Memuaskan Bunga SMA

18 05 2009
Suatu siang aku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan buat refresing…. ya.. liat-liat cewek cantik. Begitu aku lagi liat kiri kanan.. eee.. tak taunya seseorang menubrukku. Wanita ini sepertinya habis belanja banyak dan tergesa-gesa hingga tak tahunya menubruk orang.

Begitu bertabrakan… aku langsung membantu memberesi barang-barangnya yang berserakan. Tak lupa kuucapkan permintaan maafku padanya karena tak sengaja menabraknya…. walau sebenarnya dialah yang harus minta maaf padaku.

“Maaf.. mbak… nggak sengaja nih…” kataku padanya.

“Ya… nggak apa-apa lagi…. oya.. kamu Andy kan….” katanya padaku.

“Iya.. saya Andy…. dan mbak siapa ya… kok tahu nama saya”

“Kamu nggak ingat sama aku ya… teman SMA kamu… yang suka jahilin kamu….” katanya padaku.

“Siapa ya…. eeeee…. maaf … Rani ya…. Si Bunga SMA“

“Tepat sekali…. tapi tadi kok kamu manggil aku mbak seh…”

“Maaf deh…. abis aku nggak tau siapa kamu..”

“Kenapa.. lupa ya sama aku…. atau emang udah dilupain ya…”

“Ya.. gimana ya.. kamu cantik banget.. beda dengan yang dulu..” kataku sedikit memujinya.

“Ahk kamu…. biasa aja kok…” katanya sambil tersipu malu.

“Oh ya…. kita ke kafe yuk.. buat ngerayain pertemuan kita ini…”

“Ok deh… tapi kamu yang traktir aku ya… abis aku lagi bokek nih” kataku padanya.

“Ya.. nggak masalah lagi….”

Aku dan Rani pergi ke kafe langganannya Rani. Sampai disana kami memilih meja yang paling pojok. Suasana di dalam kafe ini sangat sejuk dan nyaman… membuat orang yang berada didalamnya betah untuk duduk berlama-lama.

“Gimana kabar kamu sekarang Andy….. udah berkeluarga ya…” tanya Rani padaku.

“Aku seh baik-baik aja…. masih sendiri lagi…. masih kepengen bebas”

“Kalau kamu gimana…. udah berkeluarga ya….” tanyaku padanya.

“Aku udah married…. udah 3 tahun”

“Asyik dunk…. trus suami kamu mana… kok pergi sendirian…. nggak takut digodain sama lelaki iseng”

“Ah kamu.. biasa aja lagi…. laki aku lagi ke LN… urusan bisnis katanya” “Eh… ayo makan.. kok di diamin aja nih”

Kamipun akhirnya menyantap hidangan yang telah tersedia. Habis makan, kami jalan-jalan dan pulang kerumah masing-masing

Beberapa hari kemudian…. Rani mengirim SMS ke HP-ku…. isinya mengajak aku untuk main ke rumahnya. SMS-nya kubalas…. dan aku tanyakan dimana alamat rumahnya. Beberapa menit kemudian, Rani membalas SMS-ku dan menyebutkan alamat rumahnya.

Aku berangkat ke rumah Rani… si bunga SMA. Tak lama kemudian aku sampai di depan rumah mewah. Kubaca kembali alamat yang diberikan oleh Rani dan kucocokkan dengan nomor rumah yang tertera didepan pintu.

Pass… memang benar ini rumahnya. Kutekan bel yang ada didepanku. Beberapa saat kemudian pintu pagar terbuka dengan sendirinya. Aku masuk, pintu pagarpun ikut tertutup dengan sendirinya. Aku berjalan menuju teras depan dan Rani telah menungguku disana.

“Hii..gimana kabar kamu sekarang….” sapanya padaku.

“Baik saja nih…. kamu gimana… kok sepi amat seh… pada kemana nih”

“Iya nih… nggak ada siapa-siapa nih dirumah… jadi kesepian makanya aku undang kamu kesini buat nemenin aku…”

“Nggak salah nih ntar suami kamu marah lagi”

“Ah.. nggak apa-apa lagi…. dia lagi di LN sekarang nih…”

“Yuk.. masuk…. kita ngobrol di dalam aja deh”

Kamipun masuk kedalam rumahnya Rani. Wah…. benar-benar mewah nih rumah..semua perabotannya sangat mengagumkan.

