Liburan yang tak terlupakan

18 05 2009

Liburan sekolah kali ini sungguh memberikan ketenangan kepada kami, karena anak-anak dibawa oleh orang tuaku bepergian tour ke pulau, sehingga praktis di rumah hanya tinggal aku dan istriku serta pembantu.

“Ma.. besok kita jalan yuk..”kataku malam itu pada Anita istriku yang juga tampak bosan menonton siaran TV, ”Mumpung anak-anak nggak ada kita bisa pergi santai kemanapun yang kita inginkan” kataku melanjutkan.

”Mm..boleh.., memang mau kemana ..?,” tanyanya.

”Ah.. pokoknya siapkan saja lah.., pagi-pagi kita ke airport, sedapatnya tiket aja”

Begitulah.. pukul 07.00 kami sudah di Cengkareng Airport, dan melihat-lihat jadwal keberangkatan, kucari kenalanku seorang District Manager sebuah Airlines dan akhirnya sebelum tengah hari kami sudah berada di udara menuju Pulau Batam.

Di Batam ternyata kami cuma betah sehari, udara yang panas, semrawut, mau belanja juga tidak ada yang cukup menarik untuk di beli ditambah dengan suasana yang bagi kami kurang nyaman membuat kami memutuskan untuk menyeberang ke Singapore,

Menjelang sore kami sudah Check In di sebuah hotel sekitar Orchard Road, karena kupikir pasti Anita ingin memuaskan hasratnya berbelanja.

Malam itu kami makan malam di sebuah restaurant favorit kami di sekitar Kampong Bugis, mengenang masa lalu karena memang dulu sebelum anak-anak lahir sering kali kita makan disini, bahkan pernah terbang dari Jakarta hanya untuk makan dan balik lagi, yah itulah kadang pola hidup kami sejak dulu, semua dilakukan sesuai hasrat hati kami semata.

”Hai.. Apa kabar..?” sebuah suara bariton menyapaku dan ketika aku menatapnya seringai senyum sebuah wajah yang tak asing lagi terpampang dihadapanku.

”Eh.. Anton… ngapain lu disini?” tanyaku, dan Anton langsung menyalami dan mencium pipi Anita.

”Roy… kenalin nih teman papa…” katanya dan seorang pemuda berusia kurang lebih 18 tahun menyodorkan tangannya kepada kami.

”Ini anakku, dia baru lulus SMA, rencananya mau sekolah disini, makanya kuajak sekalian melihat beberapa calon sekolah yang mungkin cocok..”, Anton menjelaskan dan Roy, anak muda itu nampak mirip sekali dengan bapaknya, cuma lebih jangkung dan putih.

Kami duduk satu meja dan aku ngobrol asyik dengan Anton, yah cerita banyak hal tentang masa lalu, apalagi dia sahabatku saat masih kuliah dulu, walau kita beda usia dan tingkat.

”Kebetulan, aku ketemu kalian disini, besok sore aku mesti balik Jakarta, urusan sekolah Roy besok kubereskan, dia sih masih ingin main–main disini, kalau kalian nggak keberatan…” Belum selesai ia berkata anak muda itu sudah menyelak

”Pah.. nggak mau.. Roy ikut balik ke Jakarta..” katanya.

”Tenang Roy…. kami welcome kok.., kita memang lagi santai…, malah asyik ada temen.., tante masih mau ke Sentosa Islands, terus masih mau belanja, udah kamu ikut kita aja, biar papamu balik ke Jakarta, kita masih 2-3 hari kok disini, nanti tante temenin cari apa yang mau kamu beli, pasti ada deh yang mau dibeli tapi nggak enak sama papamu ya kan?” tiba-tiba saja Anita sudah nyerocos panjang lebar sambil kakinya menendang kakiku di bawah meja.

Aku masih belum mengerti maksudnya namun kuikuti saja kemauannya.

