayang, semuanya deh, tapi jangan kena gigi lho”.

Dijilati dan diemutnya zakarku, setiap jengkal kemaluanku tidak luput dari jilatannya, hingga kemaluanku basah kuyup.

“Ahh..ohh..yes..” desahku dengan semakin menekan-nekan kepalanya.

Dimasukkannya batangku pelan-pelan ke mulutnya yang mungil sampai menyentuh tenggorokannya, penisku dikulum-kulum, divariasikan permainan lidahnya dan aku semakin menggeliat. Terkadang dia juga menjilati lubang kencingku, diujung kepala penis, sehingga aku hampir melompat menahan nikmat dan geli yang mendadak.

“Nah, ketahuan sekarang!” katanya sambil melirik padaku dengan tatapan nakalnya.

Diulanginya perbuatan tadi dengan sengaja sampai aku berontak liar ke kiri kanan karena geli sekali.

“Jangan Mei, jangan diterus lagi di sana, aku tidak kuat”, kataku sambil ngos-ngosan,

“Itu kepala penis juga daerah sangat sensitif lho,” lanjutku untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak diserang lubang kencingku terus.

Dilanjutkannya lagi kocokan ke penisku dengan mulutnya. Pelan-pelan kubelai rambutnya dan aku mengikuti permainan lidah Mei-Mei, kugoyangkan pantatku searah. Enak sekali permainan bibir dan lidahnya, Mei-Mei sudah mulai terbiasa dengan kejantanan cowok.

Akhirnya, badanku mulai mengejang,

“Mei, aku mau keluar.. ohh ahh..” dan sengaja dipercepat kocokan penisku dengan tangannya.

Croott crot crot creet.. air maniku berhamburan keluar banyak sekali, sebagian kena wajahnya, ada yang muncrat sampai monitorku, dan sebagian lagi meluber di tangan Mei-Mei dan penisku. Mei-Mei sempat terpesona melihat pemandangan menakjubkan itu.

“Wow, kok bisa ya Ko? Rasanya seperti apa ya?”

Lalu dia menjilat air maniku yang meluber di penisku.

“Asin dan gurih, enak juga ya Ko?”, katanya sambil menelan semua spermaku sampai habis bersih dan kinclong.

“Sperma baik lho untuk cewek, bisa menghaluskan kulit, obat awet muda dan menambah stamina dan tenagamu”, jelasku padanya.

“Wah, kalau gitu koko sayang, tiap hari Mei-Mei bolehkan meminumnya?” tanyanya mesra sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Tentu saja sangat boleh sayangku,” sahutku.

Badanku menindih badannya, bibirnya mencium bibirku, kurasakan dia mulai terangsang lagi. Kuremas-remas dadanya yang sudah menunggu dari tadi untuk dinikmati lagi. Kuraba-raba lagi vagina si Mei-Mei, pinggangnya menggeliat menahan nikmat sekaligus geli yang demikian hebat sampai pahanya merapat lagi. Kupelorotkan celana pendeknya, sengaja tidak dengan CD-nya, karena aku ingin melihat pemandangan indah dulu. Wow, CD-nya pink tipis berenda dan mungil, sehingga dalam keadaan normal kelihatan jelas bulu-bulunya.

Lalu kujilati kedua pahanya dari bawah sampai ke pangkalnya, lalu kucium aroma lembab vaginanya, oh sungguh memabukkan, membuat laki-laki manapun semakin bernafsu. Kujilat sekitar pangkal paha tanpa mengenai vaginanya, yang membuat Mei-Mei semakin penasaran saja. Kupelorotkan CD-nya pelan-pelan sambil menikmati aroma khas vaginanya, lalu kujilat CD bagian dalam yang membungkus kemaluannya. Sesaat aku terpesona melihat vaginanya, bulunya yang tertata rapi tapi pendek-pendek, bibirnya yang gundul mengkilap terlihat jelas dan rapat, di tengah-tengahnya tersembul daging kecil.

Vagina yang masih suci ini semakin membuatku bergelora, penisku mulai berontak lagi minta dipijat Mei-Mei. Mulutku sudah tidak sabaran untuk menikmati sajian paling lezat itu, lidahku mulai bergerilya lagi. Pertama kujilati bulu-bulu halusnya, rintihan Mei-Mei terdengar lagi. Terbukti titik lemah Mei-Mei ada di vaginanya, begitu dia menggerakkan pantatnya, dengan antusias lidahku menari bergerak bebas di dalam vaginanya yang sempit (masih aman karena selaput dara berada lebih ke dalam).

Begitu sampai di klitorisnya (yang sebesar kacang kedelai), langsung kukulum tanpa ampun.

“Akhh.. sstt.. ampun enaknya.. stt” racaunya sambil menggeleng-geleng kepalanya menahan serbuan kenikmatan yang menggila dari lidahku.

Dengan gerakan halus, kuusap-usap klitorisnya dan dia makin kelojotan dan tidak begitu lama terjadi kontraksi di vaginanya. Aku tahu Mei-Mei akan klimaks lagi, makin kupercepat permainan lidahku. Kemudian diraihnya bantalku dan ditutupnya ke mulutnya, dan dia menjerit sambil badannya meregang. Mengalirlah dengan deras cairan cintanya itu, tentu saja yang telah kutunggu-tunggu itu. Kujilati semua cairan yang ada sampai vaginanya mengkilap bersih, nyam nyam segarnya, enak sekali.

Beberapa saat, kubiarkan Mei-Mei istirahat sambil mengatur napas. Kuhangati badannya, kupeluk erat (sambi menggesek gesekkan penisku yang sudah ereksi lagi dari tadi ke bibir vaginanya), dan kupeluk erat dengan mesra, kukecup keningnya, dan kedua pipinya. Sambil memandangku, wajahnya tersenyum bahagia sekali, baru kali ini dia merasakan nikmat begitu dahsyat, sampai lemas sekujur tubuhnya. Setelah nafasnya mulai normal, kuciumi bibirnya dengan lembut.

“Nikmat sekali kan say? Ingin lagi? Masih kuat kan?” kataku dengan mencium bibirnya lagi (aku memang suka ciuman).

“Lho masih bisa lagi toh?” tanyanya sambil mengharapkan jawaban iya dariku.

Kucium rada lama bibirnya dengan lembut.

“Iya dong, selama kita masih kuat, kenapa nggak?” balasku sambil masih menggesekan penisku ke vaginanya.

“Oh..hmm..” desahnya.

Sekarang show time untuk posisi 69. Dengan badanku di atas, kepalaku ke gundukan kemaluannya dan penisku kuarahkan ke mulutnya. Sergap sekali dia menangkap penisku dengan bibirnya. Langsung dijilati penisku tanpa dikulumnya, seperti tadi dia menghisap bijiku dan bahkan sampai lubang pantatku dijilatinya. Aku menahan nikmat sambil tak mau kalah untuk menggempur habis vaginanya. Kusapu habis seluruh vaginanya dengan lidah dan bibirku, kubuka vaginanya sedikit, lalu kumasukkan lidahku di sana sambil menggetar-getarkannya. Reaksi Mei-Mei pun langsung menjepit kepalaku, berhenti sesaat mengulum penisku menikmati serangan lidahku. Mei-Mei dengan sengaja juga menyerang kepala penisku, dinaik turunkan mulutnya disekitar kepala penisku sambil sesekali lidahnya sengaja menjilati lubang kencingku.

“Gila nikmatnya..uhh..ahh..” rintihku.

Kami mulai seirama bergoyang badan bersama. Aku mulai merasakan bahwa vagina Mei-Mei mulai mengejang, sementara penisku belum mau keluar.

Lalu kuhentikan sementara, memandang dengan takjub lubang kemaluannya dan menghirup aroma khas wanitanya.

Mei-Mei protes, “Uhh.. Ko kok dihentikan, mau keluar nih.”

”Jangan dulu sayang, mau kan kita keluar bersama-sama? Lebih nikmat lho, ok?”

Dipercepat kocokan mulutnya di batangku, sementara aku meremas-remas pantatnya. Mulai nih terasa panas penisku, dan kuterkam lagi vaginanya tanpa ampun. Semakin cepat aku melahap vaginanya, makin cepat pula kocokkannya. Aduh duh enaknya, kami sama-sama mendesah, merintih dan pada akhirnya badan kami tegang dan lidahku sudah bersiap-siap di depan vaginanya untuk menampung semua cairannya, sedangkan Mei-Mei mengeluarkan penisku dari emutannya dan mengocoknya dengan tangannya.

“Aah.. oh.. yes.. croot.. crot..”

Badan kami sesaat seperti tersetrum listrik kenikmatan yang tiada taranya. Banyak sekali cairan cinta yang dikeluarkan vaginanya dan tentu saja harus habis kujilati, tanganku masih tetap meremas-remas bongkahan pantatnya. Air maniku bermuncratan di wajah, leher dan dadanya Mei-Mei. Dikulum dan diurutnya penisku dari pangkal sampai kepala penis sampai yakin air maniku habis, lalu diambilnya ceceran spermaku di tubuhnya untuk ditelan. Aku membantunya, dengan menjilati badannya yang terkena siraman spermaku lalu kuberikan ke bibirnya agar ditelan olehnya.

Setelah habis semua, kupeluk mesra dan kucumbu dia, kunikmati setiap jengkal tubuhnya dengan tanganku.

“Sayang, kamu mau kan tidur denganku malam ini? Besok kan minggu.” tanyaku lalu mencium bibirnya yang lembut itu.

Mei-Mei cuma mengangguk tanpa melepaskan bibirku. Malam itu kami tidur bersama dengan masih tetap telanjang bulat, sambil kudekap erat tubuhnya.

Keesokan paginya sekitar jam 5.30-an, seperti biasa penisku selalu ereksi. Mei-Mei sudah bangun duluan sebelum aku, dan kurasakan kocokan-kocokan nikmat di penisku. Aku yang masih ngantuk, jadi tidak bisa berkonsentrasi apalagi aku mencium aroma khas kewanitaannya, sehingga gairahku meningkat cepat. Ternyata Mei-Mei sudah dengan posisi 69, mengoral penisku yang selalu ereksi tiap pagi. Pantas saja vaginanya di depan hidungku, makanya baunya lezat sekali, pagi-pagi sudah diberi suguhan yang menaikkan gairah laki-laki. Aku membutuhkan sesuatu yang segar dan enak untuk membasahi tenggorokanku di pagi hari. Vaginanya yang sudah lembab itu, langsung kujilati dengan ganas. Tanganku memilin-milin putingnya dan dia semakin meningkatkan kecepatan mulutnya. Yes.. pagi-pagi, dua kemaluan sudah berolahraga, walaupun cuma oral sex, tapi nikmatnya luar biasa. Aku tahu kalau aku akan klimaks, karena itu, goyangan lidahku pun harus sering menggapai sasarannya yaitu klitorisnya yang indah.

Dan..

Ahh.. oohh.. crott..

Penisku mengeluarkan lahar panasnya dan vaginanya pun membanjir. Sekali lagi kami berdua saling membersihkan kemaluan lawan masing-masing dari banjir cairan kenikmatan. Lalu kupeluk dan kucium dia dan kami melanjutkan tidur sampai jam 10-an.

Sejak saat itu, hampir tiap malam atau sore, kami sering melakukan oral sex sampai berlanjut tidur telanjang bersama melepas kenikmatan dengan menghangati badan. Terutama pada saat menjelang Ebtanas, untuk menambah kesehatan, stamina dan pikirannya, tiap sore dan malam, Mei-Mei pasti meminum air maniku. Dan hasil ujiannya pun bagus, kami sama-sama senang dan merayakannya dengan oral sex sepanjang hari.

Kelak kalau aku punya istri, kami akan sering olahraga agar tubuh tetap bugar, fit, bentuk badan tetap terjaga. Tentu saja juga harus minum air maniku tiap beberapa hari sekali agar awet muda, bergairah dan kulitnya senantiasa halus mulus terpelihara.





Nakalnya Anak SMA

19 05 2009
Namaku adalah Andi, dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh.Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 bulan yang lalu. Tepatnya hari itu hari Selasa jam 14:12, aku sendiri bingung hari itu beda sekali, karena hari itu terlihat mendung tapi tidak hujan-hujan. Teman satu kostan-ku mengatakan kepadaku bahwa nanti temannya anak SMU akan datang ke kost ini, kebetulan temanku itu anak sekolahan juga dan hanya dia yang anak SMU di kost tersebut.

Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga, kemudian temanku langsung mengajaknya ke tempat kamarku yang berada di lantai atas. Akhirnya aku dikenali sama perempuan tersebut, sebut saja namanya Ria. Lama-lama kami ngobrol akhirnya baru aku sadari bahwa hari menjelang
sore. Kami bertiga bersama dengan temanku nonton TV yang ada di kamarku. Lama-lama kemudian temanku pamitan mau pergi ke tempat temannya, katanya sih ada tugas.

Akhirnya singkat cerita kami berdua di tinggal berdua dengan Ria. Aku memang tergolong cowok yang keren, Tinggi 175 cm, dengan berat badan 62 kg, rambut gelombang tampang yang benar-benar cute, kata teman-teman sih. Ria hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia memberanikan diri untuk menggelitikku dan aku tidak tahu darimana dia mengetahui kelemahanku yang sangat vital itu kontan saja aku langsung kaget dan balik membalas serangan Ria yang terus menerus menggelitikiku. Lama kami bercanda-canda dan sambil tertawa, dan kemudian diam sejenak seperti ada yang lewat kami saling berpandang, kemudian tanpa kusadari Ria mencium bibirku dan aku hanya diam kaget bercampur bingung.

Akhirnya dilepaskannya lagi ciumannya yang ada di bibirku, aku pun heran kenapa sih nih anak? pikirku dalam hati. Ria pun kembali tidur-tiduran di kasur dan sambil menatapku dengan mata yang uih… entah aku tidak tahu mata itu seolah-olah ingin menerkamku.

Akhirnya dia melumat kembali bibirku dan kali ini kubalas lumatan bibirnya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir bawah dan atasnya. Lama kami berciuman dan terus tanpa kusadari pintu kamar belum tertutup, Ria pun memintaku agar menutup pintu kamarku, entah angin apa aku hanya nurut saja tanpa banyak protes untuk membantah kata-katanya.

Setelah aku menutup pintu kamar kost-ku Ria langsung memelukku dari belakang dan mencumbuku habis-habisan. Kemudian kurebahkan Ria di kasur dan kami saling berciuman mesra, aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya Ria yang kira-kira berukuran berapa ya…? 34 kali, aku tidak tahu jelas tapi sepertinya begitu deh, karena baru kali ini aku menuruni BH cewek. Dia mengenakan tengtop dan memakai sweater kecil berwarna hitam. Aku menurunkan tengtop-nya tanpa membuka kutangnya. Kulihat buah dada
tersebut… uih sepertinya empuk benar, biasanya aku paling-paling lihat di BF dan sekarang itu benar-benar terjadi di depan mataku saat ini.

Tanpa pikir panjang, kusedot saja buah dada Ria yang kanan dan yang kirinya aku pelintir-pelintir seperti mencari gelombang radio. Ria hanya mendesah,

“Aaahhh… aaahhh… uuhhh…”

Aku tidak menghiraukan gelagat Ria yang sepertinya benar-benar sedang bernafsu tinggi. Kemudian aku pun kepingin membuka tali BH tengtop-nya. Kusuruh Ria untuk jongkok dan kemudian baru aku melihat ke belakang Ria, untuk mencari resliting kutangnya. Akhirnya ketemu juga dan gundukan payudara tersebut lebih mencuat lagi karena Ria yang baru duduk di bangku SMU kelas 2 dengan paras yang aduhai sehingga pergumulan ini bisa terjadi.

Dengan rakusnya kembali kulumat dada Ria yang tampak kembali mengeras, perlahan-lahan ciumanku pun turun ke bawah ke perut Ria dan aku melihat celana hitam Ria yang belum terbuka dan dia hanya telanjang dada.

Aku memberanikan diri untuk menurunkan celana panjang Ria, dan Ria pun membantu dengan mengangkat kedua pinggulnya.

Ria pun tertawa dan berkata, “Hayo tidak bisa dibuka, soalnya Ria mempunyai celana pendek yang berwarna hitam satu lagi…” ejek Ria sambil tersenyum girang.

Aku pun dengan cueknya menurunkanya kembali celana tersebut, dan kali ini barulah kelihatan celana dalam yang berwarna cream dan dipinggir-pinggirnya seperti ada motif bunga-bunga, aku pun menurunkannya kembali celana dalam milik Ria dan tampaklah kali ini Ria dalam keadaan bugil tanpa mengenakan apapun. Barulah aku melihat pemandangan yang benar-benar terjadi karena selama ini aku hanya berani berilusi dan nonton tidak pernah berbuat yang sebenarnya.

Aku pandangi dengan seksama kemaluan Ria dengan seksama yang sudah ditumbuhi bebuluan yang kira-kira panjangnya hanya 2 cm tapi sedikit, ingin rasanya mencium dan mengetahui aroma kemaluan Ria. Aku pun mencoba mencium perut Ria dan pusarnya perlahan tapi pasti, ketika hampir mengenai sasaran kemaluannya Ria pun menghindari dan mengatakan,

“Jangan dicium memeknya akh.. geliii…” Ria mengatakan sambil menutup rapat kedua selangkangannya.

Yah, mau bagaimana lagi, langsung saja kutindih Ria, kucium-cium sambil tangan kiriku memegang kemaluan Ria dan berusaha memasukkannya ke dalam selangkangan Ria. Eh, Ria berontak iiihhh… ge.. li..” ujar Ria.

Tahu-tahu Ria mendorong badanku dan terbaliklah keadaan sekarang, aku yang tadinya berada di atas kini berubah dan berganti aku yang berada di bawah, kuat sekali dorongan perempuan yang berbobot kira-kira 45 kg dengan tinggi 160 cm ini, pikirku dalam hati.

“Eh… buka dong bajunya! masak sih Ria doang yang bugil Andinya tidak…?” ujar Ria sambil mencopotkan baju kaos yang kukenakan dan aku lagi-lagi hanya diam dan menuruti apa yang Ria inginkan.

Setelah membuka baju kaosku, tangan kanan Ria masuk ke dalam celana pendekku dan bibirnya sambil melumat bibirku.

Gila pikirku dalam hati, nih cewek kayaknya sudah berpengalaman dan dia lebih berpengalaman dariku.

Perlahan-lahan Ria mulai menurunkan celana pendekku dan muncullah kemaluanku yang besarnya minta ampun (kira-kira 22 cm). Dan Ria berdecak kagum dengan kejantananku, tanpa basa-basi Ria memegangnya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya Ria, langsung saja kutepis dan tidak jadi barang tersebut masuk ke lubang kemaluan Ria.

“Eh, jangan dong kalau buat yang satu ini, soalnya gue belum pernah ngelakuinnya…” ujarku polos.

“Ngapain kita udah bugil gini kalau kita tidak ngapa-ngapain, mendingan tadi kita tidak usah buka pakaian segala,” ujar Ria dengan nada tinggi.

Akhirnya aku diam dan aku hanya menempelkan kemaluanku di permukaan kemaluan Ria tanpa memasukkanya.

“Begini aja ya…?” ujarku dengan nada polos.

Ria hanya mengangguk dan begitu terasanya kemaluanku bergesek di bibir kemaluan Ria tanpa dimasukkan ke dalam lubang vaginanya milik Ria, aku hanya memegang kedua buah pantat Ria yang montok dan secara sembunyi-sembunyiaku menyentuh bibir kemaluan Ria, lama kami hanya bergesekan dan tanpa kusadari akhirnya kemaluanku masuk di dalam kemaluan Ria dan Ria terus-terusan menggoyang pantatnya naik-turun. Aku kaget dan bercampur dengan ketakutan yang luar bisa, karena keperawanan dalam hal ML yang aku jaga selama ini akhirnya hilang gara-gara anak SMU. Padahal sebelum-sebelumnya sudah ada yang mau menawari juga dan dia masih perawan lebih cantik lagi aku tolak dan sekarang hanya dengan anak SMU perjakaku hilang.

Lama aku berpikir dan sedangkan Ria hanya naik-turun menggoyangkan pentatnya semenjak aku melamun tadi, mungkin dia tersenyum puas melihat apa yang baru dia lakukan terhadapku. Yach, kepalang tanggung sudah masuk lagi, nasi sudah jadi bubur akhirnya kugenjot juga pantatku naik-turun secara berlawanan dengan yang dilakukan Ria, dan bunyilah suara yang memecahkan keheningan,

“Cplok.. cplok… cplok…” Ria mendesah kenikmatan karena kocokanku yang kuat dilubang vaginanya.

Lama kami berada di posisi tersebut, yaitu aku di bawah dan dia di atas. Akhirnya aku mencoba mendesak Ria agar dia mau mengganti posisi, tapi dorongan tangannya yang kuat membatalkan niatku, tapi masa sih aku kalah sama cewek, pikirku. Kudorong ia dengan sekuat tenagaku dan akhirnya kami berada di posisi duduk dan kemaluanku tetap berdiri kokoh tanpa dilepas. Ria tanpa diperintah menggerakkan sendiri pantatnya, dan memang enak yah gituan, pikirku dalam hati. Tapi sayang tidak perawan.

Akhirnya kudorong lagi Ria agar dia tiduran telentang dan aku ingin sekali melihat kemaluanku yang besar membelah selangkangan kemaluan Ria, makanya aku sambil memegang batang kemaluanku menempelkannya di lubang kemaluan Ria dan

“Bless…” amblaslah semuanya.

Kutekan dengan semangat “45″ tentunya karena nasi sudah hancur. Kepalang tanggung biarlah kuterima dosa ini, pikirku. Dengan ganasnya dan cepat kuhentakkan kemaluanku keras-keras di lubang kemaluan Ria dan kembali bunyi itu menerawang di ruangan tersebut karena ternyata lubang kemaluan Ria telah banjir dengan air pelumasnya disana, aku tidak tahu pasti apakah
itu spermanya Ria, apakah hanya pelumasnya saja? dan Ria berkata,

“Loe.. udah keluar ya…?” ujarnya.

“Sembarangan gue belom keluar dari tadi..?” ujarku dengan nada ketus.

Karena kupikir dia mengejekku karena mentang-mentang aku baru pertama kali beginian seenaknya saja dia menyangka aku keluar duluan. Akhirnya lama aku mencumbui Ria dan aku ingin segera mencapai puncaknya.

Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan ku keluarkan spermaku yang ada diperutnya Ria, karena aku takut kalau aku keluarkan di dalam vaginanya aku pikir dia akan hamil kan berabe. Aku baru sekali gituan sama orang yang yang tidak perawan malah disuruh tanggung jawab lagi. Gimana kuliahku!

Ria tersenyum dengan puas atas kemenangannya menggodaku untuk berbuat tidak senonoh terhadapnya. Huu, dasar nasib, dan semenjak saat itu aku sudah mulai menghilangkan kebiasaaan burukku yaitu onani, dan aku tidak mau lagi mengulang perbuatan tersebut karena sebenarnya aku hanya mau menyerahkannya untuk istriku seorang. Aku baru berusia 21 tahun saat ini.





Nakalnya istriku disaat pesta pernikahan temenku

19 05 2009

“Sayang cepatlah sedikit, pernikahannya setengah jam lagi,” teriak Frank Hutapea sambil menggedor pintu kamar mandi.

“Aku tak tahu bagaimana penuhnya parkiran di gereja nanti, aku mau sampai disana secepatnya biar dapat tempat,” tambahnya sambil melirik pada jam tangannya.
“Lima menit lagi aku sudah selesai sayang. Kamu tunggu saja dibawah,” jawab suara dari dalam kamar mandi.
“Ok tapi jangan terlalu lama,” jawab Frank sambil pergi meninggalkan kamar mandi dan turun ke lantai bawah.

Annie Hutapea selesai menyisir rambut sebahunya dan mengoleskan lipstick ke bibirnya, kemudian dia mundur ke belakang untuk mengamati dandanannya dalam bayangan cermin. Mantan juara renang saat duduk di bangku kuliah yang sekarang berusia 33 tahun ini tetap memiliki bentuk tubuh yang terjaga berkat 25 lap yang dia lalap setiap harinya di club renang terdekat dan berkat pekerjaannya sebagai pelatih renang pribadi.

You still have it girl, pujinya pada dirinya sendiri saat dia memandangi paha jenjangnya, pantanya yang masih kencang dan pinggulnya yang menggoda. Suasana hatinya sangat riang hari ini dan dia putuskan untuk memakai thong-nya yang berwarna hitam dan tercetak tepat pada bongkahan pantat bulatnya, beserta setelan bra-nya yang seakan tak mampu menampung kekenyalan buah dadanya.

Dia dan Frank bertemu dibangku kuliah dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Frank termasuk dalam tim basket sedangkan dia adalah perenang paling dominan dalam tim renang. Hingga suatu ketika keduanya berada dalam pesta liar bersama teman-temannya pada suatu malam dan pesta tersebut diekspos dalam koran kampus keesokan harinya. Pihak kampus yang merasa kejadian tersebut berdampak sangat buruk bagi nama baik mereka akhirnya memutuskan untuk menskors sementara nama-nama yang berada dalam pesta tersebut. Annie merasa sangat terpukul tapi kejadian tersebut membuat dia dan Frank semakin bertambah dekat, hingga akhirnya saat wisuda Frank melamar Annie untuk menjadi isterinya.

Annie menerimanya dengan sukacita dan 5 tahun berselang tanpa pernah ada rasa penyesalan dalam dirinya. Dengan jabatan Frank sebagai salah satu top direksi pada sebuah Bank terkemuka membuat hidup keduanya berada dalam bagian kota yang sangat nyaman. Bagian kota dimana setiap halamannya nampak hijau asri dan pada setiap garasi rumahnya terparkir mobil mewah.

Pesta pernikahan yang akan mereka hadiri kali ini adalah pernikahan salah satu sahabat Frank dimasa kuliah dulu dan Annie tahu apa yang akan menantinya dipesta nanti. Suaminya akan menghabiskan seluruh malam bercerita tentang tim basket mereka dan dia akan duduk dan mendengarkan para isteri saling memperbandingkan tentang prestasi anak dan suami mereka.

Hari ini akan lain ceritanya, dia yakinkan pada dirinya sendiri dan memutuskan untuk berpakaian seperti ini agar mendapat seluruh perhatian dari suaminya.

Dia berjalan menuju closet dan mengambil gaunnya lalu sekali lagi mengamati bayangan dirinya dalam cermin. Gaun merahnya menempel ditubuhnya seakan kulit kedua. Dengan belahan dada yang rendah membuat belahan dadanya yang membusung nampak sangat menggoda, sedangkan bagian bawah gaunnya yang hanya sampai diatas lututnya memperlihatkan keindahan lekuk pantatnya. Setelah merasa puas dengan dandanannya dia berjalan menuju ke lantai bawah untuk menyusul suaminya.

“Wow Annie you look beautiful. Kamu tahu kalau melihatmu memakai gaun ini selalu membuatku gila,” puji Frank seraya tangannya meremas pantat isterinya dengan lembut.

“Yes I know lover, itu pointnya. Membuat semua pria merasa jealous karena tak dapat memilikiku,” jawab Annie sambil tangannya mengelus selangkangan Frank.

Frank mulai merasa terangsang tapi sang waktu telah mendesak dan dia berbisik ditelinga isterinya

“Akan kuurus kamu nanti.”

Annie menggandeng lengan Frank saat keduanya berjalan keluar menuju mobil dan menjawab

“Kupegang janjimu sayang.”

Upacara pernikahannya digelar di gereja di pinggiran kota dan dihadiri tak kurang dari 200 orang pikir Annie saat dia duduk disamping suaminya. Gaun yang dia kenakan nampak berefek pada Frank dan setiap pria dalam pernikahan tersebut karena nampak mereka melirik kearahnya saat dia menaruh pantatnya di atas bangku gereja.

Upacara pernikahannya berlangsung kurang lebih selama 1 jam dan hampir diakhir acara, AC dalam ruangan tersebut mengalami kerusakan. Membuat suhu di dalam ruangan memanas. Butiran keringat nampak mulai menetes didahi orang-orang dan booklet pernikahan sudah beralih fungsi menjadi kipas tangan. Siksaan tersebut akhirnya usai setelah rangkaian upacara pernikahan tersebut rampung dan orang-orang berjalan keluar menuju ke mobil masing-masing untuk pergi ke gedung resepsi. Efek dari kondisi lembab pada gaun Annie membuatnya semakin melekat erat pada lekuk tubuhnya yang mana memancing rasa tak suka dari para wanita yang hadir. Membuat kebanyakan mereka menilai bahwa gaun yang dia kenakan terlihat murahan.

Pesta resespsinya digelar di gedung yang terletak tak jauh dari gereja tadi dan saat Annie mulai memasuki ruangan tersebut, perhatian yang dia peroleh dari para pria sangatlah tergambar jelas. Para pria saling berlomba untuk memperkenalkan diri pada keduanya, beberapa teman Frank yang telah tak berjumpa selam 5 tahun lebih mendekati mereka dan bertingkah seakan sangatlah akrab pada mereka.

“Lihatlah sayang, mereka semua pikir kalau aku adalah wanita simpananmu. Setiap pria disini ingin naik ke ranjang denganku,” bisik Annie ditelinga suaminya saat keduanya berjalan menuju meja.

Setelah acara minum berselang, tibalah kini saatnya sang pengantin memasuki ruangan dan orang-orang mulai berdansa. Annie telah minum beberapa gelas tadi dan sekarang tubuhnya merasa sangat hangat dan mellow kala dia berdansa dengan suaminya. Lagu yang diputar adalah up tempo dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan menari dengan sangat menggoda, tubuhnya meliuk naik turun bergesekan dengan tubuh Frank.

Hingga tibalah saat dinner dan semua orang kembali ke mejanya masing-masing. Acara dinner tersebut berlangsung kurang lebih sekitar 1 jam dan selama rentang waktu tersebut Annie sudah pergi ke bar lebih dari 3 kali dan saat nampan-nampan tiba gilirannya dibersihkan, kondisinya sudah lebih dari agak mabuk. Beberapa teman suaminya menghampiri mereka dan saat mereka saling asik bercerita tentang masa kuliahnya, Annie mendapati dirinya berada diluar percakapan. Suara musik berkumandang kembali dan Annie mencoba mengajak suaminya untuk berdansa lagi.

Setelah beberapa lagu berganti dan suaminya hanya mau menemaninya dansa sebentar saja, Annie mulai merasa sangat bosan, seorang pria muda mendekatinya dan menyapa

“Boleh mengajak anda dansa Nyonya?”

Annie menatapnya dan menjawab

“Kamu adik si pengantin pria. Billy?”

Dia tersenyum dan menjawab

“Bukan, Bobby. Tapi anda hampir benar.”

“Sorry Bobby, tapi aku dengan suamiku,” jawabnya ramah.

Bobby menoleh ke arah suami Annie dan melihat kalau sang suami nampak sedang begitu asik dengan obrolan tentang kisah yang mungkin sudah terjadi 20 tahun lalu.

“Wow anda akan sangat membuatku kecewa dipesta pernikahan kakakku. Itu akan membuatku sedih,” jawabnya seraya menyuguhkan mimik muka menghiba.

Annie menatap pria muda ini dan dengan cepat menjawab

“Oh aku tak bermaksud begitu Bobby. I’m sorry, aku hanya bermaksud kalau aku sudah menikah. That’s all.”

Bobby membalas tatapan mata Annie dan tersenyum manis dan untuk beberap kejap Annie merasa tenggelam dalam tatapan matanya itu. Dalam hatinya berkata pria ini begitu muda.

“Aku cuma bercanda, tapi bolehkah aku berdansa dengan nyonya sekali saja? Nyonya boleh meminta ijin pada suami dan kalau dia tidak mengijinkan, lupakan saja.”

Annie tertawa dan menjawab

“Baiklah anak muda, tunggu disini.”

Saat Annie meminta ijin pada suaminya, responnya hanya

“Tentu saja boleh sayang, bersenang-senanglah.”

Lalu keduanya berjalan ke lantai dansa dan setelah lagu pertama berlalu, lagu kedua berganti dengan irama yang slow.

Saat mereka berdansa Annie melempar pertanyaan pada Bobby

“So Bobby, ceritakan padaku tentang dirimu dan jangan panggil aku nyonya atau ber-anda–saya denganku, itu membuatku merasa sangat tua. Panggil aku Annie saja.”

Bobby membimbing Annie di atas lantai dansa dan menjawab

“Ok Annie, umurku 18 tahun, disekolah aku ikut tim basket, sepak bola dan sesekali ikut renang juga.”

Hal terakhir tersebut menarik perhatian Annie dan dia menanyakan dalam gaya apa Bobby berenang seraya mereka terus berdansa.

“Oh 50, 100, and 400 freestyle and the 100 butterfly,” jawab Bobby.

Mata Annie membesar dan dia mulai penasaran

“Aku berenang di 400 freestyle dan 100 butterfly saat kuliah dulu. Record waktumu berapa?”

“Oh mungkin tak sebagus waktumu. Aku tak begitu bagus,” jawabnya.

“Oh well kamu masih SMU. Kamu masih punya kesempatan untuk bertambah kuat dan memperbaiki waktumu,” jawab Annie seraya meremas bahu Bobby dan dia sadari kalau bahu pria muda ini lumayan kekar.

Alunan lagunya usai dan berganti dengan lagu berirama cepat, Annie melangkah kembali ke mejanya, tapi Bobby berkata

“Kamu sudah kecapaian, aku pikir kamu tadi bilang kalau kamu seorang perenang?”

Mendengar itu Annie berbalik arah dan mulai berdansa kembali dengan Bobby dan mulai berdansa dengan gerakan yang lebih dan lebih menggoda. Seorang pramusaji mendekat dengan membawa minuman dan Bobby mengambilkan minuman untuk Annie yang terus bergerak mengikuti irama lagu.

Dengan cepat Annie meneguk minuman yang disodorkan Bobby dan berkata

“Ayo Bobby coba kalahkan aku.”

Bobby meneguk minumannya dan mengambil dua gelas lagi untuk mereka dan keduanya menenggaknya dengan cepat pula.

“Hey kamu belum cukup umur,” kata Annie saat mereka kembali berdansa.

Lalu dia mendekatkan tubuhnya kearah Bobby dan berbisik ditelingany.

“Jangan takut Bobby. Aku tak akan bilang-bilang,” bisik Annie sambil menggodanya dengan memberikan sebuah remasan ringan pada pantat Bobby.

Penis Bobby terlonjak tiba-tiba saat Annie melakukan hal tersebut dan semakin bertambah membesar saat dia melihat buah dada Annie terayun mengikuti lenggokan tubuhnya yang meliuk dengan sangat menggoda diatas lantai dansa. Gaunnya kini benar-benar basah oleh peluhnya saat dia terus meliukkan tubuhnya dan mulai memegangi buah dadanya lalu menggesekkannya ke tubuh Bobby. Setelah lagu usai Annie merasa kelelahan lalu dia melangkah kembali ke mejanya, namun suaminya masih tersangkut dalam percakapan dengan para sahabatnya. Annie merasa sangat bosan dan saat satu lagu baru berkumandang kembali dan Bobby mengajaknya untuk kembali berdansa dengannya, dia menerimanya.

Kali ini lagunya berirama slow dan kala mereka mulai berdansa Annie merebahkan kepalanya di dada Bobby dan begitu Bobby menghirup parfum yang dikenakan Annie serta sentuhan tubuhnya, batang penisnya kembali mulai membesar. Annie menyandarkan tubuhnya pada Bobby dan dia hirup aroma lelaki dari aftershave-nya, merasakan kekarnya lengan Bobby yang memeluk tubuhnya, dan dia mulai merasa bergairah. Sebuah lagu slow baru mengalun dan keduanya tetap berpelukan. Batang penisnya semakin bertambah membesar dan mulai menusuk tubuh Annie. Annie meresponnya dengan sebuah desahan pelan dan mulai menggesekkan tubuhnya ke tubuh Bobby, sambil tangannya mengelus punggung pria muda ini dengan lembut.

Saat batang penisnya terus membesar, tangan Bobby bergerak turun ke pantat Annie dan mulai memberikan remasan pada daging kencang milik Annie tersebut.

Bobby mulai kehilangan kontrol sekarang. Batang penisnya terasa begitu tegang hingga dia merasakan seakan hendak menyembul keluar merobek celananya kala Annie terus menggesekkan tubuh bawahnya pada tubuhnya.

Akhirnya lagu tersebut usai dan Annie berkata

“I’m sorry aku harus pergi, but thanks for the dance.”

Dia berjalan menuju mejanya kembali dan berkata pada suaminya kalau dia harus pergi ke kamar kecil, tapi dia tak tahu dimana tempatnya.

“Akan kutunjukkan padamu,” kata Bobby.

“Oh baguslah, thanks kid,” jawab suaminya saat keduanya berlalu bersama.

Antrian didepan kamar kecil wanita sangat panjang, lalu setelah memastikan kalau tak ada yang berada di dalam dan berjanji untuk menjaga situasi, Bobby mengajak Annie masuk ke dalam kamar kecil pria. Kamar kecil tersebut berukuran lumayan luas dan terlihat bersih dengan meja washtafel berukuran besar dengan cermin besar di atasnya, beberapa tempat kencing berdiri dan beberapa bilik dengan pintu penuh di salah satu bagian dindingnya.

Annie bergegas memasuki salah satu bilik dan Bobby memakai tempat kencing yang berdiri. Setelah selesai melepas hajatnya Annie lalu keluar dari dalam bilik dan membasuh tangannya pada washtafel, dia melirik ke arah cermin dihadapannya untuk melihat bayangan Bobby yang terpantul di dalamnya. Hanya punggung Bobby yang nampak di cermin namun benak Annie membayangkan seperti apakah bentuk dari batang penis milik pria muda ini, dan kenyataan saat ini bahwa dia berada dalam ruang ini hanya berdua dengan Bobby dan dia berada tak jauh darinya menjadikan thong yang dipakaianya yang telah agak basah itu semakin bertambah basah saja. Bobby membalikkan tubuhnya dan kemudian melangkah mendekati Annie untuk membasuh tangannya juga.

Annie melirik ke arah Bobby dan berkata

“Bobby aku minta maaf soal kejadian dilantai dansa tadi. Aku sudah agak kelewatan.”

Bobby menatap Annie dan tersenyum

“Hey it’s ok, tapi kita masih bisa mendengar suara musiknya dari sini, jadi bisakah kita menyelesaikan dansa tadi?”

Annie tertawa dan menjawab “Tentu saja.”

Lalu keduanya kembali berdansa diiringi alunan musik yang terdengar, pelukan Annie kali ini begitu erat hingga Bobby bisa merasakan puting Annie yang mengeras dibalik pakaiannya. Hal ini berefek pada batang penis Bobby yang segera mengembang besar, namun kali ini sensasi yang dia rasakan berbeda dengan yang tadi. Annie bisa merasakannya mendesak pada tubuhnya dan kembali dia mulai mendesah pelan dan menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke tubuh Bobby seperti sebelumnya, namun dia rasakan desakan batang penis Bobby kali ini lebih intens. Terasa lebih fokus pada satu area dan semakin dia gesekkan tubuh bawahnya maka terasa semakin menjadi keraslah itu terasa. Annie melirik ke bawah dan dia menjadi terkejut dengan pemandangan batang penis Bobby yang menyeruak keluar dari resleitingnya yang terbuka.

“Masukkan lagi Bobby,” kata Annie dengan tegas, namun Bobby tak bergeming hingga Annie kembali mengulang perintahnya namun tetap saja pria muda ini tak mengacuhkannya.

Mau tak mau Annie melayangkan pandangannya ke bawah dan memandang dengan takjub menyadari pria muda berumur 18 tahun ini memiliki batang penis yang sedemikan besar. Yang membuatnya tercekat adalah kenyataan bahwa meskipun batang penis ini terlihat belum ereksi sepenuhnya namun masih tetap terlihat lebih besar dibandingkan dengan milik suaminya saat ereksi penuh. Suamiku!!!!!

Saat hal itu melintasi benaknya Annie segera berkata

“Bobby hentikan ini sekarang. Masukkan punyamu ke dalam celana.”

Kembali Bobby tak menjawab ataupun memberi respon. Dia hanya memandang Annie dengan tajam. Merasa frustrasi dan mencoba untuk mengontrol gairahnya sendiri, akhirnya Annie memegang batang penisnya dan mencoba untuk memaksanya masuk kedalam celananya lagi. Erangan Bobby langsung terdengar saat Annie mencoba meskipun sia-sia memasukkan batang penis Bobby kembali ke dalam celananya, dan pinggang Bobby bergerak kegelian saat Annie terus mencoba usahanya.

Annie merasa kagum selama usahanya untuk memasukkan batang penis Bobby kedalam celananya, batang tersebut terasa semakin bertambah membesar. Api diselangkangannya mulai berkobar saat dia sadari kalau dia ingin melihat seberapa besar lagi batang penis ini bisa berkembang. Akhirnya Annie hentikan usahanya untuk memasukkan batang tersebut dan gerakannya beralir sebuah kocokan pelan mengimbangi gerakan pinggang Bobby.

Cengkeraman tangan Annie sekarang berubah kencang dan kocokannya semakin cepat saat Bobby yang kini menyandarkan tubuhnya ke meja washtafel dan mulutnya semakin meracau.

“Oh God… Oh baby… Oh God Annie… yes!”

Annie semakin bertambah takjub mendapati betapa besarnya batang penis pria muda ini sekarang dan kocokannya semakin bertambah cepat dan cepat. Jauh lebih besar dari milik Frank, pikir Annie. Dahulu dia pernah mempunyai beberapa kekasih sebelum suaminya namun kesemua mereka tak memiliki batang sebesar yang dimiliki pria muda ini.

Tiba-tiba punggung Bobby meregang ke belakang.

“Oh God Annie… Oh YeSSSSSSSS,” dia ejakulasi dengan semburan sperma yang terlontar keras berulang-ulang ke udara dan jatuh ke atas lantai.

Annie hanya mampu memandanginya dan merasa belum pernah melihat seorang pria yang berejakulasi sebanyak dan sedahsyat ini sebelumnya dan dia beri sebuah remasan sekali lagi untuk memastikan bahwa tak ada lagi yang tersisa. Bobby kemudian merengkuh tubuh Annie dan menciumi belahan dadanya, menjilati setiap tetes keringat yang berbaur dengan wangi parfumnya. Dia cengkeram bagian atas gaun yang dikenakan Annie dan menyentakkannya turun hingga sebatas pinggang, membuat buah dada terbungkus bra hitam milik Annie kini terekspos dihadapannya. Bobby meraba-raba dengan gusar kaitan bra dipunggung Annie hingga Annie menghentikan perbuatannya dan melepaskan sendiri kaitan bra yang dipakainya dari depan.

Buah dada kencang nan kenyal tersebut segera melompat keluar begitu penutupnya terlepas dan Bobby langsung memasukkan salah satu putingnya yang sudah sedemikin mencuat keras ke dalam mulutnya lalu tangannya segera memberikan remasan pada buah dada yang satunya lagi.

“Oh Bobby… kamu sangat nakal anak muda… oh Bobby yeah baby… ya… disitu oh… pintar anak manis,” Annie mengerang dan memejamkan matanya rapat sedangkan punggungnya meregang kencang ke belakang membuat buah dadanya semakin mencuat untuk dinikmati Bobby.

Bobby terus menghisap, melumat dan terkadang menggigit pelan puting Annie yang membuat isteri Frank ini menggelinjang tak karuan. Gemuruh ombak kenikmatan meletus dalam tubuh Annie dan dia memeluk tubuh Bobby dengan kencang dan menariknya semakin merapat ke tubuhnya. Hingga setelah ledakan kenikmatan tersebut mereda, Annie melepaskan tubuh Bobby dan bersandar tubuhnya pada meja washtafel, matanya nampak berbinar dengan gairah dan buah dadanya terlihat basah oleh keringatnya yang bercampur dengan air liur Bobby, bergerak naik turun seirama deru nafasnya yang memburu.

Kemudian Bobby mendudukkannya ke atas meja washtafel tersebut, tangannya bergerak keatas paha Annie dan menarik turun thong yang menutupi selangkangan Annie. Annie hanya memandangi apa yang dilakukan pria muda dihadapannya tersebut dan sedikit mengangkat pantatnya untuk mempermudah usaha Bobby. Mata Annie terus memperhatikan apa yang dilakukan Bobby selanjutnya, dia genggam thong tersebut dan mulai mendekatkannya pada wajahnya lalu mulai menjilatinya dihadapan Annie. Lalu Bobby berlutut didepan selangkangan Annie dan membenamkan wajahnya ke vagina isteri Frank ini.

“OH YESSSS…” Annie memekik nikmat kala Bobby mulai menggerakkan lidahnya keluar masuk dengan cepat, dia julurkan lidahnya sepanjang yang dia mampu tak menyisakan satupun area untuk dia eksploitasi, semakin dalam dan bertambah dalam dia membelah ke dalam vagina Annie.

“Oh Bobby… baby… terus Bobby… auww,” dia memekik pelan, mendesis tak terkontrol kala Bobby melanjutkan serangannya.

Kini dia bergerak ke atas untuk mencari kelentitnya dan begitu dia temukan langsung dia hisap dengan lembut pada awalnya namun segera berubah keras dan kasar.

“Aaarghh… Bobby… oh Bobby… oh jangan berhenti… lebih cepat… lebih cepat… Oh BOBBBBBBBBBY,” teriakan Annie terlepas kala dia mencapai orgasme keduanya hari ini.

Bobby menjilat habis seluruh cairan yang dikeluarkan Annie lalu dia bangkit dan menatap lekat ekspresi wajah Annie seusai mendapatkan kepuasannya.

Saat dunia terasa kembali ke hadapan mereka berdua, tiba-tiba saja telinga mereka menangkap suara dan langkah kaki yang melangkah mendekat diantara suara musik yang terdengar. Keduanya tercekat dan mulai panik. Dengan tergesa keduanya menata diri dan bergegas masuk ke dalam salah satu bilik terdekat. Berbarengan dengan Bobby menutup pintu bilik di belakangnya, pintu kamar kecil tersebut terbuka dan kakak Bobby bersama seorang temannya masuk. Kedua lelaki tersebut melangkah menuju washtafel, mencuci tangannya lalu membasuh muka dan terus asik mengobrol tak menyadari kehadiran dua orang lainnya di dalam salah satu bilik tersebut.

Bobby diam tak bergerak dengan celana yang melorot hingga lutut membuat batang penisnya yang mendongak dengan ereksi penuh nampak terayun seiring degup jantungnya yang berdetak kencang. Annie duduk di atas closet, suasana tegang tersebut tak menghalangi pemandangan batang penis Bobby yang tepat dihadapan matanya, seakan mengejek dan terus menggoda. Dia ambil thongnya yang masih dalam genggaman tangan Bobby, lalu menaruhnya diselangkangannya dan menekannya rapat-rapat pada vaginanya untuk memastikan lebih banyak lagi cairan birahinya terserap di kain thong tersebut.

Lalu dia menarik thong yang semakin bertambah basah tersebut dan memberi isyarat pada Bobby untuk duduk di atas closet duduk tersebut dan dia berbisik pelan ditelinga Bobby.

“Kita harus sangat tak bersuara. Aku ingin menghisap penismu Bobby. Buka mulutmu.”

Bobby melakukan apa yang diperintahkan Annie dan kemudian Annie menyumpalkan thong basah tersebut ke mulut bobby, menarik pantat Bobby untuk semakin mendekatinya dan segera melahap batang penis Bobby yang terus menggoda birahinya tersebut.

Suara erangan Bobby tertahan oleh sumpalan thong milik Annie dimulutnya saat Annie mulai menggerakkan mulutnya maju mundur menghisap batang penisnya dengan cepat. Sedangkan kakak Bobby dan temannya tetap asik mengobrol sambil merapikan diri dihadapan cermin diluar bilik tempat Annie mengulum batang penis adiknya dengan rakus.

Tiba-tiba Annie menghentikan gerakannya dan menarik kepala Bobby turun mendekat dan berkata

“Keluarkan dalam mulutku… biarkan aku merasakan spermamu Bobby,” lalu kembali memasukkan batang penis Bobby ke dalam mulutnya, menekannya sejauh mungkin hingga sedalam tenggorokannya mampu mengakomodirnya.

Annie mulai memberikan deep throat pada Bobby dan mendengar suara erangan Bobby yang tertahan sumpalan thong dimulutnya, serta kehadiran kakak Bobby tepat diluar bilik tempat mereka berada begitu membuatnya merasa takut terpergok namun juga semakin membakar birahinya. Hingga akhirnya Bobby mencengkeram kepala Annie dan menekannya ke selangkangannya seerat mungkin kala semburan demi semburan spermanya tumpah ke dalam tenggorokan isteri Frank tersebut.

Setelah merasa tak ada lagi sperma Bobby yang bisa direguknya, Annie menarik kepalanya ke belakang dan bangkit, dia berbalik dan mendekat ke pintu bilik untuk mendengarkan apakah kakak Bobby masih berada di sana atau tidak. Kakak Bobby dan temannya telah keluar tepat sesaat sebelum Bobby menumpahkan spermanya dalam mulut Annie tadi yang tentu saja tak terdengar oleh keduanya yang sedang asik berada di dunia lain.

Kala tubuh Annie berbalik untuk mendekati pintu bilik, pantatnya yang tersuguh dihadapan wajah Bobby tak ayal membuat batang penis Bobby langsung mengeras kembali. Dia raih tubuh Annie dan menariknya ke atas pangkuannya. Tangannya segera bergerak menelusup ke bagian depan untuk mencengkeram kekenyalan buah dada dari isteri Frank, dan jemarinya langsung memilin puting kerasnya.

Annie tersenyum mendapati tingkah laku Bobby tersebut dan senyumnya semakin bertambah lebar sewaktu merasakan kerasnya batang penis Bobby yang menusuk pantatnya. Ah, stamina anak muda… pikirnya. Dia merespon dengan merebahkan tubuhnya ke belakang bersandar pada Bobby dan berbisik manja.

“Aku ingin kamu masukkan penismu ke dalam vaginaku sekarang Bobby. Tunjukkan padaku seberapa hebatnya staminamu anak muda.”

Annie mengangkat pantatnya sedikit untuk mengatur posisinya, dia raih batang penis Bobby dan menempatkannya tepat didepan pintu masuk vaginanya. Lalu dia turunkan tubuhnya dengan sangat pelan, menikmati setiap bagian dari batang penis bobby yang membelah vaginanya. Dia resapi setiap sensasi yang diberikan oleh Bobby yang membelah dan menyeruak di bagian yang belum pernah dijamah oleh suaminya maupun semua kekasihnya sebelumnya. Bobby membungkuk kedepan untuk memeluk Annie dan membelai buah dadanya. Annie melempar tubuhnya sepenuhnya ke pelukan Bobby dan kakinya terjulur ke atas bertumpu pada pintu bilik tersebut, lalu mulai mengangkat pantatnya kemudian menurunkannya lagi menyambut gerakan menusuk Bobby dari bawah.

“Ssshh… ahhh… oh baby… yeah… oh Bobby… kamu begitu besar… oh fuck me Bobby,” racaunya saat Bobby menguburkan dirinya ke dalam tubuh Annie.

Kemudian, tiba-tiba saja terdengar pintu kamar kecil tersebut dibuka lagi dan disusul oleh masuknya suara langkah kaki diiringi oleh suara dua orang pria. Kali ini suara dari salah satu pria tersebut terdengar sangat familiar di telinga Annie.

“Ya dia pergi ke kamar kecil sudah lama tadi, tapi kamu lihat kan panjangnya antriannya tadi. Dia mungkin masih berada didalam menunggu,” Frank tertawa pada sahabatnya.

Annie tercekat, tubuhnya menegang! Itu suaminya!!! Dia ada diluar bilik, di dalam kamar kecil ini, tak jauh darinya. Dia harus menarik kakinya dan berhenti menekan pintu bilik ini, tapi reaksi tubuhnya yang tegang tersebut membuat otot vaginanya mencengkeram batang penis Bobby dengan demikian erat membuat Bobby menggelinjang dibawahnya. Tangan Bobby langsung bergerak mengarah ke depan mencari kelentit Annie dan langsung memainkannya. Hampir saja Annie menjerit karena perbuatan Bobby ini, dengan cepat dia meraih ke belakang dan menarik thongnya yang menyumpal mulut Bobby dan menyumpalkannya ke mulutnya sendiri.

Suara erangannya tertahan oleh sumpalan thong di mulutnya begitu Bobby tak hentinya mempermainkan kelentitnya dan disaat yang bersamaan seluruh batang penisnya terbenam seluruhnya dalam cengkeraman vaginanya. Dan suaminya saat ini berada tak lebih dari beberapa meter jauhnya. Bobby tetap memainkan jemarinya dikelentit Annie dan mulai mengatur kocokannya dalam irama yang pelan. Dengan bantuan Annie yang pinggangnya dicengkeram erat oleh kedua tangannya, Bobby mulai menusukkan batang penisnya sedalam yang dia mampu lalu menariknya hingga hanya tinggal kepalanya saja yang terbenam didalam vagina Annie hingga dia tusukkan kembali lagi.

Gelora demi gelora kenikmatan mulai terbentuk didalam perut Annie yang dengan berusaha sebisanya untuk tak mengeluarkan suara dengan menutup mulut yang sudah tersumpal thongnya sendiri dengan tangannya. Perlahan dia hampir mencapai batas pertahanannya hingga akhirnya telinganya menangkap suara pintu kamar kecil tersebut tertutup dibalik bilik tempatnya berada ini…

Dia renggut lepas thong yang menyumpal mulutnya dan seiring hentakannya ke bawah untuk kali terakhir, dia raih batasnya seiring jeritan mulutnya.

“Aaaaarrrgggghhhh… oh Bobby… Bobby… sssshhhh,” diraihnya moment pelepasan terindah dalam hidupnya yang membuat sekujur sendi di tubuhnya tergetar dan air mata keluar dari sudut matanya.

Tak lama berselang kemudian Bobby menggeram melepaskan gempuran orgasmenya sendiri yang menggempur batas kesadarannya.

“Arrrrggggghhh… Annie…,” semburan disusul semburan berikutnya dia tuangkan ke dalam rahim isteri Frank di atas pangkuannya ini.

Tubuh Annie terhempas ke belakang di atas pangkuan Bobby yang juga merasa seluruh tulangnya seakan dilolosi dari tubuhnya. Annie menoleh ke belakang dan memberi sebuah ciuman yang dalam pada Bobby dan jemarinya bergerak menyusuri rambut pria muda ini.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, Annie bangkit membuat sebuah suar ‘plop’ sewaktu menarik keluar batang penis Bobby dari vaginanya. Keduanya kemudian keluar dari dalam bilik tersebut dan merapikan diri di depan kaca di atas meja washtafel yang baru beberapa saat lalu juga digunakan oleh kakak Bobby dan Frank beserta temannya untuk merapikan diri. Setelah merasa semua jejak terhapus keduanya dengan berhati-hati menyelinap keluar bergantian dari dalam kamar kecil pria tersebut. Hanya aroma seks yang masih tertinggal di dalam sana…

“Hey dari mana saja kamu” tanya Frank pada isterinya begitu dia melihat Annie berjalan mendekat mejanya.

“Oh well, antrian di kamar kecil wanita terlalu panjang lalu Bobby mengajakku kamar kecil lainnya yang terletak dibagian lain,” jawab Annie berusaha untuk terdengar senatural dan semeyakinkan mungkin.

“Ok well kita harus segera pulang sayang. Dan Bobby, terima kasih sudah menemani dan mengurus isteriku,” kata Frank sambil menjabat tangan Bobby.

“Sama-sama Frank, tak usah sungkan,” jawab Bobby sambil melirik ke arah Annie yang mengedip kepadanya…





Liburan yang tak terlupakan

18 05 2009

Liburan sekolah kali ini sungguh memberikan ketenangan kepada kami, karena anak-anak dibawa oleh orang tuaku bepergian tour ke pulau, sehingga praktis di rumah hanya tinggal aku dan istriku serta pembantu.

“Ma.. besok kita jalan yuk..”kataku malam itu pada Anita istriku yang juga tampak bosan menonton siaran TV, ”Mumpung anak-anak nggak ada kita bisa pergi santai kemanapun yang kita inginkan” kataku melanjutkan.

”Mm..boleh.., memang mau kemana ..?,” tanyanya.

”Ah.. pokoknya siapkan saja lah.., pagi-pagi kita ke airport, sedapatnya tiket aja”

Begitulah.. pukul 07.00 kami sudah di Cengkareng Airport, dan melihat-lihat jadwal keberangkatan, kucari kenalanku seorang District Manager sebuah Airlines dan akhirnya sebelum tengah hari kami sudah berada di udara menuju Pulau Batam.

Di Batam ternyata kami cuma betah sehari, udara yang panas, semrawut, mau belanja juga tidak ada yang cukup menarik untuk di beli ditambah dengan suasana yang bagi kami kurang nyaman membuat kami memutuskan untuk menyeberang ke Singapore,

Menjelang sore kami sudah Check In di sebuah hotel sekitar Orchard Road, karena kupikir pasti Anita ingin memuaskan hasratnya berbelanja.

Malam itu kami makan malam di sebuah restaurant favorit kami di sekitar Kampong Bugis, mengenang masa lalu karena memang dulu sebelum anak-anak lahir sering kali kita makan disini, bahkan pernah terbang dari Jakarta hanya untuk makan dan balik lagi, yah itulah kadang pola hidup kami sejak dulu, semua dilakukan sesuai hasrat hati kami semata.

”Hai.. Apa kabar..?” sebuah suara bariton menyapaku dan ketika aku menatapnya seringai senyum sebuah wajah yang tak asing lagi terpampang dihadapanku.

”Eh.. Anton… ngapain lu disini?” tanyaku, dan Anton langsung menyalami dan mencium pipi Anita.

”Roy… kenalin nih teman papa…” katanya dan seorang pemuda berusia kurang lebih 18 tahun menyodorkan tangannya kepada kami.

”Ini anakku, dia baru lulus SMA, rencananya mau sekolah disini, makanya kuajak sekalian melihat beberapa calon sekolah yang mungkin cocok..”, Anton menjelaskan dan Roy, anak muda itu nampak mirip sekali dengan bapaknya, cuma lebih jangkung dan putih.

Kami duduk satu meja dan aku ngobrol asyik dengan Anton, yah cerita banyak hal tentang masa lalu, apalagi dia sahabatku saat masih kuliah dulu, walau kita beda usia dan tingkat.

”Kebetulan, aku ketemu kalian disini, besok sore aku mesti balik Jakarta, urusan sekolah Roy besok kubereskan, dia sih masih ingin main–main disini, kalau kalian nggak keberatan…” Belum selesai ia berkata anak muda itu sudah menyelak

”Pah.. nggak mau.. Roy ikut balik ke Jakarta..” katanya.

”Tenang Roy…. kami welcome kok.., kita memang lagi santai…, malah asyik ada temen.., tante masih mau ke Sentosa Islands, terus masih mau belanja, udah kamu ikut kita aja, biar papamu balik ke Jakarta, kita masih 2-3 hari kok disini, nanti tante temenin cari apa yang mau kamu beli, pasti ada deh yang mau dibeli tapi nggak enak sama papamu ya kan?” tiba-tiba saja Anita sudah nyerocos panjang lebar sambil kakinya menendang kakiku di bawah meja.

Aku masih belum mengerti maksudnya namun kuikuti saja kemauannya.

Walau semula masih menolak namun bujukan Anita dan papanya membuat Roy mau tetap tinggal dan besok kami akan mengantar Anton ke Bandara.

”Kamu ngapain sih..?”, tanyaku saat kita sudah berdua saja, ”Katanya mau santai kok malah ngasuh anak orang?” tanyaku lagi, dan dengan senyum khasnya istriku membisikkan sesuatu ditelingaku

”Kamu ngaco.. kalau orang tuanya tahu..” kataku kaget juga dengan pikiran ’gila’ Anita.

”Nggak lah kayak nggak pernah remaja aja kamu..”, dan akupun jadi tertarik melihat kelanjutan ulah Anita istriku itu.

Begitulah.., setelah mengantar Roy ke Changi Airport, kami bertiga kembali ke hotel dan atas usul Anita semalam, kami pindah dari hotel ke sebuah service apartment dengan dua kamar di daerah mansion road, yang sebenarnya sih tidak terlalu jauh.

Setelah makan malam dan berbelanja, bertiga kami menuju apartemen dan dalam waktu singkat Anita sudah berhasil ’mengambil hati’ Roy, tentu saja anak muda itu tetap memperlakukan istriku dengan penuh kesopanan dan hormat, sementara istriku juga bersikap seakan seorang ’tante’ yang baik.

Malam itu, sambil nonton TV dan ngobrol dengan suasana santai, istriku memang memakai pakaian santai walau sexy, hot pants dan tank top ketat, namun tetap ’normal’ dan tidak ada ’move’ yang berarti, sementara Roy juga sudah sangat relax dengan kami, namun aku tahu kalau matanya terkadang ’menyambar’ ke dada dan paha istriku, tapi semua berjalan biasa sampai masing-masing masuk kamar.

”Pah..,” katanya saat kami baru saja selesai melakukan hubungan sex yang sangat menggairahkan,

”Mmm….?” jawabku agak malas, karena masih belum lepas dari sensasi kenikmatan yang baru saja kudapat.

Sambil menyandarkan kepalanya didadaku ia menjawab

”Besok siang.. tinggalkan mama sama Roy.. aja.. ya”

”Oh…??” tanyaku

”Iya..anak itu masih polos banget, kalau papa ada, nggak mungkin.., lagian kalau dia nggak tahu kalau papa tahu…., pasti mati-matian dia jaga hal yang dianggap rahasia..” katanya lagi, dan dari lirikan matanya yang ’nakal’ itu aku bisa menduga apa yang dipikirnya.

”Oke…, tapi cerita ya nanti…” jawabku

Anita tidak menjawab, namun kepalanya mulai turun dari dadaku ke perut dan terus turun….

Siang harinya setelah mengunjungi beberapa tempat, kami makan siang dan Anita beralasan lelah dan ingin kembali ke apartment, sementara aku mengatakan masih mau mencari beberapa barang di KM 14, lokasi barang barang untuk otomotif, karena memang sesuai hobbyku.

”Roy.., temenin tante ya, Oom mau cari variasi mobil dulu, agak jauh sih.., ”
”Baik Oom” jawab anak muda dengan polosnya

Setelah mencium istriku, aku memisahkan diri, dan menduga-duga apa yang dilakukan istriku yang cantik, sexy namun nakal itu ?

Aku kembali agak larut, setelah sebelumnya menelpon Anita menyampaikan aku segera kembali, maklum aku nggak mau mengejutkan mereka, dan dengan tangan penuh belanjaan variasi kendaraan yang kubeli sepanjang siang dan sore aku memasuki apartment.

”Hey… makan dulu., mama pesen chinese food nih..” kata istriku sambil menyambutku, mencium bibirku dan membantu meletakan belanjaanku, sementara Roy tak kulihat.

”Dia dikamarnya..” bisik istriku.

Kami makan malam bersama, dan walau istriku bersikap biasa namun kulihat Roy agak salah tingkah, lebih pendiam namun sesekali matanya menatap istriku, hm.. aku yakin anak ini telah ‘dibantai’, sungguh tak sabar aku ingin mendengar ceritanya.

Malam itu kami dikamar, istriku menceritakan segalanya dan cerita itu kami akhiri dengan sebuah permainan sex yang sangat ‘panas’. Sesampainya di apartment aku mandi, berganti pakaian lalu menggunakan salah satu baju suamiku yang jelas saja sangat kebesaran untukku sehingga seperti pakai daster mini, untuk satu dan lain alasan kulepas bra dan hanya menggunakan celana dalam mini berwarna putih tipis.

Karena hawa yang cukup panas tadi Roy juga mandi segera setelah aku selesai dan ketika keluar ia menggunakan celana training dan kaos, tubuhnya atletis dan kemudaan yang memancar sungguh menggodaku.

Kuatir anak itu pergi ke fitness centre yang ada di lingkungan apartment itu, kupanggil anak itu dan kuajak ngobrol.

”Roy.., kamu sudah punya pacar..?” tanyaku memancing

“Belum tante, ..” jawabnya dan mukannya memerah.

”Ah..masa.. pemuda secakep kamu belum punya pacar..?” tanyaku lagi.

”Iya..bener.., kata papa Roy mesti lulus dulu baru boleh pacaran..” jawabnya polos.

”Ah.. papamu keterlaluan.., kayak nggak pernah muda aja..” aku berkata seenaknya, lalu kulonjorkan kaki sambil mengatur posisi dudukku, baju yang dua kancing atasnya sengaja kubiarkan terbuka terkadang membuat payudaraku terlihat sekilas dan aku tahu kalau ia seringkali melirik berusaha memandang lebih jelas.

”Sorry ya.., nggak apa-apa kan kalau tante relax begini..?” tanyaku

”Nggak apa tan, kalau tante mau tidur silahkan saja.., Roy bisa ke fitness centre kok” jawabnya lagi.

”Nggak tante mau ditemenin ngobrol, mau kan ..?” tanyaku.

Dengan senyum anak muda itu mnengguk.

”Roy… ” tanyaku lembut

”Ya tante..?” tanyanya

”Boleh nggak tante minta pendapat kamu..?”

”Boleh… ” jawabnya ”Tentang apa..?”

”Gini…, ” jawabku

”Tante kan udah hampir 40 tahun, kayaknya udah tua…, kalau menurut Roy tante udah tua..?” tanyaku.

”Nggak tante.. tante masih cantik sekali.., malah paling cantik” jawabnya spontan.

”Masa…., mungkin kamu lihat tante di wajah saja ’kali, kan kalau wajah pakai make up” kataku lagi bersikeras.

”Bener.., tante Anita cantk sekali” jawabnya, namun wajahnya mulai memerah, agak canggung ia dengan percakapan ini.

”Oke.., gini tante mau pendapat kamu ya, tapi kamu harus jujur kalau nggak bagus bilang, oke..?” tanyaku

”Iya.. tante.” jawabnya masih belum mengerti arah yang kutuju.

Aku lalu berdiri dihadapannya, lalu dengan perlahan kulepas baju yang kukenakan, sehingga tinggal mengenakan celana dalam putih tipis.

”Nah… coba kamu perhatikan…, ada nggak yang udah kurang bagus..?” aku bertanya dan melihat padanya yang menatapku dengan mata nanar dan jakun naik turun.

”Bagus tante…” namun ia menunduk tidak berani melihatku lebih lama lagi.

”Ah..kamu nggak perhatiin.., sini berdiri..” lalu kutarik tangan yang tiba-tiba terasa dingin itu dan dengan berdiri dihadapannya kubawa tangannya meraba payudaraku yang selama ini jadi kebanggaanku,

”Kamu raba dong.., kalau udah kendor atau kegemukan bilang” kataku lagi dan tangannya kubawa meraba tubuhku.

Dengan tangan agak gemetar Roy meraba tubuhku.. dan kulihat dari balik celana trainingnya sesuatu mulai menggelembung.

”Ba.. bagus… tante..” katanya dengan suara serak agak berbisik.

”Aku berdiri memunggunginya, kedua tangannya kutarik memelukku dari belakang memegang payudaraku dan terasa dipantatku kalau kemaluannya menegang hebat.

Kubawa tangannya turun ke perut masuk kedalam celana dalamku, dan ketika tangannya yang terus ’kutuntun’ menyentuh vaginaku ia seperti kena stroom, tergetar.

Agak lama kami berada dalam posisi itu dan aku menikmati rangsangan yang datang dalam diriku, lalu kulepaskan tangannya, menurunkan celana dalamku dan berbalik menghadapinya telanjang bulat.

”Gimana…, ada yang udah kurang bagus Roy?” tanyaku.

“Ngg.. nggak tante.., tante cantik sekali..” katanya menatap tubuhku dan wajahnya agak berkeringat.

”Katanya kalau cowok melihat wanita cantik, ’itunya’ bangun.. kalau memang nggak bohong.. ayo.. mana tante mau lihat kamu juga, ntar kamu cuma nyenengin tante aja..,” kataku sambil maju dan mulai melepaskan celana dan kaos yang dikenakannya.

”Nanti.. kalau oom datang.. tante..”, katanya sambil berusaha mundur.
”Ah.., nggak Oom kalau mau datang pasti telepon dulu, lagian kalau udah urusan mobil nggak kenal waktu..” dan dengan cekatan tanganku membantu melepaskan kaos yang dikenakannya menyusul training sekaligus celana dalamnya turun terlepas, dan ’praang..,” kemaluan yang tegang itu seakan meloncat keluar, ketika celananya turun.

Kini kami berdua berdiri berhadapan telanjang bulat dan tanpa basa basi lagi kugenggam kemaluan anak muda yang lumayan besar ukurannya itu, aku merapat, mendongak karena ia memang lebih tinggi dariku kuraih kepalanya dengan tanganku yang satunya dan sekejab kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku.

Roy sungguh masih polos, maka aku berusaha menjadi ’guru’ yang baik, lidahku menerobos rongga mulutnya mencari lidahnya dan ternyata ia murid yang pandai.., karena beberapa saat kemudian sudah bisa mengimbangi ciuman-ciuman yang kulakukan.

Kurebahkan ia di sofa, mulai kucium lehernya, terus turun ke dadanya, kumainkan dan kuhisap putingnya, turun keperutnya dan ia cuma bisa mendesah dan mendesah.., lidahku terus turun kebawah, ketika mencapai batangnya sengaja kulewati dulu, kujilat sekilas bijinya, dan ia menggelinjang hebat, ketika kulirik kepala kemaluannya sudah mengeluarkan cairan bening.., kukecup dan kujilat, lalu aku mulai menjilat pahanya, lututnya dan ketika naik kembali ke pahanya kemaluannya yang kugenggam berdenyut dahsyat., hm… anak ini belum pernah bercinta pikirku., aku masih bermain dan mulai dengan bijinya, kujilat dan sesekali batangnya kujilat dari bawah keatas, beberapa kali seperti itu, baru kepala kemaluannya kumasukan dalam mulutku dan benar saja, baru dua atau tiga kali kuhisap, ia berteriak, menggelinjang dan dengan denyutan yang terasa sekali di batang kemaluannya anak muda berusai 18 tahun itu melepaskan air maninya dalam mulutku, gurih, agak asin, manis dan hangat., dan.. banyak sekali sehingga harus beberapa menelan untuk meminum tuntas dan ia terkapar lemas.

Melihat sensasi yang diterimanya aku tersenyum puas, namun vaginaku sendiri juga terasa hangat, kutekan dadanya saat ia mau bangkit,

”Santai..saja.., minum dulu ya?”

Kataku..

”Dan jangan pakai baju..” kataku lagi lalu berjalan bugil ke dapur dengan buah dadaku bergoyang goyang.

Kubiarkan ia bersantai sejenak, lalu kujak kekamarnya.

Dasar anak muda, belum sampai seperempat jam kemaluannya sudah mulai bangkit lagi.

Kini ia yang mulai berani menciumku lalu lidahnya mulai mencari puting payudaraku, kadang ku’ajari’, supaya jangan terlalu keras menghisap dan ketika lidahnya sampai di vaginaku, aku benar-benar harus mengajarinya karena terkadang akibat nafsu yang sangat klitorisku beberapa kali kena giginya,

“Aw.., aduh.., yang lembut sayang…, ya pakai lidah kamu, nah…gitu, hh…yah terusin” dan sebagai ’murid’ yang pandai sebentar saja ia sudah menguasai mata pelajarannya.

Kini dengan posisi diatas kuarahkan kemaluannya memasuki lubang vaginaku dan sebentar kemudian aku sudah mengendarainya.

Permainan kali ini agak lama, maklum ia sudah keluar banyak sekali tadi, dan malah aku yang tidak tahan..

”Ah…tante keluar..ah…” namun ia tetap saja bergerak.

Lelah dengan posisi itu apalagi aku sudah klimax, aku sekarang dibawah dan dengan tidak sabar ia mengarahkan lagi kemaluannya memasuki vaginaku dan bless…, dengan keras dihunjamnya hingga habis batangnya terbenam dalam vaginaku, aku tidak banyak bereaksi menunggu redanya klimax yang baru kurasakan, karena aku nggak mau menjadi ngilu kalau banyak bergerak.

Kecipak dan suara lain yang keluar dari kemaluan kami benar-benar menambah erotis suasana, dan setelah beberapa lama kurasakan getaran-getaranku mulai kembali dan kini aku mulai mengayunkan pinggulku mengimbangi gerak naik turun pinggul Roy diatasku. Bibir kami saling berpagutan dan tubuh kami di penuhi keringat yang mengucur dan setelah mati-matian aku coba bertahan akhirnya kurasakan kalau ia juga sudah mulai mendekati puncak, dan……

”Sama.. sama… Roy… sama-sama….. dan… ahh… kali ini berbarengan aku klimax dan Roy menyemburkan maninya dalam vaginaku.., masih hampir sama banyaknya dengan yang pertama.., sungguh….. kalau masih muda….

Setelah kubiarkan kemaluan Roy ’terendam’ cukup lama, akhirnya ia tergeletak lemas dan…….. langsung tertidur.., akupun tidak mengganggunya.

Sore hari kami bangun, lalu mandi bersama, sambil mandi dan saling menyabuni kemaluan Roy sudah tegak lagi namun kali ini aku tidak mau bersetubuh, karena masih harus ’kusisakan’ untuk suamiku malam nanti.., jadi setelah mandi sekali lagi kugunakan mulutku dan kali ini ’pelajaran’ kutambah, ia kusuruh telentang, kuganjal pinggulnya dengan bantal, dan sesekali kuangkat kakinya tingi-tinggi dan lidahku menjilati anusnya, sampai ia tergelinjang dengan hebatnya, dan saat ia menyemburkan lagi maninya, benar-benar kunikmati air mani yang hangat dan kuminum tak bersisa.

Sampai disini mendengar cerita istriku aku tak tahan lagi kutarik kepalanya, kucium bibirnya dan kudorong kepalanya ke arah kemaluanku yang sudah tegang dan mulut hangatnya segera menyambutnya.

Dengan posisi duduk diranjang dan aku berdiri dihadapannya, kumaju mundurkan kemaluanku dalam mulut Anita yang dengan mahirnya ia imbangi dengan hisapan dan kulumannya

Aku tak bertahan lama, dengan satu erangan kucoba membenamkan sedalam mungkin dan

”Aaahhh…” kurasakan air maniku menyembur dengan denyut yang keras sekali, dan… ketika kulepaskan dari mulut istriku tiada setetespun yang tersisa, memang entah mengapa Anita suka sekali meminum air mani laki laki, dan kadang bersetubuh saja tidak cukup memuaskannya kalau belum menikmati limpahan air mani dalam mulutnya.

Aku hanya diberikan istirahat sebentar dan istriku sudah mulai lagi ’menyerangku’ yang kali ini diakhiri dengan memenuhi kembali vaginanya yang tadi sepanjang siang baru saja diisi oleh Roy.

Paginya seperti biasa, kami sarapan dan pergi sight seeing, kembali ke apartment menjelang sore, kali ini Anita sudah punya rencana lain, apalagi malam ini adalah malam terakhir kami di Singapore.

Sesuai kesepakatan, setelah makan malam, aku pura-pura mengeluh sakit kepala, minta obat dan pamit tidur, jam menunjukan menjelang pk. 21.00.

Aku masuk kamar, mematikan lampu namun sengaja pintu tidak kurapatkan sehingga aku bisa memandang ruang tamu dengan leluasa dan kulihat Anita duduk berdampingan dengan Roy menonton acara TV.

Sekitar lima belas menit kemudian kulihat keduanya sudah mulai berciuman saling memagut, dan ketika Roy lamat-lamat kudengar menanyakanku istriku menjawab

”Tenang… saja…, Oom udah pulas kok”, namun istriku menolak ketika Roy mengajak kekamarnya.

”Nggak, kita disini aja, kalau dikamar tante nggak bisa memantau nanti kalau misalnya dipanggil” dan sesaat kemudian mereka sudah telanjang bulat.

Disofa yang cukup lebar itu mereka mengambil poisi 69, istriku dibawah dengan kaki terbuka lebar yang satu mengait disandaran sofa dan satunya menjuntai kelantai memberi akses yang seluas-luasnya kepada Roy, sementara kemaluan anak muda itu sudah di mulut istriku.

Roy tidak mampu bertahan lama, digerakannya pinggulnya naik turun dan dengan diiringi erangan Roy, istriku berusaha keras agar semua yang dikeluarkannya tidak terbuang diluar mulutnya, namun selain jumlahnya banyak, posisinya juga kurang pas sehingga air mani anak muda membasahi juga pipinya, yang lalu dengan telunjuknya disapunya dan dimasukan ke mulutnya, matanya melirik ke kamar yang dia tahu aku pasti sedang menonton shownya.

Posisi doggy style yang mereka lakukan menimbulkan suara-suara yang seru dan keplok-keplok biji Roy yang mengenai pantat Anita juga menimbulkan irama tersendiri, berganti-ganti posisi yang mereka lakukan dan akhirnya Roy, si anak muda itu melenguh panjang dan menumpahkan isinya dalam vagina istriku.

Mereka diam sejenak lalu Roy membawa pakaiannya dan melangkah gontai ke kamarnya sementara dengan menenteng semua pakaiannya dan masih tetap telanjang bulat dengan vagina yang masih dipenuhi air mani Roy, Anita melangkah ke kamar kami.

Suasana dalam kamar yang gelap membuatku tidak jelas melihat wajah istriku, namun saat kami berpelukan aku merasakan aroma air mani saat mencium mulut istriku, lalu tiba-tiba ia mendorongku keranjang, memposisikan vaginanya, kemaluanku langsung memasuki vagina yang masih penuh dengan air mani Roy, hangat dan sensasional menurutku.

Paginya kami berkemas, aku masih sempat memberi kesempatan Anita menuntaskan hasratnya sekali lagi dengan Roy, dan kamipun kembali ke Jakarta, Liburan yang menyenangkan.





ABG Toket Gede

16 05 2009

Perkenalkan namaku Wawan. Aku sedang kuliah di tingkat terakhir sebuah PTS di Jakarta. Sambil kuliah, aku berwiraswasta. Terimakasih untuk temanku yang dulu memperkenalkan aku pada bisnis ini, sehingga keadaan ekonomiku sudah sangat berubah. Aku merasa sangat bersyukur, di saat banyak sarjana yang masih menganggur, aku yang masih kuliah sudah mendapatkan penghasilan besar setiap bulannya. Kejadian ini berlangsung beberapa minggu yang lalu. Saat itu, hari Jumat sore, aku sedang mengerjakan salah satu proyekku.

Seperti biasa untuk refreshing, sambil menyeruput secangkir kopi, aku membaca email yang masuk. Segera kubalas email permintaan proposal dari pelanggan, dan aku pun kadang tertawa geli membaca email-email joke dari teman-temanku. Tetapi ada satu email yang menarik perhatianku, yaitu dari temanku yang tinggal di Bogor, Andi.

Dia sedang suntuk dan mengajakku untuk refreshing ke Puncak saat aku tidak sibuk. Kebetulan besok aku tidak ada acara, hanya perlu mengambil pembayaran ke salah satu klienku. Terlebih lagi Monika, pacarku, juga sedang keluar kota bersama keluarganya. Aku segera mengambil HP-ku dan menelpon Andi, temanku itu.

“Di.., OK deh gue jemput lu ya besok.. Mumpung cewek gue sedang nggak ada”

“Gitu donk.. Bebas ni ye.. Emangnya satpam lu kemana?”

“Ke Surabaya.. Ada saudaranya kawinan”

“Besok jangan kesiangan ya datangnya.. Jam 11-an deh”

“OK”

Setelah itu kunyalakan sebatang rokok, dan kuteruskan pekerjaanku.

*****

Pagi itu, aku berangkat ke Bogor. Dalam perjalanan, aku mampir ke tempat salah satu klienku di daerah Tebet, untuk mengambil pembayaran proyek yang telah kuselesaikan. Setelah mengambil cek pembayaran, segera aku menuju tol Jagorawi. Sialnya ban mobilku sempat kempes, untungnya hal itu terjadi sebelum aku masuk jalan tol. Akibatnya, sekalipun aku telah memacu mobilku, baru sekitar jam 12.30 aku sampai di rumah Andi. “

Sialan lu.. Gue udah tunggu-tunggu dari tadi, baru dateng”. Andi berkata sedikit kesal ketika membuka pintu rumahnya.

“Sorry.. Gue perlu ke klien dulu.. Udah gitu tadi bannya kempes, mesti ganti ban dulu di tengah jalan”

“Anterin gue tambal ban dulu yuk.. Baru kita cabut” sambungku lagi.

“Bentar.. Gue ganti dulu ya”.

Andi pun kemudian ngeloyor pergi ke kamarnya. Sambil menunggu, aku membaca koran di ruang tamu. Tak lama Siska, adik Andi, datang membawa minuman.

“Kok udah lama nggak mampir Mas?”

“Iya Sis, habis sibuk.. Mesti cari duit nih” jawabku.

“Mentang-mentang udah jadi pengusaha.. Sombong ya” godanya sambil tertawa kecil.

Siska ini memang cukup akrab denganku. Anaknya memang ramah dan menyenangkan. Kami pun bersenda gurau sambil menunggu kakaknya yang sedang bersiap. Setelah Andi muncul, kami segera berangkat menuju tukang tambal ban terdekat. Setelah beres, aku membawa mobilku menuju sebuah bank swasta untuk mencairkan cek dari klienku.

Antrian lumayan panjang hari itu, akibatnya cukup lama juga kami menghabiskan waktu di sana. Saat keluar dari bank tersebut, jam telah menunjukkan pukul 14.00 siang, sehingga aku mengajak Andi mampir ke sebuah restoran fast food untuk makan siang.

Di restoran itu, kami bertemu dengan dua gadis ABG cantik yang masih berseragam SMA. Yang seorang berambut pendek, dengan wajah yang manis. Tubuhnya tinggi langsing, dengan kulit agak hitam, tetapi bersih. Sedangkan yang satu berwajah cantik, berkulit putih dan berambut panjang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi yang paling menarik perhatian adalah tubuhnya yang padat. Payudaranya tampak besar menerawang di balik seragam sekolahnya. Kami tersenyum pada mereka dan mereka pun membalas dengan genit.

“Wan.. Kita ajak mereka yuk..” kata Andi.

“Boleh aja kalau mereka mau” jawabku.

“Tapi lu yang traktir ya bos.., kan baru ngambil duit nih”

“Beres deh”

Andi pun kemudian menghampiri mereka dan mengajak berkenalan. Memang Andi ini pemberani sekali dalam hal begini. Dia memang terkenal playboy, punya banyak cewek. Hal itu didukung dengan perawakannya yang lumayan ganteng.

“Lisa..” kata gadis berambut pendek itu saat mengenalkan dirinya.

“Ini temannya siapa namanya” tanyaku sambil menatap gadis seksi temannya.

“Novi” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

Langsung kusambut jabatan tangannya yang halus itu. Aku dan Andi lalu pindah ke meja mereka. Kami berempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan masing-masing. Ketika diajak, mereka setuju untuk jalan-jalan bersama ke Puncak. Setelah selesai makan, waktu berjalan menuju mobil, kulihat payudara Novi tampak sedikit bergoyang-goyang saat dia berjalan. Ingin rasanya kulumat habis payudara gadis belia itu.

*****

Setelah berjalan-jalan di Puncak menikmati pemandangan, kami pun cek in di sebuah motel di sana.

“Lu kan yang traktir Wan.. Lu pilih yang mana?” bisik Andi saat kami sedang mengurus cek-in.

Memang sebelumnya aku yang janji akan traktir, karena aku baru saja menerima pembayaran dari salah satu proyekku.

“Novi” jawabku pendek.

“Hehe.. Lu nafsu liat bodynya ya?” bisik Andi lagi sambil tertawa kecil.

Setelah itu, kamipun segera cek-in. Kugandeng tangan Novi, sedangkan Andi tampak merangkul bahu Lisa menuju kamar. Setelah kukunci pintu kamar, tak sabar langsung kudekap tubuh Novi. Langsung kucium bibirnya dengan penuh gairah. Tanganku dengan gemas meremas gundukan payudaranya. Setelah puas menciumi bibirnya, kuciumi lehernya, dan kemudian segera kubuka kancing baju seragamnya.

“Iih Mas.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya?” godanya.

Tak kuhiraukan perkataannya, langsung kuangkat cup BH-nya yang tampak kekecilan untuk menampung payudaranya yang besar itu. Langsung kuhisap dengan gemas daging kenyal milik Novi, gadis SMA cantik ini.

“Ahh.. Ahh” erangnya ketika puting payudaranya yang telah mengeras kujilati dan kuhisap.

Tangan Novi mengangkat payudaranya, sambil tangannya yang lain menekan kepalaku ke dadanya.

“Enak Mas.. Ahh” erangnya lebih lanjut saat mulutku dengan ganas menikmati payudara yang sangat menggoda nafsu birahiku. “Jilati putingnya Mas..” pintanya.

Erangannya semakin menjadi dan tangannya menjambak rambutku ketika kuturuti permintaannya dengan senang hati. Puas menikmati payudara gadis belia ini, kembali kuciumi wajahnya yang cantik. Lalu kutekan bahunya, dan diapun mengerti apa yang aku mau. Dengan berjongkok di depanku, dibukanya restleting celanaku. Tak sabar, kubantu dia membuka seluruh pakaianku.

“Ih.. Mas, gede banget..” desahnya lirih ketika penisku mengacung tegak di depan wajahnya yang cantik.

Dielusnya perlahan batang kemaluanku itu.

“Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?”

“Belum Mas.. Punya cowok Novi nggak sebesar ini.” jawabnya.

Tampak matanya menatap gemas ke arah kemaluanku.

“Arghh.. Enak Nov..” erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.

Dijilatinya lubang kencingku, dan kemudian dikulumnya penisku dengan bernafsu. Sementara itu tangannya yang halus mengocok batang penisku. Sesekali diremasnya perlahan buah zakarku. Rasa nikmat yang tiada tara menghinggapi tubuhku, ketika gadis cantik ini memompa penisku dengan mulutnya. Kulihat kepalanya maju mundur menghisapi batang kejantananku.

Kuusap-usap rambutnya dengan gemas. Karena capai berdiri, akupun pindah duduk di kursi. Novi kemudian berjongkok di depanku.

“Novi isap lagi ya Mas.. Novi belum puas..” katanya lirih.

Kembali mulut gadis belia ini menghisapi penisku. Sambil mengelus-elus rambutnya, kuperhatikan kemaluanku menyesaki mulutnya yang mungil. Ruangan segera dipenuhi oleh eranganku, juga gumaman nikmat Novi saat menghisapi kejantananku. Saat kepalanya maju mundur, payudaranya pun bergoyang-goyang menggoda. Kuremas dengan gemas bongkahan daging kenyal itu.

“Nov.., jepit pakai susumu Nov..” pintaku.

asia08

Novi langsung meletakkan penisku di belahan payudaranya, dan kemudian kupompa penisku. Sementara itu tangan Novi menjepitkan payudaranya yang besar, sehingga gesekan daging payudaranya memberikan rasa nikmat luar biasa pada penisku.

“Yes.. Yes..” akupun tak kuasa menahan rasa nikmatku.

Setelah beberapa lama, kusodorkan kembali penisku ke mulutnya, yang disambutnya dengan penuh nafsu. Setelah puas menikmati mulut dan payudara gadis SMA ini, kuminta dia untuk bangkit berdiri. Kuciumi lagi bibirnya dan kuremas-remas rambutnya dengan gemas. Tanganku melepas restleting rok seragam abu-abunya, kemudian kuusap-usap vaginanya yang mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalamnya. Kusibak sedikit celana dalam itu dan kuusap-usap bibir vagina dan klitorisnya.

Tubuh Novi menggelinjang di dalam dekapanku. Erangannya semakin menjadi. Aku sudah ingin menyetubuhi gadis muda ini. Kubalikkan badannya dan kuminta dia menungging bertumpu di meja rias. Kubuka celana dalamnya sehingga dia hanya tinggal mengenakan baju seragamnya yang kancingnya telah terbuka.

“Ahh..” jeritnya panjang ketika penisku mulai menerobos vaginanya yang sempit.

“Gila.. Memekmu enak banget Nov..” kataku ketika merasakan jepitan dinding vagina Novi.

Langsung kupompa penisku di dalam vagina gadis cantik itu. Sementara itu, tanganku memegang pinggulnya, terkadang meremas pantatnya yang membulat. Novi pun menjerit-jerit nikmat saat tubuh belianya kusetubuhi dengan gaya doggy-style.

filipina05

Kulihat di kaca meja rias, wajah Novi tampak begitu merangsang. Wajah cantik gadis belia yang sedang menikmati persetubuhan. Payudaranya pun tampak bergoyang-goyang menggemaskan di balik baju seragamnya yang terbuka. Bosan dengan posisi ini, aku kembali duduk di kursi. Novi lalu duduk membelakangiku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Kusibakkan rambutnya yang panjang indah itu dan kuciumi lehernya yang putih mulus.

Sementara itu tubuh Novi bergerak naik turun menikmati kejantananku. Tanganku tak ketinggalan sibuk meremas payudaranya.

“Ahh.. Ahh.. Ahh..” erang Novi seirama dengan goyangan badannya di atas tubuhku.

Terkadang erangan itu terhenti saat kusodorkan jemariku untuk dihisapnya.

Beberapa saat kemudian, kuhentikan goyangan badannya dan kucondongkan tubuhnya agak ke belakang, sehingga aku dapat menghisapi payudaranya. Memang enak sekali menikmati payudara kenyal gadis cantik ini. Dengan gemas kulahap bukit kembarnya dan sesekali kujilati puting payudara yang berwarna merah muda. Erangan Novi semakin keras terdengar, membuat aku menjadi semakin bergairah.

Setelah selesai aku menikmati payudara ranumnya, kembali tubuh belia Novi mencari pelepasan gairah mudanya dengan memompa penisku naik turun dengan liar. Tak kusangka seorang gadis SMA dapat begini binal dalam bermain seks.

Cukup lama aku menikmati persetubuhan dengan gadis cantik ini di atas kursi. Lalu kuminta dia berdiri, dan kembali kami berciuman. Kubuka baju seragam sekolah berikut BH-nya sehingga sekarang kami berdua telah telanjang bulat. Kembali dengan gemas kuremas dan kuhisap payudara gadis 17 tahunan itu. Aku ingin segera menuntaskan permainan ini. Lalu kutuntun dia untuk merebahkan diri di atas ranjang. Aku pun kemudian mengarahkan penisku kembali ke dalam vaginanya.

“Ahh..” erang Novi kembali ketika penisku kembali menyesaki liang kewanitaannya.

Langsung kupompa dengan ganas tubuh anak sekolah ini. Erangan nikmat kami berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah panas suasana. Kulihat Novi yang cantik menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.

“Mas.. Novi hampir sampai Mas.. Terus.. Ahh.. Ahh” jeritnya sambil tubuhnya mengejang dalam dekapanku.

Tampak dia telah mencapai orgasmenya. Kuhentikan pompaanku, dan tubuhnya pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kuperhatikan butir keringat mengalir di wajahnya nan ayu. Payudaranya naik turun seirama dengan helaan nafasnya. Payudara belia yang indah, besar, kenyal, dan padat. Mulutku pun dengan gemas kembali menikmati payudara itu dengan bernafsu.

Setelah itu, kucabut penisku dan kembali kujepitkan di payudaranya. Kali ini aku yang menjepitkan daging payudaranya pada penisku. Novi masih tampak terkulai lemas. Lalu kupompa kembali penisku dalam belahan payudara gadis ini. Jepitan daging kenyal itu membuatku tak dapat bertahan begitu lama. Tak lama aku pun menyemburkan spermaku di atas payudara gadis SMA yang seksi ini.

*****

Kami akhirnya menginap di motel tersebut. Selama di sana, aku sangat puas menikmati tubuh sintal Novi. Berulang kali aku menyetubuhinya, baik di atas ranjang, di meja rias, di kursi, ataupun di kamar mandi sambil berendam di bathtub. Sebenarnya ingin aku menginap lebih lama lagi, tetapi hari Senin itu aku harus menemui klienku di pagi hari, sementara ada bahan yang masih perlu dipersiapkan.

Hari Minggu malam, kami pun kembali ke Bogor. Kali ini ganti Andi yang menyetir mobilku. Lisa duduk di kursi penumpang di depan, sedangkan Novi dan aku duduk di belakang. Dalam perjalanan, melihat Novi yang cantik duduk di sebelahku, dengan rok mini yang memamerkan paha mulusnya, membuatku kembali bergairah. Akupun mulai menciuminya sambil tanganku mengusap-usap pahanya. Kusibakkan celana dalamnya, dan kumainkan vaginanya dengan jemariku.

“Ehmm..” erangnya saat klitorisnya kuusap-usap dengan gemas.

Erangannya terhenti karena mulutnya langsung kucium dengan penuh gairah. Tanganku lalu membuka baju seragam sekolahnya. Kuturunkan cup BH-nya sehingga payudaranya yang besar itu segera mencuat keluar menantang.

“Suka banget sih Mas.. Nyusuin Novi” ucapnya lirih.

“Iya habis susu kamu bagus banget” bisikku.

Desah Novi kembali terdengar ketika lidahku mulai menari di atas puting payudaranya yang sudah menonjol keras. Kuhisap dengan gemas gunung kembar gadis cantik ini hingga membuat tubuhnya menggelinjang nikmat.

“Gantian dong Nov” bisikku ketika aku sudah puas menikmati payudaranya yang ranum.

Kami pun kembali berciuman sementara tangan Novi yang halus mulai membukai resleting celanaku. Diturunkannya celana dalamku, sehingga penisku yang telah membengkak mencuat keluar dengan gagahnya. Novi pun kemudian mendekatkan wajah ayunya pada kemaluanku itu, dan rasa nikmat menjalar di tubuhku ketika mulutnya mulai mengulum penisku. Sambil menghisapi penisku, Novi mengocok perlahan batangnya, membuatku tak tahan untuk menahan erangan nikmatku.

“Ihh.. Gede banget.. Lisa juga pengen dong..”.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara Lisa yang ternyata entah sejak kapan memperhatikan aktifitas kami di belakang.

“Pindah aja ke sini” kataku sambil mengelus-elus rambut Novi yang masih menghisapi penisku.

Lisa pun kemudian melangkah pindah ke bangku belakang. Langsung kuciumi wajahnya, yang walaupun tidak secantik Novi tetapi cukup manis. Lidahku dan lidahnya sudah saling bertaut, sementara Novi masih sibuk menikmati penisku.

“Di.. Bentar ya nanti gantian..” kataku pada Andi yang melotot melihat dari kaca spion.

“Oke deh bos..” jawabnya sambil terus melotot melihat pemandangan di bangku belakang mobilku.

Setelah puas berciuman, kucabut penisku dari mulut Novi.

“Ayo Lis.. Katanya kamu suka” kataku sambil sedikit menekan kepala Lisa agar mendekat ke kemaluanku.

“Iya.. Abis gede banget..” katanya sambil dengan imutnya menyibakkan rambut yang menutupi telinganya.

“Ahh.. Yes..” desahku saat Lisa memasukkan penisku ke dalam mulutnya.

Dihisapinya batang kemaluanku seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop. Rasa nikmat yang tak terhingga menjalari seluruh syarafku.

Cukup lama juga Lisa menikmati penisku. Sementara itu Novi kembali menyodorkan payudara mudanya untuk kunikmati. Setelah beberapa lama kuhisapi payudaranya, Novi kemudian mendekatkan wajahnya ke arah kemaluanku dan menciumi buah zakarku, sementara Lisa masih sibuk mengulum batang kemaluanku.

“Nih gantian Nov..” katanya sambil menyorongkan penisku ke mulut Novi yang berada di dekatnya.

Novi pun dengan sigap kembali mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya. Sementara itu, kali ini gantian Lisa yang menjilati dan menciumi buah zakarku.

Saat itu aku merasa seperti sedang berada di surga. Dua orang gadis SMA yang cantik sedang menghisapi dan menjilati penisku secara bergantian. Kuelus-elus kepala gadis-gadis ABG yang sedang menikmati kelelakianku itu. Nikmat yang kurasakan membuatku merasa tak akan tahan terlalu lama lagi. Tetapi sebelumnya aku ingin menyetubuhi Lisa. Ingin kurasakan nikmat jepitan vagina gadis hitam manis ini.

Kuminta dia untuk duduk di pangkuan sambil membelakangiku. Kusibakkan celana dalamnya, sambil kuarahkan penisku dalam liang nikmatnya. Sengaja tak kuminta dia untuk membuka pakaiannya, karena aku tak mau menarik perhatian kendaraan yang melintas di luar sana.

“Ah..” desah Lisa ketika penisku mulai menyesaki vaginanya yang tak kalah sempit dengan kepunyaan Novi.

Lisa kemudian menaik-turunkan tubuhnya di atas pangkuanku. Novi pun tak tinggal diam, diciuminya aku ketika temannya sedang memompa penisku dalam jepitan dinding kewanitaannya. Goyangan tubuh Lisa membuatku merasa akan segera menumpahkan spermaku dalam vaginanya. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ejakulasi terlebih dahulu sebelum dia orgasme. Sambil menciumi Novi, tanganku memainkan klitoris Lisa.

“Ah.. Terus Mas.. Lisa mau sampai..” desahnya.

Semakin cepat kuusap-usap klitorisnya, sedangkan tubuh Lisa pun semakin cepat memompa penisku.

“Ahh..” erangnya nikmat saat mengalami orgasmenya.

Tubuhnya tampak mengejang dan kemudian terkulai lemas di atas pangkuanku. Aku pun mengerang tertahan saat aku menyemburkan ejakulasiku dalam vagina gadis manis ini. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri dengan tisu yang tersedia.

“Mau gantian Di? ” tanyaku pada Andi yang tampak sudah tidak tenang membawa mobilku.

“So pasti dong” jawab Andi sambil menepikan mobil di tempat yang sepi.

Kami pun berganti tempat. Aku yang membawa mobil, sedangkan Andi pindah duduk di jok belakang. Rencananya dia juga akan main threesome, tetapi Novi juga ikut beranjak ke bangku depan.

“Aku cape ah Mas..” katanya.

Andi tampak kecewa, tetapi apa boleh buat. Kami pun segera melanjutkan perjalanan kami. Kudengar suara lenguhan Andi di jok belakang. Lewat kaca spion kulihat Lisa sedang mengulum penisnya. Karena sudah puas, aku tak begitu mempedulikannya lagi.

Sesampainya di Bogor, kedua gadis itu kami turunkan di tempat semula, sambil kuberi uang beberapa ratus ribu serta uang taksi.

“Kalau ke Bogor hubungi Novi lagi ya Mas..” kata Novi manis saat kami akan berpisah.

Kulihat beberapa orang memperhatikan mereka. Mungkin mereka curiga kok ada dua gadis berseragam SMA di hari Minggu, malam lagi he.. He..

“Wan.. Gue doain lu dapat banyak proyek deh.. Biar lu traktir gue kayak tadi lagi..” kata Andi ketika aku turunkan di depan rumahnya.

“Sip deh..” jawabku sambil pamit pulang.

Kukebut mobilku menyusuri jalan tol Jagorawi menuju Jakarta. Aku tersenyum puas. Yang dulu selalu menjadi obsesiku, kini bisa menjadi kenyataan. Ternyata hidup itu indah.





Buah Dada Gadis Salon

16 05 2009

Sepulang kantor, tubuhku menjadi tambah penat sehabis mengerjai Lia tadi. Kuparkir Mercy kesayanganku di sebuah mall yang terletak tak jauh dari kantorku. Kubergegas menuju sebuah salon dengan dekorasi yang didominasi warna merah itu.

“Mau diapain Pak” tanya resepsionis yang cantik.

Kulihat namanya yang terpampang di dada. Anggi, namanya.

“Creambath sama refleksi” jawabku.

“Mari dicuci dulu Pak” Anggi menyilahkanku ke tempat cuci.

Tak lama pegawai salon yang akan merawat rambutkupun datang. Kuperhatikan dia tampak masih ABG. Dengan tubuh yang kecil dan kulit sawo matang tapi bersih, wajahnya pun tampak manis dan imut. Walaupun tak secantik Lia, tapi wajahnya yang menyiratkan kemudaan dan keluguan itu menarik hatiku. Tapi yang paling menyedot perhatianku adalah buah dadanya yang besar untuk ukuran tubuhnya. Dengan tubuh yang mungil, buah dadanya tampak menonjol sekali dibalik seragamnya yang berwarna hitam itu.

Perawatanpun dimulai. Pijatan Dian, nama gadis itu, mulai memberikan kenikmatan di tubuhku yang lelah. Tetapi tak kuduga setelah aku menyetubuhi Lia tadi, gairahku kembali timbul melihat Dian. Terutama karena buah dadanya yang tampak masih padat dan kenyal itu. Benar-benar sexy sekali dilihatnya, ditambah dengan celana jeansnya yang sedikit di bawah pinggang sesuai mode masa kini, sehingga terkadang perutnya tampak ketika dia memijat bagian atas kepalaku.

Setelah creambath, Dianpun yang memberikan layanan refleksi. Karena tempat dudukku lebih tinggi darinya, kadang ketika dia agak menunduk, aku dapat melihat belahan dadanya dari balik T-shirtnya yang kancingnya sengaja dibuka. Begitu indah pemandangan itu. Semenjak aku menikmati Tari, gadis SMP dulu, belum pernah aku menikmati ABG belasan tahun lagi. Terlebih dulu Tari berdada kecil, sementara aku ingin mencoba ABG berdada besar seperti Dian ini.

Akupun mengajaknya mengobrol. Ternyata dia baru lulus SMA dan berusia 18 tahun lebih sedikit. Mau melanjutkan sekolah tidak ada biaya, dan belum mendapatkan kerja yang sesuai. Dia bekerja di salon tersebut sambil mencari-cari kerja yang lain yang lebih baik.

Singkat kata, aku tawarkan dia untuk melamar di perusahaanku. Tampak dia berseri-seri mendengarnya. Aku sarankan sehabis jam kerjanya kita dapat mengobrol lebih jauh lagi mengenai pekerjaan itu. Diapun setuju untuk menemuiku di food court selepas pulang kerja nanti.

Jam 8.00 malam, Dian menemuiku yang menunggunya di tempat yang telah disepakati itu. Kupesan makan malam sambil kita berbincang-bincang mengenai prospeknya untuk bekerja di perusahaanku. Kuminta dia mengirimkan surat lamaran serta ijazahnya secepatnya untuk diproses. Kubilang ada lowongan sebagai resepsionis di kantorku. Memang cuma ada Noni resepsionis di kantorku, sehingga aku merasa perlu untuk menambah satu lagi. Setidaknya itulah pikiranku yang sudah diseliputi hawa nafsu melihat kemolekan tubuh muda Dian.

Sambil berbincang, mataku terus mengagumi buah dadanya yang tampak sekal menggiurkan itu. Ingin rasanya cepat-cepat kujilat dan kuhisap sepuas hati. Dian tampak menyadari aku menatap dadanya, dan dia tampak tersipu malu sambil berusaha menutup celah T-shirtnya.

Sehabis makan malam, aku tawarkan untuk mengantarnya pulang. Sambil meneruskan wawancara, alasanku. Dianpun tidak menolak mengingat dia sudah ingin sekali pindah tempat kerja. Terlebih penampilanku membuatnya semakin yakin. Di dalam mobil, dalam perjalanan, kuteruskan perbincanganku mengenai job description seorang resepsionis di kantorku. Sambil berbincang kucoba meraba pahanya yang terbungkus jeans ketat. Sesekali tangannya menolak rabaan tanganku.

“Jangan Pak.. malu” alasannya.

Sementara itu, nafsuku sudah begitu menggelora dan motel jam-jaman langganankupun sudah hampir tampak.

“Dian.. Terus terang saja.. Kamu memenuhi semua persyaratan.. Hanya saja kamu harus bisa melayani aku luar dalam untuk bekerja di perusahaanku.” tegasku sambil kembali mengerayangi pahanya. Kali ini tidak ada penolakkan darinya.

“Tapi Pak.. Dian nggak biasa..”

“Yach kamu mulai sekarang harus membiasakan diri ya..” kataku sambil meremas pahanya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku membelokkan setir Mercyku ke pintu masuk motel langgananku itu.

Mobilku langsung masuk ke dalam garasi yang telah dibuka oleh petugas, dan pintu garasi langsung ditutup begitu mobilku telah berada di dalam. Kuajak Dian turun dan kamipun masuk ke dalam kamar. Kamar motel tersebut lumayan bagus dengan kaca yang menutupi dindingnya. Tak lama, petugas motel datang dan akupun membayar rate untuk 6 jam.

Setelah si petugas pergi, kuajak Dian untuk duduk di ranjang. Dengan ragu-ragu dia patuhi perintahku sambil dengan gugup tangannya meremas-remas sapu tangannya. Kusibakkan rambutnya yang ikal sebahu dengan penuh kasih sayang, dan mulai kuciumi wajah calon resepsionisku ini. Kemudian kuciumi bibirnya yang agak sedikit tebal dan sensual itu. Tampak dia hanya bereaksi sedikit sambil menutup matanya. Hanya nafasnya yang mulai memberat..

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan langsung tanganku dengan gemas merabai dan meremasi buah dadanya yang ranum itu. Aku sangat gemas sekali melihat seorang ABG bisa mempunyai buah dada seseksi ini. Kuangkat T-shirtnya, dan langsung kujilati buah dadanya yang masih tertutup BH ini. Kuciumi belahan dadanya yang membusung. Ahh.. Seksi sekali anak ini. Dia masih tetap menutup matanya sambil terus meremas-remas sapu tangan dan seprei ranjang ketika aku mulai menikmati buah dadanya. Kubuka pengait BHnya yang tampak kekecilan untuk ukuran buah dadanya, dan langsung kuhisap dan kujilati buah dada gadis salon ini.

“Eh.. Eh..” hanya erangan tertahan yang keluar dari mulutnya. Dian tampak menggigit bibirnya sendiri sambil mengerang ketika lidahku menari di atas putingnya yang berwarna coklat. Dengan cepat puting itu mengeras pertanda siempunya sedang terangsang hebat.

Segara kulucuti semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat. Kemaluanku telah tegak ingin merasakan nikmatnya tubuh gadis muda ini. Akupun duduk di atas dadanya dan kuarahkan kemaluanku ke mulutnya.

“Jangan Pak.. Dian belum pernah..” katanya sambil menutup bibirnya rapat.

“Ya kamu harus mulai belajar donk..” jawabku sambil menyentuhkan kemaluanku, yang panjangnya hampir sama dengan panjang wajahnya itu, ke seluruh permukaan wajahnya.

“Katanya mau jadi pegawai kantoran..” aku mengigatkan.

“Tapi nggak akan muat Pak.. Besar sekali”

“Ya kamu coba aja sedikit demi sedikit. Dimulai dari ujungnya dulu ya sayang..” perintahku lagi.

Dianpun mulai membuka mulutnya. Kusodorkan kemaluanku dan sedikit demi sedikit rasa hangat yang nikmat menjalari kemaluanku itu, ketika Dian mulai menghisapnya. Kuangkat kepalanya sedikit sehingga dia lebih leluasa menghisapi kemaluan calon bosnya ini.

“Ya.. Begitu.. Sekarang coba lebih dalam lagi” kataku sambil mendorong kemaluanku lebih jauh ke dalam mulutnya.

Kemudian kutarik keluar kemaluanku dan kuarahkan mulut gadis ABG ini ke buah zakarku.

“Sekarang kamu jilat dan hisap ini ya.. Sayang”

Dianpun menurut. Dijilatinya dan kemudian dihisapnya buah zakarku satu per satu. Demikian selama beberapa menit aku duduk di atas dada Dian dan mengajarinya memberikan kenikmatan dengan menggunakan mulutnya. Mulutnya tampak penuh sesak ketika ia menghisapi kemaluanku.

Setelah puas menikmati hangatnya mulut Dian, aku kembali gemas melihat buah dadanya yang membusung itu. Kembali kunikmati buah dadanya dengan mulutku. Kembali Dian mengerang tertahan sambil mengatupkan bibirnya. Sementara itu, akupun melucuti celana jeansnya dan sekalian celana dalamnya. Tampak vaginanya yang bersih tak berbulu seperti menantang untuk digenjot kemaluanku.

Tanganku meraba-raba vaginanya dan tak lama menemukan klitorisnya. Kuusap-usap klitorisnya itu, sementara mulutku kembali dengan gemas menikmati buah dadanya yang besar menantang. Terdengar dengusan nafas Dian semakin dalam dan cepat. Matanya masih menutup demikian juga dengan bibirnya. Tangannya tampak semakin keras meremas sprei ranjang kamar. Aku sudah ingin menyetubuhi gadis petugas creambath ini. Kurenggangkan pahanya sementara kuarahkan kemaluanku ke liang nikmatnya.

“Pelan-pelan ya Pak..” pintanya sambil membuka mata.

Tak kujawab, tapi mulai kudorong kemaluanku menerobos liang vaginanya. Memang dia sudah tidak perawan lagi, tetapi vaginanya masih sempit menjepit kemaluanku.

“Ahh..” jeritnya ketika kemaluanku telah menerobos vaginanya. Tak kuasa lagi dia untuk menahan jeritan nikmatnya.

Mulai kugenjot vaginanya, sambil kuremas-remas buah dadanya. Makin keras erangan Dian memenuhi ruangan itu.

“Ahh.. Ahh..” erangnya seirama dengan goyanganku.

Buah dadanya bergoyang menggiurkan ketika aku memompa vaginanya. Sesekali kuhentikan goyanganku untuk kembali menghisapi buah dadanya yang besar dengan gemas. Hampir 20 menit terus kupompa gadis manis pegawai salon ini. Tiba-tiba dia mengerang dan mengejang hebat tanda orgasme. Tampak butir keringat mengalir membasahi wajahnya yang manis. Kuseka keringatnya dengan penuh kasih sayang.

Kemudian kunaiki kembali tubuhnya dan kali ini kuletakkan kemaluanku diantara buah dadanya yang kenyal itu. Tanganku merapatkan buah dadanya, sehingga kemaluanku terjepit diantaranya. Nikmat sekali rasanya dijepit buah dada gadis ABG semanis dia. Mulai kugoyangkan badanku maju mundur sehingga buah dadanya yang kenyal menggesek-gesek kemaluanku dengan nikmat. Kadang kulepaskan kemaluanku dari himpitan buah dadanya untuk kemudian kusorongkan ke mulutnya untuk dihisap. Kemudian kembali kujepitkan diantara buah dadanya yang ranum itu.

Kira-kira 15 menit lamanya kemaluanku menikmati kenyalnya buah dada dan hangatnya mulut Dian. Akupun merasa akan orgasme, dan tak lama kusemburkan cairan ejakulasiku di atas buah dada Dian. Dengan kemaluanku, kuoleskan spermaku keseluruh permukaan buah dadanya yang sangat membuatku gemas itu.

“Pak.. Jangan bohong lho janji Bapak..” ujar Dian saat kami telah meluncur kembali di dalam mobilku.

“Oh nggak, sayang.. Cepat saja kamu kirim lamarannya ya” jawabku.

Dianpun tersenyum senang mendengarnya. Terbayang olehnya kerja di kantor yang merupakan cita-citanya. Akupun tersenyum senang membayangkan buah dada Dian yang akan dapat aku nikmati sepuasnya nanti. Kuturunkan Dian dipinggir jalan sambil kuberi uang untuk ongkos taksi.

“Terimakasih ya Pak Robert” katanya ketika dia turun dari mobilku.

“Sama-sama Dian” jawabku sambil melambaikan tangan.

Kukebut mobilku menuju jalan tol. Hari telah larut malam. Jalanan telah menjadi lenggang. Ingin rasanya cepat sampai di apartemanku setelah hari yang melelahkan ini. Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum mentest secara seksama kemampuan Dian untuk menjadi resepsionis. Interpersonal skill, bahasa Inggris, telephone manner, dan lain-lain. Rupanya aku hanya terbuai oleh buah dadanya yang nikmat itu. Biarlah nanti bagian HRD yang mentestnya, pikirku. Kalau lulus ya diterima, kalau nggak ya nggak apa-apa. Toh aku sudah puas menikmati buah dadanya he.. He..

Kubuka jendela untuk membayar tol. Setelah membayar, langsung aku tancap gas melintasi kota Jakarta di waktu malam. Lagu “Breakin’ Away”nya Al Jarreau mengisi sepinya suasana dalam mobilku.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 332 pengikut lainnya.