Memuaskan Mbak Dewi

14 05 2009

Ini adalah cerita tentang masa laluku, Namaku Willy, ketika itu aku berusia 21 tahunan, kala itu aku bekerja di salah satu perusahaan swasta. Aku datang dari sebuah kota di Jawa Barat. Karena saudara-saudaraku jauh dari tempat kerjaku, terpaksa aku harus mencari tempat kost yang dekat dengan kerjaku.

Singkat cerita, aku dapat tempat kost di wilayah Kwitang, Jakarta Pusat. Lumayan gak bagus tapi bisa nyenyak tidur, murah lagi bayarannya, cuma ya kamar mandinya masih bareng-bareng dengan warga sekitar. Kebetulan yang punya kost adalah orangtuanya temen kerjaku.

Tak terasa enam bulan sudah aku kost, makin banyak kenal juga aku dengan penduduk sekitar. Tapi herannya kenapa aku susah kenalnya dengan tetangga yang persis di samping tempat kostku. Kalo ketemu sih saling sapa cuma gak pernah ngobrol, dia adalah istri seorang pegawai Departemen Kehakiman, kalo dengan suaminya sih akrab, malah suka nongkrong bareng ketika santai, sedangkan istrinya yang berwajah ayu yang kebetulan kelahiran daerah Jawa Tengah tidak begitu akrab, padahal kalo berpapasan…. uhhhhh pandangannya itu menjadi tanda tanya bagi insting nakalku…. tembus kedalam hati.

Si istri tersebut bernama Dewi, aku memanggilnya Mbak Dewi, kegiatan sehari-harinya adalah mengelola salon kecantikan yang tak jauh lokasinya dari tempat kostku. Hampir setiap berpapasan tatapan matanya tak pernah lepas dari pandanganku sampai aku malu sendiri dan kalah pandangan. Dia selalu memandang dengan senyumnya yang manis. Kebetulan memang orangnya hitam manis.

Suatu ketika aku pulang larut dari kerjaan, sekitar jam 22.30, aku selalu melewati daerah kamar mandi menuju ke kamar kostku…. tersentak hatiku melihat sosok wanita jongkok sedang cebok.. krecek krecek… krecek bunyi airnya kala itu. Dia tak memperhatikan suasana sekitar dan tak tahu aku sedang mengamatinya sambil pura-pura membetulkan tali sepatu………. dia langsung bangun dan membetulkan celana dalamnya setelah cebok.

Deg deg deg jantungku berdebar melihat bokongnya yang mulus.

“Eh.. ada orang… kirain sepi,” kaget dia ketika melihatku… berada sekitar dua meter darinya.

Eh emmmba agak gugup aku, tali sepatuku lepas mbak…

“Aku kira juga gak ada orang,” kataku sambil menyeringai agak malu.

“Hmmmm, betulin sepatu apa hmmmmm,” katanya kepadaku.

Semakin malu aku dibuatnya..

”Willy, kamu liatin mbak yah tadi”, katanya dengan pelan.

“Eng..engga mbak, emang mbak lagi ngapain, “jawabku.

“Yang beneerrrrrrrrr”, serunya lagi.

“Hmmmm dikit mbak heheheh,” kataku sambil ketawa kecil.

Tak sadar penisku sudah tegang, sehingga celana bagian depan menyembul.

“Dasar kamu tuh yah”, katanya lagi sambil mencubit tanganku dan langsung masuk ke rumahnya.

Setelah kejadian itu, malamnya aku gak bisa tidur membayangkan bercinta dengan Mbak Dewi. Tak tahan aku, akhirnya melakukan onani sambil membayangkan apa yang baru aku lihat beberapa jam yang lalu.

***

Semakin hari semakin terbayang wajah Mbak Dewi, tak tahan rasanya ingin menyentuh mbak Dewi. Ketika malam tiba aku nongkrong di depan kamar kostku, berharap bertemu mbak Dewi, sejam dua jam hingga 9 malam kala itu, terlihat mbak Dewi turun dari taxi, berdebar rasa jantungku, memikirkan rencana bagaimana caranya berdekatan dengannya.

Hampir sampai dia ke dekatku, aku berdiri pura-pura mau jalan ke arahnya…. seperti biasa tatapan dan senyumnya yang menggoda menembus hatiku..

”Dari mana mbak, kok malam pulangnya” tanyaku.

“Abis belanja cat rambut, kebetulan jalannya macet jadi kemalaman deh,” jawabnya sambil tersenyum.

Sambil berpapasan kuberanikan diri tuk menempelnya agak bertubrukan, nyelllll terasa ada benda yg kenyal menyentuh sikutku… detik itu juga kemaluanku tegang.

“Mmmaaf mbak gak sengaja”, kataku….

”Hehehehhehe kamu tuh bisa aja, ga apa-apa kok Wil, gak sengaja kan”, jawabnya sambil tersenyum dan melanjutkan perjalanan ke rumahnya.

Ampuuuuuuuuuun, makin bingung aku dengan sikap mbak Dewi, seolah-olah memberi lampu hijau kepadaku. Semakin gila imajinasiku terhadap mbak Dewi. Semakin hari semakin senewen.

Akhirnya pada suatu hari aku mempunyai ide untuk bertemu langsung dengannya, dengan cara mendatangi salonnya, dengan alasan memotong rambut. Hari itu aku tidak kerja, demi menjalankan misiku yang penuh gairah.

Kudatangi salon mbak Dewi sekitar jam 11 siang. Kebetulan dia bekerja sendiri tanpa asisten.

“Siang mbak”, salamku terhadapnya.

“Siang, eh Willy ada apa, tumben kesini”, jawabnya.

“Mau potong rambut mbak, dah panjang neh biar rapih aja.

“Ooooo, boleh tunggu yah,” kata mbak Dewi.

Hari itu dia memakai rok hitam dan kaos putih bak orang training, senyum dan pandangannya tidak berubah tetap menggoda hatiku.

“Ayo Wil, katanya mau potong rambut” tanyanya.

“Iya mbak,”

Langsung aku duduk di kursi, dan mbak Dewi siap memotong rambutku. Tak karuan rasa hatiku ketika mbak Dewi mulai memotong rambutku. Berkeringat tubuhku,

“Kenapa Wil, gerah”, tanyanya.

“Nggak Mbak Dewi, nggak gerah kok, jawabku.

“Nah itu berkeringat” tanyanya lagi sambil tersenyum.

“Mmmmm, aku berkeringat karena dekat dengan mbak Dewi“, upss kelepasan aku ngomong….

”Hihihihihi mbak Dewi ketawa geli, kenapa kok deket saya jadi gerah emangnya saya kompor” katanya lagi.

Tak tahan dengan hasrat ku, kulepaskan penutup tubuhku yang dijadikan alas rambut. Kutarik mbak Dewi ke bagian belakang…

“Sini dulu bentar mbak…”,

“Wilyyyy, ada apa sih,” kata mbak Dewi tapi tetap menuruti ajakanku.

Setibanya di belakang, langsung kupeluk dia dengan erat,

“Oohh mbak ini yang aku harapkan dari mbak,”

“Wil, apa-apan sih kamu, nanti takut ada tamu nih” gumam mbak Dewi.

Tapi tak kulepaskan pelukanku, semakin ganas diriku, ku pegang bokongnya yang membuat aku tergila-gila setelah dia pipis dulu. Dia sedikit berontak dan malah terjatuh ke dipan tempat creambath, dan posisi kami sekarang berubah. Dia berada dibawahku sementara aku menindih. Kusingkapkan rok hitamnya dan oohhhh terlihat sembulan indah yang terhalang celana dalam tipis warna putih.

Semakin jalang saja aku sambil menindih tangan kananku menyelinap ke celana dalamnya. Ku elus-elus kemaluannya…. hmmm mulai basah..

”Willllll kamu nih, pintunya belum ditutup biar aku tutup dulu pintunya” gumamnya dengan wajah yang mulai memerah.

Takut itu hanya alasan akhirnya aku bilang, biar aku yang tutup pintunya, kalo mbak yang tutup nanti malah pergi mbak.”

Sebelum pergi menutup pintu, kupelorotkan dulu celana dalamnya…. oooohhh indahnya pemandangan kali ini, bulu vaginanya tipis. Langsung aku bergegas menutup pintu yang hanya berjarak tiga meter dari belakang.

Dengan penuh nafsu aku bergegas menuju belakang, alangkah kagetnya aku melihat mbak Dewi tidak ada di tempat Creambath….. langsung aku sibak gorden penghalang dekat kamar mandi belakang. Oh my god, lebih kaget lagi mbak Dewi ternyata malah sudah telanjang bulat sambil tersenyum padaku….. langsung saja aku menyergapya, ooww putingnya sudah berdiri dan langsung saja aku menghisapnya, ohhhohhhh, mbak dewi menggelinjang, tak kuhiraukan, bibirku menghisap terus putingnya yang mencuat, sementara tangan kiriku meremas-remas payudara kirinya. Tangan kananku tak mau kalah bergerilya di sekitar kemaluannya yang sudah basah.

Begitu juga mbak Dewi, dia tak mau kalah, tangannya memegang kemaluanku dengan penuh perasaan….. 15 menit kami melakukan pemanasan.

“Mbak, aku mau masukin yah” pintaku dengan penuh nafsu..

Mbak Dewi hanya mengangguk. Kutuntun mbak Dewi ke tempat creambath, kucelentangkan dia… oohhh vaginanya mengangga, tanpa basa basi langsung saja kumasukan kemaluanku…

Blesssssssssssssssssssss, mbak Dewi sedikit tersentak sambil menyeringai…. bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess ooohhh bleess bleess bleess kukeluar masukan penisku dalam vagina mbak Dewi……..

“Oohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh Willllll,” mbak Dewi baru terdengar suara kerasnya…..

“Sssssssssst jangan terlalu keras nanti kedengaran yang lain,” kataku.

Kulanjutkan pergerakanku, kulipat kaki mbak Dewi keatas sehingga kemaluannya menyempit kugoyang kemaluanku dengan penuh rasa….

Srep srep srep sreppppp kutahan dan kuputar kemaluanku dalam vaginanya.

“Mmbaaaaaaaaaaaaakkk aku… oooohhhh cretttttttttt cretttttt crettttttttt ooohhh” mbak Dewi memelukku dengan erat

“Ooooooohh,” dia juga berteriak, ternyata dia juga merasakan ejakulasi.

“Oooooh,” tubuh kami berdua penuh keringat.

Ku kecup bibir mbak Dewi….

”Terima kasih mbak” kataku….

“Sama-sama Will harusnya mbak yang terima kasih….”

“Loh kok”, tanyaku bingung.

“Gini Will, aku gak pernah dapet kepuasan dari suamiku, selain dia ejakulasi dini, penisnya itu loh, kuecil kealingan perutnya yang gendut. Makanya aku terimakasih sama kamu karena sudah setahun mbak gak ejakulasi dari making love.

“Cuppppppppph” katanya sambil mengecup bibirku.

“Berarti lain kali bisa lagi dong mbak hehehehe….pintaku…

”Terserah kamu Will, mbak jadi suka ma kamu,”

Lalu kami berpelukan lagi dengan erat…

“Dah dulu yah Will, takut ada tamu…” katanya.

Aku langsung mengenakan pakaian dan mengelap keringat, setelah itu aku langsung pulang ke kostan dengan hati yang riang atas keberhasilanku. Hampir gak percaya semua itu akan terjadi dan ternyata memang mbak Dewi membutuhkanku.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: