Nafsu Binal Mbak Wulan

1 06 2009

Namaku Benny, peristiwa ini sudah terjadi lama, ketika aku masih SMA kelas 3. Saat itu aku masih perjaka ting-ting, main sabun adalah satu-satu-nya pelampiasan sexku. Aku punya seorang teman akrab, namanya Anton. Dia tinggal menumpang di rumah kakak lelakinya, Mas Har.

Orangtua Anton tinggal di kota kecil Ambon yang jaraknya kira-kira sejam perjalanan dari kotaku. Mas Har sudah beristri, namanya Mbak Wulan. Mereka belum dikaruniai momongan saat itu. Jadi serumah hanya ada mereka bertiga karena Mbak Wulan memang nggak punya pembantu.

Hubunganku dengan keluarga Anton (Mas Har & terutama Mbak Wulan) sudah sangat akrab. Mereka sudah seperti kakak kandung sendiri. Aku sering menginap di tempat Anton demikian pula sebaliknya. Jadi sudah tidak ada kecanggungan sama sekali di antara kami.

Mas Har orangnya agak pendiam, kebalikan dengan Mbak Wulan yang sangat bersahabat. Secara fisik Mbak Wulan tidaklah istimewa. Usianya saat itu sekitar 30 thn. Bodinya pun biasa saja, agak kecil malah. Tingginya sekitar 155 cm, badannya ramping. Kulitnya tidak terlalu putih tapi sangat mulus dan bersih karena dia rajin merawat tubuhnya. Wajahnya tidak terlampau cantik tapi cukup manis, lesung pipit selalu menghias pipinya. Yang paling menyenangkan dari Mbak Wulan adalah pembawaannya. Orangnya sangat ramah dan murah senyum. Diam-diam aku mengidolakan Mbak Wulan, kalau punya istri aku ingin yang seperti Mbak Wulan.

Saat itu aku sedang libur sekolah sehabis ujian. Pagi kira-kira jam 9 aku ke tempat Anton untuk mengajaknya main badminton. Aku masukkan Yamaha kesayanganku ke halaman rumah Anton. Mbak Wulan yang menyambutku di pintu sambil tersenyum.

“Anton mana Mbak?”

“Wah dia barusan pulang ke Ambon, kemarin sore di telpon ibu disuruh pulang. Kamu janjian sama dia, Ben?”

“Ndak Mbak, cuman mau ngajakin badminton kok. Ya sudah Mbak, aku pulang aja.”

Aku sudah hendak menstarter motorku lagi.

“Eh Ben, bisa bantu Mbak ndak? Itu video kasetnya kusut di dalam ndak bisa keluar. Mas Har kan sudah seminggu training di Jakarta, Mbak ndak berani betulin sendiri takut malah makin rusak”.

“Oke Mbak.”

Motor aku standardkan lagi dan aku bergegas masuk ke dalam. Aku langsung ke ruang tengah tempat TV dan videonya berada, ambil obeng di laci, terus aku bongkar itu video. (Tolong jangan ditertawakan ya, waktu itu memang belum ada yg namanya VCD). Mbak Wulan sudah masuk ke kamarnya lagi. Tidak sampai 10 menit kaset kusut yang terselip di rol dalam video itu sudah berhasil aku keluarkan, dan videonya sudah aku rapikan lagi. Aku buka laci tempat kaset video, aku comot sembarang kaset yang paling atas aja. Maksudku aku mau cobain, sudah bagus belum hasil “reparasi”ku.

Kaset aku masukin dan langusng aku Play. Ternyata yang aku comot tadi adalah kaset BF. Aku memang sudah tidak asing dengan film BF, maklum anak umur segitu. Kaset yang aku buat coba itu BF Asia, nggak tahu Thailand atau Filipina.

“Mumpung Mbak Wulan di kamar,” aku pikir sambil coba video aku lihat BF dulu soalya jarang lihat BF Asia.

Sekitar 5 menit aku nonton video, aku mulai terangsang juga, aku jadi agak lupa sama Mbak Wulan.

“Hayo, nonton apa?”

Suara lembut Mbak Wulan mengagetkan aku. Aku tidak sadar kalau Mbak Wulan sudah keluar dari kamarnya karena aku memang membelakangi pintunya sambil duduk di karpet bersandar di sofa. Aku buru-buru bangkit mau mematikan video sambil tersipu malu.

“Anu Mbak. cuman mau coba videonya, ambil kaset sembarang aja.”

“Jangan dimatikan Ben, Mbak juga mau nonton ah, temeni ya?” Mbak Wulan berkata dengan nada menggodaku.

Akhirnya kami berdua nonton BF sambil duduk di karpet bersandarkan sofa yang empuk. Mula-mula aku salah tingkah juga karena kehadiran Mbak Wulan. Tapi lama-lama terbawa oleh panasnya adegan di video, aku jadi lupa akan Mbak Wulan yang berjarak kurang dari semeter di kiriku. Aku sudah terangsang dan tanpa bisa dikomando, penisku sudah menegang dengan sendirinya. Pikiranku sudah betul-betul dimabokkan oleh tubuh-tubuh berkeringat yang ada di pandanganku. Tak sedetik pun aku mengalihkan tatapanku dari layar TV. Apalagi saat adegan blow job diperagakan si cewek terhadap si cowok.

“Ben, .. kamu pengin diemut kayak gitu?”

Suara lembut Mbak Wulan yang medok bahasa Jawanya membuat aku terkejut. Tanpa sadar aku cuman bisa mengangguk pelan. Mbak Wulan beringsut mendekatiku dan dengan kode tangannya menyuruh aku duduk di sofa. Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja duduk di sofa. Celana olahragaku yang komprang dan CD-ku dipelorotkan oleh Mbak Wulan dengan sekali sentakan. Aku sudah tidak ingat lagi siapa Mbak Wulan itu. Batang penisku sudah berdiri tegak. Kepalanya sudah berwarna merah tua tanda darah sudah mengumpul disitu. Lendir sudah membasahi kepala penisku sehingga tampak makin mengkilap.

Sambil masih bersimpuh di karpet di hadapanku, jari-jari lentik Mbak Wulan mulai mengelus batang kemaluanku. Tanpa berkata-kata lagi Mbak Wulan mulai menciumi batang penisku. Lidahnya mulai menari-nari. Dimulai dari bawah di kantong bijiku, lidah Mbak Wulan menggelitik terus merambat ke atas sampai di kepala penisku. Sampai disana, Mbak Wulan memasukkan penisku ke mulutnya, dihisap sedikit. Lalu dikeluarkan lagi dan dia mulai menjilati dari kantong bijiku lagi. Begitu seterusnya sampai tak seinci pun kulit kemaluanku yang tidak dijamah oleh lidah gesit Mbak Wulan. Kadang Mbak Wulan harus bergeser sedikit demi menikmati seluruh permukaan penisku.

Aku betul-betul lupa segalanya. Yang kuingat hanya kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa kegelian karena jilatan lembut Mbak Wulan di penisku. Rasa geli bercampur kenikmatan sampai terasa di ujung jari kakiku. Nafasku mulai memburu. Aku tahu tidak lama lagi penisku akan memuntahkan lahar panasnya.

Tiba-tiba Mbak Wulan merubah gayanya. Sekarang dia memasukkan seluruh batang kemaluanku yang memang tidak terlampau besar itu ke dalam mulutnya yang mungil. Lidahnya terus menggelitik tongkat kenikmatanku yang ada di dalam mulutnya. Aku makin tak tahan dan mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Rupanya Mbak Wulan merasakan tubuhku makin menegang. Mulut dan lidahnya masih sibuk dengan penisku, tangan kirinya mengelus lembut perut bagian bawahku dan jari-jari tangan kanannya meremas serta menggelitik kantong bijiku.

Kepalanya digerakkan mengangguk-angguk sehingga kulit penisku yang sudah sangat sensitif tergesek-gesek bibirnya yang tipis itu.

Makin lama gerakan anggukannya makin cepat. Aku sudah tidak punya pertahanan apa-apa lagi. Tanganku sudah meremas lembut rambut Mbak Wulan sambil sesekali menekan kepala Mbak Wulan. Gerakan kepala Mbak Wulan makin menggila.

“Ahhhhhhhhhhh crotttt crooot crooot”

Aku rasakan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata sambil menyemburkan maniku di dalam mulut Mbak Wulan. Mbak Wulan tampaknya tidak terkejut dengan semburan itu, dia terus saja menggerakkan kepalanya sambil menyedot air maniku. Kenikmatan itu masih belum menghilang sekalipun ejakulasiku sudah tuntas. Mbak Wulan masih terus menghisap penisku tanpa sekali pun pernah mengeluarkannya dari mulut mungilnya. Setelah beberapa saat demikian teganganku mulai menurun. Gerakan kepala Mbak Wulan juga mulai melemah. Dengan gerakan sangat pelan dan lembut, bibirnya tetap mengatup batang kemaluanku, Mbak Wulan mengangkat kepalanya sampai seluruh penisku terlepas dari mulutnya.

Ah, aku betul-betul merasa di puncak surga dunia. Ini untuk pertama kalinya aku di blow job. Penisku masih berdiri sekali pun sudah tidak setegang tadi, mengkilap karena air liur Mbak Wulan tanpa ada tanda setetespun dari air maniku. Mbak Wulan memandangku tersenyum sambil bergerak bangkit duduk di sampingku. Dia mencium pipiku dengan mesra aku pun membalasnya.

“Makasih Mbak, tadi nikmat sekali. Mbak Wulan pinter.”

“Mbak juga seneng kok Ben, pejuhmu enak, ndak amis. Kamu baru pertama kali ini diemut ya Ben?”

“Iya Mbak,” jawabku malu-malu.

Kami meneruskan nonton BF yang memang belum selesai sambil duduk berpelukan. Kadang-kadang kami saling berciuman dengan mesra, tapi aku masih belum berani menjamah Mbak Wulan. Kalau ingat saat itu aku suka geli sendiri. Bagaimana tidak, kami duduk berdampingan, Mbak Wulan masih berpakaian lengkap daster baby-doll, sedangkan aku masih telanjang celana tapi masih pakai kaos olahraga.

Kami terus menikmati adegan demi adegan di layar kaca sambil duduk berpelukan di sofa itu. Saling cium mesra menjadi bumbu menonton kami. Makin lama aku mulai terangsang lagi. Penisku mulai berdiri lagi. Mbak Wulan rupanya memperhatikan hal ini. Tangan kirinya mulai mengelus lembut batang kemaluanku yg baru saja dipuaskan dgn gelitikan lidahnya. Tiba-tiba Mbak Wulan bangkit berdiri dan mematikan video dan TV.

“Kita ke kamar yuk Ben,” ajaknya.

Kami masuk kamar berdua. Lucu juga. Mbak Wulan menarik penisku yang sudah tegak berdiri sambil membimbingku masuk kamarnya.

“Kaosmu copot aja Ben”

Aku pun melepas satu-satu busana yang masih melekat di badanku. Agak malu juga aku telanjang bulat di hadapan Mbak Wulan.

“Mbak Wulan copot juga dong pakaiannya,” pintaku

Tanpa bicara sepatahpun Mbak Wulan mulai melepas baju dasternya. Terlihat kulit mulus pundak dan sebagian perut Mbak Wulan yang rata tanpa lemak sedikitpun. Dia masih mengenakan BH warna krem. Kedua tangannya menjulur ke punggungnya mencopot kaitan BHnya. Perlahan dilepasnya BH krem itu. Wow!. Sungguh pemandangan yang indah. Untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung buah dada wanita. Biasanya aku hanya lihat di video atau foto saja. Buah dada Mbak Wulan tidak terlalu besar, seimbang dengan tubuhnya yang ramping itu. Putingnya kecil sebesar kismis, berwarna coklat tua. Tampak kedua puting Mbak Wulan sudah mengeras. Perlahan dengan sengaja sambil menghadap aku, Mbak Wulan membelai payudaranya, kedua tangannya menopang buah dadanya sambil diangkatnya sedikit. Sungguh pemandangan yang merangsang kelakianku.

Kemudian Mbak Wulan melepaskan celana baby-dollnya sekalian dengan CD nya. Sambil agak meliukkan tubuhnya kedua tangannya memelorotkan celananya. Mbak Wulan sudah bertelanjang bulat di hadapanku. Sungguh pemandangan yang sangat menggiurkan. Kulit tubuh Mbak Wulan, sekalipun tidak terlalu putih tapi sangat mulus. Bulu kemaluan Mbak Wulan sangat tipis dan jarang. Aku terus mengagumi tubuh polos Mbak Wulan. Kayaknya Mbak Wulan agak malu juga aku perhatikan seperti itu. Dia berjalan mendekatiku dan memelukku dari depan. Kami saling berciuman. Bibirku melumat bibir Mbak Wulan yang mungil tipis itu. Lidah kami saling menggelitik. Tubuh kami saling lengket. Buah dada Mbak Wulan yang ternyata sangat padat sekalipun tidak besar menekan keras dadaku. Bulu kemaluannya menggosok geli pahaku.

Kemudian Mbak Wulan melapaskan pelukannya terus berbaring telentang di tengah tempat tidur. Dengan tangannya dia memberi kode agar aku berbaring di sisinya. Tanpa perlu disuruh dua kali aku langsung menurutinya. Sambil berbaring aku mencium bibir Mbak Wulan. Aku mulai berani menjamah tubuh Mbak Wulan. Mula-mula aku belai pundaknya. Tanganku terus mengarah ke buah dadanya. Aku belai lembut payudara Mbak Wulan yang padat itu. Sekali-kali aku remas dengan mesra, sambil kami terus berciuman. Tangan Mbak Wulan membelai lembut punggungku.

Aku lepaskan bibirku dari bibir Mbak Wulan. Aku mulai mempraktekan apa yang sering aku lihat di film-film BF. Aku mulai menciumi leher Mbak Wulan. Tangan kiriku masih meremas-remas buah dada kanan Mbak Wulan. Kadang-kadang putingnya yang sudah mengeras aku pelintir-pelintir dengan telunjuk dan ibu jariku. Mbak Wulan menanggapinya dengan desahan-desahan lembut yang merangsang.

“Ahhhh… Ohhhhh… iya… iya… iya Ben… uuuhhh”

Aku makin PD meneruskan aksiku. Sepertinya Mbak Wulan menyukai apa yang aku lakukan. Ciumanku mulai aku arahkan lebih ke bawah, ke arah payudaranya. Aku jilat-jilat bukit dada Mbak Wulan.

“Ohhhh… iya Ben… uhhhh terus… terus… isep tetek Mbak… ohhh Ben .. iya”

Aku mengikuti instruksi Mbak Wulan. Aku hisap lembut puting susu Mbak Wulan yang sebelah kiri sambil memelintir putingnya yang kanan. Mbak Wulan meliuk kenikmatan.

“Iya… iya… gitu… terus Ben… Be … ahhhhh…”

Kemudian aku balik permainanku. Puting yang kanan yang aku jilat dan hisap dan yang kiri aku mainkan dengan jari-jariku. Mbak Wulan makin menggelinjang.

“Sshhhhh shhhhhh… ahhhh… uhhhhh iya… iya… ohhh…”

Tiba-tiba Mbak Wulan duduk lalu merangkak. Kepalanya mengarah ke penisku yang memang sudah tegak sedari tadi. Mulutnya langsung mencium penisku dan mengulumnya. Lidahnya menggelitik kepala penisku yang ada di mulutnya. Kakinya mulai beringsut sedikit demi sedikit. Kemudian Mbak Wulan mulai mengangkang tepat di depan mukaku yang masih telentang itu. Sungguh pemandangan yang indah. Aku yang belum pernah melihat kemaluan wanita secara langsung bisa menikmati punya Mbak Wulan dari jarak cuman sejengkal. Bibir kemaluan Mbak Wulan sungguh tipis, liang kenikmatannya sedikit menganga, berwarna merah tua dan berlendir. Klitorisnya sudah berdiri mengeras sebesar kacang hijau. Warnanya merah pink. Aku mengangkat kepalaku, langsung aku ciumin kemaluan Mbak Wulan. Baunya agak amis tapi tidak membuat mual, persis seperti bau daging segar.

Aku mainkan lidahku di seputar lubang senggama Mbak Wulan.

“Ohhhh… ahhhh iya Ben.. terus… terus Ben… ahhhh… jilati tempik Mbak…”

Aku memang tidak bermaksud berhenti dari aksi lidahku itu. Seluruh permukaan kemaluan Mbak Wulan aku ciumi dan jilati. Kadang-kadang lidahku aku sodorkan ke dalam lubang kenikmatan Mbak Wulan sambil aku gelitik pelan. Aku rasakan tubuh Mbak Wulan sedikit gemetar. Aku lanjutkan aksiku, kedua tanganku membelai dan meremas pantat Mbak Wulan yang kenyal itu. Kemaluan Mbak Wulan makin terasa berlendir bercampur dengan air liurku.

“Sshhhh… shhhhh… ahhhh… ahhhhh… jilati itilnya Ben .. ahhhh ahhhhh…”

Entah perasaanku saja atau memang demikian, aku lihat klitoris Mbak Wulan sedikit lebih besar dari awalnya. Aku segera menggelitiknya dengan lidahku. Aku tarik bantal di dekatku aku topangkan di belakang kepalaku. Posisiku makin nyaman untuk menikmati seluruh permukaan kemaluan Mbak Wulan. Penisku masih di peras-peras oleh mulut Mbak Wulan. Dia hanya berhenti sekali-kali hanya untuk mengeluarkan desahan-desahan kenikmatan.

“Uuhhh… uhhhh… shhhhh… iya… iya… ohhh nikmaaat .. terus… terus…”

Kami terus di posisi itu beberapa saat. Tubuh Mbak Wulan mulai menegang, desahannya makin menggila. Sedotan mulut Mbak Wulan di penisku juga makin menguat. Lidahku makin giat menari mengitari lubang kemaluan Mbak Wulan. Sodoran lidahku ke liang kenikmatan Mbak Wulan semakin dalam. Tiba-tiba tubuh Mbak Wulan mengejang gemetaran. Selangkangannya menekan kuat ke wajahku sampai aku hampir-hampir tak bisa bernapas. Lidahku masih di dalam liang kenikmatan Mbak Wulan. Aku tidak bisa bergerak kecuali menjulur-julurkan lidahku semakin dalam. Tubuh Mbak Wulan gemetaran makin hebat, himpitan di wajahku semakin kuat, aku semakin tidak bisa bernapas.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhh hhh…….”

Mbak Wulan melenguh panjang sambil berbarengan aku rasakan makin banyak lendir yang meleleh keluar dari liang senggama Mbak Wulan. Lendir itu membasahi bibirku dan sekitar mulutku. Lidahku makin aku julurkan seakan menyambut lendir kenikmatan itu. Aku cengkeram pantat mulus Mbak Wulan dengan kedua tanganku. Tubuh Mbak Wulan sudah kaku  diam tak bergerak. Hanya gemetaran dan suara lenguhan keras yang masih menandakan kehidupan di tubuh Mbak Wulan.

“Ooooooooooohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…”

Tak berapa lama kemudian tubuh Mbak Wulan berangsur melemas. Otot-otot yang tadi mengejang sudah mulai kendur. Perlahan-lahan Mbak Wulan mengangkat selangkangannya dari wajahku. Dengan lembut Mbak Wulan beringsut dan berbaring di sisiku. Diciumnya bibirku dan sekitar mulutku yang belepotan lendir kenikmatannya.

“Makasih Ben… Mbak nikmat sekali… kamu memang jago Ben,” bisik lembut Mbak Wulan di telingaku.

Aku menjawab dengan kecupan lembut di pipinya. Selama ini aku pikir kenikmatan yang paling puncak adalah saat aku ejakulasi seperti ketika di blow job oleh Mbak Wulan di sofa tadi. Ternyata aku keliru, aku justru merasa nikmat secara batin ketika mendengar bisikan lembut Mbak Wulan, lebih dari sekedar kenikmatan badani saat ejakulasi. Dan saat itu aku belum ejakulasi, penisku masih tegak menantang, tapi secara batin aku sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa, belum pernah aku rasakan sebelumnya

Aku mulai mencumbu Mbak Wulan lagi. Payudaranya kembali aku cium dan hisap dengan mulutku. Tampaknya Mbak Wulan sangat menikmatinya. Matanya terpejam, bibirnya menyungging senyum penuh kepuasan. Tangan Mbak Wulan mulai membelai-belai penisku yang memang masih berdiri. Dikocoknya lambat-lambat sambil kadang diremas lembut. Aku mengimbangi dengan menggosok klitoris Mbak Wulan dengan jari tengahku. Kami masih saling raba dan remas seperti ini untuk beberapa saat. Sepertinya Mbak Wulan mulai terangsang lagi. Tubuhnya meliuk mengikuti gosokan jariku di liang kenikmatannya.

Mbak Wulan lalu bangkit, dia berjongkok di atas selangkanganku. Dari sela-sela bulu kemaluannya yang memang tipis dan jarang itu aku bisa mengintip lubang senggama Mbak Wulan sudah menganga merindukan penisku. Dengan masih berjongkok sambil kakinya berjingkat, pelan-pelan dibimbingnya batang kelakianku dengan tangan kirinya, ke arah lubang kemaluannya. Dengan lambat diturunkannya pantatnya sehingga sedikit demi sedikit batang penisku menerobos masuk liang kemaluan Mbak Wulan. Pantatnya terus menurun sampai seluruh batang kejantananku hilang di dalam lubang kenikmatannya.

Kemudian dengan sangat pelan Mbak Wulan menggerakkan pantatnya naik turun. Aku merasakan kehangatan liang kewanitaaan Mbak Wulan menyelimuti batang kelakianku. Tangan Mbak Wulan bertumpu pada kedua lututnya. Gerakan pantatnya naik turun teratur dengan lembut sekali. Aku merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah aku alami. Aku melihat Mbak Wulan terpejam merasakan kenikmatan yang sama. Tanganku mengarah ke pantat Mbak Wulan, aku belai lembut bukit pantatnya yang padat dan kenyal itu. Tanpa terasa dari mulutku keluar erangan kenikmatan.

“Ohhhh… Mbak Wulan… ohhhhh… Mbak Wulan”

Sepertinya eranganku ini malah menambah birahi Mbak Wulan. Dia sedikit mengubah posisi, sekarang pantatnya menduduki pahaku, kakinya dilipat ke belakang dan lututnya bertumpu di kasur. Dengan demikian seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam liang kewanitaan Mbak Wulan. Sekarang pantat Mbak Wulan bergerak maju mundur. Tangan Mbak Wulan mulai meremas buah dadanya sendiri dan kepalanya mendongak ke belakang sambil matanya terus terpejam. Pantatnya bergerak berirama maju mundur. Sungguh pemandangan yang sangat indah, aku tidak akan pernah melupakannya sampai detik ini.

Gerakan pantat Mbak Wulan semakin cepat dan kuat. Tangannya masih meremas payudaranya dan kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan dengan liar. Rambut Mbak Wulan yang lurus sebahu itu ikut tergerai mengikuti gerakan kepalanya. Mulutnya terbuka dan lidahnya tampak menjilati bibirnya yang tipis itu dengan sensual. Sesekali terdengar desahan dari mulutnya.

“Ohhhhh… ooohhhh… aaahhhh… ahhhhh…”

Aku merasakan gesekan dinding liang senggama Mbak Wulan di kepala penisku yang sangat sensitif itu. Sungguh nikmat tak terkatakan. Aku tahu sebentar lagi aku akan mencapai klimaksnya. Dan sepertinya demikian juga dengan Mbak Wulan. Tubuhnya mulai menegang. Tiba-tiba Mbak Wulan merebahkan tubuhnya menindih tubuhku, kakinya diselonjorkan. Pahanya mengatup rapat sehingga batang kemaluanku terjepit di antara kedua bibir kemaluannya. Mbak Wulan menciumi bibirku dan segera aku balas dengan tak kalah liarnya. Pantat Mbak Wulan melakukan gerakan memutar sambil menindih tubuhku. Aku merasakan kenikmatanku akan mencapai puncaknya. Tubuh Mbak Wulan sudah gemetaran hebat tapi dia terus memutar pantatnya tanpa mengangkatnya. Aku sudah tak tahan lagi, bemdunganku jebol saat itu tak tahan menghadapi letusan air maniku. Aku melenguh keras.

“Oooooooohhhhhhhhhhh………”

Sedetik kemudian giliran Mbak Wulan yg mendesis panjang.

“Sssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… aaaaarrrrggggghhhhhhh….”

Kami sama-sama merengkuh kenikmatan lahir bathin. Sungguh perasaan puas yang aku rasakan saat itu. Aku sama sekali tidak menyesal kehilangan keperjakaanku ditukar dengan kenikmatan yang sudah diberikan Mbak Wulan kepadaku. Tubuh Mbak Wulan masih menindihku. Kami masih bercumbu dan saling berciuman mesra. Aku belai rambut Mbak Wulan, aku kecup mata Mbak Wulan yang terpejam. Di dekat telinganya aku bisikan kata-kata.

“Makasih Mbak Wulan.”

“Mestinya aku yang makasih Ben,” Mbak Wulan balas membisik.

“Kamu baru pertama kali ini gituan ama perempuan ya Ben?”

“He eh Mbak,” jawabku lirih dengan sedikit malu.

“Ndak nyesel kamu kehilangan ngasih keperjakaanmu sama Mbak?”

“Sama sekali ndak Mbak. Kalau aku punya lima aku rela semuanya buat Mbak Wulan,” aku mulai berani menggoda.

“Huuu…. dasar bocah gemblung,” tukas Mbak Wulan dengan bahasanya yang medok.

“Cuci dulu yuk ah,” Mbak Wulan bangkit sambil tak lupa menghadiahkan kecupan di pipiku.

Kami pun berdua masuk kamar mandi sambil telanjang.

Selesai cuci di kamar mandi kami kembali berpakaian. Kami sempat makan mie ayam yang kebetulan lewat di depan rumah. Memang perut jadi lapar setelah “pendidikan jasmani” tadi. Sambil makan kami berbincang ngalor ngidul sambil bercanda seperti yang biasanya kami lakukan. Selesai makan, kami duduk di sofa.

“Mbak punya video yang kayak tadi ndak?”

“Kamu pengen nonton yang apa Ben?” jawab Mbak Wulan tanpa canggung lagi.

“Sembarang aja Mbak, yang menurut Mbak bagus aja.”

Mbak Wulan kemudian masuk kamarnya, aku dengar kunci lemari dibuka. Mbak Wulan keluar kamar sambil membawa satu kaset video.

“Ini aja Ben, Mbak juga belum nonton, ndak tahu bagus apa ndak.”

Mbak Wulan menghidupkan TV dan videonya. Kami duduk berdampingan sambil berdekapan. Ternyata yang diputar Mbak Wulan adalah BF barat. Isinya kebanyakan orang masturbasi, ada cewek dan cowok. Kami tonton saja apa yang ada sambil kami ngobrol-obrol. Aku mulai berani bertanya hal-hal yang pribadi-pribadi ama Mbak Wulan. Tentang seks juga aku tanyain. Mbak Wulan orangnya terbuka.

Dia cerita kalau Mas Har, suaminya, orangnya sangat kolot soal seks. Mereka melakukannya hampir tanpa variasi, bahkan oral seks seperti yang kami lakukan tadi, sudah tidak pernah mereka lakukan sejak beberapa tahun terakhir ini. Padahal mereka menikah sudah 5 thn. Kebalikannya, Mbak Wulan sangat menikmati variasi seks. Dia bahkan mengaku kalau sering masturbasi sendiri untuk melampiaskan fantasi seksnya. Makanya dia tadi begitu menikmatinya bersama aku.

Sambil omong-omong kami terus nonton video. Pas adegannya seorang cowok onani. Kayaknya Mbak Wulan sangat menyukainya. Dia sangat memperhatikan sang cowok mengocok penisnya sendiri.

“Mbak terangsang ya lihat cowok ngocok?”

“Iya Ben… Mbak paling terangsang lihat orang laki ngocok, kayaknya nikmat banget. Kamu pernah ngocok kan Ben?”

“Eh… iya Mbak kalau pas kepengen banget ya aku ngocok.”

Mbak Wulan terdiam, dia melanjutkan menikmati adegan si cowok. Sebetulnya aku kurang suka lihat adegan itu, tapi aku diam saja demi Mbak Wulan. Mendekati klimaksnya Mbak Wulan makin gelisah. Aku masih diam saja. Terus si cowok sampai klimaksnya, aku lirik Mbak Wulan sudah sangat terangsang, lidahnya menjilati bibirnya sendiri. Melihat reaksi Mbak Wulan aku jadi agak terangsang. Aku cium lembut bibir Mbak Wulan, dia pun membalasnya. Beberapa saat kami saling berciuman.

Adegan di video sudah berganti, sekarang giliran seorang cewek yang masturbasi. Tangannya meremas buah dadanya yang luar biasa gede, sambil tangan satunya menggosok kemaluannya. Sekarang giliran aku yang terangsang. Aku memang suka melihat adegan cewek masturbasi. Menurutku itu seksi sekali. Mataku tak lepas dari layar TV. Rupanya Mbak Wulan memperhatikan aku.

“Kamu juga suka lihat cewek masturbasi ya Ben?”

“Iya Mbak, paling suka. Merangsang banget.”

“Pernah lihat langsung cewek masturbasi Ben?”

“Pernah gimana Mbak? Lihat cewek telanjang aja baru tadi ama Mbak kok.”

“Kamu mau lihat Mbak masturbasi?”

“Ya pasti mau banget Mbak.”

“Tapi ada syaratnya Ben. Mbak mau masturbasi di depanmu tapi kamu juga mesti ngocok di depan Mbak.”

Sebetulnya aku agak risih ngocok di depan wanita. Belum pernah sih. Tapi demi melihat Mbak Wulan masturbasi langsung di depanku terpaksa aku harus jalani.

“Mau Mbak,” jawabku lirih.

Kami pun kembali masuk ke kamar. Tanpa sungkan Mbak Wulan menelanjangi aku sampai aku bugil. Penisku sudah berdiri menantang. Tanpa di suruh akupun mencopoti pakaian Mbak Wulan satu demi satu sampai Mbak Wulan juga bugil di hadapanku. Kami saling memandangi tubuh bugil kami. Kemudian kami saling berciuman sebentar.

Mbak Wulan lalu tidur telentang di kasur. aku duduk di tepi ranjang memperhatikannya. Mbak Wulan mulai membelai seluruh tubuhnya sendiri. Mula-mula diremasnya buah dadanya yang sudah tegak berdiri itu. Kemudian kakinya membuka memperlihatkan seluruh kewanitaannya di hadapanku. Jari tangan kanannya mulai menggosok-gosok klitorisnya. Sungguh merangsang. Tak terasa aku pun mulai membelai kemaluanku yang tegang sedari tadi. Mata Mbak Wulan tak lepas dari aksiku, mataku pun tak lepas dari gosokan jari lentik Mbak Wulan di liang kemaluannya. Kami melakukan ini beberapa saat.

Kemudian Mbak Wulan merubah posisinya. Sekarang dia nungging membelakangi aku. Kepalanya disandarkan ke bantal, miring sehingga tetap bisa melihat ke arahku. Pahanya agak dikangkangkan. Lubang kewanitaannya terlihat jelas dari tempatku. Jari tangan kirinya mulai lagi menggosok selangkangannya dari bawah. Wow sungguh pemandangan yang sangat indah. Jarinya digerakkan masuk keluar lubang senggamanya. Mulutnya tak henti berdesah.

“Oooh… ooohhh… Ben… oooohhh…. kocok terus Ben ohhhh seksi sekali Ben”.

Pantat Mbak Wulan bergerak meliuk mengikuti gerakan jari tangannya. Kocokanku di penisku juga makin cepat. Kami terus saling mengagumi apa yang kami lakukan sampai beberapa menit berlalu. Hanya desahan dan erangan kenikmatan yang terdengar.

Mbak Wulan bangkit berdiri, sekarang dia berdiri di tepi ranjang, kaki kirinya diangkat bertumpu di tepi ranjang. Aku pun bangkit berdiri berhadapan dengan Mbak Wulan, kaki kananku juga aku angkat di tepi ranjang. Jarak kami kira-kira semeter. Mbak Wulan melanjutkan gosokan jari tangan kanannya di seputar kemaluannya. Aku pun mengimbangi dengan kocokan cepat pada penisku.

Mataku tak pernah berkedip sedetik pun dari aksi Mbak Wulan yang meliuk kenikmatan. Mata Mbak Wulan tak lepas dari penisku yang sedang aku kocok dengan keras. Tubuh Mbak Wulan menggelinjang dan meliuk seirama gosokan jarinya di lubang kewanitannya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya yang kian padat. Aku makin tak tahan menyaksikan Mbak Wulan, kocokanku di batang kemaluanku makin cepat dan kuat. Akhirnya pertahananku jebol juga.

“Uuuhhhhhhhhh croooots croooots…”

Air kenikmatanku menetes membasahi lantai kamar. Melihat itu Mbak Wulan maju selangkah mendekat. Dia membungkuk sambil tetap menggosok-gosok selangkangannya dengan kencang. Seluruh batang penisku dimasukkan kedalam mulutnya dan disedotnya dengan kuat. Tubuh Mbak Wulan bergetar hebat, tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya. Hanya hisapan panjang dan kuat yang aku rasakan di kemaluanku. Kenikmatan yang tiada tara aku alami saat itu.

Gosokan jari-jari lentik Mbak Wulan di organ kewanitaannya mulai melemah. Pelan-pelan dicopotnya penisku dari mulutnya. Aku maju mendekat dan kami saling berpelukan. Bibir Mbak Wulan aku lumat habis dan Mbak Wulan membalas dengan tidak kalah hebatnya. Kami berciuman untuk beberapa saat.

“Makasih Ben… Mbak benar-benar puas.”

“Aku juga Mbak.”

Sejak saat itu kami melakukan aktivitas secara rutin, biar pun tidak bisa dikatakan terlalu sering. Mbak Wulan banyak “mengajari” aku gaya-gaya yang belum pernah aku bayangkan. Dia adalah mentorku dalam hal sex. Tidak hanya praktek, tapi Mbak Wulan juga mengajari aku bagaimana caranya membuat wanita terpuaskan secara teori. Biasanya kami lakukan di rumah Mbak Wulan kalau pas tidak ada orang atau kadang juga di kamar hotel.





Pijat payudara

30 05 2009

Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina.

Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutang tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah terlihat nampak membusung.

“Van, Mau tolongin Tante”, katanya.

“Apa yang bisa saya bantu Tante”.

“Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa”.

“Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian”.

“Tante minta tolong dipijitin”, katanya.

“Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.

“Tante minta kamu memijit ini tante”, katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok.

Saat itu saya langsung grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.

“Van, kok diem mau nggak?”, tanya Tante Rina lagi.

Saat itu terasa penisku tegang sekali.

“Mau nggak?”, katanya sekali lagi.

Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus. Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merahan.

“Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.

Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan. Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi,

“Ahh.., ahh”.

Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku,

“Aahh, Van tolong remas lebih keras”.

Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.

“Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante”, katanya sambil napasnya tersengal-sengal.

Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.

“Van, hisap yang kuat sayang.., aah”, desah Tante Rina.

Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak,

“Lebih kuat lagi hisapannya”.

Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya Tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya Tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat. Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.

“Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan.

Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng,

“Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar..”

Tamat





Ngentot Tante Arab

28 05 2009

Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggallah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.

Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.

Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.

Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.

Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.

Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.

Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.

Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.

”Bapak berminat? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.

Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.

“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.

“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi.

Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.

Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.

“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.

Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku,

“Boleh berkenalan? Namaku Jokaw”.

“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya.

Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.

Beberapa lagu telah dinyanyikan, dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.

“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.

“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.

Kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.

Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja, kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.

Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. Ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Di kota ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe, dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.

Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. Aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya,

“Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.

“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.

Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.

“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.

“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.

Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. Tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.

Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya, tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.

Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.

Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.

Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepalaku. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.

Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan,

“Sllruup..”.

Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.

Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.

Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih

“Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.

Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.

Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.

“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.

Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.

Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.

Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.

Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.

15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.

“Ouhh.. Jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kamu masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.

Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. Sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. Bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikuti gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.

Semenit kemudian..

“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.

Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.

“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”

Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. Pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.

“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.

Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. Dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan di penisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. Ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.

“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas, tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.

“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.

Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!

“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”

“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.

Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dan kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.

Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.

“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.

“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.

Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya, yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.

Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. Hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.

“Hmmhh..,” ia bergumam.

“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.

Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.

“I want more, honey!” kataku.

Kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.

Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.

Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.

“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.

Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.

“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.

Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.

Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan ku rangsang dia sampai mendekati puncaknya, yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.

Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. Tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.

Aku duduk di dadanya. Kini ia yang memberikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.

Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. Kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.

Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.

“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”

Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukkan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. Tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.

Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.

Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.

Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.

Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. Kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.

Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.

Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.

Kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.

“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.

Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.

Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. Kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. Dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.

Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.

Kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.

“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering.

Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.

“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.

Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.

“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah.

Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.

Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.

Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.

Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.

Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.

Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi. Kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.

Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.

Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat.

Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.

Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.

Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.

Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.

“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”

“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”

Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.

Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.

Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.

Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.

Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.

“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.

“Kapan kesini lagi, Pak? Kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.

Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.

Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternyata Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Timur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis.

Tamat





Multi Orgasme

23 05 2009

Saya adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, usia 32 tahun, tinggi saya 170 cm berat 60 kg, postur yang ideal dan seimbang katanya, nggak gendut, nggak kurus, cukuplah, agak putih bersih dan sehat, serta perkenalan saya dengan Indah yang begitu cantik, memukau dan seksi. Terima kasih buat kepada teman-teman atas emailnya, serta dengan maksud sekaligus menjawab dan merespose email teman-teman yang begitu banyak dan mengharapkan diteruskannya cerita saya ini, terutama bagaimana permainan sex kami, sehingga Indah dapat merasakan multi orgasme. Maka untuk menyambung cerita lanjutannya, terpaksa saya mengutip ulang sedikit cerita saya sebelumnya seperti dalam judul diatas, dengan penambahan cerita yang lebih terfokus.

*****

Setelah Indah duduk dan istirahat kamipun membuka percakapan, Indah begitu ramah dan pintar mengolah kata-kata sehingga suasana dan obrolan menjadi sempurna, dan akrab, inilah yang menjadi bagian terpenting bagi kami dalam mengolah permainan sex yang sempurna untuk menciptakan multi orgasme, karena percakapan dan pengenalan satu sama lain dapat memberikan dorongan terciptanya sex yang baik. Kekecewaan dia dengan suaminya yang kurang bisa memberikan kehangatan sangat dipengaruhi persoalan kurangnya komunikasi, tidak adanya keterbukaan, dan kelelahan suami dapat saja menyebabkan tidak harmonisnya hubungan sex yang seimbang, karena di lain pihak istri menjadi haus akan sentuhan dan kehangatan laki-laki, siapapun dia orangnya, yang penting bisa memberikan kehangatan.

Percakapan terus berlanjut, yang akhirnya aku arahkan pada situasi untuk menciptakan suasana yang tenang, dan romantis, kunyalakan radio dengan lagu-lagu yang lembut, yang bisa memberikan suasana damai, dan menyejukkan hati, dengan maksud untuk menghilangkan beban pikiran yang mungkin berada pada kami berdua.

Akhirnya rangsangan-rangsanganpun aku mulai dan Indah terlihat mendongak menahan birahi yang sudah semakin tinggi, terlihat bibirnya merekah basah, aku nggak tahan dan spontan kucium dan kulumat bibirnya, ternyata dibalas dengan buas oleh Indah, bibir kami menyatu dan lidah kami saling mengulum, tangan kami bergerilnya mencari titik-titik rangsang, ciumanpun berlangsung cukup lama, kemudian tanganku berusaha untuk membuka pakaian yang dikenakannya, bibirku beralih ke telinga Indah, dia pun berteriak.

“Aahh.. say geli.., geli say”

Tapi itu tidak kuhiraukan terus aku hisap-hisap lembut telinganya, kemudian bergeser ke belakang telinganya yang ternyata merupakan salah satu titik kelemahan Indah, dia begitu terangsang.

“Heemm say.. oaauu, geli, enak truss akkhh.., oouu.. geli say aaooww”

Dia trus merintih geli, enak katanya, bajunya terbuka langsung kulempar ke tepi.

“Wooww kamu benar-benar cantik, Say”

Putih mulus dengan payudara yang menantang yang tertutup BH hitam, kuraba kaitan BH-nya, kulepas dan wow putih mulus dengan dua bukit payudaranya yang menantang, ku sentuh putingnya yang sudah mengeras dan memerah.

“Aaahh.. aakhh”

Dia begitu semakin terangsang akibat telinga dan putingnya ku mainkan badannya liar mengelinjang keenakan.

“Ooouuhh say, teruss, enaak say”.

Indah terus mengeluh dan keenakan membuatku semakin terangsang untuk menikmati tubuhnya, kupindahkan bibir turun kebawah, kujilati lehernya yang putih mulus, kukecup berulang-ulang hingga dia kegelian, turun terus ke bawah kudapati putingnya, lalu kuhisap lembut, keras dan lembut lagi.

“Aaahh.. ouuhh teruss say.. enak sayy”.

Tampak putingnya sudah semakin memerah, kujilati dan kuhisap bergantian puting kanan lalu kekiri, seperti bayi yang kehausan, dia semakin menggelinjang liar tubuhnya, dan berteriak-teriak, tanganku juga turut aktif, kuraba perutnya halus ke tekan sedikit demi sedikit antara pusar dan memeknya, keras teraba dan tumbuh bulu-bulu halus disekitar itu. Kubuka celananya dan kupeloroti, tangan Indah turut membantu hingga aku tidak mengalami kesulitan untuk menelanjanginya. Lagi-lagi pemandangan yang sempurna, kulihat gundukan kecil menantang disela-sela selangkangannya, ditutupi CD warna hitam, kuraba, kujamah dan kuusap selangkangannya, pahanya halus mulus, dia semakin liar dan segera kubuka CD hitamnya kuraba dan ternyata sudah basah, dia begitu terangsang dan sangat menikmatinya, lama kumainkan itilnya, dengan jariku dia berteriak keras,

“Akkhh.. sayy enakk sayy” suaranya bergetar diiringi liarnya liuk-liuk tubuhnya, jariku liar keluar masuk kedalam memeknya kutekan lembut.

“Aoo.. enak.. ahh sayy, teruuss, aakkh”, dia nggak tahan.

Lama kumainkan jariku didalam dan menekan halus itilnya, dia trus mengeliat liar tubuhnya, kulepas bibirku dalam putingnya langsung kupapah dia menuju kasur dan merebahkan Indah duduk di tepi kasur, sambil berjongkok kuhisap itilnya, lidahku bermain di rongga memeknya dia melengguh panjang

“Akkhh.. say.. enak, say aku mau pipis nih akhh”

“Keluarkan”, jawabku karena kutahu itu adalah orgasme yang akan terjadi.

“Akkhh.. keluar sayy.. akk, enakk, ngilu.. akh.. ngelayang saayy aku ngelayang.. akkhh”

Tidak habis-habisnya dia berteriak, badannya bergetar, kubiarkan dia mengekpresikanya, lidahku trus bermain halus menghisap lembut itilnya, akhirnya dia lemas dan berbaring merebahkan badannya di kasur, tubuhnya masih mengejang, namun lidahku masih truss bergerilya didalam memeknya, menghisap lembut itilnya, membantu dia mengekpresikan gairahnya, agar lepas dan melayang. Tiba-tiba Indah bangkit langsung memeluk dan menciumku.

“Thanks honey”, kamu pintar sekali”.

“Yup say, gimana enak?”

“Woow fantastik sekali, melayang, terbang nih rasanya, aku kalah 1:0 nih sama kamu”.

Sambil bicara Indah langsung meraih selangkanganku dan menangkap senjata andalanku, dia memohon.

“Beri saya ini Hon?”.

Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membuka celana panjang dan CD saya, langsung senjata andalanku keluar dengan berdiri tegak, menantang. Indah langsung terbelalak matanya melihat benda dihadapannya, dia pegang erat seolah tidak rela burung itu terbang meninggalkannya.

“Fantastik honey, bener kamu bilang, panjang betul, hampir menyentuh puser kamu nih”

“He he he”, aku pun tertawa.

“18 cm Hon.., centi demi centi hingga ujung memek kamu akan tersentuh senjataku ini”.

Tanpa menunggu waktu lagi dia langsung mengelus meremas halus, dan mengocoknya senjataku.

“Ackkh.. enak honey.., trus say.. akkh”, aku melenguh keenakan.

Sambil tanganku bermain di payudaranya, kuremas halus dan kusentuh putingnya lembut. Indah pun terbangkit lagi gairahnya, kemudian diarahkan senjataku ke mulutnya, hanya bisa masuk setengah dari senjataku dimulutnya, dihisap lembut, maju mundur berirama, senjataku masuk dalam mulutnya.

“Enak honey akkhh”

Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara, ternyata Indah terlalu pintar dalam memainkan senjataku.

“Akkhh enak.. geli say.. trus say”, aku memohon.

Lama dia memainkan senjataku, akhirnya dia terangsang berat, akibat suara-suara yang keluar dari mulutku, dan sentuhan-sentuhan tanganku pada titik-titik rangsangannya, di payudara, telinga, lehernya, dan remasan-remasan rambut yang ku sentuh halus. Kemudian dia bangkit dan melepaskan senjataku dalam mulutnya, diapun merengek dan meminta untuk segera memasukkan senjataku ke dalam memeknya yang sudah gatal ingin segera ditembak, akupun mengiyakan dan langsung naik menuju tempat tidur dengan posisi duduk dengan kaki kulipat, Indah mengikuti langkahku dan berdiri di atas tempat tidur kemudian melebarkan kakinya didepanku, memeknya persis di hadapan mukaku, dia ingin membungkuk turun, langsung kucegah, tanganku meraih pahanya, kesentuh halus memeknya dengan bulu-bulu halus menantang.

“Akkhh.. Hon, gatal nih cepet donk masukkan”

Aku tak menghiraukan permohonannya langsung kuarahkan mulutku ke memeknya, kuhisap lagi lembut itilnya dia bergetar dan

“Ahhkk gatall.. akkh trus.. Hon, enaakk”

Bicaranya bergetar, pantatnya bergoyang bagai Inul menari, tangannya menjaMbak rambutku, bertubi-tubi.

“Hemm.. hemm”, terdengar lagi suara dalam mulut indah, dia kegelian dan merintih, lama lidahku bermain di memeknya, hisap, gigit, jilat lidahku bermain. Pada satu ketika Indah berteriak,

“Please honey.. nowww..!, Masukin sekarang sayy” dia terus berteriak meminta untuk segera dicoblos, namun aku trus saja mengigit lembut, menjilat, dan menghisap itilnya.

“Kamu jahat Ed..!” teriaknya lagi, sambil diikuti dengan melelehnya air dari dalam memeknya, ternyata Indah mengalami lagi orgasme yang kedua.

Pada saat orgasme, kaki Indah lemas, lunglai, kemudian sambil menjambak rambutku badannya turun, dengan selangkangan yang terbuka dan memeknya yang menganga langsung ku sambut memeknya dengan senjataku.

“Aaaooww” teriak halus indah, karena senjataku langsung masuk ke dalam memeknya.

Dalam situasi orgasme, kemudian ku bantu dia dengan memasukkan senjataku perlahan-lahan, centi demi centi senjataku masuk kedalam memeknya yang sudah basah kuyup, dan kurasakan hangat tersentuh dalam senjataku yang panjang ini, Indah pun berteriak-teriak keenakan.

“Hemm.. ackk.. enak Hon.., akkh”.

Dia terus berteriak seperti itu, nikmat rasanya. 5 centi, 10 centi dan akhirnya masuk seluruhnya senjataku ditelan memeknya. Dan Indah pun berteriak,

“Ahh Honey masuk semua nih, akk enak.. enak, enak”, seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapatkan permen kesukaanya.

Sambil bergetar, badannya turun naik berirama menikmati senjataku.

“Achh.. achh” mulut Indah nggak bisa diam dia terus berteriak keenakan.

“Achh.. enak, enak, aku baru ngerasain ini Hon, enaakk.., enak bener kontol kamu, enak.. aduh tembus nih, enakk”

Aku pun mengikuti ekspresinya, kubantu dia dengan bisikan suara-suara yang mengairahkan.

“Hemm.. trus honey.. rasakan kenikmatan ini, lakukan kemauanmu, truss.., terserah kamu”.

Akhirnya pantatnya naik turun lebih cepat dengan bantuan tanganku menopang dipahanya, tak lama kemudian, dia berteriak lebih keras, sambil badannya bergetar hebat, tanda dia telah mencapai klimaks lagi, tubuhku dipeluk erat, genjotannya mulai bergerak perlahan.

“Ackkhh.. Ed keluar lagi.., akkhh.. enak”.

Ternyata sentuhan yang diterima memeknya dari senjataku membuat dia begitu menikmatinya centi demi centi sangat dia rasakan. Sejenak terpikir olehku aku begitu heran kenapa aku belum juga keluar ejakulasi, ternyata inilah yang membuat aku bisa bertahan, rasa ingin memuaskan pasangan membuatku begitu perkasa di hadapannya. Akhirnya kami istirahat sebentar untuk memulihkan stamina Indah, aku khawatir dia terlalu lelah setelah menikmati 3 kali orgasme.

*****

Teman-teman, sementara aku akhiri dulu cerita ini, karena sudah waktunya aku harus bertemu dengan Indah yang cantik, sexy, mulus dan hemm.. ueenak tenan. Jadi jangan sampai dia kecewa karena aku terlambat memenuhi janjinya untuk memuaskan dia, hanya karena alasan membuat cerita ini, yang jelas aku akan teruskan ceritanya nanti. Saran, komentar seperti biasa aku tunggu melalui message lewat situs 17tahun. Terima kasih, dan salam pada teman-teman yang sudah mengirimkan email pada saya, atau barangkali ada Indah kedua yang juga ingin merasakan Multi Orgasme?

Tamat





Galaxy Mall 2

22 05 2009

Adikku memang juga sudah bersiap-siap menunggu Anto datang menjemputnya hingga begitu Anto datang adikku langsung berpamitan kepada kedua orang tua kami. Mengetahui bahwa aku juga akan pergi maka mereka menawarkan jasanya untuk mengantarku dan rupanya mereka tidak berkeberatan untuk mengantarku terlebih dahulu. Kebetulan sekali pikirku, aku bisa menghemat uang taxi. Maklumlah hidupku juga pas-pasan, walau aku bekerja sebagai dokter hewan di KBS, besar gajiku di sana sangat tidak layak bila dibandingkan dengan profesi dan tenagaku karena aku sebulan hanya menerima tiga ratus ribu rupiah saja sebagai pengganti uang transport. Untuk kebutuhanku sehari-hari aku masih harus membuka praktek di rumah, atau mendatangi pelangganku yang memiliki hewan peliharaan di rumahnya apa bila ada yang kebetulan sakit dan membutuhkan pertolonganku. Konon dari kabar yang kudengar, keuntungan KBS selama ini banyak dikorup oleh para pengurusnya. Benar tidaknya aku tidak peduli, yang penting aku di sana hanya mencoba mencari pengalaman dan mengisi waktuku yang luang di siang hari.

Sesampai di Galaxy Mall aku minta diturunkan di depan saja, agar Anto dan adikku bisa langsung terus melanjutkan keperluannya. Aku berjalan kaki masuk ke Galaxy Mall melewati satpam yang memeriksa mobil pengunjung satu-persatu karena memang sejak maraknya kasus bom di tanah air, setiap mall dan hotel di kota Surabaya sekarang diperketat penjagaannya dengan pemeriksaan. Aku melewati antrian mobil yang panjang sekali, kemudian masuk melalui pintu utama Galaxy Mall dimana pengunjung kembali harus diperiksa satu-persatu. Saat aku ikut mengantri untuk masuk ternyata aku bertemu dengan Sinto bersama keluarganya. Sinto datang ke Galaxy mall bersama istri dan seorang anaknya. Istrinya masih muda dan cantik. Kami pura-pura tidak saling mengenal karena aku juga harus menjaga perasaan istrinya. Hubungan kami sejak awal memang bukan berdasarkan cinta, namun hanya berdasarkan sex suka sama suka saja, dan aku juga sudah tahu bahwa Sinto sudah berkeluarga. Sinto orangnya cukup dewasa dan sopan. Kami berhubungan awalnya dari email yang dikirimnya kepadaku setelah membaca kisahku di situs cerita 17Tahun baru ini. Sinto langsung memenuhi syarat yang kuminta hingga kemudian kami saling bertukar foto, kontak telepon dan seterusnya. Ternyata diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya, Sinto menyapaku melalui SMS, jadi selama mengantar anak istrinya berjalan-jalan di Galaxy Mall, Sinto sibuk mengontakku melalui SMS dan kubalas pula melalui SMS.

Akhirnya kami berjanji untuk bertemu nanti sepulang dari Galaxy Mall. Melalui SMS Sinto mengatakan bahwa selesai mengajak anak istrinya makan malam baru dia akan memulangkan anak istrinya kemudian kembali menjemputku. Rumah Sinto memang ada di sekitar Galaxy Mall, jadi beberapa jam kemudian sebelum Galaxy Mall tutup Sinto benar-benar memulangkan anak istrinya dulu dan kemudian kembali lagi untuk menjemputku. Saat menjemputku, Sinto sudah berani langsung menelepon HP-ku, menanyakan posisiku menunggu dimana.

Ringkas cerita aku sudah berada di dalam mobil Sinto.

“Kita kemana nich?” Tanya Sinto.

“Terserah” sahutku. “Wah! Kamu malam ini cantik dan sexy sekali” timpal Sinto.

“Emangnya yang kemarin-kemarin aku seperti apa?” tanyaku.

Sinto tidak menjawab tapi tangan kirinya langsung memegang pahaku di bagian yang tidak tertutup oleh rok mini. Mobilnya memang jenis matic, jadi cukup tangan kanannya saja yang memegang kemudi, sehingga tangan kirinya leluasa berbuat apa saja. Kaca film mobilnya juga gelap sekali sehingga aktifitas di dalam mobil sama sekali tidak dapat terlihat dari luar, apa lagi saat malam begini. Tangan kiri Sinto terus meraba pahaku yang mulus dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus itu, rabaannya di bagian dalam pahaku membuatku horny sekali. Elusan telapak tangannya menjalar naik dan menyusup ke dalam rok miniku, jari kelingkingnya menyentuh bagian luar vaginaku yang masih tertutup oleh CD-ku yang mini dan berenda.

Gila! Ujung CD-ku sudah mulai basah. Pada bagian yang berbentuk hati sebagai penutup bagian luar liang vaginaku sudah terasa basah dan kakiku jadi terbuka lebih lebar lagi. Sinto memindahkan tangannya ke arah selangkanganku, telapak tangannya meremas dan menggosok-gosok bagian luar kemaluanku dari luar CD yang kukenakan. Jari-jarinya mempermainkan klitorisku masih dari luar lapisan CD-ku, tapi kali ini sudah cukup membuatku harus menggigit bagian bawah bibirku menahan rasa geli di sekitar selangkanganku.

Aku sudah benar-benar tidak tahan lagi hingga kulepaskan CD-ku dan kumajukan posisi dudukku. Bangku yang kududuki kumundurkan ke belakang, kemudian kakiku kuangkat dan kuletakkan keduanya di atas dashboard mobil sehingga pahaku terkangkang lebih lebar lagi. Dengan posisi seperti ini bagian bibir vaginaku kini jadi sedikit lebih menghadap ke atas. Ini membuat tangan Sinto lebih bernafsu lagi meraba selangkanganku. Jari-jari tangannya mengelus bibir vaginaku yang sudah lembab sedari tadi. Ujung jarinya memainkan klitorisku sehingga membuatku hanya bisa melenguh dan mendesah saja. Gelombang orgasmeku mulai menggulung-gulung bagaikan ombak yang besar sekali hingga rasanya sulit sekali untuk membendungnya. Jari telunjuk Sinto terus ditempelkannya di ujung klitorisku. Ujung jarinya dikorek-korekkan dari bawah ke atas sementara jari-jarinya yang lain disusupkan ke lipatan bibir vaginaku sambil mengorek-ngorek bibir vaginaku bagian dalam. Tentu saja apa yang dilakukan jari Sinto ini membuat cairan bening yang keluar dari dalam liang vaginaku mengalir lebih deras lagi. Aku semakin tidak mampu menahan gelombang orgasmeku hingga akhirnya pertahananku jebol juga, pantatku kuangkat dan kugoyangkan mengikuti irama gesekan jari-jari tangan Sinto. Badanku menggigil dan sedikit kejang-kejang.

“Uuu.. Uucch! Oo.. Oocch! Teruskan Sinto!” pintaku dengan suara parau.

“Aku orgasme nich!” seruku sambil sedikit berteriak padanya.

“Aa.. Aacch!”

Aku akhirnya benar-benar mengalami orgasme yang dahsyat sekali hingga banyak sekali cairan yang tersembur keluar dari dalam liang vaginaku. Cairan kenikmatan itu mengalir deras membanjiri liang vaginaku dan terus merembes keluar melalui celah bagian bawah bibir vaginaku, saking banyaknya hingga membasahi jok kursi yang kududuki, rembesannya juga dapat kurasakan membasahi bagian luar lubang anusku. Selesai memuaskanku dengan jari-jarinya, Sinto bukannya membersihkan jari-jarinya, tapi segera menjilati sisa-sisa cairanku yang menempel di jarinya. Tampaknya nikmat sekali bagaikan anak kecil yang menjilati sisa-sisa es cream yang menempel mengotori jari-jari tangannya.

“Gimana Lia, puas tidak?” tanya Sinto padaku.

Aku tidak menjawab tapi langsung saja kucubit keras lengannya sampai Sinto mengaduh dengan kerasnya sambil berusaha menghindari cubitanku.

“Lia! Besok kita ketemu yuk, jam berapa kamu ada waktu?” ajak Sinto.

“Malam ini aku tidak bisa menemanimu lebih lama, karena aku tadi hanya pamit ke istriku akan mampir sebentar ke rumah temanku di sekitar sini saja” tambah Sinto.

“Besok kita telepon-teleponan lagi aja ya” sahutku sambil membersihkan sisa-sisa cairan di selangkanganku dengan tissue.

“OK!” Sinto menyetujuinya.

“Sekarang aku antar kamu pulang ya?” Sinto memberikan tawaran padaku dan mobilnya langsung diluncurkan mengarah ke rumahku di kawasan Kenjeran.

Sepanjang perjalanan menuju rumahku, Sinto merangkulku dengan mesra, kepalaku kusandarkan ke dada kirinya, lengannya merangkulku di bagian leher sambil telapak tangannya menyusup ke dalam tank topku. Jarinya langsung saja menemukan payudaraku. Diremas-remasnya payudaraku yang masih mengeras karena nafsuku yang tadi. Sinto rupanya masih ingin memanfaatkan sisa waktunya selama menempuh perjalanan ke rumahku. Puting susuku dipilin-pilin dengan jarinya, sehingga membuatku cepat sekali horny kembali.

Aku pun tidak mau tinggal diam, kubalikkan sedikit posisi dudukku ke kiri ke arah duduk Sinto. Tangan kiriku dengan cepatnya membuka kancing celananya dan meluncurkan gespernya ke bawah, Sinto membantunya memerosotkan sedikit celananya yang telah berhasil kulepas. Sinto menggunakan tangannya sambil mengemudikan kendaraannya karena jalannya lurus jadi tidak menemukan kendala. Segera kurogoh batang kemaluan Sinto yang sudah mengeras sejak tadi, tangan kiriku mengocok-ngocok batang kemaluan Sinto yang ujungnya juga sudah basah oleh cairan precum. Kuturunkan kepalaku ke pangkuannya dan mulutku langsung mengulum bagian kepala kemaluannya. Sambil tanganku terus mengocok batang kemaluannya, bibirku tetap mengulum bagian kepala kemaluan Sinto.

Ujung-ujung lidahku menjilati seluruh permukaan kepalanya yang licin. Cairan yang keluar tadi sedikit asin rasanya saat tertelan olehku.

“Uu.. Uuh! Aa.. Aah!” Sinto mulai mendesah merasakan nikmat yang kuberikan padanya saat mengemudikan mobil.

Kocokanku kupercepat, batang kemaluan Sinto kumasukkan lebih dalam lagi ke mulutku, kubenamkan dan kukocok dengan menggunakan mulutku. Lidahku tetap kujulurkan sambil menyapu semua lapisan kulit kemaluannya, dan Sinto pun mulai menuju puncaknya, hanya butuh waktu tidak terlalu lama hingga akhirnya Sinto pun mencapai orgasme. Aku nekad untuk membiarkan mulutku tetap mengulum batang kemaluan Sinto saat semburan sperma Sinto keluar menuju kerongkonganku. Aku hampir tersedak olehnya hingga kutelan semua spermanya yang keluar dan muncrat di mulutku. Tanganku tetap mengocok-ngocok batang kemaluannya sampai semburan terakhir. Kujilat kembali seluruh bagian batang kemaluan Sinto hingga bersih dan licin kembali. Akhirnya kami pun sampai di depan rumahku. Perjalanan singkat dari Galaxy Mall ke rumahku ternyata cukup membuat kami berdua mencapai puncak kenikmatan.





Galaxy Mall 1

22 05 2009
Hari ini Sabtu malam Minggu, aku pulang agak sore dari Kebun Binatang Surabaya (KBS) tempatku magang. Sesampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan kukunci dari dalam. Kulepas hem longgar yang kukenakan, berikut rok miniku yang bawahannya lebar itu dan kuletakkan begitu saja di atas tempat tidur. Kini aku hanya tinggal memakai CD mini model G-String berwarna putih, bentuknya hanya terbuat dari seutas tali nylon melingkar di pinggang, ada ikatannya di kanan dan kiri pinggangku. Selebihnya juga ada seutas tali nylon yang tersambung dari pinggang bagian belakang terus turun melilit ke selangkangan melalui belahan pantatku yang padat dan sintal.

Model G-String memang sexy sekali, tepat di ujung bagian bawah vaginaku tersambung dengan secarik kain sutera tipis yang berbentuk segitiga kecil. Lebarnya tidak lebih dari seukuran dua jari, fungsinya hanya bisa menutupi liang vaginaku bagian luar sedang selebihnya bulu-bulu kemaluanku terseruak keluar menghiasi sisi lipatan G-String yang kukenakan.

Aku masuk ke kamar mandi yang ada di kamarku, sambil menanggalkan secarik kain yang masih tersisa sebagai penutup tubuhku yang kuning dan mulus ini. Kubasahi tubuhku yang sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun, dengan air hangat dari shower kamar mandi.

Kugosok setiap jengkal bagian tubuhku dengan sabun cair, kubersihkan setiap sudut dan lipatan yang ada di tubuhku. Mulai dari lipatan di belakang telinga, siku, ketiak hingga bagian dari lipatan selangkanganku. Hanya saja setiap kali aku mandi dan saat aku menggosok serta membersihkan bagian dari selangkanganku, aku selalu menjadi horny sekali, apa lagi saat-saat jari tanganku menyentuh bagian-bagian sensitif di selangkanganku.

Kali ini aku pun merasakan hal yang demikian, namun aku mencoba segera mengalihkan konsentrasiku dan aku cepat-cepat menyelesaikan aktifitasku, kemudian segera membasahi tubuhku kembali dengan air. Setelah bersih membilas tubuhku dengan air hangat dari shower, maka dengan segera pula kuakhiri acara mandiku.

Aku keluar kamar mandi yang pintunya langsung tembus ke kamarku, dengan keadaan tetap telanjang bulat sambil mengeringkan badanku dengan handuk. Kunyalakan komputer di mejaku sambil tetap mengeringkan ujung-ujung rambutku yang masih basah saat mandi tadi.

Suhu udara di kota Surabaya akhir-akhir ini memang sangat panas, aku baca di surat kabar konon suhunya sampai mencapai 37 derajat celcius. Maka tak heran kalau AC di kamarku seakan tidak berfungsi dan tidak mampu memberikan kesejukan, apalagi aku tadi mandi pakai air hangat. Inginnya tadi aku mandi dengan air dingin, namun karena aku ingin menghilangkan rasa pegal-pegal, maka aku mandi saja dengan air hangat.

Selesai mandi aku hanya mengenakan celana pendek mini yang terbuat dari bahan yang tipis. Modelnya longgar terutama di bagian bawahnya, yang bagian ujung lipatannya tepat sejajar dengan pangkal pahaku sehingga kalau kuangkat sedikit pahaku, maka lipatan bibir vaginaku akan tampak dengan jelas karena aku memang tidak memakai CD lagi di dalamnya. Kupikir toh aku berada sendirian di dalam kamar, dan aku akan langsung mengakses Internet untuk membuka mail box-ku.

Seperti hari-hari sebelumnya, mail box-ku selalu penuh hingga sulit dibuka. Aku tidak peduli apa yang mereka sampaikan padaku melalui email yang mereka kirim. Kebanyakan mereka memang to the point saja langsung mengajakku berkenalan, tak jarang malah ada juga yang nekad langsung mengajak ML, mungkin mereka memandangku serendah itu. Tak jarang ada juga yang menasehatiku bahkan ada juga yang memakiku seenaknya. Pikirku itu memang hak mereka, dan aku juga punya hak untuk mengabaikan email yang isinya seperti itu.

Semua email yang kubalas selalu kulampiri persyaratan dariku bila mereka memang serius ingin berkenalan dan mengobrol lebih lanjut denganku. Namun mereka toh masih ada juga yang langsung menjawab emailku dengan makian saat menerima persyaratan yang kuajukan dariku. Dengan demikian saja sudah dapat kunilai bagaimana sebenarnya karakter orang tersebut. Ada juga yang langsung mundur teratur dan tidak menjawab kembali emailku.

Tapi ada beberapa di antara mereka yang nekad dan tidak punya malu, tanpa memenuhi persyaratan dariku langsung saja mencoba meneleponku. Aku pun punya kiat untuk menghindar, dan kujawab saja kalau mereka salah sambung, atau kusampaikan bahwa yang menulis cerita di 17Tahun.com itu bukan aku.

Selesai membaca dan membalas semua email yang masuk, kumatikan komputer dan aku menuju lemari pakaian untuk segera mengenakan busana. Malam minggu ini aku ingin jalan-jalan ke Galaxy Mall sambil mencuci mata, karena pada hari Sabtu malam minggu begini, biasanya Galaxy Mall penuh dengan ABG yang berkumpul sekedar mejeng atau menonton bioskop.

Toh usiaku baru 28 tahun dan penampilanku juga tidak kalah dengan ABG yang usianya di bawahku. Omong-omong soal usia, ada juga pembaca yang mengaku berusia 21 tahun, namun dalam emailnya dia memanggilku Tante. Gila! Memangnya aku pernah kawin dengan Oom-nya apa?

Aku memilih memakai tank top garis-garis hitam putih, bentuknya adalah tali nylon yang melingkari leherku dengan ikatan di tengkuk. Bagian belakang punggungku terbuka lebar sampai pinggang, sehingga tampak kalau aku tidak mengenakan BH karena tidak terlihat adanya tali BH yang melilit di punggungku.

Aku memang sejak kecil tidak suka mengenakan BH dan kebiasaan ini terus berlanjut hingga sekarang, jadi tidaklah mengherankan kalau aku tidak pernah tahu berapa ukuran payudaraku. Yang jelas payudaraku ukurannya normal-normal saja, tidak terlalu besar dan juga tidak dapat dikatakan kecil. Bentuk payudaraku padat dan sintal, puting susuku dan sekitarnya berwarna merah muda, ranum dan agak sedikit kecoklatan, bentuknya dapat dilihat dari luar tank top yang kukenakan sore ini.

Tank top-ku memang bentuknya sangat sexy dan menggoda setiap lelaki yang memandangnya. Bagian depannya hanya menutupi sebagian saja dadaku, di bawahnya agak lebar ke belakang dan diikatkan begitu saja di belakang pinggangku. Praktis fungsinya hanya menutupi payudara dan sebagian perutku saja, samping kanan kiri tubuhku hingga punggung tetap terbuka lebar sehingga kulit tubuhku yang mulus tetap terpampang jelas sekali.

Aku memakai rok mini yang bagian bawahnya lebar sebagai bawahannya, bentuknya seperti rok mini yang biasa dipakai para cheerleader. Bedanya kalau para cheerleader di dalamnya masih memakai celana pendek untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling vital, namun aku di dalamnya tidak mengenakan apa-apa lagi selain mengenakan CD berenda yang sangat mini juga. Hal ini tentunya juga merupakan kesulitan tersendiri bila aku di Galaxy Mall harus naik lantai ke atas menggunakan eskalator maupun lift tabung yang ada di sana, karena bagian dalam rok-ku pasti akan menjadi santapan mata para lelaki yang berdiri tepat di bawahku.

Tidak dapat kubayangkan bagaimana rupa pemilik mata tersebut saat memandang ke dalam rok miniku saat aku menaiki tangga eskalator. Mata mereka pasti akan terbelalak memandang ke arah CD yang kukenakan saat itu. Warnanya hitam seperti warna rok mini yang kukenakan, bentuknya berenda yang ukurannya sebesar jari tangan melingkari pinggangku.

Selebihnya juga berupa renda dengan ukuran yang sama melingkar ke bawah melewati selangkanganku melalui belahan pantatku. Di bagian depannya yang berfungsi menutupi bagian luar vaginaku bentuknya sedikit agak lebar, ukurannya selebar dua jari juga berenda dan berbentuk hati tepat di depan bagian yang menutupi liang vaginaku.

Aku memakai sepatu model bertali dengan hak tinggi, sehingga badanku yang tingginya 170 cm ini terlihat lebih semampai lagi. Biasanya pada malam minggu begini sulit sekali mencari tempat parkir di Galaxy Mall hingga kuputuskan untuk naik taxi saja ke sana. Saat aku akan menelepon taxi, kudengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Ternyata Anto pacar adikku datang menjemput adikku.





Ibu Vivi Customerku

22 05 2009

Aku bekerja di bagian EDP sebuah perusahaan swasta di daerah Kuningan, Jakarta. Untuk sambilan aku juga punya usaha kursus private komputer. Siang itu Ibu Vivi, salah satu klien telepon. Katanya dia belum tahu juga cara mengirim e-mail. Maklum baru sekali aku mengajarinya. Dari pembicaraan disetujui untuk ketemu jam 7 malam. Karena dia sampai rumah jam 6 sore. Dia kerja jadi interpreter bahasa Jepang.

Jam 18.45 aku sudah sampai di Lobby Apartemen-nya di bilangan Benhil. Tidak lama dia nongol di Lobby dengan masih memakai pakaian kerjanya, dan segera mengajak saya naik ke Apartemennya. Tanpa ganti baju, dia langsung ke meja komputernya dan menghidupkannya. Tidak lama masalahnya beres, e-mailnya bisa terkirim semua. Dia cuma lupa tidak clik “send & receive”.

Kemudian dia minta diajari browsing memakai Explorer. Berhubung dia jarang memakai komputer, maka dia terlihat kaku cara memegang mouse-nya. Entah apa sebabnya aku bermaksud memberinya contoh, eh tangan dia masih memegang mouse. Yah tangannya keremas oleh tanganku yang kekar dan keras. Aduh.., halus juga tangan Ibu Vivi. aku buru-buru menarik tanganku, tidak enak takut dikatakan kurang ajar. Suaminya adalah teman bosku. Kalau dilaporkan bisa-bisa aku dipecat. Dia melepaskan mouse, dan gantian aku yang memegang mouse-nya sambil memberitahu dia tentang perbedaan bentuk kursor.

Aku belum menyuruhnya mencoba, eh.. tangannya langsung memegang mouse yang masih aku pegang. Yah tahu sendiri kan tanganku yang dia pegang. Aku ingin melepaskan tapi sayang karena halus sekali telapaknya. Dan bau parfumnya juga lembut, membuatku betah di dekatnya. Aku biarkan saja. Aku pikir dia akan melepaskan tanganku, eh.. ternyata tidak lepas juga tanganku dari genggamannya. Malah tanganku dielus-elus dengan lembut. Maklum tanganku bulunya juga lumayan lebat.

Aku beranikan diri untuk menegurnya, “Ibu.., sebentar lagi Bapak pulang..”.

Belum sempat berkata banyak, jari telunjuk tangan satunya diletakkan di depan bibir sambil,

“Psst..”, dan kata dia, “Hari ini dia ke bini tuanya..”.

Aduh rejeki nomplok nih, kataku dalam hati. Tapi aku pura-pura tidak berminat. Meski dalam hati sudah suka sekali.

Tanganku yang masih memegang mouse masih di elus. Kebetulan aku duduk di sebelah kanannya, jadi tangan kiriku bebas. Dan lagi kursinya tidak memakai tangan-tangan. Makin nikmat saja. Tangan kirinya mengelus tangan kiriku dan diangkatnya, dan ditaruh di atas pahanya yang putih dan mulus. Meski dia tidak memakai rok mini, tapi karena duduk, ketarik juga ke atas. Roknya yang biru tua menambah kontrasnya warna.

Setelah meletakkan tanganku, tangan Ibu Vivi bergerak lagi ke tengkukku, dan dielusnya. Wow.., kini makin panas badanku. Secara refleks tanganku juga membalas aksinya, dan kuelus pahanya pelan-pelan. Makin lama makin ke atas menuju pangkalnya. Roknya pun makin tersibak ke atas terdorong tanganku. Makin ke atas makin mulus. Kuusap pangkal pahanya dan matanya mulai nanar.

Ibu Vivi sebenarnya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Tingginya juga tidak sampai 160 cm. Kalau berdiri dia tidak lebih tinggi dari pundakku. Cuma body-nya sungguh menggiurkan dan kulitnya juga putih mulus. Maklum dia masih keturunan Chinesse. Kasihan dia, cuma jadi istri muda. Jadi jatah batinnya tidak terima full. Padahal usianya belum sampai 30 th, hampir sebaya aku.

Kini tanganku sudah hilang di dalam rok kerjanya, mengusap-usap pangkal pahanya. Kemudian dia berdiri di depanku yang masih duduk. Lalu kancing bajunya dibuka semua. Tapi bajunya tidak dilepas. Dia tarik tanganku, di pindahkannya ke pinggangnya. Kaus dalamnya kuangkat, dan perutnya yang putih bersih pun terpampang di depanku. Kuciumi perutnya dan sekeliling pusarnya kujilati. Dia menggelinjang kegelian. Kedua tangannya mengacak-acak rambutku dan kadang kala dijambaknya.

Baju dan kaus dalamnya sudah lepas dari roknya. Kaus dalamnya kuangkat lebih ke atas, dan tampak BH-nya menyangga bukit yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya bentuknya bagus dan ukurannya pas. Dan tentu saja halus. Kebetulan kancing BH-nya di depan, jadi tanpa usaha lebih keras aku sudah bisa melepas BH-nya. Bukit kembarnya tersaji jelas di depanku. Sedikit kendor, tapi masih oke.

Aku sambut salah satu putingnya yang berwarna coklat muda dengan bibir dan lidah. Sementara tangan kananku melintir putingnya yang satu lagi. Seperti mencari gelombang radio. Betul juga.., tidak beberapa lama terdengar desis seperti gelombang FM stereo. Tanganku yang satu lagi menyusup ke dalam roknya dan meremas-remas pantatnya yang juga sudah agak turun. Maklum lah sudah hampir 30 th umurnya.

Tangan Ibu Vivi (Oh ya aku tetap panggil dia Ibu karena dia customerku) yang satu lagi sudah pindah aktivitasnya ke selangkanganku. Penisku yang sudah tegang tampak jelas menonjol dari balik celanaku. Itu yang menjadi sasaran aktivitasnya. Bahkan zipperku sudah dia turunkan, jadi tampak jelas ujung moncong meriamku dari balik celana dalamku.

Karena dielus terus penisku bertambah panjang sampai ukuran maksimalnya. Kira-kira 2 centimeter di bawah pusar. Tangannya pun sudah masuk ke dalam CD-ku dan mulai mengocok-ngocoknya. Akhirnya ujung penisku keluar dengan sendirinya dari balik CD-ku. Akupun tidak mau kalah, tanganku yang di pantatnya, aku pindah aktivitasnya ke sela-sela pahanya. Dari CD-nya sudah terasa kalau vaginanya sudah basah. Aku tarik sedikit CD-nya ke bawah, dan dengan sedikit digeser ke samping, aku sudah bisa memegang belahannya. Lalu kuusap-usap dengan jari tengah.

Sementara desis FM stereonya makin keras terdengar, “Ssst.., uuhh.., uhh.., sst”.

Dengan dibantu jari telunjuk, aku pegang clitorisnya yang kebetulan agak panjang dan kupilin nakal. Gerakan badan Ibu Vivi makin keras dan kepalanya sering ditarik ke belakang. Badannya bergetar. Suaranya makin seru, untung di apartemen, jadi tdak terlalu gaduh karena jauh dari tetangga.

“Yan.., lepasin celanaku.., aku sudah nggak tahan”, bisik Ibu Vivi.

Dengan patuh aku penuhi permintaannya. Sementara tangannya sibuk melepas sabukku dan memelorotkan celanaku serta CD-ku sekaligus hingga lutut. Dia agak terkejut melihat penisku.

“Kamu punya ukuran boleh juga.., dari pertama kamu ke sini sudah kuperhatikan, makanya aku pingin”, katanya setengah sadar setengah terdengar.

Sementara CD-nya sudah tergeletak di lantai. Aku masih duduk di kursi tanpa sandaran tangan. Kuangkat roknya dan aku cium pahanya. Bahkan aku sempat kasih tanda merah di kedua pangkal pahanya. Dia sudah tidak sabar lagi, tanpa memberiku kesempatan untuk melepaskan celana secara sempurna, dia sudah memegang ujung penisku dan dibimbingnya menuju lubangnya yang basah dan hangat. Serta berbulu sedikit pada bagian atasnya saja.

Pelahan tapi pasti Ibu Vivi menurunkan pantatnya, “Bless”. Matanya terbelalak merasakan batang penisku menyusup dengan hangat ke lubang vaginanya. Rupanya basahnya sudah sempurna hingga tanpa kesulitan sudah ¾ batang penisku masuk ke vaginanya. Tapi berhenti sampai di situ saja, tidak di terusin lagi.

“Yan.., batang penismu panjang betul”, katanya sambil mulai menaik-turunkan pantatnya.

Sementara aku menenangkan pikiran, ambil napas, dan konsentrasi ke tempat lain. Biar customerku puas duluan. Aku coba memperhatikan TV yang sedang menyiarkan sinetron. Jadi konsentrasiku tidak tertuju pada penisku yang sedang dikerjai habis-habisan oleh Ibu Vivi. Naik turun, digoyang ke kiri dan ke kanan, diputar. Entah diapain lagi. Eh.., bener tidak lama badannya terasa bergetar lalu melenguh seperti sapi.., uhh.., yang lebih keras dari sebelumnya dan tiba-tiba memelukku kencang sekali dan jarinya meremas punggungku. Untung aku masih memakai baju. Kalau tidak, bisa-bisa kuku Ibu Vivi menancap di punggungku. Keringatnya menetes ke baju kerjanya yang belum sempat dilepas, terlihat makin cantik dengan tetesan keringat di rambut dan keningnya.

Sementara biji pelirku juga terasa basah oleh cairan dari vaginanya.

“Ugghh.., gila, nikmat sekali”, katanya.

“Ibu terusin aja”, aku nimpali.

“Ah.., panggil Vivi aja, entar aku lemas banget”, jawabnya.

Batang penisku juga sudah terasa kesemutan, mau menumpahkan muatannya. Tapi aku tahan dulu. Kuangkat kedua kakinya di belakang lututnya dengan kedua tangan, sehingga seperti digendong. Tapi batang penisku masih menancap di lubang vaginanya. Lalu aku jalan menuju tembok dan aku rapatkan badannya ke tembok dengan tetap kugendong. Bagiku tidak ada masalah mengangkatnya. Tidak percuma aku hobby olah raga. Lalu aku mulai menggoyang pinggangku maju mundur, goyang kiri, goyang kanan. Matanya sebentar-bentar terpejam, sebentar kemudian terbuka lebar. Sisa air yang dia keluarkan tadi menimbulkan irama yang teratur seirama dengan goyangan pantatku. Tidak lama dia keluarkan lagi muatan dari dalam vaginanya. Suara erangannya lebih seru dari yang pertama. Leherku dipeluknya kencang, didekap ke dadanya, disela-sela bukit.

“Yan, kamu sudah nyampe belum?”, tanyanya setelah berhasil mengatur nafasnya.

“Hampir Bu”.

“Turunin aku dulu”, tanpa mengiyakan, aku turunkan tubuhnya lalu melangkah ke meja tamu mengambil tisue.

Dia memasukkan tangannya ke dalam roknya dan dia mengelap vaginanya yang basah kuyup. Sementara batang penisku berdenyut-denyut semakin keras pertanda muatannya minta dibongkar. Dengan tidak sabar aku ikuti Ibu Vivi ke ruang tamu, dan dari belakang aku peluk dia. Lalu aku minta dia menunduk dengan kaki mengangkang. Lalu aku naikkan rok kerjanya hingga pantatnya yang putih kemerahan dan vaginanya yang putih kemerahan dengan bulu yang tipis tampak menantang untuk dijamah. Dengan berpegangan pada sandaran tangan kursi tamu.

Dia menikmati lagi sentuhanku. Kali ini yang bekerja lidahku. Aku jilat sedikit clitorisnya dan di jilati agar basah lagi. Tidak sampai dua menit sudah tampak ada cairan bening lagi di vaginanya. Maklum lampunya tidak dimatikan dan terang lagi. Jadi detailnya kelihatan jelas. Aku akhiri kegiatan jilat menjilat, karena muatanku sudah meronta minta dikeluarin. Lalu aku masukkan lagi dari belakang penisku ke vaginanya. Dia mendesis lagi demikian juga aku. Hangat dan lembab. Lalu aku mulai goyang kiri kanan, kadang-kadang aku putar. Sementara aku makin berat menahan muatanku, aku tanya dia,

“Bu boleh keluarin di dalam..”.

“Boleh, emang sudah hampir..”.

“Ya”.

“Kita sama-sama ya”.

Aku goyang terus sampai aku merasa sangat nikmat karena muatanku sudah sampai di dekat pintu. Lalu kupeluk dia dari belakang sambil aku remes dadanya.

Dan, “cret.., cret.., cret”, air maniku muncrat di dalam lubang vaginanya.

Dan Ibu Vivi pun merintih lalu mencengkeram tangan-tangan kursi dengan erat serta badannya bergetar dan menegang. Rupanya dia klimaks juga. Dengan penisku dan vaginanya masih bersatu aku tetap memeluknya dari belakang.

“Thanks Yan.., kamu sangat hebat. Kamu telah memberiku kenikmatan seks yang tiada”.

Cuma kujawab, “Ibu juga hebat”.

Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat meleleh dari vaginanya, dan jatuh ke lantai. Rupanya air maniku dan air kenikmatannya bercampur jadi satu dan jatuh. Lalu aku cabut penisku yang sudah lemas dan “pluk” suaranya seperti botol sampanye dibuka. Dengan rok kerja yang masih terangkat dan dipeganginya, dia berbalik ke arahku dengan memperlihatkan bulu kemaluannya yang tipis dan tersenyum. Tidak lama dari vaginanya jatuh lagi campuran maniku dan air kenikmatannya di lantai dan kali ini lebih banyak. Ada juga yang meleleh di pahanya yang mulus. Rupanya dia menikmati betul air maniku.

Saat aku mau membersihkan dengan tisue, eh dia melarangnya.

“Biarin aja, aku ingin menikmatinya”.

Wah, erotis juga nih orang. Rupanya dia belum pernah merasakan klimaks sebelumnya. Hal itu aku tahu saat dia mengantarkanku turun ke lobby. Katanya, suaminya paling lama tahan cuma 3 menit. Dia kawin karena suka sama duitnya. Maklum teman bosku bisnisnya lumayan maju, eksportir hasil bumi yang tidak terkena dampak turunnya nilai rupiah terhadap dollar. Di lift sekali lagi di bilang thank you, dan dia berharap komputernya sering rusak. Sejak saat itu terjalinlah cinta kasih yang dilampiaskan secara sembunyi-sembunyi antara aku dengan Ibu Vivi.

Tamat








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 333 pengikut lainnya.