“Mari.. silahkan duduk…. jangan malu-malu.. anggap saja seperti rumah sendiri”

“Thank’s….”dan akupun duduk

“Oya.. mau minum apa nih…. panas, dingin atau yang hangat..” kata si Nyonya rumah.

“Jadi bingung nih..milihnya …” kataku padanya.

“Ya…kalau yang panas… teh sama kopi, trus kalau mau yang dingin.. ada soft drink..” balas si Rani.

“Trus kalau aku milih yang hangat gimana” tanyaku lagi.

“Ya… ada deh…” kata Rani sedikit genit.

“Ok deh… kalau gitu.. aku minta yang hangat aja deh” kataku coba menggodanya.

“Ah.. kamu ini bisa aja…. ntar kalau aku kasih kamu nggak susah nanti”

“Ya..tergantung yang ngasih dunk…”

Rani bangkit dari duduknya ….

”Bentar ya …aku ke belakang dulu”

Ia pergi meninggalkanku diruang tamu yang mewah itu. Rani kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa dua gelas jus orange. Dia meletakkannya di atas meja.

“Lho..tadi katanya yang hangat.. kok yang itu seh” kataku padanya.

“Yang hangat ntar…. so pasti aku kasih deh”

Akupun duduk kembali.

“Ran…rumah kamu bagus banget deh…. semuanya kamu punya… so pasti kamu bahagia dong dengan suami kamu….”

“Ah ..siapa bilang.. dari luarnya saja aku keliatan bahagia” katanya mulai serius.

“Memang semuanya aku punya tapi khan itu nggak menjamin aku bahagia”

“Bayangin aja deh.. dalam satu bulan palingan suamiku 3 hari ada dirumah”

“Selebihnya ..ya kesana kemari.. ngurusin bisnis keluarganya yang segudang itu…jadi kamu bisa bayangin deh.. betapa aku sangat kesepian..”

Rani mulai menceritakan semua keluhan yang ada dalam dirinya. Kucoba memahami setiap jalan ceritanya sambil sesekali mataku nakal melirik bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan sekali.

Saat itu,Rani mengenakan kaos yang cukup ketat sekali sehingga mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sangat indah itu. Dibalik kaos ketat lengan pendek itu sepertinya Rani tak mengenakan Bra itu terlihat dari tonjolan kecil dipuncak dadanya yang padat dan berisi. Perlahan terasa sesuatu bergerak nakal dari balik celana yang kukenakan.

Rani bangkit dari duduknya dan pindah disampingku. Tercium bau harum parfumnya yang sangat mengundang gairah.

“Ndy.. aku kangen banget deh sama kamu….” katanya padaku.

“Oya…”kataku padanya.

“Iya nih…. apalagi sama…….” katanya terputus.

“Sama apa seh Ran…..”

“Sama….. sama ini nih….” katanya sambil meletakkan tangannya diatas gundukan batang kejantananku.

Kontan saja aku terkejut mendengar penuturannya yang begitu spontan walau sebenarnya aku juga menginginkannya.

Karena tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, Rani tak memindahkan tangannya dari atas selangkanganku.. malah sebaliknya dia mengelus pelan batang kejantananku yang masih tersembunyi dibalik celana panjang yang kukenakan.

Perlahan mukaku dan muka Rani makin mendekat. Rani memejamkan matanya sambil merekahkan bibirnya padaku. Kukecup bibirnya yang merah itu. Mulutku bermain dimulutnya yang mungil dan seksi. Sesekali lidahku berpilin dengan lidahnya. Rani sangat bergairah sekali menyambut ciuman bibirku dibibirnya.

Sementara itu tanganku tak tinggal diam. Kucoba meraba dua bukit kembar yang tumbuh didadanya. Begitu hangat, padat dan berisi. Terasa sangat halus sekali kulit dadanya Rani. Dua puncak dadanya yang mulai mengeras tak luput dari remasan tanganku. Dan tangan Rani semakin liar bergerilya diatas gundukan batang kejantananku yang mulai mengeras.

Rani beranjak dari tempat duduknya. Perlahan ia mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya. Hingga akhirnya tak sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya. Kuperhatikan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Begitu sangat sempurna sekali. Dua gundukan bulat menggantung didadanya ditambah dengan bukit kecil yang ditumbuhi bulu hitam yang lebat menandakan kalau Rani type wanita haus seks.

Rani kembali duduk bersimpuh dihadapanku. Kali ini ia mulai membuka celana panjang yang masih kukenakan. Begitu celanaku terbuka.. nongollah batang kejantananku yang mulai mengeras dibalik celana dalamku. Namun tak berselang lama celana dalamku pun telah terbuka dan tinggallah penisku yang tegak bak torpedo yang siap meluncur.

Tangannya yang halus itu mulai membelai batang kejantananku. Lama kelamaan ukurannya makin membesar. Rani mulai menjilat ujung kepala penisku. Mulutnya yang mungil itu menjilati permukaan kulit batang kejantananku hingga sampai kedua buah biji pelerku. Beberapa saat lamanya Rani menikmati batang kejantananku dengam ciuman-ciuman yang sangat menggetarkan persendianku. Sementara kedua tanganku meremasi kepalanya. Hingga sesuatu terasa berdenyut dibatang kejantananku. Sesuatu yang ingin muncrat dari ujung kepala penisku. Aku semakin kuat menjambak rambutnya Rani dan menekannya kedalam hingga ujung kepala penisku menyentuh ujung tenggorokannya.

“Akhhh..Ran.. aku mau keluar nih” erangku padanya.

Beberapa detik kemudian spermaku tumpah didalam mulutnya Rani. Tanpa merasa jijik sedikitpun Rani menelan setiap tetes spermaku. Dan sambil tersenyum. Rani menjilati sisa-sisa sperma yang masih tersisa dibatang kemaluanku.

Beberapa saat kamipun istirahat setelah aku mencapai orgasme yang pertama. Kemudian aku berdiri dan mengangkat tubuh montok Rani dan merebahkannya diatas sofa yang empuk. Kini tiba saatnya bagiku untuk memulai babak permainan berikutnya. Aku membuka kedua kaki Rani lebar-lebar. Kudekatkan wajahku kepermukaan perutnya yang datar. Dengan penuh nafsu aku menjilati setiap permuakaan kulit perutnya yang halus itu. Rani menggelinjang hebat merasakan jilatan bibirku dipermukaan kulit perutnya yang ramping.

Rani merasakan dirinya seolah terbang ke sorga kenikmatan saat ujung-ujung lidahku mengelitik organ-organ sensitifnya. Ia melupakan sejenak bayangan suaminya yang saat ini sedang berada diluar negri. Baginya, kenikmatan yang kuberikan padanya tak ada bandingnya dengan limpahan materi yang diberikan oleh suaminya. Desahan, erangan dan jeritan Rani makin menbuatku bersemangat menusuk-nusuk permukaan Vaginanya dengan ujung lidahku.

“Sayang…. cepet dunk masukin punyamu ke memek aku…. udah nggak kuat nih” rengeknya padaku.

Akupun memenuhi permintaan Rani yang sudah tidak tahan menunggu batang kejantananku yang tegang dan mengeras untuk masuk kedalam vaginanya Rani.

Aku memegang batang kejantananku dan mengocoknya sebentar kemudian mengarahkannya ke lubang vagina Rani.

Aku mulai maju mendorong pantatnya Rani. Beberapa kali kucoba selalu meleset. Mungkin karena ukuran senjataku yang cukup besar hingga sulit untuk menembus lubang vaginanya yang rapet. Namun setelah beberapa kali mencoba, akhirnya batang kejantananku masuk menembus lubang memeknya Rani. Tanpa membuang waktu lagi, kugerakkan pantatku maju mundur menusuk memeknya Rani. Dengan penuh nafsu, Rani menikmati gerakan penisku yang maju mundur menusuk vaginanya. Desiran dan desahan beriringan keluar dari mulutnya yang mungil itu. Rani mengimbangi gerakanku dengan memaju mundurkan pantatnya yang bahenol itu.

Sekitar tiga puluh menit berlalu, Rani merasakan akan mencapai klimaks. Rani mengangkat pantatnya dan menggelinjang hebat. Wajahnya berubah ganas, matanya mendelik saat puncak kenikmatan itu datang. Aku tahu kalau Rani akan mencapai klimaknya. Kupercepat gerakan pantatku menusuk vaginanya sampai akhirnya puncak kenikmatannya datang. Rani mendekap erat tubuhku, vaginanya berkedut-kedut menjepit batang kejantananku. Cairan hangat dan kental merembesi dinding vaginanya. Orgasme yang beruntun telah dialami Rani si bunga SMA.

Untuk beberapa saat.. kubiarkan Rani menikmati sisa-sisa orgasmenya  sebelum kami melanjutkan permainan yang berikutnya. Perlahan Rani bangkit dari tidurnya dan duduk diatas sofa empuk itu. Akupun duduk di sampingnya. Tanganku singgah digundukan vagina yang ditumbuhi rambut halus itu. Kubelai perlahan untuk membangkitkan kembali gairah wanita cantik yang ada disampingku ini. Perlahan terdengar desahan lembut dari mulut Rani. Sementara itu mulutku tak lepas dari dua puncak mungil di dadanya.

Merasa sudah tepat saatnya bagiku untuk menuntaskan permainan ini… kuangkat Rani dan kududukkan ia diatas pahaku. Posisinya kini tepat berada diatas pangkuanku, sehingga dua buah dadanya yang padat membusung tepat berada didepan mulutku. Kugosok-gosok ujung penisku kemulut vaginanya. Kutekan ujung penisku hingga amblas masuk kedalam vaginanya. Kudiamkan perlahan, kunikmati beberapa saat kontolku bersarang dalam memeknya Rani.

Perlahan kugerakkan pantatku naik turun menusuk lubang kemaluannya Rani. Gerakanku makin lama semakin cepat membuat tubuh Rani bergoyang-goyang diatas pangkuanku. Terdengar erangan kenikmatan dari mulut Rani. Beberapa kali ia harus memekik kecil tatkala penisku yang makin membesar menyentuh ujung rahimnya. Sementara dua buah gundukan didadanya bergoyang-goyang tak karuan. Kedua tanganku meraih dua gundukan itu dan meremasnya perlahan.

Beberapa menit kemudian terasa sesuatu menyesak dalam batang kejantananku. Mungkin tiba saatmya bagiku untuk orgasme. Dengan diiringi desahan panjang secara bersamaan, aku dan Rani mencapai orgasme. Kusemprotkan spermaku yang hangat didalan vagina Rani. Beberapa saat kemudian Ranipun menyusul. Cairan hangat merembesi dinding vaginanya yang hangat itu. Aku mencabut batang kejantananku dari dalam vaginanya Rani.

Dengan cepat Rani jongkok diselangkanagnku dan menjilat sisa-sisa sperma yang masih menempel dipenisku.

Sesaat kemudian Rani tersenyum padaku. Senyum penuh kepuasan… yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya tersayang. Aku bangkit dan mengenakan kembali pakaianku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Akupun pamit pada Rani.

Namun sebelum aku pergi meninggalkam rumah Rani, ia memberikan sesuatu buatku sebagai hadiah. Sebuah handphone terbaru dan motor besar. Semula aku menolak pemberiannya namun ia berharap sekali aku menerima pemberiannya itu. Demi menghibur hatinya Rani, kuterima hadiah yang bagiku cukup besar sekali. Kupergi meninggalkan Rani dengan membawa handphone dan sebuah motor besar. Hadiah yang mungkin lebih kecil jika dibandingkan dengan kenikmatan seks yang kudapatkan hari ini dan bahkan akan kudapatkan hari-hari berikutnya bersama wanita cantik yang pernah menjadi Bunga SMA.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: