Antara Aku Dan Tante Lina

9 06 2009
Namaku Andi, umurku 30 tahun dengan tinggi badan 185 cm dan berat badan 82 kg. Aku kini bekerja sebagai supervisor di salah satu perusahaan di Medan. Aku lebih menyukai wanita setengah baya.  Aku ingin menceritakan kisah nyata dengan tanteku sendiri, Tante Lina. Cerita yang dituangkan di sini adalah kisah nyata dan bagi yang kebetulan merasa sama nama atau kisahnya mohon dimaafkan itu hanyalah kebetulan.

*****

Kejadian ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu, waktu itu aku masih berusia 24 tahun. Aku mempunyai seorang tante bernama Lina yang umurnya waktu itu 36 tahun. Tante Lina adalah adik dari Mamaku. Tante Lina sudah menjanda selama lima tahun. Dari perkawinan dia dengan almarhum suaminya tidak di karunia anak. Tante Lina sendiri melanjutkan usaha peninggalan dari almarhum suaminya. Dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak jauh dari rumahku. Dia tinggal dengan seorang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Lina ini orangnya menurutku seksi sekali. Payudaranya besar bulat dengan ukuran 36C, sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati dan perutnya rata soalnya dia belum punya anak. Hal ini membuatku sering ke rumahnya dan betah berlama-lama kalau sedang ada waktu.

Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan tante Lina yang seksi ini dan dia itu orangnya supel benar tidak canggung cerita-cerita denganku. Dari cerita tante Lina bisa aku tebak bahwa dia itu orangnya kesepian sekali semenjak suaminya meninggal. Maka aku berupaya menemaninya dan sekalian ingin melihat tubuhnya yang seksi. Setiap kali aku melihat tubuhnya yang seksi, aku selalu terangsang dan aku lampiaskan dengan onani sambil membayangkan tubuhnya. Kadangkala timbul pikiran kotorku ingin bersetubuh dengannya tapi aku tidak berani berbuat macam-macam terhadap dia, aku takut nanti dia akan marah dan melaporkan ke orang tuaku.

Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan tante Lina semakin kuat saja. Kadang-kadang kupergoki tante Lina saat habis mandi, dia hanya memakai lilitan handuk saja. Melihatnya jantungku deg-degan rasanya, ingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Benar-benar memancing gairahku.

Sampai pada hari itu tepatnya malam minggu, aku sedang malas keluar bersama teman-teman dan aku pun pergi ke rumah Tante Lina. Sesampai di rumahnya, tante Lina baru akan bersiap makan dan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Kami pun saling bercerita, tiba-tiba hujan turun deras sekali dan Tante Lina memintaku menginap saja di rumahnya malam ini dan memintaku memberitahu orang tuaku bahwa aku akan menginap di rumahnya berhubung hujan deras sekali.

“Di, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk, kamu udah ngantuk belum?”, katanya sambil menguap.

“Belum tante”, jawabku.

“Oh ya tante, Andi boleh pakai komputernya nggak, mau cek email bentar”, tanyaku.

“Boleh, pakai aja” jawabnya lalu dia menuju ke kamarnya.

Lalu aku memakai komputer di ruang kerjanya dan mengakses situs porno. Dan terus terang tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar wanita setengah baya bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali berukuran sekitar 15 cm karena aku sudah terangsang sekali. Tanpa kusadari, tahu-tahu tante Lina masuk menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saking kagetnya aku tidak sempat lagi menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Lina sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang hingga langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis.

“Hayyoo lagi ngapain kamu, Di?” tanyanya.

“Aah, nggak apa-apa tante lagi cek email” jawabku sekenanya.

Tapi tante Lina sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.

“Ada apa sih tante?” tanyaku.

“Aah nggak, tante cuma pengen ajak kamu temenin tante nonton di kamar” jawabnya.

“Oh ya sudah, nanti saya nyusul ya tante” jawabku.

“Tapi jangan lama-lama yah” kata Tante Lina lagi.

Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak menuju ke kamar tante dan menemani tante Lina nonton film horor yang kebetulan juga banyak mengumbar adegan-adegan syur.

Melihat film itu langsung saja aku menjadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi. Malah Tante Lina sudah memakai baju tidur yang tipis dan gilanya dia tidak memakai bra karena aku bisa melihat puting susunya yang agak mancung ke depan. Gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi apa boleh buat aku tidak berani berbuat macam-macam. Batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku terpaksa bergerak-gerak sedikit guna membetulkan posisinya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu tante Lina rupanya langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku.

“Lagi ngapain sih kamu, Di?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ah nggak apa-apa kok, tante” jawabku malu.

Sementara itu tante Lina mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat di atas ranjang.

“Kamu terangsang yah, Di, lihat film ini?”

“Ah nggak tante, biasa aja” jawabku mencoba mengendalikan diri.

Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Lina pun rupanya sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu.

“Menurut kamu tante seksi nggak, Di?” tanyanya.

“Wah seksi sekali tante” kataku.

“Seksi mana sama yang di film itu?” tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar.

“Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih” kataku.

“Ah masa sih?” tanyanya.

“Iya benar tante, swear..” kataku.

Jarak kami semakin merapat karena tante Lina terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu dia bertanya lagi padaku..

“Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama tante”.

“Mmaauu tante..”

Ah, seperti ketiban durian runtuh, kesempatan ini tentu tidak aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada tante Lina.

“Wahh barang kamu lumayan juga, Di” katanya.

“Ah tante bisa aja.. Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. Sampe saya gemes deh ngeliatnya..” kataku.

“Ah nakal kamu yah, Di” jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku.

“Waahh jangan dipegangin terus tante, ntar bisa tambah gede loh” kataku.

“Ah yang benar nih?” tanyanya.

“Iya tante.. Ehh.. Ehh aku boleh pegang itu nggak tante?” kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu.

“Ah boleh aja kalo kamu mau” jawabnya.

Wah kesempatan besar, tapi aku agak sedikit takut, takut dia marah tapi tangan si tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus payudaranya.

“Ahh.. Arghh enak Di.. Kamu nakal ya” kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.

“Loh kok dilepas sih Di?” tanyanya.

“Ah takut tante marah” kataku.

“Oohh nggak lah, Di.. Kemari deh”.

Tanganku digenggam tante Lina, kemudian diletakkan kembali di payudaranya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas payudaranya.

“Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran.

Lalu aku pun mencoba mencium tante Lina, sungguh di luar dugaanku, Tante Lina menyambut ciumanku dengan beringas. Kami pun lalu berciuman dengan nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal sekali itu.

“Ahh kamu memang hebat Di.. Terusin Dii.. Malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh”.

“Tante, aku boleh buka baju tante nggak?” tanyaku.

“Oohh silakan Di”, sambutnya.

Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat payudaranya yang memang aku kagumi itu.

“Arrgghh.. Arrgghh..” lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan.

“Teruuss.. Teerruuss Di.. Ahh enak sekali..”

Lama aku menjilati putingnya sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya. Lalu sekilas kulihat tangan Tante Lina sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kulepaskan.

“Aahh buka saja Di.. Ahh”

Nafas Tante Lina terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan aku langsung membuka CD-nya dan lalu kuciumi. Sekarang Tante Lina sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu. Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah basah itu.

“Arrhh.. Sshh.. Enak Di.. Enak sekali” jeritnya.

Setelah puas jariku bergerilya lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap itu. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun naik seperti mengecat saja. Tante Lina semakin kelabakan hingga dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya.

“Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh”, dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah.

Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya akan orgasme. Lalu kupercepat jilatanku dan tusukan jariku sehingga dia merasa keenakkan sekali lalu dia menjerit..

“Oohh.. Aarrhh.. Tante udah keeluuaarr Dii.. Ahh” sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan dan lidahku masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis.

Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali.

“Wah ternyata kamu hebat sekali, tante sudah lama tidak merasakan kepuasan ini loh..” ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Lina.

Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh tante Lina dan aku pun masih memilin-milin puting tante yang sudah semakin keras itu.

“Aahh..” desahnya sambil terus mencumbu bibirku.

“Sekarang giliran tante.. Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh tante”.

Tangan tante Lina segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit tapi kudiamkan saja karena terasa enak juga diremas-remas oleh tangan tante Lina. Lalu aku juga tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Rupanya tante Lina mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas-remas payudaranya dengan sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga tante Lina menjadi semakin blingsatan.

“Aahh kamu suka sekali sama dada tante yah, Di?”

“Iya Tante abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih.. Terus besar tapi masih tetap kencang..”

“Aahh kamu memang pandai muji orang, Di..”

Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu tante Lina mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Lina berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya.

Aku benar-benar merasakan nikmatnya service yang diberikan oleh Tante Lina. Lalu dia mulai membuka mulutnya dan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya. Selang beberapa menit setelah tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Lina kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.

“Aahh Di, ayolah masukin batang kemaluan kamu ke tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan kamu itu”.

“Iiyaa tante” kataku.

Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi aku tidak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga tante Lina lagi-lagi menjerit keenakan..

“Aahh.. Aahh.. Ayolah Di, jangan tanggung-tanggung masukiinn..”

Lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga agak sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang sekali itu.

“Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Di.. Teruss-teruuss.. Aahh”

Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante Lina sehingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya. Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Lina juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat tante Lina menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam.

Sementara itu aku terus menjilati puting dan menjilati leher yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Lina mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi.

“Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini.

“Aahh.. Cepat Di, tante mau keluuaarr.. Aahh”

Tubuh tante Lina kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya.

“Aahh.. Sshh.. Sshh”, desahnya, lalu tubuhnya kembali tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya.

“Wahh kamu memang hebaat Di.. Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar”

“Iiyaa tante.. Bentar lagi juga Andi keluar nih..” ujarku sambil terus menyodok liang kemaluannya yang berdenyut-denyut itu.

“Aahh enak sekali tante.. Aahh..”

“Terusin Di.. Terus.. Aahh.. Sshh” erangan tante Lina membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya.

“Aauuhh pelan-pelan Di, aahh.. Sshh”

“Aduh tante bentar lagi aku udah mau keluar nih..” kataku.

“Aahh.. Di.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante mau ngerasain.. Ahh.. Shh.. Mau rasain siraman hangat peju kamu..”

“Iiyyaa.. Tante..”

Lalu aku mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku.

“Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Andi mau keluar nih.. Ahh” lalu aku memeluk tante Lina sambil meremas-remas payudaranya.

Sementara itu, tante Lina memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

“Aahh tante juga mau keluar lagi aahh.. Sshh..” lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat.

Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott..

“Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh..”

Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Lina untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Lina menbelai-belai rambutku.

“Ah kamu ternyata seorang jagoan, Di..”

Setelah itu dia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Dan kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya sampai tiga kali.

Setelah kejadian itu kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. Hubungan kami pun berjalan selama dua tahun dan akhirnya diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, Tante Lina pun pindah ke Jakarta dan menjalankan usahanya di sana. Aku benar-benar sangat kehilangan Tante Lina dan semenjak kepindahannya, tante Lina tidak pernah menghubungiku lagi.

*****

E N D





Beli mobil dapat kenikmatan..

5 06 2009
Namaku Wawan. Umurku 23 tahun, dan sekarang sedang kuliah di tingkat terakhir di sebuah PTS di Jakarta. Asalku dari Sukabumi, dimana aku menghabiskan masa anak-anak dan remajaku, sampai kemudian aku pindah ke Jakarta empat tahun yang lalu.

Ekonomi keluargaku termasuk pas-pasan. Ayahku hanyalah seorang pensiunan pegawai bank pemerintah di Sukabumi. Sedangkan ibuku bekerja sebagai guru sebuah SMA negeri di sana. Aku tinggal di tempat kos di daerah Jakarta Barat. Karena uang kiriman orang tuaku kadang-kadang terlambat dan terkadang bahkan tidak ada kiriman sama sekali, untuk bertahan hidup, akupun menjadi guru privat anak-anak SMA. Memang aku beruntung dikaruniai otak yang lumayan encer.

Akupun hidup prihatin di ibukota ini, terkadang seharian aku hanya makan supermie saja untuk mengganjal perutku. Aku pikir tidak mengapa, asal aku bisa hemat untuk bisa membeli buku kuliah dan lain sebagainya, sehingga aku bisa lulus dan membanggakan kedua orang tuaku. Terkadang aku iri melihat teman-teman kuliahku. Mereka sering dugem, berpakaian bagus, bermobil, mempunyai HP terbaru, dll.

Salah satu dari teman kuliahku bernama Monika. Dia seorang gadis cantik dan kaya. Ia anak seorang direktur sebuah perusahaan besar di Jakarta. Percaya atau tidak, dia adalah pacarku. Kadang aku heran, kok dia bisa tertarik padaku. Padahal banyak teman laki-laki yang bonafid, mengejarnya. Ketika kutanyakan hal ini, ini bukan ge-er, dia bilang kalau menurutnya aku orang yang baik, sopan dan pintar. Disamping itu, dia suka dengan wajahku yang katanya “cute”, dan perawakanku yang tinggi, tegap, kekar, dan berisi. Nggak percuma juga aku sering latihan karate, renang, bola, dan voli waktu di Sukabumi dulu.

Monika dan aku telah berpacaran semenjak dua tahun belakangan ini. Walaupun kami berbeda status sosial, dia tidak tampak malu berpacaran denganku. Akupun sedikit minder bila menjemputnya menggunakan motor bututku, di rumahnya yang berlokasi di Pondok Indah. Sering orang tuanya, mereka juga baik padaku, menawarkan untuk menggunakan mobil mereka jika kami akan pergi bersama. Tetapi aku memang mempunyai harga diri atau gengsi yang tinggi (menurut Monika pacarku, gengsiku ketinggian), sehingga aku selalu menolak. Kemana-mana aku selalu menggunakan motor bersama Monika.

Monikapun tidak berkeberatan bahkan mengagumi prinsip hidupku. Saat makan atau nonton, aku selalu menolak bila dia akan mentraktirku. Aku bilang padanya sebagai laki-laki aku yang harus bayarin dia. Meskipun tentu saja kami akhirnya hanya makan di rumah makan sederhana dan nonton di bioskop yang murah. Itupun aku lakukan kalau sedang punya uang. Kalau tidak ya kami sekedar ngobrol saja di rumahnya atau di tempat kostku.

Monika adalah gadis baik-baik. Aku sangat mencintainya. Sehingga dalam berpacaran kami tidak pernah bertindak terlalu jauh. Kami hanya berciuman dan paling jauh saling meraba. Memang benar kata orang, bila kita benar-benar mencintai seseorang, kita akan menghormati orang tersebut. Monika pernah bilang padaku, kalau ia ingin mempertahankan keperawanannya sampai ia menikah nanti. Terlebih akupun waktu itu masih perjaka. Mungkin hal ini sukar dipercaya oleh pembaca, mengingat trend pergaulan anak muda Jakarta sekarang.

Keadaanku mulai berubah semenjak beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku ditawari sebuah peluang untuk berwiraswasta oleh seorang temanku. Aku tertarik mendengar cerita suksesnya. Terlebih modal yang dibutuhkanpun sangat kecil, sehingga aku berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba.

Hasilnya ternyata luar biasa. Mungkin memang karena bidang ini masih banyak peluang, disamping strategi pemasaran yang disediakan oleh program ini sangat jitu. Penghasilankupun per bulan sekarang mencapai jutaan rupiah. Mungkin setingkat dengan level manajer perusahaan kelas menengah.

Bekerjanyapun dapat part-time sambil disambi kuliah. Memang beruntung aku menemukan program ini.

Semenjak itu, penampilanku berubah. Gaya hidup yang sudah lama aku impikan sekarang telah dapat kunikmati. HP terbaru, pakaian bagus, sudah dapat aku beli. Semakin sering aku mengajak Monika untuk makan di restoran mahal serta nonton film terbaru di bioskop 21. Monika sempat kaget dengan kemajuanku. Sempat disangkanya aku berusaha yang ilegal, seperti menjual narkoba. Tetapi setelah aku jelaskan apa bisnisku, dia pun lega dan ikut senang. Disuruhnya aku bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan jalan kepadaku.

Hanya satu saja yang masih kurang. Aku belum punya mobil. Setelah menabung dari hasil usahaku selama berbulan-bulan, akhirnya terkumpul juga uang untuk membeli mobil bekas. Kulihat di suratkabar dan tertera iklan tentang mobil Timor tahun 1997 warna gold metalik. Aku tertarik dan langsung kutelpon si penjualnya.

“Ya betul… mobil saya memang dijual”. Suara seorang wanita menjawab di ujung telepon.

“Harganya berapa Bu?”

“Empat puluh delapan juta”

“Kok mahal sih Bu?”

“Kondisinya bagus lho.. Semuanya full orisinil”

Dengan cepat kukalkulasi danaku. Wah.. Untung masih cukup, walaupun aku harus menjual motorku dulu. Tetapi akupun berpikir, siapa tahu harganya masih bisa ditawar. Kuputuskan untuk melihat mobilnya terlebih dahulu.

“Alamatnya dimana Bu?”

Diapun kemudian memberikan alamatnya, dan aku berjanji untuk datang ke sana sore ini sehabis kuliah.

*****

Setelah mencari beberapa lama, sampai juga aku di alamat yang dimaksud.

“Selamat sore” sapaku ketika seorang wanita cantik membuka pintu.

“Oh sore..” jawabnya.

Aku tertegun melihat kecantikan si ibu. Usianya mungkin sekitar 35 tahunan, dengan kulit yang putih bersih, dan badan yang seksi. Payudaranya yang tampak penuh di balik baju “you can see” menambah kecantikannya. Agar pembaca dapat membayangkan kecantikannya, aku bisa bilang kalau si ibu ini 80% mirip dengan Sally Margaretha, bintang film itu.

“Saya Wawan yang tadi siang telepon ingin melihat mobil ibu”

“Oh.. Ya silakan masuk.”

Akupun masuk ke dalam rumahnya.

“Tunggu sebentar ya Wan. Mobilnya masih dipakai sebentar menjemput anakku les. Mau minum apa?”

“Ah.. Nggak usah ngerepotin.. Apa saja deh Bu”

Akupun kemudian duduk di ruang tamu. Tak lama si ibu datang dengan membawa segelas air sirup.

“Kamu masih kuliah ya,” tanyanya setelah duduk bersamaku di ruang tamu

“Iya Bu.. Hampir selesai sih “

“Ayo diminum.. Beruntung ya kamu.. Dibelikan mobil oleh orang tuamu” si ibu berkata lagi.

Kuteguk sirup pemberian si ibu. Enak sekali rasanya menghilangkan dahagaku.

“Oh.. Ini saya beli dari usaha saya sendiri, Bu. Mangkanya jangan mahal-mahal dong” jawabku.

“Wah.. Hebat kamu kalau gitu. Memang usaha apa kok masih kuliah sudah bisa beli mobil”

“Yah usaha kecil-kecilan lah” jawabku seadanya.

“Ngomong-ngomong mobilnya kenapa dijual Bu?”

“Aduh kamu ini ba Bu ba Bu dari tadi. Saya kan belum terlalu tua. Panggil saja tante Sonya.” jawabnya sambil sedikit tertawa genit.

“Mobilnya akan saya jual karena mau beli yang tahunnya lebih baru”

“Oh begitu..” jawabku.

Kemudian tante Sonya tampak melihatku dengan pandangan yang agak lain. Agak rikuh aku dibuatnya. Terlebih tante Sonya duduk sambil menumpangkan kakinya, sehingga rok mininya agak sedikit terangkat memperlihatkan pahanya yang putih mulus.

“Anaknya berapa tante. Terus suami tante kerja dimana?” tanyaku untuk menghilangkan kerikuhanku.

“Anakku satu. Masih SD. Suamiku sudah nggak ada. Dia meninggal dua tahun yang lalu” jawabnya.

“Waduh.. Maaf ya tante”

“Nggak apa kok Wan.. Kamu sendiri sudah punya pacar?”

“Sudah, tante”

“Cantik ya?”

“Cantik dong tante..” jawabku lagi.

Duh, aku makin rikuh dibuatnya. Kok pembicaraannya jadi ngelantur begini. Tante Sonya kemudian beranjak duduk di sebelahku.

“Cantik mana sama tante..” katanya sambil tangannya meremas tanganku.

“Anu.. Aduh.. Sama-sama, tante juga cantik” jawabku sedikit tergagap.

“Kamu sudah pernah begituan dengan pacarmu?”.

Sambil berkata, tangan tante Sonya mulai berpindah dari tanganku ke pahaku.

“Belum.. Tante.. Saya masih perjaka.. Saya nggak mau begituan dulu” jawabku sambil menepis tangan tante Sonya yang sedang meremas-remas pahaku.

Jujur saja, sebenarnya akupun sudah mulai terangsang, akan tetapi saat itu aku masih dapat berpikir sehat untuk tidak mengkhianati Monika pacarku. Mendengar kalau aku masih perjaka, tampak tante Sonya tersenyum.

“Mau tante ajarin caranya bikin senang wanita?” tanyanya sambil tangannya kembali merabai pahaku, dan kemudian secara perlahan mengusap-usap penisku dari balik celana.

“Aduh.. Tante.. Saya sudah punya pacar.. Nggak usah deh..”

“Mobilnya kapan datang sih?” lanjutku lagi.

“Sebentar lagi.. Mungkin macet di jalan. Mau minum lagi? “

Tanpa menunggu jawabanku, tante Sonya pergi ke belakang sambil membawa gelasku yang telah kosong. Lega juga rasanya terlepas dari bujuk rayu tante Sonya. Beberapa menit kemudian, tante Sonya kembali membawa minumanku.

“Ayo diminum lagi” kata tante Sonya sambil memberikan gelas berisi sirup padaku.

Kuteguk sirup itu, dan terasa agak lain dari yang tadi. Tante Sonya kemudian kembali duduk di sebelahku.

“Ya sudah.. Kamu memang setia nih ceritanya.. Kita ngobrol aja deh sambil menunggu mobilnya datang, OK?”

“Iya tante..” jawabku lega.

“Kamu ngambil jurusan apa?”

“Ekonomi, tante”

“Kenal pacarmu di sana juga?”

Waduh.. Aku berpikir kok si tante kembali nanyanya yang kayak begituan.

“Iya dia teman kuliah”

“Ceritain dong gimana ketemuannya”

Yah daripada diminta yang nggak-nggak, aku setuju saya menceritakan padanya tentang kisahku dengan Monika. Kuceritakan bagaimana saat kami berkenalan, ciri-cirinya, acara favorit kami saat pacaran, tempat-tempat yang sering kami kunjungi.

Setelah beberapa lama bercerita, entah mengapa nafsu birahiku terangsang hebat. Akupun merasakan sedikit keringat dingin mengucur di dahiku.

“Kenapa Wan.. Kamu sakit ya” tanya tante Sonya tersenyum sambil kembali meremas tanganku.

Tangannya kemudian beralih ke pahaku dan kembali diusap dan diremasnya perlahan.

“Anu tante rasanya kok agak aneh ya?” jawabku.

“Tapi enak kan?”

Tante Sonyapun kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan kemudian bibir kamipun telah saling berpagut. Tak kuasa lagi aku menolak tante Sonya. Nafsuku telah sampai di ubun-ubun.

“Saya tadi dikasih apa tante” tanyaku lirih.

“Ah.. Cuma sedikit obat kok. Supaya kamu bisa lebih rileks” jawabnya sambil tangannya mulai membuka retsleting celanaku.

“Ayo, tante ingin merasakan penismu yang masih perjaka itu” lanjutnya sambil kembali menciumi wajahku.

Tante Sonyapun kemudian membuka celanaku beserta celana dalamnya sekaligus.

“Hmm.. Besar juga ya punyamu. Tante suka tongkol besar anak muda begini”.

Tangannya mulai mengocok penisku perlahan. Kemudian tante Sonya merebahkan kepalanya dipangkuanku. Diciumnya kepala penisku, dan lantas dengan bernafsu dikulumnya penisku yang sudah tegak menahan gairah berahi.

“Ah.. Tante..” desahku menahan nikmat, ketika mulut tante Sonya mulai menghisap dan menjilati penisku.

Tangan tante Sonyapun tak tinggal diam. Dikocoknya batang penisku, dan diusap-usapnya buah zakarku. Setelah sekian lama penisku dipermainkannya, kembali tante Sonya bangkit dan menciumiku.

“Kita lanjutin pelajarannya di kamar yuk sayang..” bisiknya.

Akupun sudah tak kuasa menolak. Nafsu berahi telah menguasai diriku. Kamipun beranjak menuju kamar tidur tante Sonya di bagian belakang rumah. Sesampainya aku di kamar, tante Sonya kembali menciumiku. Kemudian tangankupun diraihnya dan diletakkan di payudaranya yang membusung.

“Ayo sayang.. Kamu remas ya”

Kuikuti instruksi tante Sonya dan kuremas payudara miliknya. Tante Sonyapun terdengar mengerang nikmat.

“Sayang… tolong bukain baju tante ya”.

Tante Sonya membalikkan badan dan akupun membuka retsleting baju “you can see”nya. Setelah terbuka, tante Sonya kembali berbalik menghadapku.

“BHnya sekalian donk sayang..” ujarnya.

Kuciumi kembali wajahnya yang ayu itu, sambil tanganku mencari-cari pengait BH di punggungnya.

“Aduh.. Kamu lugu amat ya.. Tante suka..” katanya disela-sela ciuman kami.

“Pengaitnya di depan, sayang..”

Kuhentikan ciumanku, dan kutatap kembali BHnya yang membungkus payudara tante Sonya yang besar itu. Kubuka pengaitnya sehingga payudara kenyal itupun seolah meloncat keluar.

“Bagus khan sayang.. Ayo kamu hisap ya..”

Tangan tante Sonya merengkuh kepalaku dan didorong ke arah dadanya. Tangannya yang satunya lagi meremas payudaranya sendiri dan menyorongkannya ke arah wajahku.

“Ah.. Enak.. Anak pintar.. Sshh” desah tante Sonya ketika aku mulai menghisap payudaranya.

“Jilati putingnya yang..” instruksi tante Sonya lebih lanjut.

Dengan menurut, akupun menjilati puting payudara tante Sonya yang telah mengeras.

Kemudian aku kembali menghisap sepasang payudaranya bergantian. Setelah puas aku hisapi payudaranya, tante Sonya kemudian mengangkat kepalaku dan kembali menciumiku.

“Sekarang kamu buka rok tante ya”

Tante Sonya merengkuh tanganku dan diletakkannya di pantatnya yang padat. Kuremas pantatnya, lalu kubuka retsleting rok mininya. Aku terbelalak melihat Tante Sonya ternyata menggunakan celana dalam yang sangat mini. Seksi sekali pemandangan saat itu. Tubuh tante Sonya yang padat dengan payudara yang membusung indah, ditambah dengan sepatu hak tinggi yang masih dikenakannya.

Kembali tante Sonya mencium bibirku. Lantas ditekannya bahuku, membuatku berlutut di depannya. Tangan tante Sonya lalu menyibakkan celana dalamnya sehingga vaginanya yang berbulu halus dan tercukur rapi nampak jelas di depanku.

“Cium di sini yuk sayang..” perintahnya sambil mendorong kepalaku perlahan.

“Oh.. my god.. Sshh” erang tante Sonya ketika mulutku mulai menciumi vaginanya.

Kujilati juga vagina yang berbau harum itu, dan kugigit-gigit perlahan bibir vaginanya.

“Ahh.. Kamu pintar ya.. Ahh” desahnya.

Tante Sonya lantas melepaskan celana dalamnya, sehingga akupun lebih bebas memberikan kenikmatan padanya.

“Jilat di sini sayang..” instruksi tante Sonya sambil tangannya mengusap klitorisnya.

Kujilati klitoris tante Sonya. Desahan tante Sonya semakin menjadi-jadi dan tubuhnya meliuk-liuk sambil tangannya mendekap erat kepalaku. Beberapa saat kemudian, tubuh tante Sonyapun mengejang.

“Yes.. Ah.. Yes..” jeritnya.

Liang vaginanya tampak semakin basah oleh cairan kewanitaannya. Kusedot habis cairan vaginanya sambil sesekali kuciumi paha mulus tante Sonya. Tak percuma ilmu yang kudapat selama ini dari pengalamanku menonton dan mengkoleksi video porno.

“Kita terusin di ranjang yuk..” ajaknya setelah mengambil nafas panjang.

Akupun kemudian melucuti semua pakaianku. Tante Sonya lalu membuka sepatu hak tingginya, sehingga sambil telanjang bulat, kami merebahkan diri di ranjang.

“Ciumi susu tante lagi dong yang..”

Aku dengan gemas mengabulkan permintaannya. Payudara tante Sonya yang membusung kenyal, tentu saja membuat semua lelaki normal, termasuk aku, menjadi gemas. Sementara mulutku sibuk menghisap dan menjilati puting payudara tante Sonya, tangannya menuntun tanganku ke vaginanya. Akupun mengerti apa yang ia mau. Tanganku mulai mengusap-usap vagina dan klitorisnya.

Tante Sonya kembali mengerang ketika nafsu berahinya bangkit kembali. Ditariknya wajahku dari payudaranya dan kembali diciuminya bibirku dengan ganas. Selanjutnya, tante Sonya menindih tubuh atletisku. Dijilatinya dada bidangku dan kedua putingnya dan kemudian perut sixpackku pun tak lupa diciuminya.

Sesampainya di penisku, dengan gemas dijilatinya lagi batangnya. Tak lama kemudian, kepala tante Sonyapun sudah naik turun ketika mulutnya menghisapi penisku.

“Sekarang tante pengin ambil perjakamu ya..”

Sambil berkata begitu, tante Sonya menaiki tubuhku. Diarahkannya penisku ke dalam vaginanya. Rasa nikmat luar biasa menghinggapiku, ketika batang penisku mulai menerobos liang vagina tante Sonya.

“Uh.. Nikmat sekali.. Tante suka tongkolmu.. Enak..” desah tante Sonya sambil menggoyangkan tubuhnya naik turun di atas tubuhku.

“Heh.. Heh.. Heh..” begitu suara yang terdengar dari mulut tante Sonya. Seirama dengan ayunan tubuhnya di atas penisku.

“Tante suka.. Ahh.. Ngentotin anak muda.. Ahh.. Seperti kamu.. Yes.. Yes..”

Tante Sonya terus meracau sambil menikmati tubuhku. Tangannya kemudian menarik tanganku dan meletakkannya di payudaranya yang bergoyang-goyang berirama. Akupun meremas-remas payudara kenyal itu. Suara desahan tante Sonya semakin menjadi-jadi.

“Enak.. Ahh.. Ayo terus.. entotin tante.. Ah.. Anak pintar.. Ahh..”

Tak lama tubuh tante Sonyapun kembali mengejang. Dengan lenguhan yang panjang, tante Sonya mengalami orgasme yang kedua kalinya. Tubuh tante Sonya kemudian rubuh di atasku. Karena aku belum orgasme, nafsukupun masih tinggi menunggu penyaluran. Kubalikkan tubuh tante Sonya, dan kugenjot penisku dalam liang kewanitaannya. Rasa nikmat menjalari seluruh tubuhku. Kali ini eranganku yang menggema dalam kamar tidur itu.

“Oh.. Enak tante.. Yes.. Yes..” erangku ditengah suara ranjang yang berderit keras menahan guncangan.

“Wawan mau keluar tante..” kataku ketika aku merasakan air mani sudah sampai ke ujung penisku.

“Keluarin di mulut tante, sayang..”

Akupun mencabut keluar penisku dan mengarahkannya ke wajah tante Sonya. Tangan tante Sonya langsung meraih penisku, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Ahh.. Tante..” jeritku ketika aku menyemburkan air maniku dalam mulut tante Sonya.

Tante Sonya lantas mengeluarkan penisku dan mengusap-usapkannya pada seluruh permukaan wajahnya yang cantik.

*****

Setelah membersihkan diri, kamipun kembali duduk di ruang tamu.

“Enak Wan?” tanyanya sambil tersenyum genit.

“Enak tante… memang tante sering ya beginian”

“Nggak kok.. Kalau pas ada anak muda yang tante suka saja..”

“Oh.. Tante sukanya anak muda ya..”

“Iya Wan.. Disamping staminanya masih kuat.. Tante juga merasa jadi lebih awet muda.” jawab tante Sonya genit.

Tak lama mobil yang dinantipun datang. Akhirnya aku jadi membeli mobil tante Sonya itu. Disamping kondisinya masih bagus, tante Sonya memberikan korting delapan juta rupiah.

“Asal kamu janji sering-sering main ke sini ya” katanya sambil tersenyum saat memberikan potongan harga itu.

Kejadian ini berlangsung sebulan yang lalu. Sampai saat ini, aku masih berselingkuh dengan tante Sonya. Sebenarnya aku diliputi perasaan berdosa kepada Monika pacarku. Tetapi apa daya, setelah kejadian itu, aku jadi ketagihan bermain seks. Aku tetap sangat mencintai pacarku, dan tetap menjaga batas-batas dalam berpacaran. Tetapi untuk menyalurkan hasratku, aku terus berhubungan dengan tante Sonya.

Bisniskupun makin lancar. Keuanganku semakin membaik, sehingga aku sanggup memberikan hadiah-hadiah mahal pada Monika untuk menutupi rasa bersalahku.





Kemaluan Orang india menembus memekku

4 06 2009
Namaku Yen Hung saat ini berusia 39 tahun bersuami seorang pengusaha yang cukup sukses punya anak mulai beranjak remaja, hidup kami cukup bahagia dan nyaris tanpa masalah yang berarti, namun karena terlalu banyak waktu luang, aku sering memutar film biru yang menayangkan hubungan sex yang penuh variasi dan juga alat kelamin laki-laki yang begitu besar dan panjang mungkin menjadi penyebab hubungan pasutri kami terasa agak hambar dan datar, jauh di dalam kemaluanku ada sesuatu yang berdenyut mendambakan sentuhan yang tak pernah didapat dari kemaluan suami yang pendek dan kecil, kesibukan kerja membuat staminanya lemah hingga kurang dari tiga menit biasanya dia sudah terkapar tak berdaya lagi, sementara aku masih segar dan menggebu.

Berawal dari keinginan menghilangkan kejenuhan aku ikut kursus bahasa Inggris yang kebetulan sang guru orang India bernama Rajesh Rangoonwala, biasa dipanggil bung Raj tubuhnya tinggi besar kulit hitam dengan bulu lebat, entah bagaimana berawal namun aku cukup akrab dengan Raj yang enak diajak ngobrol sembari latihan bahasa Inggris, Raj kelihatannya menaruh perhatian pada diriku, bila aku duduk di baris paling depan sering dia melirik pahaku yang putih tersembul dari rok ku, anehnya aku merasa senang dengan pandangan Rajesh yg penuh birahi tsb.

Raj mengundangku makan di sebuah hotel, walau bisa menebak maksud kelanjutan makan tsb namun anehnya aku menerima ajakannya.

Bahkan aku mempersiapkan diri dengan mandi keramas serta menggosok bagian intim tubuhku, aku pandangi tubuhku di cermin buah dada yang kecil namun indah dengan puting kemerahan, perut masih rata, liang senggama yang masih sempit warna kemerahan ditumbuhi rambut yang rapi, sempat agak ngeri aku membayangkan tubuh raksasa hitam berbulu lebat setinggi lebih 190 cm dengan berat 90 kg akan menindih tubuhku yang putih mungil hanya setinggi 158 cm dan berat 45 kg, namun karena keinginan bertualang serta rasa gatal karena denyutan di bagian paling dalam liang senggamaku yang mungkin dapat dicapai dan digaruk oleh panjangnya kemaluan Raj membuat aku mantap ingin menemuinya.

Setelah makan malam seperti dugaanku Raj mengajakku menuju sebuah kamar di hotel itu, begitu masuk kamar dia langsung merengkuh dan melumat bibirku, jemari Raj sangat piawai dalam melucuti pakaianku, dalam waktu singkat kaus dan bra ku sudah tergolek di lantai, ada rasa ngeri waktu Raj merebahkan tubuhku yang hanya setinggi 158 cm dan berat 45 kg berkulit putih telentang di kasur sementara Raj yang tingginya 190 cm dan beratnya 90 kg berkulit hitam penuh bulu berada di atasku dengan rakus meremas dan menjilati payudaraku yang putih, pentilnya yang berwarna merah dia hisap hingga aku menggelinjang menahan rasa geli dan nikmat yang begitu hebat, setelah dia puas mempermainkan kedua payudaraku kini tangan Raj melucuti rok dan Cd ku, tubuhku bergetar merasakan sensasi pertama dalam seumur hidupku waktu lidah Raj menjilati bibir kemaluanku, mulut Raj menyedot habis cairan pelumas dalam liang senggamaku bagai minum juice sampai tubuhku meliuk-liuk sambil mendesis bak ular kepanasan merasakan nikmat tiada tara sewaktu lidah Raj menjilati kelentitku, kenikmatan yang belum pernah sekalipun diberikan oleh suami tercinta, selama lebih lima menit seluruh bagian kemaluanku dikerjain oleh mulut dan lidah Raj dengan sangat handal dan selama itu pula aku harus berjuang menahan rasa geli dan nikmat yang sangat hebat hingga akhirnya pertahananku jebol, tubuhku mengejang karena orgasme yang begitu indah hingga tak sadar aku menjerit histeris.

Setelah nafasku kembali normal kini giliranku mempreteli pakaian Rajesh satu persatu, aku terpana melihat tubuh hitam besar dimana hampir seluruhnya ditumbuhi bulu yang hitam lebat dan aku terpekik kaget waktu melepas Cd Raj serta melihat batang kemaluan yang hitam legam dan demikian besar dibalut urat-urat besar tampak kokoh yang siap untuk membobol dan merobek gawang kewanitaanku. Ada rasa ngeri membayangkan benda yang hampir tiga kali lebih besar dari punya suamiku akan menembus tubuhku, namun karena birahi yang meninggi aku ingin merasakan sodokan tongkat hitam India.

Raj menyadari ketakutanku, maka dia mengangkatku kepangkuannya agar aku dapat mengatur masuknya batang kemaluan Raj sesuai keinginan, perlahan dan susah payah aku masukkan kepala kemaluan Raj kedalam liang senggamaku, ada sedikit rasa ngilu waktu aku menekan hingga sepertiganya masuk namun kemudian rasa nikmat perlahan muncul kemudian aku membuat gerakan naik turun perlahan, tubuhku yang kecil dan putih tampak seperti anak kecil yang sedang dipangku monster hitam, biasanya bila dengan suami dalam posisi diatas aku selalu memegang kendali dengan membuat gerakan ke kiri-kanan serta memutar, namun kali ini aku merasakan seluruh kemaluanku penuh sesak tak ada celah hingga aku hanya bisa membuat gerakan naik turun itupun secara perlahan agar batang kemaluan Raj tidak melesak lebih dalam, sambil naik turun aku dapat meraba dan menciumi dada Raj yang bidang dan penuh bulu, aroma tubuh India yang awalnya kurang nyaman bagiku lama kelamaan menjadi daya tarik tersendiri membuat kemaluanku makin basah dan licin hingga tanpa sadar kemaluan Raj telah masuk 2/3 bagian hingga aku dapat merasakannya menyentuh bagian yang tak pernah tersentuh, sodokan kepala kemaluan Raj menjadi penawar rasa gatal dibagian itu hingga aku merasakan arus listrik yang sangat kuat mengalir menjalar dari bawah hingga ke ubun-ubun dan akhirnya meledak menjadi orgasme kedua yang sangat indah.

Tubuhku lunglai bergelayut dalam rangkulan Raj yang masih perkasa, dia merebahkan tubuhku perlahan hingga telentang dimana kemaluannya yang makin mengeras tetap menancap dalam tubuhku, mungkin cairan orgasme keduaku memperlicin liang kemaluanku hingga tak terlalu sulit Raj menekan seluruh batang kemaluan raksasanya melesak seluruhnya kedalam liang kemaluanku hingga aku rasakan sensasi yang bukan main karena kepala kemaluan Raj menyundut mulut rahimku membuat aku berteriak dan menyumpah serapah sebagai ungkapan kenikmatan tiada tara yang belum pernah kurasakan seumur hidup, setelah hampir sepuluh menit kemudian kami menggelepar karena ledakan orgasme bersamaan mengakhiri pergulatan dua tubuh yang berlainan warna kulit serta ukuran ini, aku tak bisa menggambarkan betapa indah atau nikmatnya sensasi ledakan orgasme ketiga ku yang panjang sekali, peluh kami bercucuran sambil berangkulan dalam posisi miring kami tidur pulas dimana kedua tubuh kami masih berlekatan.





Pemuas nafsu Ibu Pacarku dan Tantenya

4 06 2009

Namaku Donny, umur 18 tahun, wajahku cukup tampan dan tubuh atletis karena aku memang suka olah raga, tinggi 175 cm. Aku dilahirkan dari keluarga yang mampu. Tapi Aku merasa kesepian karena kakak perempuanku kuliah di Amsterdam, sedang kedua orang tuaku menetap di Bali mengurusi perusahaannya di bidang garment, mereka pulang sebulan sekali.

Saat ini aku kelas III SMU swasta di kota Surabaya. Perkenalanku dengan pacarku, Shinta setahun yang lalu. Di sekolah kami, dia memang kembangnya kelas III IPS, banyak cowok yang naksir padanya tapi dengan sedikit kelebihanku dalam merayu cewek, maka aku berhasil menggaetnya. Sebenarnya dia termasuk type cewek yang pendiam dan tongkrongannya biasanya di perpustakaan, karena itu dia sering dapat rangking kelas.

Keluarga Shinta termasuk keluarga yang kaya. Ayahnya, Pak Har berumur 54 tahun masuk jajaran anggota DPRD sedang ibunya, Bu Har yang nama aslinya Mustika berumur 38 tahun, orangnya cantik, tingginya sekitar 164 cm, kulitnya putih, dia asli Menado, rambutnya sebahu, orangnya ramah dan berwibawa. Kesibukannya hanya di rumah, ditemani oleh tantenya Shinta yaitu Tante Merry, berumur 30 tahun, orangnya seksi sekali seperti penyanyi dangdut Baby Ayu, tingginya 166 cm. Dia baru menikah 3 tahun yang lalu dan belum mempunyai anak, sedang suaminya Om Nanto adalah pelaut yang pulang hampir 3 bulan sekali.

Dalam masa pacaran boleh dibilang aku kurang pemberani karena memang Shinta orangnya selalu memegang prinsip untuk menjaga kehormatan karena dia anak tunggal. Dia hanya mengijinkan aku untuk mencium pipi saja, itu juga kalau malam minggu.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang alim, karena kawan-kawanku Andi, Dito dan Roy terkenal gank-nya Playboy dan suka booking cewek, maka sebagai pelampiasanku karena pacarku orangnya alim aku sering mencari kesenangan di luar bersama teman-temanku, rata-rata dari kami adalah anak orang gedean, jadi uang bagi kami bukanlah soal, yang penting happy.

Suatu hari, tepatnya minggu sore kami berempat pergi ke Tretes dan rencananya akan menyewa hotel dan booking cewek. Sesampainya di sebuah hotel, kami segera ke receptionis, kami segera memesan 2 kamar, saat itu aku hanya duduk di ruang tunggu dan mengawasi Dito dan Andi yang sedang memesan kamar.

Tiba-tiba pandanganku jatuh pada perempuan setengah baya yang berkacamata hitam di sebelah Dito yang sepertinya lebih dulu mau memesan kamar. Aku seperti tak percaya, dia ternyata Tante Tika (Mustika) ibunya Shinta dan yang bersamanya seorang pemuda yang aku sendiri tidak kenal. Mereka kelihatan mesra sekali karena tangan pemuda itu tak mau lepas dari pinggang Tante Tika. Timbul niatku untuk menyelidiki apa sebenarnya tujuan Tante Tika datang ke hotel ini. Setelah mendapat kunci, mereka kemudian melangkah pergi untuk menuju kamar yang dipesan. Lalu aku menguntitnya diam-diam, pada Roy aku pamit mau ke Toilet. Ternyata mereka menuju ke kamar Melati no.3 yaitu salah satu kamar VIP yang dipunyai oleh Hotel itu.

Kemudian aku balik lagi ke teman-temanku, akhirnya mereka mendapat kamar Mawar no.6 dan 7 kebetulan lokasinya saling membelakangi dengan Kamar Melati, dan dipisahkan oleh parkiran mobil. Tak lama kemudian, Roy dan Dito pergi mencari cewek. Sambil menunggu mereka, aku iseng-iseng pergi ke belakang kamar. Saat itu jam 18:00 sore hari mulai gelap. Kebetulan sekali di Kamar Melati pada dinding belakang ada ventilasi udara yang agak rendah. Dengan memanjat mobil Roy, aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Ternyata Ibu pacarku yang di rumah kelihatan alim dan berwibawa tak disangka selingkuh dengan pria lain yang umurnya jauh lebih muda darinya. Keduanya dalam keadaan telanjang bulat, posisi Tante Tika sedang menaiki pemuda itu sambil duduk, kemaluan Tante Tika terlihat tertusuk oleh batang kejantanan pemuda yang sedang terlentang itu. Aku jadi ikut horny melihat dua sosok tubuh yang sedang bersetubuh itu. Wajah Tante Tika kelihatan merah dan dipenuhi keringat yang membasahi kulitnya. Nafasnya terengah-engah sambil menjerit-jerit kecil.

Tiba-tiba gerakannya dipercepat, dia berpegangan ke belakang lalu dia menjerit panjang, kelihatannya dia mendapat orgasmenya lalu badannya ambruk menjatuhi tubuh pemuda itu. Kelihatannya pemuda itu belum puas lalu mereka ganti posisi. Tante Tika berbaring di ranjang, kakinya di buka lebar lututnya dilipat, dengan penuh nafsu pemuda itu menjilati liang kewanitaan Tante Tika yang sudah basah penuh dengan cairan maninya. Ibu pacarku itu mengerang-erang manja. Setelah puas dengan permainan lidahnya, pemuda itu kembali mengarahkan batang kejantanannya ke bibir kemaluan Tante Tika lalu dengan mudah,

“Blueesss…”

Kejantanan pemuda itu sudah amblas seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Tante Tika. Aku melihatnya semakin bernafsu sambil mengocok kemaluanku sendiri, aku antusias sekali untuk menikmati permainan mereka. Pemuda itu terus memompa batang kejantanannya keluar masuk lubang kemaluan Tante Tika sambil tangannya meremas-remas payudara perempuan itu yang berukuran lumayan besar, 36B. Pinggulnya bergoyang-goyang mengimbangi gerakan pemuda itu.

Sekitar 6 menit kemudian pemuda itu mengejang, ditekannya dalam-dalam pantatnya sambil melenguh dia keluar lebih dulu, sedang Tante Tika terus menggoyangkan pinggulnya. Tak lama kemudian dijepitnya tubuh pemuda itu dengan kakinya sambil tangannya mencengkeram punggung pemuda itu. Kelihatannya dia mendapat orgasme lagi bersamaan dengan muncratnya mani dari kemaluannya. Lalu kusudahi acaraku mengintip Tante Tika, Ibu pacarku yang penuh wibawa dan aku sangat mengagumi kecantikannya ternyata seorang maniak seks.

Ada catatan tersendiri dalam hatiku. Aku sudah melihatnya telanjang bulat, hal itu membuat terbayang-bayang terus saat dia merintih-rintih membuatku sangat bernafsu hingga timbul keinginan untuk dapat menikmati tubuhnya. Paling tidak aku sekarang punya kartu truf rahasianya.

Acaraku dengan teman-teman berjalan lancar bahkan saat menyetubuhi cewek yang bernama Ani dan Ivone justru aku membayangkan sedang menyetubuhi Tante Tika hingga aku cepat sekali keluar. Aku hanya melakukan sekali pada Ani dan dua kali pada Ivone, sedang teman-temanku melakukan sampai pagi tak terhitung sudah berapa kali mereka mendapat orgasme. Aku sendiri jadi malas untuk bersetubuh dengan mereka karena saat ini aku malah terbayang-bayang dengan keindahan tubuh Tante Tika.

Jam 10 malam setelah berpakaian, aku keluar dari kamar. Kubiarkan ketiga temanku mengerubuti kedua cewek itu. Kunyalakan rokok dan duduk di teras kamar, rasanya udara di Tretes sangat dingin. Kembali kutengok kamar melati no.3 dari ventilasi, kelihatan lampunya masih menyala berarti mereka belum pulang, lalu kuintip lagi dari jendela ternyata mereka sedang tidur saling berpelukan.

Tiba-tiba aku ingat Tante Tika selalu bawa HP, aku sendiri juga kebetulan bawa tapi aku ragu apakah HP-nya diaktifkan tapi akan kucoba saja. Begitu ketemu nomernya lalu kutekan dial dan terdengar nada panggil di dalam kamar itu. Tante Tika terbangun lalu buru-buru mengangkat HP-nya, dia sempat melihat nomer yang masuk.

“Haloo.. ini Donny yaaa, ada apa Dooon..?” kata Tante Tika dari dalam kamar.

“Tante sedang di mana..?” tanyaku.

“Lhooo.. apa kamu nggak tanya Shinta, hari ini aku kan nginap di rumah neneknya Shinta di Blitar, neneknya kan lagi sakit..” kata Tante Tika beralasan.

“Sakit apa Tan..” tanyak berlagak pilon.

Dia diam sejenak, “Ah nggak cuman jantungnya kambuh.. tapi sudah baikan kok, besok juga saya pulang,” katanya pintar bersandiwara.

“Memangnya kamu, ada perlu apa..?” tanya Tante Tika.

“Maaf Tante.. tapi.. Tante jangan marah yaaa..!”

“Sudah katakan saja aku capek nih.. kalau mau ngomong, ngomong saja.. aku janji nggak akan marah,” kata Tante Tika.

“Tante capek habis ngapain..?” tanyaku.

“E..e.. anuu tadi mijitin Neneknya Shinta..” katanya gugup.

“Bener Tante..? Masak orang sakit jantung kok dipijitin, bukannya mijitin yang lain..?” kataku mulai berani.

“Kamu kok nggak percaya sih… apa sih maksudmu..?”

“Sekali lagi maaf Tante, sebenarnya saya sudah tahu semuanya..?”

“T..tahu apa kamu?” dia mulai gelagapan.

“Bukannya Tante sekarang berada di Tretes di Hotel di kamar melati no.3 bersama orang yang bukan suami Tante,” kataku.

“D..Doon, kamu dimanaaa?” katanya bingung.

“Temui saya di belakang kamar tante, di dalam mobil Civiv Putih sekarang.. kita bisa pecahkan masalah ini tanpa ada orang yang tahu,” kataku menantang.

“B..b.baik, saya segera ke sana.. tunggu lima menit lagi,” katanya lemah.

Tak lama kemudian Tante Tika datang dengan hanya memakai piyama masuk ke mobil Roy.

“Malem Tante,” sapaku ramah.

“Dooon tolong yaaa, kamu jangan buka rahasia ini..” katanya memohon.

“Jangan khawatir Tante kalau sama saya pasti aman, tapiii…” aku bingung mau meneruskan.

Aku terus membayangkan tubuh seksi Tante Tika dalam keadaan telanjang bulat sedang merintih-rintih nikmat.

“Tapi.. apa Dooon..?, Ngooomong dooong cepetan, jangan buat aku tengsin di sini.. tolong deh jaga nama baik Tante… Tante baru dua kali begini kook… itu jugaaa… Tante udah nggak tahaan lagiii, bener lhooo kamu mau tutup mulut..” katanya merajuk.

“Tunggu duluu.. emang sama Om, Tante nggak Puas..?” tanyaku.

“Sebenarnya siih, Mas Har itu udah menuhin kewajibannya.. cuman sekarang dia kan udah agak tua jadinya yaah, kamu tahu sendiri kan gimana tenaganya kalau orang sudah tua.. makanya kamu harus maklum, kalau kebutuhan yang satu itu belum terpuaskan bisa gila sendiri aku.. kamu kan udah dewasa masalah kayak gitu harusnya udah paham, paling tidak kamu sudah tahu alasannya.. sekarang tolong Tante yaah, jaga rahasia Tante.. please!!” katanya mengiba.

“Baik Tante, saya akan jaga rahasia ini, tapi tergantung..”

“Tergantung apa..?

“Tergantung.. imbalannya.. trus yang buat tutup mulut apa dong, masak mulut saya dibiarin terbuka..?”

“Kamu minta uang berapa juta besok saya kasih,” balas Tante Tika agak sombong.

“Papa saya masih bisa kok ngasih uang berapapun, emangnya uang bisa untuk tutup mulut, lihat Tante,” sambil aku keluarin uang 100 ribuan lalu kutaruh di mulutku, kemudian uang itu jatuh ke lantai mobil.

“Tuhh, jatuhkan uangnya.” kataku sambil ketawa kecil.

“Hihi..hi, kamu bisa apa aja becanda, terus kamu minta apa..?” tanya Tante Tika.

“Hubungan pacaran saya sama Shinta kan udah lama tapi Dia cuman ngasih ciuman di pipi saja, yang lainnya nggak boleh sama Mamanya, sebenarnya saya pengin ngerasain yang lainnya..” kataku.

“Gila kamu, anakku kan masih perawan, harus bisa jaga diri dong..!”

“Saya kan laki-laki dewasa Tante, pasti juga kepingin ngerasain gituan, gimana kalau selain ciuman dari Shinta saya belajarnya sama Tante Tika.. saja,” tanyaku nakal.

“Wah kamu semakin kurang ajar saja, mulai besok kamu nggak boleh pacaran lagi sama anakku,” ancamnya serius.

“Memangnya Tante pengin lihat berita di koran, Isteri anggota DPRD Jatim berselingkuh dengan gigolo,” aku balik mengancam.

“Ett.. jangan dong, kamu kok gitu sih, aku cuman bercanda kok, kamu boleh kok ngelanjutin hubungan kamu dengan Shinta, terus kalau mau diajarin gituan.. eee.. Tante nggak keberatan kok, sekarang juga boleh,” katanya, akhirnya dia mengalah.

“Tante mau ML sama saya sekarang..?” tanyaku nggak percaya.

“Udahlah, ayo ke kamar Tante tapi.. biar pemuda itu kusuruh pulang dulu,” katanya sambil melangkah pergi menuju kamarnya.

Malam itu kulihat arlojiku sudah menunjukkan jam 23:00 WIB. Kulihat seorang pemuda keluar dari kamar Tante Tika, aku segera masuk ke dalam kamar itu. Kulihat Tante Tika sedang duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya menghadap ke cermin.

“Nggak usah berdandan Tante, udah cantik kok..” kataku memuji kecantikannya.

“Emang Tante masih cantik..?” tanyanya.

“Buat apa saya bohong, sudah lama saya mengagumi kecantikan Tante, juga tubuh Tante yang masih seksi,” jawabku.

“Benarkah kamu mengagumi Tante..?”

“Malah saya sering ngebayangin gimana yahh rasanya ML sama Tante Tika, pasti enak.” kataku merayunya.

“Ya udah nggak usah dibayangin, orangnya udah ada di depan kamu kok, siap melayani kamu,” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arahku.

Lalu dengan kasar dibukanya reitsleting celanaku dan dilepasnya celanaku ke bawah juga celana dalamku hingga sampai lutut.

“Waaww… besar sekali punya kamu Don?” serunya, lalu secepat kilat tangannya menggenggam kemaluanku yang ukuran panjangnya 15 cm tapi diameternya kira-kira 3,7 cm kemudian mengelus-elusnya dengan penuh nafsu. Akupun semakin bernafsu, piyamanya kutarik ke bawah dan wooww.., kedua buah dada itu membuat mataku benar-benar jelalatan.

“Mm… kamu sudah mulai pintar, Don. Tante mau kamu..” belum lagi kalimat Tante Tika habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan,

“Cruppp…” sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat di permukaan puting susunya.

“Aahh… Donny, ooohh… sedooot teruuus aahh..” tangannya semakin mengeraskan genggamannya pada batang kejantananku, celanaku sejak tadi dipelorotnya ke bawah.

Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting susunya satu persatu. Tante Tika tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku yang seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas Tante Tika sudah berpengalaman sekali. Batang kejantananku tak lagi hanya diremasnya, ia mulai mengocok-ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya.

“Buka bajumu dulu, Don..” ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas sedotanku pada puting buah dadanya, lalu celanaku dilepaskannya.

Ia sejenak berdiri dan melepas piyamanya, kini aku dapat melihat tubuh Tante Tika yang bahenol itu dengan jelas. Buah dada besar itu tegak menantang. Dan bukit diantara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat keluar dari arah selangkangannya. Dengan agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung kutarik sampai lepas. Tante Tika langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudaranya, kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalanku sekarang menempel ketat di dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Tante Tika menyedot lidahku dengan lembut.

“Uhh…” nikmatnya, tanganku menyusup diantara dada kami, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu.

“Hmm… ooohh… Tante… aahh..” kegelian bercampur nikmat saat Tante Tika memadukan kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada batang kejantananku.

Bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.

“Hmm… pintar kamu Doon.. ooohh..” Desahan Tante Tika mulai terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang lancip. “Sekarang kamu ke bawah lagi sayang..”

Aku yang sudah terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Tika membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang birahiku, aku jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat yang menutupi daerah kewanitaannya. Uhh, liang kewanitaan itu tampak sudah becek dan sepertinya berdenyut. Aku ingat apa yang harus kulakukan, lidahku menjulur lalu menjilati liang kewanitaan Tante Tika.

“Ooohh, yaahh… enaak, Doon, Hebat kamu Doon… ooohh…” Tante Tika mulai menjerit kecil merasakan sedotanku pada klitorisnya.

Sekitar lima menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tiba-tiba ia menjepit kepalaku dengan keras diantara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat bernafas.

“Aahh… Tante nggak kuaat aahh, Doon..” teriaknya panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua buah dadanya yang sejak tadi bergoyang-goyang, dari liang kewanitaannya mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku.

“Makasih yaa Don, kamu udah puasin Tante.. makasih Sayang. Sekarang beri Tante kesempatan bersihin badan sebentar saja,” ia lalu mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandi.

Aku tak tahu harus berbuat apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya sempat mendapat sentuhan tangan Tante Tika. Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan air maniku ke dalam liang kewanitaannya. Ahh, aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandi. Kulihat Tante Tika sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.

“Tante Tika.. ayooo cepat,” teriakku tak sabar.

“Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku.

Tangannya langsung meraih batang kejantananku yang masih tegang.

“Woooww… Tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Doon… ooohhmm..” ia berjongkok di hadapanku.

Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu dan secepat kilat Tante Tika memasukkan batang kejantananku ke mulutnya.

“Ouughh… sssttt.. nikmat Tante.. ooohh… ooohh… ahh…” geli bercampur nikmat membuatku seperti melayang.

Baru kali ini punyaku masuk ke dalam alat tubuh perempuan. Ternyata, ahh…, lezatnya setengah mati. Batang kejantananku tampak semakin tegang, mulut mungil Tante Tika hampir tak dapat lagi menampungnya. Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas payudaranya.

“Waaouwww… punya kamu ini lho, Doon… Tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin lagi,” tangannya menarikku kembali ke tempat tidur, Tante Tika seperti melihat sesuatu yang begitu menakjubkan.

Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan diri dan membuka kedua pahanya ke arah yang berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan liang kewanitaannya. Hmm.. kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan cepat kutindih tubuhnya, kumasukkan batang kejantananku ke dalam lubang kemaluannya.

“Sleeepp…” agak susah juga karena kemaluannya lumayan sempit tapi kemudian amblas juga seluruhnya hingga sampai dasar rahim, lalu kupompa naik turun.

“Hmm… ooohh..” Tante Tika kini mengikuti gerakanku.

Pinggulnya seperti berdansa ke kiri kanan. Liang kewanitaannya bertambah licin saja. Batang kejantananku kian lama kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu pangkal pahaku.

“Plak.. plak.. plak.. plak..” aduh nikmatnya perempuan setengah baya ini.

Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Tika yang masih saja mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadinya santai kini tak lagi berirama. Buah dadanya tampak bergoyang kesana kemari, mengundang bibirku beraksi.

“Ooohh Sayang, kamu buas sekali. Hmm… Tante suka yang begini, ooohh… genjot terus..” katanya menggelinjang hebat.

“Uuuhh… Tante, nikmat Tante.. hmm Tante cantik sekali ooohh..”

“Kamu senang sekali susu tante yah? Ooohh.. sedooot teruuus susu tanteee aahh… panjang sekali peler kamu.. ooohh, Dooony… aahh..” Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan liang kewanitaannya semakin terasa menjepit batang kejantananku yang semakin terasa keras dan tegang.

“Doon..?” dengusannya turun naik.

“Kenapa.. Tante…”

“Kamu bener-bener hebat Sayang… ooowwww… uuuhh.. Tan.. Tante.. mau keluar hampiiirr.. aahh…” gerakan pinggulnya yang liar itu semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kami bersetubuh.

“Ooohh memang enaak Tante, ooohh… Tante ooohh… tante Tika, ooohh… nikmat sekali Tante, ooohh..”

Tak kuhiraukan tubuh Tante Tika yang menegang keras, kuku-kuku tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras pinggangku yang sedang asyik turun naik itu,

“Aahh… Doon.. Tante ke..luaarrr laagiii… aahh..” liang senggama Tante Tika terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit batang kejantananku dan ia menggigit pundakku sampai kemerahan.

Kepala batang kejantananku seperti tersiram cairan hangat di dalam liang rahimnya.

Sesaat kemudian ia lemas lagi. Batang kejantananku masih menancap setia di liang kemaluan Tante Tika.

“Sekarang Tante mau puasin kamu, kasih Tante yang di atas ya, Sayang… mmhh, pintar kamu Sayang..”

Posisi kami berbalik. Kini Tante Tika menunggangi tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang kejantananku yang masih tegang itu memasuki liang kenikmatannya dan terasa lebih masuk.

Tante Tika mulai bergoyang perlahan, payudaranya tampak lebih besar dan semakin menantang dalam posisi ini, aku segera meremasnya. Tante Tika berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana batang kejantananku keluar masuk liang senggamanya yang terlihat penuh sesak, sampai bibir kemaluan itu terlihat sangat kencang.

“Ooohh enaak Tante… oooh Tante.. oooh Tante Tika… oooh Tante… hmm, enaak sekali… ooohh..” kedua buah payudaranya seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh Tante Tika.

“Remas yang mesra dong susu Tante sayang, ooohh… yaahh.. pintar kamu… ooohh… Tante nggak percaya kamu bisa seperti ini, ooohh… pintar kamu Doon ooohh… ganjal kepalamu dengan bantal ini sayang,” Tante Tika meraih bantal yang ada di samping kirinya dan memberikannya padaku.

“Maksud Tante supaya saya bisa… srup.. srup..” mulutku menerkam puting susunya.

“Yaahh.. sedot susu Tante lagi sayang… hmm.. yak begitu teruuus yang kiri sayang ooohh..” Tante Tika menundukkan badan agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku.

Cairan mani Tante Tika yang meluber membasahi dinding kemaluannya. Akhirnya dia menjerit panjang,

“Ouuhhhgg.. Tante keluuuaaar, lagiii,” erangnya.

Aku yang belum puas memintanya untuk menungging. Tante Tika menuruti perintahku, menungging tepat di depanku yang masih terduduk. Hmm.., lezatnya pantat Tante Tika yang besar dan belahan bibir kewanitaannya yang memerah, aku langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan batang kejantananku dari belakang. Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih buah dada besarnya.

“Ooohh… nggg.. Kamu hebaat Donn… ooohh, genjot yang cepat Sayang, ooohh… tambah cepat lagi… uuuhh..” desah Tante Tika tak beraturan.

“Ooohh Tante… Taan..teee… ooohh… nikmat Tante Tika..”

Kepalanya menggeleng keras kesana kemari, kurasa Tante Tika sedang berusaha menikmati gaya ini dengan semaksimal mungkin. Teriakannya pun makin ngawur.

“Ooohh… jangan lama-lama lagi Sayang, Tante mau keluar lagi oooh..” rintihnya.

Lalu aku mempercepat gerakanku hingga bunyinya kecepak-kecepok akibat banyaknya cairan mani Tante Tika yang sudah keluar, lalu aku merasa ada sesuatu yang mau keluar.

“Aahh Tante… uuuhh… nikmat sekali, ooohh… Tante sekarang.. Tante Tika, ooohh… saya nggak tahan tanteee… enaak… ooohh..” ceracauku tak beraturan.

“Tante juga Doon… ohhh… Doonny sayaanggg, ooohh… keluaar samaan sayaang, oooh..”

Kami berdua berteriak panjang, badanku terasa bergetar dan,

“Croot… crott… croott… croottt..” entah berapa kali batang kejantananku menyemburkan cairan kental ke dalam rahim Tante Tika yang tampak juga mengalami hal yang sama, selangkangan kami saling menggenjot keras.

Tangan Tante Tika meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri. Matanya terpejam seperti merasakan sensasi yang sangat hebat.

Sejak itu hubunganku dengan Tante Tika bertambah mesra tidak jarang kami mengadakan perjanjian untuk saling ketemu atau saat dia menyuruhku mengantarkannya ke arisan tapi malah dibelokkan ke rumahnya yang satu di daerah perumahan elit yang sepi, sedang aku sama Shinta tetap pacaran tapi perselingkuhanku dengan Mamanya tetap kujaga rahasianya.

Suatu hari aku ke rumah Shinta sepulang sekolah, ternyata Shinta sedang les. Sedangkan ayahnya ada meeting 2 hari di Malang. Karena sudah terbiasa, setelah masuk ke rumah dan kelihatannya sepi, saat bertemu Tante Tika aku langsung memeluknya dari belakang.

“Mumpung sepi Tante, saya sudah kangen sama Tante..” kataku sambil menciumi leher dan cuping telinga Tante Tika.

“Jangan di sini Sayang, ke kamar tante saja..” katanya sambil mengandengku masuk ke kamar, aku seperti kerbau yang di cocok hidungnya, hanya menurut saja.

Setibanya di dalam kamar tanpa ba-bi-bu kami saling berpelukan dan kulumat bibirnya. Nafasnya terengah-engah. Kancing dasternya kubuka satu-persatu hingga semuanya lepas lalu kutarik ke bawah, sedang Tante Tika juga sudah melepas kemejaku, tangannya kini sibuk membuka reitsleting celanaku, aku membantunya. Setelah celanaku lepas lalu dia buang di lantai. Aku diam sejenak, kupandangi tubuh Tante Tika yang hanya memakai BH warna putih dan celana dalam yang juga putih. Lalu tali pengikat BH-nya kulepas, maka tersembullah buah dada Tante Tika yang montok dan menantang itu. Kemudian tanganku ganti memelorotkan celana dalam Tante Tika. Kini dia sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Kulitnya yang putih mulus memancarkan keindahan alami, aku jadi semakin bernafsu.

Sesaat kemudian Tante Tika jongkok di hadapanku dan dengan sekali tarik celana dalamku dilepaskannya ke bawah, dengan kakiku CD-ku kulempar ke bawah ranjang Tante Tika. Lalu kami saling menatap, bibirnya didekatkan dengan bibirku, tanpa buang waktu kupagut bibir yang merah merekah kami saling mengulum, terasa hangat sekali bibir Tante Tika. Tanganku mulai bergerilya di dadanya, gundukan montok itu semakin lama semakin kencang dan putingnya terasa mengeras karena permainan tanganku. Kemaluanku tak luput dari tangan hangat Tante Tika yang begitu bernafsu ingin menguasai keperkasaan kejantananku. Tangan lentik itu kini mengocok dan meremas otot kejantananku. Aku semakin tak tahan, lalu aku melepas pelukannya, nafas kami sama-sama ngos-ngosan. Kulihat matanya memerah seperti banteng yang marah, dadanya naik turun inikah yang namanya sedang birahi. Lalu tubuh telanjang Tante Tika kubopong dan kubaringkan terlentang di atas ranjang, dia menekukkan lututnya dan kedua pahanya direnggangkan. Melihat pemandangan liang senggamanya yang sudah basah dan merah merekah, aku jadi semakin tidak sabar. Lalu kembali semua bagian dari liang kewanitaannya menjadi daerah operasi lidahku. Klirotisnya terlihat mengkilat karena banyaknya cairan yang membasahi liang senggamanya.

Tiba-tiba aku dikagetkan saat secara refleks aku melihat ke pintu. Memang pintu itu hanya di tutup kain gorden sedang daun pintunya tidak kami tutup. Kain gorden itu tersingkap sedikit dan terlihat sepasang mata mengintip perbuatan kami. Aku sempat deg-degan, jangan-jangan Om Har, kalau benar mati aku. Lalu saat gorden itu tertiup angin dari jendela samping aku baru tahu kalau ternyata yang berdiri di balik pintu adalah Tante Merry, adik Tante Tika. Aku jadi lega, paling tidak dia bukan suami Tante Tika ataupun pacarku Shinta.

Aku meneruskan permainanku dengan harapan semoga Tante Merry bisa melihat bagaimana aku bisa memuaskan kakaknya. Harapanku mendekati kenyataan, ternyata mata itu terus mengawasi permainan kami bahkan saat batang kejantananku hendak masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Tika, aku sempat mendengar Tante Merry menahan nafas. Kembali kugenjot liang kewanitaan itu hingga yang punya mengejang sambil mulutnya keluar erangan dan rintihan yang seperti mungkin pembaca pernah melihat Film Blue versi Mandarin saat si cewek digenjot lawan mainnya. Aku sendiri semakin tambah bernafsu mendengar rintihan kecil Tante Tika karena suaranya merangsang sekali. Paling tidak 20 menit lamanya aku bisa bertahan dan akhirnya jebol juga pertahananku.

“Ccrooot.. croot… crooot..” cairanku banyak yang masuk ke dalam rahim Tante Tika, sedang sebelum itu Tante Tika juga sudah keluar dan setelah aku hampir selesai mengejang dan mengeluarkan spermaku, giliran Tante Tika mengejang yang kedua kalinya.

Lalu tubuhku ambruk di samping Tubuh indah Tante Tika. Kulihat mata Tante Tika terpejam sambil tersenyum puas.

Lalu aku pamit mau ke kamar mandi. Sebenarnya aku hanya ingin menemui Tante Merry tapi saat kucari dia sudah tidak di belakang gorden lagi. Lalu kucari di kamarnya. Kulihat pintu kamar terbuka sedikit lalu kutengok, ternyata kamarnya kosong. Akhirnya kuputuskan ke kamar mandi karena aku memang mau kencing, dengan tergesa-gesa aku berlari ke kamar mandi, kulihat pintu kamar mandi tidak tertutup. Saat aku di depan pintu, aku samar-samar mendengar bunyi air yang dipancurkan berarti ada yang mandi shower.

“Ohh… my God..” saat itu terpampang tubuh molek Tante Merry sedang mandi di pancuran sambil mendesah-desah, dia menggosok tubuhnya membelakangi pintu.

Terlihat bagian pantatnya yang padat dan seksi, karena suara air begitu deras mungkin Tante Merry tidak mendengar saat aku melebarkan pintunya. Dari luar aku memandangnya lebih leluasa, tangannya sedang menggosok buah dadanya dan kadang buah dadanya yang berukuran 36C itu diremasnya sendiri, aku ikut terhanyut melihat keadaan itu.

Saat dia membalikkan badan, kulihat dia mendesis sambil matanya terpejam seperti sedang membayangkan sesuatu yang sedang dialaminya. Waaouuw…, dari depan aku semakin jelas melihat keindahan tubuh Tante Merry. Buah dadanya yang sedang diremas tangannya sendiri kelihatan masih tegak menantang bulat sekal dengan puting yang mencuat runcing di tengahnya, mungkin karena dia belum pernah menyusui bayi maka kelihatan seperti buah dada seorang perawan, masih segar. Aku sempat terperangah karena berbeda sekali dengan kepunyaan Tante Tika yang sudah agak menggantung sedikit tapi ukurannya lebih kecil sedikit. Lalu pandanganku semakin turun, kulihat hutan rimbun di bawah perutnya sudah basah oleh air, kelihatan tersisir rapi dan di bawahnya sedikit daging kecil itu begitu menonjol dan lubangnya lebih kecil dari lubang milik Tante Tika. Tak lama kemudian tangannya meluncur ke bawah dan menggosok bagian demi bagian.

Saat tangan mungilnya digosokkan pada klirotisnya, kakinya ikut direnggangkan, pantatnya naik turun. Aku baru menyadari bahwa kemaluanku sudah tegak berdiri malah sudah keluar cairan sedikit. Aku semakin tak tahan, aku lalu main spekulasi aku harus bisa menundukkan Tante Merry paling tidak selama ini dia merasa kesepian, selama dua bulan terakhir ini dirinya tidak disentuh laki-laki berarti dia sangat butuh kepuasan batin.

Satu persatu pakaianku kulepas hingga telanjang bulat, burungku yang sudah berdiri tegak seperti tugu monas ini sudah tidak sabar ingin mencari sarangnya. Lalu diam-diam aku masuk ke kamar mandi dan aku memeluk Tante Merry dari belakang, tanganku ikut meremas buah dadanya dan kuciumi tengkuknya dari belakang. Tante Merry kaget,

“Haii.. apa-apaan kamu Doonny!” bentaknya sambil berusaha melepaskan pelukanku.

Aku tidak menyerah, terus berusaha.

“Doonnn.. Lepaaskaan Tanteee.. Jangaaan..” Dia terus berontak.

“Tenang Tante.. saya cuma ingin membantu Tante, melepaskan kesepian Tante,” aku terus menciuminya sedang tanganku yang satunya bergerilya ke bawah, kugantikan tangannya yang tadi menggosok liang kewanitaannya sendiri. Bibir kemaluannya kuremas dan kuusap-usap pelan.

“Tapi Dooon, Ouhhhg.. Aku kaaan.. ssshah..” dia sepertinya juga sudah menikmati permainanku.

“Sudah berapa lama Tante mengintip kami tadi… Tante kesepian.. Tante butuh kepuasan… saya akan memuaskan Tante… nikmati saja,” aku terus mencumbunya.

“Ouuuugh.. Ahhh.. Jangaaannn Oohhh..” dia terus melarang tapi sesaat kemudian dia membalikkan badan.

“Doonn, puaskan dahaga Tante..” katanya sambil melumat bibirku, kini dia begitu agresif, aku ganti kewalahan dan berusaha mengimbanginya, tanganku meremas kedua buah dada Tante Merry.

“Hmm kamu hebaaat… sayaaang,” tanpa sadar keluar ucapan itu dari mulutnya.

Selama 25 menit kami saling mencumbu, saling meremas dalam keadaan berdiri hingga…

“Ahhh… Dooon, cukuuuup Doon.. lakukanlah, aku sudah tidaaak tahaaan.. Ohhhh..” rintihnya.

Lalu kudorong tubuh Tante Merry menepi ke dinding, kurenggangkan kakinya. Sesaat kulihat bibir kemaluannya ikut membuka lebar, klitorisnya terlihat meriang memerah dan sudah banyak cairan yang membasahi dinding kewanitaannya. Lalu kuletakkan batang kejantananku yang sudah mengeras itu di bibir kemaluan Tante Merry, pelan-pelan kumasukkan.

“Uhh.. sss, pelaan sayang, punyamu terlalu besar,” jeritnya kecil.

Memang kelihatannya liang kewanitaan yang satu ini masih sempit mungkin jarang dipakai. Perlahan batang kejantananku mulai masuk lebih dalam hingga akhirnya amblas seluruhnya.

“Aouuuww..” Tante Merry menjerit lagi mungkin dia belum terbiasa dengan batang kejantanan yang berukuran besar.

Setelah keadaan agak rileks, aku mulai menggerakkan batang kejantananku maju mundur.

“Oohhh.. teruskaaan Sayaaang.. gendoong aku,” katanya sambil menaikkan kakinya dan dijepitkan di pinggangku.

Saat itu batang kejantananku seperti dijepit oleh dinding kewanitaannya tapi justru gesekannya semakin terasa nikmat.

Tante Merry terus melakukan goyang pinggulnya.

“Ohhh.. ennaaak Tanteee..” aku semakin terangsang.

“Tantee jugaaa nikmaaaat.. Doon, punya kamu nikmaat banget.. Ohhh, rasanya lebih nikmat dari punya suamikuu.. Ahhh.. Uhhh.. Tusuk yang lebih keras sayang.” desis Tante Merry.

“Aaahhh… Aaagh.. Ohhh.. Sshhh..” Tante Merry merintih tak karuan dan gerakan pinggulnya semakin tak beraturan.

“Doon, Ohhh.. genjooot teruuss..” dia setengah menjerit, “Don, masukin yang dalam, yachhh..”

“Enaaak Tante, mmhhh..” aku merasakan sukmaku seperti terbang ke awan, liang kewanitaan perempuan ini nikmat betul sih, sayang suaminya kurang bisa memuaskannya.

“Ouuuhhh, Dooon.. Tanteee.. Mauuu Keeel.. Aaahhh…” dia menjerit sambil menekankan pantatnya lebih dalam.

“Seerrr..” terasa cairan hangat membasahi batang kejantananku di dalam rahimnya.

Tapi aku terus memacu gerakanku hingga aku sendiri merasakan mau mencapai orgasme.

“Tantee.. dikeluarkan di dalam apa di luar?,” aku masih sempat bertanya.

“Di dalam sajaa, berii aku bibitmu sayang,” pintanya.

Tak lama kemudian aku merasakan ada dorongan dari dalam yang keluar, “Crrooott.. crrooott.. crooottt..” cairan maniku langsung memenuhi rahim Tante Merry, lama kami berpelukan kencang hingga akhirnya aku merasa kakiku lemas sekali, tapi aku terus mencumbu bibirnya.

“Terima kasih Doon, kamu telah menghilangkan dahagaku,” kata Tante Merry.

“Tante, boleh nggak kapan-kapan saya minta lagi sama Tante, tapi sekarang Shinta mau datang dari les, kita sudahi dulu yaa..” tanyaku.

“Aku yang harusnya meminta, masak cuma Kak Tika yang kamu puasin, sedangkan aku nggaak, tadi aku ngiri deh sama kakakku bisa ngedapatin kepuasan dari pemuda gagah seperti kamu,” jawabnya.

“Baiklah, nanti kita bertiga akan rundingkan, saya yakin dia akan mengerti kok, dan bisa memberi kesempatan sama adiknya sendiri, yang penting kita bisa menjaga rahasia ini, ya nggak..” tanyaku.

“Benar Sayang, terserah kamu asal kamu mau ngasih aku jatah.. aku sudah puas, kok..” jawabnya.

Kemudian kami sudah mengenakan pakaian kami masing-masing dan keluar dari kamar mandi. Kulihat ke kamar Tante Tika, dia masih tertidur, lalu kubangunkan.

“Tante banguun, cepatlah berpakaian.. nanti Shinta curiga kalo Tante masih telanjang begini,” kemudian Tante Tika gelagapan sendiri terus bangun.

“Hahh, hampir jam lima.. Ya ampuun, Tante tertidur yaa, kamu tadi ke mana kok ninggalin Tante?” tanya Tante Tika.

“Sudahlah, Tante berpakaian dulu nanti saya ceritakan, sekarang saya tunggu di ruang tamu,” kataku sambil ngeloyor ke ruang tamu.

Di sana Tante Merry sudah menungguku, dia masih menyisir rambutnya yang masih basah. Tak lama kemudian Tante Tika muncul ke ruang tamu.

“Ehh kamuu Mer, sudah lama datangnya,” tanya Tante Tika sambil duduk di hadapanku.

“Wah sudah hampir 2 jam yang lalu, Mbak sih di kamar terus jadi nggak tahu kalau saya sudah datang, mana pintu depan nggak dikunci lagi, gimana tadi kalau ada Shinta yang datang trus nyari Mamahnya, dan melihat Mamanya kayak tadi, wah bisa terjadi perang dunia ketiga,” katanya santai.

Tante Tika wajahnya kelihatan pucat, “Jadiii, Kamu sudaaah..”

“Santai saja Mbaak, saya bisa ngerti kok, rahasia aman,” kata Tante Merry.

“Iya Tante, kita sudah kompakan kok,” sahutku, “Tapi misalkan Tante Tika berbagi dengan Tante Merry gimana?”

“Gini lhoo Mbak, masak cuma Mbak yang dipuaskan, saya kan juga kesepian, boleh dong kita berbagi kejantanan Donny. Saya akui dia hebat Mbak, bisa memuaskan saya,” katanya sambil mengerlingkan matanya ke arahku.

“Ohhh.. jadi kalian juga sudah..” tanya Tante Tika.

“Benar Tante, sekarang kami sudah terus terang, sekarang tergantung Tante, boleh nggak saya juga main dengan Tante Merry, kasihan kan suaminya jarang pulang dia juga butuh kepuasan seperti Tante.”

“Yahh mau gimana lagi.. aku bisa ngerti kok sama Adikku, asal si Donny bisa bersikap adil aku nggak keberatan.”

Itulah kisahku dengan Ibu pacarku dan Tantenya, hubunganku dengan Shinta terus berlanjut dan perselingkuhanku dengan Mama dan Tantenya juga nggak berhenti, hingga 1 tahun kemudian Tante Merry melahirkan anaknya. Saat aku dan Shinta membesuknya di persalinan, kulihat Om Nanto sedang ngobrol dengan Tante Tika.

“Mari silakan masuk..” Om Nanto kelihatan gembira menyambut kelahiran anaknya.

Kulihat Tante Merry tersenyum pada kami, saat Shinta menghampiri box bayi yang jaraknya tidak begitu jauh dari ranjang ibunya. Tante Merry memanggilku dengan isyarat tangan. Dengan setengah berbisik dia berkata,

“Lihat anakmu sangat tampan dan gagah Sayang, seperti kamu,” katanya kepadaku.

Aku tersenyum penuh arti.





Bercinta dengan Mama Dan Tanteku

1 06 2009

Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian.

Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papaku. Waktu itu aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama Mama dan tante Rina.

Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik. Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat Mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada Mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memiaw Mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena Mama rajin merawatnya. Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh Mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat Mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh Mama sangat menggairahkan. Terutama memiaw Mama yang aku fokuskan.

Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang Mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi Mama. Sampai akhirnya..

Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.

Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara Mama memanggil aku.

“Roy..!” panggil Mama.

“Ya, Ma…” sahut aku sambil bergegas ke kamar Mama.

“Ada apa, Ma?” tanya aku.

“Pijitin badan Mama, Roy. Pegal rasanya…” kata Mama sambil tengkurap.

“Iya, Ma…” jawab aku.

Waktu itu Mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki Mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster Mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada Mama, “

Ma, dasternya naikin ya? Mengganggu nih…” tanya aku.

“Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?” tanya Mama.

“Seluruh badan Mama,” jawab aku.

“Ya sudah, Mama buka baju saja,” kata Mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.

“Ayo lanjutkan, Roy!” kata Mama sambil kembali tengkurap.

Darahku berdesir melihat Mama setengah telanjang di depan mata.

“Mama tidak malu buka baju depan Roy?” tanya aku.

“Malu kenapa? Kan anak kandung Mama.. Biasa sajalah,” jawab mama sambil memejamkan mata.

Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan memijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tanganku di paha Mama sambil mata terus memandangi pantat Mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai “memijit” paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat Mama, tapi langsung naik memijit pinggang Mama.

“Kok dilewat sih, Roy?” protes Mama sambil menggoyangkan pantatnya.

“Mm.. Roy takut Mama marah…” jawab aku.

“Marah kenapa? Kamu kan emang Mama minta mijitin.. Ayo teruskan!” pinta Mama.

Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat Mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat Mama yang bulat dan padat. Kontolku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitanku. Karena birahiku sudah naik, aku sengaja memasukkan tanganku ke celana dalam Mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani. Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat Mama sampai ke belahan memiaw Mama. Jariku diam disana. Aku takut Mama marah. Tapi Mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakkan jari tengahku di belahan memiaw Mama. Mama tetap diam. Terasa memiaw Mama mulai basah. Dan aku tahu kalau Mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin Mama merasa enak menikmati jariku di belahan memiawnya. Itu perkiraan aku. Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memiaw Mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.

“Roy, kamu ngapain?” tanya Mama sambil membalikkan badannya.

Aku kaget dan takut mama marah.

“Maaf, Ma…” kataku tertunduk tidak berani memandang mata Mama.

“Roy tidak tahan menahan nafsu…” kataku lagi.

“Nafsu apa?” kata Mama dengan nada lembut.

“Sini berbaring dekat Mama,” kata Mama sambil menggeserkan badannya.

Aku diam tidak mengerti.

“Sini berbaring Roy,” ujar Mama lagi.

“Tutup dulu pintu kamar,” kata Mama.

“Ya, Ma…” kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu.

Kemudian aku berbaring di samping Mama. Mama menatapku sambil membelai rambut aku.

“Kenapa bernafsu dengan Mama, Roy,” tanya Mama lembut.

“Mama marahkah?” tanya aku.

“Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur,” ujar mama.

“Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma…” kataku. Mama tersenyum.

“Berarti anak Mama sudah mulai dewasa,” kata Mama.

“Kamu benar-benar mau sayang?” tanya Mama.

“Maksud Mama?” tanya aku.

“Dua jam lagi Papa kamu pulang…” hanya itu yang keluar dari mulut Mama sambil tangannya meraba kontolku dari luar celana.

Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibirku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.

“Buka pakaian kamu, Roy,” kata Mama.

Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana. Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.

“Kontol kamu besar, Roy…” kata Mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya.

Enak rasanya.

“Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?” tanya Mama.

Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, “Belum pernah, Ma.. Mmhh..”. Mama tersenyum, entah apa artinya.

Lalu Mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu Mama mulai menjilati kontolku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika Mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah Mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut Mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba Mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.

“Enak sayang?” tanya Mama sambil menengadah menatapku.

“Iya, Ma.. Enak sekali,” jawabku dengan suara tertahan.

“Sini sayang. kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan…” ujar Mama sambil menarik tanganku.

Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh Mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memiawnya. Tangan Mama membimbing kontolku ke lubang memiawnya.

“Ayo, Roy.. Masukkan…” ujar Mama sambil terus memandang wajahku.

Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluar masukkan kontolku di memiaw Mama. Aku cium bibir Mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.

“Enak, Roy?” tanya Mama.

“Sangat enak, Ma…” jawabku sambil terus menyetubuhi Mama.

Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.

“Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Roy?” tanyaku.

Sambil tersenyum, mata Mama kelihatan berkaca-kaca.

“Karena Mama sayang kamu, Roy…” jawab Mama.

“Sangat sayang…” lanjutnya. “Lagipula saat ini Mama memang sedang ingin bersetubuh…” lanjutnya lagi.

Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi Mama.

“Roy juga sangat sayang Mama…” ujarku.

“Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh…” desah Mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.

“Mama mau keluar…” desah Mama lagi.

Tak lama kurasakan tubuh Mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul Mama makin keras. Lalu..

“Ohh.. Enak sayangg…” desah Mama lagi ketika dia mencapai orgasme.

Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh Mama..

“Ma, Roy gak tahann…” ujarku sambil memeluk tubuh Mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memiaw Mama.

“Keluarin sayang…” ujar Mama sambil meremas-remas pantatku.

“Keluarin di dalam aja sayang biar enak…” bisik Mama mesra.

Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memiaw Mama.

“Mmhh…” desahku.

Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.

“Terima kasih ya, Ma…” ujar aku sambil mencium bibir Mama.

“Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!” kata Mama.

Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal. Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika Mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.

Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,

“Ggapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama Mama kamu di kamar?” tanya tante Rina. “Hayo, ngapain..?” tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.

“Tidak ada apa-apa. Aku mijitin Mama, kok…” jawabku.

“Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,” tanyanya lagi.

“Curigaan amat sih, tante?” kataku sambil tersenyum.

“Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu…” ujar tante Rina sambil tersenyum.

“Kayak suara yang lagi enak…” ujar tante Rina lagi.

“Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah…” ujarku sambil bangkit.

“Maaf dong, Roy. Tante becanda kok…” ujar tante Rina.

“Kamu mau kemana?” tanya tante Rina.

“Mau tidur,” jawabku pendek.

“Temenein tante dong, Roy,” pinta tante.

Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.

“Ada apa sih tante?” tanyaku.

“Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,” jawab tante Rina.

“Kamu sudah punya pacar, Roy?” tanya tante Rina.

“Belum tante. Kenapa?” aku balik bertanya.

“Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?” tanya tante lagi.

“Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau,” jawabku.

“Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?” tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.

Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.

“Ni tante lagi horny kayaknya…” pikir aku.

Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main-mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.

“Mmhh..” Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman.

Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. Kontolku langsung tegang.

“Roy, pindah ke kamar tante, yuk?” pinta tante Rina.

“Iya tante…” jawabku.

Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina. Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.

“Ayo Roy, tante sudah gak tahan…” ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.

Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.

“Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh…” desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.

Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. Memiaw tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehingga nampak jelas belahan memiawnya yang bagus. Aku segera jilati memiaw tante Rina terutama bagian kelentitnya.

“Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang…” desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.

Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memiawnya.

“Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh…” desah tante Rina.

Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memiaw tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.

“Isep dong kontol Roy, tante…” pintaku. Tante Rina mengangguk sambil tersenyum.

Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan kusodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari Mama.

“Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante…” kataku.

Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memiawnya.

“Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina.

Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. kontolku keluar masuk memiaw tante Rina.

“Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan…” kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.

“Ah, biasa saja, tante…” ujarku sambil tersenyum lalu kukecup bibirnya.

Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.

“Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh..Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh…” desahnya.

Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara aku terus memompa kontolku di memiawnya.

“Tante udah keluar, sayang…” bisik tante Rina.

“Kamu hebat.. Kuat…” ujar tante Rina.

“Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.

Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.

“Roy mau keluar, Tante…” kataku.

“Jangan keluarkan di dalam, sayang…” pinta tante Rina.

“Cabut dulu…” ujar tante Rina.

“Sini tante isepin…” katanya lagi.

Aku cabut kontolku dari memiawnya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott..

Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok tongkolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya bersetubuh dengan tante Rina. Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.

“Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante,” ujar tante Rina.

“Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?” tanya tante sambil memeluk aku.

“Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih,” kataku sambil mengecup bibirnya.

“Terima kasih, sayang,” ujar tante Rina.

“Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,” kataku.

“Iya, sana tidur,” katanya sambil meremas kontolku mesra.

Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar. Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, Mama duduk di sampingku waktu aku makan.

“Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?” tanya Mama mengejutkanku.

Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi Mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, Mama berkata,

“Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?” tanya Mama.

Plong rasanya perasaanku mendengarnya.

“Iya, Ma.. Roy suka tante Rina,” jawabku.

“Baiklah, Mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian…” ujar Mama.

“Kalian hati-hatilah…” ujar Mama lagi.

“Kenapa Mama tidak marah,” tanya aku.

“Karena Mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,” ujar Mama.

“Terima kasih ya, Ma…” kataku.

“Roy sayang Mama,” kataku lagi.

“Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu Mama gak?” tanya Mama.

“Bantu apa, Ma?” aku balik tanya.

“Mama ingin…” ujar Mama sambil mengusap kontolku.

“Roy akan lakukan apapun buat Mama…” kataku.

Mama tersenyum.

“Mama tunggu di kamar ya?” kata Mama.

Aku mengangguk. Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel. Sedangkan dengan Mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan Mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali.





Pelajaran dari Tante Sofi – Part III

1 06 2009

Beberapa menit setelah itu kami berdua terkapar lemas, Tante Sofi memelukku erat, sesekali ia mencium mesra. Tanganku tampaknya masih senang membelai lembut buah dada Tante Sofi. Kupelintir-pelintir putingnya yang kini mulai lembek. Mataku memandangi wajah manis perempuan paruh baya itu, meski umurnya sudah berkepala empat namun aku masih sangat bernafsu melihatnya. Wajahnya masih menampakkan kecantikan dan keanggunannya. Meski tampak kerutan kecil di leher wanita itu tapi.., aah, persetan dengan itu semua, Tante Sofi adalah wanita pertama yang memperkenalkan aku pada kenikmatan seksual. Bahkan dibanding Devi, Rani, Shinta dan teman sekelasku yang lain, perempuan paruh baya ini jauh lebih menarik.

“Tante nggak nyangka kamu bisa sekuat ini, Di..”.

“Hmm..”.

“Betul ini baru yang pertama kali kamu lakukan?”.

“Iya tante..”.

“Nggak pernah sama pacar kamu?”.

“Nggak punya tante..”.

“Yang bener aja ah”.

“Iya bener, nggak bohong kok, tante.., tante nggak kapok kan ngajarin saya yang beginian?”.

“Ya ampuun..” Ia mencubit genit,

“Masa sih tante mau ngelepasin kamu yang hebat gini, tahu nggak Di, suami tante nggak ada apa-apanya dibanding kamu..”.

“Maksud tante?”.

“Om Totomu itu kalau main paling lama tiga menit.., lha kamu? Tante sudah keluar beberapa kali kamu belum juga, apa nggak hebat namanya”.

“Nggak tahu deh tante, mungkin karena baru pertama ini sih..”.

“Tapi menurut tante kamu emang punya bakat alam, lho? Buktinya baru pertama begini saja kamu sudah sekuat itu, apalagi kalau sudah pengalaman nanti.., pasti tante kamu bikin KO.., lebih dari yang tadi”.

“Terima kasih tante..”.

“Untuk?”.

“Untuk yang tadi..”.

“Tante yang terima kasih sama kamu.., kamu yang pertama membuat tante merasa seperti ini”.

“Saya nggak ngerti..”.

“Di.., dua puluh tahun lebih sudah usia perkawinan tante dengan Om Toto. Tak pernah sedetikpun tante menikmati hubungan badan yang sehebat ini. Suami tante adalah tipe lelaki egois yang menyenangkan dirinya saja. Tante benar-benar telah dilecehkannya. Belakangan tante berusaha memberontak, rupanya dia sudah mulai bosan dengan tubuh tante dan seperti rekannya yang lain sesama pejabat, ia menyimpan beberapa wanita untuk melampiaskan nafsu seksnya. Tante tahu semua itu dan tante nggak perlu cerita lebih panjang lebar karena pasti kamu sudah sering mendengar pertengkaran tante”, Suaranya mendadak serius, tanganku memeluk tubuhnya yang masih telanjang.

Ada sebersit rasa simpati mendengar ceritanya yang polos itu, betapa bodohnya lelaki bernama Om Toto. Perempuan secantik dan senikmat ini di biarkan merana.

“Kriing.., kriing.., kriing”, aku terhenyak kaget.

“Celaka..! Pasti.., mmungkin?, tante.., gimana nih?”.

“Ppsstt..” Ia menempelkan telunjuknya di bibirku lalu tangan tante Sofi mengangkat gagang telfon yang berada di samping tempat tidur.

Ia terduduk, masih tanpa busana, pemandangan asyik untukku yang ada tepat di belakangnya.

“Celaka, jangan-jangan.., Om Toto tahu.., Ah nggak mungkin mereka sudah sampai di LA..”, batinku merasa khawatir.

“Haloo.., eh Son?”, aku tambah khawatir.

“Udah nyampe kalian..?”.

“Ooo.., mereka sudah di..”, hatiku agak lega mendengarnya.

“Lia sama adik kamu gimana?”, ternyata Sonny menelfon dari Amerika.

Hanya memberitahu mamanya kalau mereka sudah sampai. Tampak sekali hubungan Om Toto dan istrinya sedang renggang, tak kudengar mereka berbicara. Hanya Sonny dan Julia.

“Kamu nanti kalau balik ke sini bawa oleh-oleh lho?”, tanganku iseng meraba punggungnya yang halus mulus.

Tante Sofi melirik nakal sambil terus berbicara.

“Apa aja yang penting ada buat Mama.., eh!” ia merasa geli saat aku mencium pinggangnya, aku memeluknya dari arah belakang, tanganku meraba permukaan buah dada itu dan sedikit memijit.

“Ah nggak.., ada nyamuk di kaki Mama.., hmm, trus pacar kamu gimana, kirain jadi ngajak doi ke situ”, kepalaku kini bersandar di atas pahanya, mataku lagi-lagi melirik buah dada itu, tangankupun,

“Aahh.., aduh nyamuknya banyak sekarang yah, oo Mama kan belum tutup jendela.., hmm..” mata Tante Sofi terpejam begitu tanganku menyentuh permukaan buah dadanya, merayap perlahan menyusuri kelembutan bukit indah itu menuju puncak dan,

“Mmm a..” aku memintir putingnya yang coklat kemerahan itu.

“Mama lagi baca ini lho artikel masakan khas Amerika Latin kayaknya nikmat ya?” telapak tanganku mulai lagi, meremasnya satu persatu,

“Hmm”, Tante Sofi rupanya pintar juga membuat alasan pada anaknya.

Sambil terus berbicara di telepon dengan sebelah tangannya ia meraih penisku yang mulai tegang lagi. Aku hampir saja lupa kalau ia sedang on line, hampir saja aku mendesah. Untung Tante Sofi cepat menyumbat mulutku dengan tangannya. Nyaris saja.

“Eh, kakakmu gimana prestasinya”, jari telunjuk Tante Sofi mengurut tepat di leher bawah kepala penisku, semakin tegang saja, shitt.., aku nggak bisa bersuara.

Aku tak tahan dan beranjak turun dari tempat tidur itu dan langsung berjongkok tepat di depan pahanya di pinggiran spring bed, menguak sepasang paha montok dan putih itu ke arah berlawanan.

“Mmmhh.., aahh.., oh nggak, Mama cuma sedikit kedinginan.., uuhh” lidahku langsung mendarat di permukaan segitiga terlarang itu.

“Ssshh yaa.., enakk..”, Tante Sofi sedikit keceplosan.

“Ini.., nih, Mama tadi dibawain fried chicken sama tante Maurin” ia beralasan lagi.

Lidahku kian mengganas, kelentit sebesar biji kacang itu sengaja kusentuh.

“Mmm fuuhh.., Mama ngantuk nih.., mau bobo dulu, capek dari kerja tadi, yah? Udahan dulu ya sayang.., besok Mama yang telfon kalian.., daah”, diletakkannya gagang telepon itu lalu Tante Sofi mematikan sistem sambungannya.

“Lho kok dimatiin teleponnya tante?”.

“Tante nggak mau diganggu siapapun malam ini, malam ini tante punya kamu, sayang. Tante akan layani kamu sampai kita berdua nggak kuat lagi. Kamu boleh lakukan apa saja. Puaskan diri kamu sayang aahh”, aku tak mempedulikan kata-katanya, lidahku sibuk di daerah selangkangannya.

Malam itu benar-benar surga bagi kami, permainan demi permainan dengan segala macam gaya kami lakukan. Di karpet, di bathtub, bahkan di ruang tengah dan di meja kerja Om Toto sampai sekitar pukul tiga dini hari. Kami sama-sama bernafsu, aku tak ingat lagi berapa kali kami melakukannya. Seingatku disetiap akhir permainan, kami selalu berteriak panjang. Benar-benar malam yang penuh kenikmatan. Aku terbangun sekitar jam 11 siang, badanku masih terasa sedikit pegal. Tante Sofi sudah tidak ada di sampingku.

“Tante..?” panggilku setengah berteriak, tak ada jawaban dari istri Om Toto yang semalam suntuk kutiduri itu.

Aku beranjak dari tempat tidur dan memasang celana pendek, sprei dan bantal-bantal di atas tempat tidur itu berantakan, di banyak tempat ada bercak-bercak bekas cairan kelamin kami berdua. Aku keluar kamar dan menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan Tante Sofi, ternyata ia harus ke tempat kerjanya karena ada kontrak yang harus dikerjakan.

“Hmm.., padahal kalau main baru bangun tidur pastilah nikmat sekali”, pikiranku ngeres lagi.

Aku kembali ke kamar Tante Sofi yang berantakan oleh kami semalam, lalu dengan cekatan aku melepas semua sprei dan selimut penuh bercak itu. Kumasukkan ke mesin cuci. Tiga puluh menit kemudian kamar dan ruang kerja Om Toto kubuat rapi kembali. Siap untuk kami pakai main lagi.

“Fuck..! Aku lupa sekolah.., ampuun gimana nih”,

Sejenak aku berpikir dan segera kutelepon Tante Sofi di kantornya.

“Halo PT. Chandra Asri International, Selamat pagi”, suara operator.

“Ya Pagi.., Bu Sofi ada?”.

“Dari siap, pak?”.

“Bilang dari Sonny, anaknya..”.

“Oh Mas sonny”.

“Huh dasar sok akrab”, umpatku dalam hati.

“Halo Son, sorry Mama nggak nelpon kamu pagi ini.., Mama telat bangunnya” aku diam saja.

“Halo.., halo.., Son.., Sonny”.

“Saya, Tante. Didi bukan Mas Sonny..”.

“Eh kamu sayang.., gimana? Mau lagi? Sabar ya, tungguin tante..”.

“Bukan begitu tante.., tapi saya jadi telat bangun.., nggak bisa masuk sekolah”.

“Oooh gampang.., ntar tante yang telepon Pak Yogi, kepala sekolah kamu itu.., tante bilang kamu sakit yah?”.

“Nggak ah tante, ntar jadi sakit beneran..”.

“Tapi emang benar kan kamu sakit.., sakit.., sakit anu! Nah lo!”.

“Aaah, tante.., tapi bener nih tante tolong sekolah saya di telepon yah?”.

“Iya.., iya.., eh Di.., kamu kepingin lagi nggak..”.

“Tante genit”.

“Nggak mau? Awas lho Tante cari orang lain..”.

“Ah Tante, ya mau dong.., semalam nikmat yah, tante..”.

“Kamu hebat!”.

“Tante juga.., nanti pulang jam berapa?”.

“Tunggu aja.., sudah makan kamu?”.

“Belum, tante sudah?”.

“Sudah.., mm, kalau gitu kamu tunggu aja di rumah, tante pesan catering untuk kamu.., biar nanti kamu kuat lagi”.

“Tante bisa aja.., makasih tante..”.

“Sama-sama, sayang.., sampai nanti ya, daahh”.

“Daah, tante”.

Tak sampai sepuluh menit seorang delivery service datang membawa makanan.

“Ini dari, Bu Sofi, Mas tolong ditandatangani. Payment-nya sudah sama Bu Sofi”.

“Makasih, mang..”.

“Sama-sama, permisi..”.

Aku langsung membawanya ke dalam dan menyantapnya di depan pesawat TV, sambil melanjutkan nonton film porno, untuk menambah pengalaman. Makanan kiriman Tante Sofi memang semua berprotein tinggi. Aku tahu benar maksudnya. Belum lagi minuman energi yang juga dipesannya untukku. Rupanya istri Om Toto itu benar-benar menikmati permainan seks kami semalam, eh aku juga lho.., kan baru pertama. Sambil terus makan dan menyaksikan film itu aku membayangkan tubuh dan wajah Tante Sofi bermain bersamaku. Penisku terasa pegal-pegal dibuatnya. Huh.., aku mematikan TV dan menuju kamarku.

“Lebih baik tidur dan menyiapkan tenaga..”, aku bergumam sendiri dalam kamar.

Sambil membaca buku pelajaran favorit, aku mencoba melupakan pikiran-pikiran tadi. Lama-kelamaan akupun tertidur. Jam menunjukkan pukul 12.45. Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Sofi yang ternyata sudah ada di sampingku.

“Huuaah.., jam berapa sekarang tante?”.

“Hmm.., jam lima, tante dari tadi juga sudah tidur di sini, sayang kamu tidur terlalu lelap. Tante sempat tidur kurang lebih dua jam sejak tante pulang tadi, gimana, kamu sudah pulih..”.

“Sudah dong tante, empat jam lebih tidur masa sih nggak seger..”, kami saling berciuman mesra,

“Crup.., crup”, lidah kami bermain di mulutnya.

“Eh.., tante mau jajan dulu ah.., sambil minum teh, yuuk di taman. Tadi tante pesan di Dunkin.., ada donat kesukaan kamu”, ia bangun dan ngeloyor keluar kamar.

“Uh.., Tante Sofi..”, gumamku pelan melihat bahenolnya tubuh kini terbungkus terusan sutra transparan tanpa lengan.

Bayangan CD dan BH-nya tampak jelas. Aku masih senang bermalas-malasan di tempat tidur itu, pikiranku rasanya tak pernah bisa lepas dari bayangan tubuhnya. Beberapa saat saja penisku sudah tampak tegang dan berdiri, dasar pemula! Sejak sering tegang melihat tubuh Tante Sofi sebulan belakangan ini, aku memang jarang memakai celana dalam ketika di rumah agar penisku bisa lebih leluasa kalau berdiri seperti ini.

“Hmm, tante Sofi.., aahh” desahku sambil menggenggam sendiri penisku, aneh.., aku membayangkan orang yang sudah jelas bisa kutiduri saat itu juga, tak tahulah.., rasanya aku gila!

Tanganku mengocok-ngocok sendiri hingga kini penis besar dan panjang itu benar-benar tegak dan tampak perkasa sekali. Aku terus membayangkan bagaimana semalam kepala penis ini menembus dan melesak keluar masuk vagina Tante Sofi. Kutengok ke sana ke mari.

“Tante..”, panggilku.

“Di dapur, sayang”, sahutnya setengah berteriak, aku bergegas ke situ, kulihat ia sedang menghangatkan donat di microwave.

Dan.., uuhh, tubuh yang semalam kunikmati itu, dari arah belakang.., bayangan BH dan celana dalam putih di balik gaun sutranya yang tipis membuatku berkali-kali menelan ludah.

“Uuuhh tante.., sayang”, tak sanggup lagi rasanya aku menahan birahiku, kupeluk ia dari belakang, sendok yang ada di tangannya terjatuh, penisku yang sudah tegang kutempelkan erat di belahan pantatnya.

“Aduuhh.., Didi nakal kamu ah..” ia melirikku dengan pandangan menggoda.

Aku semakin berani, tangan kananku meraih buah dada Tante Sofi dari celah gaun di bawah ketiaknya. Lalu tangan kiriku merayap dari arah bawah, paha yang halus putih mulus itu terus ke arah gundukan kemaluannya yang masih berlapis celana dalam. Telunjuk dan jari tengahku langsung menekan, mengusap-usap dan mencubit kecil bibir kemaluannya.

“Ehhmm.., nngg.., aahh.., nakaal, Didi”.

“Tante.., tante, saya nggak tahan ngeliat tante.., saya bayangin tubuh tante terus dari tadi pagi”

Tangan kiriku menarik ujung celana dalam itu turun, ia mengangkat kakinya satu persatu dan terlepaslah celana dalamnya yang putih. Kutarik cup BH-nya ke atas hingga tangan kananku kini bebas mengelus dan meremas buah dadanya. Dengan gerak cepat kulorotkan pula celana dalam yang kupakai lalu bergegas tangan kiriku menyingkap gaun sutranya ke atas. Kudorong tubuh Tante Sofi sampai ia menunduk dan terlihatlah dengan jelas celah vaginanya yang masih tampak tertutup rapat. Aku berjongkok tepat di belakangnya.

“Idiihh, Didi. Tante mau diapain nih..”, katanya genit.

Lidahku menjulur ke arah vaginanya. Aroma daerah kemaluan itu merebak ke hidungku, semakin membuatku tak sabar dan..,

“Uhuuhh.., srup.., srup.., srup”, sekali terkam bibir vagina sebelah bawah itu sudah tersedot habis dalam mulutku.

“Aaahh.., Didi.., enaakk..”, jerit perempuan setengah baya itu, tangannya berpegang di pinggiran meja dapur.

“Aaawww.., gelii”, kugigit pantatnya.

Uuh, bongkahan pantat inilah yang paling mengundang birahiku saat melihatnya untuk pertama kali. Mulus dan putih, besar menggelembung dan montok. Lima menit kemudian aku berdiri lagi setelah puas membasahi bibir vaginanya dengan lidahku. Kedua tanganku menahan gerakan pinggulnya dari belakang, gaun itu masih tersingkap ke atas, tertahan jari-jari tanganku yang mencengkeram pinggulnya. Dan hmm, kuhunjamkan penis besar dan tegang itu tepat dari arah belakang,

“Sreep.., Bleess”, langsung menggenjot keluar masuk vagina Tante Sofi.

“Aaahh.., Didi.., enaak.., huuhh tante senang yang ini oohh..”

“Enak kan tante.., hmm.., oohh.., agak tegak tante biar susunya.., yaakk ooh enaakk”.

“Yaahh.., tusuk yang keras.., hmm.., tante nggak pernah gini sebelumnya.., oohh enaakk pintarnya kamu sayaang.., oohh enaak.., terus.., terus yah tarik dorong keeraass.., aahh.., kamu yang pertama giniin tante, Di.., oohh.., sshh..”, hanya sekitar tiga menit ia bertahan dan,

“Hoohh.., tante.., mauu.., keluar.., sekarang.., ooh hh.., sekarang Di, aahh..”.

Vaginanya menjepit keras, badannya tegang dengan kepala yang bergoyang keras ke kiri dan ke kanan. Aku tak mempedulikannya, memang sejenak kuberi ia waktu menarik nafas panjang. Aku membiarkan penisku yang masih tegang itu menancap di dalam. Ia masih menungging kelelahan.

“Balik tante..”, Pintaku sambil melepaskan gigitan di kemaluannya.

“Apalagi, sayang.., ya ampun tante nggak kuat.., aahh”.

Aku meraih sebuah kursi. Ia mengira aku akan menyuruhnya duduk,

“Eiih bukan tante, sekarang tante nyender di dinding, Kaki kiri tante naik di kursi ini..”.

“Ampuun, Didi.., tante mau diapain sayang..”, ia menurut saja.

Woow! Kudapatkan posisi itu, selangkangan itu siap dimasuki dari depan sambil berdiri, posisi ini yang membuatku bernafsu.

“Sekarang tante.., yaahh..”, aku menusukkan penisku dari arah depannya, penisku masuk dengan lancar.

Tanganku meremas kedua susunya sedangkan mulut kami saling mengecup.

“Mmmhh.., hhmm..”, ia berusaha menahan kenikmatan itu namun mulutnya tertutup erat oleh bibirku.

Hmm, di samping kanan kami ada cermin seukuran tubuh. Tampak pantatku menghantam keras ke arah selangkangannya. Penisku terlihat jelas keluar masuk vaginanya. Payudaranya yang tergencet dada dan tanganku semakin membuatku bernafsu.

“Cek.., cek.., cek”, gemercik suara kemaluan kami yang bermain di bawah sana.

Kulepaskan kecupanku setelah tampak tanda-tanda ia menikmatinya.

“Uuuhh hebaat.., kamu sayang.., aduuh mati tante.., aahh enaak mati aku Di, oohh.., ayo keluarin sayang.., aahh tante capeekk.., sudah mau sampai lagi niih aahh..” wajahnya tampak tegang lagi, pipinya seperti biasa, merah, sebagai tanda ia segera akan orgasme lagi.

Kupaksakan diriku meraih klimaks itu bersamaan dengannya. Aku agaknya berhasil, perlahan tapi pasti kami kemudian saling mendekap erat sambil saling berteriak keras.

“Aaahh.., tante keluaar..”.

“Saya juga tante huuhh.., nikmat.., nikmat.., oohh.., Tante Sofi.., aahh”, dan penisku,

“Crat.., crat.., crat.., seer”, menyemprotkan cairannya sekitar lima enam kali di dalam liang vagina Tante Sofi yang juga tampak menikmati orgasmenya untuk kedua kali.

“Huuhh.., capeekk.., sayang” ia melepaskan pelukannya dan penisku yang masih menancap itu.

Hmm, kulihat ada cairan yang mengalir di pahanya bagian dalam, ada yang menetes di lantai.

“Mau di lap tante?”, aku menawarkan tissue.

“Nggak sayang.., tante senang, kok. Tante bahagia.., yang mengalir itu sperma kamu dan cairan kelamin tante sendiri. Tante ingin menikmatinya..”, ia berkata begitu sambil memberiku sebuah ciuman.

“Hmm.., Tante Sofi..”,

Kuperbaiki letak BH dan rambutnya yang acak-acakan, kemudian ia kembali menyiapkan jajanan yang sempat terhenti oleh ulah nakalku. Aku kembali ke kamar dan keluar lagi setelah mengenakan baju kaos. Tante Sofi telah menunggu di taman belakang rumahnya yang sangat luas, kira-kira sekitar 25 acre. Kami duduk santai berdua sambil bercanda menikmati suasana di pinggiran sebuah danau buatan. Sesekali kami berciuman mesra seperti pengantin baru yang lagi haus kemesraan.

Jadilah dua minggu kepergian keluarga Om Toto itu surga dunia bagiku dan Tante Sofi. Kami melakukannya setiap hari, rata-rata empat sampai lima kali sehari! Menjelang sore, Tante Sofi mengajakku mandi bersama. Bisa ditebak, kami melakukannya lagi di bathtub kamar mandi mewah itu. Saling menyabuni dan.., hmm, bayangin sendiri deh. Itulah pengalaman pribadiku saat pertama mengenal seks bersama guru seks-ku yang sangat cantik, Tante Sofi.

TAMAT





Pelajaran dari Tante Sofi – Part II

1 06 2009

Akupun semakin berani, BH-nya kutarik ke atas dan woowww.., kedua buah dada itu membuat mataku benar-benar jelalatan.

“Mm.., kamu sudah mulai pintar, Di. Tante mau kamu…”

Belum lagi kalimat Tante Sofi habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan

“Ccrupp..”, sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat di permukaan puting susunya.

“Aahh.., Didi, oohh.., sedoot teruus aahh”, tangannya semakin mengeraskan genggamannya pada batang penisku, celana pendek itu sejak tadi dipelorotnya ke bawah.

Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting buah dadanya satu persatu, Tante Sofi tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku yang seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas Tante Sofi sudah berpengalaman sekali. Batang penisku tak lagi hanya diremasnya, ia mulai mengocok-ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya.

“Buka pakaian dulu, Di” ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas gigitanku pada puting buah dadanya, lalu celanaku di lepaskannya.

Ia sejenak berdiri dan melepas gaun dasternya, kini aku dapat melihat tubuh Tante Sofi yang bahenol itu dengan jelas. Buah dada besar itu bergelantungan sangat menantang. Dan bukit di antara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat keluar dari arah selangkangan itu. Dengan agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung kutarik sampai lepas.

“Eeeiit.., ponakan tante sudah mulai nakal yah”, katanya genit semakin membangkitkan nafsuku.

“Saya nggak tahan ngeliat tubuh tante”, dengusanku masih terdengar semakin keras.

“Kita lakukan di kamar yuk..”, ajaknya sambil menarik tanganku yang tadinya sudah mendarat di permukaan selangkangannya.

“Shitt!” makiku dalam hati, baru saja aku mau merasakan lembutnya bukit di selangkangannya yang mulai basah itu.

Tante Sofi langsung merebahkan badan di tempat tidur itu. Tapi mataku sejenak tertuju pada foto Om Toto dengan baju kehormatan militernya.

“Ta.., tapi tante”

“Tapi apa, ah kamu, Di” Tante Sofi melotot.

“Tante kan istri Om Toto”.

“Yang bilang tante istri kamu siapa?”, aku sedikit kendor mendengarnya.

“Saya takut tante, malu sama Om Toto”.

“Emangnya di sini ada kamera yang bisa dilihat dari LA? Didi, Didi.., Kamu nggak usah sebut nama bangsat itu lagi deh!”, intonasi suaranya meninggi.

“Trus gimana dong tante?”, aku tambah tak mengerti.

“Sudahlah Di, kamu lakukan saja, kamu sudah lama kan menginginkan ini?” aku tak bisa menjawab, sementara mataku kembali memandang selangkangan Tante Sofi yang kini terbuka lebar.

Hmm, persetan dari mana dia tahu aku sudah menantikan ini, itu urusan belakang. Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudara itu, kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalan itu sekarang menempel ketat di dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Tante Sofi menyedot lidahku dengan lembut. Uhh, nikmatnya, tanganku menyusup di antara dada kami, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu.

“Mmm.., oohh.., tante Sofi.., aahh”, kegelian bercampur nikmat saat Tante Sofi memadukan kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada penisku.

“Kamu mau sedot susu tante lagi?”, tangannya meremas sendiri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku.

Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti. �

“mm.., pintar kamu Di, oohh..” Desahan Tante Sofi mulai terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang lancip.

“Sekarang kamu ke bawah lagi sayang..”.

Aku yang sudah terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Sofi membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang birahiku, aku jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat yang menutupi daerah vaginanya. Uhh, liang vagina itu tampak sudah becek dan sepertinya berdenyut, aku ingat apa yang harus kulakukan, tak percuma aku sering diam-diam nonton VCD porno. Lidahku menjulur lalu menjilati vagina Tante Sofi.

“Ooouuhh.., kamu cepat sekali belajar, Di. Hmm, enaknya jilatan lidah kamu.., oohh ini sayang”, ia menunjuk sebuah daging yang mirip biji kacang di bagian atas kemaluannya, aku menyedotnya keras, lidah dan bibirku mengaduk-aduk isi liang vaginanya.

“Ooohh, yaahh.., enaak, Di, pintar kamu Di.., oohh”, Tante Sofi mulai menjerit kecil merasakan sedotanku pada biji kacang yang belakangan kutahu bernama clitoris.

Ada sekitar tujuh menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tiba-tiba ia menjepit kepalaku dengan keras di antara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat bernafas.

“Aahh.., tante nggak kuaat aahh, Didii”, teriaknya panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua buah dadanya yang sejak tadi bergoyang-goyang, dari liang vaginanya mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku.

“Uff.., Di, kamu pintar bener. Sering nonton yah?” ia memandangku genit.

“Makasih Di, selama ini tante nggak pernah mengalaminya.., makasih sayang. Sekarang beri tante kesempatan istirahat sebentar saja”, ia lalu mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandi.

Aku tak tahu harus melakukan apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya sempat mendapat sentuhan tangan Tante Sofi. Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan air maniku ke dalam vaginanya. Masih jelas bayangan tubuh telanjang Tante Sofi beberapa menit yang lalu.., ahh aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandi. Kulihat Tante Sofi sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.

“Tante..”.

“Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku.

Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.

“Woowww.., tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Di.., oohhmm”, ia berjongkok di hadapanku.

Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu dan secepat kilat Tante Sofi memasukkan penis itu ke mulutnya.

“Ohh.., nikmat Tante Sofi oohh.., oohh.., ahh”, geli bercampur nikmat membuatku seperti melayang.

Baru kali ini punyaku masuk ke dalam alatnya perempuan, ternyata.., ahh.., lezatnya setengah mati. Penisku tampak semakin tegang, mulut mungil Tante Sofi hampir tak dapat lagi menampungnya. Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas payudaranya.

“Uuuhh.. punya kamu ini lho, Di.., tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin lagi”, tangannya menarikku kembali ke tempat tidur, Tante Sofi seperti melihat sesuatu yang begitu menakjubkan.

Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan diri dan membuka kedua pahanya ke arah berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan vaginanya. mm.., kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan tergesa-gesa aku tindih tubuhnya.

“Heh.., sabar dong, Di. Kalau kamu gelagapan gini bisa cepat keluar nantinya”.

“Keluar apa, Tante?”.

“Nanti kamu tahu sendiri, deh” tangannya meraih penisku di antara pahanya, kakinya ditekuk hingga badanku terjepit diantaranya.

Pelan sekali ibu jari dan telunjuknya menempelkan kepala penisku di bibir kemaluannya.

“Sekarang kamu tekan pelan-pelan sayang.., Ahhooww, yang pelan sayang oh punya kamu segede kuda tahu!”, liriknya genit saat merasakan penisku yang baru setengah masuk itu.

“Begini tante?”, dengan hati-hati kugerakkan lagi, pelan sekali, rasanya seperti memasuki lubang yang sangat sempit.

“Tarik dulu sedikit, Di.., yah tekan lagi. Pelan-pelan.., yaahh masuk sayang oohh besarnya punya kamu.., oohh”.

“Tante suka?”.

“Suka sayang oohh, sekarang kamu goyangin.., mm.., yak gitu terus tarik, aahh.., pelan sayang vagina tante rasanya.., oouuhh mau robek, mmhh.., yaahh tekan lagi sayang.., oohh.., hhmm.., enaakk.., oohh”.

“Kalau sakit bilang saya yah tante?”, kusempatkan mengatur gerakan, tampaknya Tante Sofi sudah bisa menikmatinya, matanya memejam.

“Hmm.., oohh..”, Tante Sofi kini mengikuti gerakanku.

Pinggulnya seperti berdansa ke kiri kanan. Liang vaginanya bertambah licin saja. Penisku kian lama kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu pangkal pahaku. Plak.., plak.., plak.., plak.., aduh nikmatnya perempuan setengah baya ini. Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Sofi yang masih saja mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadinya santai kini tak lagi berirama. Buah dadanya tampak bergoyang ke sana ke mari, mengundang bibirku beraksi.

“Ooohh sayang kamu buas sekali. hmm.., tante suka yang begini, oohh.., genjot terus mm”.

“Uuhh tante nikmat tante.., mm tante cantik sekali oohh..”.

“Kamu senang sekali susu tante yah? Oohh sedoot teruus susu tantee aahh.., panjang sekali peler kamu oohh, Didii.., aahh”.

Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan vaginanya semakin terasa menjepit batang penisku yang semakin terasa keras dan tegang.

“Di..?”, dengusannya turun naik.

“Yah uuhh ada apa tante..”.

“Kamu bener-bener hebat sayang.., oowww.., uuhh.., tan.., tante.., mau keluar hampiirr.., aahh..”, gerakan pinggulnya yang liar itu semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kami berkutat.

“Ooohh memang enaak tante, oohh.., Tante Sofi. Tante Sofi, oohh.., tante, oohh.., nikmat sekali tante, oohh..” aku bahkan tak mengerti apa maksud kata “keluar” itu.

Aku hanya peduli pada diriku, kenikmatan yang baru pertama kali kurasakan seumur hidup. Tak kuhiraukan tubuh Tante Sofi yang menegang keras, kuku-kuku tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras pinggangku yang sedang asyik turun naik itu,

“Aaahh.., Di.., dii.., tante ke..luaarr laagii.., aahh”, vagina Tante Sofi terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit batangan penisku dan uuhh ia menggigit pundakku sampai kemerahan.

Kepala penisku seperti tersiram cairan hangat di dalam liang rahimnya. Sesaat kemudian ia lemas lagi.

“Tante capek? Maaf tante kalau saya keterlaluan..”.

“mm.., nggak begitu Di, yang ini namanya tante orgasme, bukan kamu yang salah kok, justru kamu hebat sekali.., ah, ntar kamu tahu sendiri deh.., kamu tunggu semenit aja yah, uuhh hebat”.

Aku tak tahu harus bilang apa, penisku masih menancap di liang kemaluan Tante Sofi.

“Kamu peluk tante dong, mm”.

“Ahh tante, saya boleh lanjutin nggak sih?”.

“Boleh, asal kamu jangan goyang dulu, tunggu sampai tante bangkit lagi, sebentaar aja. Mainin susu tante saja ya?”.

“Baik tante..”. Kau tak sabar ingin cepat-cepat merasakan nikmatnya “keluar” seperti Tante Sofi.

Ia masih diam saja sambil memandangiku yang sibuk sendiri dengan puting susu itu. Beberapa saat kemudian kurasakan liang vaginanya kembali bereaksi, pinggulnya ia gerakkan.

“Di..”.

“Ya tante?”.

“Sekarang tante mau puasin kamu, kasih tante yang di atas ya, sayang.., mmhh, pintar”.

Posisi kami berbalik. Kini Tante Sofi menunggangi tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang penisku yang masih tegang itu memasuki liang kenikmatannya, dan uuhh terasa lebih masuk. Tante Sofi mulai bergoyang perlahan, payudaranya tampak lebih besar dan semakin menantang dalam posisi ini. Tante Sofi berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar masuk liang vaginanya yang terlihat penuh sesak, sampai bibir kemaluan itu terlihat sangat kencang.

“Ooohh enaak tante.., ooh Tante Sofi.., ooh Tante Sofi.., oo tante.., hmm, enaak sekali.., oohh..” kedua buah payudara itu seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh Tante Sofi.

“Remees susu tante sayang, oohh.., yaahh.., pintar kamu.., oohh.., tante nggak percaya kamu bisa seperti ini, oohh.., pintar kamu Didi oohh.., ganjal kepalamu dengan bantal ini sayang”, Tante Sofi meraih bantal yang ada di samping kirinya dan memberikannya padaku.

“Maksud tante supaya saya bisa.., crup.., crup..”, mulutku menerkam puting panyudaranya.

“Yaahh sedot susu tante lagi sayang.., mm.., yak begitu teruus yang kiri sayang oohh”.

Tante Sofi menundukkan badan agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Decak becek pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan air, liang vaginanya semakin licin saja. Entah sudah berapa puluh cc cairan kelamin Tante Sofi yang meluber membasahi dinding vaginanya. Tiba-tiba aku teringat adegan filn porno yang tadi kulihat,  “yap.., doggie style!” batinku berteriak kegirangan, mendadak aku menahan goyangan Tante Sofi yang tengah asyik.

“Huuhh.., oohh ada apa sayang?”, nafasnya tersenggal.

“Saya mau pakai gaya yang ada di film, tante”.

“Gaya yang mana, yah.., ada banyak tuh?”.

“Yang dari belakang trus tante nungging”.

“Hmm.., tante ngerti.., boleh”, katanya singkat lalu melepaskan gigitan vaginanya pada penisku.

“Yang ini maksud kamu”, Tante Sofi menungging tepat di depanku yang masih terduduk.

“Iya tante..” Hmm lezatnya, pantat Tante Sofi yang besar dan belahan bibir vaginanya yang memerah, aku langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan penisku dari belakang.

Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih buah dada besarnya.

“Ooohh.., ngg.., yang ini hebaat Di.., oohh, genjot yang keras sayang, oohh.., tambah keras lagi.., uuhh..”.

“Ooohh tante.., taann..tee.., oohh.., nikmat tante Sofii..”.

Kepalanya menggeleng keras ke sana ke mari, aku rasa Tante Sofi sedang berusaha menikmati gaya ini dengan semaksimal mungkin. Teriakannyapun makin ngawur.

“Ooohh.., jangan lama-lama lagi sayang tante mau keluar lagi ooh..” aku menghentikan gerakan dan mencabut penisku.

“Baik tante sekarang.., mm, coba tante berbaring menghadap ke samping, kita selesaikan dengan gaya ini”.

“Goodness! Kamu sudah mulai pintar sayang mmhh”, Tante Sofi mengecup bibirku.

Perintahkupun diturutinya, ia seperti tahu apa yang aku inginkan. Ia menghempaskan badannya kembali dan berbaring menghadap ke samping, sebelah kakinya terangkat dan mengangkang, aku segera menempatkan pinggangku di antaranya. Buah penisku bersiap lagi.

“Aaahh tante.., uuhh.., nikmat sekali, oohh.., tante sekarang Tante Sofi, oohh.., saya nggak tahan tantee.., enaak.., oohh”.

“Tante juga Didi.., Didi.., Didi sayaangg, oohh.., keluaar samaan sayaang ooh” kami berdua berteriak panjang, badanku terasa bergetar, ada sebentuk energi yang maha dahsyat berjalan cepat melalui tubuhku mengarah ke bawah perut dan,

“Craat.., cratt.., craatt.., cratt”, entah berapa kali penisku menyemburkan cairan kental ke dalam rahim Tante Sofi yang tampak juga mengalami hal yang sama, selangkangan kami saling menggenjot keras.

Tangan Tante Sofi meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri. Matanya terpejam seperti merasakan sesuatu yang sangat hebat.

BERSAMBUNG..





Pelajaran dari Tante Sofi – Part I

1 06 2009

Aku mengenal seks pada usia 18 tahun ketika masih SMA. Waktu itu, karena niatku yang ingin melanjutkan sekolah di Jakarta, aku dititipkan pada keluarga teman baik ayahku, seorang pensiunan perwira ABRI berpangkat Brigjen. Om Toto, begitu aku memanggilnya, adalah seorang purnawirawan ABRI yang cukup berpengaruh, kini ia mengelola perusahaan sendiri yang lumayan besar. Anak-anak mereka, Halmi dan Julia yang seusiaku kini ada di Amerika sejak mereka masih berumur 12 tahun. Sedangkan yang sulung, Sonny kuliah di Jogja.

Istri Om Toto sendiri adalah seorang pengusaha sukses di bidang export garmen, aku memanggilnya Tante Sofi, wanita berwajah manis berumur 43 tahun dengan perawakan yang bongsor dan seksi khas ibu-ibu istri pejabat. Sejak tinggal di rumah megah itu aku seringkali ditugasi mengantar Tante Sofi, meski ada dua sopir pribadi tapi Tante Sofi lebih senang kalau aku yang mengemudikan mobilnya. Lebih aman, katanya sekali waktu.

Meski keluarga Om Toto kaya raya, tampaknya hubungan antara dia dan istrinya tak begitu harmonis. Aku sering mendengar pertengkaran-pertengkaran diantara mereka di dalam kamar tidur Om Toto, seringkali saat aku menonton televisi terdengar teriakan mereka dari ruang tengah.

Sedikitpun aku tak mau peduli atas hal itu, toh ini bukan urusanku, lagi pula aku kan bukan anggota keluarga mereka. Biasanya mereka bertengkar malam hari saat keduanya sama-sama baru pulang kerja. Belakangan bahkan terdengar kabar kalau Om Toto punya beberapa wanita simpanan.

“Ah untuk apa memikirkannya” benakku.

Suatu hari di bulan Oktober, Bi Surti, Siti (para pembantu), Mang Darja dan Om Edi (supir), pulang kampung mengambil jatah liburan mereka bersamaan saat Lebaran. Sementara Om Toto dan Sonny pergi berlibur ke Amrik sambil menjenguk kedua anaknya di sana. Tante Sofi masih sibuk menangani bisnisnya yang sedang naik daun, ia lebih sering tidak pulang, hingga di rumah itu tinggal aku sendiri. Perasaanku begitu merdeka, tak ada yang mengawasi atau melarangku untuk berbuat apa saja di rumah besar dan mewah itu. Mereka memintaku menunda jadwal pulang kampung yang sudah jauh hari kurencanakan, aku mengiyakan saja, toh mereka semua baik dan ramah padaku.

Malamnya aku duduk di depan televisi, namun tak satupun acara TV itu menarik perhatianku. Aku termenung sejenak memikirkan apa yang akan kuperbuat, sudah tiga hari tiga malam sejak keberangkatan Om Toto, Tante Sofi tak tampak pulang ke rumah. Maklumlah bisnisnya level tingkat internasional, jadi tak heran kalau mungkin saja hari ini ia ada di Hongkong, Singapore atau di mana saja. Saat sedang melamun aku melirik ke arah lemari besar di samping pesawat TV layar super lebar itu. Mataku tertuju pada rak piringan VCD yang ada di sana. Segera kubuka sambil memilih film-film bagus. Namun yang paling membuat aku menelan ludah adalah sebuah flm dengan cover depan wanita telanjang. Tak kulihat pasti judulnya namun langsung kupasang dan..,

“Wow!” batinku kegirangan begitu melihat adegannya yang wah.

Seorang lelaki berwajah hispanik sedang menggauli dua perempuan sekaligus dengan beragam gaya.

Sesaat kemudian aku sudah larut dalam film itu. Penisku sudah sejak tadi mengeras seperti batu, malah saking kerasnya terasa sakit, aku sejenak melepas celana panjang dan celana dalam yang kukenakan dan menggantinya dengan celana pendek yang longgar tanpa CD. Aku duduk di sofa panjang depan TV dan kembali menikmati adegan demi adegan yang semakin membuatku gila. Malah tanganku sendiri meremas-remas batang kemaluanku yang semakin tegang dan keras. Tampak penis besarku sampai menyembul ke atas melewati pinggang celana pendek yang kupakai. Cairan kentalpun sudah terasa mengalir dari sana.

Tapi belum lagi lima belas menit, karena terlalu asyik aku sampai tak menyangka Tante Sofi sudah berada di luar ruang depan sambil menekan bel. Ah, aku lupa menutup pintu gerbang depan hingga Tante Sofi bisa sampai di situ tanpa sepengetahuanku, untung pintu depan terkunci. Aku masih punya kesempatan mematikan power off VCD Player itu, dan tentunya sedikit mengatur nafas yang masih tegang ini agar sedikit lega.

“Kamu belum tidur, Di?” sapanya begitu kubuka pintu depan.

“Belum, tante,” hidungku mencium bau khas parfum Tante Sofi yang elegan.

“Udah makan?”.

“Hmm.., belum sih, tante sudah makan?” aku mencoba balik bertanya.

“Belum juga tuh, tapi tante barusan dari rumah teman, trus di jalan baru mikirin makan, so tante pesan dua paket antaran di KFC, kamu mau?”

“Mau dong tante, tapi mana paketnya, belum datang kan?”

“Tuh kan, kamu pasti lagi asyik di kamar makanya nggak dengerin kalau pengantar makanannya datang sedikit lebih awal dari tante.”

“Ooo,” jawabku bego.

Tante Sofi berlalu masuk kamar, kuperhatikan ia dari belakang. Uhh, bodinya betul-betul bikin deg-degan, atau mungkin karena saya baru saja nonton BF yah?

“Ayo, kita makan..,” ajaknya kemudian, tiba-tiba ia muncul dari kamarnya sudah berganti pakaian dengan sebuah daster putih longgar tanpa lengan dan berdada rendah.

“Ya ampun Tante Sofi”, batinku berteriak tak percaya, baru kali ini aku memperhatikan wanita itu.

Kulitnya putih bersih, dengan betis yang woow, berbulu menantang pastilah punya nafsu seksual yang liar, itu kata temanku yang pengalaman seksnya tinggi. Buah dadanya tampak menyembul di balik gaun itu, apalagi saat ia melangkah di sampingku, samar-samar dari sudut mataku terlihat BH-nya yang putih.

“Uh.., apa ini gara-gara film itu?”, batinku lagi.

Khayalku mulai kurang ajar, memasukkan bayangan Tante Sofi ke dalam adegan film tadi.

“Hmm..”, Tak sadar mulutku mengeluarkan suara itu.

“Ada apa, Di?”, Tante Sofi memandangku dengan alis berkerut.

“Nngg.., nggak apa-apa tante..”, Aku jadi sedikit gugup.

Oh wajahnya, kenapa baru sekarang aku melihatnya begitu cantik?

“Eh.., kamu ngelamun yah, ngelamunin siapa sih? Pacar?”, tanyanya.

“Nggak ah tante”, dadaku berdesir sesaat pandangan mataku tertuju pada belahan dadanya.

“My god, gimana rasanya kalau tanganku sampai mendarat di permukaan buah dadanya, mengelus, merasakan kelembutan payudara itu, oohh”, lamunan itu terus merayap.

“Heh, ayo.., makanmu lho, Di”.

“Ba.., bbaik tante”, jelas sekali aku tampak gugup.

“Nggak biasanya kamu kayak gini, Di. Mau cerita nggak sama tante”.

My god, dia mau aku ceritakan apa yang aku lamunkan? Susumu tante, susumu!

Pelan-pelan sambil terus melamun sesekali berbicara padanya, akhirnya makananku habis juga. Aku kembali ke kamar dan langsung menghempaskan badanku ke tempat tidur. Masih belum lepas juga bayangan tubuh Tante Sofi.

“Gila! Gila! Kenapa perempuan paruh baya itu membuatku gila”, pikirku tak habis habisnya.

Umurnya terpaut sangat jauh denganku, aku baru 18 tahun.., dua puluh lima tahun dibawahnya. Ah, mengapa harus kupikirkan.

Aku melangkah ke meja komputer di kamarku, mencoba melupakannya. Beberapa saat aku sudah tampak mulai tenang, perhatianku kini pada e-mail yang akan kukirim pada teman-teman netter. Aku memang hobi korespondensi via internet. Tapi mendadak pintu kamarku diketuk dari luar.

“Di.., Didi.., ini Tante”, terdengar suara tante seksi eh Sofi memanggil.

“Ah..”, aku beranjak bangun dari korsi itu dan membuka pintu,

“Ada apa, tante?”.

“Kamu bisa buatin tante kopi?”.

“Ooo.., bisa tante”.

“Tahu selera tante toh?”

“Iya tante, biasanya juga saya lihat Siti”, jawabku singkat dan langsung menuju ke dapur.

“Tante tunggu di ruang tengah ya, Di”.

“Baik, tante”.

Gelas yang kupegang itu hampir saja jatuh saat kulihat apa yang sedang disaksikan Tante Sofi di layar TV. Pelan-pelan tanganku meletakkan gelas berisi kopi itu di sebuah meja kecil di samping Tante Sofi, lalu bersiap untuk pergi meninggalkannya.

“Didi..”

“Ya.., tante”.

“Kamu kalau habis pasang film seperti ini lain kali masukin lagi ke tempatnya yah”.

“Mmm.., ma.., ma.., maaf tante..” aku tergagap, apalagi melihat Tante Sofi yang berbicara tanpa melihat ke arahku.

Benar-benar aku merasa seperti maling yang tertangkap basah.

“Di..”, Tante Sofi memanggil, kali ini ia memandangi, aku menundukkan muka, tak kubayangkan lagi kemolekan tubuh istri Om Toto itu. Aku benar-benar takut.

“Tante nggak bermaksud marah lho, Di..”, byarr hatiku lega lagi.

“Sekarang kalau kamu mau nonton, ya sudah sama-sama aja di sini, toh sudah waktunya kamu belajar tentang ini, biar nggak kuper”, ajaknya.

“Woow..”, kepalaku secepat kilat kembali membayangkan tubuhnya.

Aku duduk di sofa sebelah tempatnya. Mataku lebih sering melirik tubuh Tante Sofi daripada film itu.

“Kamu kan sudah 18 tahun, Di. Ya nggak ada salahnya kalau nonton beginian. Lagipula tante kan nggak biasa lho nonton yang beginian sendiri..”.

Apa kalimat itu berarti undangan? Atau kupingku yang salah dengar? Oh my God Tante Sofi mengangkat sebelah tangannya dan menyandarkan lengannya di sofa itu. Dari celah gaun di bawah ketiaknya terlihat jelas bukit payudaranya yang masih berlapis BH. Ukurannya benar-benar membuatku menelan ludah. Posisi duduknya berubah, kakinya disilangkan hingga daster itu sedikit tersingkap. Woow, betis dengan bulu-bulu halus itu. Hmm, Wanita 40-an itu benar-benar menantang, wajah dan tubuhnya mirip sekali dengan pengusaha Dewi Motik, hanya Tante Sofi kelihatan sedikit lebih muda, bibirnya lebih sensual dan hidungnya lebih mancung. Aku tak mengerti kenapa perempuan paruhbaya ini begitu tampak mempesona di mataku. Tapi mungkinkah..? Tidak, dia adalah istri Om Toto, orang yang belakangan ini sangat memperhatikanku. Aku di sini untuk belajar.., atas biaya mereka.., ah persetan!

Tante Sofi mendadak mematikan VCD Player dan memindahkannya ke sebuah TV swasta.

“Lho.. kok?”.

“Ah tante bosan ngeliatin itu terus, Di..”.

“Tapi kan..”.

“Sudah kalau mau kamu pasang aja sendiri di kamar..”, wajahnya masih biasa saja.

“Eh, ngomong-ngomong, kamu sudah hampir setahun di sini yah?”.

“Iya tante..”.

“Sudah punya pacar?”, ia beranjak meminum kopi yang kubuatkan untuknya.

“Belum”, mataku melirik ke arah belahan daster itu, tampaknya ada celah yang cukup untuk melihat payudara besarnya. Tak sadar penisku mulai berdiri.

“Kamu nggak nyari gitu?”, ia mulai melirik sesekali ke arahku sambil tersenyum.

“Alamaak, senyumnya.., oh singkapan daster bagian bawah itu, uh Tante Sofi.., pahamu”, teriak batinku saat tangannya tanpa sengaja menyingkap belahan gaun di bagian bawah itu. Sengaja atau tidak sih?

“Eeh Di. kamu ngeliatin apaan sih?”.

Blarr.., mungkin ia tahu kalau aku sedang berkonsentrasi memandang satu persatu bagian tubuhnya,

“Nggak kok tante nggak ngeliat apa-apa”.

“Lho mata kamu kayaknya mandangin tante terus? Apa ada yang salah sama tante, Di?”, ya ampun dia tahu kalau aku sedang asyik memandanginya.

“Eh.., mm.., anu tante.., aa.., aanu.., tante.., tante”, kerongkonganku seperti tercekat.

“Anu apa.., ah kamu ini ada-ada saja, kenapa..”, matanya semakin terarah pada selangkanganku, bangsat aku lupa pakai celana dalam. Pantas Tante Sofi tahu kalau penisku tegang.

“Ta.., ta.., tante cantik sekali..”, aku tak dapat lagi mengontrol kata-kataku.

Dan astaga, bukannya marah, Tante Sofi malah mendekati aku.

“Apa.., tante nggak salah dengar?”, katanya setengah berbisik.

“Bener kok tante..”.

“Tante yang seumur ini kamu bilang cantik, ah bisa aja. Atau kamu mau sesuatu dari tante?” ia memegang pundakku, terasa begitu hangat dan duh gusti buah dada yang sejak tadi kuperhatihan itu kini hanya beberapa sentimeter saja dari wajahku.

Apa aku akan dapat menyentuhnya, come on man! Dia istri Om Toto batinku berkata.

Tangannya masih berada di pundakku sebelah kiri, aku masih tak bergeming. Tertunduk malu tanpa bisa mengendalikan pikiranku yang berkecamuk. Harum semerbak parfumnya semakin menggoda nafsuku untuk berbuat sesuatu. Kuberanikan mataku melirik lebih jelas ke arah belahan kain daster berbunga itu. Wow.., sepintas kulihat bukit di selangkangannya yang ahh, kembali aku menelan ludah.

“Kamu belum jawab pertanyaan tante lho, Di. Atau kamu mau tante jawab sendiri pertanyaan ini?”.

“Nggak kok tante, ss.., ss.., saya jujur kalau tante memang cantik, eh.., mm.., menarik”.

“Kamu belum pernah kenal cewek yah”.

“Belum, tante”.

“Kalau tante kasih pelajaran gimana?”.

Ini dia yang aku tunggu, ah persetan dia istri Om Toto. Anggap saja ini pembalasan Tante Sofi padanya. Dan juga.., oh aku ingin segera merasakan tubuh wanita.

“Maksud tante.., apa?”, lanjutku bertanya, pandangan kami bertemu sejenak namun aku segera mengalihkan.

“Kamu kan belum pernah pacaran nih, gimana kalau kamu tante ajarin caranya nikmati wanita..”.

“Ta.., tapi tante”, aku masih ragu.

“Kamu takut sama Om Toto? Tenang.., yang ada di rumah ini cuman kita, lho”.

“This is excellent!”, teriakku dalam hati.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Batinku terus berteriak tapi badanku seperti tak dapat kugerakkan.

Beberapa saat kami berdua terdiam.

“Coba sini tangan kamu”, aku memberikan tanganku padanya, my goodness tangan lembut itu menyentuh telapak tanganku yang kasarnya minta ampun.

“Rupanya kamu memang belum pernah nyentuh perempuan, Di. Tante tahu kamu baru beranjak remaja dan tante ngerti tentang itu”, berkata begitu sambil mengelus punggung tanganku, aku merinding dibuatnya, sementara di bawah, penisku yang sejak tadi sudah tegang itu mulai mengeluarkan cairan hingga menampakkan titik basah tepat di permukaan celana pendek itu.

“Tante ngerti kamu terangsang sama film itu. Tapi tante perhatiin belakangan ini kamu sering diam-diam memandangi tubuh tante, benar kan?”, ia seperti menyergapku dalam sebuah perangkap, tangannya terus mengelus punggung telapak tanganku.

Aku benar-benar merasa seperti maling yang tertangkap basah, tak sepatah kata lagi yang bisa kuucapkan.

“Kamu kepingin pegang dada tante kan?”.

Daarr! Dadaku seperti pecah.., mukaku mulai memerah. Aku sampai lupa di bawah sana adik kecilku mulai melembek turun. Dengan segala sisa tenaga aku beranikan diri membalas pandangannya, memaksa diriku mengikuti senyum Tante Sofi.Dan.., astaga.., Tante Sofi menuntun telapak tanganku ke arah payudaranya yang menggelembung besar itu.

“Ta.., ta.., tante.., oohh”, suara itu keluar begitu saja, dan Tante Sofi hanya melihat tingkahku sambil tersenyum.

Adikku bangun lagi dan langsung seperti ingin meloncat keluar dari celana dalamku. Istri Om Toto itu melotot ke arah selangkanganku.

“Waawww.., besar sekali punya kamu Di?”, serunya lalu secepat kilat tangannya menggenggam kemaluanku kemudian mengelus-elusnya.

Secara reflek tanganku yang tadinya malu-malu dan terlebih dulu berada di permukaan buah dadanya bergerak meremas dengan sangat kuat sampai menimbulkan desah dari mulutnya.

“Aaahh.., mm remas sayang oohh”.

Masih tak percaya akan semua itu, aku membalikkan badan ke arahnya dan mulai menggerakkan tangan kiriku. Aku semakin berani, kupandangi wajah istri Om Toto itu dengan seksama.

“Teruskan, Di.., buka baju tante”, perempuan itu mengangguk pelan.

Matanya berbinar saat melihat kemaluanku tersembul dari celah celana pendek itu. Kancing dasternya kulepas satu persatu, bagian dadanya terbuka lebar. Masih dengan tangan gemetar aku meraih kedua buah dada yang berlapis BH putih itu. Perlahan-lahan aku mulai meremasnya dengan lembut, kedua telapak tanganku kususupkan melewati BH-nya.

“Mmm.., tante..”, aku menggumam merasakan kelembutan buah dada besar Tante Sofi yang selama sebulan terakhir ini hanya jadi impianku saja.

Jari jemariku terasa begitu nyaman, membelai lembut daging kenyal itu, aku memilin puting susunya yang begitu lembutnya.

BERSAMBUNG..





Nafsu Binal Mbak Wulan

1 06 2009

Namaku Benny, peristiwa ini sudah terjadi lama, ketika aku masih SMA kelas 3. Saat itu aku masih perjaka ting-ting, main sabun adalah satu-satu-nya pelampiasan sexku. Aku punya seorang teman akrab, namanya Anton. Dia tinggal menumpang di rumah kakak lelakinya, Mas Har.

Orangtua Anton tinggal di kota kecil Ambon yang jaraknya kira-kira sejam perjalanan dari kotaku. Mas Har sudah beristri, namanya Mbak Wulan. Mereka belum dikaruniai momongan saat itu. Jadi serumah hanya ada mereka bertiga karena Mbak Wulan memang nggak punya pembantu.

Hubunganku dengan keluarga Anton (Mas Har & terutama Mbak Wulan) sudah sangat akrab. Mereka sudah seperti kakak kandung sendiri. Aku sering menginap di tempat Anton demikian pula sebaliknya. Jadi sudah tidak ada kecanggungan sama sekali di antara kami.

Mas Har orangnya agak pendiam, kebalikan dengan Mbak Wulan yang sangat bersahabat. Secara fisik Mbak Wulan tidaklah istimewa. Usianya saat itu sekitar 30 thn. Bodinya pun biasa saja, agak kecil malah. Tingginya sekitar 155 cm, badannya ramping. Kulitnya tidak terlalu putih tapi sangat mulus dan bersih karena dia rajin merawat tubuhnya. Wajahnya tidak terlampau cantik tapi cukup manis, lesung pipit selalu menghias pipinya. Yang paling menyenangkan dari Mbak Wulan adalah pembawaannya. Orangnya sangat ramah dan murah senyum. Diam-diam aku mengidolakan Mbak Wulan, kalau punya istri aku ingin yang seperti Mbak Wulan.

Saat itu aku sedang libur sekolah sehabis ujian. Pagi kira-kira jam 9 aku ke tempat Anton untuk mengajaknya main badminton. Aku masukkan Yamaha kesayanganku ke halaman rumah Anton. Mbak Wulan yang menyambutku di pintu sambil tersenyum.

“Anton mana Mbak?”

“Wah dia barusan pulang ke Ambon, kemarin sore di telpon ibu disuruh pulang. Kamu janjian sama dia, Ben?”

“Ndak Mbak, cuman mau ngajakin badminton kok. Ya sudah Mbak, aku pulang aja.”

Aku sudah hendak menstarter motorku lagi.

“Eh Ben, bisa bantu Mbak ndak? Itu video kasetnya kusut di dalam ndak bisa keluar. Mas Har kan sudah seminggu training di Jakarta, Mbak ndak berani betulin sendiri takut malah makin rusak”.

“Oke Mbak.”

Motor aku standardkan lagi dan aku bergegas masuk ke dalam. Aku langsung ke ruang tengah tempat TV dan videonya berada, ambil obeng di laci, terus aku bongkar itu video. (Tolong jangan ditertawakan ya, waktu itu memang belum ada yg namanya VCD). Mbak Wulan sudah masuk ke kamarnya lagi. Tidak sampai 10 menit kaset kusut yang terselip di rol dalam video itu sudah berhasil aku keluarkan, dan videonya sudah aku rapikan lagi. Aku buka laci tempat kaset video, aku comot sembarang kaset yang paling atas aja. Maksudku aku mau cobain, sudah bagus belum hasil “reparasi”ku.

Kaset aku masukin dan langusng aku Play. Ternyata yang aku comot tadi adalah kaset BF. Aku memang sudah tidak asing dengan film BF, maklum anak umur segitu. Kaset yang aku buat coba itu BF Asia, nggak tahu Thailand atau Filipina.

“Mumpung Mbak Wulan di kamar,” aku pikir sambil coba video aku lihat BF dulu soalya jarang lihat BF Asia.

Sekitar 5 menit aku nonton video, aku mulai terangsang juga, aku jadi agak lupa sama Mbak Wulan.

“Hayo, nonton apa?”

Suara lembut Mbak Wulan mengagetkan aku. Aku tidak sadar kalau Mbak Wulan sudah keluar dari kamarnya karena aku memang membelakangi pintunya sambil duduk di karpet bersandar di sofa. Aku buru-buru bangkit mau mematikan video sambil tersipu malu.

“Anu Mbak. cuman mau coba videonya, ambil kaset sembarang aja.”

“Jangan dimatikan Ben, Mbak juga mau nonton ah, temeni ya?” Mbak Wulan berkata dengan nada menggodaku.

Akhirnya kami berdua nonton BF sambil duduk di karpet bersandarkan sofa yang empuk. Mula-mula aku salah tingkah juga karena kehadiran Mbak Wulan. Tapi lama-lama terbawa oleh panasnya adegan di video, aku jadi lupa akan Mbak Wulan yang berjarak kurang dari semeter di kiriku. Aku sudah terangsang dan tanpa bisa dikomando, penisku sudah menegang dengan sendirinya. Pikiranku sudah betul-betul dimabokkan oleh tubuh-tubuh berkeringat yang ada di pandanganku. Tak sedetik pun aku mengalihkan tatapanku dari layar TV. Apalagi saat adegan blow job diperagakan si cewek terhadap si cowok.

“Ben, .. kamu pengin diemut kayak gitu?”

Suara lembut Mbak Wulan yang medok bahasa Jawanya membuat aku terkejut. Tanpa sadar aku cuman bisa mengangguk pelan. Mbak Wulan beringsut mendekatiku dan dengan kode tangannya menyuruh aku duduk di sofa. Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja duduk di sofa. Celana olahragaku yang komprang dan CD-ku dipelorotkan oleh Mbak Wulan dengan sekali sentakan. Aku sudah tidak ingat lagi siapa Mbak Wulan itu. Batang penisku sudah berdiri tegak. Kepalanya sudah berwarna merah tua tanda darah sudah mengumpul disitu. Lendir sudah membasahi kepala penisku sehingga tampak makin mengkilap.

Sambil masih bersimpuh di karpet di hadapanku, jari-jari lentik Mbak Wulan mulai mengelus batang kemaluanku. Tanpa berkata-kata lagi Mbak Wulan mulai menciumi batang penisku. Lidahnya mulai menari-nari. Dimulai dari bawah di kantong bijiku, lidah Mbak Wulan menggelitik terus merambat ke atas sampai di kepala penisku. Sampai disana, Mbak Wulan memasukkan penisku ke mulutnya, dihisap sedikit. Lalu dikeluarkan lagi dan dia mulai menjilati dari kantong bijiku lagi. Begitu seterusnya sampai tak seinci pun kulit kemaluanku yang tidak dijamah oleh lidah gesit Mbak Wulan. Kadang Mbak Wulan harus bergeser sedikit demi menikmati seluruh permukaan penisku.

Aku betul-betul lupa segalanya. Yang kuingat hanya kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa kegelian karena jilatan lembut Mbak Wulan di penisku. Rasa geli bercampur kenikmatan sampai terasa di ujung jari kakiku. Nafasku mulai memburu. Aku tahu tidak lama lagi penisku akan memuntahkan lahar panasnya.

Tiba-tiba Mbak Wulan merubah gayanya. Sekarang dia memasukkan seluruh batang kemaluanku yang memang tidak terlampau besar itu ke dalam mulutnya yang mungil. Lidahnya terus menggelitik tongkat kenikmatanku yang ada di dalam mulutnya. Aku makin tak tahan dan mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Rupanya Mbak Wulan merasakan tubuhku makin menegang. Mulut dan lidahnya masih sibuk dengan penisku, tangan kirinya mengelus lembut perut bagian bawahku dan jari-jari tangan kanannya meremas serta menggelitik kantong bijiku.

Kepalanya digerakkan mengangguk-angguk sehingga kulit penisku yang sudah sangat sensitif tergesek-gesek bibirnya yang tipis itu.

Makin lama gerakan anggukannya makin cepat. Aku sudah tidak punya pertahanan apa-apa lagi. Tanganku sudah meremas lembut rambut Mbak Wulan sambil sesekali menekan kepala Mbak Wulan. Gerakan kepala Mbak Wulan makin menggila.

“Ahhhhhhhhhhh crotttt crooot crooot”

Aku rasakan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata sambil menyemburkan maniku di dalam mulut Mbak Wulan. Mbak Wulan tampaknya tidak terkejut dengan semburan itu, dia terus saja menggerakkan kepalanya sambil menyedot air maniku. Kenikmatan itu masih belum menghilang sekalipun ejakulasiku sudah tuntas. Mbak Wulan masih terus menghisap penisku tanpa sekali pun pernah mengeluarkannya dari mulut mungilnya. Setelah beberapa saat demikian teganganku mulai menurun. Gerakan kepala Mbak Wulan juga mulai melemah. Dengan gerakan sangat pelan dan lembut, bibirnya tetap mengatup batang kemaluanku, Mbak Wulan mengangkat kepalanya sampai seluruh penisku terlepas dari mulutnya.

Ah, aku betul-betul merasa di puncak surga dunia. Ini untuk pertama kalinya aku di blow job. Penisku masih berdiri sekali pun sudah tidak setegang tadi, mengkilap karena air liur Mbak Wulan tanpa ada tanda setetespun dari air maniku. Mbak Wulan memandangku tersenyum sambil bergerak bangkit duduk di sampingku. Dia mencium pipiku dengan mesra aku pun membalasnya.

“Makasih Mbak, tadi nikmat sekali. Mbak Wulan pinter.”

“Mbak juga seneng kok Ben, pejuhmu enak, ndak amis. Kamu baru pertama kali ini diemut ya Ben?”

“Iya Mbak,” jawabku malu-malu.

Kami meneruskan nonton BF yang memang belum selesai sambil duduk berpelukan. Kadang-kadang kami saling berciuman dengan mesra, tapi aku masih belum berani menjamah Mbak Wulan. Kalau ingat saat itu aku suka geli sendiri. Bagaimana tidak, kami duduk berdampingan, Mbak Wulan masih berpakaian lengkap daster baby-doll, sedangkan aku masih telanjang celana tapi masih pakai kaos olahraga.

Kami terus menikmati adegan demi adegan di layar kaca sambil duduk berpelukan di sofa itu. Saling cium mesra menjadi bumbu menonton kami. Makin lama aku mulai terangsang lagi. Penisku mulai berdiri lagi. Mbak Wulan rupanya memperhatikan hal ini. Tangan kirinya mulai mengelus lembut batang kemaluanku yg baru saja dipuaskan dgn gelitikan lidahnya. Tiba-tiba Mbak Wulan bangkit berdiri dan mematikan video dan TV.

“Kita ke kamar yuk Ben,” ajaknya.

Kami masuk kamar berdua. Lucu juga. Mbak Wulan menarik penisku yang sudah tegak berdiri sambil membimbingku masuk kamarnya.

“Kaosmu copot aja Ben”

Aku pun melepas satu-satu busana yang masih melekat di badanku. Agak malu juga aku telanjang bulat di hadapan Mbak Wulan.

“Mbak Wulan copot juga dong pakaiannya,” pintaku

Tanpa bicara sepatahpun Mbak Wulan mulai melepas baju dasternya. Terlihat kulit mulus pundak dan sebagian perut Mbak Wulan yang rata tanpa lemak sedikitpun. Dia masih mengenakan BH warna krem. Kedua tangannya menjulur ke punggungnya mencopot kaitan BHnya. Perlahan dilepasnya BH krem itu. Wow!. Sungguh pemandangan yang indah. Untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung buah dada wanita. Biasanya aku hanya lihat di video atau foto saja. Buah dada Mbak Wulan tidak terlalu besar, seimbang dengan tubuhnya yang ramping itu. Putingnya kecil sebesar kismis, berwarna coklat tua. Tampak kedua puting Mbak Wulan sudah mengeras. Perlahan dengan sengaja sambil menghadap aku, Mbak Wulan membelai payudaranya, kedua tangannya menopang buah dadanya sambil diangkatnya sedikit. Sungguh pemandangan yang merangsang kelakianku.

Kemudian Mbak Wulan melepaskan celana baby-dollnya sekalian dengan CD nya. Sambil agak meliukkan tubuhnya kedua tangannya memelorotkan celananya. Mbak Wulan sudah bertelanjang bulat di hadapanku. Sungguh pemandangan yang sangat menggiurkan. Kulit tubuh Mbak Wulan, sekalipun tidak terlalu putih tapi sangat mulus. Bulu kemaluan Mbak Wulan sangat tipis dan jarang. Aku terus mengagumi tubuh polos Mbak Wulan. Kayaknya Mbak Wulan agak malu juga aku perhatikan seperti itu. Dia berjalan mendekatiku dan memelukku dari depan. Kami saling berciuman. Bibirku melumat bibir Mbak Wulan yang mungil tipis itu. Lidah kami saling menggelitik. Tubuh kami saling lengket. Buah dada Mbak Wulan yang ternyata sangat padat sekalipun tidak besar menekan keras dadaku. Bulu kemaluannya menggosok geli pahaku.

Kemudian Mbak Wulan melapaskan pelukannya terus berbaring telentang di tengah tempat tidur. Dengan tangannya dia memberi kode agar aku berbaring di sisinya. Tanpa perlu disuruh dua kali aku langsung menurutinya. Sambil berbaring aku mencium bibir Mbak Wulan. Aku mulai berani menjamah tubuh Mbak Wulan. Mula-mula aku belai pundaknya. Tanganku terus mengarah ke buah dadanya. Aku belai lembut payudara Mbak Wulan yang padat itu. Sekali-kali aku remas dengan mesra, sambil kami terus berciuman. Tangan Mbak Wulan membelai lembut punggungku.

Aku lepaskan bibirku dari bibir Mbak Wulan. Aku mulai mempraktekan apa yang sering aku lihat di film-film BF. Aku mulai menciumi leher Mbak Wulan. Tangan kiriku masih meremas-remas buah dada kanan Mbak Wulan. Kadang-kadang putingnya yang sudah mengeras aku pelintir-pelintir dengan telunjuk dan ibu jariku. Mbak Wulan menanggapinya dengan desahan-desahan lembut yang merangsang.

“Ahhhh… Ohhhhh… iya… iya… iya Ben… uuuhhh”

Aku makin PD meneruskan aksiku. Sepertinya Mbak Wulan menyukai apa yang aku lakukan. Ciumanku mulai aku arahkan lebih ke bawah, ke arah payudaranya. Aku jilat-jilat bukit dada Mbak Wulan.

“Ohhhh… iya Ben… uhhhh terus… terus… isep tetek Mbak… ohhh Ben .. iya”

Aku mengikuti instruksi Mbak Wulan. Aku hisap lembut puting susu Mbak Wulan yang sebelah kiri sambil memelintir putingnya yang kanan. Mbak Wulan meliuk kenikmatan.

“Iya… iya… gitu… terus Ben… Be … ahhhhh…”

Kemudian aku balik permainanku. Puting yang kanan yang aku jilat dan hisap dan yang kiri aku mainkan dengan jari-jariku. Mbak Wulan makin menggelinjang.

“Sshhhhh shhhhhh… ahhhh… uhhhhh iya… iya… ohhh…”

Tiba-tiba Mbak Wulan duduk lalu merangkak. Kepalanya mengarah ke penisku yang memang sudah tegak sedari tadi. Mulutnya langsung mencium penisku dan mengulumnya. Lidahnya menggelitik kepala penisku yang ada di mulutnya. Kakinya mulai beringsut sedikit demi sedikit. Kemudian Mbak Wulan mulai mengangkang tepat di depan mukaku yang masih telentang itu. Sungguh pemandangan yang indah. Aku yang belum pernah melihat kemaluan wanita secara langsung bisa menikmati punya Mbak Wulan dari jarak cuman sejengkal. Bibir kemaluan Mbak Wulan sungguh tipis, liang kenikmatannya sedikit menganga, berwarna merah tua dan berlendir. Klitorisnya sudah berdiri mengeras sebesar kacang hijau. Warnanya merah pink. Aku mengangkat kepalaku, langsung aku ciumin kemaluan Mbak Wulan. Baunya agak amis tapi tidak membuat mual, persis seperti bau daging segar.

Aku mainkan lidahku di seputar lubang senggama Mbak Wulan.

“Ohhhh… ahhhh iya Ben.. terus… terus Ben… ahhhh… jilati tempik Mbak…”

Aku memang tidak bermaksud berhenti dari aksi lidahku itu. Seluruh permukaan kemaluan Mbak Wulan aku ciumi dan jilati. Kadang-kadang lidahku aku sodorkan ke dalam lubang kenikmatan Mbak Wulan sambil aku gelitik pelan. Aku rasakan tubuh Mbak Wulan sedikit gemetar. Aku lanjutkan aksiku, kedua tanganku membelai dan meremas pantat Mbak Wulan yang kenyal itu. Kemaluan Mbak Wulan makin terasa berlendir bercampur dengan air liurku.

“Sshhhh… shhhhh… ahhhh… ahhhhh… jilati itilnya Ben .. ahhhh ahhhhh…”

Entah perasaanku saja atau memang demikian, aku lihat klitoris Mbak Wulan sedikit lebih besar dari awalnya. Aku segera menggelitiknya dengan lidahku. Aku tarik bantal di dekatku aku topangkan di belakang kepalaku. Posisiku makin nyaman untuk menikmati seluruh permukaan kemaluan Mbak Wulan. Penisku masih di peras-peras oleh mulut Mbak Wulan. Dia hanya berhenti sekali-kali hanya untuk mengeluarkan desahan-desahan kenikmatan.

“Uuhhh… uhhhh… shhhhh… iya… iya… ohhh nikmaaat .. terus… terus…”

Kami terus di posisi itu beberapa saat. Tubuh Mbak Wulan mulai menegang, desahannya makin menggila. Sedotan mulut Mbak Wulan di penisku juga makin menguat. Lidahku makin giat menari mengitari lubang kemaluan Mbak Wulan. Sodoran lidahku ke liang kenikmatan Mbak Wulan semakin dalam. Tiba-tiba tubuh Mbak Wulan mengejang gemetaran. Selangkangannya menekan kuat ke wajahku sampai aku hampir-hampir tak bisa bernapas. Lidahku masih di dalam liang kenikmatan Mbak Wulan. Aku tidak bisa bergerak kecuali menjulur-julurkan lidahku semakin dalam. Tubuh Mbak Wulan gemetaran makin hebat, himpitan di wajahku semakin kuat, aku semakin tidak bisa bernapas.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhh hhh…….”

Mbak Wulan melenguh panjang sambil berbarengan aku rasakan makin banyak lendir yang meleleh keluar dari liang senggama Mbak Wulan. Lendir itu membasahi bibirku dan sekitar mulutku. Lidahku makin aku julurkan seakan menyambut lendir kenikmatan itu. Aku cengkeram pantat mulus Mbak Wulan dengan kedua tanganku. Tubuh Mbak Wulan sudah kaku  diam tak bergerak. Hanya gemetaran dan suara lenguhan keras yang masih menandakan kehidupan di tubuh Mbak Wulan.

“Ooooooooooohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…”

Tak berapa lama kemudian tubuh Mbak Wulan berangsur melemas. Otot-otot yang tadi mengejang sudah mulai kendur. Perlahan-lahan Mbak Wulan mengangkat selangkangannya dari wajahku. Dengan lembut Mbak Wulan beringsut dan berbaring di sisiku. Diciumnya bibirku dan sekitar mulutku yang belepotan lendir kenikmatannya.

“Makasih Ben… Mbak nikmat sekali… kamu memang jago Ben,” bisik lembut Mbak Wulan di telingaku.

Aku menjawab dengan kecupan lembut di pipinya. Selama ini aku pikir kenikmatan yang paling puncak adalah saat aku ejakulasi seperti ketika di blow job oleh Mbak Wulan di sofa tadi. Ternyata aku keliru, aku justru merasa nikmat secara batin ketika mendengar bisikan lembut Mbak Wulan, lebih dari sekedar kenikmatan badani saat ejakulasi. Dan saat itu aku belum ejakulasi, penisku masih tegak menantang, tapi secara batin aku sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa, belum pernah aku rasakan sebelumnya

Aku mulai mencumbu Mbak Wulan lagi. Payudaranya kembali aku cium dan hisap dengan mulutku. Tampaknya Mbak Wulan sangat menikmatinya. Matanya terpejam, bibirnya menyungging senyum penuh kepuasan. Tangan Mbak Wulan mulai membelai-belai penisku yang memang masih berdiri. Dikocoknya lambat-lambat sambil kadang diremas lembut. Aku mengimbangi dengan menggosok klitoris Mbak Wulan dengan jari tengahku. Kami masih saling raba dan remas seperti ini untuk beberapa saat. Sepertinya Mbak Wulan mulai terangsang lagi. Tubuhnya meliuk mengikuti gosokan jariku di liang kenikmatannya.

Mbak Wulan lalu bangkit, dia berjongkok di atas selangkanganku. Dari sela-sela bulu kemaluannya yang memang tipis dan jarang itu aku bisa mengintip lubang senggama Mbak Wulan sudah menganga merindukan penisku. Dengan masih berjongkok sambil kakinya berjingkat, pelan-pelan dibimbingnya batang kelakianku dengan tangan kirinya, ke arah lubang kemaluannya. Dengan lambat diturunkannya pantatnya sehingga sedikit demi sedikit batang penisku menerobos masuk liang kemaluan Mbak Wulan. Pantatnya terus menurun sampai seluruh batang kejantananku hilang di dalam lubang kenikmatannya.

Kemudian dengan sangat pelan Mbak Wulan menggerakkan pantatnya naik turun. Aku merasakan kehangatan liang kewanitaaan Mbak Wulan menyelimuti batang kelakianku. Tangan Mbak Wulan bertumpu pada kedua lututnya. Gerakan pantatnya naik turun teratur dengan lembut sekali. Aku merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah aku alami. Aku melihat Mbak Wulan terpejam merasakan kenikmatan yang sama. Tanganku mengarah ke pantat Mbak Wulan, aku belai lembut bukit pantatnya yang padat dan kenyal itu. Tanpa terasa dari mulutku keluar erangan kenikmatan.

“Ohhhh… Mbak Wulan… ohhhhh… Mbak Wulan”

Sepertinya eranganku ini malah menambah birahi Mbak Wulan. Dia sedikit mengubah posisi, sekarang pantatnya menduduki pahaku, kakinya dilipat ke belakang dan lututnya bertumpu di kasur. Dengan demikian seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam liang kewanitaan Mbak Wulan. Sekarang pantat Mbak Wulan bergerak maju mundur. Tangan Mbak Wulan mulai meremas buah dadanya sendiri dan kepalanya mendongak ke belakang sambil matanya terus terpejam. Pantatnya bergerak berirama maju mundur. Sungguh pemandangan yang sangat indah, aku tidak akan pernah melupakannya sampai detik ini.

Gerakan pantat Mbak Wulan semakin cepat dan kuat. Tangannya masih meremas payudaranya dan kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan dengan liar. Rambut Mbak Wulan yang lurus sebahu itu ikut tergerai mengikuti gerakan kepalanya. Mulutnya terbuka dan lidahnya tampak menjilati bibirnya yang tipis itu dengan sensual. Sesekali terdengar desahan dari mulutnya.

“Ohhhhh… ooohhhh… aaahhhh… ahhhhh…”

Aku merasakan gesekan dinding liang senggama Mbak Wulan di kepala penisku yang sangat sensitif itu. Sungguh nikmat tak terkatakan. Aku tahu sebentar lagi aku akan mencapai klimaksnya. Dan sepertinya demikian juga dengan Mbak Wulan. Tubuhnya mulai menegang. Tiba-tiba Mbak Wulan merebahkan tubuhnya menindih tubuhku, kakinya diselonjorkan. Pahanya mengatup rapat sehingga batang kemaluanku terjepit di antara kedua bibir kemaluannya. Mbak Wulan menciumi bibirku dan segera aku balas dengan tak kalah liarnya. Pantat Mbak Wulan melakukan gerakan memutar sambil menindih tubuhku. Aku merasakan kenikmatanku akan mencapai puncaknya. Tubuh Mbak Wulan sudah gemetaran hebat tapi dia terus memutar pantatnya tanpa mengangkatnya. Aku sudah tak tahan lagi, bemdunganku jebol saat itu tak tahan menghadapi letusan air maniku. Aku melenguh keras.

“Oooooooohhhhhhhhhhh………”

Sedetik kemudian giliran Mbak Wulan yg mendesis panjang.

“Sssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… aaaaarrrrggggghhhhhhh….”

Kami sama-sama merengkuh kenikmatan lahir bathin. Sungguh perasaan puas yang aku rasakan saat itu. Aku sama sekali tidak menyesal kehilangan keperjakaanku ditukar dengan kenikmatan yang sudah diberikan Mbak Wulan kepadaku. Tubuh Mbak Wulan masih menindihku. Kami masih bercumbu dan saling berciuman mesra. Aku belai rambut Mbak Wulan, aku kecup mata Mbak Wulan yang terpejam. Di dekat telinganya aku bisikan kata-kata.

“Makasih Mbak Wulan.”

“Mestinya aku yang makasih Ben,” Mbak Wulan balas membisik.

“Kamu baru pertama kali ini gituan ama perempuan ya Ben?”

“He eh Mbak,” jawabku lirih dengan sedikit malu.

“Ndak nyesel kamu kehilangan ngasih keperjakaanmu sama Mbak?”

“Sama sekali ndak Mbak. Kalau aku punya lima aku rela semuanya buat Mbak Wulan,” aku mulai berani menggoda.

“Huuu…. dasar bocah gemblung,” tukas Mbak Wulan dengan bahasanya yang medok.

“Cuci dulu yuk ah,” Mbak Wulan bangkit sambil tak lupa menghadiahkan kecupan di pipiku.

Kami pun berdua masuk kamar mandi sambil telanjang.

Selesai cuci di kamar mandi kami kembali berpakaian. Kami sempat makan mie ayam yang kebetulan lewat di depan rumah. Memang perut jadi lapar setelah “pendidikan jasmani” tadi. Sambil makan kami berbincang ngalor ngidul sambil bercanda seperti yang biasanya kami lakukan. Selesai makan, kami duduk di sofa.

“Mbak punya video yang kayak tadi ndak?”

“Kamu pengen nonton yang apa Ben?” jawab Mbak Wulan tanpa canggung lagi.

“Sembarang aja Mbak, yang menurut Mbak bagus aja.”

Mbak Wulan kemudian masuk kamarnya, aku dengar kunci lemari dibuka. Mbak Wulan keluar kamar sambil membawa satu kaset video.

“Ini aja Ben, Mbak juga belum nonton, ndak tahu bagus apa ndak.”

Mbak Wulan menghidupkan TV dan videonya. Kami duduk berdampingan sambil berdekapan. Ternyata yang diputar Mbak Wulan adalah BF barat. Isinya kebanyakan orang masturbasi, ada cewek dan cowok. Kami tonton saja apa yang ada sambil kami ngobrol-obrol. Aku mulai berani bertanya hal-hal yang pribadi-pribadi ama Mbak Wulan. Tentang seks juga aku tanyain. Mbak Wulan orangnya terbuka.

Dia cerita kalau Mas Har, suaminya, orangnya sangat kolot soal seks. Mereka melakukannya hampir tanpa variasi, bahkan oral seks seperti yang kami lakukan tadi, sudah tidak pernah mereka lakukan sejak beberapa tahun terakhir ini. Padahal mereka menikah sudah 5 thn. Kebalikannya, Mbak Wulan sangat menikmati variasi seks. Dia bahkan mengaku kalau sering masturbasi sendiri untuk melampiaskan fantasi seksnya. Makanya dia tadi begitu menikmatinya bersama aku.

Sambil omong-omong kami terus nonton video. Pas adegannya seorang cowok onani. Kayaknya Mbak Wulan sangat menyukainya. Dia sangat memperhatikan sang cowok mengocok penisnya sendiri.

“Mbak terangsang ya lihat cowok ngocok?”

“Iya Ben… Mbak paling terangsang lihat orang laki ngocok, kayaknya nikmat banget. Kamu pernah ngocok kan Ben?”

“Eh… iya Mbak kalau pas kepengen banget ya aku ngocok.”

Mbak Wulan terdiam, dia melanjutkan menikmati adegan si cowok. Sebetulnya aku kurang suka lihat adegan itu, tapi aku diam saja demi Mbak Wulan. Mendekati klimaksnya Mbak Wulan makin gelisah. Aku masih diam saja. Terus si cowok sampai klimaksnya, aku lirik Mbak Wulan sudah sangat terangsang, lidahnya menjilati bibirnya sendiri. Melihat reaksi Mbak Wulan aku jadi agak terangsang. Aku cium lembut bibir Mbak Wulan, dia pun membalasnya. Beberapa saat kami saling berciuman.

Adegan di video sudah berganti, sekarang giliran seorang cewek yang masturbasi. Tangannya meremas buah dadanya yang luar biasa gede, sambil tangan satunya menggosok kemaluannya. Sekarang giliran aku yang terangsang. Aku memang suka melihat adegan cewek masturbasi. Menurutku itu seksi sekali. Mataku tak lepas dari layar TV. Rupanya Mbak Wulan memperhatikan aku.

“Kamu juga suka lihat cewek masturbasi ya Ben?”

“Iya Mbak, paling suka. Merangsang banget.”

“Pernah lihat langsung cewek masturbasi Ben?”

“Pernah gimana Mbak? Lihat cewek telanjang aja baru tadi ama Mbak kok.”

“Kamu mau lihat Mbak masturbasi?”

“Ya pasti mau banget Mbak.”

“Tapi ada syaratnya Ben. Mbak mau masturbasi di depanmu tapi kamu juga mesti ngocok di depan Mbak.”

Sebetulnya aku agak risih ngocok di depan wanita. Belum pernah sih. Tapi demi melihat Mbak Wulan masturbasi langsung di depanku terpaksa aku harus jalani.

“Mau Mbak,” jawabku lirih.

Kami pun kembali masuk ke kamar. Tanpa sungkan Mbak Wulan menelanjangi aku sampai aku bugil. Penisku sudah berdiri menantang. Tanpa di suruh akupun mencopoti pakaian Mbak Wulan satu demi satu sampai Mbak Wulan juga bugil di hadapanku. Kami saling memandangi tubuh bugil kami. Kemudian kami saling berciuman sebentar.

Mbak Wulan lalu tidur telentang di kasur. aku duduk di tepi ranjang memperhatikannya. Mbak Wulan mulai membelai seluruh tubuhnya sendiri. Mula-mula diremasnya buah dadanya yang sudah tegak berdiri itu. Kemudian kakinya membuka memperlihatkan seluruh kewanitaannya di hadapanku. Jari tangan kanannya mulai menggosok-gosok klitorisnya. Sungguh merangsang. Tak terasa aku pun mulai membelai kemaluanku yang tegang sedari tadi. Mata Mbak Wulan tak lepas dari aksiku, mataku pun tak lepas dari gosokan jari lentik Mbak Wulan di liang kemaluannya. Kami melakukan ini beberapa saat.

Kemudian Mbak Wulan merubah posisinya. Sekarang dia nungging membelakangi aku. Kepalanya disandarkan ke bantal, miring sehingga tetap bisa melihat ke arahku. Pahanya agak dikangkangkan. Lubang kewanitaannya terlihat jelas dari tempatku. Jari tangan kirinya mulai lagi menggosok selangkangannya dari bawah. Wow sungguh pemandangan yang sangat indah. Jarinya digerakkan masuk keluar lubang senggamanya. Mulutnya tak henti berdesah.

“Oooh… ooohhh… Ben… oooohhh…. kocok terus Ben ohhhh seksi sekali Ben”.

Pantat Mbak Wulan bergerak meliuk mengikuti gerakan jari tangannya. Kocokanku di penisku juga makin cepat. Kami terus saling mengagumi apa yang kami lakukan sampai beberapa menit berlalu. Hanya desahan dan erangan kenikmatan yang terdengar.

Mbak Wulan bangkit berdiri, sekarang dia berdiri di tepi ranjang, kaki kirinya diangkat bertumpu di tepi ranjang. Aku pun bangkit berdiri berhadapan dengan Mbak Wulan, kaki kananku juga aku angkat di tepi ranjang. Jarak kami kira-kira semeter. Mbak Wulan melanjutkan gosokan jari tangan kanannya di seputar kemaluannya. Aku pun mengimbangi dengan kocokan cepat pada penisku.

Mataku tak pernah berkedip sedetik pun dari aksi Mbak Wulan yang meliuk kenikmatan. Mata Mbak Wulan tak lepas dari penisku yang sedang aku kocok dengan keras. Tubuh Mbak Wulan menggelinjang dan meliuk seirama gosokan jarinya di lubang kewanitannya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya yang kian padat. Aku makin tak tahan menyaksikan Mbak Wulan, kocokanku di batang kemaluanku makin cepat dan kuat. Akhirnya pertahananku jebol juga.

“Uuuhhhhhhhhh croooots croooots…”

Air kenikmatanku menetes membasahi lantai kamar. Melihat itu Mbak Wulan maju selangkah mendekat. Dia membungkuk sambil tetap menggosok-gosok selangkangannya dengan kencang. Seluruh batang penisku dimasukkan kedalam mulutnya dan disedotnya dengan kuat. Tubuh Mbak Wulan bergetar hebat, tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya. Hanya hisapan panjang dan kuat yang aku rasakan di kemaluanku. Kenikmatan yang tiada tara aku alami saat itu.

Gosokan jari-jari lentik Mbak Wulan di organ kewanitaannya mulai melemah. Pelan-pelan dicopotnya penisku dari mulutnya. Aku maju mendekat dan kami saling berpelukan. Bibir Mbak Wulan aku lumat habis dan Mbak Wulan membalas dengan tidak kalah hebatnya. Kami berciuman untuk beberapa saat.

“Makasih Ben… Mbak benar-benar puas.”

“Aku juga Mbak.”

Sejak saat itu kami melakukan aktivitas secara rutin, biar pun tidak bisa dikatakan terlalu sering. Mbak Wulan banyak “mengajari” aku gaya-gaya yang belum pernah aku bayangkan. Dia adalah mentorku dalam hal sex. Tidak hanya praktek, tapi Mbak Wulan juga mengajari aku bagaimana caranya membuat wanita terpuaskan secara teori. Biasanya kami lakukan di rumah Mbak Wulan kalau pas tidak ada orang atau kadang juga di kamar hotel.





Pijat payudara

30 05 2009

Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina.

Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutang tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah terlihat nampak membusung.

“Van, Mau tolongin Tante”, katanya.

“Apa yang bisa saya bantu Tante”.

“Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa”.

“Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian”.

“Tante minta tolong dipijitin”, katanya.

“Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.

“Tante minta kamu memijit ini tante”, katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok.

Saat itu saya langsung grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.

“Van, kok diem mau nggak?”, tanya Tante Rina lagi.

Saat itu terasa penisku tegang sekali.

“Mau nggak?”, katanya sekali lagi.

Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus. Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merahan.

“Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.

Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan. Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi,

“Ahh.., ahh”.

Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku,

“Aahh, Van tolong remas lebih keras”.

Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.

“Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante”, katanya sambil napasnya tersengal-sengal.

Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.

“Van, hisap yang kuat sayang.., aah”, desah Tante Rina.

Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak,

“Lebih kuat lagi hisapannya”.

Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya Tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya Tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat. Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.

“Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan.

Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng,

“Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar..”

Tamat








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 329 pengikut lainnya.