Walau semula masih menolak namun bujukan Anita dan papanya membuat Roy mau tetap tinggal dan besok kami akan mengantar Anton ke Bandara.

”Kamu ngapain sih..?”, tanyaku saat kita sudah berdua saja, ”Katanya mau santai kok malah ngasuh anak orang?” tanyaku lagi, dan dengan senyum khasnya istriku membisikkan sesuatu ditelingaku

”Kamu ngaco.. kalau orang tuanya tahu..” kataku kaget juga dengan pikiran ’gila’ Anita.

”Nggak lah kayak nggak pernah remaja aja kamu..”, dan akupun jadi tertarik melihat kelanjutan ulah Anita istriku itu.

Begitulah.., setelah mengantar Roy ke Changi Airport, kami bertiga kembali ke hotel dan atas usul Anita semalam, kami pindah dari hotel ke sebuah service apartment dengan dua kamar di daerah mansion road, yang sebenarnya sih tidak terlalu jauh.

Setelah makan malam dan berbelanja, bertiga kami menuju apartemen dan dalam waktu singkat Anita sudah berhasil ’mengambil hati’ Roy, tentu saja anak muda itu tetap memperlakukan istriku dengan penuh kesopanan dan hormat, sementara istriku juga bersikap seakan seorang ’tante’ yang baik.

Malam itu, sambil nonton TV dan ngobrol dengan suasana santai, istriku memang memakai pakaian santai walau sexy, hot pants dan tank top ketat, namun tetap ’normal’ dan tidak ada ’move’ yang berarti, sementara Roy juga sudah sangat relax dengan kami, namun aku tahu kalau matanya terkadang ’menyambar’ ke dada dan paha istriku, tapi semua berjalan biasa sampai masing-masing masuk kamar.

”Pah..,” katanya saat kami baru saja selesai melakukan hubungan sex yang sangat menggairahkan,

”Mmm….?” jawabku agak malas, karena masih belum lepas dari sensasi kenikmatan yang baru saja kudapat.

Sambil menyandarkan kepalanya didadaku ia menjawab

”Besok siang.. tinggalkan mama sama Roy.. aja.. ya”

”Oh…??” tanyaku

”Iya..anak itu masih polos banget, kalau papa ada, nggak mungkin.., lagian kalau dia nggak tahu kalau papa tahu…., pasti mati-matian dia jaga hal yang dianggap rahasia..” katanya lagi, dan dari lirikan matanya yang ’nakal’ itu aku bisa menduga apa yang dipikirnya.

”Oke…, tapi cerita ya nanti…” jawabku

Anita tidak menjawab, namun kepalanya mulai turun dari dadaku ke perut dan terus turun….

Siang harinya setelah mengunjungi beberapa tempat, kami makan siang dan Anita beralasan lelah dan ingin kembali ke apartment, sementara aku mengatakan masih mau mencari beberapa barang di KM 14, lokasi barang barang untuk otomotif, karena memang sesuai hobbyku.

”Roy.., temenin tante ya, Oom mau cari variasi mobil dulu, agak jauh sih.., ”
”Baik Oom” jawab anak muda dengan polosnya

Setelah mencium istriku, aku memisahkan diri, dan menduga-duga apa yang dilakukan istriku yang cantik, sexy namun nakal itu ?

Aku kembali agak larut, setelah sebelumnya menelpon Anita menyampaikan aku segera kembali, maklum aku nggak mau mengejutkan mereka, dan dengan tangan penuh belanjaan variasi kendaraan yang kubeli sepanjang siang dan sore aku memasuki apartment.

”Hey… makan dulu., mama pesen chinese food nih..” kata istriku sambil menyambutku, mencium bibirku dan membantu meletakan belanjaanku, sementara Roy tak kulihat.

”Dia dikamarnya..” bisik istriku.

Kami makan malam bersama, dan walau istriku bersikap biasa namun kulihat Roy agak salah tingkah, lebih pendiam namun sesekali matanya menatap istriku, hm.. aku yakin anak ini telah ‘dibantai’, sungguh tak sabar aku ingin mendengar ceritanya.

Malam itu kami dikamar, istriku menceritakan segalanya dan cerita itu kami akhiri dengan sebuah permainan sex yang sangat ‘panas’. Sesampainya di apartment aku mandi, berganti pakaian lalu menggunakan salah satu baju suamiku yang jelas saja sangat kebesaran untukku sehingga seperti pakai daster mini, untuk satu dan lain alasan kulepas bra dan hanya menggunakan celana dalam mini berwarna putih tipis.

Karena hawa yang cukup panas tadi Roy juga mandi segera setelah aku selesai dan ketika keluar ia menggunakan celana training dan kaos, tubuhnya atletis dan kemudaan yang memancar sungguh menggodaku.

Kuatir anak itu pergi ke fitness centre yang ada di lingkungan apartment itu, kupanggil anak itu dan kuajak ngobrol.

”Roy.., kamu sudah punya pacar..?” tanyaku memancing

“Belum tante, ..” jawabnya dan mukannya memerah.

”Ah..masa.. pemuda secakep kamu belum punya pacar..?” tanyaku lagi.

”Iya..bener.., kata papa Roy mesti lulus dulu baru boleh pacaran..” jawabnya polos.

”Ah.. papamu keterlaluan.., kayak nggak pernah muda aja..” aku berkata seenaknya, lalu kulonjorkan kaki sambil mengatur posisi dudukku, baju yang dua kancing atasnya sengaja kubiarkan terbuka terkadang membuat payudaraku terlihat sekilas dan aku tahu kalau ia seringkali melirik berusaha memandang lebih jelas.

”Sorry ya.., nggak apa-apa kan kalau tante relax begini..?” tanyaku

”Nggak apa tan, kalau tante mau tidur silahkan saja.., Roy bisa ke fitness centre kok” jawabnya lagi.

”Nggak tante mau ditemenin ngobrol, mau kan ..?” tanyaku.

Dengan senyum anak muda itu mnengguk.

”Roy… ” tanyaku lembut

”Ya tante..?” tanyanya

”Boleh nggak tante minta pendapat kamu..?”

”Boleh… ” jawabnya ”Tentang apa..?”

”Gini…, ” jawabku

”Tante kan udah hampir 40 tahun, kayaknya udah tua…, kalau menurut Roy tante udah tua..?” tanyaku.

”Nggak tante.. tante masih cantik sekali.., malah paling cantik” jawabnya spontan.

”Masa…., mungkin kamu lihat tante di wajah saja ’kali, kan kalau wajah pakai make up” kataku lagi bersikeras.

”Bener.., tante Anita cantk sekali” jawabnya, namun wajahnya mulai memerah, agak canggung ia dengan percakapan ini.

”Oke.., gini tante mau pendapat kamu ya, tapi kamu harus jujur kalau nggak bagus bilang, oke..?” tanyaku

”Iya.. tante.” jawabnya masih belum mengerti arah yang kutuju.

Aku lalu berdiri dihadapannya, lalu dengan perlahan kulepas baju yang kukenakan, sehingga tinggal mengenakan celana dalam putih tipis.

”Nah… coba kamu perhatikan…, ada nggak yang udah kurang bagus..?” aku bertanya dan melihat padanya yang menatapku dengan mata nanar dan jakun naik turun.

”Bagus tante…” namun ia menunduk tidak berani melihatku lebih lama lagi.

”Ah..kamu nggak perhatiin.., sini berdiri..” lalu kutarik tangan yang tiba-tiba terasa dingin itu dan dengan berdiri dihadapannya kubawa tangannya meraba payudaraku yang selama ini jadi kebanggaanku,

”Kamu raba dong.., kalau udah kendor atau kegemukan bilang” kataku lagi dan tangannya kubawa meraba tubuhku.

Dengan tangan agak gemetar Roy meraba tubuhku.. dan kulihat dari balik celana trainingnya sesuatu mulai menggelembung.

”Ba.. bagus… tante..” katanya dengan suara serak agak berbisik.

”Aku berdiri memunggunginya, kedua tangannya kutarik memelukku dari belakang memegang payudaraku dan terasa dipantatku kalau kemaluannya menegang hebat.

Kubawa tangannya turun ke perut masuk kedalam celana dalamku, dan ketika tangannya yang terus ’kutuntun’ menyentuh vaginaku ia seperti kena stroom, tergetar.

Agak lama kami berada dalam posisi itu dan aku menikmati rangsangan yang datang dalam diriku, lalu kulepaskan tangannya, menurunkan celana dalamku dan berbalik menghadapinya telanjang bulat.

”Gimana…, ada yang udah kurang bagus Roy?” tanyaku.

“Ngg.. nggak tante.., tante cantik sekali..” katanya menatap tubuhku dan wajahnya agak berkeringat.

”Katanya kalau cowok melihat wanita cantik, ’itunya’ bangun.. kalau memang nggak bohong.. ayo.. mana tante mau lihat kamu juga, ntar kamu cuma nyenengin tante aja..,” kataku sambil maju dan mulai melepaskan celana dan kaos yang dikenakannya.

”Nanti.. kalau oom datang.. tante..”, katanya sambil berusaha mundur.
”Ah.., nggak Oom kalau mau datang pasti telepon dulu, lagian kalau udah urusan mobil nggak kenal waktu..” dan dengan cekatan tanganku membantu melepaskan kaos yang dikenakannya menyusul training sekaligus celana dalamnya turun terlepas, dan ’praang..,” kemaluan yang tegang itu seakan meloncat keluar, ketika celananya turun.

Kini kami berdua berdiri berhadapan telanjang bulat dan tanpa basa basi lagi kugenggam kemaluan anak muda yang lumayan besar ukurannya itu, aku merapat, mendongak karena ia memang lebih tinggi dariku kuraih kepalanya dengan tanganku yang satunya dan sekejab kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku.

Roy sungguh masih polos, maka aku berusaha menjadi ’guru’ yang baik, lidahku menerobos rongga mulutnya mencari lidahnya dan ternyata ia murid yang pandai.., karena beberapa saat kemudian sudah bisa mengimbangi ciuman-ciuman yang kulakukan.

Kurebahkan ia di sofa, mulai kucium lehernya, terus turun ke dadanya, kumainkan dan kuhisap putingnya, turun keperutnya dan ia cuma bisa mendesah dan mendesah.., lidahku terus turun kebawah, ketika mencapai batangnya sengaja kulewati dulu, kujilat sekilas bijinya, dan ia menggelinjang hebat, ketika kulirik kepala kemaluannya sudah mengeluarkan cairan bening.., kukecup dan kujilat, lalu aku mulai menjilat pahanya, lututnya dan ketika naik kembali ke pahanya kemaluannya yang kugenggam berdenyut dahsyat., hm… anak ini belum pernah bercinta pikirku., aku masih bermain dan mulai dengan bijinya, kujilat dan sesekali batangnya kujilat dari bawah keatas, beberapa kali seperti itu, baru kepala kemaluannya kumasukan dalam mulutku dan benar saja, baru dua atau tiga kali kuhisap, ia berteriak, menggelinjang dan dengan denyutan yang terasa sekali di batang kemaluannya anak muda berusai 18 tahun itu melepaskan air maninya dalam mulutku, gurih, agak asin, manis dan hangat., dan.. banyak sekali sehingga harus beberapa menelan untuk meminum tuntas dan ia terkapar lemas.

Melihat sensasi yang diterimanya aku tersenyum puas, namun vaginaku sendiri juga terasa hangat, kutekan dadanya saat ia mau bangkit,

”Santai..saja.., minum dulu ya?”

Kataku..

”Dan jangan pakai baju..” kataku lagi lalu berjalan bugil ke dapur dengan buah dadaku bergoyang goyang.

Kubiarkan ia bersantai sejenak, lalu kujak kekamarnya.

Dasar anak muda, belum sampai seperempat jam kemaluannya sudah mulai bangkit lagi.

Kini ia yang mulai berani menciumku lalu lidahnya mulai mencari puting payudaraku, kadang ku’ajari’, supaya jangan terlalu keras menghisap dan ketika lidahnya sampai di vaginaku, aku benar-benar harus mengajarinya karena terkadang akibat nafsu yang sangat klitorisku beberapa kali kena giginya,

“Aw.., aduh.., yang lembut sayang…, ya pakai lidah kamu, nah…gitu, hh…yah terusin” dan sebagai ’murid’ yang pandai sebentar saja ia sudah menguasai mata pelajarannya.

Kini dengan posisi diatas kuarahkan kemaluannya memasuki lubang vaginaku dan sebentar kemudian aku sudah mengendarainya.

Permainan kali ini agak lama, maklum ia sudah keluar banyak sekali tadi, dan malah aku yang tidak tahan..

”Ah…tante keluar..ah…” namun ia tetap saja bergerak.

Lelah dengan posisi itu apalagi aku sudah klimax, aku sekarang dibawah dan dengan tidak sabar ia mengarahkan lagi kemaluannya memasuki vaginaku dan bless…, dengan keras dihunjamnya hingga habis batangnya terbenam dalam vaginaku, aku tidak banyak bereaksi menunggu redanya klimax yang baru kurasakan, karena aku nggak mau menjadi ngilu kalau banyak bergerak.

Kecipak dan suara lain yang keluar dari kemaluan kami benar-benar menambah erotis suasana, dan setelah beberapa lama kurasakan getaran-getaranku mulai kembali dan kini aku mulai mengayunkan pinggulku mengimbangi gerak naik turun pinggul Roy diatasku. Bibir kami saling berpagutan dan tubuh kami di penuhi keringat yang mengucur dan setelah mati-matian aku coba bertahan akhirnya kurasakan kalau ia juga sudah mulai mendekati puncak, dan……

”Sama.. sama… Roy… sama-sama….. dan… ahh… kali ini berbarengan aku klimax dan Roy menyemburkan maninya dalam vaginaku.., masih hampir sama banyaknya dengan yang pertama.., sungguh….. kalau masih muda….

Setelah kubiarkan kemaluan Roy ’terendam’ cukup lama, akhirnya ia tergeletak lemas dan…….. langsung tertidur.., akupun tidak mengganggunya.

Sore hari kami bangun, lalu mandi bersama, sambil mandi dan saling menyabuni kemaluan Roy sudah tegak lagi namun kali ini aku tidak mau bersetubuh, karena masih harus ’kusisakan’ untuk suamiku malam nanti.., jadi setelah mandi sekali lagi kugunakan mulutku dan kali ini ’pelajaran’ kutambah, ia kusuruh telentang, kuganjal pinggulnya dengan bantal, dan sesekali kuangkat kakinya tingi-tinggi dan lidahku menjilati anusnya, sampai ia tergelinjang dengan hebatnya, dan saat ia menyemburkan lagi maninya, benar-benar kunikmati air mani yang hangat dan kuminum tak bersisa.

Sampai disini mendengar cerita istriku aku tak tahan lagi kutarik kepalanya, kucium bibirnya dan kudorong kepalanya ke arah kemaluanku yang sudah tegang dan mulut hangatnya segera menyambutnya.

Dengan posisi duduk diranjang dan aku berdiri dihadapannya, kumaju mundurkan kemaluanku dalam mulut Anita yang dengan mahirnya ia imbangi dengan hisapan dan kulumannya

Aku tak bertahan lama, dengan satu erangan kucoba membenamkan sedalam mungkin dan

”Aaahhh…” kurasakan air maniku menyembur dengan denyut yang keras sekali, dan… ketika kulepaskan dari mulut istriku tiada setetespun yang tersisa, memang entah mengapa Anita suka sekali meminum air mani laki laki, dan kadang bersetubuh saja tidak cukup memuaskannya kalau belum menikmati limpahan air mani dalam mulutnya.

Aku hanya diberikan istirahat sebentar dan istriku sudah mulai lagi ’menyerangku’ yang kali ini diakhiri dengan memenuhi kembali vaginanya yang tadi sepanjang siang baru saja diisi oleh Roy.

Paginya seperti biasa, kami sarapan dan pergi sight seeing, kembali ke apartment menjelang sore, kali ini Anita sudah punya rencana lain, apalagi malam ini adalah malam terakhir kami di Singapore.

Sesuai kesepakatan, setelah makan malam, aku pura-pura mengeluh sakit kepala, minta obat dan pamit tidur, jam menunjukan menjelang pk. 21.00.

Aku masuk kamar, mematikan lampu namun sengaja pintu tidak kurapatkan sehingga aku bisa memandang ruang tamu dengan leluasa dan kulihat Anita duduk berdampingan dengan Roy menonton acara TV.

Sekitar lima belas menit kemudian kulihat keduanya sudah mulai berciuman saling memagut, dan ketika Roy lamat-lamat kudengar menanyakanku istriku menjawab

”Tenang… saja…, Oom udah pulas kok”, namun istriku menolak ketika Roy mengajak kekamarnya.

”Nggak, kita disini aja, kalau dikamar tante nggak bisa memantau nanti kalau misalnya dipanggil” dan sesaat kemudian mereka sudah telanjang bulat.

Disofa yang cukup lebar itu mereka mengambil poisi 69, istriku dibawah dengan kaki terbuka lebar yang satu mengait disandaran sofa dan satunya menjuntai kelantai memberi akses yang seluas-luasnya kepada Roy, sementara kemaluan anak muda itu sudah di mulut istriku.

Roy tidak mampu bertahan lama, digerakannya pinggulnya naik turun dan dengan diiringi erangan Roy, istriku berusaha keras agar semua yang dikeluarkannya tidak terbuang diluar mulutnya, namun selain jumlahnya banyak, posisinya juga kurang pas sehingga air mani anak muda membasahi juga pipinya, yang lalu dengan telunjuknya disapunya dan dimasukan ke mulutnya, matanya melirik ke kamar yang dia tahu aku pasti sedang menonton shownya.

Posisi doggy style yang mereka lakukan menimbulkan suara-suara yang seru dan keplok-keplok biji Roy yang mengenai pantat Anita juga menimbulkan irama tersendiri, berganti-ganti posisi yang mereka lakukan dan akhirnya Roy, si anak muda itu melenguh panjang dan menumpahkan isinya dalam vagina istriku.

Mereka diam sejenak lalu Roy membawa pakaiannya dan melangkah gontai ke kamarnya sementara dengan menenteng semua pakaiannya dan masih tetap telanjang bulat dengan vagina yang masih dipenuhi air mani Roy, Anita melangkah ke kamar kami.

Suasana dalam kamar yang gelap membuatku tidak jelas melihat wajah istriku, namun saat kami berpelukan aku merasakan aroma air mani saat mencium mulut istriku, lalu tiba-tiba ia mendorongku keranjang, memposisikan vaginanya, kemaluanku langsung memasuki vagina yang masih penuh dengan air mani Roy, hangat dan sensasional menurutku.

Paginya kami berkemas, aku masih sempat memberi kesempatan Anita menuntaskan hasratnya sekali lagi dengan Roy, dan kamipun kembali ke Jakarta, Liburan yang menyenangkan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: