<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dan Komik Dewasa Blog</title>
	<atom:link href="http://khususceritadewasa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com</link>
	<description>Khusus cerita dewasa-cerita panas-cerita seks</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 11:06:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='khususceritadewasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Dan Komik Dewasa Blog</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://khususceritadewasa.wordpress.com/osd.xml" title="Cerita Dan Komik Dewasa Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://khususceritadewasa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Takeshi Castle X</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/05/20/takeshi-castle-x/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/05/20/takeshi-castle-x/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 11:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Fantasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1198</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum acara dimulai, Sang Kaisar Benteng Takeshi sempat mengobrol santai dengan panglima perangnya di depan para punggawa, prajurit dan selir-selir yang cantik-cantik. &#8220;Bagaimana persiapan menghadapi para penantang Benteng Takeshi?&#8221;, tanya kaisar pada panglimanya. &#8220;Beres Yang Mulia, meskipun jumlahnya 100 lebih tapi kami semua sudah siap!&#8221;, jawab panglima dengan tegas. &#8220;Hei, jangan ngomong beres-beres saja!&#8221;, tukas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1198&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p id="post_message_532688" style="text-align:justify;">Sebelum acara dimulai, Sang Kaisar Benteng Takeshi sempat mengobrol santai dengan panglima perangnya di depan para punggawa, prajurit dan selir-selir yang cantik-cantik.</p>
<p>&#8220;Bagaimana persiapan menghadapi para penantang Benteng Takeshi?&#8221;, tanya kaisar pada panglimanya.</p>
<p>&#8220;Beres Yang Mulia, meskipun jumlahnya 100 lebih tapi kami semua sudah siap!&#8221;, jawab panglima dengan tegas.</p>
<p>&#8220;Hei, jangan ngomong beres-beres saja!&#8221;, tukas sang kaisar.</p>
<p>Babak Penyisihan Pertama<span id="more-1198"></span>Telah terdaftar 116 peserta. Semua peserta yang ingin lolos harus dapat menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan soal sex yang diberikan oleh para punggawa Benteng Takeshi. Jumlah peserta yang lolos ke babak selanjutnya ternyata masih 74 orang.</p>
<p>Babak Penyisihan ke-2</p>
<p>Berupa lomba mencari kondom dengan merek yang telah ditentukan oleh punggawa Benteng Takeshi. Hal ini tidak mudah karena pilihan kondom yang ada dalam baskom yang disediakan untuk tiap peserta jumlahnya banyak dan bekas dipakai. Babak ini hanya menyisakan 22 peserta untuk melaju ke babak selanjutnya.</p>
<p>Babak Penyisihan ke-3</p>
<p>Babak ini mengharuskan peserta untuk menyebut 10 posisi sex yang dapat dilakukan manusia dalam waktu sesingkat-singkatnya. Babak ini hanya meloloskan 10 peserta tercepat dan 4 diantaranya adalah wanita.</p>
<p>Komentar Sang Kaisar, &#8220;Wah rupanya jumlah peserta kali ini dibatasi 10 orang, tapi ada 4 wanita yang lolos untuk menghadapi rintangan berikutnya, sungguh menakjubkan. Apalagi ke empat peserta wanita itu kelihatannya cantik-cantik dan seksi. Mmm.. Panglima.. mana sang panglima?&#8221;.</p>
<p>Rupanya komentar Sang Kaisar tak didengarkan oleh panglima karena lagi sibuk memelototi tubuh 4 peserta wanita yang telah lolos sambil menggosok-gosok bagian depan kimononya di daerah kemaluannya.</p>
<p>&#8220;Ehh.. Ada apa Yang Mulia?&#8221;, jawab sang panglima tergopoh-gopoh.</p>
<p>&#8220;Kamu ini memang panglima kurang ajar, diajak ngomong Sang Kaisar malah sibuk sendiri! Kalau para pemirsa tahu aku bisa malu, tahu..!&#8221;, bentak Sang Kaisar sambil memukulkan kipas yang dipegangnya pada kepala panglima.</p>
<p>&#8220;Iya.. iya.. maaf Yang Mulia, habis peserta wanita yang lolos cakep-cakep sih..&#8221;, jawab panglima dengan santai dan seenaknya.</p>
<p>&#8220;Eh, tapi kamu memang benar. Mmm.. rintangan selanjutnya apa?&#8221;, tanya Sang Kaisar.</p>
<p>Kali ini panglima tak berani lagi sibuk sendiri dan langsung memberi jawaban atas pertanyaan Sang Kaisar, &#8220;Jembatan Manusia, Yang Mulia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Baik, mari kita saksikan saja bagaimana para peserta bisa melewati rintangan yang kamu siapkan&#8221;, kata Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Baik.., baik, yang mulia!&#8221;, lanjut Sang Panglima.</p>
<p>Babak Penyisihan ke-4</p>
<p>Pada babak ini para peserta diharuskan melewati sebuah jembatan yang penuh oleh para perintang berupa manusia bugil. Para peserta juga harus dalam keadaan bugil selama melewati jembatan itu. Manusia yang berada di jembatan itu merupakan rintangan yang harus dihadapi oleh para peserta.</p>
<p>Rintangan itu bukan sembarang rintangan karena terdiri dari para model yang seksi baik pria maupun wanitanya. Mereka cantik-cantik dan tampan serta memiliki bodi yang aduhai. Peserta yang dianggap lolos adalah peserta yang mampu menahan ejakulasinya selama melewati jembatan itu. Rintangan akan melakukan apa saja agar peserta tidak lolos. Dan bagi peserta yang tidak lolos maka akan diceburkan ke sungai di bawah jembatan tersebut.</p>
<p>Peserta pertama yang melewati jembatan itu adalah pria. Dia berteriak-teriak memberi dirinya sendiri semangat agar lolos dari rintangan ini. Ketika memasuki jembatan itu, penisnya sudah sangat tegang karena menerima sambutan hangat dari para perintang. Baru 5 langkah ia sudah dikerubuti oleh para model wanita.</p>
<p>Peserta itu menggeram berusaha menahan godaan yang diterimanya. Dua cewek perintang mencumbu penisnya secara bergantian, dua orang lagi mencumbu bibir dan bagian tubuh lainnya. Peserta itu sudah terlihat terlalu lemas untuk melangkah lagi, dan ia pun terjengkang. Seorang wanita perintang yang bertubuh sangat bahenol langsung menindihnya dan memasukkan penis peserta itu ke memeknya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian wanita itu berdiri melepas cengkeraman memeknya pada penis peserta. Peserta itu kelihatan masih dapat menahan ejakulasinya, tapi sesaat kemudian seorang cewek belia menghisap penisnya dan ia pun tak kuasa lagi menahan hasratnya hingga keluarlah semua spermanya yang selama ini ia tahan. Dalam keadaan masih lemas, beberapa pria menggotongnya dan menceburkannya ke sungai. Gagallah peserta itu, tapi ia kelihatan tak terlalu sedih karena terlihat senyumannya menghias bibirnya ketika keluar dari sungai itu.</p>
<p>Peserta kedua masih pria dan ia kelihatan kalem. Ia melewati seperempat jembatan itu tanpa terlihat tergoda sedikitpun. Penisnya masih tetap belum berdiri walaupun sempat dikulum habis-habisan oleh para perintang wanita. Kelihatannya ia akan lolos dari rintangan ini, tapi ketika ia mencapai setengah dari jembatan itu keadaan berubah. Ketika ia berdesak-desakan dengan para perintang pria, penisnya langsung menegang. Para perintang sadar bahwa peserta itu ternyata adalah gay dan tak seberapa lama kemudian peserta itu pun menyerah oleh kuluman para pria muda tersebut pada penisnya. Peserta itu pun akhirnya juga gagal dan diceburkan ke sungai.</p>
<p>Peserta berikutnya adalah wanita. Dengan malu-malu kucing ia memasuki jembatan itu. Para perintang pria langsung mengerubutinya. Awalnya ia masih mampu menolak dan meronta ketika memeknya akan dimasuki penis para perintang. Tapi para perintang mengubah taktik dengan memperhalus godaannya dengan memberinya jilatan sensual pada seluruh tubuhnya yang dilakukan baik oleh para perintang pria maupun wanita.</p>
<p>Akhirnya di tengah-tengah jembatan, peserta wanita itu menjadi agresif dan binal. Ia tak segan lagi mengulum penis dari para perintang. Lalu beberapa perintang pria yang sudah tak tahan lagi memandikan tubuhnya dengan air mani yang disemprotkan ke arahnya. Peserta itu semakin blingsatan dan mengerang hebat ketika seorang perintang pria dengan penis ukuran raksasa menggendongnya, lalu menancapkan senjatanya pada vagina peserta itu. Peserta wanita itu tampak menggelinjang hebat. Setelah lemas karena orgasmenya, ia pun diceburkan ke sungai karena telah gagal.</p>
<p>Peserta berikutnya masih wanita juga. Dia berumuran 35 tahunan tapi tubuhnya masih sangat seksi. Ia bertipe kalem dan terlihat sangat berpengalaman dalam permainan cinta. Dua perintang pria muda yang menyetubuhinya dengan berbagai gaya ia buat KO. Dan ketika mendapat rintangan dari para perintang wanita, ia bertindak agresif dengan mengulum klitoris para perintang yang menghalangi jalannya. Tiga perintang wanita dengan terpaksa melepaskannya karena mereka telah mencapai orgasme. Terakhir, ia mampu mengelabui seorang perintang pria.</p>
<p>Ketika perintang pria dengan kemaluan besar itu menyetubuhinya di atas jembatan, peserta wanita itu berteriak, &#8220;Ahh.. shh.. aku keluar..!&#8221;.</p>
<p>Karena saking nikmatnya dan mengira peserta di hadapannya telah menyerah, perintang pria itupun mengeluarkan air maninya setelah menerima kuluman dari peserta wanita itu. Ternyata teriakan yang ia keluarkan hanyalah tipuan belaka. Setelah peserta itu berhasil melewati jembatan, ia diperiksa dan di dapati ternyata sebenarnya belum mengalami orgasme, sehingga ia pun dinyatakan lolos dari rintangan ini.</p>
<p>Tiga peserta pria dan seorang peserta wanita berikutnya juga masih gagal menerobos jembatan itu. Bahkan seorang peserta pria harus gagal sebelum langkah pertama di jembatan itu karena telah mengalami ejakulasi hanya dengan melihat kemolekan bodi para perintang wanita. Peserta itu memberi tambahan tontonan yang menarik karena ia telah gagal sebelum masuk jembatan, sehingga ia dapat menghindar dari diceburkan oleh para perintang. Tapi para perintang tetap mengejarnya hingga peserta itu menceburkan dirinya sendiri ke sungai.</p>
<p>Peserta yang tersisa tinggal 3 dan seorang diantaranya adalah wanita. Ketiganya lolos dari rintangan &#8220;jembatan manusia&#8221; dengan berbagai cara. Seorang peserta yang lolos itu adalah pria yang memang berprofesi sebagai gigolo profesional. Sehingga dengan mudah ia melampaui rintangan itu karena ia memang telah terlatih untuk mengontrol hasratnya.</p>
<p>Seorang pria lagi yang lolos dari rintangan ini adalah seorang bujangan berusia 30 tahunan. Dari fisiknya, tak ada yang mengira bahwa ia dapat lolos. Usahanya untuk lolos dari rintangan ini benar-benar mendapat acungan jempol. Peserta itu adalah pria normal tapi kemauannya yang luar biasa untuk dapat lolos dari rintangan ini dapat mengalahkan kemampuannya yang pas-pasan. Dan bukan pula karena rintangan yang mengendorkan kemampuannya, karena peserta ini tak menerima rintangan yang lebih mudah dibandingkan yang lain, sebaliknya bahkan sebenarnya ia menerima godaan yang lebih.</p>
<p>Awalnya, para wanita yang merintanginya menganggapnya remeh, tapi hingga mereka berkeringat membuatnya ejakulasi dengan berbagai cara, peserta itu masih mampu bertahan. Semua perintang wanita telah mencobanya, baik dengan berbagai goyangan vagina mereka pada penis peserta, maupun dengan berbagai posisi dan cara mereka bersetubuh dengannya. Terlihat bahwa para wanita yang menjadi perintang peserta itu sangat gemas sekali. Setiap kali penis peserta itu akan meledak, ia mampu menahannya sekuat tenaga.</p>
<p>Permainan dari wanita perintang terakhir hampir berhasil membuatnya KO, tapi ternyata sebaliknya malah perintang wanita itu yang orgasme lebih dulu. Dan ia pun dapat merangkak keluar dari jembatan itu dengan menggengam erat-erat penisnya. Setelah melewati akhir dari jembatan itu, penis peserta itu akhirnya meledak juga, crot.. crot.. crot. Tetapi peserta pria itu dianggap berhasil karena sudah melewati jembatan, walaupun akhirnya ia tak mampu menahan keluarnya air maninya yang berwarna putih kental serta banyak hingga lemas.</p>
<p>Peserta terakhir adalah wanita. Kali ini peserta tersebut cukup beruntung karena para perintang terlambat mengantisipasinya. Peserta wanita ini adalah tipe biseksual tapi cenderung lesbi sehingga godaan yang diterimanya dari perintang pria mampu ia lalui dengan mudah. Dan godaan yang diterimanya dari perintang wanita sudah tak seberapa lagi karena dari 2 peserta sebelumnya telah cukup banyak menguras tenaga para perintang wanita ini.</p>
<p>Seusai semua peserta diuji dari rintangan &#8220;jembatan manusia&#8221;, Sang Kaisar berkomentar lagi setelah menyaksikan dengan terbengong-bengong dan menggeleng-gelengkan kepala saja sepanjang acara itu.</p>
<p>&#8220;Ck, ck, ck.. benar-benar seru, kamu memang panglimaku yang hebat, bisa merancang rintangan yang heboh&#8221;, puji Sang Kaisar pada panglimanya.</p>
<p>&#8220;Terima kasih Yang Mulia, saya tak mungkin menghadirkan rintangan tanpa pengujian yang seksama&#8221;, jelas Sang Panglima dengan bangga.</p>
<p>&#8220;Jadi memang sudah matang persiapannya ya?&#8221;, tanya Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Sangat matang Yang Mulia, bahkan minggu lalu saya sudah coba sendiri melewati jembatan manusia itu&#8221;, jawab Sang Panglima.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;, tanya Sang Kaisar agak kaget.</p>
<p>&#8220;Iya yang mulia, saya sendiri nggak sampai lewat setengah dari jembatan itu, setelah itu masih harus istirahat 3 hari 3 malam, semua itu demi Benteng Takeshi&#8221;, kata Sang Panglima.</p>
<p>&#8220;Wah, kamu cari-cari alasan saja agar tak kuhukum karena bolos kerja. Tahukah kamu bahwa bendahara Benteng Takeshi sudah kuminta untuk memotong gajimu!&#8221;, kata Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Mm.., Maaf Yang Mulia, bulan lalu Komandan Sakurata juga bersenang-senang dengan para wanita di lokalisasi belakang Benteng Takeshi selama 5 hari hingga bolos kerja, tapi gajinya tidak dipotong&#8221;, protes Sang Panglima.</p>
<p>&#8220;Bego kamu! Dia tidak kupotong gajinya karena bersenang-senangnya juga mengajak aku sedangkan kamu bersenang-senang sendiri!&#8221;, kata Sang Kaisar sambil kembali memukul-mukulkan kipas yang dibawanya pada kepala panglimanya itu.</p>
<p>Kali ini Sang Panglima hanya menggerutu dalam hati dan tak berani menentangnya lagi.</p>
<p>&#8220;Oke, sekarang bagaimana laporannya dari rintangan tadi?&#8221;, tanya Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Yang mulia, rintangan tadi menyisakan 4 peserta, 2 pria dan 2 wanita&#8221;, jawab Sang Panglima.</p>
<p>&#8220;Bagus! Selanjutnya rintangan apa lagi yang harus dihadapi oleh sisa peserta itu?&#8221;, tanya Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Setelah ini mereka akan dihadapkan oleh sebuah rintangan yang lebih berat lagi Yang Mulia&#8221;, jawab Sang Panglima.</p>
<p>&#8220;Begitu ya! Tolong kamu jelaskan karena pemirsa pasti juga ingin tahu!&#8221;, kata Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Begini Yang Mulia, rintangan ini telah kami rancang berdasarkan konsultasi para punggawa Benteng Takeshi dengan seorang ahli bergelar doktor dalam bidang pornografi dan baru-baru ini menjadi penulis di situs 17Tahun.com&#8221;, jelas Sang Panglima.</p>
<p>&#8220;Wah.., menarik juga, itu juga situs favorit saya, hampir tiap malam sebelum tidur saya pasti menyempatkan membaca 10-20 cerita di dalamnya&#8221;, kata Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Wah, rupanya para pemirsa sudah tidak sabar lagi, kita lanjutkan saja pada rintangan berikutnya, yang pasti lebih seru&#8221;, kata Sang Kaisar.</p>
<p>&#8220;Baik Yang Mulia, mari kita saksikan saja!&#8221;, jawab Sang Panglima.</p>
<p>Babak Penyisihan Terakhir</p>
<p>Pada rintangan ini para peserta diharuskan untuk memberikan kepuasan sex pada lawan mainnya. Peserta diberi waktu selama 3 jam untuk memuaskan sebanyak-banyaknya lawan mainnya. Lawan mainnya telah disiapkan oleh punggawa Benteng Takeshi dan bisa dipilih oleh peserta. Bagi calon lawan main yang telah terpilih oleh seorang peserta, tak boleh dipilih lagi oleh peserta lainnya.</p>
<p>Peserta dituntut untuk jeli dalam memilih lawan mainnya karena sebagian dari mereka ada yang impoten, frigid, dan ada pula yang memiliki penyimpangan seksual. Juri dari permainan ini adalah lawan main dari peserta itu sendiri. Karena setiap kali peserta menyudahi permainan seksnya dengan lawan mainnya, maka lawan mainnya akan memberinya nilai antara 1 sampai dengan 5. Pemain dengan nilai tertinggi akan dianggap sebagai pemenang. Jadi tak hanya kuantitas tapi kualitas permainan seks peserta juga jadi ujian bagi peserta.</p>
<p>Empat peserta yang tersisa tengah bersiap-siap di kamarnya masing-masing. Bentuk dan isi masing-masing kamar tersebut sama persis, yaitu sebuah ranjang spring bed king size, sofa, meja, kulkas dengan berbagai soft drink dari sponsor dan kamar mandi yang lengkap dengan bath tub dan shower. Masing-masing kamar peserta juga telah dipasangi beberapa kamera.</p>
<p>Sebuah area yang luas juga telah penuh terisi 200 calon lawan main, 100 pria dan 100 wanita. Mereka berumur antara 18 tahun hingga 60 tahun. Sebuah ruangan kosong yang berisi beberapa peralatan elektronik juga telah disiapkan para punggawa Benteng Takeshi sebagai tempat pooling nilai bagi lawan main yang telah dipuaskan oleh peserta. Sang Kaisar dan para punggawa serta pemirsa akan menyaksikan adegan tanpa sensor<img title="censor" src="http://www.kampus.us/images/smilies/censored.gif" border="0" alt="" /> dari permainan ini melalui layar TV raksasa.</p>
<p>Sebelum permainan dimulai, para peserta telah berdiri di depan kamarnya masing-masing. Dengan didampingi oleh komandan Hayato, mereka memperkenalkan diri satu persatu.</p>
<p>Peserta #1: &#8220;Saya ibu rumah tangga tapi bekas bintang porno, usia 37 tahun&#8221;</p>
<p>Peserta #2: &#8220;Profesi saya gigolo profesional, usia 26 tahun&#8221;</p>
<p>Peserta #3: &#8220;Saya web admin dari beberapa situs porno, usia 30 tahun&#8221;</p>
<p>Peserta #4: &#8220;Saya masih gadis, freelancer, usia 24 tahun&#8221;</p>
<p>Bel tanda mulai telah berbunyi, keempat peserta langsung berlari ke area pemilihan calon lawan mainnya.</p>
<p>Peserta #1 langsung memilih pemuda belia dan dibawanya ke kamar.</p>
<p>Peserta #2 membawa masuk ke kamarnya 2 wanita sekaligus, rupanya ia sangat yakin dengan kemampuannya.</p>
<p>Peserta #3 kelihatan tidak terlalu terburu-buru dalam memilih calon mainnya, dan ia akhirnya masuk ke kamarnya dengan seorang wanita yang seumur dengannya.</p>
<p>Peserta #4 juga sangat percaya diri dan membawa seorang gadis belia dan seorang pemuda sekaligus.</p>
<p>Dukungan para suporter makin ramai seolah acara sepak bola yang seru.</p>
<p>Di dalam kamarnya, peserta #1 langsung melepas kimononya, lalu melucuti pakaian pemuda lawan mainnya. Ia beri sedikit pemanasan dan tak lama kemudian mereka berdua telah bergumul hebat. Selang 5 menit, penis pemuda itu telah berada dalam kuluman bibir peserta #1. Peserta #1 ingin segera menyudahinya dengan memberi sedotan nikmat pada penis pemuda itu. Taktiknya jitu, crot.. crot.. crot selesailah sudah. Sekeluar dari kamar, peserta #1 kembali ke arena pemilihan untuk memilih mangsa berikutnya dan lawan mainnya ke ruang polling. Pemuda itu memberi nilai 4.</p>
<p>Sementara itu peserta #2 tengah memberi genjotan penisnya pada memek seorang lawan mainnya sambil menjilati memek lawan main lainnya. Ia menggilirnya sedemikian rupa hingga 30 menit kemudian kedua lawan mainnya telah menggelimpang tak berdaya. Masing-masing memberinya angka 4, sehingga totalnya 8.</p>
<p>Di kamar lainnya, peserta #3 juga tampak sedang asyik masyuk dengan lawan mainnya. Seakan tak terpengaruh oleh berjalannya waktu, ia terus memainkan pinggulnya berirama sambil terus mencumbui bibir dan leher serta terkadang menghisap bagian telinga lawan mainnya. Wanita lawan mainnya benar-benar merasa di atas awang-awang dan akhirnya menggelinjang penuh kenikmatan. Peserta #3 memperoleh nilai sempurna yaitu 5 tapi waktu yang dibutuhkannya hampir 1 jam.</p>
<p>Peserta #4 kali ini dapat dikatakan kurang beruntung. Lawan mainnya yang wanita ternyata bukanlah lesbi seperti perkiraannya dan lawan main prianya ternyata punya fisik yang hebat hingga ia sendiri merasa lemas karena telah orgasme beberapa kali. Nilai total yang diperolehnya hanya 6, 4 dari yang pria dan 2 dari yang wanita.</p>
<p>Satu jam pertama telah lewat. Peserta #1 telah mengumpulkan nilai 12, Peserta #2 memimpin dengan nilai 15, peserta #3 untuk sementara jadi juru kunci dengan nilai 5 dan Peserta #4 nilainya 10.</p>
<p>Bagaikan sebuah lomba dalam suatu bidang olah raga yang sangat menguras tenaga, hampir semua peserta menunjukkan raut muka kelelahan. Bahkan peserta #4 sempat mengistirahatkan dirinya selama 30 menit tanpa mencari pasangan. Hanya peserta #3 saja yang terlihat masih dapat tersenyum setiap kali selesai dan keluar dari kamarnya, ia benar-benar menikmati tanpa beban ataupun ambisi untuk menang. Peserta #1 dan #2 terus bersaing dengan nilai yang ketat. Walau peserta #2 masih memimpin perolehan nilai tapi ia terlalu banyak menguras tenaga.</p>
<p>Permainan telah berlalu selama 2 jam. Peserta #3 dan #4 sama-sama mengumpulkan nilai 15. Peserta #2 masih memimpin dengan nilai 28 disusul peserta #1 dengan nilai 26. Menyelesaikan 1 jam terakhir, peserta #1 dan #2 masih menggunakan strategi yang tetap, yaitu memilih 2 lawan main setiap kali menyelesaikan sebuah permainan. Peserta #4 kelihatan sudah pasrah dan agak ogah-ogahan dalam melanjutkan permainan, tapi kali ini pilihannya tepat. Peserta #3 membuat kejutan dengan memilih 6 wanita sekaligus pada 1 jam terakhir.</p>
<p>Peserta #1 dan #4 yang sama-sama wanita memanfaatkan sisa waktu permainan dengan berusaha menikmatinya. Bagi #4, ia merasa nilainya sudah tak dapat mengejar lagi nilai peserta yang lain dan pilihannya yang terakhir rupanya sesuai dengan harapannya, yaitu seorang wanita yang lesbian. Sementara #4 menggumuli lawan mainnya dengan posisi 69 dan saling menjilati memek, #1 tengah mencari kepuasan dengan seorang pemuda belia. Peserta #1 optimis dapat menyusul nilai peserta #2 bila yang terakhir dapat memperoleh nilai penuh.</p>
<p>Peserta #2 tampaknya merasa grogi dan mulai kehilangan kepercayaan diri seiring dengan kondisi fisiknya yang terlalu diforsir. Keberuntungannya di 1 jam yang tersisa juga tak berpihak padanya. Pilihannya ternyata salah, karena 2 wanita terakhir yang dapat dipilihnya adalah frigid.</p>
<p>Peserta #3 sedang menikmati sisa waktu permainan dengan 6 wanita sekaligus. Ia telanjang di tengah gumulan 6 wanita bugil. Kamarnya penuh dengan suara desahan wanita yang sedang didera kenikmatan yang ia berikan dengan sungguh-sungguh. Semua bagian tubuhnya ia pakai untuk berusaha memuaskan keenam wanita lawan mainnya, penis, mulut, dua tangannya dan kakinya. Tak ada yang dibedakan, tiap wanita lawan mainnya merasakan kesemuanya itu dengan bergantian.</p>
<p>Akhirnya, bel tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Total nilai akhir bagi peserta #4 adalah 20. Peserta #2 benar-benar kecewa dan menundukkan mukanya karena optimisme peserta #1 untuk melampaui peserta #2 menjadi kenyataan, nilainya hanya selisih 1 yaitu 40 dan 39. Tapi peserta #1 tak menyangka bahwa peserta #3 dapat memperoleh tambahan nilai yang spektakuler di akhir lomba hingga akhirnya menyamai nilainya. Keduanya harus membagi hadiah utama. Bagi peserta #3 ia merasa sangat puas dengan hasil itu karena selain memperoleh hadiah ia juga benar-benar menikmati setiap saat dari lomba tersebut. Peserta #1 yang tak mengira mendapat saingan tak terduga merasa agak terhibur setelah memperoleh bisikan dari Kaisar Benteng Takeshi ketika memberinya separoh hadiahnya.</p>
<p>E N D</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1198&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/05/20/takeshi-castle-x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.kampus.us/images/smilies/censored.gif" medium="image">
			<media:title type="html">censor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kado ulang tahun</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/05/11/kado-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/05/11/kado-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 09:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1216</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu Sabtu, pas malam minggu dihari kelahiranku yang ke-17, jadi orang tuaku sengaja mengadakan pesta Ulang Tahun untukku, anak lelaki satu-satunya. Maklum saja aku anaknya pemalas banget soal pesta-pestaan, alias kutu buku banget dan smart di sekolah, berbeda dengan kakak perempuanku yang satu-satunya juga, badung dan ogah-ogahan kalau disuruh belajar (padahal pintar juga sekolahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1216&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hari itu Sabtu, pas malam minggu dihari kelahiranku yang ke-17, jadi orang tuaku sengaja mengadakan pesta Ulang Tahun untukku, anak lelaki satu-satunya. Maklum saja aku anaknya pemalas banget soal pesta-pestaan, alias kutu buku banget dan smart di sekolah, berbeda dengan kakak perempuanku yang satu-satunya juga, badung dan ogah-ogahan kalau disuruh belajar (padahal pintar juga sekolahnya loh, sampai lulus SMU dia tidak pernah lolos dari urutan 10 besar dalam ranking sekolahnya).</p>
<div id="post_message_7809" style="text-align:justify;">
<p><span id="more-1216"></span>Dasar kakak cewekkku ini badung, dia tidak ada selama sore hari saat berlangsungnya pesta, kemana ya, aku juga jadinya agak sedih sedikit. Bukan mengharapkan kado darinya, tapi dengan kehadirannya saja aku tentu akan sangat senang sekali, karena minimal aku bisa memperlihatkan pada teman-teman cewekku di sekolah (yang kuundang ke pestaku) bahwa dikeluargaku juga ada cewek kecenya yang tidak kalah kece dari semua teman paling kece di sekolahku).</p>
<p>Pas acara sudah mau berakhir, yaitu acara disco bebas, aku lagi bengong-bengong melihat teman-temanku ajojing, nah kakak cewekku satu-satunya pulang juga. Wah happy banget aku, maklum saja kami memang cuma 2 bersaudara, tidak punya saudara kandung lain. Dia sih sudah kuliah tahun ke-2, sedangkan aku masih SMU kelas 2.</p>
<p>&#8220;Jon.. selamat Ulang Tahun yah.. sorry aku kagak bawa kado..&#8221; kata Fifi sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman setelah melihat tumpukan kado di atas meja.</p>
<p>Wah dia pulang saat temanku belum bubar saja aku sudah happy banget, boro-boro mikirin kado deh, habis salaman kupeluk kakakku dengan kegirangan (kami memang akrab sekali sebenarnya, jadi biasa saja pelukan). Kakakku tidak lupa memberikan sesuatu yang membuatku kaget juga, yaitu ciuman di pipi kiri-kanan di depan teman-temanku. Gile bener.. akrab sih akrab sama kakak, tapi untuk ciuman baru kali ini kuterima sejak beranjak dewasa. Di belakang sih terdengar suara tepuk tangan dari teman-temanku. Mungkin bagi yang belum kenal dipikirnya pacarku datang kali, tapi bagi yang sudah tahu yah entah apa pikirannya deh. Habis biarpun kakakku tingginya 170 cm, tetap saja kalah tinggi denganku yang 175 cm saat itu.</p>
<p>Kadang-kadang, aku memang suka membayangkan bentuk tubuh Fifi. Soalnya memang dia kece sih. Terlebih sejak aku mengalami mimpi basah pertama kali waktu SMP 1 dulu. Lah yang kuimpikan saja kakakku kok, si Fifi ini. Wajahnya seperti artis Hongkong deh, putih cantik dan benar-benar kece berat pokoknya. Paling hebat saat aku melihat dia cuma berbikini saat berenang, selebihnya wah cuma dalam mimpi. Sedangkan untuk pacaran. Wah aku belum berani, soalnya cita-citaku ranking satu terus, dan idolaku yah si Fifi yang sudah muncul sejak mimpi basah pertama kali dulu. Heran yah?</p>
<p>Waktu mau bubaran pestanya, temanku yang jadi DJ iseng banget, dia muterin lagu buat slow dance, dan aku disuruh mengajak cewek pilihanku (biasanya sih kalau saat-saat begini, yang ultah ngajak orang yang di taksirnya untuk berdansa) turun dan memperkenalkan pada seluruh tamu, wah brengsek. Memang gosipnya ada beberapa cewek yang naksir padaku di sekolah, tapi aku cuek bebek, kurang begitu peduli sama mereka semua, padahal mereka-mereka itu kece dan cantik-cantik juga loh, dan rebutan cowok-cowok di sekolahku. Bukan apa-apa, kalau aku naksir yang satu kan yang lain bakalan hilang, mundur teratur, nah mendingan aku tidak memilih satu orangpun jadinya bisa nempel sama semua cewek kece.</p>
<p>Nah teman brengsek ini menyuruhku untuk mengajak satu cewek untuk slow dance, seolah mengumumkan siapa cewek pilihanku. Yah sulit dong.. Gile juga.. Tapi akalku jalan cepat sekali, si Fifi kudatangi walaupun lagi mojok di dekat orang tuaku (tapi tidak ngobrol, jadi bagi yang belum kenal Fifi, tetap saja menganggap Fifi cuma temanku). Fifi agak terkejut sedikit waktu tahu dan sadar dia yang kuajak slow dance, tapi belum berkomentar apa-apa. Begitu kami masuk ke tengah-tengah arena slow dance, di tengah kerumunan pasangan lain baru Fifi berbisik, &#8220;Jon&#8230; kok ngajak aku slow dance-nya sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Fi.. aku belum punya cewek sih..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kan banyak teman elu yang kece-kece tuh..&#8221; masih sambil berbisik.</p>
<p>&#8220;Yang kece sih banyak Fi.. tapi yang sekece kamu mana ada..&#8221; rayuku pada kakak sendiri.</p>
<p>&#8220;Gelo loh.. cewek kece banyak begitu disia-siakan..&#8221;</p>
<p>&#8220;Beneran Fi.. nggak ada yang cantik dan dewasa seperti kamu, semuanya ABG doang..&#8221;</p>
<p>Fifi tidak menjawab lagi, tapi menaruh kepalanya pada pundakku. Harum rambutnya yang tadi sore keramas bercampur dengan sedikit keringat kepalanya di hidungku begitu merangsangnya. Begitu kugeser kepalaku sedikit mendekati telinganya lagi, kali ini makin jelas aku mencium parfum si Fifi yang dipakai pada belakang telinga. Kakakku ini seru loh, suka memakai parfum lelaki! Dan aku mengikuti dia dalam merk parfum. Cuma berhubung bau badan kami beda dikit yah tetap saja aku terangsang mencium bau campuran parfum dan bau badan Fifi. Batang kemaluanku ngaceng berat waktu itu.</p>
<p>Begitu Fifi sadar, aku membaui sekitar belakang telinganya, dia memelukku lebih erat lagi. Alamak.. Cukup terasa juga payudaranya menekan dadaku. Wow.. empuk-empuk nikmat (memang nikmat?!) Pokoknya menimbulkan sensasi tersendiri. Mungkin yang merasakan nikmat si cewek kali kalau bersentuhan dada begitu. Aku sebagai lelaki sih rasanya enak-enak saja.</p>
<p>Sepanjang lagu yang satu itu, tanganku yang tidak memegang tangan Fifi kusuruh menjelajahi punggungnya. Dari dekat lehernya sampai ke pinggangnya. Berhubung Fifi memakai gaun malam mini, yah dia tidak perlu pakai rok-rok segala dong, kan jadi satu sama atasan, eh baju terusan itu. Mini tuh maksudku masih setinggi pertengahan paha. Nah saat aku mengusap-usap pinggang Fifi, aku tidak begitu merasakan adanya garis celana dalamnya.</p>
<p>Timbul niat isengku pada kakak sendiri, sekalian mau tahu juga.</p>
<p>&#8220;Fi.. kamu nggak pakai celana dalam yah?&#8221; kataku sambil berbisik di telinganya.</p>
<p>&#8220;Eh.. enak saja.. aku pakai tahu.. nakal loh Jon nanyanya!&#8221; jawab Fifi sambil berbisik.</p>
<p>&#8220;Kok nggak berasa dipegang Fi.. batas celana dalamnya..&#8221; bisikku lagi penasaran.</p>
<p>&#8220;Coba elu rabanya turun lagi dikit..&#8221; balas Fifi sambil berbisik juga.</p>
<p>Lalu kuraba mengikuti petunjuknya, kali ini buah pantatnya terpaksa harus kuraba-raba. Dan merabanya makin turun saja. Benar juga, akhirnya ketemu dan kutelusuri garis batas celana dalamnya. Dilihatin orang nih dansanya. Nekat kali aku meraba makin ke bawah. Ha! Gile apa.. ini kakak sendiri friends. Rabaanku berjalan ke samping saja, menelusuri pelan-pelan garis celana dalam Fifi yang memang sepertinya cuma segaris itu. Oh.. aku tahu sekarang, celana dalamnya model tali saja dan dipakainya berbentuk V.</p>
<p>&#8220;Fi.. celana dalam elu modelnya aneh banget sih.. makanya kukirain tadi kagak pake celana,&#8221; kataku masih berbisik.</p>
<p>&#8220;Makanya elu cari pacar dan pacaran.. nanti jadinya tahu..&#8221; balas Fifi masih bisik-bisik saja.</p>
<p>&#8220;Kalo pacarku seperti kamu sih boleh saja Fi..&#8221; balasku mesra.</p>
<p>Wah pembaca, jangan heran kami bisa ngomong bebas begini kan karena memang akrab.</p>
<p>Dalam kepalaku timbul juga perasaan cemburu sedikit saat itu. Wah.. sialan siapa saja nih yang sudah pegang-pegang si Fifi sampai dia perlu pakai celana dalam sexy seperti itu. Sialan&#8230; mau kuhajar saja rasanya. Belum tahu kali tuh cowok, adiknya Fifi jagoan taekwondo, karate sekaligus Merpati Putih.</p>
<p>Eh lagi enak-enak memeluk Fifi sambil goyang-goyang lagunya habis.. sialan, temanku mengganti jadi disco lagi. Yah sudah bubaran deh slow dance-ku dan Fifi. Aku masih melihat-lihat teman yang lain, si Fifi menghilang entah kemana. Karena acara terakhir pesta rumahan adalah disco, yah tidak lama setelah itu bubar deh pestanya, masak anak SMU pesta di rumahan sampai lewat jam 12 malam sih? Nggak sopan dong (anak ranking 1 nih yang bilang, aku!).</p>
<p>Persis jam 12 lewat 5 menit, teman terakhir sudah tidak kelihatan mobilnya. Aku yang capek banget rasanya mau tidur saja deh, sambil mikirin Fifi. Kemana yah dia? Urusan kado besok saja lah. Tidak mungkin ada yang ngambil ini. Aku naik ke atas dan langsung masuk ke kamarku. Melepaskan pakaian dulu lalu masuk kamar mandi pribadi dan bersih-bersih. Masih bugil aku balik ke ruangan ranjang. Ah biasanya tidur pakai CD, kali ini mau nyobain bugil ah, sudah gede ini, kan 17 tahun. Yah badanku yang gede dan anuku juga cukup gede kok. Panjangnya sih cuma 15 cm saja.</p>
<p>Karena AC kamarku cukup dingin, aku biasa tidur memakai selimut (Tidak lucu sebenarnya, kalau memahami kesehatan, saat tidur itu bagusnya tubuh kita tidak dalam keadaan &#8216;terikat&#8217; dan udara yang kita hirup sebaiknya memang sekitar 18-24 derajat celsius. Jangan lebih panas dan jangan lebih dingin. Itu baru tidur sehat. Eh ini kata dokter Joni loh hehehe coba saja iseng tanya dokter beneran.) Kan bule-bule dalam film banyak yang tidur bugil toh?</p>
<p>Masih berbaring, pikiranku melamun pada peristiwa slow dance bersama Fifi, kakak tercintaku. Saat dance tadi aku sih lupa apakah ngaceng atau nggak, tapi saat mikirin aku inget. Ngaceng kenceng! Gile kupegang si Junior, malah makin bikin tenda di selimutku jadinya. Yah kuusap-usap sayang deh juniorku. Tentu saja sambil membayangkan bagaimana bentuk tubuh si Fifi yang polos dalam keadaan bugil sepertiku, apalagi sambil menari bareng. Wow.. asyik loh.</p>
<p>Aku berhayal.. Tubuh si Fifi mulus tanpa cacat (sepertinya memang belum pernah luka sih, paling bekas suntikan cacar di pahanya) payudaranya yang lumayan mantap kalau dipegang, dengan puting cukup besar sehingga enak dikulum. Lalu perutnya yang datar dan rata karena hobbynya aerobic dan fitness, dan pantatnya yang aduhai montoknya, tadi saja saat kupegang waktu slow dance mantap banget rasanya.</p>
<p>Eh lagi enak-enak berhayal begitu, tiba-tiba pintu kamarku diketok. Tok.. tok.. tok.. cuma tiga kali dan tidak kencang. Karena kebiasaan menjaga privacy di keluarga kami, sebelum masuk harus ketok pintu dulu, aku sih tidak pernah mengunci pintu.</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Aku Jon..&#8221; jawab suara yang tidak asing lagi, sepertinya berbisik tuh.</p>
<p>Wharakadah! Gadis yang sedang kuimpi-impikan muncul mendatangiku friends! Aku terdiam bingung.</p>
<p>&#8220;Jon.. elu belum pulas kan?&#8221; tanya Fifi dari balik pintu.</p>
<p>Lalu diam menunggu jawabanku. Wah gimana nih.. aku sedang bugil dalam selimut begini. Ah biarin deh.</p>
<p>&#8220;Boleh masuk Jon?&#8221; tanya Fifi lagi, padahal aku baru mau menyuruhnya masuk, tapi belum sempat.</p>
<p>&#8220;Iya, masuk saja Fi..&#8221; kataku cukup keras supaya jelas terdengar olehnya, kalau pelan-pelan entar dia tidak jadi masuk lagi, kan bikin sedih jadinya.</p>
<p>Si Fifipun masuk juga, setelah menutup pintu kamar, dia berbalik dan,</p>
<p>&#8220;Jon lampunya dinyalain yah?&#8221; tanya Fifi.</p>
<p>Maklum sebelum naik ranjang, lampu terangnya kumatikan, cuma sisa lampu kecil saja, jadi remang-remang. Wah benar juga idenya, jadi aku bisa melihat jelas tubuh Fifi, sepertinya cuma memakai baju tidur waktu bayangannya terlihat saat memasuki kamarku.</p>
<p>&#8220;Iya deh..&#8221; jawabku, lalu sadar, wah.. entar senjataku yang ngaceng kelihatan dong!</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;&#8221; belum sempat aku ngomong lagi, si Fifi sudah menyalakan lampu.</p>
<p>&#8220;Blar..&#8221; terang deh.</p>
<p>Aku memperhatikan Fifi. Dia memakai baju tidur favoritku, karena model baby doll, terusan cuma melewati pantatnya dikit, warna kuning muda dan agak transparan. Biasanya kalau dia berdiri membelakangi lampu sih kelihatan bentuk tubuhnya, dan pakaian dalamnya. Kali ini belum kelihatan, kan lampunya di tengah ruangan, sedang dia masih dekat pintu.</p>
<p>&#8220;Ada apa Fi?&#8221; tanyaku bingung juga dan heran, ada apa malam-malam waktunya tidur begini dia datang yah? Kalau masih sore sih aku tidak heran, paling dia mau nanya soal komputer atau soal mobilnya.</p>
<p>&#8220;Eh sebelumnya sorry loh Jon..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; langsung kupotong saja.</p>
<p>&#8220;Aku kan belum ngasih kado buat elo.. kagak kepikir mau ngasih apa sih.&#8221; lanjut si Fifi mencoba senyum menghiburku kali. Wah bener juga.</p>
<p>Aku memang tidak sempat memikirkan Fifi ngasih kado atau tidak, dia mau slow dance denganku saja rasanya aku happy banget. Lalu sekarang mau apa lagi nih?</p>
<p>&#8220;Ah nggak apa-apa Fi.. nggak masalah soal kadonya.. aku punya kakak sebaik elu saja sudah merupakan kado yang indah setiap hari..&#8221; kataku.</p>
<p>Lalu si Fifi berjalan menghampiri ranjang sambil melihat mataku terus. Wah untung tidak melihat ke arah juniorku. Masih ngaceng man! Bayangkan sendiri deh cewek kece, seksi sedang berada di dekat kamu, di ranjang yang sedang bugil. Dan sambil tersenyum manis sekali pada kamu.</p>
<p>Sewaktu dia makin mendekatiku, aku menggeser ke tengah ranjang, jadi dia bisa duduk di tepi ranjang kalau memang mau ngobrol agak lama. Nah saat makin dekat itulah lampu kamar dibelakangi olehnya. Wow.. bayangan mulus tubuhnya yang sempurna sekali (nggak kayak gitar kok, tapi melengkung dan meliuk indah) makin jelas saja terlihat. Benar saja dia duduk dekat pinggangku, persis sebelah pinggang dan juniorku yang ngaceng berat. Selimutku yang bergeser membuat si junior mengangguk-angguk kegelian karena gesekan itu. Tangan kiriku yang masih dalam selimut terpaksa harus memegangi si Junior nih. Fifi berlagak tidak melihat dan tetap senyum manis sekali.</p>
<p>&#8220;Jon.. aku mau ngasih kado spesial buat elu, tapi.. elu nggak boleh cerita sama siapapun juga, setuju?&#8221; Langsung saja aku mengangguk, walaupun bingung menduga-duga kado spesial apaan, apakah Blow Job? Belum tentu, terusin saja baca ceritanya.</p>
<p>&#8220;Janji yah Jon..&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya berjanji, Fifi kakakku tersayang..&#8221; kataku menegaskan dari sekedar mengangguk.</p>
<p>&#8220;Jon, Fifi mau tahu.. kamu beneran belum pernah pacaran? Maksudnya nge-date berduaan ama cewek?&#8221; tanya dia.</p>
<p>&#8220;Bener Fi.. kan tiap malam minggu, kalau kagak ada pesta ultah, yah aku di rumah saja kok surfing di internet, kamu sih kelayapan melulu malah ninggalin aku sendirian kalau malam minggu&#8221; kataku, dia senyumnya makin lebar.</p>
<p>&#8220;Jadi belum pernah pegang-pegang tubuh cewek dong?&#8221; tanyanya lagi, memancing dikit.</p>
<p>&#8220;Yah pegang sih belum cuma kalo melihat sering?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh yah? Dimana?&#8221; tanya Fifi kaget sedikit.<br />
&#8220;Di internet..&#8221; jawabku cepat, memang betul sih.</p>
<p>Dia tersenyum lagi.. heran kayaknya makin lama melihat Fifi tersenyum makin manis saja tuh senyumnya, wah aku rasanya makin senang dan happy sekali melihat bibirnya yang tersenyum.</p>
<p>&#8220;Jadi yang real dan asli belum pernah dong?&#8221; kata Fifi masih dengan tersenyum.</p>
<p>Bagiku ini bukan ledekan, tapi ucapan tulus kakak pada adik yang memang akrab. Aku mengangguk.</p>
<p>&#8220;Fifi mau kasih hadiah khusus, tapi kamu harus janji tidak boleh ngapa-ngapain kalo kagak disuruh. Mau nggak?&#8221; tanya Fifi, kakak tersayangku ini. Aku mengangguk.</p>
<p>&#8220;Eh janji dulu..&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya deh Joni janji Fifi sayang..&#8221; kataku memuaskan keinginan Fifi.</p>
<p>&#8220;Siap menerima hadiah?&#8221; tanyanya lagi sambil menegakkan badannya yang tadinya duduk santai.</p>
<p>Aku mengangguk lalu berkata, &#8220;Siap boss..&#8221;</p>
<p>Fifi kemudian menaiki ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan tubuhku untuk bergeser sedikit. Ranjangku sih ukuran 160 lebarnya, jadi muat saja kalau mau tidur berduaan. Lalu Fifi berlutut tegak di sampingku, memandang mataku lekat-lekat masih dengan senyum manisnya. Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya. Ops.. Fifi terlupa sesuatu.. buru-buru dia turun ranjang dulu, menuju ke lemariku yang ada componya, dia pilih buru-buru salah satu CD lalu diputarnya. Nah muncul lagu romantis, dipasangnya cukup keras tapi tidak mengganggu keluar ruangan. Mungkin sekedar supaya pembicaraan kami tidak terdengar saja kali. Lalu dia berjalan ke pintu dan mengunci pintu.</p>
<p>Aku merasa sedikit heran, mau ngapain nih. Si Fifi balik lagi ke sampingku, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti irama lagu. Tangannya balik lagi memegang ujung bawah baju tidurnya dan mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Wah ini sih striptease. Kutungguin saja deh. Begitu bawah bajunya mulai naik setinggi bawah selangkangannya, aku makin deg-degan! Cepat sekali naik lagi perasaanku. Lalu muncul celana dalamnya yang transparan dan seperti tadi waktu dansa berbentuk V dan sebagian besar tali. Warnanya sih hitam, ada merahnya sedikit persis ditengah dekat bawah pusarnya, eh tuh merah bunga kecil, cuma satu.</p>
<p>Gila friends.. bulu kemaluannya terlihat. Belahan kewanitaannya sih terbayang dalam bungkusan CD halus itu yang mengikuti bentuk bibir kemaluannya. Wow.. sialan aku janji tidak boleh ngapa-ngapain. Wah pingin sekali untuk menjamahnya. Tangan kiriku terpaksa memegangi juniorku deh. Makin keras saja ngacengnya nih.</p>
<p>Makin tinggi Fifi menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya terlihat. Begitu bagian bawah payudaranya muncul. Wow.. aku sampai menelan ludah. deg-degan makin keras. Ops.. sial ada BH-nya! Eit tunggu dulu, BH-nya seru banget.. juga hitam transparan dan puting susunya yang kuduga besar, benar saja muncul dan terlihat jelas, kali ini aku tidak perlu menebak-nebak lagi, ternyata warnanya merah sedang, nggak pink sih, lebih tua sedikit tapi tidak coklat gelap. Saat bajunya melewati kepalanya, aku ingin sekali memegang payudaranya. Tapi ingat janji.. wah brengsek.. padahal si Fifi kan tidak melihat.</p>
<p>Dan saat bajunya sudah lolos melewati kepala, Fifi langsung membuangnya ke atas karpet kamarku. Tangannya kembali turun lagi yang membuat payudaranya terlihat dan berbentuk semakin menonjol saja. Gile bener.. sss.. alamak nggak tahan nih.. Kemudian Fifi menggeser posisi berlututnya kali ini dia mengangkangiku. Wow.. sepertinya aku semakin tidak tahan deh. Mana tangan kiriku sudah tidak lagi memegang si Junior lagi dan dengan posisi baru ini otomatis Fifi menindih perutku. Dia masih bergerak meliuk dan menari. Mungkin tidak nyaman menari di atas selimut, dia menggeser dulu lalu mendadak menyingkapkan selimut untuk membuangnya.</p>
<p>&#8220;Eit.. sorry Jon.. aku nggak tahu elu kalo tidur juga bugil!&#8221; kontan kedua tanganku menutupi juniorku.</p>
<p>Tapi mana bisa.. lah lagi siaga satu gitu kok. Lagi pula dia ngomong dengan kalimat ..juga bugil! Wah dia kalau tidur bugil dong?! Kenapa tidak dari dulu aku masuk kamarnya kalau dia sedang tidur.</p>
<p>Karena aku diam saja tidak berkata apa-apa, Fifi balik lagi berlutut di atas perutku menghadap wajahku dengan sebelumnya mengambil tanganku untuk melepaskan pegangan yang menutupi si Junior. Terpaksa tanganku posisinya seperti orang menyerah kalau berdiri, kutaruh di samping kepala. Sepertinya Fifi sedang bergerak menari sambil membuka BH-nya deh.. tapi susah atau sengaja susah membukanya?</p>
<p>&#8220;Fi.. boleh aku bantuin membuka BH kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang kupikir tadinya mau nyuruh elu yang bukain.. tapi gue kagok..&#8221; lalu sambil berkata begitu dia rebahan dikit, tangannya menopang tubuhnya di samping kepalaku, dengus nafasnya dekat sekali menyapu wajahku.</p>
<p>Karena posisi berlututnya di perutku, yah mulut dan hidungku cuma kebagian lehernya saja. Wah wangi juga lehernya.. tanganku mulai memeluknya dan mencari kaitan BH-nya di punggungnya. Biarpun sudah ketemu sengaja aku lama-lamain. Enak gila.. memeluk tubuh hangat cewek kece seperti ini.</p>
<p>&#8220;Ayo Jon.. jangan nakal, hadiahnya masih banyak..&#8221; kata Fifi lalu menggeser tubuhnya yang berada di atasku sehingga menurun sedikit dan wajahnya berhadapan dengan wajahku.</p>
<p>Alamak.. dengus nafasnya yang menyentuh wajahku membuatku konak lagi dan semakin bernafsu. Tidak tahu siapa yang memulainya, tahu-tahu bibir kami nempel dan lidah Fifi menyapu bibirku. Sepertinya sih Fifi juga nafsu sekali mau menciumku kali, habis wajahku tetap lurus, tapi wajahnya miring-miring kok. Nah kan dia yang berusaha lebih keras buat menciumku toh?</p>
<p>&#8220;Blp.. buka mulutnya Jon.. aku ajarin ciuman..&#8221; kata Fifi.</p>
<p>Lalu kuikuti membuka mulut, membiarkan lidah Fifi masuk ke dalam mulutku. Dia menyapu gigi depanku, lalu lidahku didorong-dorong dan dibolak-balik segala, dan malah lidahku dikitik-kitik dengan lidahnya juga. Wah seru juga loh, tukar-tukaran ludah.</p>
<p>Aku lupa bahwa tanganku sudah melepas BH-nya apa belum yang jelas tanganku mengusap punggungnya dengan bebas tanpa ganjalan BH segala. Kuusap-usap terus punggungnya yang mulus dan hangat. Dada kami sih masih terpisah oleh BH-nya. Ops.. baru aku bilang masih terpisah, Fifi menarik BH-nya untuk disingkirkan. Sambil ciuman begitu, otakku mikirin bagian bawah kami. Wah senjataku tergesek-gesek sama celana dalam mini si Fifi nih, sakit dikit sih, lecet nggak yah?</p>
<p>&#8220;Fi.. boleh aku lepasin celana dalam elu nggak? Kontol gue sakit kegesek-gesek.&#8221; kataku melepaskan ciuman sekejab.</p>
<p>Akibatnya malah lepas terus-terusan tuh.</p>
<p>&#8220;Eit.. jangan nakal dulu. Sudah bisa ciuman yang kuajarin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya boss..&#8221; jawabku.</p>
<p>&#8220;Elu diam saja yah..&#8221; kata Fifi. Lalu dia bergerak semakin turun.</p>
<p>Kali ini sampai dia duduk di kakiku. Dia persisnya menduduki bagian ujung kakiku, nggak diduduki habis sih, dia bersimpuh sedikit, sambil bergerak perlahan-lahan wajahnya ikutan turun sambil mencium badanku juga. Geli sekali loh, apalagi waktu dia mencium putingku. Wow.. sampai kupegang kepalanya gara-gara geli. Untung dia tidak marah. Waktu hidungnya kena bulu kemaluanku, makin geli dan si Junior mulai kena dengusannya dan dikecup kepalanya, sepertinya sih kena mata tunggal di kepala si Junior tuh.. geli banget sih.</p>
<p>Gila friends.. kali ini kuduga bakal dapat pengalaman dikaraokein deh, aku mau menikmati rasanya di karaokein kakak tersayang ini. Dimulai dengan jepitan erat bibirnya pada kepala kemaluanku, rasanya sukar dilukiskan, yah geli-geli enak deh. Apalagi waktu bibir itu masih dalam jepitan erat bergerak turun menyentuh lingkaran helm senjataku. Wah rasanya mau ngecret saat itu. Gile bener.. untung juniorku tahan juga.</p>
<p>Apalagi sensasi yang timbul saat bibir Fifi makin turun menjalari batang juniorku yang keras dan penuh urat-urat. Waduh, gesekannya sukar dilukiskan (namanya juga pertama kali) apalagi saat itu juga helm di kepala kemaluanku dijilati oleh lidah hangat Fifi. Wow.. mana tahan, beneran mau ngecret rasanya.</p>
<p>Dan saat jepitan erat bibir Fifi, kakak tersayangku ini semakin turun kearah bulu-bulu kemaluanku yang mulai memenuhi pangkal senjataku, ujung kepala helm si junior juga menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan Fifi. Weleh.. weleh.. gila man.. nikmat sekali! dan,</p>
<p>&#8220;Cret.. cret.. cret.. cret.. cret..&#8221; beberapa kali aku ngecret.</p>
<p>Kulirik ke sana, si Fifi melirikku juga, gile pandangannya itu.. wow.. sexy sekali.. (sering aku membayangkan dan terbayang-bayang terus wajah Fifi saat dia sedang mengkaraoke barangku) Gile deh, masih muda gini si Fifi sudah jago mengisap senjataku. Dia suka lagi.. tidak setetespun cairan maniku yang meleleh dari mulutnya. Wah di bohongin film tuh, paling yang sampai meleleh gitu yah karena si ceweknya tidak mau menelan protein yang kita keluarkan, atau mungkin di film tuh sperma meleleh karena memang asyik melihat dan menonton cairan yang meleleh.</p>
<p>&#8220;Fiii&#8230; aduh.. enak sekaliii&#8230;&#8221; kataku merintih perlahan.</p>
<p>Kencang-kencang takut orang tuaku mendengar lagi. Gile loh.. ini taboo, pamali.. incest.</p>
<p>&#8220;Jon.. hadiahnya belum selesai.. ini baru foreplay-nya buat elu&#8230;&#8221;</p>
<p>Hah..! Gile bener.. apalagi nih?</p>
<p>&#8220;Elu basahin memekku dengan ciuman yang tadi aku ajarin yah? Sementara aku bikin burung elu tegang lagi.&#8221; kata Fifi lalu berdiri dan membuka CD-nya secepat kilat.</p>
<p>Kemudian dia menungging mengambil posisi 69 persis seperti gambar-gambar di internet yang kulihat kalau ada pasangan yang saling menghisap.</p>
<p>Begitu Fifi dalam posisi mengangkang dengan pahanya terbuka lebar, harum liang kewanitaannya langsung tercium olehku. Gile bener.. nikmat sekali.. enak loh mencium bau khas liang kewanitaan cewek, wah pantesan banyak gambar orang lagi ismek dan jilmek yah? Mula-mula kujilati dulu belahan liang kewanitaan si Fifi yang terlihat sudah mulai basah, lalu setelah beberapa kali dijilat dengan ujung lidah sampai badan lidahku juga, gelambir bibir luar si Fifi yang warnanya kemerahan dikit itu mulai membuka dan melebar. Nah habis itu jangan lupa pasti sasaran kita bibir dalam mungil yang warnanya pink. Sebelumnya pastikan lagi deh, jilati terus dari batas liang kewanitaan luar paling bawah dekat perbatasan anus sampai arah klitorisnya, tentu dengan jilatan panjang tanpa terputus, dijamin kegelian tuh cewek yang kita jilati. Nah begitu diulang beberapa kali.. asyik.. terasa kan sari buah segar dari tubuh cewek seperti yang kulakukan pada Fifiku ini, kalau terasa juice-nya mulai berkurang kan kurang asyik, ganti lagi dengan mengulum seluruh bibir luarnya yang melambai-lambai, yah mengulum dan menghisaplah, terus sambil sedikit jilat dan sedot terus, sehingga sisa juice dari tubuhnya dan sedikit sisa pada lidah kita tetap saja bisa kita nikmati terus.</p>
<p>Biasanya cewek kegelian dan memproduksi lagi juice alami ini dari dalam tubuhnya. Wow.. asyik pasti deh kalau normal sama-sama menikmati kita dapat bonus lagi banyak juice.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. enak Jon.. terus.. terus..&#8221; kata Fifi.</p>
<p>&#8220;Iya Fi.. blp.. aku juga keenakan.. slup.. slup.. dikaraokein elu itu.. slup..&#8221; jawabku.</p>
<p>&#8220;Blp.. blp.. ehm.. blp.. blp..&#8221; tidak jelas deh apa jawaban Fifi, yang jelas aku ingin sekali hadiahnya berlanjut terus sekalian juga aku membalas kenikmatan pada si Fifi dong, biar adil.</p>
<p>Saling jilat dan isep yang kami lakukan kuulangi lagi. Kali ini kutambah dengan jurus baru, gara-gara melihat gambar di internet (wah lihat gambar porno berguna juga kadang-kadang yah?). Aku mencoba memasukkan lidah ke dalam liang senggama si Fifi yang mungil tempat keluarnya juice nikmat tadi. Lubang itu sih terlihat nafsuin banget. Jelas terlihat empot-empotan membuka menutup dengan gerakan-gerakan merangsang nafsuku. Karena batang kejantananku letaknya jauh, yang paling praktis yah lidah dong. Kudorong-dorong saja lidahku memasuki lubang di liang kewanitaan kakak sexy-ku ini, sambil sesekali jurus-jurus gerakannya kugabung dengan menjilat celah liang kewanitaan dan mengulum semua bibir bawah si Fifi. Wah nikmat sekali, untung si Fifi sudah memberi kursus kilat cara ciuman dan kulum-kuluman.</p>
<p>Sukar dilukiskan kenikmatan yang kudapatkan deh, bayangkan saja, kakakku yang sexy sedang mengkaraoke senjataku, sambil liang kewanitaannya kujilati.</p>
<p>&#8220;Jon.. kayaknya elu sudah siap menerima hadiah lanjutannya nih,&#8221; kata si Fifi yang buru-buru bangun dan ganti posisi, kali ini dia berjongkok di atas pinggangku.</p>
<p>Hehehe.. dia yang tidak tahan tuh. Asyik.. pasti aku akan bersenggama dengan kakak cantikku ini. Yang jelas sih memang batang kejantananku tidak ciut-ciut tuh. Alasan si Fifi saja untuk membuat liang kewanitaannya lebih basah dulu supaya kami bersetubuhnya lebih gampang, daripada alasan membuat juniorku ngaceng lagi</p>
<p>Dengan satu tangan memegang juniorku dan satu tangan lagi membuka celah liang kewanitaannya, Fifi menunduk melihat jelas-jelas supaya tidak meleset adegan persetubuhan kami yang pertama ini. Aku juga sampai menaikkan kepala kok walau sudah diganjal bantal tinggi. Gila kelihatan banget bibir kemaluan Fifi yang membuka dan siap disusupi oleh batang kejantananku yang ngaceng berat. Si Fifi perlahan-lahan menurunkan pinggulnya dan juniorku, helmnya terasa menyentuh belahan hangat basah liang kewanitaan Fifi. Makin si Fifi menurunkan pinggulnya, helm si Junior semakin tidak terlihat dengan perasaanku yang semakin keenakan.</p>
<p>Si Fifi yang tidak sabar begitu helm si Junior hilang dari pandangannya langsung menduduki pinggulku, yah sudah amblaslah seluruh batang tubuh si Junior dan batang kejantananku itupun lenyap dari pandangan.</p>
<p>&#8220;Aow&#8230; sakit Fi..&#8221; maunya aku sih teriak, habis mendadak gitu kulit batang kejantananku tertarik oleh jepitan erat dinding kewanitaan si Fifi.</p>
<p>Terasa sekali gesekan dan tarikan kulit itu loh.</p>
<p>&#8220;Sstt.. jangan berisik.. aku juga sakit Jon.. kurang pas kali..&#8221; kata si Fifi lalu dia mencabut batang kejantananku dengan mengangkat pinggulnya lagi.</p>
<p>Waw.. kenikmatan yang dirasakan tidak terlukiskan deh. Tidak sampai lepas semuanya, kali ini si Fifi menggoyang-goyang dulu pinggulnya sedikit untuk memperlancar pelumas atau arah yang tepat, aku tidak tahu deh. Lalu dia menurunkan lagi perlahan saja dulu. Nah ini baru mantap.. Pas masuknya. Sambil si Fifi goyang kiri kanan dikit dan maju mundur dikit, akhirnya batang kejantananku terbenam mantap di dalam liang kenikmatan kakak tersayangku. Duh.. ujung batang kejantananku menyentuh apaan yah? Jangan-jangan rahimnya kali!</p>
<p>&#8220;Oohhh.. Joni sayang..&#8221; si Fifi kakakku ini diam tidak bergerak lagi punggulnya tetapi bagian atas tubuhnya rebah menindihku.</p>
<p>Dadanya yang padat berisi, menindih dadaku, dan wajahnya dekat sekali di depan wajahku.</p>
<p>&#8220;Fi.. gue boleh mengusap-usap badan elu nggak?&#8221; aku bertanya, takut melanggar janji.</p>
<p>Dia tersenyum lalu mengangguk saja, dan buru-buru mulutku di cipok. Keras! Bibirku sampai terbetot karena menciumnya dengan sedotan segala. Belum kaget aku atas kejadian itu, dia mencium lagi kali ini bibirku dilumatnya dan kami pun bersilat bibir lagi.</p>
<p>Aku tersadar akan ujung si junior yang menyentuh sesuatu di dalam sana.</p>
<p>&#8220;Fi.. elu bisa hamil nggak nih?&#8221; tanyaku dengan nada khawatir.</p>
<p>Lah iya.. gila kali menghamili kakak sendiri, bersenggama dengan kakak kandung saja sudah perbuatan gila-gilaan. Apalagi sampai hamil.</p>
<p>&#8220;Tenang Jon.. baru saja gue selesai mens kok tadi pagi baru bersih..&#8221;</p>
<p>Hah? Aku yang melongo.. pantesan saja dia juga sakit waktu kami baru bersatu tadi walaupun sudah becek sejak kujilati liang kewanitaannya.</p>
<p>&#8220;Fi.. elu nggak perawan sejak kapan nih?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Eh.. nakal yah tanya-tanya.. nggak usah di omongin deh.. nikmati saja yah Joni sayang..&#8221; kata si Fifi, yah sudah.</p>
<p>Tapi kulihat dia jadinya sedih tuh gara-gara aku bertanya soal itu. Kami memang terdiam jadinya. Fifi cuma diam saat menindihku tanpa bergerak dengan memiringkan kepalanya di wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku menikmati sekali saat-saat ini. Saat-saat indah bersatu dengan kakak tersayangku. Dengusan nafas halusnya menyapu wajahku juga dengan keharuman nafas segarnya. (Wah jangan-jangan tadi kumur-kumur dengan close-up cair dulu kali nih) Tanganku mengusap-usap punggungnya yang halus tapi sedikit berkeringat karena kupegang dalam keadaan lembab. Mungkin posisinya kurang enak, si Fifi menggerakkan bagian bawah tubuhnya sedikit. Wow.. sensasi dalam lubang tempat kami bersatu itu nikmat sekali.</p>
<p>&#8220;Fifi kakakku sayang, ngapain lagi nih sekarang..&#8221; tanyaku bingung.</p>
<p>Nah tanpa menjawab dia bangkit dari menindih badanku. Kali ini dia benar-benar menduduki pinggangku. Wow buah dadanya yang mantap memerah karena tertindih tadi terlihat semakin indah saja. Putingnya juga ngaceng banget lagi, mancung.</p>
<p>&#8220;Nikmati yah Jon, jangan bergerak-gerak pinggulnya..&#8221; kata si Fifi.</p>
<p>&#8220;Ok boss..&#8221;</p>
<p>Lalu mulailah si Fifi bergerak-gerak. Mula-mula sih gerakannya cuma memaju mundurkan pinggulnya saja sehingga batang kejantananku yang terbenam dalam-dalam tidak keluar sedikitpun, tapi didalam sana rasanya. Wah.. coba sendiri deh komentarku. Kalau aku bilang enak entar tidak percaya. Pokoknya sukar dilukiskan. Ujung kepala si Junior terutama helm junior tuh yang menikmati banget gesekan-gesekan di dalam rongga persetubuhan kami, sepertinya sih menyentuh-nyentuh sesuatu benda yang agak kenyal? Seperti ada dodol bola deh di dalam sana. Apa iya itu rahim. Kepala si Junior mengelilingi dan menyenggol-nyenggol dodol bola itu. Gile bener.. sensasi yang ditimbulkan luar biasa enaknya, beneran loh aku terasa banget dan yakin, lubang kecil di helm si junior menyentuh dan disentuh sesuatu di dalam sana.</p>
<p>&#8220;Oohhh Jon..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya.. Fi..&#8221;</p>
<p>&#8220;Oohhh Jon.. Sayang..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya.. Fifi sayang..&#8221;</p>
<p>&#8220;Jon.. aaahh..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Fifi kakakku tercinta.. eugh..&#8221;</p>
<p>&#8220;Oohhh Jon.. Sayang.. enak sekali.. kamu enak Yang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Fifi sayang&#8230; wah nikmat sekali aaah.. enak Fi..&#8221;</p>
<p>&#8220;Pegang dan remas-remas tetekku dong Jon..&#8221; kata si Fifi dengan manja.</p>
<p>&#8220;Wah tetek kamu mantap banget Fi.. pas susunya.. kenceng lagi..&#8221; pujian jujur dariku keluar deh.</p>
<p>&#8220;Oohhh Jon&#8230; terus Jon.. lebih kuat remasnya..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Fi.. lebih enak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooohh Jon.. terus Jon.. putingnya juga..&#8221;</p>
<p>&#8220;Oohhh.. aahhh Joniii..&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh Fi.. jangan kenceng-kenceng..&#8221; kataku khawatir juga, habis makin lama semakin kenceng saja desahan dan suara Fifi yang keluar dari bibir sexy-nya itu.</p>
<p>Kali ini Fifi menunduk deh jadinya, mulutnya mencium mulutku lagi, nah suaranya kan cuma nafas doang tuh. Wah ada yang seru lagi. Kali ini Fifi mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Gila, rasanya gesekan batang kejantananku pada dinding liang kewanitaan Fifi yang menggenggam erat itu loh. Waw.. enak gila.. lebih enak dari Frozz deh. Sensasi yang di timbulkan sampai naik ke kepalaku, buktinya waktu melewati leher dan mulut nafasku semakin menderu-deru. Terbukti dong semakin enak.. asyik loh.</p>
<p>Cukup lama juga Fifi melakukan olahraga turun naik di atas pinggangku, pasti dia capek juga, habis biarpun AC kamarku dingin punggungnya keringatan tuh. Tanganku sampai basah telapaknya waktu mengusap-usap terus dari tadi. Tiba-tiba saja Fifi menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam kearah batang kejantananku, makin mantap deh tusukan-tusukannya. Lalu lidahku disedot kuat-kuat dan dia roboh lemas setelah tegang-tegang dikit sebelumnya. Wah&#8230;. ini orgasme kali yah? Kok aku kaga ngecret sih kata siapa orgasmenya cewek dan cowok mesti barengan?</p>
<p>Aku iseng ah, walau tidak disuruh kugoyang pinggulku menyodok naik dikit. Habis si Fifi diam sih, padahal tadi lagi asyik menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p>&#8220;Oohhh Joni.. sayang.. nakal yah.. tapi enak Jon.. enak sekali.. iya terus Jon.. kamu enak Yang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya.. Fifiku sayang.. kamu sudah orgasme yah.. wah licin nih Fi jadinya tapi nikmat juga kok aaah.. enak Fi.. enak sekali..&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Jon.. tadi aku mencapai surga tuh.. lidah elu nggak kegigit kan?&#8221; tanya si Fifi.</p>
<p>Wah dia tidak sadar tadi menyedot kuat-kuat lidahku, dan dugaanku dia mencapai orgasme ternyata benar. Wah untung tidak digigit ya lidahku. Kalau tidak saat dia lupa gitu salah-salah aku jadi si bisu Joni lagi hehehe&#8230; habis lidahnya putus.</p>
<p>&#8220;Jon.. biar elu lebih menikmati hadiahnya, ganti posisi yah?&#8221; tawar si Fifi padaku. Asyik.. doggy style boleh aku praktikkan nih.</p>
<p>&#8220;Gaya nungging yah Fi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Elu mau gaya begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Fi.. kayak di foto dalam internet.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hayo deh berhubung ini hadiah..&#8221;</p>
<p>Kamipun berganti gaya jadi doggy style. Cuma sebentar saja, walaupun seru aku melihat Fifi dari belakangnya, dengan kulit punggung mulus walau berkeringat, pinggangnya yang ramping dan buah pantatnya yang besar jelas pemandangan indah tersendiri. Tapi.. ada yang bikin gaya ini jadi sebentar. Setiap kali kusodok maju batang kejantananku semakin ke dalam rongga liang kewanitaan si Fifi, dia seperti tersendak kesakitan.</p>
<p>&#8220;Kamu nggak enak yah Fi?&#8221; tanyaku pelan-pelan takut menyakiti kakak tersayangku.</p>
<p>&#8220;Nggak pa-pa, terusin saja, yang penting kamu senang..&#8221; jawab Fifi, weleh-weleh.. baru dua sodokan lagi reaksinya sama saja, kesakitan.</p>
<p>Wah aku tidak mau jadi adik tidak berbudi. Dikasih hadiah sangat nikmat begini masak dengan tega menyakiti kakak tersayang sih?</p>
<p>&#8220;Fi.. ganti gaya lagi deh.. gaya apalagi yang kamu mau dan kamu anggap akan menyenangkan Joni?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh.. Joni sayang.. aku bener-bener sayang sama elu Jon..&#8221; kata Fifi begitu mengakhiri persetubuhan kami dan berbalik menghadap dan memelukku dengan erat.</p>
<p>Lagi-lagi aku di cium olehnya, kali ini sebentar saja lalu dia mengambil posisi persis di tengah ranjang dan mengangkang lebar-lebar, dengkulnya ditekuk naik sampai dekat kepalanya.</p>
<p>Wah.. ini posisi surga bagiku. Gile bener.. melihatnya saja si Junior terkejut. Bibir luar liang kewanitaan Fifi otomatis merekah (karena indahnya bentuk bibir itu kadang-kadang ada yang mengumpamakan sebagai bunga yang merekah) bibir dalamnya yang berwarna pink dan tidak kalah sexy-nya di mataku ikutan merekah juga, membuka gerbang surganya yang berupa lubang hitam menantang untuk ditutupi oleh batang kejantananku.</p>
<p>Aku dengan masih berlutut bergerak mendekati pintu surga itu, dan dengan posisi sedikit berlutut itulah kutempelkan juniorku di pintu surga yang gelap itu. Kugesek sedikit seperti dalam BF lalu karena memang masih becek-becek dikit yah lancar saja kucelupin si junior dan batang kejantananku itu semuanya. Waw.. gesekan dinding liang kewanitaan kakakku ini masih saja mantap dan kesat, seret juga malah.</p>
<p>&#8220;Aahhh..&#8221; si Fifi malah yang bersuara.</p>
<p>&#8220;Enak Fi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya gerakin keluar masuk dong Jon..&#8221;</p>
<p>Aku menurut deh, kugerakkan pelan-pelan saja. Tips; gerakkan ini sebaiknya divariasikan antara gerakan menusuk dengan seluruh tubuh dan gerakan menusuk menggunakan pinggul saja. Dengan gerakan pinggul saja tusukan batang kejantanan kita semakin dalam loh! Dan semakin membuat cewek kita keenakan. Kata salah seorang teman cewekku sih, membawa cewek tembus surga ke-7. Apalagi dengan tusukan perlahan-lahan tapi mantap. Gocekan kiri kanan saat menusuk sebaiknya memang melingkari dodol bola di dalam sana, alias memoles seluruh permukaan bola dodol itu. Waw.. gocekan begini selain kitanya enak juga, kujamin, cewek normal akan segera mencapai orgasme dengan cukup cepat. Asal jangan lonte saja deh yang sudah kecapekan melayani langganan (dulu-dulu juga hooker high class senang sama aku gara-gara mereka ngakunya mencapai orgasme dengan teknikku ini, maklum si Joni pantang mencapai orgasme dibawah 1/2 jam, biasanya malah lebih 1 jam, yang penting mengatur pernafasan dan pikiran kita).</p>
<p>Memang tidak lama berlangsung, si Fifi kakak tersayangku ini buru-buru melebarkan kakinya lagi dan tangannya buru-buru meraih leherku untuk diciumi lagi. Gila ciumannya buas sekali, cepat dan srobotan terus. Pokoknya ciuman buas yah begitulah kali. Tiba-tiba saja aku yang tetap mengatur enak-enak tusukan mantap dalam persetubuhan kami terkaget lagi. Bibirku disedot keras lagi. Kali ini karena aku tahu bahwa si Fifi mungkin mencapai orgasme. Aku siaga, sengaja mulutku makin merapat, menjaga giginya kalau-kalau menggigit. Berhasil.. tidak kena gigit.</p>
<p>&#8220;Oohhh Jon.. sayang.. enak sekali.. ooohh Jonii.. sss.. kamu enak Yang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya.. Fifi sayang.. aahhh.. nikmat sekali Fi.. aaah.. enak Fi..&#8221;</p>
<p>&#8220;Gila Jon.. elu belum mau keluar lagi yah?&#8221; tanya si Fifi setelah agak reda capeknya.</p>
<p>&#8220;Adik siapa dulu dong?&#8221;</p>
<p>Wah sempat-sempatnya kami yang sedang bercumbu begitu bercanda juga. Tuh hidungku dipencet si Fifi yang masih dalam posisi mengangkang heboh dan kutusuk, eh pompa deh.</p>
<p>&#8220;Enak nggak Jon hadiahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan enak lagi Fi.. indah dan bagus sekali.. aku nggak mungkin bisa membalas hadiah seperti ini..&#8221; jawabku.</p>
<p>&#8220;Ah Joni.. Joni.. adikku sayang.. kalau bukan adikku.. aku mau aja deh pacaran sama elu Jon..&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh memangnya sekarang kagak bisa apa?&#8221;</p>
<p>Akhirnya sambil bercinta dengan hot terus sebelum aku ngecret lagi kami ngobrol-ngobrol sedikit.</p>
<p>Aku tidak menyinggung soal keperawanan dan pacarnya sekarang. Dia cuma cerita batang kejantananku adalah yang terpanjang dan terbesar yang pernah dia rasakan, padahal dia baru mencoba 2 batang kejantanan selain punyaku.</p>
<p>&#8220;Fi.. gara-gara cerita ngesek dan soal batang kejantananku yang super menurut elu, kayaknya aku mau keluar lagi nih..&#8221;</p>
<p>&#8220;Aahhh.. Joni.. Sayang.. jangan takut.. aku sayang banget sama elo Jon.. silakan saja keluarkan di dalam rahimku Jon.. jangan khawatirkan apa-apa..&#8221; kata si Fifi sambil mengusap-usap perutku segala sekaligus mengusap-usap wajahku.</p>
<p>Ah mana tahan aku melihat wajah manisnya yang cantik dan tersenyum terus melihatku. Kupompa semakin cepat dikit deh dan dalam-dalam setiap tusukannya.</p>
<p>&#8220;Oohhh.. oh.. ah.. ahhh.. heh.. heh.. eh.. eh..&#8221; begitulah suara kami berdua akhirnya gara-gara aku mempercepat irama persetubuhan kami.</p>
<p>&#8220;Jonn.. aku keluar lagi nih.. aaahh Joniii&#8230;&#8221;</p>
<p>Wah tampang sexy si Fifi saat mencapai Orgasmenya yang ketiga kali ini tidak bisa kutahan lagi deh, apalagi wajahnya yang memerah berusaha tetap tersenyum senang dan tidak memejamkan matanya tapi melihat ke dalam mataku. Wah.. sudah nyobain belum bersetubuh sampai ceweknya mencapai orgasme tapi tidak merem tuh cewek, nah tampangnya cewek begitu menurutku adalah tercantik darinya. Dan biasanya nikmat melihat wajah cewek saat mencapai orgasme, sepertinya lebih enak dari orgasme itu sendiri bagiku. Makanya hobiku bikin orgasme cewek, bukannya aku orgasme duluan, tidak sedikit kok aku malah tidak orgasme saat bersatu dengan cewek. Sweer.. mula-mula kupikir aku impoten, tetapi ternyata sebagian cewek bilang malah aku terlalu perkasa urusan ranjang dan senggama begitu, Well nggak tahu deh, walaupun hobby bercinta, kupikir tidak perlu setiap bersenggama kita mengeluarkan sperma dong?</p>
<p>&#8220;Cret.. cret.. cret..&#8221; entah berapa kali saat ini aku ngecretnya.</p>
<p>Yang jelas cairan hangatku menembak bola dodol dalam medan tempur kami berdua. Wah saat terkejut, begitu kenikmatannya sukar dilukiskan juga loh. Aku sampai roboh kecapaian dalam pelukan si Fifi yang masih ngangkang terus.</p>
<p>&#8220;Oohhh Fifi sayang..&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah.. Joni adikku sayang..&#8221;</p>
<p>&#8220;Hadiah kamu tak ternilai Fi..&#8221;</p>
<p>Malam itu kami tidur seranjang. Bohong besar kalau aku cerita senggama sampai pagi. Aku kecapaian kok. Sepertinya waktu baru berbaring sama-sama sebelum tidur, karena kami sama-sama capek untuk matiin lampu, aku melihat hari sudah pukul 3 pagi.</p>
<p>Dalam ngobrol-ngobrol sebelum pulas, sepertinya si Fifi cerita, perawannya hilang waktu SMA kelas 2, saat pergi ke luar kota barengan kakak kelas lalu sekarang ini sehabis menikmati dan tahu si Fifi tidak perawan lagi, pacarnya yang di kampus mulai menjauhinya, jadi dia kosong tuh saat ini, belum ketemu cowok yang sreg.</p>
<p>Dan sebelum pulas kami juga berandai-andai, siapa tahu saja bisa sama-sama terus setiap malam minggu pergi barengan saja. Soal tidur malam sih, sepertinya pintu penghubung antar kamar kami mesti dicari kuncinya tuh, maklum sudah lama tidak pernah dibuka.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1216&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/05/11/kado-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diperkosa Keponakan Sendiri</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/22/diperkosa-keponakan-sendiri/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/22/diperkosa-keponakan-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 06:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[Tante Betsy, wanita setengah baya yang masih lumayan seksi. Sudah dari waktu yang lama ia menjadi sasaran untuk “digoyang” oleh keponakannya sendiri, Budi. Budi yang berasal dari Bandung, sudah hampir lima tahun tinggal dirumah tante Betsy, karena ia kuliah di Jakarta. Dan sudah lima tahun itu juga tante Betsy menjadi fantasi seks-nya dikala ia bermasturbasi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1219&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tante Betsy, wanita setengah baya yang masih lumayan seksi. Sudah dari waktu yang lama ia menjadi sasaran untuk “digoyang” oleh keponakannya sendiri, Budi. Budi yang berasal dari Bandung, sudah hampir lima tahun tinggal dirumah tante Betsy, karena ia kuliah di Jakarta. Dan sudah lima tahun itu juga tante Betsy menjadi fantasi seks-nya dikala ia bermasturbasi. Seringkali ia mengambil pakaian dalam tante Betsy dari bak pakaian kotor yang terletak di dalam kamar mandi. BH dan korset tante Betsy merupakan primadona Budi dalam bermasturbasi.</p>
<div id="post_message_49928" style="text-align:justify;">
<p><span id="more-1219"></span>Setiap kali bermasturbasi ia selalu menumpahkan airmaninya dicelana dalam maupun BH tante Betsy. Bahkan tidak jarang ia mengambil celana korset tante Betsy yang sudah dicuci bersih, dan dengan sengaja memuntahkan spermanya di bagian selangkangan celana dalam tersebut, ataupun berkali-kali berejakulasi di cup BH tante Betsy hingga berhari-hari, kemudian ‘benda-benda tersebut’ dikembalikannya ketempat semula. Dan berharap tante Betsy segera memakai ‘perabotannya’ tersebut.</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p>Tidak jarang juga Budi mencoba mengintip tante Betsy pada waktu tidak ada orang dirumah tersebut. Melalui lubang kunci pintu kamar tante Betsy, Budi sering kali melihat tubuh montok tante Betsy tanpa busana, ataupun hanya dibalut pakaian dalamnya saja.</p>
</div>
<div id="post_message_49928" style="text-align:justify;">
<p>Dan biasanya aksi pengintipan tersebut diakhiri dengan beronani memakai pakaian dalam tante Betsy dikamarnya.</p>
<p>Budi sering kali mengumpulkan airmaninya ketika selesai beronani didalam cangkir kecil, dan disimpannya didalam kulkas kecil yang ada dikamarnya. Ketika cangkir tersebut sudah hampir penuh, ketika tidak ada orang yang melihat, ia mencampurkan ‘airmani basi’ tersebut kedalam soup atau pun minuman yang biasa disediakan untuk tante Betsy. Bahkan pernah juga ia mencampurkan spermanya sebanyak dua sendok makan kedalam hamburger yang disediakan untuk tante Betsy. Dan secara diam-diam Budi menyaksikan tante Betsy menikmati santapannya plus airmani miliknya didalam makanan tersebut. Dan biasanya libido Budi langsung tinggi, dan cepat-cepat ia beronani dikamarnya.</p>
<p>Makin lama Budi makin tidak tahan setiap kali melihat tubuh tante Betsy yang masih sintal itu, maka timbullah niat jahatnya untuk memperkosa tante Betsy. Berhari-hari ia merencanakan hal tersebut, dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.</p>
<p>Obat bius pun sudah dipesannya dari seorang teman yang entah dapat dari mana. Maka pada malam hari itu ia mengajak teman-temannya untuk mengerjai tante Betsy disalah satu rumah temannya yang sedang kosong.</p>
<p>Teman-teman Budi yang memang rata-rata maniac seks pun ikut bergairah mendengar rencana tersebut. Maka terkumpullah teman-teman Budi sebanyak dua puluh lima orang. Dua puluh orang menunggu dirumah kosong, lima orang lagi bertugas menculik tante Betsy, termasuk Budi. Maka pada hari itu mereka seharian mengikuti kemanapun tante Betsy pergi, hingga pada malam hari kesempatan itu datang juga.</p>
<p>Ketika tante Betsy sedang menunggu lift diparkiran basement salah satu restaurant, empat orang teman Budi pun ikut mengantri lift dengan tante Betsy. Ketika tante Betsy lengah, salah seorang langsung mengeluarkan saputangan yang sudah ditetesi kloroform cukup banyak, dan dengan cepat dibekapkan ke hidung dan mulut tante Betsy, yang seketika itu juga langsung pingsan, dan keempat teman Budi langsung membopong tante Betsy masuk ke dalam minibus yang sudah menunggu di depan lift tersebut.</p>
<p>Hampir satu jam mereka baru sampai ke rumah kosong tersebut, dan langsung memasukkan mobil kedalam garasi. Tante Betsy pun langsung digotong-gotong beramai-ramai ke dalam ruang tamu. Dalam keadaan masih tidak sadar, tante Betsy didudukkan dikursi sofa. Dan tanpa komando lagi mereka bergantian meraba-raba serta meremas-remas tubuh tante Betsy. Pakaian tante Betsy yang berupa baju terusan hingga sebatas mata kaki pun dilucuti dengan tidak sabar, hingga akhirnya tinggal bra dan celana dalam saja yang menempel ditubuhnya.</p>
<p>Gunung kembar tante Betsy merupakan menu utama untuk ‘diobok-obok’ oleh Budi dan teman-temannya. Beberapa tangan dengan brutalnya bergantian berada dibalik BH tante Betsy yang berupa long torso tersebut. Cup BH yang berukuran 36B itu pun akhirnya dibetot kebawah hingga gunung kembar yang masih sintal itu tersembul keluar. Beberapa orang langsung bergantian mengisap-isap kedua putting susu tante Betsy, sambil sesekali meremas-remas ‘kontainer susu’ tante Betsy tersebut. Salah seorang teman Budi menggunting bagian selangkangan celana dalam tante Betsy, dan dengan sangat bernapsu tante Betsy dipindahkan ke matras dan langsung saja diantri beramai-ramai.</p>
<p>Budi mendapat giliran pertama menyetubuhi tante Betsy, sedangkan yang lain sambil menunggu giliran memain-mainkan batang penisnya diwajah tante Betsy yang masih terlihat cantik itu. Mulut tante Betsy dibuka paksa dan dua batang penis sekaligus masuk dan berusaha bergerak keluar masuk sebisa-bisanya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasanya bagi pelakunya. Satu batang penis panjang dan besar milik Heri melintang dari atas dahi hingga diatas hidung tante Betsy, dan Heri pun dengan semangat 45 menggosok-gosokkan batang penisnya maju mundur dengan cepat.</p>
<p>Vagina tante Betsy yang masih lumayan ‘kenceng’ itu pun nonstop digunakan untuk memuaskan napsu Budi dan teman-temannya. Setengah botol baby oil sudah habis digunakan sebagai pelicin batang penis Budi dan teman-temannya. Batang penis Budi dengan lancarnya keluar masuk vagina tante Betsy, membuat teman-teman yang lain menjadi tak sabar menunggu giliran. Tante Betsy yang tak sadarkan diri itu sudah hampir dua jam dikerjain para sex maniac tersebut dengan berbagai aktivitas sex yang aneh-aneh. Berbagai pose bugil tante Betsy diabadikan oleh Bambang dengan digital camera serta handycam, mulai dari oral sex hingga persetubuhan massal.</p>
<p>Hingga akhirnya adegan climak berejakulasi pun siap diabadikan. Budi mangambil kacamata baca dari tas tante Betsy, kemudian memakaikan kaca mata tersebut diwajah tante Betsy yang cantik itu. Dan keduapuluh enam orang tersebut mulai bergantian berejakulasi diwajah tante Betsy. Dimulai dengan giliran pertama oleh Budi ‘sang pencinta tante Betsy’. Budi dengan cepat mengeluar-masukkan batang penisnya dimulut tante Betsy yang seksi itu hingga akhirnya saat berejakulasi ia mengocokkan penisnya tersebut tepat diatas wajah tante Betsy dan airmanipun muncrat berantakan diseluruh wajah tante Betsy berupa garis-garis lurus putih kental hingga mengenai kacamata tante Betsy.</p>
<p>Heri, Hendra, Feri dan Faisal berlutut diatas wajah tante Betsy dari empat penjuru dan tidak sampai semenit airmani mulai bermuncratan secara bergantian membasahi wajah dan leher tante Betsy dengan begitu derasnya. Lima orang teman Budi yaitu Tumpal, Ade, Erik, Udin dan Ucok memilih berejakulasi dimulut tante Betsy, dan merekapun tidak sampai lima menit sudah memindahkan isi kantung buah zakar mereka ke mulut tante Betsy, hingga luber hampir keluar dari mulut seksi tersebut.</p>
<p>Udin pun menggerak-gerakkan mulut dan wajah tante Betsy hingga sedikit demi sedikit ‘air peju’ tersebut tertelan oleh tante Betsy. Sedangkan yang lainnya melakukan hal yang sama pada tante Betsy. Beberapa orang bergantian menjepitkan batang penisnya diantara kedua gunung kembar tante Betsy yang montok itu. Beberapa tetes baby oil diteteskan didada tante Betsy sebagai pelicin, yang membuat para lelaki tersebut mundur maju tak karuan, sementara penis mereka dengan lancarnya ikut bergerak mundur maju pula disela-sela gunung kembar tante Betsy yang sedang diremas-remas, dan akhirnya hanya beberapa menit saja batang kejantanan mereka bergantian muncrat diantara gunung kembar tante Betsy hingga bertetesan membasahi BH yang masih membalut tubuh tante Betsy itu.</p>
<p>Sementara itu yang lainnya bergantian berejakulasi diwajah dan mulut tante Betsy yang dibuka paksa dengan sebuah alat pengganjal sehingga tidak dapat dikatupkan. Air mani bermuncratan diwajah tante Betsy dan sebagian lagi masuk kedalam mulutnya. Bahkan beberapa orang teman Budi, termasuk Budi berejakulasi hingga tiga kali diwajah tante yang cantik itu karena saking napsunya.</p>
<p>Selesai pemerkosaan tersebut, tante Betsy yang masih belum sadarkan diri itu dibersihkan oleh beberapa orang. Muka tante Betsy yang blepotan sperma hanya diseka dengan celana dalam Budi yang kemudian disumpalkan kedalam mulut tante Betsy. Rambut tante Betsy yang berantakan disisir rapi kembali, dan kacamatanya yang kotor karena airmanipun dibersihkan dan dipakaikan kembali, hingga akhirnya tante Betsy bersih seperti sedia kala.</p>
<p>Tante Betsypun akhirnya siuman sementara jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dan betapa kagetnya ia ketika melihat dirinya hanya memakai bra dan celana dalam korsetnya yang sudah putus dibagian selangkangan dan lebih kaget lagi melihat Herman dengan ganasnya menyetubuhi tante Betsy sedari tadi. Batang penisnya keluar masuk dengan lancar sementara yang lainnya dengan wajah ditutup sarung kepala menonton sambil mengocok penis masing-masing.</p>
<p>Budi dan teman-temannya terpaksa memakai sarung penutup kepala karena takut dirinya diketahui oleh tante Betsy. Sekali lagi mereka mengerjai tante Betsy sebelum subuh tiba. Batang penis satu persatu bergantian mengocok vagina tante Betsy, sementara itu seperti biasa yang lainnya merem melek memaksa tante Betsy mengisap serta mengulum penis mereka. Bahkan mereka bergantian memaksa tante Betsy mengulum-mgulum sepasang buah sakar mereka sambil menekan-nekan wajah tante Betsy diselangkangan mereka itu hingga akhirnya keduapuluh enam orang itu kembali berejakulasi bersama-sama.</p>
<p>Satu persatu dari mereka kembali memuncratkan spermanya diwajah dan mulut tante Betsy. Salah seorang mengambil segelas airmani dingin dari kulkas dan memaksa si seksi tante Betsy untuk menelan air mani tersebut sambil mengunyah-nguyah airmani tersebut terlebih dahulu sampai habis.</p>
<p>Airmani yang bertetesan diwajah tante Betsy disendoki dan dicekoki ke mulut tante Betsy hingga bersih. Selesai ‘mandi peju’ tante Betsy kembali dirapihkan dan dipakaikan bajunya kembali, namun celana korset dan BH-nya dicopot dari tubuhnya untuk kenang-kenangan buat mereka. Sebagai gantinya mereka memaksa tante Betsy memakai celana dalam G-String berwarna merah yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan gunung kembar tante Betsy dibiarkan bergelayutan tanpa BH, hingga putting susu tante Betsy mencuat kedepan. Tante Betsy diturunkan ditengah jalan dekat rumahnya, kemudian mereka pergi begitu saja.</p>
<p>TAMAT</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1219&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/22/diperkosa-keponakan-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Piknik yang tak terlupakan</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/piknik-yang-tak-terlupakan/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/piknik-yang-tak-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 11:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas perkenalan diri saya, saya laki-laki berusia 26 tahun kerja di salah satu perusahaan swasta nasional dengan tinggi sekitar 160 cm (termasuk pendek) dan dengan bentuk tubuh yang kurus. Walaupun nafsu makan saya lumayan besar tetapi tetap saja tubuh saya tidak gemuk dan tidak pernah mencapai berat tubuh ideal. Mungkin kalau saya seorang wanita, akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=193&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sekilas perkenalan diri saya, saya laki-laki berusia 26 tahun kerja di salah satu perusahaan swasta nasional dengan tinggi sekitar 160 cm (termasuk pendek) dan dengan bentuk tubuh yang kurus. Walaupun nafsu makan saya lumayan besar tetapi tetap saja tubuh saya tidak gemuk dan tidak pernah mencapai berat tubuh ideal. Mungkin kalau saya seorang wanita, akan sangat berbahagia karena tidak perlu takut gemuk walaupun banyak makan. Aku cukup sering mengikuti cerita yang ada di 17 tahun sekedar mengisi waktu luang saja karena sibuk. O ya, dalam cerita ini sebut saja nama saya Ryo.</p>
<div class="entry" style="text-align:justify;"><span id="more-193"></span>Bulan desember 2001, saya mengambil cuti selama seminggu untuk menikmati perjalanan wisata. Maklum untuk melepas rasa lelah dan stress setelah bekerja sepanjang tahun dan termasuk hobby saya juga untuk sering bepergian ke suatu tempat yang tidak pernah saya kunjungi tetapi mempunyai teman yang tinggal di tempat yang akan saya kunjungi. Setelah bersusah payah selama 2 hari (maklum lagi holiday season) akhirnya saya mendapatkan tiket ke Medan.</p>
<p>Lalu saya SMS Melia di Medan, “Besok gue mau ke Medan. Bisa jadi guide gue gak nih?”</p>
<p>Tidak berapa lama langsung dibalasnya, “OK. Datang saja. Pasti lu juga bercanda. Dari dulu katanya mau datang tapi gak pernah datang. Hehehehe”.</p>
<p>Setelah cukup lama ber-SMS ria dengan tetap saja dia tidak percaya akhirnya saya putuskan untuk memberikan kejutan saja besok siang kalau sudah sampai di Medan.</p>
<p>Melia, 23 tahun, berkulit agak putih sama seperti warga keturunan lainnya dengan tinggi sekitar 158 cm. Kami berkenalan lewat chatting di internet selama hampir 1 tahun tetapi tidak pernah bertatap muka langsung. Hanya melakukan kontak SMS, email dan chatting saja. Walau tidak pernah ketemu kami tetap bisa menjalin hubungan antara teman dan kadang-kadang juga bertukar foto, jadi masing-masing paling tidak mengenal wajah jika saling ketemu.</p>
<p>Akhirnya besoknya saya berangkat ke Medan dengan mengambil penerbangan pertama Jakarta–Medan. Selama hampir 2 jam, 15 menit kemudian pesawat mendarat di bandara Polonia, Medan. Setelah membereskan barang bawaan saya, saya langsung memesan taksi untuk mengantarkanku ke salah satu hotel yang ada di Medan dan segera check in, lalu saya menelepon Melia.</p>
<p>“Hello, Mel? Dimana lu?”</p>
<p>“Ryo? Gue lagi jalan-jalan di Thamrin Plaza. Emang kenapa? Mau ikut?”</p>
<p>“Wah kalo boleh sih mau dong. Tapi minta dijemput boleh gak? Gue gak tau jalan di sini”</p>
<p>Terdengar suara dengan nada yang agak tidak percaya.</p>
<p>“Emangnya lu ada di mana? Medan? Bisa bercanda aja lu. Boleh deh gue jemput kalo lu di Medan. Hahahaha..”</p>
<p>“Benar lho. Ditunggu. Awas kalo nggak datang. Ke Novotel kamar 313.”</p>
<p>Masih dengan nada suara yang tidak percaya.</p>
<p>“Yang bener? Gue gak percaya ..”</p>
<p>“Bener! Kalo nggak percaya telepon aja ke resepsionis Novotel, tanya nama yang check ini kamar 313. Sini cepat!”</p>
<p>“OK. Awas kalau lu boongin gue”</p>
<p>Setengah jam kemudian terdengar bunyi bel. Dag dig dug juga hati saya, soalnya saya belum pernah ketemu Melia secara langsung. Ketika pintu saya buka, wow, sepertinya saya bertemu bidadari yang turun dari langit. Tidak kusangka Melia yang saya kenal selama ini lewat chatting bisa secantik ini padahal di foto yang dia kirim biasa-biasa saja. Dengan rambut sebahu, wajah yang oval dan bibir seksi yang dihiasi lipstik tipis serta bau parfum yang semakin menambah keanggunan dirinya. Saking cantiknya sampai saya terbengong menatapnya.</p>
<p>“Ryo?” tanya Melia membangunkan saya dari lamunan.</p>
<p>“Iya ya ya?”, jawabku sekenanya saja.</p>
<p>Untuk menghilangkan rasa gugup saya langsung saja kujulurkan tanganku untuk menyalaminya dan balik bertanya.</p>
<p>“Melia?”, dan langsung disambutnya tanganku.</p>
<p>Ternyata tangannya juga halus. Tangan cewek sih. Pasti dirawat dengan baik.</p>
<p>“Akhirnya kita ketemu juga ya”, kataku membuka pembicaraan setelah Melia kupersilahkan masuk.</p>
<p>“Iya, gak sangka juga kalo lu nekat ke Medan”</p>
<p>“Abis udah hampir semua propinsi di Indonesia sudah pernah saya kunjungi. Cuma Medan yang belum termasuk Danau Tobanya. Hehehehe”</p>
<p>“Emang mau berapa lama lu mau di sini?”</p>
<p>“Seminggu aja. Kurasa cukup kan gue menikmati suasana di sini?”</p>
<p>“Cukuplah. Lagian tempat nongkrong di Medan dikit.”</p>
<p>“Ok deh. Lu jadi guide gue ya?”</p>
<p>“OK”</p>
<p>Setelah ngobrol cukup lama Melia minta pulang istirahat dan besok akan menemani saya jalan-jalan di Medan. Besoknya pagi-pagi Melia sudah mengajak saya keliling kota Medan. Ternyata cuma butuh 2 hari saja, seluruh tempat wisata di dalam kota sudah saya kunjungi dan cuti saya tinggal 4 hari lagi. Ternyata di hari ke-3 Melia mengajak saya ke Danau Toba dengan tour. Katanya belum terasa ke Medan kalo tidak ke Danau Toba. Saya sih ok-ok aja. Perjalanan dari Medan ke Toba lewat Tebing Tinggi dan Pematang Siantar membutuhkan waktu 5 jam lebih. Dari siang berangkatnya, jadi sore sampainya di Prapatan. Belum lagi untuk pergi ke Pulau Samosirnya dan pukul 6 sore baru sampai di sana, lalu check in ke kamar.</p>
<p>Setelah makan malam bersama rombongan tour, kami berdua akhirnya kembali ke kamar. Di kamar hanya tinggal kami berdua, ngobrol dan minum bir ringan. Jam sudah hampir menunjukkan 11.30 malam ketika keheningan melanda pembicaraan kami berdua. Semua topik sudah habis dibahas untuk malam itu. Untuk itu kutekan saja remote control TV. Wow, ternyata adegan yang muncul adalah blue film dan bukanlah berita gosip semata bahwa banyak hotel menyediakan blue film untuk tontonan tengah malam. Maunya langsung saya memindahkan saluran itu tapi dicegah oleh Melia.</p>
<p>“Nonton aja kalau mau. Gue gak apa-apa kok”, katanya dengan nada cuek.</p>
<p>Wah ini anak apa udah biasa nonton yang begituan, pikir saya. Ya saya biarkan saja film itu terus berlanjut dengan seorang cewek Jepang digenjot seorang bule dari belakang. Doggy style kata orang. Bunyi desahan dari sang cewek dan lenguhan sang cowok memenuhi keheningan ruangan kamar kami berdua. 15 menit kemudian gaya mereka berganti menjadi missionary style. Gaya yang umum dengan cewek tidur terlentang dengan kaki menjepit pinggang cowok dan cowok menindih dari atas. Hanya kaki sang cewek yang berpindah–pindah dengan gaya ini kadang menjepit pinggang cowok kadang diangkat ke atas pundak sang cowok.</p>
<p>Saking seriusnya saya menonton, tidak tahunya ternyata Melia sudah terangsang berat karena film itu. Ketika saya berbalik, pakaian bagian atasnya sudah setengah terbuka dan dia sendiri menggesek-gesekkan tangan ke daerah kemaluannya. Desahannya masih agak tertahan mungkin karena saya ada di sana. Terkejut juga saya dengan aktivitasnya. Maklum dengan umur segini saya tidak pernah melihat bagian sensitif cewek secara langsung paling juga lewat film sama majalah saja, apalagi melakukan kegiatan hubungan intim dengan lawan jenis.</p>
<p>“Ryoo, uuh, bisa bantuin gue gak? Uuuhh..”, lenguhannya sedikit mengeras.</p>
<p>Kutelan ludah sendiri dengan pemandangan di depan mataku. Tidak tahu harus berbuat apa saya.</p>
<p>Lalu kutanya balik, “Bisa kubantu apa?”.</p>
<p>“Bantu puasin gue Ryo, ayolah Ryo, kemari, uuhh”, ujarnya dengan tangan kiri tetap menggosok bagian kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam putih dan kelihatannya sudah basah serta tangan kanan meremas payudara sebelah kanan yang terbuka.</p>
<p>Dengan hati yang berdebar-debar dan kaki serta tangan gemetaran kudekati Melia. Dia kelihatan masih tenang dan masih bisa tersenyum melihat tingkah laku saya yang kikuk dan serba salah walau dalam keadaan terangsang berat. Dalam darah saya juga terasa berdesir dan kemaluan saya terasa mulai menegang. Benar-benar pengalaman yang mendebarkan.</p>
<p>Belum sampai 3 langkah saya mendekat, tangan saya sudah ditarik Melia ke arahnya. Dan langsung mulut saya dilumatnya dengan penuh nafsu.</p>
<p>“Uuuhhmm, uuhhmm”, tersumbat sudah suara yang mau keluar dari mulutku.</p>
<p>Baru pertama kali ini saya dicium seorang cewek. Cewek yang cantik dan penuh dengan nafsu sampai terasa sulit bernafas. Selama hampir 5 menit kami saling berciuman tanpa lepas. Semula tangan saya yang diam mulai dituntun Melia untuk meremas payudaranya dan lenguhannya semakin menunjukkan bahwa Melia sudah benar-benar terangsang dan melupakan lingkungan sekitarnya. Mungkin yang ada di otaknya adalah bagaimana mendapatkan kepuasan, kepuasan biologis. Diberi angin seperti itu saya yang semula pasif mulai berlaku aktif. Kulepaskan tali piyamanya dan terbukalah tubuh bagian atas Melia yang putih bersih dengan sebuah cup BH yang telah terbuka. Tidak puas, lalu kubuka kait BH dan mencuatlah kedua payudara yang biasa disebut bukit kembar yang sangat sangat menantang, ukuran 32B dari ukuran BH-nya yang dipakai. Payudara yang benar-benar terawat dengan baik, putih dan puting yang kemerah-merahan.</p>
<p>“Ayo Ryo, puasin gue, hisap dong”, katanya sambil menuntun tangan dan kepalaku ke arah bukit kembarnya.</p>
<p>“Uuuhh, oohh, terus Ryo, terus, uuhh..”</p>
<p>Kucium dan kuhisap terus kedua bukit itu secara bergantian dari kiri ke kanan. Sedangkan kedua tangan Melia terus meremas rambutku dan menekan kepalaku ke bukit kembarnya sampai sulit bernafas juga saya.</p>
<p>“Ooohh Ryo, hisap yang kuat, aahh, oohh.. come on baby, ohh”, ujarnya sambil mempermainkan kedua bukitnya.</p>
<p>Tangan kananku dituntun Melia untuk mulai meraba dan menggesek-gesek kemaluannya, celana dalamnya benar-benar sudah basah sebelum akhirnya kutarik lepas. Dan Melia sekarang dalam keadaan polos tanpa apapun yang melekat di tubuhnya.</p>
<p>Hampir 10 menit saya mempermainkan kedua bukit itu sampai akhirnya Melia mengangkat kepala saya dan meminta saya berhenti.</p>
<p>“Sekarang giliran gue untuk memberimu kenikmatan Ryo..”</p>
<p>Belum sempat saya berkata apapun saya sudah ditelentangkan di tempat tidurku dan Melia mulai melucuti pakaian tidurku satu per satu hingga tinggal celana dalam saja.</p>
<p>“Wow burung lu lumayan juga. Sini saya belai dulu biar jadi perkasa..”.</p>
<p>Ketika tangannya baru menyentuh kemaluanku, sudah terasa ada getaran yang mendebarkan, tetapi masih terganjal celana dalam sehingga belum terasa lepas. Baru pertama kali pula kemaluan saya dipegang oleh seorang cewek. Setelah menggosokkan tangannya beberapa kali, celana dalam saya langsung ditariknya lepas dan bebas sudah ganjalan celana tadi.</p>
<p>“Lumayan, lumayan, gak terlalu buruk untuk cowok seperti lu yang agak kurus”</p>
<p>Nggak tahu itu sindiran atau pujian. Berdiri sebentar, Melia lalu menunduk dan, apa yang dilakukannya, Melia menjulurkan lidahnya ke ujung kemaluanku. Sensasi yang terasa pertama kali sungguh tak terlupakan. Sulit untuk melukiskan perasaan saya saat itu.</p>
<p>“Uuhh..”, hanya kata itu yang keluar dari mulutku.</p>
<p>Melihat keadaan saya yang demikian semakin membuat Melia bisa mengatur tempo untuk memberikan sensasi buat saya. Mula-mula hanya ujung lidah dan kemaluan sampai akhirnya hanya pangkal kemaluan saya yang nampak setelah Melia melakukan oral seks untukku. Mulutnya maju mundur dan berputar lidahnya di kemaluan saya, sedang saya hanya bisa melenguh. Lenguhan kenikmatan yang tiada tara sampai akhirnya saya merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari kemaluanku.</p>
<p>“Mel, aku, ohh, mau keluar, uhh, oohh”</p>
<p>Mendengar itu Melia semakin mempercepat tempo sampai akhirnya, “Mel, keluar Mel, oohh, Mel, aahh”</p>
<p>Ditelannya habis semua air maniku tanpa sisa.</p>
<p>Kemaluanku langsung lemas, dan Melia tersenyum padaku.</p>
<p>“Ryo, kamu lumayan, nggak kalah dengan yang lain, minum ini dulu lalu nanti kita lanjutan”</p>
<p>Disodorkannya minuman yang dibawa di tasnya. Saya tidak tahu apa itu tapi saya minum saja. Baru 10 menit terasa tenaga saya jadi pulih lagi dan kemaluan saya mulai menegang lagi.</p>
<p>“Nah lihat tuh, kita bisa mulai fase kedua nih Ryo..”</p>
<p>Melia lalu tidur telentang dengan kedua kakinya terjulur ke lantai.</p>
<p>“Sini dan sekarang giliran lu”</p>
<p>Saya menghampirinya lalu dituntunnya kepala saya ke kemaluannya. Baru pertama kali pula saya melihat dari dekat kemaluan cewek. Lalu disuruhnya menjilat. Mulanya enggan juga saya. Tapi akhirnya mau karena kemaluannya kulihat terawat bersih dan rapi. Ada bau sedikit amis tapi khas wanita dan cairan putih bening keluar dari sana. Kujilat klitorisnya dulu.</p>
<p>“Uuuhh, that’s right Ryo, terus, oohh, uuhh, uuhhmm”, lenguhnya.</p>
<p>Sementara saya terus melakukan aktivitas di kemaluannya, kujilat dan kugigit kecil klitoris dan bibir kemaluannya sehingga lenguhan Melia semakin menjadi jadi.</p>
<p>“Ooohh, aahh, oohh, uuhh, terus Ryo, go on baby, oohh”</p>
<p>“Yeah, that’s so damn goodd Ryoo, oohh, aahh make me fly, oohh”, mendengar suara seperti itu semakin menambah rangsangan untukku.</p>
<p>“Ryo, now, now, masukin Ryo, oohh.. aku sudah pengen, aahh”, desahnya ketika kugigit kecil bibir kemaluannya.</p>
<p>Lalu kuatur posisiku dengan gaya missionary. Agak canggung juga karena ini adalah pertama kalinya saya melakukan hal ini. Melihat itu tangan Melia memegang kemaluanku dan menuntunnya ke arah kemaluannya. Mula-mula masih agak sulit karena saya agak gemetaran juga. Setelah beberapa menit mencoba akhirnya masuk juga.</p>
<p>“Uuuhh..”, terasa ada sensasi yang sedikit berbeda dibandingkan ketika dioral.</p>
<p>Terasa sedikit perih dan hangat ketika masuk. Lalu kulakukan penetrasi sedikit demi sedikit dan pelan.</p>
<p>“Ooohh, thank god, yes, uuhh, aahh oohh..” Lenguhan Melia memang sangat merangsang.</p>
<p>Setiap kemaluan saya masuk maka suara desah “Uuuhh..” keluar dari mulut Melia dan ketika kutarik yang keluar adalah “Aaahh..”.</p>
<p>Selama 10 menit kami berganti posisi. Sekarang adalah posisi Doggy Style, dengan bertumpu kepada kedua tangannya, Melia menikmati setiap genjotan dan hentakan saya dari belakang.</p>
<p>“Uuuhh, yees, yeess.. oohh yess.. oohh yess, come on Ryo..” Suara pantat dan bagian tubuh bawah saya beradu menimbulkan bunyi tepukan.</p>
<p>Pantat Melia yang begitu padat berisi, menambah rasa gemas saya untuk terus meremasnya. Belum cukup juga saya dalam posisi ini, saya tetap berusaha untuk meremas kedua payudaranya dan beradu mulut dengan tetap mempertahankan irama genjotan saya. Aku tidak tahu apa yang telah diberikan Melia kepada saya sehingga saya bisa bertahan begitu lama.</p>
<p>“You, oohh are aahh greaat Ryoo, oohh, aahh, oohh, aahh..”</p>
<p>Kemaluan Melia yang masih terasa sempit semakin menambah terus nafsu saya untuk terus mengenjotnya. Mungkin saya tidak tahu aku adalah orang ke berapa yang ML dengannya, tapi ini memberikan saya pengalaman luar biasa yang tidak akan saya lupakan.</p>
<p>“Ooohh Mel, lu juga heebbaatt, aah, oohh, uuhh, kemaluanmu masih kencang dan sempit, aahh, oohh oohh, Mel”</p>
<p>Setelah hampir 20 menit kemudian, baru terasa ada yang mau keluar.</p>
<p>“Mel, aku, aku mau keluar, oohh, uuhh..”</p>
<p>“Iya.. genjot la..ggii Ryo, aakkuu juga mau keluar, uuhh aahh”</p>
<p>“Di dalam atau di luar nihh, oohh”</p>
<p>“Da.. lam saja biar terasa, jangan kuuaatiir, oohh”</p>
<p>Saya semakin mempercepat gerakan maju mundur dengan diimbangi gerakan Melia juga. Suara kecipak semakin memenuhi ruangan kamar.</p>
<p>“Aaakkuu keelluuar, aahh aahh..”</p>
<p>“Aaakkuu juga, Ryoo.. oohh..”</p>
<p>Hentakan terakhir, kudorong dalam-dalam kemaluan saya ke dalam kemaluan Melia yang diikuti dengan gerakan punggung Melia melengkung ke bawah dan dengan kepala mendongak ke atas pertanda dia juga telah mengalami klimaks. Tanganku masih memegang pinggang Melia. Masih bertahan 1-2 menit dalam posisi doggy style sebelum akhirnya Melia meletakkan badannya ke bawah dan telungkup dan saya mencabut kemaluaan saya lalu mendekapkan badan saya ke Melia dan membisikkan kata mesra.</p>
<p>“Lu hebat Mel. Saya jadi suka dan sayang sama lu.”</p>
<p>“Terima kasih Ryo, lu telah memberikan kepuasan yang telah saya dambakan selama ini”</p>
<p>“Kembali Mel, dari lu gue telah belajar sesuatu yang hebat..”</p>
<p>“Saya juga suka sama kamu, makanya saya tidak segan untuk melakukan ini denganmu, Ryo. Dan apa yang kita lakukan ini hanya suka sama suka. Just a friend, OK?”</p>
<p>Agak kaget juga saya mendengarnya tapi masih bisa kukuasai diriku.</p>
<p>“Ok Mel, we always be a friend”</p>
<p>Akupun membelai mesra dia sampai akhirnya kami berdua tertidur tanpa sehelai benang pun.</p>
<p>Keesokan harinya kami kembali menikmati perjalanan wisata, hanya saja dengan keadaan yang sedikit lebih mesra setelah apa yang kami alami semalam. Sampai akhirnya waktu cuti saya habis di Medan dan pulang kembali ke Jakarta. Di hari kepulangan saya, Melia tetap mengantarku ke bandara untuk pulang ke Jakarta. Melia sekarang melanjutkan studi ke Amerika dan aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Melia, Melia, i always remember what you have tought me! Tidak rugi perjalanan saya kali ini ke Medan. Sangat sangat special jika dibandingkan dengan semua perjalanan wisata saya selama ini.</p>
<p>Tamat</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=193&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/piknik-yang-tak-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Service Plus SPG Susu</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/service-plus-spg-susu/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/service-plus-spg-susu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 08:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[3 in 1]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1210</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu aku harus lebih bagi ke studio foto Maxi, salah satu studio foto terbesar di kotaku. Ada beberapa foto bencana alam yang harus kucetak untuk dikirim segera kepada Supri, kawan lamaku yang jadi agen berita luar negeri, berbasis di Jakarta. Sudah dua tahun ini, kujalani profesi fotografer freelance untuk Supri. Lumayan juga hasilnya, bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1210&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pagi itu aku harus lebih bagi ke studio foto Maxi, salah satu studio foto terbesar di kotaku. Ada beberapa foto bencana alam yang harus kucetak untuk dikirim segera kepada Supri, kawan lamaku yang jadi agen berita luar negeri, berbasis di Jakarta. Sudah dua tahun ini, kujalani profesi fotografer freelance untuk Supri. Lumayan juga hasilnya, bisa buat nambah biaya hidupku yang selama ini hanya menggantung nasib sebagai tukang foto panggilan. Maklum peluang kerja dikotaku agak sulit, kendatipun aku sarjana pertanian dengan nilai yang tak jelek-jelek amat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1210"></span>“Wah.. wah.. sialan, kok malah hujan.. numpang teduh ya Bu,” entah sial apa pagi itu, hujan mendadak turun tanpa mendung, aku pun terpaksa menghentikan laju sepeda motorku dan segera berteduh disebuah warung pinggir jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ndak apa Dik, memang hujannya deras, kalau diteruskan nanti basah semua bajunya,” jawab pemilik warung, ibu berusia baya seumur ibuku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saya pesan kopi susunya Bu, jangan banyak-banyak gulanya ya,” pintaku setelah mengambil duduk dalam warung itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menunggu pesananku, kuamati kamera Nikon dalam tas cangklong, untung kamera itu tidak sampai terembes air.</p>
<p style="text-align:justify;">Warung tempat kuberteduh terlihat sangat rapi dan bersih, walaupun ukurannya kecil. Sungguh, aku baru kali itu singgah disana, meskipun sehari-hari kerab melintasi jalan di depannya. Pagi itu, ada tiga orang yang turut berteduh sambil sarapan, kelihatannya mereka itu sopir dan kenek angkot yang pangkalannya tak seberapa jauh dari warung itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi kopi susu yang kupesan tiba dihadapanku, kulihat dua wanita muda masuk ke warung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uhh, gila hujannya ya Fin.., untung sudah sampai sini,” kata yang berbadan agak gemuk pada temanya yang lebih langsing.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka adalah sales promotion girl (SPG), dibelakang baju kaos yang mereka pakai ada sablonan bertulis Susu Siip (sengaja disamarkan), produk susu baru buatan lokal. Keduanya langsung duduk dibangku panjang tepat di depanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini Dik kopi susunya, apa nggak sekalian pesan sarapan Dik?” ibu pemilik warung membawakan pesananku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Makasih Bu, ini saja cukup. Saya sudah sarapan kok,” jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu itu pun berlalu, setelah sempat menawarkan menu pada dua wanita muda dihadapanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hm maaf Mas, apa tidak mau coba susu kami?” sebuah suara wanita mengejutkan aku.</p>
<p style="text-align:justify;">Hampir saja aku tersedak kopi yang sedang kuseruput dari cangkirnya, sebagian kopi malah tumpah mengotori lengan bajuku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Duh maaf, kaget ya Mas. Tuh jadi kotor bajunya,” wanita yang agak gemuk menyodorkan tisue kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ohh, nggak apa Mbak, makasih ya,” kuterima tisue pemberiannya dan membersihkan lengan bajuku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maaf, susu apa maksud Mbak?” aku bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hik.. Hik.. Mas ini rupanya kaget dengar susu kita Fin,” canda si gemuk, si langsing tersenyum saja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini loh Mas, susu siip. Susu baru buatan lokal tapi oke punya. Harganya murah kok, masih promosi Mas, ada hadiahnya kalau beli banyak,” si langsing menjelaskan, ia juga menerangkan harga dan hadiahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya aku ingin lebih lama diwarung itu supaya bisa lebih lama bersama dua wanita SPG susu itu, tapi nampaknya hujan sudah mulai berhenti dan aku harus melanjutkan perjalanan karena waktunya sudah mepet untuk aku mengirim foto kepada Supri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saya tertarik Mbak, tapi kayaknya saya harus lanjutkan perjalanan nih, tuh hujannya sudah berhenti. Emm, gimana kalau saya kasih alamat saya, ini kartu nama saya dan kalau boleh Mbak berdua tulis namanya disini ya,” kusodorkan selembar kartu namaku sekaligus meminta mereka menulis namanya dibuku saku yang kubawa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh Mas Henky to namanya. Pulang kerjanya jam berapa Mas biar bisa ketemu nanti kalau kami ke rumahnya,” si gemuk yang ternyata bernama Lina bertanya sambil senyum-senyum padaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jam empat sore juga saya sudah dirumah kok. Mbak Lina dan Mbak Wati boleh kesana sekitar jam itu, saya tunggu ya,” jawabku. Wati yang langsing juga tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku kemudian membayar kopi susu pesananku dan meninggalkan warung, untuk segera ke studio foto Maxi. Untung aku belum terlambat mengirim foto-foto pesanan Supri itu.</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">Jam 1 siang aku sudah selesai mengirim foto pesanan Supri, dan sudah bisa santai dirumah kontrakanku yang agak jauh dari kota. Oh ya pembaca, umurku saat itu sudah menginjak 28 tahun, aku coba mandiri merantau dikota ini setelah menyelesaikan kuliahku yang juga dikota ini. Soalnya kalau kembali ke kampung, mungkin aku hanya jadi petani, membantu bapak dan ibuku menggarap sawah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuputar lagu-lagu melankolisnya Katon Bagaskara di VCD Player sambil kunikmati berbaring dikasur tanpa dipan kamarku. Foto Anis kupandangi, pacarku itu sudah tiga minggu ini pindah ke Irian Jaya, bersama pindah tugas bapaknya yang tentara. Kayaknya sulit melanjutkan tali kasih kami, apalagi jarak kami sekarang jauh. Dan sepertinya ini takdirku, berkali-kali gagal kawin gara-gara terpisah tiba-tiba, jadi jomblo sampai umur segitu.</p>
<p style="text-align:justify;">Membayangkan kenangan manis bersama Anis, aku akhirnya lelap tertidur ditemani tembang manis Katon. Sampai akhirnya gedoran pintu kontrakan membangunkanku. Astaga sudah jam setengah 5 sore, aku segera membukakan pintu utama kontrakanku untuk melihat siapa yang datang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sore Mas.., duh baru bangun ya? Maaf ya mengganggu lagi,” ternyata yang datang Lina dan Wati, SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh Mbak Lina dan Mbak Wati.., saya pikir nggak jadi datang. Silahkan masuk yuk, saya basuh muka sebentar ya,” kupersilahkan mereka masuk dan aku ke kamar mandi membasuh mukaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sore itu Lina dan Wati tidak lagi menggunakan seragam SPG, mereka pakai casual. Lina walau agak gendut jadi terlihat seksi mengenakan jeans ketat dipadu kaos merah ketat pula, sedangkan Wati yang langsing semakin asyik pakai rok span mini dipadu kaos kuning ketat.</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah kontrakanku type 21, jadi hanya ada ruang tamu dan kamar tidur yang ukurannya kecil-kecil juga, selebihnya dapur dan kamar mandi juga sangat mini dibagian belakang. Setelah basuh muka, aku menemani mereka diruang tamu, tempat duduknya pun kursi bambu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah ternyata Mas Hengky ini tukang foto ya, boleh dong kapan-kapan kita difoto Mas?” Lina buka bicara saat aku duduk bersama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tentu boleh, kapan Mbak mau datang aja kesini,” jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya kami kembali bicara masalah produk susu yang mereka pasarkan. Bergantian bicara, Lina dan Wati menjelaskan kalau susu yang mereka jual ada beberapa macam dengan kegunaan yang beragam. Ada susu untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak usia sekolah, balita, bayi, orangtua, pertumbuhan remaja, sampai susu greng untuk menambah vitalitas pria. Nah, untuk susu penambah vitalitas pria itu, bicara mereka sudah berani agak porno dan mesum, membuat aku blingsatan mendengarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, boleh-boleh.. Saya ambil susu grengnya dua pak, nanti kalau bagus saya tambah lagi lain kali,” aku memotong bicara mereka yang semakin ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah gitu dong Mas, biar istri Mas senang kalau suaminya greng,” Wati kembali bercanda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Duh.. Mbak, saya belum kawin nih. Maksud saya susu greng itu saya pakai buat kerja, supaya tetap fit kalau kerja,” kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabanku itu membuat mereka saling pandang, lalu keduanya tertawa sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah kita kira Mas sudah punya istri, ternyata masih bujang. Kok ganteng-ganteng belum laku sih?” Lina menggoda.</p>
<p style="text-align:justify;">Suasana terasa langsung akrab bersama dua SPG susu itu. Mereka pun menceritakan latar belakang mereka tanpa malu kepadaku. Lina, wanita berumur 26 tahun, dulunya karyawati sebuah bank, lalu berhenti karena dinikahi rekan sekerjanya. Tapi kini dia janda tanpa anak sejak suaminya sakit dan meninggal, tiga tahun lalu. Sedangkan Wati, bernasib sama. Wanita 24 tahun itu, pernah menikah dengan lelaki sekampungnya, tetapi kemudian jadi janda gantung sejak suaminya jadi TKI dan tak ada kabarnya sejak 4 tahun lalu. Keduanya terpaksa menjadi SPG untuk menghidupi diri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami malu Mas, sudah kawin masih bergantung pada orangtua, makanya kami kerja begini,” kata Wati.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau Mas mau, gimana kalau saya seduhkan susu greng itu. Sekedar coba Mas, siapa tahu Mas jadi pingin beli lebih banyak?” Lina menawarkanku setelah obrolan kami semakin akrab.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum sempat kujawab dia sudah bangkit dan menanyakan dimana letak dapur, ia pun menyeduhkan secangkir susu greng buatku. Susu buatan Lina itu kucicipi, lalu kuteguk habis, kemudian kembali ngobrol dengan mereka. Saat itu jam menunjuk angka tujuh malam. Lima belas menit setelah meneguk susu buatan Lina, aku merasakan dadaku bergemuruh dan panas sekujur tubuh, agak pusing juga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ohh.. Kok saya pusing jadinya Mbak? Kenapa ya? Ahh..,” aku meremasi rambutku sambil bersandar di kursi bambu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Agak pusing ya Mas, itu memang reaksinya kalau pertama minum Mas. Mana coba saya pijitin lehernya,” Wati pindah duduk kesampingku sambil memijiti tengkuk leherku, agak enakan rasanya setelah jemari lentik Wati memijatiku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah, biar lebih cepat sembuh saya juga bantu pijit ya,” Lina pun bangkit dan duduk disampingku, posisiku jadi berada ditengah keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, astaga, Lina bukannya memijit leherku malah menjamah celana depanku dan memijiti penisku yang mendadak tegang dibalik celana.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ahh Mbaak.., mmfphh.. Ehmm,” belum selesai kalimat dari bibirku, bibir Wati segera menyumpal dan melumat bibirku.</p>
<p style="text-align:justify;">Gila pikirku, aku hendak menahan aksi mereka tapi aku pun terlanjur menikmati, apalagi reaksi susu sip yang kuteguk memang mujarab, birahiku langsung naik. Akhirnya kubalas kuluman bibir Wati, kusedot bibir tipisnya yang mirip Enno Lerian itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Waduh.., gede juga Hengky juniornya Mas,” ucapan Lina kudengar tanpa melihatnya karena wajah Wati yang berpagutan denganku menutupi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku tahu kalau saat itu Lina sudah membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang dari celana. Sesaat setelah itu, kurasakan benda kenyal dan basah melumuri penisku, rupanya Lina menjilati penisku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ahh.., tidak Mbak.., jangan Mbak,” kudorong tubuh Wati dan Lina, aku jadi panik kalau sampai ada warga yang melihat adegan kami.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayolah Mas.. Kan sudah tanggung. Nanti pusing lagi loh,” Lina seperti tak puas, Wati pun menimpali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maksud saya jangan kita lakukan disini, takut kalau ketahuan Pak RT. Kita pindah ke kamar aja yah,” aku mengajak keduanya pindah ke kamar tidurku, setelah mengunci pintu utama kontrakanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di kamarku, bagaikan balita yang akan dimandikan ibunya, pakaianku segera dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun melepasi seluruh pakaiannya. Wah tubuh mereka nampak masih terawat, mungkin karena lama menjanda. Sebelum melanjutkan permainan tadi, kuputar lagi lagu Katon Bagaskara dengan volume agak keras supaya suara kami tak terdengar keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu, aku rebah dikasurku dan Lina segera mengulangi aksinya menjilati, menghisap penisku yang semakin mengeras. Lina bagaikan serigala lapar yang mendapatkan daging kambing kesukaannya. Sedangkan Wati berbaring disisiku dan kami kembali berpagutan bibir, bermain lidah dalam kecupan hangat. Dalam posisi itu tanganku mulai aktif meraba-raba susu Wati disampingku, kenyal dan hangat sekali susu itu, lebih sip dari susu sip yang mereka jual kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh Mas, saya sudah nggak tahan Mas,” Lina mengeluh dan melepaskan kulumannya dipenisku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo Lin, kamu duluan.. Tapi cepat yahh,” Wati menyuruh Lina.</p>
<p style="text-align:justify;">Wanita bertubuh agak gemuk itu segera menunggangiku, menempatkan vagina basahnya diujung penisku Lina berposisi jongkok dan bless, penisku menembusi vaginanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ohh.. Aaauhh.. Mass hengg,” Lina meracau sambil menggenjot pinggulnya naik turun dengan posisi jongkok diatasku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kurasakan nikmatnya vagina Lina, apalagi lemak pahanya ikut menjepit di penisku.</p>
<p style="text-align:justify;">Wati yang turut terbakar birahinya segera menumpangi wajahku dengan posisi jongkok juga, bibir vaginanya tepat berada dihadapan bibirku langsung kusambut dengan jilatan lidah dan isapan kecil. Posisi mereka yang berhadapan diatas tubuhku memudahkan keduanya saling pagut bibir, sambil pinggulnya memutar, naik turun, menekan, diwajah dan penisku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lima belas menit setelah itu, Lina mempercepat gerakannya dan erangannya pun semakin erotis terdengar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ahh Mass.., sayaa kliimmaakss.. Ohh ammphhuunnhh,” Lina mengejang diatasku, lalu ambruk berbaring disamping kananku.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat Lina KO, Wati kemudian turun dari wajahku dan segera mengambil posisi Lina, dia mau juga memasukkan penisku ke memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ehh tunnggu Mbak Wati, tunggu,” kuhentikan Wati.<br />
Aku bangkit dan memeluknya lalu membaringkannya dikasur, sehingga akulah yang kini diatas tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mass.. Aku pingin seperti Lina Masshh.. Puasian aku ya.. Meemmppffhh.. Ouhh Mass,” Wati tersengal-sengal kuserang cumbuan, sementara penis tegangku sudah amblas dimekinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ohh enakhhnya memekmu Watthh.. Enakhh ughh,”</p>
<p style="text-align:justify;">“Engh.. Genjot yang kerass Mass, koontollmu juga ennahhkk.. Ohh Mass,” Wati dan aku memanjat tebing kenikmatan kami hingga dua puluh menit, sampai akhirnya Wati pun mengejang dalam tindihanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Amphhunn Mass.. Ohh nikhhmatt bangghett Masshh..,” Wati mengecup dadaku dan mencakar punggungku menahan kenikmatan yang asyik.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iyah Watt.. Inii untukkhhmuhh.. Ohh.. Oohh,” aku pun menumpahkan berliter spermaku ke dalam vagina Wati.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sama-sama puas, dua SPG susu itu pun berlalu dari rumahku, kutambahkan dua lembar ratusan ribu untuk mereka. Aku pun kembali tidur dan menghayalkan kenikmatan tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">E N D</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1210&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/service-plus-spg-susu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gairah Cinta seorang Wanita Berjilbab Kader Partai</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/gairah-cinta-seorang-wanita-berjilbab-kader-partai/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/gairah-cinta-seorang-wanita-berjilbab-kader-partai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 07:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbaber]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Mufidah adalah seorang ibu rumah tangga berwajah cantik yang berkulit putih bersih baru berusia 31 tahun. Selama 6 tahun perkawinannya dengan mas Syamsul, wanita ini telah dikaruniai dua anak yang masing-masing berusia 3 tahun dan 5 tahun. Selain kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, wanita yang selalu mengenakan jilbab ini juga cukup aktif di partai, demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1232&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mufidah adalah seorang ibu rumah tangga berwajah cantik yang berkulit putih bersih baru berusia 31 tahun. Selama 6 tahun perkawinannya dengan mas Syamsul, wanita ini telah dikaruniai dua anak yang masing-masing berusia 3 tahun dan 5 tahun. Selain kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, wanita yang selalu mengenakan jilbab ini juga cukup aktif di partai, demikian juga suaminya. Jilbab lebar serta jubah panjang serta kaus kaki sebagai cirinya ada padanya apabila dia keluar rumah atau bertemu laki-laki yang bukan mahromnya, sehingga mengesankan kealiman Mufidah.</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="Selebihnya..." src="http://khususceritadewasa.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-1232"></span>Sore ini, ibu muda yang alim ini kedatangan tamu seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai rekan sekantor suaminya, sehingga terpaksa dia harus mengenakan jilbab lebarnya serta kaus kaki menutupi kakinya untuk menemuinya, karena kebetulan suaminya sedang rapat di kantor dan baru akan kembali selepas maghrib. Dengan jilbab putih yang lebar serta jubah panjang bemotif bunga kecil berwarna biru serta kaus kaki berwarna krem, Mufidah menemui tamu suaminya itu bernama Hendri. Seorang laki-laki yang kerap bertamu ke rumahnya. Wajahnya tidak tampan namun tubuhnya terlihat tegap dan atletis. Usianya lebih muda dari suaminya ataupun dirinya hingga suaminya ataupun dia sendiri memanggilnya dengan sebutan dik Hendri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya Mufidah kurang menyukai laki-laki bernama Hendri itu, karena matanya yang jalang kalau melihatnya seakan hendak menelannya bulat-bulat sehingga dia lebih suka menghindar jika Hendri datang bertamu. Namun kali ini, Mufidah harus menemuinya karena Hendri ini adalah rekan suaminya, terpaksa Mufidah bersikap ramah kepadanya. Memang tidak mungkin untuk menyuruh Hendri kembali, ketika suaminya tidak ada di rumah seperti ini karena jauhnya rumah tamu suaminya ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya Mufidah mempersilahkan Hendri menunggu di ruang tamu sedangkan dia pergi ke dapur membuatkan minum untuk tamunya tersebut. Sore ini, suasana rumah Mufidah memang sangat sepi. Selain suaminya yang tidak ada di rumah, kedua anaknya pun sedang ngaji dan baru pulang menjelang maghrib nanti. Di dapur, Mufidah tengah menyiapkan minuman dan makanan kecil buat tamu suaminya yang tengah menunggu di ruang tamu. Tangan ibu muda ini tengah mengaduk gelas untuk minuman tamu suaminya ketika tanpa disadarinya, laki-laki tamu suaminya yang semula menunggu di ruang tamu tersebut menyelinap ke dapur menyusul Mufidah. Mufidah terpekik kaget, ketika dirasakannya tiba-tiba seorang lelaki memeluknya dari belakang. Wanita berjilbab lebar ini sangat kaget ketika menyadari yang memeluknya adalah Hendri tamu suaminya yang tengah dibikinkan minuman olehnya. Mufidah berupaya meronta namun tiba-tiba sebilah belati telah menempel di pipi wanita yang halus ini. Kemudian lelaki itu langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Mufidah.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Maaf, Mbak Mufidah. Mbak Mufidah begitu cantik dan menggairahkan, aku harap Mbak jangan melawan atau berteriak atau belati ini akan merusak wajah ayu yang cantik ini&#8221;. desis Hendri membuat Mufidah tak berkutik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kilatan belati yang dibawa Hendri membuat wajah wanita berjilbab ini pucat pasi. Seumur hidupnya, baru kali ini Mufidah melihat pisau belati yang terlihat sangat tajam sehingga membuat wanita ini lemas ketakutan. Tubuh ibu muda berjilbab yang alim ini mengejang ketika dia merasakan kedua tangan Hendri itu menyusup ke balik jilbab lebarnya meremas-remas lembut kedua payudaranya yang tertutup jubah dan?.. Lantas salah satu tangan Hendri lalu turun ke arah selangkangannya, meremas-remas kemaluannya dari luar jubah yang dipakainya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jangaan.. dik Hendrii..&#8221;desah Mufidah dengan gemetaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun laki-laki ini tak perduli, kedua tangannya kian bernafsu meremas-remas buah dada serta selangkangan wanita alim berusia 31 tahun ini. Mufidah menggeliat-geliat menerima remasan laki-laki yang bukan suaminya ini dalam posisi membelakangi laki-laki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jangaan.. dik Hendrii&#8230;. sebentar lagi anak-anakku pulang..&#8221; desah Mufidah masih dengan wajah ketakutan dan gelisah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hendri terpengaruh dengan kata-kata Mufidah, diliriknya jam dinding yang terdapat pada dapur tersebut dan memang selama sering bertamu di rumah ini Hendri mengetahui tak lama lagi kedua anak wanita yang tengah diperkosanya itu pulang dari ngaji. Laki-laki ini mengumpat pelan sebelum kemudian, Hendri berlutut di belakang Mufidah. Mufidah menggigil dengan tubuh mengejang ketika kemudian wanita kader ini merasakan tangan lelaki tamu suaminya itu merogoh lewat bagian bawah jubahnya, lalu menarik turun sekaligus rok dalam dan celana dalamnya. Lantas tanpa diduganya, Hendri menyingkap bagian bawah jubah birunya ke atas sampai ke pinggang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu muda berjilbab lebar ini terpekik dengan wajah yang merah padam ketika menyadari bagian bawah tubuhnya kini telanjang. Sementara Hendri justru merasa takjub melihat istri rekan sekantornya ini dalam keadaan telanjang bagian bawah tubuhnya begitu menggairahkan. Sungguh, laki-laki ini tidak pernah menyangka kalau sore ini akan melihat tubuh istri Mas Syamsul yang selalu dilihatnya dalam keadaan berpakaian rapat kini ditelanjanginya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama kali Hendri melihat Mufidah, laki-laki ini memang sudah tergetar dengan kecantikan wajah wanita berkulit putih keturunan ningrat ini walaupun sebenarnya Hendri juga sudah beristri, tapi apabila dibandingkan dengan Mufidah wajah istrinya nggak ada apa-apanya. Namun wanita yang selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab yang lebar membuatnya segan juga karena Mufidah adalah istri temannya. Tetapi seringkalinya mereka bertemu membuat Hendri semakin terpikat dengan kecantikan istri mas Syamsul ini, bahkan walaupun Mufidah memakai pakaian jubah panjang dan jilbab yang lebar, Hendri dapat membayangkan kesintalan tubuh wanita ini melalui tonjolan kemontokan buah dadanya dan pantatnya yang bulat indah bahenol. Muka Mufidah merah padam ketika diliriknya, mata Hendri masih melotot melihat tubuh Mufidah yang setengah telanjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Celana dalam dan rok dalam yang dipakai wanita berjilbab ini kini teronggok di bawah kakinya setelah ditarik turun oleh Hendri, sehingga wanita alim ini tidak lagi memakai celana dalam. Bentuk pinggul dan pantat wanita alim yang sintal ini sangat jelas terlihat oleh Hendri. Belahan pantat Mufidah yang telanjang terlihat sangat bulat, padat serta putih mulus tak bercacat membuat birahi laki-laki yang telah menggelegak sedari tadi kian menggelegak. Diantara belahan pantat Mufida terlihat kemaluan wanita istri rekannya yang sangat menggiurkan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mbak Mufidah.. Kakimu direnggangkan dong. Aku ingin melihat memekmu&#8230;&#8221; kata Hendri masih sambil jongkok seraya menahan birahinya karena melihat bagian kehormatan istri rekannya yang cantik ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Wanita itu menyerah total, ia merenggangkan kakinya. Dari bawah, lelaki itu menyaksikan pemandangan indah menakjubkan. Di pangkal paha wanita berjilbab ini tumbuh rambut kemaluannya, meski tak lebat namun terlihat rapi. Hendri kagum melihat kemaluan Mufidah yang begitu montok dan indah, beda sekali dengan kemaluan istrinya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jangaan.. diik.. hentikaaan&#8230; anak-anakku sebentar lagi pulang&#8221; pinta Mufidah dengan suara bergetar menahan malu.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun Hendri seolah tak mendengarnya justru tangan lelaki itu menguakkan bongkahan pantat istri Mufidah dan lidahnya mulai menyentuh anusnya. Mufidah menggeliat, tubuh ibu muda berjilbab ini mengejang ketika ia merasakan lidah lelaki itu menyusuri belahan pantatnya lantas menyusuri celah di pangkal pahanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh dik jajajangan?&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bernafsu Hendri menguakkan bibir kemaluan Mufidah yang berwarna merah jambu dan lembab. Tubuh wanita ini mengejang lebih hebat lagi saat lidah lelaki itu menyeruak ke liang vaginanya. Tubuhnya bergetar ketika lidah itu menyapu klitorisnya. Semakin lama wanita berjilbab berusia 31 tahun ini tak kuasa menahan erangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh yeah? Aaaagggh!&#8221;, ketika bibir lelaki itu mengatup dan menyedot-nyedot klitorisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan menit-menit selanjutnya Mufidah semakin mengerang berkelojotan oleh kenikmatan birahi ketika Hendri seakan mengunyah-ngunyah kemaluannya. Seumur hidupnya, Mufidah belum pernah diperlakukan seperti ini walaupun oleh mas Syamsul suaminya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmmm&#8230;, memekmu enak?. Mbak Mufidah&#8230;.&#8221; kata Hendrii sambil berdiri setelah puas menyantap kemaluan istri rekannya ini, dan tangan kirinya terus mengucek-ngucek kelamin Mufidah sambil berbisik ke telinga ibu muda itu?.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mbak saya entotin ya, saya mau mbak merasakan hangatnya penisku&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aihhhh&#8230; eungghhhh&#8230;. jangan.. ampun&#8221; Mufidah mengerang dengan mata mendelik, ketika sesuatu yang besar, panjang dan panas mulai menusuk kemaluannya melalui belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh wanita berjilbab berdarah ningrat itu mengejang antara rasa marah bercampur nikmat Mufidah meronta lemah disertai desahannya. Dengan buas Hendri menghujamkan batang penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mmmfff.. oh oh. enak juga ngentot sama Mbak?.&#8221; tanpa melepas bajunya ibu muda itu, Hendri menyetubuhi isteri sahabatnya dari arah belakang, Hendri sambil menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan napas terengah-engah menghentakan penis besarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mufidah dapat merasakan penis Hendri yang kini tengah menusuk-nusuk liang kemaluannya, jauh lebih besar dan panjang dibanding penis suaminya. Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Mufidah, lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita kader salah satu partai yang alim ini menggigit bibirnya disertai desahan nikmatnya. Mufidah tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya. Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah nikmat, apalagi tangan kanan lelaki itu kini menyusup ke balik jubahnya, lalu memilin-milin puting susunya yang peka&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ayo Mbak Mufidah&#8230;. ahhhh&#8230; jangan bohongi dirimu sendiri&#8230; nikmati&#8230; ahh&#8230;. nikmati saja&#8230;.&#8221; Hendri terus memaju mundurkan penisnya yang terjepit vagina ibu muda yang alim ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Mufidah menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa malu. Tapi ia tak mampu. Mufidah mendesah nikmat dan tanpa sadar ia meracau&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh besar sekali punyamu dik hendri, sakiiiit&#8230; Oooh ampuuun yeah ampuuun dik&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Hendri dengan gencar mengocok penisnya didalam vagina yang mulai basah sambil berbisik pada ibu muda itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mana yang enak kontolku dengan punya mas Syamsul mbak?&#8221;, Mufidah mulai meracau kembali seraya mengerang.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooooh enak punyamu dik, besar dan panjang aduh dik ngilu oh mmmf Aaaagghh..&#8221; dan akhirnya wanita cantik ini menjerit kecil saat ia meraih puncak kenikmatan, sesuatu yang baru pertama kali ditemuinya walaupun 6 tahun dia telah menjalani pernikahan dengan mas Syamsul belum pernah Mufidah mendapatkan orgasme sedahsyat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh Mufidah langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya selangkah lagi akan sampai ke puncak. Hendri masih terus mengaduk vaginanya dengan kecepatan penuh. Lalu, dengan geraman panjang Hendri menusukkan penisnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan ibu muda berjilbab ini. Kedua tangannya mencengkeram payudara Mufidah yang padat dan montok dengan kuat diremasnya. Mufidah yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam vaginanya disembur cairan hangat mani dari penis Hendri yang terasa banyak membanjiri liangnya. Mufidah kembali merintih mirip suara anak kucing, saat dengan perlahan Hendri menarik keluar penisnya yang lunglai.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita ini. Mufidah tersadar dan terisak dengan tangan bertumpu pada meja dapur.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sudah, Mbak Mufidah nggak usah nangis! Toh mbak Mufidah ikut menikmati juga, jangan ceritakan pada siapa-siapa kalau tidak mau nama baik suamimu tercemar dengan perselingkuhan kita!!&#8221; kata-kata Hendri dengan nada tekanan keras sambil membenahi celananya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mufidah diam saja, harga dirinya sebagai seorang istri dan wanita hancur. Wanita itu baru merapikan pakaiannya yang awut-awutan ketika, dilihatnya Hendri telah pergi dari dapur dan beberapa saat kemudian tanpa berpamitan, terdengar suara mobil Hendri berlalu meninggalkan halaman rumahnya. Mufida terisak menyesali nasib yang menimpanya,</p>
<p style="text-align:justify;">Namun dia juga merasa malu betapa dia ikut menikmati juga ketika tamu suaminya itu menyetubuhinya sambil berdiri dari arah belakang tubuhnya dengan posisi menungging, Mufidah belum pernah melakukan hubungan intim bersama suaminya dengan posisi demikian itu, namun segera air mata yang menghiasi wajahnya buru-buru dihapusnya saat didengar suara kedua anaknya pulang.</p>
<div style="text-align:justify;">
<p>Dan sejak peristiwa perkosaan itu, ketika ia melakukan hubungan kelamin dengan suaminya Mufidah sudah tak bisa merasakan nikmat lagi saat ia melayani suaminya. Mufidah merasakan penis suaminya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan punya Hendri yang besar panjang, dan bayangan saat ia diperkosa oleh Hendri membuat dirinya menuntut sesuatu yang dapat memberikan gelombang kenikmatan. Ia ingin suaminya bisa seperkasa Hendri yang bisa melambungkan sukmanya saat mencapai puncak kenikmatan. Rasa menyesal saat diperkosa dan gejolak syahwat berkecamuk dalam batinnya membuat ibu muda itu merindukan kejantanan milik lelaki seperti Hendri, namun semuanya ia pendam sendiri seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa bila berada didepan suaminya.</p>
<p>Dua minggu setelah peristiwa itu Mufidah menerima telepon dari Hendri saat suaminya keluar kota.</p>
<p>&#8220;Halo mbak! Mas Syamsul pergi ke Semarang ya? Saya mau bertamu ke rumah bolehkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Brengsek kamu dik Hendri!&#8221; jawab Mufidah.</p>
<p>&#8220;Lho koq mbak marah. Mbak menikmati juga kejantananku saat itu.&#8221;</p>
<p>Lalu Mufidah memutuskan hubungan telepon, dengan tubuh gemetar dan perasaan tak menentu ia masuk ke dalam kamar, ia khawatir Hendri pasti akan datang bertamu siang ini disaat anak-anaknya berada disekolah dan suaminya tak ada dirumah. Hatinya berkecamuk antara menerima kunjungan Hendri atau tidak, namun gejolak nafsunya menuntut sesuatu yang tak pernah didapatkan dari suaminya. Tiba-tiba ketukkan pintu terdengar olehnya dan dengan gugup ia keluar dari kamar, langkahnya sedikit gemetar saat menuju pintu rumah.</p>
<p>Ketika ia membuka pintu tampak seringai Hendri dengan sorot mata penuh nafsu saat menatap dirinya. Tanpa basa basi lagi Hendri langsung mengunci pintu rumahnya, dan Hendri telah mempunyai rencana agar isteri sahabatnya yang cantik ini akan selalu ketagihan dengan batang kejantanannya, dan Hendri akan menunjukkan bagaimana memberikan kepuasan dalam permainan seks pada isteri sahabatnya. Saat Hendri mendekati tubuh wanita cantik ini kian gemetar dan dengan buasnya Hendri menciumi leher jenjang isteri sahabatnya, tubuh ibu muda itu mengejang ketika dengan sedikit kasar Hendri meremas-remas pantatnya dan kekasaran itu membuat gejolak nafsu Mufidah menggelegak hingga lupa akan segala-galanya. Matanya terbelalak saat dengan cepatnya Hendri sudah dalam keadaan telanjang dihadapannya, penisnya yang besar panjang mulai membesar. Dan dengan kasar Hendri melucuti pakaian Mufidah hingga keduanya sama-sama telanjang yang tinggal hanya jilbabnya yang belum terlepas, karena Hendri akan lebih bergairah jika isteri sahabatnya saat digarap masih memakai jilbab. Kemudian Hendri mendudukkan ibu muda itu di sofa, lalu disorongkan penisnya ke wajah Mufidah dan digesekan ke hidung perempuan itu.</p>
<p>&#8220;Ayo mbak cium dan jilati ini penis yang pernah memberikan kenikmatan ayo ayo!.&#8221;</p>
<p>Saat itu Mufidah serasa akan muntah karena ia belum pernah mencium penis Hendri sedang penis suaminya belum pernah Mufidah menjilatinya, dan ini penis orang lain. Namun kali ini ia dengan terpaksa melakukan itu.</p>
<p>&#8220;Pegang ya mbak, dan gesek-gesek dipipi, nah begitu cium mbak terus-terus cium.&#8221;</p>
<p>Aroma batang penis itu mulai merangsang Mufidah dan tanpa sadar ia mulai menjilati penis Hendri dengan nafsu yang menggelegak dan ia merasakan sensasi baru memacu gairahnya, ia mulai merasakan penis itu kian membesar dalam mulutnya hingga mulutnya tak sanggup lagi untuk mengulum batang penis lelaki itu. Mufidah sudah bukan Mufidah yang dulu lagi sejak ia mengenal batang penis lelaki yang besar panjang.</p>
<p>&#8220;Mmmmfff&#8230; mmmf&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh oh yeah enak juga ngentot mulut mbak, ternyata mbak suka isep kontol  ya?&#8221;, dan kata-kata kotor Hendri ditelinganya serasa indah terdengar dan nafsu Mufidah kian membuncah keubun-ubun.</p>
<p>&#8220;Dik Hendri puaskanlah mbak.. bawalah mbak masuk ke kamar oh dik cepatan.. setubuhi mbak seperti tempo hari.</p>
<p>&#8220;Aaaagggh.. Ouuuh&#8221;</p>
<p>Lalu Hendri membopong tubuh molek isteri sahabatnya naik ke ranjang, dan dengan buas Hendri menindihnya, dan ibu muda itu berkelojotan saat mulut Hendri mengulum putting susu yang masih segar dan jari-jari Hendri merogoh liang vaginanya. Mufidah kian mengejang?.</p>
<p>&#8220;?Ooooh mmmf ampun Dik Hendri jangan&#8230; jangaaan mempermainkan mbak oh yeah mmf&#8230; Ayo dik Hendri berilah mbak nikmat kejantananmu aampun&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;He&#8230; heee sabar dong mbak, aku juga suka dengan memek mbak yang sempit ini, aku suka jilatin memekmu, mana yang enak punyaku dengan punya mas Syamsul mbak&#8221;</p>
<p>&#8220;?Enak punyamu dik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana yang besar dan panjang punyaku sama punya mas Syamsul&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh dik tolong dik cepat. Bbbbbesar pppppunya muuu.&#8221;</p>
<p>Lalu dengan gemasnya Hendri menggigit kecil payudara indah milik Mufidah seraya batang penis besar itu menerobos masuk keliangnya yang sempit, walau ia sudah melahirkan anak dua namun serasa sempit buat ukuran penis besar Hendri. Mata ibu muda itu terbeliak keatas saat penis besar itu kandas didasar rahimnya dan kenikmatan seperti itu belum pernah ia dapatkan dari suaminya dan sekarang ia dapat merasakan dari penis orang lain selain suaminya, tubuhnya menggeletar hebat ketika dengan irama lambat dan terkadang cepat ayunan batang penis Hendri keluar masuk vaginanya. Kenikmatan demi kenikmatan serasa sampai ke ubun-ubunnya.</p>
<p>&#8220;Ooh oh yeh enak eeeeeenak kontol besarmu dik Hendriiiiiiii oh ampun.&#8221;</p>
<p>Ia meracau tanpa sadar saking kenikmatan itu mendera dirinya. Mufidah bagaikan kuda betina liar saat dipacu oleh lelaki sahabat suaminya, ia melenguh seperti sapi disembelih karena nikmatnya, ia menangis dan menyesal karena selama ini ia telah tertipu oleh suaminya bahwa kenikmatan itu bisa ia dapatkan asalkan mas Syamsul tahu bagaimana caranya memberikan kepuasan kepadanya, dan ternyata suaminya adalah suami yang tidak mempunyai pengetahuan tentang urusan seks, itu yang membuat ia menangis, serta menyesal, terhina dan marah pada diri sendiri. Maka bagaikan banteng betina yang terluka ia pacu nafsu berahinya yang terpendam selama ini.</p>
<p>&#8220;Ayo dik nikmatilah tubuhku, setubuhilah aku sesukamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik mbak yang cantik, kekasih binalku sekarang waktunya nikmatilah rasa kontol besar ini&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmmmmf yeah, oh memek mbak legit rasanya.&#8221;</p>
<p>Dan Tubuh Mufidah melengkung saat ia mencapai puncak nirwana.</p>
<p>&#8220;Ooooh enak tolooooong ampuuuuuun,&#8221; biji mata Mufidah mendelik ia berkelonjotan saat semburan lahar panas Hendri dengan derasnya menyemprot dasar rahimnya, dan batang penis besar itu berkedut-kedut di dinding vaginanya.</p>
<p>Selama 6 tahun perkawinannya dengan mas Syamsul baru ini ia merasakan begitu nikmatnya semburan air mani lelaki hingga tubuhnya bergetar bagai kena aliran listrik ribuan watt dan sukmanya serasa terbang melambung ke awang-awang.</p>
<p>Hingga kini hubungan mereka telah berjalan 1 tahun tanpa diketahui oleh suaminya, karena mereka pintar memanfaatkan waktu serta merahasiakannya, kadang bila ada kesempatan mereka melakukan di hotel dan yang lebih berani lagi saat suaminya ada dirumah. Hendri pura-pura berkunjung untuk bermain catur dengan suaminya, saat itu juga isterinya menyediakan minuman kopi buat suaminya dengan dibubuhi obat tidur yang sengaja dibawa Hendri, sehingga sewaktu suaminya bermain catur dengan Hendri, Syamsul tidak tahan lama karena mengantuk berat lalu masuk kedalam kamar. Mufidah berpura-pura ikut tidur juga disamping suaminya agar suaminya tidak curiga dan ia katakan bahwa Hendri ingin menginap dirumahnya dan tidur di sofa ruang tamu.</p>
<p>Pada saat suaminya telah tertidur pulas bagaikan orang mati, Mufidah disetubuhi oleh Hendri disamping suaminya, Mufidah berpacu dalam birahi hingga ia meringkik nikmat dengan tubuh berkelojotan disamping tubuh suami yang tertidur pulas, bahkan perbuatan yang demikian itu membuat sensasi aneh tersendiri bagi mereka berdua. Persetubuhan itu mereka lakukan hingga menjelang subuh.</p>
<p>Ada sesuatu yang lebih membuat Mufidah amat terangsang nafsunya bila saat Hendri sekali-kali datang berkunjung kerumahnya, dengan berpura minta diajarkan computer sama Hendri sementara suaminya duduk diruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi, hanya dengan jarak beberapa meter, disitu ibu muda itu sedang belajar computer bersama Hendri, Mufidah merasa sangat terangsang hebat saat dengan sengaja Hendri menggesek-gesekan batang penisnya yang menegang dari balik celana training ke lengan Mufidah yang sedang mengetik didepan monitor. Gesekan itu membuat sensasi aneh dalam dirinya ketika merasakan batang penis Hendri serasa mengeras dan tegang dipangkal lengannya, dan terkadang pula ia rasakan batang penis besar itu berdenyut-denyut dipinggangnya saat dengan sengaja Hendri pindah membelakangi tubuhnya.</p>
<p>Suaminya tidak merasa curiga sedikitpun karena Syamsul tahu bahwa isterinya sedang diberi pelajaran tentang mengakses computer, ia tidak menyadari bahwa isterinya sedang dirangsang oleh Hendri habis-habisan. Tubuh Mufidah mulai menggeletar penuh nafsu dengan aksi yang dilakukan Hendri padanya. Karena sudah tak tahan lagi Mufidah pergi keruang dapur membuat minuman dan Hendri pergi menuju toilet namun sesungguhnya Hendri ikut pula menyusul isteri sahabatnya kearah dapur, dari balik lemari makan yang besar itu mereka melakukan persetubuhan dengan berdiri dengan amat tergesa-gesa saat sang suami wanita itu sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Syamsul tidak menyadari bahwa isterinya sedang disetubuhi habis-habisan oleh Hendri dengan posisi berdiri.</p>
<p>&#8220;Ooooh Hendri mmmmfff&#8230; ampun dik Hen&#8221;, dengan buas Hendri mengayunkan pantat maju mundur menusukkan penis besarnya kedalam vagina ibu muda itu, sukma wanita cantik itu serasa terbang ke langit tinggi saat ia disetubuhi dengan cara demikian itu oleh Hendri sahabat suaminya, Mufidah belum pernah merasakan disetubuhi dengan cara berdiri dan tergesa-gesa, dan ini yang membuat suatu kenikmatan tersendiri buat Mufidah saat ia digarap oleh Hendri sementara sang suami berada tak jauh darinya.</p>
<p>&#8220;Oooooh Hendri mbak keluaaar oh ampun dik, cepat dik Hendri nanti ketahuan suamiku,&#8221; namun Hendri tidak menghiraukannya, dengan perkasanya Hendri memacu kuda betinanya yang cantik ini sampai berkelojotan dengan biji mata mendelik keatas menikmati kocokan batang penis besar itu dalam vaginanya yang sempit.</p>
<p>&#8220;Oooooh yeah memek mbak sempit legit, enaak rasanya, aku akan lebih bergairah lagi bila aku dapat ngentot mbak bila disaksikan mas Syamsul.&#8221;</p>
<p>Hendri semakin terbuai sensasi saat ia dengan buasnya menyetubuhi isteri sahabatnya padahal Syamsul tak begitu jauh jaraknya dari tempat mereka bersetubuh. Dan dengan menggeram nikmat Hendri menyemprotkan air maninya ke dalam vagina ibu muda itu, Mufidah mengejang dan mengerang bagaikan kucing betina yang mengeong lirih saat semburan lahar panas Hendri menerpa dasar rahimnya, tubuhnya bergetar dengan hebat dengan nafas serasa akan putus ketika batang kejantanan Hendri yang besar panjang berkedut-kedut diliang memeknya.</p>
<p>&#8220;Ooooohhh mmmmffff&#8230; enaaaaaaaaaaak, ampuuuuuun dik, kontolmu enak dan besar.&#8221;</p>
<p>Dan persetubuhan itu berakhir dengan sama-sama mencapai puncak nirwana yang diraih dengan cara tergesa-gesa penuh rasa sensasi. Dan akhirnya mereka berdua kembali keruang keluarga tanpa menimbulkan kecurigaan mas Syamsul. Sebelum keluar dari dapur Hendri sempat berbisik ke telinga ibu muda itu.</p>
<p>&#8220;Lain waktu aku akan ngentotin mbak lagi ya,&#8221; seraya tangan Hendri meremas-remas susu mengkal wanita cantik berdarah ningrat itu.</p>
<p>Ketika Syamsul ditugaskan oleh atasannya untuk mengelola perkebunan di Sumatera, Mufidah terpaksa ikut dengan suaminya dan anak-anak mereka dititipkan pada neneknya di Jogyakarta karena kedua anaknya harus tetap bersekolah. Dan ditempat pindah mereka yang baru itu adalah sebuah pulau kecil dimana penduduknya masih terbelakang pola pikirnya. Ditempat tugas barunya Syamsul mendapatkan sebuah rumah perkebunan yang lengkap dengan segala fasilitasnya. Mufidah merasa sangat senang menempati rumah itu, dengan suasana alam pedesaan, disini Mufidah bisa menghindar dari Hendri. Setelah tiga bulan berada di pulau terpencil itu, kehidupan rumah tangga Mufidah masih berjalan seperti biasanya hingga suatu hari Mas Syamsul menawarkan pada Mufidah seorang tukang kebun untuk merawat pekarangan rumah dinas yang ditempatinya dan sekalian sebagai penjaga rumah.</p>
<p>Pak Renggo adalah seorang lelaki yang berusia 65 tahun namun tubuhnya masih nampak kekar dan berkulit hitam dengan rambutnya yang telah memutih. Pak Renggo adalah seorang lelaki pekerja keras ia hanya memiliki sebidang tanah yang selalu digarapnya sendiri dan ditanami sayur mayur untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Isteri pak Renggo telah tujuh tahun meninggal dunia kini ia hidup sendiri tanpa mempunyai anak. Ketika ia ditawari Syamsul untuk bekerja dirumah dinas perkebunan, pak Renggo dengan sangat senang hati menerimanya, apalagi pak Renggo diberi sebuah kamar dibelakang rumah dinas itu. Wajah lelaki tua itu nampak sangar mengerikan dalam pandangan Mufidah ketika pertama kali diperkenalkan oleh suaminya, namun lama kelamaan Mufidah sudah terbiasa berhadapan dengan pak Renggo yang berwajah jelek dan menyeramkan itu, apalagi pak Renggo orangnya sangat rajin membersihkan pekarangan rumah dan terkadang sering membantu Mufidah menanam bunga hingga rasa ketakutan Mufidah pada pak Renggo hilang dengan sendirinya karena sering bertemu setiap waktu.</p>
<p>Mufidah tak menyadari ketika seringnya mata pak Renggo melirik buah dadanya saat ia berjongkok menggemburkan tanah tanaman bunga, buah dada Mufidah sangat menggiurkan bergelayut indah hingga membuat pak Renggo bergairah dan ingin meremas buah dada Mufidah yang mengkal itu. Namun pak Renggo tidak berani berbuat macam-macam pada isteri pak Syamsul yang telah berbaik hati memberinya pekerjaan meskipun sebagai tukang kebun. Mufidah yang telah lama tidak merasakan hangatnya batang penis lelaki jantan seperti punya Hendri kini Mufidah sangat merindukan kehangatan itu.</p>
<p>Suaminya mas Syamsul tak mampu bercinta dan cepat berejakulasi hingga membuat Mufidah frustrasi dan kecewa selalu. Disuatu senja Mufidah melihat pak Renggo seketika Mufidah langsung terkesima saat melihat pak Renggo kencing dibalik pohon nangka sedang memegang penisnya yang tergantung panjang dan besar seperti pisang tanduk. Mufidah mengintip dari balik kaca hitam jendela rumahnya, dengan tubuh menggeletar Mufidah memandang batang kejantanan pak Renggo yang berwajah sangar itu namun alat kelaminnya sungguh membuat Mufidah jadi menggelegak nafsu birahinya.</p>
<p>Mufidah tidak ingat lagi status sosialnya yang berdarah ningrat dan sebagai seorang isteri sah mas Syamsul, saat itu yang terbayang dalam pikirannya betapa nikmatnya penis besar panjang itu bila mengaduk-aduk dalam vaginanya. Pengalaman Mufidah saat disetubuhi oleh lelaki yang punya penis besar telah membangkitkan libidonya yang tertidur. Setelah selesai kencing, pak Renggo mengeringkan sisa air seninya dengan cara menggoyang-goyangkan penisnya.</p>
<p>Meskipun penis itu dalam keadaan lemas namun begitu panjang dan besar sekali. Mufidah lalu membayangkan bagaimana bila penis itu dalam keadaan ereksi. Pak Renggo memang dengan sengaja melakukan itu karena bagaimana pun juga pak Renggo telah mengetahui bahwa ibu muda itu sedang terbelalak matanya melihat penisnya dari balik jendela berkaca hitam, pak Renggo sudah tahu kebiasaan Mufidah yang sering duduk menghadap jendela setiap sore hari sambil menghirup secangkir teh manis hangat. Maka dengan disengajanya lagi pak Renggo mengelus-ngelus batang kejantanannya yang berurat hingga ereksi seperti tongkat hitam, hanya itu yang bisa dilakukan oleh pak Renggo untuk memancing gairah ibu muda yang cantik isterinya pak Syamsul, adapun untuk berbuat selanjutnya pak Renggo tidak berani macam-macam. Mata Mufidah terbelalak lebar ketika melihat penis pak Renggo kian menegang dan besar dari balik jendela. Pak Renggo terus mengocok-ngocok penisnya disamping pohon nangka, dan terlihat wajah pak Renggo meringis nikmat sambil mengkhayalkan sedang menyetubuhi Mufidah, semakin lama semakin cepat kocokan pada penisnya, dan pak Renggo mengerang nikmat saat batang hitamnya menyemburkan lahar panas dan air mani pak Renggo seakan menyemprot ke jendela tempat dimana Mufidah terpaku menyaksikan pak Renggo beronani, karena jarak pohon nangka tempat pak Renggo beronani hanya berjarak dua meter dari jendela tempat Mufidah menyaksikan aksi gilanya pak Renggo.</p>
<p>Tubuh Mufidahpun ikut menggeletar saat melihat semprotan air mani pak Renggo begitu jauh jangkauannya seakan-akan menyembur ke wajahnya. Tuntas sudah hasratnya pak Renggo mempertontonkan onaninya, dan pak Renggo berpura-pura tidak tahu kalau ibu muda itu menyaksikan betapa dahsyatnya semburan air mani yang keluar dari penis beruratnya, lalu pak Renggo berjalan masuk ke dalam rumah dinas itu menuju kamar mandi.</p>
<p>Ketika saatnya makan malam tiba mas Syamsul mengajak pak Renggo untuk makan bersama, hidangan malam yang disediakan oleh Mufidah disantap habis oleh pak Renggo, dalam pikiran Mufidah bila seseorang dengan lahap menyantap makanannya hingga tuntas, lelaki tersebut pasti sangat lahap juga dalam bersetubuh. Malam itu Pak Renggo seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa dihadapan ibu muda itu, walaupun pak Renggo tahu bahwa Mufidah selalu memperhatikan gerak geriknya disaat mereka bertiga makan bersama.</p>
<p>Walaupun pak Renggo hanya bercelana komprang hitam namun Mufidah sangat tahu dibalik celana lebarnya tersembunyi batang penis panjang berurat yang tergantung sebesar pisang tanduk. Malam itu Mufidah gelisah saat berada ditempat tidur, disampingnya sang suami sudah tertidur pulas, Mufidah kemudian beranjak bangun keruang dapur untuk menghilangkan hausnya dan setibanya Mufidah didapur ia dikejutkan oleh suara pak Renggo yang menyapa ramah.</p>
<p>&#8220;Belum tidur ya.. bu!,&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh ya pak Renggo, saya haus nih dan mau minum, saya susah tidur malam ini pak Renggo, gak tau tuh kenapa malam ini saya sulit sekali tidur,&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh mungkin ibu banyak pikiran barang kali&#8221;, kata pak Renggo, &#8220;Atau ibu masuk angin dan gak enak badan jadi susah tidurnya.&#8221;</p>
<p>Lalu Mufidah ikut duduk disebuah bangku plastic yang tanpa sandaran, yang kemudian Mufidah terus menanggapi ucapannya pak Renggo sambil bercerita ngalor ngidul.</p>
<p>&#8220;Ya pak mungkin saya masuk angin nih&#8221; dan tanpa disuruh oleh Mufidah pak Renggo telah berdiri dibelakang Mufidah seraya berbisik ditelinga ibu muda itu.</p>
<p>&#8220;Ibu saya pijati ya biar hilang masuk anginnya&#8221; sambil tangan pak Renggo mulai memijati dengan lembut pundak Mufidah.</p>
<p>Mufidah lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk dipijati oleh pak Renggo. Tangan kekar pak Renggo serasa hangat dan geli dirasakan oleh Mufidah ketika menyentuh kulit halusnya, pijatan pak Renggo merambat naik ke leher jenjangnya dan dengan lembut pak Renggo memijat dengan jari-jarinya yang kasar pada tengkuk Mufidah, pijatan pak Renggo serasa nikmat dirasakan oleh Mufidah dan pada saat yang bersamaan sesuatu yang mengeras dan hangat menyentuh kulit punggung Mufidah dari balik baju tidurnya, pak Renggo tak hanya memijat pundak dan lehernya Mufidah akan tetapi juga pak Renggo menggesek-gesekan batang penisnya yang mulai menegang dari balik celana komprangnya pada punggung Mufidah.</p>
<p>Perempuan itu mulai dijalari sensasi birahi dan tubuhnya menggeletar seketika saat tangan kekar pak Renggo turun menelusuri memijat kedua lengannya, entah disengaja atau tidak jari kasar pak Renggo menyenggol kedua payudaranya yang ranum itu, dan dengan batang kejantanan pak Renggo yang kian menegang yang semakin menekan punggungnya serasa mengalirkan arus hangat penuh rangsangan.</p>
<p>Mufidah semakin mendesah ketika dengan tiba-tiba pak Renggo menciumi leher jenjangnya sambil berbisik ditelinga Mufidah.</p>
<p>&#8220;Ibu ingin merasakan hangatnya kejantananku? Ayo bu, bilang aja jangan malu-malu, saya tau ibu sangat menginginkannya malam ini dan saya tahu pak Syamsul tidak pernah memuaskan hasrat ibu&#8221;,</p>
<p>&#8220;Agggh&#8230;&#8221;</p>
<p>Mufidah bagai terhipnotis dengan ucapan lelaki tua itu, dan tubuh mulus isteri pak Syamsul sudah dalam keadaan telanjang ketika pak Renggo membopongnya masuk kedalam kamar yang sempit pak Renggo, Mufidah sudah sangat pasrah dalam cengkraman pak Renggo sebab didera nafsu birahi tinggi, meski pak Renggo telah berusia lanjut namun cara ia membuai kepekaan gairah kewanitaannya bisa diacungkan jempol hingga membuat Mufidah terbuai memasuki pusaran badai nafsu lelaki tua itu. Sekujur tubuh Mufidah habis dijilati dengan lidah kasar pak Renggo, dan buah dadanya tak luput dari sasaran mulut pak Renggo kemudian lelaki tua itu menghisap rakus putting susunya yang kian menegang, Mufidah mengerang bagai anak kucing ketika vaginanya dijilati oleh pak Renggo dan klitorisnya diemut emut gemas oleh lelaki tua itu, tubuh sintal Mufidah yang berdarah ningrat kian mengejang, tubuhnya melengkung keatas didera nikmat saat pak Renggo menggigit lembut klitorisnya.</p>
<p>&#8220;Aaaagggh Oooh ampuuuun pak Renggo&#8221;, Mufidah berkelojotan ketika jilatan serta gigitan gemas pak Renggo pada vaginanya membuat Mufidah orgasme seketika, malam itu erangan nikmat Mufidah memenuhi ruang kamar yang sempit sesempit vaginanya yang diobok-obok pak Renggo.</p>
<p>Ibu muda yang cantik beranak dua itu tak menghiraukan lagi keadaan sekitarnya, tak peduli bahwa suaminya sedang berada dirumah, kenikmatan itu telah membuat Mufidah jadi meracau tak karuan.</p>
<p>&#8220;Ooooooh pak Renggo setubuhilah aku sesukamu, cepat pak. Kapan saja kalau bapak mau saya selalu bersedia disetubuhi.&#8221;</p>
<p>Pak Renggo yang si tukang kebun telah membuat nyonya majikannya mengerang manja minta disetubuhi dengan permainan awalnya, sudah lama pak Renggo merindukan untuk dapat menyetubuhi perempuan cantik berdarah ningrat ini, namun baru malam itu pak Renggo dapat menyentuh kulit halus isteri pak Syamsul. Ketika mencapai puncak birahinya tiada lagi nampak watak darah birunya, yang ada hanya darah merah yang memacu jantungnya untuk mencapai klimaks nafsu birahi. Pak Renggo merenggangkan kaki indah Mufidah sambil dijilati telapak kakinya, tubuh Mufidah kian bergetar ketika jilatan lidah kasar pak Renggo pada telapak kakinya bagaikan arus aliran listrik yang menggelitik kepekaan simpul syarafnya, memek Mufidah nampak merah merekah dengan cairan bening yang telah meleleh keluar dari vagina saat otgasme, dan pemandangan lembah kenikmatan yang berumput subur itu membuat gairah nafsu pak Renggo menggelegak, penis beruratnya kian menegang dan Mufidah memejamkan matanya ketika batang hitam besar itu mulai menyentuh bibir vaginanya, Mufidah mengerang ketika pak Renggo mulai memasuki penisnya dengan perlahan.</p>
<p>&#8220;Oooooh pak besarnya, sakiiiiiit pak. Pelan-pelan pak. Agggh&#8230; Ampuuun&#8221;</p>
<p>&#8220;Sakitnya cuma sebentar koq bu, ibu saya entot ya? Ibu ikhlaskan kalau ibu saya setubuhi? Ibu bisa membedakan rasanya jika dientot sama saya, ibu suka dengan kontol besar ini?&#8221;, dan kata-kata kotor pak Renggo kian membuat nafsu birahi Mufidah memuncak, kata-kata itu seakan menghipnotis jiwanya yang akhirnya batang besar panjang pak Renggo semakin masuk kedalam liang vagina Mufidah yang sempit itu.</p>
<p>Blesssss&#8230;</p>
<p>Pak Renggo mendiamkan penisnya sesaat agar Mufidah dapat meresapi nikmatnya kedutan penis besarnya dan beradaptasi. Tubuh Mufidah menggeletar ketika menerima hangatnya kejantanan pak Renggo, liang vaginanya serasa sesak seakan hendak pecah, dan rasa kenikmatan mulai menderanya ketika pak Renggo dengan perlahan menarik penis itu hingga yang tersisa kepala penis yang masih menempel dibibir vagina, lalu dengan menghentak deras disorongkan masuk kembali kedalam memek Mufidah dan itu dilakukan pak Renggo berulang-ulang kali hingga membuat biji mata Mufidah terbeliak keatas, seperti anjing yang sedang kawin Mufidah melolong histeris.</p>
<p>&#8220;Oooooh ampunnnn pak, enaaaak, setubuhi saya paaaak terus pak&#8221; ibu muda yang berjilbab bila berada diluar rumah kini mengerang nikmat saat vaginanya ditusuk dengan penis hitam besar.</p>
<p>Lelaki tua yang bernama Renggo itu telah membuat sukma Mufidah serasa terbang ke awang-awang dan tubuh keduanya telah bersimbah keringat birahi, dengan gagah perkasa pak Renggo memacu kuda betinanya yang cantik dalam dekapan dan hentakan batang kejantanannya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana Bu?. Enak ya rasa kontol besar panjang? He&#8230; heee&#8230; Ayo bu goyangin pantatnya dong. Rupanya ibu suka dientot sama penis besar ya?&#8221;. Dan kata-kata kotor pak Renggo membuat Mufidah semakin terangsang, kata kotor yang penuh sensasi itu dibisikan pak Renggo pada telinganya berulang-ulang sambil tetap mengayunkan pantatnya naik turun, gerakan hentakan penis pak Renggo mulai tak teratur lagi karena ikut didera nafsu birahi saat menyetubuhi wanita bertubuh sintal itu.</p>
<p>Mufidah pun dapat membedakan rasa kenikmatan yang didapat dari pak Renggo dengan sewaktu Mufidah disetubuhi oleh suaminya belum pernah ia merasakan desakan nafsu begitu sangat memuncaknya sampai ke ubun-ubun, permainan seks pak Renggo telah membuat Mufidah orgasme berkali-kali.</p>
<p>&#8220;Ouuugh bu. Memek ibu sungguh legit. Enak rasanya. Ssssaya mauuu keluar juga bu. Di dalam apa diluar nih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oooooh pak. Aaaampuuuun enaaaaknya di dalam saja, semburkan cepaaaat di dalam pejuhnya paaaaak, Aaaaghhh ampuuuun&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ibu mau kalau saya hamili?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Aaaaghhhh&#8230; Ya yaaa pak hamili saja saya pak Renggo&#8221;. Akal pikiran Mufidah telah buntu karena didera oleh kenikmatan dari semburan lahar panas lelaki itu, hingga tanpa sadar Mufidah meracau tak karuan.</p>
<p>Air mani pak Renggo yang menyembur sangat deras itu menyentuh dasar rahimnya sehingga membuat Mufidah berkelojotan dengan tubuh melengkung naik keatas mengangkat tubuh pak Renggo yang menindihnya. Penis berurat pak Renggo semakin dalam menusuk vagina Mufidah sampai mentok didasarnya. Pak Renggo mengaum bagaikan harimau luka, penisnya serasa disedot oleh cengkraman denyut memek Mufidah yang menggigit lembut.</p>
<p>&#8220;Ooooh memek ibu enaaaaak teunaaaan&#8221;.</p>
<p>Dan tubuh keduanya melekat jadi satu dengan deru nafas saling memburu keduanya mencapai puncak birahi. Mufidah tak menyangka walau tinggal di pulau terpencil ini ia bisa menikmati kembali sempurnanya permainan seks meski dengan lelaki tua namun sangat perkasa diranjang. Dan penampilan Mufidah sehari-hari tetap seperti biasanya, dengan baju panjang dan berjilbab namun Mufidah sudah bukan Mufidah yang seperti dulu lagi. Wanita berdarah ningrat yang alim itu namun dibelakang suaminya Mufidah adalah sosok perempuan yang haus akan batang kejantanan lelaki perkasa. Akibat Mufidah telah diperkosa oleh sahabat suaminya membuat Mufidah merindukan selalu batang kejantanan lelaki perkasa untuk dapat memuaskan dahaganya, Mufidah kini mengalami kelainan seks dan ia akan merasa puas bila disetubuhi oleh lelaki yang berpenis besar serta panjang. Dan untuk memenuhi hasratnya Mufidah telah mendapatkan dari tukang kebunnya, dan peluang itu juga tidak disia-siakan oleh pak Renggo untuk mencicipi tubuh seksi perempuan yang berdarah ningrat untuk disetubuhi.</p>
<p>Bila mas Syamsul pergi kota untuk beberapa hari, kesempatan untuk menyetubuhi Mufidah semakin leluasa dilakukan, dan terkadang Mufidah merengek-rengek minta disetubuhi oleh pak Renggo meski sang suami masih berada dirumah, Mufidah sering menyelinap masuk kedalam kamarnya pak Renggo dalam keadaan telanjang, dikamar sempit itu makhluk yang berlainan jenis itu memacu birahi liar dan buah dada Mufidah yang montok indah akan selalu menjadi sasaran mulut pak Renggo untuk menyusu pada ibu muda itu. Erangan nikmat Mufidah serta goyangan erotisnya ketika disetubuhi pak Renggo menjadi obat perangsang birahi buat lelaki tua itu untuk selalu menghempaskan Mufidah kepusaran badai kenikmatannya.</p>
<p>Jadilah Mufidah budak nafsunya pak Renggo dan pak Renggo selalu membuat tuntas nafsu birahi Mufidah hingga Mufidah dibuat mengerang&#8230; mengejang&#8230;</p>
<p>Ketika dengan liar Mufidah bergoyang erotis diatas tubuh kekar pak Renggo, sambil meremas-remas payudara Mufidah, mata pak Renggo merem melek menikmati goyangan pinggul Mufidah dengan vaginanya yang penuh disesaki oleh penis beruratnya. Mufidah bagaikan penari jalang saat menghentakan pinggulnya naik turun dengan kedua tangannya bertumpu di dada bidang pak Renggo.</p>
<p>&#8220;Oooooh yeeeeah&#8221; tubuh ibu muda itu meliuk-liuk bagai penari jalang,</p>
<p>&#8220;Aaaggggh&#8230; Ouuuuuph&#8230; paaaak&#8230; kontolnya sampai mentoooook, enak paaaak&#8221;.</p>
<p>Tubuh Mufidah berkilau indah bermandikan keringat birahi ketika berada diatas tubuh kekar yang dikangkanginya. Mufidah dengan bersemangat memacu kuda jantannya untuk mencapai puncak kenikmatan yang hendak diraihnya, ayunan vaginanya yang naik turun semakin liar membenam pada penis berurat pak Renggo dan memek Mufidah semakin basah oleh lendir pelicin yang mengalir dari liang vagina. Dengan kepala mendongak keatas dan biji mata membelalak Mufidah terus dan terus memacu diatas tubuh kekar lelaki tua tukang kebunnya. Pak Renggo memberikan kesempatan pada ibu muda itu untuk meraih sendiri kenikmatan nafsu birahi, tangan kekar pak Renggo tidak tinggal diam, dengan kasar diremasnya pantat bahenol Mufidah hingga Mufidah mengerang menahan sakit bercampur nikmat, remasan kasar disertai hentakan dari penis yang menusuk keatas kian liar.</p>
<p>Ketika Mufidah akan mencapai pada puncak birahinya, lalu disambarnya bibir pak Renggo dan Mufidah melumat gemas dengan bibir sensualnya sambil terus mengayunkan pantatnya naik turun. Tubuh keduanya melekat jadi satu bersimbah keringat birahi tinggi.</p>
<p>&#8220;Ooooouuh, ammmpun.. enaaak&#8221;, dan tubuh Mufidah berkejat-kejat diatas tubuh pak Renggo saat ia mendapatkan orgasmenya yang sempurna.</p>
<p>Mufidah memeluk erat tubuh kekar lelaki tua itu hingga kedua payudaranya melekat di dada berotot pak Renggo. Dan kini perempuan cantik berdarah ningrat itu ditindih gantian lagi oleh pak Renggo dan dengan buasnya pak Renggo menyetubuhi ibu muda itu sampai tubuhnya berkelojotan mendapatkan orgasmenya kembali, pak Renggo belum merasa puas kalau belum bisa membuat Mufidah mengerang histeris saat ia setubuhi, lalu ditengkurapkan tubuh Mufidah dengan posisi menungging dan dengan keras dihujamkan penis beruratnya ke dalam vagina yang sempit itu, tubuh Mufidah bergetar hebat saat Penis pak Renggo amblas masuk ke dalam liang memeknya yang telah becek, sambil meremas payudara indah Mufidah pak Renggo mengayunkan penisnya maju mundur dengan ganas dan liar, dengan geramnya kulit punggung Mufidah yang halus itu digigit oleh pak Renggo, rasa sakit bercampur dengan nikmat membuat tubuh Mufidah mengejang mengerang histeris.</p>
<p>&#8220;Aaammmpuuuuuun pak.. Ooooh terus pak.. entotin saya yang kuat paaaaak&#8221;.</p>
<p>Batang penis besar itu seakan merobek liang vagina Mufidah dan kedutan penis yang keras itu membuat dinding vaginanya secara elastis ikut berdenyut meremas-remas kontol pak Renggo.</p>
<p>&#8220;Ouuuuh.. Aggghh..&#8221;</p>
<p>Pak Renggo dibuat mengerang oleh cengkraman vagina Mufidah yang berdenyut-denyut, lelaki tua itu masih tetap mempertahankan ejakulasinya agar jangan meledakan lahar hangat dipertengahan permainan liarnya saat memacu kuda betina yang sedang meringkik nikmat menuju garis finish. Rambut panjang Mufidah dibuat bagaikan tali kekang dan hentakan penis pak Renggo terkadang cepat terkadang perlahan. Saat ayunan penis pak Renggo dibuat perlahan dan lembut Mufidah mengerang, mengejang dan meracau.</p>
<p>&#8220;Ooooh&#8230; enak&#8230; enaaaak pak, terus paaaak saya suka dientot sama kontol besaaaaaar paaaaak&#8221;</p>
<p>Dan pantat Mufidah bergoyang erotis mengikuti irama ayunan hujaman penis pak Renggo, tubuhnya menggeletar dan rasa sakit rambutnya yang dijambak oleh pak Renggo bercampur dengan rasa nikmat. Wajah Mufidah menengadah ke langit-langit kamar dengan kedua matanya terpejam, menikmati gesekan penis pak Renggo bagaikan gelombang disamudera.</p>
<p>&#8220;Ayooo bu goyang terus!&#8230;. Ayo sayangku yang binal goyang terus, teruuuus,&#8221;</p>
<p>Dan buah pantat Mufidah dipukuli oleh telapak tangan kasar pak Renggo, rasa sakit bercampur nikmat itu membuat gairah Mufidah semakin menggebu bagai orang kesurupan Mufidah menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama tusukan penis pak Renggo. Tangan kekar pak Renggo tak pernah diam dan dengan gemas diremasnya kedua payudara Mufidah dengan kasar serta ayunan penisnya semakin liar dan cepat, dengan nafas memburu pak Renggo menghujamkan penis besarnya keluar masuk. Mufidah mengerang histeris bagai orang gila, tubuh Mufidah ikut berguncang-guncang akibat hentakan penis pak Renggo yang menyetubuhinya dari arah belakang.</p>
<p>&#8220;Aaaaaapuuuuuun pak&#8230; Oooooh&#8230;&#8221;.</p>
<p>Mufidah melolong panjang dengan tubuh berkelojotan, sambil mendekap dan meremas payudara Mufidah. Lalu pak Renggo membisikan sesuatu pada ibu muda itu.</p>
<p>&#8220;Ibu suka ya kalau saya entotin?. Ayoo bilang bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaaaa paak&#8230; teruuuus&#8230; enaaak pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Nah&#8230; artinya ibu sudah jadi isteri yang jalang yang suka kontol. Ayoo jawab&#8230; manisku.&#8221; Karena didera oleh rasa akan mencapai puncak kenikmatan, Mufidah menjawab sambil merengek.</p>
<p>&#8220;Oooooh pak&#8230; terus pak&#8230; setubuhi saya sesukamu. Aaaaah Ouuuuhggg&#8230; saya suka dientot sama bapak&#8221;.</p>
<p>Tiba-tiba dengan kuat dan kasar pak Renggo menghujamkan penis besarnya kembali hingga membuat Mufidah menjerit histeris.</p>
<p>&#8220;Ouuuuggh&#8230; Ampuuuuuuun saya sampai paaaak&#8230; enaaaaak pak&#8230; teruuuuus pak entot yang kuat&#8221;.</p>
<p>Dan tubuh Mufidah menggelosor ambruk ketempat tidur, sementara penis besar pak Renggo masih mengobok-obok didalam vaginanya hingga menyentuh dasar rahimnya, sukma Mufidah serasa terbang ke awang-awang dengan biji mata mendelik dan tubuh berkelojotan Mufidah meresapi.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1232&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/gairah-cinta-seorang-wanita-berjilbab-kader-partai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khususceritadewasa.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Model PornO</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/model-porno/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/model-porno/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 07:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1221</guid>
		<description><![CDATA[Saya adalah seorang model sebuah majalah porno di Singapore. Yah, seperti yang kedengarannya, bekerja di majalah porno sebagai model tidak membutuhkan baju yang bagus dan make-up yang tebal. Yang penting adalah menjaga tubuh agar tetap seksi juga perawatan wajah. Aku tidak perlu ke Singapore untuk difoto, karena di Jakarta juga terdapat studio foto untuk mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1221&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saya adalah seorang model sebuah majalah porno di Singapore. Yah, seperti yang kedengarannya, bekerja di majalah porno sebagai model tidak membutuhkan baju yang bagus dan make-up yang tebal. Yang penting adalah menjaga tubuh agar tetap seksi juga perawatan wajah. Aku tidak perlu ke Singapore untuk difoto, karena di Jakarta juga terdapat studio foto untuk mengambil gambar model-model dari Indonesia yang kemudian dikirimkan dan diterbitkan di Singapore.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1221"></span>Mungkin anda heran, bagaimana saya dapat terjun dalam dunia seperti itu. Baiklah, akan saya ceritakan masa lalu saya. Pada saat usia saya menginjak 16 tahun, kedua orangtua saya meninggal dalam kecelakaan. Saya sangat terpukul dengan kejadian itu. Pada saat itu saya sangat bingung dengan keadaan ini, karena saya tidak tahu harus kemana. Saya tidak punya keluarga lain selain keluarga saya sendiri, sementara saya adalah anak tunggal.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun tidak lama kemudian, teman bisnis ayah saya, anggap namanya Pak Mori, berusia sekitar 50 tahun, datang menawarkan saya untuk tinggal di apartemennya dan beliau berjanji akan membiayai sekolah saya sampai saya lulus SMA. Dalam keadaan bingung, akhirnya saya menerima tawaran beliau. Saya lalu tinggal di apartemen beliau, hanya berdua dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa bulan kemudian saya tinggal dengannya, tiba-tiba pada suatu malam, Pak Mori masuk ke dalam kamar saya. Saat itu saya baru saja masuk kamar dan belum sempat menguncinya. Saya kaget karena beliau tidak mengetuk kamar saya dulu, dan pada saat itu saya hanya mengenakan daster kuning polos yang tipis. Di dalamnya saya tidak mengenakan BH dan hanya mengenakan CD saja. Sejenak Pak Mori terkesiap melihat saya, namun beliau kemudian mendekati saya. Spontan saya memeluk bantal untuk menutupi dada saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Mori lalu berkata kepada saya, &#8220;Sally, tolong Bapak, Nak, istri Bapak sudah lama meninggal, Bapak sudah lama tidak dilayani. Bapak tidak minta macam-macam. Bapak hanya minta agar Sally bersedia melayani Bapak.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya terlihat sayu dengan keringat di dahinya. Saya tidak tega melihatnya. Saya pikir beliau telah baik mau membiayai sekolah saya. Lagipula keperawanan saya telah hilang sejak saya masih kecil ketika jatuh dari sepeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Mori terus memandang dan menunggu jawaban saya, sedangkan saya tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Pak Mori meraih bantal yang saya peluk untuk menutupi dada saya dan meletakkannya di tempat tidur. Kemudian beliau diam dan memandang saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat saya diam, beliau lalu berkata, &#8220;Kalau Nak Sally diam, Bapak rasa jawaban Sally ‘iya’.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau masih memandangi saya. Tiba-tiba beliau meraih dan memeluk tubuh saya dan mengusap-usap punggung saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Terima kasih, Nak.&#8221; beliau berkata sambil menatap hangat pada saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu beliau mulai menciumi kening saya dan kedua pipi. Lalu menjulurkan lidah sambil mencium telinga dan bibir saya. Kubalas ciumannya, lidahnya bermain liar di dalam mulut saya, begitupun saya. Tangannya yang dari tadi memeluk punggung saya mulai turun mengelus-elus pantat dan meremasnya. Kemudian kepalanya turun ke leher saya, menciumi dada saya yang masih tertutup daster kuning. Saya mulai terangsang. Apalagi ketika mulutnya berhenti di puting saya yang hanya ditutupi daster kuning polos yang tipis itu. Beliau mengulum dan menggigit puting saya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uuh&#8230; aahh&#8230; Pak&#8230; Uh..!&#8221; saya sudah tidak kuat lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Geli rasanya dada ini dipermainkan seperti itu oleh Pak Mori. Spontan saya membuka 4 kancing daster yang terletak di depan itu, dan terlihatlah kedua bukit kembar saya yang montok itu, berukuran 36B dengan puting berwarna pink gelap dan mencuat menantang ke wajah Pak Mori. Beliau langsung melumatnya, menggigit kecil, kemudian memasukkan semua ke dalam mulutnya. Ternyata mulut Pak Mori lebar juga, buktinya bukit dada saya yang 36B masuk semua ke dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aduuh&#8230; Pak, geli ah&#8230; enaa..gh..!&#8221; saya meraung-raung keenakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Mori menurunkan daster terus ke bawah dan sambil menciumi perut saya yang rata karena sering sit-up itu. Tangan kirinya bergerak menurunkan daster, dan tangan kanannya mengelus-elus pantat dan paha saya yang mulus. Setelah daster turun semua, tangan kirinya mengangkat kaki kanan saya dan melipatnya ke atas tempat tidur. Lalu beliau berjongkok dan tangan kirinya membuka sebagian kain CD yang menutupi bukit kemaluan saya. Seketika itu langsung terlihatlah bukit kemaluan saya yang bulu-bulunya sedikit itu, sehingga beliau tidak perlu susah-susah menjilati kelentit saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohh&#8230; Pak&#8230; enaakkk..!&#8221; kata saya sambil memegangi kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak perduli lagi siapa dia. Pak Mori terus menjilati kelentit saya dan memasukkan satu jari tangan kanannya ke dalam vagina, dan menggerakkannya keluar masuk. Saya betul-betul keenakkan. Saya menggerakkan pantat turun naik mengikuti gerakan jarinya itu. Tiba-tiba sesuatu meledak dalam diri saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aaa.. gh&#8230; aku mau kelua&#8230; ar..!&#8221; air kenikmatan saya membasahi jari dan mulutnya. Beliau menghisapnya habis.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian yang tidak disangka, beliau merobek sebagian kain celana dalam saya yang menutupi bukit kemaluan saya dan kemudian membuka CD-nya. Terlihatlah senjatanya yang besar ditumbuhi bulu-bulu yang sangat tebal. Saya sudah tidak tahan lagi melihatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooh&#8230; masukkan, Pak, cepat Pak..!&#8221; kata saya sambil mengelus-elus bukit kemaluan saya yang telah basah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata Pak Mori pun sudah tidak kuat. Beliau langsung menghujamkan penisnya masuk ke dalam vagina saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aaah&#8230; sakiit..! Enaaggh..!&#8221; kata saya yang mulai merasa nyeri tapi sangat enak di bagian bawah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Mori menaik-turunkan penisnya dengan cepat. Ternyata melakukan sambil berdiri enak juga. Kedua tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Tangan saya pun tidak mau kalah dan meremas-remas kedua pantatnya. Tidak lama saya mendapat orgasme yang kedua, dan tidak lama kemudian beliau pun juga. Akhirnya kami tertidur berpelukan di tempat tidur.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokkan harinya, kami melakukannya lagi di kamar mandi. Kami masing-masing orgasme dua kali. Setelah itu saya pergi ke sekolah dan beliau pun pergi ke kantor.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu hidup saya berubah. Kami seperti selayaknya suami istri di dalam apartemen kami. Ternyata untuk orang seusianya, beliau masih sangat kuat melakukannya berjam-jam. Bahkan saya dilarangnya mengenakan baju bila di dalam apartemennya itu. Tapi saya selalu menggodanya dengan hanya mengenakan sehelai kain di tubuh. Misalnya, hari ini saya hanya memakai BH saja, sedangkan bagian tubuh yang lain polos mengoda. Lalu kemudian saya duduk di depannya dengan membuka lebar-lebar selangkangan, sehingga kemaluan saya menantang dirinya. Beliau selalu tidak tahan dan mengajak bermain lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Besok harinya saya hanya mengenakan CD saja yang berwarna hitam dan bahannya bolong-bolong, sehingga bulu kemaluan yang sedikit itu keluar dan klitoris yang berwarna pink itu juga terlihat bila saya mengangkang, sedangkan payudara saya bergelantungan dengan indahnya di dada. Bila seperti itu, beliau lalu memeluk dan menggendong saya ke tempat tidur sambil mulutnya mengulum payudara dan menarik-narik putingnya. Ini kami lakukan hampir tiap hari seperti selayaknya pengantin baru sampai saya lulus SMA. Namun Pak Mori ini seperti tidak pernah mati kekuatannya untuk melakukan hubungan seks dengan seorang gadis belia seperti saya, dan saya selalu dibuat puas olehnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari ketika saya baru selesai mandi, seperti biasa saya keluar dari kamar tanpa menggunakan busana, dan sambil mengeringkan rambut yang masih basah, saya pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa saya sadari, ternyata ada dua orang teman Pak Mori yang bertamu. Mereka berdua terlihat kaget melihat saya yang telanjang bulat itu. Begitu pun saya. Tapi rasa kaget saya tidak saya perlihatkan dan langsung saya pergi ke dapur cepat-cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam harinya ketika hendak tidur, Pak Mori berkata pada saya, &#8220;Sally, mau gak jadi model..?&#8221; tangannya mengelus-elus puting saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Model..? Model seperti di majalah-majalah itu..?&#8221; tanya saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yah, tapi ini berbeda. Begini, teman-teman Bapak yang tadi itu berasal dari Singapore. Yang satu namanya Pak Ramen, yang satu lagi Pak Davis. Pak Ramen sebenarnya orang Indonesia, tapi tinggal di Singapore. Beliau adalah editor majalahnya, sedangkan Pak Davis adalah direkturnya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jadi maksudnya majalah Singapore..?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yah begitu. Mereka berdua setelah melihatmu menjadi tertarik dan menawarimu menjadi model. Tapi kamu tidak perlu ke Singapore. Kamu cukup tinggal di Indonesia, karena studio fotonya ada di Indonesia.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tapi Sally malu, tadi Sally telanjang di depan mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Em.., begini Sally tidak perlu malu, karena.. eh&#8230; majalah mereka adalah majalah porno.. eh tapi itu terserah Sally, mereka hanya menawari karena tertarik dengan Sally. Kalau Sally tidak mau, itu juga tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengerti. Mereka telah melihat tubuh saya dan mereka tertarik. Saya bingung sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Honornya lumayan gede lho, Sal. Bapak tidak akan minta kok. Kalau Sally nanti mau, honornya tetap buat Sally, karena kan Sally yang bekerja. Makanya Bapak terserah Sally saja. Kalau mau dicoba saja.&#8221; lanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mulai tertarik.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sally harus datang kemana, Pak..?&#8221; beliau tersenyum dan memberitahu alamatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokkan harinya saya datang ke studio foto itu. Tempatnya seperti rumah biasa, cukup besar dengan pagar tinggi yang menutupi rumah tersebut. Seperti bukan kantor atau studio foto. Lalu saya masuk dan bertanya pada resepsionist hendak bertemu dengan Pak Davis. Seseorang mengantar saya ke kantor Pak Davis. Pak Davis terseyum menyambut saya. Ternyata beliau seorang pemuda berusia 30 tahunan. Tidak begitu ganteng tapi di tubuhnya yang putih ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Terlihat dari tangan dan dadanya yang bidang. Namun senyumnya terlihat menarik.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Selamat siang, Sally, silakan duduk..!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya duduk di depan mejanya. Ia pun duduk.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Singkat saja, jadi kamu tertarik..?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya, Pak.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jangan memanggilku Pak. Panggil aku Abang saja. Aku sebenarnya berasal dari Indonesia juga. Semua orang memanggilku Bang Davis.&#8221; saya tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oke, kita kembali ke pokok semula. Begini Sally, untuk menjadi model ada beberapa syarat. Yang pertama, kami harus mengedit tubuhmu dulu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mengedit tubuhku..?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yah, kami harus tahu bagaimana tubuhmu, apa kekurangannya dan kelebihannya. Kekurangannya akan ditutupi, kelebihannya akan ditonjolkan. Jadi nanti bila difoto akan baik jadinya. Mengerti..?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengangguk.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sekarang buka seluruh pakaianmu, aku akan memanggil editor kami, Bang Ramen.&#8221; Ia keluar dari ruangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya merasa kikuk. Tapi akhirnya saya buka baju satu persatu sampai tinggal BH dan CD. Tiba-tiba masuklah Bang Ramen dan Bang Davis.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lho, kok, CD dan BH-nya tidak dibuka..? Tidak perlu malu. Pekerjaanmu nanti tidak memerlukan baju. Kurasa, Pak Mori sudah menjelaskannya bukan..?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengangguk seperti orang bodoh. Lalu membuka CD dan BH saya. Saya memang tidak perlu malu, toh mereka pun sudah melihat saya telanjang bulat di apartemen Pak Mori.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah telanjang bulat, saya berdiri menantang. Mereka melihat saya tanpa berkedip. Saya tahu &#8216;adek-adek&#8217; mereka sudah berdiri melihat saya. Tiba-tiba saya merasa percaya diri. Ini merupakan permainan yang menyenangkan. Lagipula saya senang menggoda Pak Mori. Mengapa saya tidak bisa menggoda mereka juga? Saya lalu melepas jepitan rambut dan terurailah rambut saya yang sangat lebat dan indah. Saya berdiri menggoda di depan mereka sambil memainkan sedikit rambut saya di dalam mulut. Bang Ramen mulai mendekat. Ia mengelus tangan saya, lalu pipi. Lalu ia memutari tubuh saya dan mengelus punggung dan pantat saya. Lalu tangannya mulai memegang payudara saya yang 36B itu beserta puting yang mencuat ke depan itu. Lalu ia berjongkok dan mengelus paha dan membuka selangkangan saya. Lalu ia berdiri lagi, tiba-tiba ia mencium leher saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Saya mulai terangsang. Lalu tangan kirinya beralih ke selangkangan saya yang sudah mulai basah itu dan berhenti pada klitoris. Ia mengelus-elus klitoris saya. Tangan kanannya mengelus anus saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uuhh.. eehh.. ahh..!&#8221; tidak sengaja saya meraung-raung, tanpa saya sadari ternyata Bang Davis telah ikutan menghisap puting saya dan tangan kanannya memegang puting yang satu lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tangan kiri Bang Ramen dimasukkan ke dalam vagina saya dan bergerak keluar masuk. Kami melakukannya sambil berdiri seperti ketika pertama kali saya melakukannya dengan Pak Mori. Saya benar-benar terangsang.</p>
<p style="text-align:justify;">Bang Ramen mencium bibir saya dan memainkan lidahnya di mulut saya. Erangan saya tertahan di dalam mulutnya. Lalu Bang Ramen berjongkok dan mencium klitoris dan memainkan lidahnya di sana, namun jarinya masih bermain di vagina. Posisi Bang Ramen digantikan oleh Bang Davis yang mencium dan melumat-lumat bibir saya. Tiba-tiba saya merasa ada yang keluar. Walaupun erangan saya tertahan oleh bibir Bang Davis, tapi mereka tahu bahwa saya orgasme pertama kali dari getaran tubuh saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Bang Ramen membuka celananya, juga Bang Davis. Penis Bang Ramen sangat besar dan hitam. Bang Davis pun juga besar tapi putih. Masih dalam posisi berdiri, Bang Ramen memasukkan penisnya ke dalam anus saya. Rasanya sakit sekali. Saya mengerang kesakitan, namun tiba-tiba Bang Davis memasukkan penisnya ke vagina. Rintih saya berubah menjadi keenakan. Mereka berdua memainkan penis mereka keluar masuk anus dan vagina saya. Rasanya enak sekali disetubuhi dua pria sekaligus. Permainan kami cukup lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sudah orgasme tiga kali ketika mereka berdua orgasme untuk pertama kalinya. Akhirnya mereka mencabut penis mereka dan merebahkan tubuh mereka di bangku sofa. Sedangkan saya bersenderan pada tembok dan memejamkan mata. Saya merasa lemas sekali melayani dua pria sekaligus. Tiba-tiba Bang Davis memegang bahu saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kamu diterima, Sally..!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tadinya hampir marah karena untuk diterima saya harus melayani mereka berdua terlebih dahulu. Tapi ketika mengingat kenikmatan yang baru saja saya terima, saya dapat menahan amarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu hanya dengan mengenakan BH saja, saya dibawa Bang Ramen ke sebuah ruangan yang berisi semacam bar di situ. Di dalamnya terlihat banyak wanita yang tidak menggunakan baju sama sekali. Ruangan itu ternyata jadi satu dengan studio fotonya, sehingga model-model yang merasa haus dapat langsung memesan minum di situ. Saya disuruh duduk di bangku bar yang tinggi dan disuruh mengisi lembaran formulir dan lembaran kerjasama. Lalu Bang Ramen meninggalkan saya sendiri di situ.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya sedang mengisinya, seseorang mencolek saya dari belakang. Ketika saya menoleh, terlihat seorang pemuda memandang saya sambil tersenyum. Tanpa basa basi lagi, pemuda tadi mendekatkan wajahnya ke vagina saya dan menjilat klitoris saya. Saya kaget dan ingin menghindar. Tapi bangku bar yang tinggi yang membuat saya kesulitan menapakkan kaki saya ke lantai, sehingga membuat selangkangan saya yang tanpa CD itu terbuka lebar membuat saya kesusahan untuk turun. Pemuda itu tetap menjilati selangkangan saya. Vagina saya yang masih merasa geli akibat serangan Bang Ramen tadi akhirnya basah lagi dan saya mulai merasa keenakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak lama saya orgasme lagi di tempat duduk bar itu, sehingga tempat duduk yang terbuat dari kulit itu menjadi basah oleh cairan kenikmatan saya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Salam kenal, Mbak. Saya Roy, model pria di sini. Mbak namanya siapa?&#8221; tanyanya kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sally&#8221; kata saya lemas.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Nanti kita akan selalu ketemu, dan kita pasti akan melakukannya lagi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan mulai mengisi formulir itu lagi. Tidak lama Bang Ramen datang dan mengambil formulir yang telah saya isi itu. Ia menunjukkan honor saya dan pekerjaan saya. Untuk pertama kali pada hari pertama itu saya difoto bugil di depan banyak orang. Ternyata inilah pekerjaan baru saya. Menyenangkan sih, asal tidak hamil saja. Karena ketika difoto berpasangan, tidak jarang kami menyatukan alat kelamin kami, sehingga fotonya lebih bagus dan tidak terlihat kaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang-kadang saya juga main dengan Bang Ramen atau Bang Davis atau kedua-duanya. Namun di rumah saya tetap menjadi &#8216;istri&#8217; Pak Mori. Itulah pengalaman saya. Foto-foto saya banyak dipampang di majalah porno di Singapore, dan tentu saja tidak dijual bebas. Hanya golongan tertentu yang menerimanya.</p>
<p style="text-align:justify;">TAMAT</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1221&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/15/model-porno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gita Gutawa dan Ayah</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/14/gita-gutawa-dan-ayah/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/14/gita-gutawa-dan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 08:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[Suara merdu bagaikan suara bidadari itu terasa sangat nyaman bagi Erwin. Hanya diiringi dentingan piano, keindahan suara itu semakin terasa syahdu. Erwin tersenyum ketika melihat ke arah asal suara itu. Terlihat seorang gadis remaja yang cantik sedang asyik bermain piano sambil menyanyi. Hati Erwin terasa bangga, karena dia sebagai seorang komposer musik ternama dinegeri bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1225&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p id="post_message_507943" style="text-align:justify;">Suara merdu bagaikan suara bidadari itu terasa sangat nyaman bagi Erwin. Hanya diiringi dentingan piano, keindahan suara itu semakin terasa syahdu. Erwin tersenyum ketika melihat ke arah asal suara itu. Terlihat seorang gadis remaja yang cantik sedang asyik bermain piano sambil menyanyi. Hati Erwin terasa bangga, karena dia sebagai seorang komposer musik ternama dinegeri bisa memiliki seorang anak yang menuruni bakat bermusiknya. Bahkan lebih dari itu, Gita, anak perempuan kesayangannya itu memiliki bakat lain yang bahkan tak dimilikinya yaitu suaranya yang merdu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1225"></span> Gita selalu menjadi anak kesayangan Erwin. Erwin menatap anak perempuannya itu. Tak terasa, Gita sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Dan dia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Wajahnya yang cantik manis, sepasang mata bintang, bibirnya yang merekah oleh senyuman manisnya. Walaupun kecantikan Gita membuatnya bangga, tapi juga menimbulkan sedikit rasa kuatir di dalam hati Erwin. Gadis remaja yang cantik seperti Gita bagaikan bunga yang baru mekar yang selalu mengundang kumbang untuk datang. Sebentar lagi Erwin merasa dia pasti akan dipusingkan dengan pemuda-pemuda yang ingin mendekati putrinya</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah…. Sini dong. Gita mau nyanyi sambil diiringi piano ayah.”, suara manja Gita membuyarkan lamunan Erwin. Erwin tersenyum pada anak sulungnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya…iya….”, kata Erwin sambil menghampiri Gita. Komposer besar itu lalu duduk di depan pianonya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mau lagu apa?”, tanya Erwin pada Gita yang berdiri di sampingnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Terserah deh.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin mulai memainkan nada indah dari lagu Kembang Perawan dari album Gita. Suara Gita segera mengalun merdu mengiringi dentingan piano Erwin. Gita berjalan ke belakang Erwin lalu memeluk ayahnya dari belakang. Tangannya dengan manja merangkul leher ayahnya sambil terus bernyanyi. Erwin merasa bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi lambat laun konsentrasi Erwin mulai terganggu. Gita yang memeluknya dari belakang, hanya memakai kaus baby doll ketat dan sepertinya anak gadisnya itu tak memakai bra. Erwin bisa merasakan putting payudara Gita yang baru mekar menggesek punggungnya yang hanya memakai kaos oblong tipis. Harum tubuh Gita tercium olehnya dan membuat perasaan Erwin semakin bergetar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah ah Git. Sudah malam. Sekarang kamu harus tidur, besok kan kamu sekolah.”, kata Erwin sambil berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya…. ayah.”, kata Gita sambil merajuk manja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah jangan membantah. Besok kan kamu harus sekolah.”, kata Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya udah. Selamat malem yah.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis remaja itu lalu memeluk ayahnya dan mencium pipi Erwin lembut. Erwin bisa merasakan kehangatan tubuh Gita yang baru mulai mekar ketika anak gadisnya itu memeluknya erat dan mencium pipinya. Perasaan geliasah itu kembali lagi menghantui Erwin. Dia lalu cepat-cepat melepaskan pelukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Selamat malam Gita. Mimpi indah ya.”, kata Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia mengawasi Gita yang berlarian memasuki kamarnya. Erwin termenung sejenak sambil berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, Tuhan. Dia itu anakmu sendiri Win. Kenapa kamu bisa mempunyai pikiran kotor seperti itu?”, omel Erwin dalam hati pada dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Tadi memang Erwin sempat bangkit gairahnya saat anak gadisnya itu memeluknya erat. Masih teringat jelas oleh Erwin, harum tubuh anaknya dan putting Gita yang tadi menempel erat di punggungnya. Erwin menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran setan di kepalanya. Setelah itu dia berjalan ke arah kamar tidurnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat Erwin memasuki kamar tidurnya, dia melihat Lutfi, istrinya, sudah tidur dengan mengenakan baju tidur tipis. Gairah Erwin bangkit lagi. Dia langsung merebahkan diri di sebelah istrinya, lalu mencium leher istrinya sambil tangannya mulai beraksi bergerilya di tubuh istrinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hhhmm…. mas. Mas, lagi pengen ya?”, kata Lutfi yang terbangun karena ulah Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulanya Lutfi hanya membiarkan saja tingkah suaminya itu, tapi lambat laun rangsangan Erwin membuat gairahnya bangkit juga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ssstt… mas…. aahhh”, desis Lutfi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia menyambut ciuman Erwin yang panas di bibirnya. Erwin yang melihat gairah istrinya mulai bangkit, tak membuang waktu lagi. Dia segera melepaskan pakaiannya sendiri sambil terus mencumbu istrinya itu. Penis Erwin sudah tegang.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin tampak tak sabaran dia segera melucuti celana dalam istrinya. Gaun tidur istrinya hanya disingkapnya keatas. Erwin segera mengambil posisi menindih istrinya. Penisnya yang sudah tegang langsung dilesakkannya ke memek istrinya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aughh… pelan-pelan dong mas mmmpp…….”, desis Lutfi menyambut gairah suaminya dengan tak kalah panasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahhh… sstt…….”, Erwin pun mendengus menikmati jepitan memek istrinya di penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin langsung menggenjot istrinya dengan liar. Suara kecipak kelamin mereka berdua berpadu indah dengan desah kenikmatan pasangan suami istri itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pllakkk…. Plaakk… aah.. ahh… sttt… plaak…. srttt…..</p>
<p style="text-align:justify;">Dasar si Erwin memang komposer musik yang selalu mengabdikan hidupnya untuk musik. Bahkan saat dia bercinta dengan istrinya, dia mencoba memadukan suara berpadunya kelamin mereka dan desahan kenikmatan mereka berdua. Yaa…. walaupun tidaklah mungkin untuk menciptakan sebuah lagu atau melodi indah hanya dengan suara kecipak penis dalam memek yang basah atau dari desah dan erang kenikmatan seks, tapi setidaknya Erwin tetap menjaga agar suara persetubuhan mereka tidak “fals”. Mmm… paling nggak Erwin masih berusaha menjaga “pitch control” irama persetubuhan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Lutfi sebenarnya agak heran dengan ulah suaminya. Sudah cukup lama suaminya tidak bergairah se-panas ini. Bukan berarti selama ini rumah tangga mereka bermasalah. Mereka tetap harmonis. Hubungan di ranjang pun cukup baik. Erwin masih bisa memberinya kepuasan batin. Hanya saja setelah kelahiran anak mereka yang kedua, Erwin belum pernah seliar dan sepanas ini lagi. Saat ini Erwin begitu bergairah, mengingatkan Lutfi akan suaminya waktu awal pernikahan mereka dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah kenapa Erwin begitu bergairah malam ini. Dia menyetubuhi istrinya dengan nafsu yang menggelora. Penisnya merojok memek istrinya dengan cepat dan penuh tenaga. Tangan dan bibirnya pun turut beraksi menjelajahi tubuh istrinya. Lutfi, istrinya pun menyambut hangat kemesraan yang diberikan suaminya itu. Mereka terus berpacu dalam lautan birahi bagaikan pasangan yang baru berbulan madu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahh…. terus masss…. aaa…aku mau nyampe…. aahh…”, desis Luthfi yang merasa kalo dia sebentar lagi akan ditelan gelombang orgasme.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuughh… tunggu aku sayang aaghh…”, dengus Erwin sambil memacu tubuh istrinya makin liar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia dapat merasakan memek istrinya mulai berkedut liar.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba Erwin tersentak. Wajah istrinya perlahan berubah menjadi wajah anak gadisnya, Gita. Erwin mengerjapkan matanya. Wajah istrinya kembali lagi. Tapi entah kenapa di saat dia di ambang puncak nafsu birahinya, pikiran Erwin membayangkan hal yang lain. Erwin membayangkan kalo tubuh yang sedang ditindihnya itu adalah anak gadisnya, Gita. Erwin membayangkan tubuh Gita yang baru mekar terlonjak-lonjak oleh genjotannya. Terbayang wajah Gita yang cantik manis menatapnya dengan penuh nafsu dan merintih keenakan karena genjotan penis Erwin di memeknya yang sempit. Dan semua itu malah membuat Erwin semakin bergairah. Dia memacu Gita dalam bayangannya dengan makin cepat sampai akhirnya gelombang orgasme yang dashyat menerpanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uughhh…. aku nyampe sayang aahhhh…….”, desis Erwin saat penisnya menyemprotkan banyak sekali sperma ke dalam memek dan rahim istrinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sstttt… aaaaaku jugaaaghh………”, desah Lutfi yang juga mendapatkan orgasmenya saat dia merasakan hangatnya mani Erwin yang menyemprot dalam memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Memeknya menjepit erat penis Erwin berusaha memeras seluruh mani darinya. Mereka berpelukan erat dan menikmati puncak kenikmatan mereka berdua.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah gelombang itu usai menerpa mereka. Erwin dan Lutfi, istrinya tertidur sambil tetap berpelukan karena lelah.</p>
<p style="text-align:center;">* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *</p>
<p style="text-align:justify;">Dua minggu kemudian………</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahhh… Gita…. ssttt….. memek kamu sempit banget….. aahhh…. enak…..”, dengus Erwin sambil mengocok penisnya dengan tangannya sendiri di dalam kamar mandi hotel itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin melakukan masturbasi sambil membayangkan Gita, anak kandungnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ugghh… telen mani ayah di mulut kamu Git aaaghhh….., dengus Erwin saat penisnya akhirnya memuncratkan sperma yang mengenai dinding kamar mandi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengus nafas Erwin terdengar berat, tapi wajahnya memancarkan kepuasan. Beberapa saat kemudian, Erwin pun menyiram dinding kamar mandi yang berlepotan spermanya. Kemudian dia duduk termenung diatas toilet. Rasa sesal menghinggapi nurani Erwin. Dia merasa sebagai ayah yang bejat. Dia sudah menjadikan anak gadisnya sendiri sebagai obyek khayalan seksnya. Erwin tak mampu untuk menghentikan khayalannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya sejak dua minggu lalu, saat dia pertama kalinya membayangkan Gita saat bersetubuh dengan istrinya, Erwin sudah mencoba segala cara untuk mengenyahkan pikiran kotornya itu. Bahkan dia berusaha untuk agak menjauh dari Gita secara fisik. Bila sebelumnya Erwin tak pernah sungkan untuk memeluk Gita, sekarang dia merasa agak salah tingkah bila melakukannya. Tapi sialnya, akhir-akhir ini tampaknya Gita malah semakin manja terhadap Erwin. Dia sering memeluk Erwin tiba-tiba sambil merapatkan tubuhnya yang segera membuat jantung Erwin berdetak makin kencang. Erwin tak bisa menolak kemanjaan yang diperlihatkan Gita karena dia tak mau Gita sampai merasa dia tak menyayanginya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin lalu mandi dibawah guyuran shower kamar mandi hotel. Dia berusaha mengenyahkan segala pikiran kotor di kepalanya dengan guyuran air dingin di kepalanya. Selesai mandi, Erwin lalu memakai jubah mandinya lalu keluar dari kamar mandi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hi, Yah. Ayah baru mandi ya?”, suara manja Gita mengejutkan Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata Gita sekarang ada di dalam kamar Erwin. Penyanyi remaja itu sedang asyik tiduran di ranjang Erwin sambil membaca majalah. Kekhawatiran segera menghinggapi kepala Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah lamakah Gita di kamarnya? Apakah dia sempat mendengar teriakannya saat onani sambil membayangkan anak gadisnya sendiri itu? Aaahhh…. kenapa aku lupa mengunci pintu terusan antara kamarku dengan Gita.”, sesal Erwin dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia dan Gita sekarang memang sedang tidak berada di rumah, melainkan menginap di sebuah hotel. Erwin menemani Gita untuk promosi album barunya. Walaupun mereka menginap di kamar yang berlainan, tapi kamar mereka bersebelahan dan ada pintu terusan yang menghubungkan kamar mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm.. nngg…. ka..kamu sudah lama disini Git?”, tanya Erwin sedikit gugup.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, barusan kok.”, kata Gita. Erwin sedikit lega mendengar jawaban Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu kok disini? Bukannya tidur di kamar kamu sendiri.”, tanya Erwin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesekali Erwin mencuri pandang ke arah anak perempuannya itu. Gita selalu terlihat cantik dan manis di mata Erwin. Gadis yang baru beranjak remaja itu sedang mengenakan baju tidur pinknya yang makin membuatnya tampak imut dan menggemaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gita belum ngantuk Yah. Lagian Gita bosen di kamar sendirian.”, sahut Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin maklum akan kesepian Gita. Mamanya sekarang tak bisa menemaninya karena harus mengurus adik Gita. Erwin lalu duduk di depan cermin lalu merapikan rambutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat Erwin menoleh ke arah Gita, dilihatnya anak kesayangannya itu sedang melamun. Tampaknya Gita sedang gelisah memikirkan sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada apa Git? Kok melamun.”, tanya Erwin sambil duduk di tepi ranjang disamping Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita terlihat sedikit kaget dengan pertanyaan Erwin. Lalu wajahnya merona merah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mmm…. nggak… nggak ada apa-apa kok Yah.”, kata Gita agak gugup.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin merasa pasti ada apa-apa, mungkin anak gadisnya itu sedang mengalami masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo dong Git. Jangan bohong sama Ayah. Kamu kan biasanya selalu cerita apa aja ke Ayah. Nah, sekarang kamu cerita, apa kamu punya masalah?”, desak Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita terlihat ragu-ragu. Wajahnya merona merah, membuatnya semakin tampak manis. Erwin hanya diam, memberi waktu Gita untuk menceritakan masalahnya atas kemauannya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nnngg….. Ayah… Gita mau tanya sesuatu, tapi Ayah janji jangan marah ya.”, kata Gita akhirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Git.., kamu boleh tanya apa aja ke Ayah dan selama Ayah bisa jawab, ayah pasti akan jawab. Memangnya kamu mau tanya apa sih?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ta.. tapi ayah harus janji dulu nggak akan marah sama Gita.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya.. iya… Ayah janji nggak akan marah.”, jawab Erwin semakin penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita terlihat ragu dan malu sebelum dia membuka mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mmm….Yah, bener nggak sih kalau aku minum.. mmm…. minum sperma bisa membuat suaraku tambah merdu?”, tanya Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata Gita bagaikan petir yang menyambar Erwin. Sejenak Erwin hanya bisa terdiam sambil membelalakkan matanya dan mulutnya menganga kaget.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gita! Kamu ngomong apaan sih?”, kata Erwin agak keras.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tuh kan Ayah marah. Ayah kan janji nggak akan marah.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya terlihat malu dan sedikit ketakutan. Erwin mencoba menenangkan emosi dan kekagetannya. Dia sadar kalau dia nggak boleh marah. Gita mulai beranjak remaja dan masalah seperti ini memang harus siap dihadapinya sebagai ayah.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk memberikan pengetahuan tentang cinta dan seks pada Gita. Sebenarnya malah itu menjadi bagian Lutfi karena pasangan suami istri itu maklum kalau ibunya akan lebih leluasa dalam menerangkan. Kuliah tentang cinta, tata krama dalam masyarakat, pentingnya menjaga kehormatan, sampai dengan contoh hubungan kelamin yang dilakukan hewan yang diperlukan untuk meneruskan keturunan sudah disiapkan Erwin dan istrinya apabila sudah tiba waktunya bagi anak mereka untuk mendapatkan pengetahuan mengenai seks. Tapi pertanyaan yang diajukan Gita benar-benar diluar perkiraan Erwin dan Lutfi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nngg… ayah…. ayah nggak marah kok, cuma kaget aja. Mmm… memangnya Gita denger dari mana itu?”, tanya Erwin setelah berhasil menenangkan hatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulanya Gita malu untuk menjawabnya, tapi akhirnya dia pun mulai bercerita.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata sewaktu Erwin bekerja sama dengan tiga diva (Ruth Sahanaya, Titi Dj, dan Krisdayanti), Gita tanpa sengaja memergoki KD sedang bermesraan dengan Anang suaminya. Gita menceritakan dengan jelas tiap detailnya pada Erwin. Bagaimana Gita melihat KD sedang asyik mengoral penis Anang, kemudian waktu Anang orgasme, KD lalu menelan semua sperma yang dikeluarkan Anang.</p>
<p style="text-align:justify;">“………….Terus tante KD bilang kalau sperma Om Anang sangat enak dan bagus untuk membuat suara jadi makin merdu. Mmm…. gitu yah ceritanya.”, tutur Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sialan si Anang sama KD. Pake ngeseks di tempat sembarangan. Kalo gini kan jadi gue yang repot.”, kelu Erwin dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jad.. jadi bener nggak Yah?”, tanya Gita dengan wajah polos.</p>
<p style="text-align:justify;">Suara Gita membuat Erwin tersadar dari lamunannya. Sejenak tadi dia melamunkan hal yang tidak-tidak. Untaian cerita erotis yang diceritakan secara detail yang keluar dari bibir manis Gita dengan wajahnya yang polos dan cantik membuat Erwin jadi bangkit gairahnya dan melamun hal yang tidak-tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah sendiri nggak tahu pasti, Git. Tapi banyak orang di dunia ini yang mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal. Dan hal itu ada sisi baik dan buruknya. Pokok yang penting sebenarnya masalah kepercayaannya ini. Contohnya gini, ada beberapa atlit yang percaya dengan hal-hal tertentu. Seperti Michael Jordan yang selalu memakai celana basket seragam dari kampusnya kalau sedang bertanding. Celananya itu selalu dipakainya dibalik celana team Chicago Bullsnya. Dengan celana itu Jordan merasa lebih pede. Nah, Pede ini hal yang positif karena bisa membuat dia bermain makin bagus. Jadi sebenarnya yang penting adalah rasa pedenya, bukan celananya.”, tutur Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh gitu ya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi inget, Git. Jangana sampai hal-hal seperti itu jadi bumerang bagi kita sendiri. Misalkan suatu saat celana itu hilang atau rusak. Kalau Jordan begitu mempercayai hal itu, hingga ia jadi frustasi dan hilang pedenya maka hal itu membawa dampak negatif. Jadi kita boleh saja mempercayai hal-hal seperti itu, tapi ambil segi positifnya aja. Jangan sampai dampak negatifnya malah membuat kita terbebani. Mengerti?”, kata Erwin lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mmmm…. Gita ngerti maksud Ayah.”, jawab Gita. Kemudian dia termenung.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin menatap anak gadisnya yang sedang melamun itu. Cerita Gita yang erotis tadi mulai berkelibatan di kepalanya. Pikiran kotor yang selalu jadi imajinasi akhir-akhir ini, sekarang mulai berseliweran lagi di kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa, Git? Memangnya Gita percaya sama pendapatnya tante KD?”, tanya Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mmm… Gita nggak tahu. Tapi tante KD kan penyanyi top, nngg…. nggak tahu ah.”, kata Gita agak ragu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gita mau coba?”, tanya Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya setan yang berkeliaran di ruangan itu mulai membisikkan pengaruhnya dalam kepala Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita menatap ke arah ayahnya dengan pandangan kaget. Kemudian wajahnya merona merah. Gadis remaja itu kelihatan masih bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nnnggg….. apa kalau kita minum sperma nggak ada dampak jeleknya?”, tanya Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau dari segi kesehatan sih, kayaknya nggak ada. Malah bagus, soalnya sperma kan dari protein, sama halnya kayak telur.”, kata Erwin yang mulai menebarkan jaring perangkap untuk menjebak Gita yang masih polos itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mmm… terus gimana nyobanya?”, tanya Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau masalah itu, biar ayah yang bantu Gita. Tapi Gita harus janji nggak akan bilang siapa-siapa, termasuk mama, gimana?”, bujuk Erwin. Gita diam merenung. Tampaknya gadis remaja itu masih ragu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Cuman nyoba aja kan nggak ada masalah. Kalau nanti Gita nggak suka, Gita bisa berhenti kapan aja.”, bujuk Erwin lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“OK, Gita mau nyoba.”, akhirnya Gita terjatuh dalam perangkap ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kamu harus janji nggak akan cerita pada siapapun termasuk mama, oke?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, Gita janji.”, jawab Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Bibir Erwin tersenyum menyeringai bak penjahat-penjahat di film.</p>
<p style="text-align:justify;">“Terus gimana Gita nyobanya?”, tanya Gita lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin lalu berdiri didepan Gita, lalu melepaskan tali pengikat jubah mandinya. Penisnya yang sudah mengeras mengangguk-angguk di hadapan Gita, karena Erwin ternyata tidak memakai apa-apa di balik jubah mandinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iiihh….. ayah apaan sih?”, jerit Gita yang kaget dengan pemandangan yang terpampang didepannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun Gita kaget atas tindakan Erwin, tapi matanya seakan tak mau lepas dari penis Erwin yang mengangguk-angguk di depannya. Erwin tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa Git? Katanya kamu mau coba minum sperma? Ya udah, lakuin aja seperti yang dilakuin tante KD ke om Anang.”, bujuk Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita masih terlihat ragu dan takut. Tapi beberapa saat kemudian Erwin dapat merasakan jari lentik yang lembut menggenggam batang penisnya. Gita masih terlihat canggung, tangannya seperti gemetar saat dia memegang penis itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah, gitu dong.”, Erwin menyemangati Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlahan wajah Gita semakin mendekat ke penis Erwin. Bibir manisnya bergerak mencium ujung kepala penis Erwin yang sudah tegak.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya gitu Git aahh….. yeah….”, desis Erwin yang merasakan hangatnya kecupan bibir anak gadisnya itu di penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Julurin lidah kamu. Git. Jilatin penis ayah.”, kata Erwin memberi petunjuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita pun menuruti perkataan Erwin. Gadis remaja itu mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati batang penis Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahhh…. terusss… kamu pinter sayang…. aahhh….’, desis Erwin nikmat.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita terus menjilati penis Erwin yang terus mendesis dan melenguh merasakan nikmatnya hangatnya lidah anak gadisnya itu. Sesekali Erwin memberi pertunjuk pada Gita dan Gita pun menurutinya dan cepat sekali belajar. Penis Erwin dijilatinya merata mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Bahkan gadis remaja itu pun menurut ketika disuruh menjilati buah pelir Erwin yang berbulu walaupun dia sempat risih karena bulu-bulu Erwin ada yang menyelip di lidahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uughh… yeahh…. buka mulut kamu Git. Hisap penis ayah aaghh… yak gitu ssttt….. kayak kamu menghisap permen lolipop mmm…… jangan kena gigi aahhh…….”, Erwin terus memberi petunjuk sambil melenguh keenakan merasakan hangatnya jepitan bibir dan hisapan mulut Gita di penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ssluurpp…. hhmmppp…. mmpphh….”, Gita hanya bisa mengguman sambil terus menghisap penis Erwin di bibir mungilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat wajah Erwin yang merasa keenakan, membuat Gita semakin bersemangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin terasa seakan terbang di surga. Impiannya akhir-akhir ini, sekarang menjadi kenyataan. Anak gadisnya sendiri sekarang menghisap dan melumat penisnya dengan bibir dan mulutnya yang mungil. Melihat wajah Gita yang polos dan innocent sedang asyik menyepong penisnya membuat birahi Erwin meluap cepat. Untung saja Erwin sebelumnya sudah bermasturbasi, kalau tidak mungkin dia sudah tidak dapat bertahan dari kenikmatan sepongan anak kandungnya sendiri itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Slluurpp… mpph…. kok nggak keluar-keluar spermanya sih yah. Mulut Gita capek nih.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Biar ayah bisa cepet keluarin spermanya, Gita harus buka semua pakaian Gita.”, bujuk Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa?”, tanya Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah… biar ayah bisa lebih cepet keluarin spermanya.”, bujuk Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita mengangguk, lalu mulai membuka kancing piyamanya. Erwin mundur satu langkah ke belakang agar dia bisa dapat melihat tubuh Gita dengan jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Mata Erwin terbelalak saat Gita sudah selesai menanggalkan piyamanya. Erwin begitu terpesona melihat keindahan tubuh anak gadisnya itu yang kini sudah telanjang bulat di depannya. Dia segera menyuruh Gita untuk berdiri dihadapannya. Gadis remaja itu menurut lalu berdiri dengan wajahnya yang memerah karena malu. Tubuh Gita bagaikan bunga indah yang baru mulai mekar. Memang payudaranya masih kecil, tapi begitu indah dan menggemaskan di mata Erwin. Erwin tahu kalo nantinya anak gadisnya itu akan menjadi wanita yang cantik jelita, lekuk tubuhnya sudah menampakkan potensi keindahan di masa depan. Kulitnya putih mulus dan tampak lembut.</p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya yang cantik manis terkesan polos hingga membuat Erwin makin bergairah. Setelah kini melihat tubuh Gita, anak perempuannya itu telanjang, Erwin merasa bahwa tubuh Gita lebih indah daripada yang selama ini dibayangkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ka.. kamu cantik sekali sayang.”, puji Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ih… ayah ngeledek ya.”, jawab Gita manja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nggak. Beneran kok. Kamu gadis paling cantik yang pernah ayah lihat.”, gombal Erwin. Gita hanya tersenyum, bangga atas pujian ayahnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin segera mendekat ke arah anak sulungnya itu. Dagu Gita diangkatnya hingga wajah Gita sedikit menengadah. Lalu Erwin menundukkan wajahnya dan bibirnya langsung mengecup lembut bibir Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hhmpp.. yahh… kenapa kok hhmmpp…….”, Gita sedikit kaget karena ciuman Erwin, tapi belum sempat dia bertanya kenapa ayahnya menciumnya, Erwin sudah melumat bibirnya dengan panas.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita pun akhirnya membiarkan saja tingkah Erwin karena dia juga sebenarnya menikmati ciuman itu. Tak lama kemudian Gita pun akhirnya membalas ciuman Erwin dengan tak kalah panasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tangan Erwin mulai bergerilya menjelajahi lekuk tubuh anak gadisnya itu. Kulit Gita terasa sangat lembut di tangan Erwin. Kemudian tangan Erwin merayap ke arah payudara mungil Gita. Payudara Gita memang belum tumbuh sempurna, sekilas bahkan hanya terlihat datar. Mungkin hanya berupa gundukan kecil saja. Tapi hal itu tak membuat gairah Erwin turun. Tangannya meraba dan memijat gundukan mungil itu. Jarinya segera mencari putingnya lalu mempermainkannya dengan lincah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ssstt…. aahhh…. geli Yah…. jangan di pencet-pencet gitu aaaghh…..”, desis Gita karena permainan jemari Erwin di dadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi Erwin tak menghiraukannya. Bahkan dia menundukkan badannya, mulutnya segera mencari putting payudara Gita. Lidah Erwin segera beraksi, menjilati putting yang menggemaskan itu, berwarna merah muda dan makin mengeras. Gita mendesah makin keras, apalagi saat Erwin menghisap putingnya kuat-kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah puas bermain didada Gita, Erwin mendorong tubuh anak gadisnya itu ke ranjang, hingga Gita rebah terlentang di ranjang itu dengan pantatnya ada di pinggiran ranjang. Erwin pun lalu berlutut di bawah Gita. Kedua kaki Gita dia rentangkan hingga Erwin kini dapat melihat memek Gita dengan jelas. Erwin begitu terpesona dengan memek anak gadisnya itu. Memek itu masih terlihat sempit. Sama sekali tak ada rambut di sekitar memek itu. Erwin tak bisa memastikan apakah Gita mencukur bulu memeknya atau memang memek itu belum ditumbuhi bulu. Ketika Erwin merentangkan kedua kaki Gita lebih lebar, Erwin dapat melihat rongga kenikmatan itu berwarna merah muda, segar dan menggemaskan. Erwin yakin kalau Gita juga terangsang birahinya karena dia melihat memek anak gadisnya itu sedikit berkilauan karena air kenikmatan yang mulai membasahi liang sempit itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah mau ngapa aahhhh…..”, kata-kata Gita terpotong ketika dia merasakan lidah ayahnya yang hangat dan kasar menjilat belahan memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin tampak bersemangat menjilati belahan vagina itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mmmm…… ja… jangan Yah. Itu kan kotor uughhhh……”, kata Gita sambil mendesis nikmat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ssluurrpp… mm…. nggak ada satu bagian pun dari tubuhmu yang kotor dan jijik buat ayah, sayang sslluurppp….”, jawab Erwin sambil terus menjilati memek yang menjadi impiannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin seakan tak pernah bosan menjilati memek Gita, anak gadisnya sendiri itu. Clitoris Gita yang mungil tak luput dari sasaran lidahnya. Gita hanya bisa mendesah menerima perlakuan Ayah kandungnya itu. Gairah birahi gadis remaja itu bangkit. Permainan lidah Erwin di memeknya membuatnya merasakan kenikmatan yang mungkin belum pernah dia rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya pertahanan gadis remaja itu pun jebol. Gelombang kenikmatan itu menggulung dirinya. Apalagi saat Erwin menghisap kuat klitorisnya saat Gita sedang di ambang puncak kenikmatannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaaghh…. Ayahhh…………”, desis Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Kakinya menjepit kepala Erwin seakan tak rela kalau mulut dan lidah ayahnya sampai terlepas dari memeknya. Badannya menggeliat sampai menekuk dan pantatnya sedikit terangkat. Memeknya menyemprotkan cairan kenikmatan yang segera dijilat dan dihisap Erwin dengan penuh nafsu. Erwin seakan tak mau melewatkan setetes pun cairan kenikmatan yang dikeluarkan Gita, anak perempuannya yang sulung itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh Gita pun lemas setelah puncak kenikmatan itu menggulungnya. Nafasnya berat dan ia pun memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Erwin berdiri dan ia pun tersenyum puas karena telah bisa memberikan puncak kenikmatan pada Gita, anak gadisnya yang sangat disayangnya itu hanya dengan permainan lidahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang Erwin sudah tak tahan lagi. Penisnya sudah ngaceng berat sampai kepala penisnya terasa ngilu. Perlahan ujung penisnya dia posisikan pada belahan memek Gita yang masih terlentang sambil memejamkan matanya. Penis itu dia gesek-gesekkan di pintu liang surgawi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah…..”, kata Gita saat dia membuka matanya dan mendapatkan ayahnya sedang menggesekkan kepala penisnya di belahan vaginanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Wajah Gita terlihat agak kuatir dan sedikit takut. Tapi ada rasa nyaman saat ujung penis ayahnya itu menggesek bibir vaginanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah sayang banget sama Gita. Gita tenang yah ssttt……”, kata Erwin menenangkan Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita bukan gadis bodoh, dia tahu apa yang akan dilakukan ayahnya padanya. Tapi hal itu malah membuat gairahnya bangkit kembali. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlahan Erwin mencoba melakukan penetrasi. Memek Gita yang sempit agak membuat dia kesulitan, tapi Erwin terus berusaha.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaaaghhh…. sakiiittt yah…..”, rintih Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Seringai kesakitan tampak di bibirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tahan sedikit sayang. Ntar sakitnya lama-lama juga hilang.”, bujuk Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia terus menekan penisnya untuk memasuki memek Gita. Erwin mencoba tak menghiraukan rintihan Gita. Dia harus melakukan penetrasi itu dengan lembut tapi juga tak terlalu lama hingga menyiksa Gita lebih lama lagi. Perlahan tapi pasti, penis Erwin pun akhirnya berhasil masuk sampai mentok ke dasar memek Gita. Setelah itu dia pun berdiam dulu agar memek Gita bisa beradaptasi dengan benda asing yang kini bersarang di memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuughhh… memek kamu sempit banget Git… ssttt…. enaaakkk….. aahh…..”, desis Erwin mencoba bertahan agar tidak orgasme karena jepitan kuat memek Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Memek Gita sangat sempit dan hangat, bagaikan memijat penis Erwin dengan berjuta kenikmatan. Untung saja tadi dia sudah orgasme saat masturbasi. Kalau tidak, Erwin sangsi apakah ia dapat bertahan dari kenikmatan yang diberikan memek Gita ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin mencium bibir Gita dan Gita pun membalasnya dengan hangat. Tangannya menjelajah di seluruh bagian tubuh Gita yang bisa ia raih. Kelembutan kulit remaja memang lain dari wanita dewasa dan Erwin merasa beruntung ia dapat merasakannya. Erwin tak melakukan gerakan dan hanya membiarkan memek Gita beradaptasi dengan penisnya sambil terus mencumbu Gita, berharap agar anak gadisnya itu bisa melupakan rasa sakitnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa saat kemudian, saat Erwin merasa Gita tak lagi kesakitan dan mulai dapat membiasakan diri dengan penis Erwin yang bersarang di memeknya, Erwin pun mulai memompa memek Gita dengan perlahan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahhh….. ayahhh……. ssttt…..”, desis Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uugghhh…. memek kamu ee..eenaakk…Git”, dengus Erwin sambil terus menggenjot anak gadisnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayah dan anak itu terus berpacu dalam birahi mereka. Fakta bahwa perbuatan mereka adalah hal yang tabu, malah membuat gairah Erwin makin menggelegak. Dia terus memacu tubuh Gita dengan gairah membara. Erwin bagaikan terbang di awang. Khayalannya sekarang menjadi kenyataan. Dia dapat bercinta dengan Gita, anak kandungnya sendiri, yang akhir-akhir ini selalu menjadi khayalan kotornya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, Gita kelihatannya juga menikmati perbuatan ayah kandungnya itu terhadapnya. Penis Erwin yang aktif bergerak di memeknya memberinya kenikmatan. Gesekan penis itu pada dinding memeknya memacu syarafnya mengirimkan sinyal kenikmatan di seluruh tubuhnya. Desah kenikmatan mereka berdua memenuhi kamar hotel itu. Walaupun kamar hotel itu dilengkapi AC, tapi tubuh mereka berdua mulai berkeringat karena panasnya permainan tabu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekitar sepuluh menitan ayah dan anak itu berpacu dalam gairah mereka, Gita merasakan kalau gelombang itu akan datang lagi. Gelombang yang bahkan lebih dashyat daripada saat ayahnya menjilati memeknya tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayaaaahhhh…. aaaaaagghhhh…..”, jerit Gita saat orgasme itu menggulung tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh belianya menggeliat erotis. Kakinya menggaet pantat Erwin agar penis ayahnya dapat menusuk lebih dalam. Erwin pun tak tahan lagi. Memek Gita begitu luar biasa saat gadis remaja itu orgasme. Dinding vaginanya seakan mengempot dan menghisap penisnya dengan kuat, berusaha memeras sperma dari penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gitaaaa…. ayah dapet oooogghhhh…..”, dengus Erwin sambil menyemprotkan banyak sekali sperma ke dalam rahim anak gadisnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu tubuh Erwin pun lemas dan menindih anaknya. Setelah puncak kenikmatan itu berlalu, Erwin pun bangkit dan berdiri memandang Gita. Anak gadisnya itu masih terlentang di tempat tidur dan menatapnya sambil bibirnya menyunggingkan senyum puas. Erwin melirik ke arah penisnya yang kini berlumuran cairan kenikmatan anak kandungnya sendiri. Erwin tak melihat ada darah disitu karena Gita sudah kehilangan selaput daranya saat dia jatuh dari sepeda setahun yang lalu. Tapi Erwin yakin dia sudah menjadi orang yang merenggut keperawanan Gita, anak kandungnya sendiri itu dalam arti yang sebenarnya. Sesaat rasa sesal merasuki kepala Erwin. Tapi begitu dia melihat ke arah tubuh Gita yang masih telanjang, rasa sesal itu pun hilang bagai tersapu angin. Penisnya perlahan mulai bangkit lagi, berdiri menantang dengan gagahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin pun lalu naik lagi keranjang itu. Dia menarik tubuh Gita mendekat padanya. Mereka kembali berciuman hangat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah sayang banget sama Gita.”, kata Erwin merayu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gita juga sayang sama ayah.”, balas Gita sambil memeluk tubuh ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aduh… ayah lupa kalo Gita mau minum sperma ayah. Habis memek Gita enak banget sih, ayah jadi lupa deh.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, nih. Terus sekarang gimana dong yah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yaa… apa boleh buat. Kita harus ulangin lagi deh.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ih…. maunya…..”</p>
<p style="text-align:justify;">Ayah dan anak itu tertawa bareng.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin kini setengah terlentang di ranjang, tapi badannya bersandar di bantal yang diberdirikan di kepala ranjang hingga posisinya agak seperti orang duduk. Erwin lalu menyuruh Gita agar duduk di atas tubuhnya sambil menghadap kearahnya. Erwin ingin Gita sekarang yang ada di posisi atas. Erwin mengatur tubuh Gita hingga kini gadis itu mengangkangi tubuhnya dengan posisi penis Erwin tepat berada di pintu liang senggama gadis remaja itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekarang kamu turunin badan kamu Git.”, kata Erwin memberi petunjuk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ssttt…. uughhh…..”, desis Gita yang sudah menuruti kata-kata Erwin hingga perlahan memeknya menelan penis Erwin yang mengacung dengan gagahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah sekarang kamu gerakin tubuh kamu na… aaghhh…. ya gitu…..”, desis Erwin saat Gita mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dan bergoyang dengan lincah di pangkuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuughhh…. enaakkk Git… kamu pinter sstt……”, desis Erwin nikmat.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita ternyata cepat sekali belajarnya atau mungkin anak gadisnya itu punya bakat alami untuk hal beginian. Goyangannya begitu sensual, memberi Erwin berjuta kenikmatan. Bahkan Erwin merasa kalau goyangan Gita bahkan lebih dashyat dari Lutfi, ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita terus memacu dirinya diatas pangkuan Erwin. Dengan posisi ini, mereka bisa lebih leluasa bercumbu. Kadang mereka berciuman sambil terus memacu birahi mereka. Kadang Erwin menetek di putting payudara Gita yang mungil. Tangan Erwin juga bisa dengan bebas meremas bongkahan pantat Gita. Mereka terus larut dalam permainan tabu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa menit berpacu dalam birahi, Gita pun tak tahan lagi. Tubuhnya bergerak makin tak beraturan. Desahannya makin keras berpadu denagn suara beradunya tubuh mereka berdua.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaaghhhh…. Gita dapet yahhh……”, desis Gita saat orgasme itu menerpanya kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Memeknya berkontraksi dengan intens. Tapi Erwin mencoba bertahan agar tidak keluar dulu. Dia berjanji untuk memuntahkan spermanya di mulut Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh Gita pun lemas setelah puncak kenikmatan itu usai. Erwin segera membalikkan tubuh Gita hingga kini gadis itu yang terlentang di ranjang. Erwin menyuruh Gita untuk duduk lalu dia sendiri berdiri dihadapan anaknya hingga kini penisnya persis di hadapan wajah Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Buka mulut kamu Git.”, perintah Erwin. Gita menurutinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Erwin lalu memasukkan penisnya ke mulut mungil itu. Dia menggerakkan pantatnya maju mundur sambil memegangi kepala Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hhppp… hmmpp…”, Gita hanya bisa bergumam tak jelas karena perbuatan Erwin itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama kemudian Erwin pun merasa dia juga akan mendapatkan puncak kenikmatannya sendiri. Erwin berusaha memasukkan penisnya lebih dalam ke mulut Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Terima sperma ayah, Git. Aaahhhh…. telen semua…..”, desis Erwin saat penisnya menyemprotkan banyak sekali mani ke dalam mulut Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita hanya bisa bergumam sambil berusaha agar tidak tersedak oleh banyaknya mani yang disemprotkan ayahnya. Sebagian sperma Erwin sampai ada yang merembes keluar dari ujung bibir Gita karena banyaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uugghhkk… uughhkk….”, Gita terbatuk saat Erwin melepaskan kepalanya dan mengeluarkan penisnya dari mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis remaja itu sempat tersedak dan hampir kehabisan nafas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ka… kamu nggak apa-apa, Git?”, tanya Erwin agak kuatir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia tadi sempat lupa diri sampai tak memperhatikan kondisi Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nggak apa-apa kok. Cuma keselek dikit. Sperma ayah banyak banget sih.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maafin ayah, Git. Wah, kayaknya ayah harus mandi lagi nih. Gita mau ikutan?”, ajak Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oke.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ayah dan anak itu lalu mandi bersama. Saat di kamar mandi, gairah Erwin bangkit lagi. Dia pun mengajak anak perempuannya itu bercinta sekali lagi di dalam kamar mandi. Baru setelah Erwin menumpahkan spermanya sekali lagi ke dalam rahim anak kandungnya itu, komposer beken itu merasa dia tak sanggup lagi untuk malam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mandi, Gita tak lagi kembali kekamarnya. Mereka berdua tidur seranjang sambil berpelukan dengan tubuh polos dan telanjang. Erwin dan Gita pun tertidur karena mereka berdua sudah sangat capek setelah berpacu dengan nafsu mereka.</p>
<p style="text-align:center;">* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan paginya, Gita terbangun. Gadis itu melihat sekeliling dan tak melihat ayahnya dikamar. Gadis itu menemukan secarik kertas diatas meja yang berisikan pesan ayahnya kalo ayahnya harus berangkat dulu ke tempat konser untuk menyiapkan segala hal buat penampilan Gita malam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita tersenyum saat ingatan tentang peristiwa malam tadi kembali hinggap di kepalanya. Gadis yang baru beranjak dewasa itu bangkit dari tempat tidur dan meraih handphonenya yang tergeletak diatas meja. Gita pun menggunakan Hp itu untuk menelepon.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuut… tuuut… tuut……..</p>
<p style="text-align:justify;">“Halo. Putri?”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya.. iya…. ini gue. Ada apa Git? Tumben nelpon pagi-pagi.”, balas suara diseberang sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita tersenyum senang mendengar suara centil Putri Titian, sahabatnya itu. Gita memang sangat akrab dengan artis sinetron remaja yang lagi laris itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“He…. he… he… kayaknya loe harus nraktir gue makan malam yang enak di restoran pilihan gue kalo nanti gue udah pulang.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa? Kenapa Gue harus…. tunggu.. tunggu.. jangan bilang kalo loe sudah ngelakuin itu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yap.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ja.. jadi loe udah ML sama bokap loe sendiri?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yap. Dan itu artinya gue yang menang dalam taruhan kita.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan bohong loe.”, kata Putri tak percaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita berjalan menuju ke arah lemari pajangan di kamar hotel ayahnya. Dia lalu mengambil sesuatu dari meja itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gue nggak bohong. Dan gue punya buktinya.”, kata Gita sambil menenteng handycam yang tadi diambilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia mematikan tombolnya karena handycam itu sudah menyala dari kemaren malam dan merekam semua adegan panas yang terjadi dikamar itu kemaren.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gila!!! Loe bener-bener gila Git. Loe harus ceritain semuanya ke gue.”, desak Putri.</p>
<p style="text-align:justify;">Gita lalu menceritakan semua kejadian tadi malam secara detail kepada sahabatnya itu lewat telepon.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gila! Loe bener-bener gila Git. ML sama bokap sendiri aahh…”, komentar Putri setelah mendengar cerita Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">“He… he… he…. dan sekarang loe punya hutang sama gue.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya.. iya…gue bayar kok. Eh, apa ayahmu nggak curiga kalo loe udah nggak perawan lagi?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Nggak. Dia kan tahunya aku sudah kehilangan selaput daraku setahun yang lalu waktu jatuh dari sepeda.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jatuh dari sepeda? Setahun Yang lalu? Bukannya setahun yang lalu itu waktu loe diperkosa sama dua tukang ojek…. oohhh gue ngerti sekarang. Jadi waktu itu loe ngakunya jatuh dari sepeda?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yap. Eh Put, selain hutang makan malam, loe juga hutang satu hal lagi sama gue. Loe janji kalo gue bisa nyobain si Haikal, gebetan loe.”, kata Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud Gita adalah Haikal Kamil, artis sinetron yang lagi ada hubungan khusus sama Putri Titian.</p>
<p style="text-align:justify;">“Shit!!! Iya deh… loe bisa nyobain si Haikal. Lagian gue yakin Haikal nggak bakalan berubah walaupun nanti dia sudah ML sama loe.”</p>
<p style="text-align:justify;">“He… he… he…. jangan sok yakin. Jarang loe ada cowok yang ketagihan sama memek gue yang sempit.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Biarin. Goyangan gue kan lebih yahud daripada loe.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Emangnya Inul, goyangannya yahud. Ya udah, kita lihat nanti saja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh ya Git. Loe masih berhubungan sama tukang-tukang ojek yang memperkosa loe itu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Udah jarang sih tapi masih bisa gue hubungin. Kenapa emangnya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Loe tahu kan kakak Haikal yang belagu itu. Gayanya yang sok alim itu bikin gue bete banget.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, gue tahu. Trus apa hubungannya?”, jawab Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud sama Putri itu Zaskia Mecca, artis sinetron yang selalu berjilbab dan juga kakak kandung dari Haikal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gue pengen tukang-tukang ojek itu ngerjain Nona Sok Alim itu. Apa mereka bisa ngerubah si Zaskia jadi kecanduan penis kayak yang mereka lakuin ke loe he… he… he…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dasar. Loe kabarin aja gue kapan, ntar gue bantu. Udah ah gue mau mandi dulu. See u.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oke bai bai”</p>
<p style="text-align:justify;">Gita menutup telponnya lalu pergi mandi. Gadis manis itu tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hhhmmm….. kayaknya hubungan gue sama bokap jadi tambah seru nih. Bokap lumayan juga…. staminanya lumayan kuat walaupun penisnya nggak segede punya Jupri dan Kadir. Tukang ojek itu bener-bener gede banget penisnya.”, pikir Gita.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia membayangkan kalo nanti dia dan Putri menjalankan rencana mereka terhadap kakak Haikal, si Zaskia. Pasti seru.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1225&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/14/gita-gutawa-dan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BIRAHI Ibu &#8220;BERJILBAB&#8221; di Atas KAPAL</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/13/birahi-ibu-berjilbab-di-atas-kapal/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/13/birahi-ibu-berjilbab-di-atas-kapal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 09:24:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbaber]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[Ufhhh.. akhirnya usai sudah kegiatan yang menjemukan selama 2 minggu di sini dan aku mo balik ke Jakarta untuk refresh neh oh iya namaku Andi umur 30 tahun sekarang aku bekerja di perusahaan swasta, ciri-ciri tubuhkan yahh.. untuk postur Indonesia udah cukup di perhitungkan neh.. heheheh Besok aku mo pulang ke Jakarta setelah mengikuti kegiatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1229&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ufhhh.. akhirnya usai sudah kegiatan yang menjemukan selama 2 minggu di sini dan aku mo balik ke Jakarta untuk refresh neh oh iya namaku Andi umur 30 tahun sekarang aku bekerja di perusahaan swasta, ciri-ciri tubuhkan yahh.. untuk postur Indonesia udah cukup di perhitungkan neh.. heheheh</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1229"></span>Besok aku mo pulang ke Jakarta setelah mengikuti kegiatan dari Perusahaan di Kota ini di ujung Timur Indonesia neh aku mo naik kapal laut aja dech karena selama ini kalau bepergian aku belum pernah naik kapal laut so akan aku coba aja dech walaupun itu di tempuh dng lama perjalanan 1 minggu wahhhh pusing juga neh setelah membeli Tiket kapal laut kelas 1 aku langsung berkemas-kemas untuk persiapan besoknya berangkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba saatnya aku menuju pelabuhan setelah segala macam proses pemeriksaan tiket dan bercampur aduk dengan para penumpang. So akhirnya aku naik dan masuk ke kamarku yang kelas 1 dan tentunya kamar kelas 1 aku yang sendiri menempatinya langsung aku bergegas membersihkan diri (mandi neh..) setelah mandi diatas aku berjalan-jalan di Dek kapal sambil menunggu sebentar lagi kapal akan berangkat.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Wahhh.. kalo selama 1 minggu diatas kapal tidak ada yang bisa bikin buat seger jadi tambah pusing neh.&#8221; ujarku di dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah melihat-lihat sekeling kapal dan akhirnya aku berdiri di pinggiran kapal sambil melihat kebawah siapa tau aja ada yang bisa nemanin aku selama seminggu ini hehehhe..</p>
<p style="text-align:justify;">Mataku tertuju pada seorang ibu muda berjilbab kira-kira berumur 27 tahunan bersama anaknya yang kira-kira 5 tahunanlah dan sebelahnya di antar seorang lelaki yang kemudian mencium kening ibu itu dan anaknya setelah itu mereka berdua naik ke kapal dan tak lama kemudian kapal berangkat meninggalkan pelabuhan dan lelaki itu melambaikan tangganya kepada ibu dan anaknya setelah kapal menjauh dari pelabuhan, hmmm aku mulai mendekati ibu muda itu dan mulai berkenalan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Namaku Andi, aku tujuan Jakarta&#8221; ujarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu itu sekilas melihat aku dan senyumnya mengembang di bibirnya yang tipis. Tak lama kemudian di berucap :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Namaku Lia ini anakku dan tujuan juga ke Jakarta&#8221; ucapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya kita saling ngobrol-ngobrol dan ternyata tadi adalah suaminya yang bekerja di kota ini dan Lia setiap 6 bulan sekali datang bersama anaknya untuk melepas rindu sama sang suami.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Walahh.. kuat juga yach.. kalo aku kagak nahannnn (hehehe)&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Besok pagi disaat waktu makan pagi aku melihat Lia bersama anaknya sedang menuju ruang makan. Aku melihat dari belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hhmmmm berisi juga neh pantatnya, padahal sudah di tutupi gaun yang menutupi sampai mata kaki neh&#8221; ujarku dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Llangsung aku menemuinya dan kita makan bersama-sama 1 meja. Sambil aku ngelirik ke arahnya wow sempat aku melihat bentuk payudaranya yang ditutupi oleh jilbab dan bajunya lumayan mengkal neh waduh jadi pikiran kotor neh Lia,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Di kelas 1 juga yach&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ttidak mas aku ambil di kelas 2 aja kok&#8221; jawabnya sambil senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan basah.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooohhh kalo aku di kelas 1, abis sendirian aja sih pengen tenang dan rileks aja&#8221; ucapku sekenanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia juga sendiri kok, dari tadi malam belum ada penumpang yang sekamar dengan Lia, jadinya Lia cuma ditemani anakku aja neh&#8221; sahutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooh gitu yach berarti aku bisa dong main-main ke kamarmu&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bisa aja kok, kita khan di satu gang.. tadi malam mas khan sempat keluar aku melihat kok&#8221; ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooh ya aku mo cari rokok tuch semalam&#8221; sahutku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai makan pagi, kita bersama-sama jalan di koridor kapal sambil bercerita dan diiringi guyonan kecil-kecil. Karena di luar koridor angin cukup kencang maka saat aku berjalan disampingnya hmmm aku mencium bau wangi yang sangat harum dan melihat putihnya leher ibu berjilbab ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooh seandainya aku dapat menidurinya&#8221; bisikku di dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari kedua belum terjadi apa-apa diantara kami, namun setelah makan sore iseng-iseng aku mengetuk pintu kamarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia, ini aku Andi boleh aku masuk,&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul kepalanya yang ditutupi oleh jilbab seadanya dan menggunakan terusan daster hmmm aku liat dia tidak mengurangi kecantikan dan kemontokannya kok.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ssilahkan masuk mas,&#8221; ujarnya pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Maaf anakku baru aja tidur dan aku baru tidurin dia neh&#8221; sahutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dikarenakan kita nggak mau mengganggu anaknya, so kita duduk di satu tempat tidur yang lain sambil bercerita. Aku memandangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhhh semakin lama disini aku semakin tidak kuat menahan birahiku&#8221; ujarku didalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat kita sedang bercerita dasternya tersingkap sampai dengan lututnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Uuppss.. spontan aku mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mulus sekali kakimu Lia yah.. pasti kamu rawat dengan baik dan secara sempurnya,&#8221; ujarku sambil tanganku mengelus-elus betisnya secara refleks.</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung dia menarik kakinya dari tanganku sambil berujar.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aah mas Andi bisa-bisa aja nih&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan basah namun aku tetap memegang betisnya dan bahkan menggeserkan tanganku keatas.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aah Mas jangan gitu ach nggak enak neh&#8221; sahutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun aku tak berkata-kata lagi langsung aku sibakkan dasternya sampai ke pahanya dan langsung kuciumi dan kujilati pahanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ssluuurrrppp.. Ohhhhhh Mass jangan dong&#8221; ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun Lia tidak menarik pahanya dari mulutku tangannya malahan memegang kepalaku dan seolah-olah menekan-nekan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ssluurrrppp&#8230; slururrpppp.. ssshhhh oh mas jjaannn&#8230; gannn.&#8221; pekik Lia pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun aku tetap melanjutkan jilatanku sampai ke pangkal pahanya dan secara cepat aku menarik celana dalamnya turun dan</p>
<p style="text-align:justify;">Ssluuurrrppp kujilati memeknya yang penuh dengan bulu-bulu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooohhhh mas Andiii&#8230; oohhh&#8221; desahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kujilati itilnya slururpp&#8230; sluruppp&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Shhhh ohhh mass aduuuhhh ahhhh&#8221; jeritnya pelan setelah sekitar 15 menit aku bermain lidahku di memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung aku memberhentikan kegiatanku dan kuangkat kepalaku keatas kulihat Lia memejam matanya menahan kenikmatan yang baru dia rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Oohhh aku liat begitu indah pemandangan didepanku. Ibu muda, cantik dan berjilbab menggunakan daster setengah telanjang sedang menanti kontol neh langsung kuhampiri bibirnya yang sedari kemarin aku inginkan sluuup.. smmm hmmm kita langsung bersilat lidah. Tak lupa tanganku menggerayangi payudaranya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhh mas.. pintar sekali kamu, ohhhh.. achhh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kuturunin lidahku menuju payudaranya dan kugigit-gigit kecil dari luar dasternya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohh.. mass cepaattt nanti anakku bangun&#8221; bisiknya pelan langsung tanpa ada yang perintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kubuka celana panjang dan sekalian celana dalamku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uupps besar sekali mas punyamu&#8221; sahutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Silahkan lia apa yang kamu inginkan&#8221; ujarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lia langsung menyodorkan mulutnya dan menghisap kontolku dengan mahirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uugghhhhff Lia kamu pintar juga yach sama suamimu juga sering beginian yach?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mmmrmmmrpp.. nggak masss jarang kok&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sekian menit aku langsung memberhentikan isapannya pada kontolku dan langsung menaikkan dasternya tanpa melepas jilbabnya dan Lia membuka kedua pahanya menanti kontolku memasuki dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ayok mas.. cepatan&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhggghh&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ppelan-pelan kutempelkan kontolku di permukaan memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooufghhhh&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Baru aja kepala kontolku masuk udah terasa nikmat.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dooorong mas enaeekkk mass oughhhh&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kudorong pelan-pelan masuk dan</p>
<p style="text-align:justify;">Bleeeeeeeeeesss..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uughhf&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Aakhirnya masuk semua kontolku kedalam memeknya. Kudiami beberapa saat dan mulailah kupompa kontolku di dalam memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Srooopp.. croopppp slerrrrpp&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhh enak sekali memekmu Lia..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iiiyyyyaa kontolmu juga enak mass&#8230; oohhh terusin mass.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sengaja tidak membuka jilbab dan dasternya takut kalo anaknya tiba-tiba bangun.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Teruuusss mass yang cepatt ooohhh sruuuppp sreettt croooppp..celllelel ppp..belle&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pompa terus memeknya sampai kira-kira setengah jam kulihat Lia sudah mulai tanda-tanda mau keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhh mass cepatannnn.. Lia udah mo keluar&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sabarr yah.. mas juga udah mau keluar yah uggghh Lia.. kita sama-sama keluarin yah ooohhh sllluuppp oohhh achhhh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Aakhirnya Lia telah keluar dan semenit kemudian menyusul aku menyemprotkan air maniku ke memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Crootttt.. crroooot&#8230; corootttttt&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uuuffhhhh.. mas banyak sekali air manimu neh&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita tenang langsung Lia ke kamar mandi membersihkan air maniku yang mulai meleleh di pahanya aku menunggu dia keluar dari kamar mandi dan aku bilang minta maaf yah bahwa aku kebawa nafsu sih dia bilang nggak apa-apa kok sama dengan dia juga aku mohon izin untuk kembali ke kamarku dulu dikarenakan jam sudah menunjukan pukul 10 malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Besok pagi disaat waktu makan pagi, aku mengetok kamarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia kita sarapan pagi yook&#8221; ujarku pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama pintu terbuka dan Lia telah siap dengan pakaian longdres panjang dan berjilbab. Uuugghhh cantiknya dia dan menyilahkan kumasuk.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Anakku belum bangun neh&#8221; jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jadi gimana dong..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kita tunggu bentaran aja yach&#8221; tanyanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya kita ngobrol-ngobrol.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eehh.. udah sekitar setengah jam.. anaknya belum bangun juga neh.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tau-tau kita malahan saling pegang-pegangan tangan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia kamu cantik sekali&#8221; ujarku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aach mas ini.. Lia biasa-biasa aja kok&#8221; ucapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Malu-malu langsung kususup lidahku ke mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mhmmmmpppff jangan ach mas ntar anakku bangun lho&#8221; sahutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sebenntarr aja yach Lia&#8221; ucapku memelas.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hhmmmm gimana yach&#8221; jawab Lia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ttanpa menunggu jawabannya langsung kuciumi bibirnya yang merah dan basah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ssluruurupp hmmpfghh oohhh.. masshh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Llangsung kumainkan lidahku di dalam mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Cuupppss smshhsh oohh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa membuka jilbabnya langsung kunaikkan longdressnya. Kuturunin celana dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooohhh udah basah juga neh memeknya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sssss.. ssss mas&#8230; oohhh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Cepat-cepat kubalikin dia aku pengen gaya nungging.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhh mas&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kuangkat kakinya satu dan mulai kutusukkan kontolku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sssss oougghhh.. blessss sssssllreepp mmrrpp oohhh mas nikmat sekaliii&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Liiaa memekmu juga enaakakk.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooougghhhaaa ooohhh yang cepat mas..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kupompa kontolku.</p>
<p style="text-align:justify;">Srooortkkk.. sluururppp sreet bellsss..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Uufghhh masss enak sekali&#8230; hmmmm&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya yyahh oohhh.. Lia ayookk kita keluarin bersama-sama&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooggghh mass&#8230; aku mo keluarrrrr oogghhrrr ahhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung badannya Lia jatuh ke tempat tidur sambil tetap menungging membelakangi aku dan tanpa menunggu lagi kutusukkan kontolku lagi .</p>
<p style="text-align:justify;">Bleessssssssss&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooohhhh masss enakkk&#8230; cepattttaaannn iiiiiyya Lia..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooohh mas hampir keluar neh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooghhhs&#8230; oohhhh Liaa&#8230; siiappp&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Croootttttt&#8230; croottt&#8230; crooott&#8230; ughhh&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Tumpah ruah air maniku kedalam memeknya lagi tak lama air maniku keluar. So anaknya juga udah mulai bangun dan kita langsung bereskan diri dan menuju ruang makan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama empat hari kita selalu bercinta, namun Lia tidak pernah telanjang alias jilbab dan bajunya masih menempel di badan dan aku pun tak mempermasalahkan itu yang penting memeknya yang ranum hhmmmm hingga suatu malam hari ke enam dan rencananya besok kapal kita sudah nyampe di Jakarta aku sedang santai sambil tiduran di dalam kamar hanya mengenakan celana pendek.</p>
<p style="text-align:justify;">Tok tok kudengar ketukan pintu kamarku,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Siapa yah?&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ini Lia mas&#8221; jawab suara diluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Serta merta aku berdiri dan membuka pintu hmmm.. Kulihat Lia hanya mengenakan daster panjang tanpa mengenakan jilbab.</p>
<p style="text-align:justify;">Oohhhh.. cantiknya dan putih sekali lehernya itu semenit aku terpana di depan pintu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mas boleh aku masuk?&#8221; tanyanya langsung.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersentak kaget.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooh iya.. ya silahkan Lia&#8221; sahutku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ada apa ne Lia, malam-malam kesini?&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ndak neh aku mo nanya aja.. besok khan kita udah nyampe Jakarta, trus mas langsung pulang yah&#8221; tanyanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya sih soalnya lusa udah masuk ngantor&#8221; terangku kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooooohh.. ya udah deh Lia langsung pulang ke kampung aja dech..&#8221; jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita ngobrol panjang lebar. Lia pamitan mo kembali ke kamarnya, dikarnakan jam udah menunjukan pukul 9 malam, namun disaat dia mo berdiri, kupegang tangannya dan kuciumi sambil kujilati telapak tangannya sampai ke pangkal lengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooouuhhh mas geli ahh&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa kujawab kujilati lehernya yang putih mulus itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sluurrppp.. slurppp shhhh ssss.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooohh mas sluurrp.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kutelusuri lehernya yang jenjang kadang kugigit-gigit kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooowhh massss ohhh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia aku ingin bersamamu malam ini&#8221; ujarku dia diam sambil menundukkan kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hhmmmmm.. tanpa tunggu jawabannya langsungku gendong dan kubawa ke tempat tidur mulai kuciumi bibirnya yang ranum.</p>
<p style="text-align:justify;">Rhmmmm.. sluruppp&#8230; ssshhmm&#8230; ohssss&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia sungguh enak bibirmu..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Hhmmsfh.. kubuka perlahan-lahan dasternya oohhhh ternyata Lia tidak memakai BH dan celana dalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Ssluruuurpp slururpp hmmmm langsung kujilati payudaranya yang putih mengkal. Sluuruppp..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhhssss masssnnns tertuuuusss&#8221; ucapnya terbata-bata.</p>
<p style="text-align:justify;">Kutelusuri lidahku ke memeknya yang rimbun.</p>
<p style="text-align:justify;">Ssluruuupp.. kujilati itilnya oohhhhsss&#8230; langsung kubalikkan badanku tepat kontolku di mulutnya&#8230; slruuup oougfhhh hmmmsssllii pp kontolku langsung diisapnya sambil tak lupa kuhisap juga memeknya yang ranum ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohhh mas&#8230; aku udah nggak tahan&#8230; tuussuuukk mas&#8230; &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Saabbarrr Lia aku ingin malam ini berkesan sekali&#8221; ujarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ooohhsusss kujilati terus sampai terasa banyak lendir yang keluar dari memeknya Lia.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Massssssss&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung kuubah posisiku dan siap-siap kutusukkan kontolku ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sslleeeeerrpp.. blesssshh.. oohhhhh.. crororlkkk crorokk.. crokk..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohh mas.. enak sekali&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kuangkat kakinya yang satu sambil terus kupompa kontolku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Smsmshhgg oouuhhh.. mass teruskan masss&#8230; ennaakkk&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Sroorkkk.. cororkk setelah setengah jam.. saat-saat aku mo keluar&#8230; langsung kuminta Lia untuk berbalik dan kutusukan kontolku lewat belakang (gaya doggy).</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooougghhhh enak sekali memekmu Lia.&#8221; sahutku.</p>
<p style="text-align:justify;">Blesss blesss..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mass enakk..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kupompa kontolku secara cepat dan akhirnya..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia kita keluarin sama-sama yah&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iiiiiiyyya mass ohhhuuu sssss..hhhh massss aaaaaaaaaahhhh..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kuteriak agak keras dan akhirnya air pejuku muntah juga kedalam memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooh mas enak sekali Lia lemas neh&#8221; sahutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beberapa menit&#8230; Lia mohon pamit kembali ke kamarnya karena sudah tinggalin anaknya 3 jam tuh.. akhirnya aku juga tidur.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan harinya kita berdua terlambat bangun pagi.. dan aku pikir lebih baik bersiap-siap aja untuk beberapa jam akan sandar di pelabuhan Tanjung Priok saat aku lagi berbenah-benah. Kudengar ketokan di pintu dan suaranya Lia terdengar dari luar sana,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mas.. udah siap-siap yah..?&#8221; tanyanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya neh..&#8221; sambil kulirik dia membawa anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ayo masuk dulu..&#8221; jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia udah siapin barang-barangnya yah?&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ya udahlah mas, maka itu kita kesini mo memastikan, siapa tau mas masih belum bangun gara-gara semalam&#8221; bisiknya di telingaku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hhhmmm Lia kamu itu makin menggemaskan aja&#8221; sambil kucolek pantatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Wow kelihatannya dia nggak pake celana dalam neh.&#8221; ucapku dalam hati aku jadi pengen buktiin neh tapi bagaimana yach? Soalnya dia bersama anaknya neh dan sebentar lagi kira-kira 2 jam-an udah mo nyampe di pelabuhan neh waaahhh. Aku jadi tambah panas dingin neh kulihat lia menghempaskan pantatnya di tempat tidurku anaknya juga disebelahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lia kamu kok tambah cantik yah, memakai jilbab dan terusan (longdress) itu&#8221; ujarku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aahh mas ini pasti kalo ngebilang itu ada maunya yach&#8221; selidiknya sambil senyum.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tau aja&#8221; sahutku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil kubereskan pakaianku dan kumasukin ke dalam tas, kulihat anaknya udah mulai rewel neh ndak tau kenapa yah. Kali aja udah mulai ngantuk atau udah tau yah mamanya mo pikiran ngeres mama.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ari kembali ke kamar dulu yach&#8221; tanya anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mo ngapain Ri?&#8221; tanya mamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mo bobo bentaran aja ngantuk neh&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oohh ya udah kalo gitu, ntar lagi mama nyusul khan tinggal sejam lagi kita nyampe Ari bobo dulu yah ntar mama bangunin&#8221; sahut mamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung serta merta Ari pamit ke kamarnya dan kututup pintu kamarku. Tanpa menunggu lama lagi kuangkat longdressnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooohhhh.. mass mo ngapain?&#8221; pekik Lia.</p>
<p style="text-align:justify;">Hhhmmmmppp betul yang kuduga Lia tidak pake celana dalam pasti udah mo ngerasain kontolku lagi yah langsung kujilati saja memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ssluuurppr&#8230; sluurprp&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooughhs hmmmmss.. masss achhh mass&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sekian menit langsung kuangkat kakinya satu di atas tempat tidur dan kutusukan kontolku ke memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Blessssss&#8230; srelllpp&#8230; slleeeeeppp&#8230; bleessss&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooouughhh massssss&#8230; nikkmmaattt&#8230; ssssscloopp&#8230; clop..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Karena waktu yang terbatas aku semakin cepat memompa memeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ccroooppp.. cloppp.. bunyi paha kita beradu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ssluruuru blessslsss.. sssshh..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Masss aku sungguh tidak bisass melupakanmu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooohhh.. Liiaaa mmemekmu sungguh legiiit&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Sslreeepp.. sloopp..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Cepatan mas&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung kupompa lebih cepat lagi dan akhirnya</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ooooooohhhh aaaaaaaahhhh Lia siaapp aku mo keluar uuggghhh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ccroooot&#8230; croottt.. croooot pejuku keluar langsung mengisi rahimnya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oooohhh mas sungguh nikmat kontol dan air manimu itu&#8221; sahut Lia.</p>
<p style="text-align:justify;">Langsung tak lama pengumuman dari ABK bahwa setengah jam lagi kapal akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok serta merta kita berdua bergegas merapikan kembali pakaian dan Lia kembali ke kamarnya dan aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lagi. Sebelum aku mandi kubilang sama dia.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ppake celana dalammu yah, soalnya nanti bisa diliat orang dan takutnya nanti aku minta lagi neh&#8221; ujarku dibalasnya Lia dengan memegang kontolku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hhmmmmm kontol yang nikmat&#8221; ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapal sudah berlabuh di pelabuhan dan kita berdua sudah tiba di dermaga dan saatnya kita berpisah. Masing-masing dari kita memberikan alamat rumah dan berharap di lain waktu kita bisa bertemu lagi lambaian tanganku menyertai kepergian Lia dan anaknya ke kampungnya. Oh Lia engkau memang birahi yang tak pernah padam walaupun tubuhmu tertutup jilbab dan gaun panjang namun kamu tidak bisa mempungkiri hatimu<strong>.<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1229&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/13/birahi-ibu-berjilbab-di-atas-kapal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doraemon X: Mesin Penambah Umur</title>
		<link>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/13/doraemon-x-mesin-penambah-umur/</link>
		<comments>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/13/doraemon-x-mesin-penambah-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 05:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khususceritadewasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Fantasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khususceritadewasa.wordpress.com/?p=1193</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu siang, Nobita pulang sekolah dengan wajah kusut dan perasaan kesal. Sesampai dikamarnya, Nobita melemparkan tas sekolah yang ia bawa tanpa melihat arahnya. Tanpa sengaja tas itu mengenai Doraemon yang lagi asyik tiduran diatas lantai. &#8220;Aduh.. Nobita ada apa sih pulang-pulang kok marah-marah gitu?&#8221;, tanya Doraemon sambil mengusap-usap kepalanya. &#8220;Oh, maaf-maaf Doraemon, aku nggak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1193&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="post_message_532691" style="text-align:justify;">
<p>Pada suatu siang, Nobita pulang sekolah dengan wajah kusut dan perasaan kesal. Sesampai dikamarnya, Nobita melemparkan tas sekolah yang ia bawa tanpa melihat arahnya. Tanpa sengaja tas itu mengenai Doraemon yang lagi asyik tiduran diatas lantai.</p>
<p><span id="more-1193"></span> &#8220;Aduh.. Nobita ada apa sih pulang-pulang kok marah-marah gitu?&#8221;, tanya Doraemon sambil mengusap-usap kepalanya.</p>
<p>&#8220;Oh, maaf-maaf Doraemon, aku nggak sengaja!&#8221;, sahut Nobita dan meninggalkan Doraemon.</p>
<p>Sekesal-kesalnya Nobita tapi untuk urusan perut lapar, ia tak pernah tidak memperhatikannya. Dengan perut kenyang Nobita kembali kekamarnya.</p>
<p>Bertemu muka dengan Nobita yang sedang murung, Doraemon kembali bertanya, &#8220;Ada apa kok murung terus? Apa ulanganmu jelek lagi? Apa dimarahi gurumu lagi?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kalau urusan ulangan jelek dan dimarahi guru itu biasa, ini lain&#8221;, jawab Nobita.</p>
<p>&#8220;Lalu ada apa?&#8221;, tanya Doraemon lagi.</p>
<p>&#8220;Ini soal uang. Teman-teman sepakat urunan 1000 yen per anak untuk tamasya ke pantai padahal tabunganku udah habis. Gimana dong, Doraemon?&#8221;, tanya Nobita.</p>
<p>&#8220;Ya nggak usah ikut!&#8221;, jawab Doraemon santai.</p>
<p>&#8220;Uhh.. malu dong sama teman-teman!&#8221;, kata Nobita dengan wajah melas.</p>
<p>&#8220;Eh, Doraemon punya nggak mesin untuk menghasilkan uang?&#8221;, tanya Nobita.</p>
<p>&#8220;Nggak ada mesin seperti itu, yang ada mesin-mesin untuk membantu orang memperoleh uang&#8221;, ujar Doraemon.</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221;, tanya Nobita penasaran.</p>
<p>&#8220;Contohnya ini, Mesin Penambah Umur&#8221;, ucap Doraemon sambil mengeluarkan sebuah mesin dari dalam kantong ajaibnya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana caranya dapat uang dengan mesin itu?&#8221;, tanya Nobita tak yakin.</p>
<p>&#8220;Dengan mesin ini umurmu bisa bertambah dan dengan bertambahnya umurmu kamu dapat memperoleh pekerjaan orang dewasa&#8221;, kata Doraemon.</p>
<p>&#8220;Bekerja? Malas ahh..&#8221;, ucap Nobita.</p>
<p>&#8220;Dasar kamu pemalas, mana bisa dapat uang kalau tanpa bekerja?&#8221;, tanya Doraemon dengan kesal.</p>
<p>Tapi Nobita tak menanggapi lagi ucapan Doraemon karena sudah tertidur tak tertarik dengan usulan Doraemon.</p>
<p>Malam hari setelah Nobita menyelesaikan tugas-tugas sekolah, dilihatnya mesin penambah umur yang diperlihatkan Doraemon siang tadi tergeletak di pojok kamar. Ia menjadi penasaran untuk mencoba mesin itu. Ia kepingin tahu wajahnya pada waktu dewasa nanti. Tak tahu cara mengoperasikan alat itu, dicarinya Doraemon. Doraemon yang sedang asyik menonton acara &#8220;Goyang Inul&#8221;, dari televisi ditarik paksa oleh Nobita kekamarnya.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih gangguin aja?&#8221;, tanya Doraemon kesal.</p>
<p>&#8220;Ini gimana cara pakainya?&#8221;, tanya Nobita dengan menunjukkan mesin itu.</p>
<p>Setelah menerangkan caranya pada Nobita, Doraemon kembali keruang tengah menyelesaikan acara kesayangannya.</p>
<p>Khawatir diketahui orang tuanya, Nobita mengunci pintu kamar sebelum mencoba alat itu. Setelah memasang beberapa kabel ke keningnya, ia memutar saklarnya pada angka &#8220;15 tahun&#8221;. Lantas dipencetnya kenop yang ada di alat itu. Jleb.. sekarang Nobita sudah berubah menjadi pemuda berusia sekitar 25 tahunan. Segera ia lepas semua kabel dari keningnya, lalu mendekat pada cermin yang terletak didekat jendela.</p>
<p>&#8220;Wah, alat Doraemon hebat! Aku jadi pemuda ganteng..&#8221;, kagum Nobita pada dirinya sendiri.</p>
<p>Tak puas hanya melihat wajahnya saja, Nobita lalu melepas semua pakaiannya hingga telanjang.</p>
<p>Terus mengagumi dirinya sendiri Nobita tak sadar bahwa tetangganya yang baru saja pindah disamping rumahnya, melihatnya telanjang dari jendela kamar Nobita yang ada dilantai atas. Nyonya Michiko, tetangga Nobita adalah wanita berumur 29 tahun, istri seorang karyawan swasta dan telah 4 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Melihat ada seorang pemuda dikamar Nobita, nyonya Michiko sedikit heran karena ia tahu bahwa Nobita anak tunggal. Keheranan nyonya Michiko terganti dengan rasa penasaran pada pemuda yang saat ini dilihatnya lagi telanjang.</p>
<p>Beberapa menit sudah berlalu tapi Nobita masih tetap belum puas memandangi dirinya sendiri dari cermin dimukanya. Secara tak sadar tangannya yang lagi mengusap lembut tubuhnya sendiri melewati daerah kemaluannya. Rangsangan ringan yang tak disengaja pada pemuda seusia Nobita saat ini membuat burungnya yang menggantung berubah mengeras dan berdiri. Tentu saja hal ini membuat Nobita agak kaget. Dipegangnya burung itu sehingga ukurannya makin lama makin besar dan semakin keras. Tegak berdiri pada ukuran maksimalnya, Nobita merasakan keenakan ketika mengusap burungnya. Usapan tangan dan sedikit remasan pada burungnya membuatnya lupa diri.</p>
<p>Muka Ny. Michiko menjadi merah melihat dengan jelas kejadian itu melalui jendela kamarnya. Merasa malu karena mengintip pemuda telanjang tapi segan menghindarinya karena desakan nafsunya juga sudah tinggi. Tak terasa tangannya sudah masuk berada dibalik kimononya, mengusap-usap permukaan celana dalamnya hingga agak basah. Tapi tak lama kemudian ia terpaksa harus menyudahinya karena kedatangan suaminya dari pulang kerja.</p>
<p>Nobita yang masih heran dan bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya tadi bergegas mengenakan kembali pakaiannya dan merubah kembali tubuhnya ke bentuk semula ketika mendengar teriakan Doraemon mengajaknya makan malam bersama. Setelah membuka pintu kamar, ia segera keruang makan untuk bergabung dengan keluarganya dan Doraemon.<br />
Dilihatnya Doraemon sudah melahap makanannya sambil berkata pada Nobita,</p>
<p>&#8220;Cepat Nobita.., sebelum kuhabiskan semuanya! Nonton goyang Inul bikin perutku ikut lapar&#8221;.</p>
<p>Nobita yang khawatir nggak kebagian makanan, segera ikut bergabung.</p>
<p>Malamnya ketika Doraemon dan Nobita akan beranjak tidur, Nobita menyempatkan diri menghirup udara malam yang segar melalui jendela kamarnya yang terbuka. Tiba-tiba Nobita memanggil Doraemon yang lagi siap-siap berangkat tidur.</p>
<p>&#8220;Sini Doraemon.. ayo cepat sini!&#8221;, perintah Nobita.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih?&#8221;, tanya Doraemon menuju ke jendela.</p>
<p>Tanpa komentar lagi keduanya langsung memelototi sebuah pemandangan yang menghebohkan.</p>
<p>Keduanya melihat tuan dan nyonya Michiko sedang asyik melakukan adegan panas.</p>
<p>&#8220;Apa sih yang mereka lakukan?&#8221;, tanya Nobita.</p>
<p>&#8220;Ssst.. ini lebih asyik dari goyang Inul!&#8221;, kata Doraemon sambil menarik Nobita menjauh dari jendela.</p>
<p>&#8220;Uhh.. Doraemon ada apa sih main tarik aja!&#8221;, ujar Nobita.</p>
<p>&#8220;Jangan ramai nanti mereka tahu kalau diintip. Pake ini aja, Mesin Teleskop Penembus Dinding! Cepat pasang yang ini ke jendela, kita tonton dari layar ini&#8221;, kata Doraemon sambil mengeluarkan sebuah alat dari kantong ajaibnya dan memberi arahan pada Nobita.</p>
<p>Ternyata yang dikatakan Doraemon benar. Dari layar kecil yang terhubung dengan kamera kecil terarah kerumah tetangga Nobita, mereka berdua dapat lebih jelas melihat apa yang dilakukan oleh tuan dan nyonya Michiko.</p>
<p>Terlihat Ny. Michiko dengan buasnya menunggangi suaminya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Dengan bermandikan keringat tuan dan Ny. Michiko terus menggerakkan semua bagian tubuhnya hingga keduanya lemas terlentang diatas ranjang.</p>
<p>&#8220;Hehehe.. asyiik!&#8221;, ucap Doraemon.</p>
<p>&#8220;Apanya yang asyik?&#8221;, tanya Nobita tak mengerti samasekali.</p>
<p>&#8220;Nobita kamu masih kecil jadi ya belum mengerti soal begituan&#8221;, jawab Nobita.</p>
<p>&#8220;Soal begituan apaan?&#8221;, kejar Nobita.</p>
<p>&#8220;Huh, kalau kuterangkan aku yang capek, ini pake aja, aku mau tidur&#8221;, jawab Doraemon sambil menyerahkan sebuah alat mirip helm yang baru dikeluarkan dari kantong ajaibnya.</p>
<p>&#8220;Apa ini?&#8221;, tanya Nobita lagi.</p>
<p>&#8220;Itu adalah Mesin Kamasutra, udah pakai aja dikepalamu nanti kamu tahu sendiri, aku mau mimpi ngebor Inul&#8221;, jawab Doraemon lalu tidur.</p>
<p>Setelah naik keatas ranjangnya, Nobita mengenakan alat tersebut. Sebuah bayangan seakan-akan muncul didepan matanya. Bayangan-bayangan itu menerangkan perihal soal sex dan semua yang ditanyakan dalam pikiran Nobita dapat terjawab dengan jelas. Satu jam berselang dan Nobita mulai merasa ngantuk tapi ia masih enggan untuk mengakhiri penjelajahan dalam dunia sex yang baru saja dimasukinya. Merasa cukup iapun kemudian tertidur dengan masih memakai Mesin Kamasutra dikepalanya.</p>
<p>Dalam tidurnya, Nobita bermimpi bertemu dengan Shizuka, teman sekelasnya. Dalam mimpi itu Nobita dan Shizuka sama-sama telanjang dan sedang mandi dipantai yang sepi. Mereka berdua saling mendekatkan tubuh dan berciuman mesra sampai sebuah ombak yang datang menjatuhkan mereka berdua. Dengan saling berdekapan mereka terseret ombak hingga kepinggir pantai berpasir. Diatas pasir putih itu Nobita menindih Shizuka sambil terus bercumbu. Burung Nobita yang telah berdiri mengeras menancap pada liang kewanitaan Shizuka yang masih gadis. Berdua mereka membuat irama seiring desiran angin pantai. Saling menatap keduanya melepas hasrat yang telah sampai puncaknya.</p>
<p>Sementara itu Doraemon juga bermimpi melihat langsung Inul lagi menari dan berjoget didepannya diiringi alunan melodi dangdut. Dalam mimpi itu, Doraemon juga lagi bersiap-siap untuk memasukkan burungnya kedalam liang kewanitaan seorang wanita cantik yang telah berbaring terlentang dilantai tempatnya berdiri. Wanita itu memiliki wajah persis seperti Ny. Michiko tetangga Nobita.</p>
<p>&#8220;Ayo.. Doraemon cepat masukin!&#8221;, pinta wanita itu.</p>
<p>Entah dengan alat apa batang kemaluan Doraemon bisa menjadi mirip mata bor yang besar. Lalu dengan memencet sebuah tombol ditangannya batang kemaluan Doraemon bisa berputar layaknya mesin bor, ngiing.. itulah bunyinya. Pelan tapi pasti Doraemon memasukkan batang kemaluannya yang terus berputar kedalam liang kewanitaan wanita cantik itu. Ngiing.. keluar masuk batang kemaluan Doraemon mengebor liang kenikmatan wanita itu.</p>
<p>&#8220;Aaah.. terus Doraemon.. aahh.. sshh.. ohh.. bormu enak!&#8221;, teriak wanita itu keenakan sambil bergelinjang gelinjang liar.</p>
<p>Lalu Doraemon memencet tombol lagi di jam tangannya sehingga putaran batang kemaluan makin cepat disertai gerak hentakan maju mundur persis dengan mata bor hammer drill.</p>
<p>&#8220;Oooh.. ahh.. a.. aku keluar Doremoon!&#8221;, teriak wanita itu sambil menarik pantat Doraemon agar batang kemaluannya masuk hingga batas terdalam.</p>
<p>Dengan segera Doraemonpun memencet lagi tombolnya untuk mengurangi kecepatan putar dan mematikan gerak hentakan batang kemaluannya. Dirasakannya gemuruh tekanan cairan hangat yang keluar dari liang kenikmatan wanita itu pada sekujur batang kemaluannya. Pencetan tombol berikutnya membuat arah putaran batang kemaluannya berbalik dan sedikit demi sedikit keluar meninggalkan liang kewanitaan wanita itu. Byoor.. menyemburlah cairan hangat yang sangat banyak dari liang kewanitaan itu hingga membasahi seluruh tubuh Doraemon. Tak mau kalah, Doraemonpun memencet lagi tombol dijam tangannya. Dan ujung batang kemaluan Doraemon terbuka katupnya sehinga croot.. croot.. croot.. menyemburlah cairan pekat yang tak kalah banyak membasahi seluruh tubuh wanita yang terbaring lemas itu.</p>
<p>Byuur, sebuah siraman dari Ibu Nobita membangunkan Doraemon dari tidurnya dan membuatnya lari tunggang langgang dengan arah tak menentu. Byuur lagi, sekarang giliran Nobita.</p>
<p>&#8220;Brr.. hi.. dingin!&#8221;, ucap Nobita.</p>
<p>&#8220;Ayo bangun cepat Nobita, kamu bisa kesiangan ke sekolah!&#8221;, teriak Ibu Nobita.</p>
<p>Nobita pun segera berlari ke kamar mandi dan segera bersekolah, sementara Doraemon duduk-duduk santai mengeringkan bulu-bulunya di teras rumah.</p>
<p>Sepulang sekolah Nobita langsung masuk rumah dan berteriak-teriak mencari orang yang ada dirumah. Tapi tak satupun jawaban yang ia dapatkan. Sampai dihalaman belakang ia masih celingukan kekiri dan kekanan. Lantas didengarnya sebuah teriakan dari rumah Ny. Michiko.</p>
<p>&#8220;Hai.. Nobita, kamu mencari siapa?&#8221;, teriak Ny. Michiko bertanya padanya sambil sibuk menjemur seprei.</p>
<p>&#8220;Oh, Ny. Michiko, saya mencari Ibu dan Doraemon&#8221;, jawab Nobita sambil berjalan mendekat kearah rumah Ny. Michiko.</p>
<p>&#8220;Mereka tadi keluar untuk belanja, soalnya di pasaraya ada obral besar&#8221;, jawab Ny. Michiko.</p>
<p>&#8220;Terima kasih!&#8221;, ucap Nobita sopan menyembunyikan kekecewaannya karena sudah lapar.</p>
<p>&#8220;Nobita, kamu sudah makan?&#8221;, tanya Ny. Michiko yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Nobita.</p>
<p>&#8220;Ayo makan siang ditempatku&#8221;, ajak Ny. Michiko.</p>
<p>Dengan malu-malu, akhirnya Nobita menerima ajakan makan siang itu.</p>
<p>Pada saat makan siang Ny. Michiko bertanya pada Nobita perihal pemuda yang terlihat dikamar Nobita. Meskipun terkejut tapi Nobita berusaha keras menyembunyikan hal yang sesungguhnya dengan berbohong bahwa pemuda itu adalah saudara jauhnya yang lagi mencari pekerjaan sambilan karena sedang membutuhkan uang. Dengan wajah berbinar Ny. Michiko meminta Nobita untuk menyampaikan pada saudaranya bahwa ia membutuhkan orang untuk membersihkan rumah. Merasa ada kesempatan emas, Nobita segera pulang selepas melahap makan siangnya.</p>
<p>Segera setelah Nobita merubah wujudnya menjadi pemuda berumur 25 tahunan ia kembali kerumah Ny. Michiko, tapi kali ini lewat pintu depan. Nobita dewasa memperkenalkan diri sebagai Eifuku dan disambut dengan ramah oleh Ny. Michiko yang hanya memakai kaos panjang tipis sebatas paha tanpa bawahan. Ny. Michiko juga memohon maaf atas pakaiannya yang kurang sopan karena sedang mengepel lantai rumah. Eifuku alias Nobita segera menawarkan bantuan yang segera diterima oleh Ny. Michiko.</p>
<p>Karena akan melakukan pekerjaan yang cenderung basah maka Eifuku memohon ijin untuk melepas pakaiannya. Tanpa berpikir panjang lagi, Ny. Michiko langsung menyetujuinya bahkan diam-diam hal itulah yang diharapkannya. Hanya dengan celana dalam Eifuku segera memulai pekerjaan mengepel lantai itu. Ny. Michiko yang memperhatikan benjolan besar dari depan celana dalam Eifuku sempat tertegun dan salah tingkah dengan wajah merah dipipinya.</p>
<p>Satu jam berlalu dan Eifuku alias Nobita telah menyelesaikan pekerjaannya. Tapi Ny. Michiko mencoba mengulur waktu dan menunjukkan sebuah kolong berukuran 1&#215;1 meter mirip ruangan kecil tapi panjang untuk dipel juga. Eifuku pun menuruti saja perintah itu meskipun dia yakin bahwa kolong itu tak ada gunanya dibersihkan. Dengan susah payah Eifuku berusaha menyelesaikan secepatnya. Namun baru separohnya dipel, Ny. Michiko ikut pula masuk kedalam kolong sempit itu dengan dalih ingin melihat hasil pekerjaan Eifuku.</p>
<p>Kolong sempit itu membuat tubuh Eifuku dan Ny. Michiko saling bersentuhan. Dengan berdesakan Ny. Michiko memaksakan diri sampai pada ujung kolong dengan tengkurap sementara Eifuku memberinya jalan dengan bertumpu hanya pada tubuhnya bagian kanan. Tak kuat menahan tumpuannya, tubuh Eifuku terjatuh tak sengaja menindih Ny. Michiko dengan posisi tengkurap juga. Tak pelak benjolan bagian depan celana dalamnya menyentuh serta bergeseran pada pantat dan selakangan belakang Ny. Michiko. Burung Eifuku sontak mengeras berdiri yang dirasakan pula oleh Ny. Michiko. Mendesah pelan ia pun mencoba menggoyangkan pinggulnya dan merapatkan kakinya menjepit benjolan batang kemaluan Eifuku. Sedikit terkejut oleh jepitan itu, Eifuku malah mendorongkan tubuhnya sehingga batang kemaluannya yang panjang dan besar mengeras itu tak hanya menerobos celana dalamnya tapi juga menerobos jepitan kaki Ny. Michiko hingga mencapai bagian depan daerah kemaluan Ny. Michiko.</p>
<p>Desahan pelan Ny. Michiko semakin menjadi-jadi seakan membuat ajakan pada Eifuku alias Nobita. Merasa ada kesempatan untuk mempraktekan ilmu dari mesin kamasutra yang dipelajarinya semalam, Eifuku membuat gerakan. Kaos tipis Ny. Michiko ia tarik keatas hingga lepas, cumbuannya ia lemparkan pada tengkuk hingga sekujur tubuh Ny. Michiko. Lalu dilepaskannya celana dalam Ny. Michiko yang masih tengkurap dan melanjutkan cumbuannya pada daerah kemaluan Ny. Michiko sambil melepaskan celana dalamnya sendiri. Ny. Michiko mengerang keras sambil bergelinjang merasakan kenikmatan lidah Eifuku menerobos liang kewanitaannya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian giliran batang kemaluan Eifuku alias Nobita menerobos liang kewanitaan Ny. Michiko. Desahan dan erangan silih berganti keluar dari mulut Ny. Michiko seiring dengan gerak maju mundur pinggul Eifuku, remasan tangan Eifuku pada payudaranya dan jilatan lidah Eifuku pada tengkuknya. Keluarnya cairan hangat kewanitaannya dari dalam liang kenikmatannya menyudahi desahannya dengan napas tersengal-sengal. Eifuku melepas batang kemaluannya yang telah basah kuyub dari liang kewanitaan Ny. Michiko. Lantas ia membalikkan badan Ny. Michiko yang masih lemas itu.</p>
<p>Wajah cantik Ny. Michiko dicumbuinya dan bibir mungil Ny. Michiko menjadi korban lumatan mulut Eifuku. Ny. Michiko hanya membiarkan perbuatan Eifuku itu dengan mata terpejam sembari mengumpulkan tenaga baru. Sedikit demi sedikit kedua kaki Ny. Michiko melebar memberi jalan batang kemaluan Eifuku yang ada diantaranya. Sambil memberi hisapan yang dalam pada pangkal leher kiri Ny. Michiko, Eifuku alias Nobita mendorong masuk batang kemaluannya hingga tempat yang terdalam. Terbelalak mata Ny. Michiko sambil menjerit keenakan. Dilanjut dengan desahan lirih dan erangan sepotong-sepotong membuat Eifuku lebih beringas dan mempercepat gerak maju mundur pinggulnya. Sambil mengapitkan kedua kakinya pada bagian belakang kaki Eifuku, Ny. Michiko menekan-nekan selakangan Eifuku dengan jarinya. Tak lama kemudian batang kemaluan Eifuku berdenyut hebat diiringi dengan semburan cairan pada ujungnya. Timbullah efek berantai dari semburan yang mengenai dinding liang kenikmatan Ny. Michiko. Sambil mendekap erat tubuh Eifuku yang menindihnya, dilepaskan pula cairan kewanitaanya dari liang kenikmatannya.</p>
<p>Eifuku alias Nobita balik kerumah dengan tubuh capek tapi puas karena memperoleh pengalaman baru dan uang sebesar 1000 yen. Namun belum sempat beristirahat panjang ia mendengar ibunya dan Doraemon datang sehingga ia harus segera merubah wujudnya kembali sebelum ibunya tahu. Kembali menjadi Nobita kecil lagi, ia sudah tak sabar menceritakan pengalamannya pada Doraemon.</p>
<p>Mendengar cerita Nobita dari awal hingga akhir membuat Doraemon tercengang.</p>
<p>&#8220;Nobita kamu benar-benar pandai&#8221;, puji Doraemon.</p>
<p>&#8220;Sekarang uangnya mana?&#8221;, tanya Doraemon.</p>
<p>&#8220;Eh.. ini hasil jerih payahku, kamu jangan minta bagian&#8221;, ucap Nobita sombong sambil merogoh sakunya.</p>
<p>Tapi setelah ia keluarkan isinya hanyalah kertas putih kosong.</p>
<p>&#8220;Huahaha.. kamu benar-benar bodoh Nobita.. seharusnya kamu keluarkan dulu uangnya dari sakumu sebelum kembali ke usiamu semula&#8221;, ejek Doraemon sambil tertawa keras.</p>
<p>&#8220;Jadi.. jadi..&#8221;, ucap Nobita bingung dan gugup.</p>
<p>&#8220;Ya uangnya ikut berusia muda alias belum dibuat dan hanya berupa bahannya yaitu kertas. Kalaupun kamu balik lagi prosesnya akan malah kumal atau jadi debu. Karena kertas kalau sudah tua kan kumal. Hehehe..&#8221;, kata Doraemon menerangkan sambil terus tertawa.</p>
<p>Sementara Nobita hanya dapat menangis.</p>
<p>E N D</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khususceritadewasa.wordpress.com/1193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khususceritadewasa.wordpress.com/1193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khususceritadewasa.wordpress.com&#038;blog=7732281&#038;post=1193&#038;subd=khususceritadewasa&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khususceritadewasa.wordpress.com/2010/04/13/doraemon-x-mesin-penambah-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/32748b96ba3d4c965cf9add163bbbf19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khususceritadewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
