Nakalnya istriku disaat pesta pernikahan temenku

19 05 2009

“Sayang cepatlah sedikit, pernikahannya setengah jam lagi,” teriak Frank Hutapea sambil menggedor pintu kamar mandi.

“Aku tak tahu bagaimana penuhnya parkiran di gereja nanti, aku mau sampai disana secepatnya biar dapat tempat,” tambahnya sambil melirik pada jam tangannya.
“Lima menit lagi aku sudah selesai sayang. Kamu tunggu saja dibawah,” jawab suara dari dalam kamar mandi.
“Ok tapi jangan terlalu lama,” jawab Frank sambil pergi meninggalkan kamar mandi dan turun ke lantai bawah.

Annie Hutapea selesai menyisir rambut sebahunya dan mengoleskan lipstick ke bibirnya, kemudian dia mundur ke belakang untuk mengamati dandanannya dalam bayangan cermin. Mantan juara renang saat duduk di bangku kuliah yang sekarang berusia 33 tahun ini tetap memiliki bentuk tubuh yang terjaga berkat 25 lap yang dia lalap setiap harinya di club renang terdekat dan berkat pekerjaannya sebagai pelatih renang pribadi.

You still have it girl, pujinya pada dirinya sendiri saat dia memandangi paha jenjangnya, pantanya yang masih kencang dan pinggulnya yang menggoda. Suasana hatinya sangat riang hari ini dan dia putuskan untuk memakai thong-nya yang berwarna hitam dan tercetak tepat pada bongkahan pantat bulatnya, beserta setelan bra-nya yang seakan tak mampu menampung kekenyalan buah dadanya.

Dia dan Frank bertemu dibangku kuliah dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Frank termasuk dalam tim basket sedangkan dia adalah perenang paling dominan dalam tim renang. Hingga suatu ketika keduanya berada dalam pesta liar bersama teman-temannya pada suatu malam dan pesta tersebut diekspos dalam koran kampus keesokan harinya. Pihak kampus yang merasa kejadian tersebut berdampak sangat buruk bagi nama baik mereka akhirnya memutuskan untuk menskors sementara nama-nama yang berada dalam pesta tersebut. Annie merasa sangat terpukul tapi kejadian tersebut membuat dia dan Frank semakin bertambah dekat, hingga akhirnya saat wisuda Frank melamar Annie untuk menjadi isterinya.

Annie menerimanya dengan sukacita dan 5 tahun berselang tanpa pernah ada rasa penyesalan dalam dirinya. Dengan jabatan Frank sebagai salah satu top direksi pada sebuah Bank terkemuka membuat hidup keduanya berada dalam bagian kota yang sangat nyaman. Bagian kota dimana setiap halamannya nampak hijau asri dan pada setiap garasi rumahnya terparkir mobil mewah.

Pesta pernikahan yang akan mereka hadiri kali ini adalah pernikahan salah satu sahabat Frank dimasa kuliah dulu dan Annie tahu apa yang akan menantinya dipesta nanti. Suaminya akan menghabiskan seluruh malam bercerita tentang tim basket mereka dan dia akan duduk dan mendengarkan para isteri saling memperbandingkan tentang prestasi anak dan suami mereka.

Hari ini akan lain ceritanya, dia yakinkan pada dirinya sendiri dan memutuskan untuk berpakaian seperti ini agar mendapat seluruh perhatian dari suaminya.

Dia berjalan menuju closet dan mengambil gaunnya lalu sekali lagi mengamati bayangan dirinya dalam cermin. Gaun merahnya menempel ditubuhnya seakan kulit kedua. Dengan belahan dada yang rendah membuat belahan dadanya yang membusung nampak sangat menggoda, sedangkan bagian bawah gaunnya yang hanya sampai diatas lututnya memperlihatkan keindahan lekuk pantatnya. Setelah merasa puas dengan dandanannya dia berjalan menuju ke lantai bawah untuk menyusul suaminya.

“Wow Annie you look beautiful. Kamu tahu kalau melihatmu memakai gaun ini selalu membuatku gila,” puji Frank seraya tangannya meremas pantat isterinya dengan lembut.

“Yes I know lover, itu pointnya. Membuat semua pria merasa jealous karena tak dapat memilikiku,” jawab Annie sambil tangannya mengelus selangkangan Frank.

Frank mulai merasa terangsang tapi sang waktu telah mendesak dan dia berbisik ditelinga isterinya

“Akan kuurus kamu nanti.”

Annie menggandeng lengan Frank saat keduanya berjalan keluar menuju mobil dan menjawab

“Kupegang janjimu sayang.”

Upacara pernikahannya digelar di gereja di pinggiran kota dan dihadiri tak kurang dari 200 orang pikir Annie saat dia duduk disamping suaminya. Gaun yang dia kenakan nampak berefek pada Frank dan setiap pria dalam pernikahan tersebut karena nampak mereka melirik kearahnya saat dia menaruh pantatnya di atas bangku gereja.

Upacara pernikahannya berlangsung kurang lebih selama 1 jam dan hampir diakhir acara, AC dalam ruangan tersebut mengalami kerusakan. Membuat suhu di dalam ruangan memanas. Butiran keringat nampak mulai menetes didahi orang-orang dan booklet pernikahan sudah beralih fungsi menjadi kipas tangan. Siksaan tersebut akhirnya usai setelah rangkaian upacara pernikahan tersebut rampung dan orang-orang berjalan keluar menuju ke mobil masing-masing untuk pergi ke gedung resepsi. Efek dari kondisi lembab pada gaun Annie membuatnya semakin melekat erat pada lekuk tubuhnya yang mana memancing rasa tak suka dari para wanita yang hadir. Membuat kebanyakan mereka menilai bahwa gaun yang dia kenakan terlihat murahan.

Pesta resespsinya digelar di gedung yang terletak tak jauh dari gereja tadi dan saat Annie mulai memasuki ruangan tersebut, perhatian yang dia peroleh dari para pria sangatlah tergambar jelas. Para pria saling berlomba untuk memperkenalkan diri pada keduanya, beberapa teman Frank yang telah tak berjumpa selam 5 tahun lebih mendekati mereka dan bertingkah seakan sangatlah akrab pada mereka.

“Lihatlah sayang, mereka semua pikir kalau aku adalah wanita simpananmu. Setiap pria disini ingin naik ke ranjang denganku,” bisik Annie ditelinga suaminya saat keduanya berjalan menuju meja.

Setelah acara minum berselang, tibalah kini saatnya sang pengantin memasuki ruangan dan orang-orang mulai berdansa. Annie telah minum beberapa gelas tadi dan sekarang tubuhnya merasa sangat hangat dan mellow kala dia berdansa dengan suaminya. Lagu yang diputar adalah up tempo dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan menari dengan sangat menggoda, tubuhnya meliuk naik turun bergesekan dengan tubuh Frank.

Hingga tibalah saat dinner dan semua orang kembali ke mejanya masing-masing. Acara dinner tersebut berlangsung kurang lebih sekitar 1 jam dan selama rentang waktu tersebut Annie sudah pergi ke bar lebih dari 3 kali dan saat nampan-nampan tiba gilirannya dibersihkan, kondisinya sudah lebih dari agak mabuk. Beberapa teman suaminya menghampiri mereka dan saat mereka saling asik bercerita tentang masa kuliahnya, Annie mendapati dirinya berada diluar percakapan. Suara musik berkumandang kembali dan Annie mencoba mengajak suaminya untuk berdansa lagi.

Setelah beberapa lagu berganti dan suaminya hanya mau menemaninya dansa sebentar saja, Annie mulai merasa sangat bosan, seorang pria muda mendekatinya dan menyapa

“Boleh mengajak anda dansa Nyonya?”

Annie menatapnya dan menjawab

“Kamu adik si pengantin pria. Billy?”

Dia tersenyum dan menjawab

“Bukan, Bobby. Tapi anda hampir benar.”

“Sorry Bobby, tapi aku dengan suamiku,” jawabnya ramah.

Bobby menoleh ke arah suami Annie dan melihat kalau sang suami nampak sedang begitu asik dengan obrolan tentang kisah yang mungkin sudah terjadi 20 tahun lalu.

“Wow anda akan sangat membuatku kecewa dipesta pernikahan kakakku. Itu akan membuatku sedih,” jawabnya seraya menyuguhkan mimik muka menghiba.

Annie menatap pria muda ini dan dengan cepat menjawab

“Oh aku tak bermaksud begitu Bobby. I’m sorry, aku hanya bermaksud kalau aku sudah menikah. That’s all.”

Bobby membalas tatapan mata Annie dan tersenyum manis dan untuk beberap kejap Annie merasa tenggelam dalam tatapan matanya itu. Dalam hatinya berkata pria ini begitu muda.

“Aku cuma bercanda, tapi bolehkah aku berdansa dengan nyonya sekali saja? Nyonya boleh meminta ijin pada suami dan kalau dia tidak mengijinkan, lupakan saja.”

Annie tertawa dan menjawab

“Baiklah anak muda, tunggu disini.”

Saat Annie meminta ijin pada suaminya, responnya hanya

“Tentu saja boleh sayang, bersenang-senanglah.”

Lalu keduanya berjalan ke lantai dansa dan setelah lagu pertama berlalu, lagu kedua berganti dengan irama yang slow.

Saat mereka berdansa Annie melempar pertanyaan pada Bobby

“So Bobby, ceritakan padaku tentang dirimu dan jangan panggil aku nyonya atau ber-anda–saya denganku, itu membuatku merasa sangat tua. Panggil aku Annie saja.”

Bobby membimbing Annie di atas lantai dansa dan menjawab

“Ok Annie, umurku 18 tahun, disekolah aku ikut tim basket, sepak bola dan sesekali ikut renang juga.”

Hal terakhir tersebut menarik perhatian Annie dan dia menanyakan dalam gaya apa Bobby berenang seraya mereka terus berdansa.

“Oh 50, 100, and 400 freestyle and the 100 butterfly,” jawab Bobby.

Mata Annie membesar dan dia mulai penasaran

“Aku berenang di 400 freestyle dan 100 butterfly saat kuliah dulu. Record waktumu berapa?”

“Oh mungkin tak sebagus waktumu. Aku tak begitu bagus,” jawabnya.

“Oh well kamu masih SMU. Kamu masih punya kesempatan untuk bertambah kuat dan memperbaiki waktumu,” jawab Annie seraya meremas bahu Bobby dan dia sadari kalau bahu pria muda ini lumayan kekar.

Alunan lagunya usai dan berganti dengan lagu berirama cepat, Annie melangkah kembali ke mejanya, tapi Bobby berkata

“Kamu sudah kecapaian, aku pikir kamu tadi bilang kalau kamu seorang perenang?”

Mendengar itu Annie berbalik arah dan mulai berdansa kembali dengan Bobby dan mulai berdansa dengan gerakan yang lebih dan lebih menggoda. Seorang pramusaji mendekat dengan membawa minuman dan Bobby mengambilkan minuman untuk Annie yang terus bergerak mengikuti irama lagu.

Dengan cepat Annie meneguk minuman yang disodorkan Bobby dan berkata

“Ayo Bobby coba kalahkan aku.”

Bobby meneguk minumannya dan mengambil dua gelas lagi untuk mereka dan keduanya menenggaknya dengan cepat pula.

“Hey kamu belum cukup umur,” kata Annie saat mereka kembali berdansa.

Lalu dia mendekatkan tubuhnya kearah Bobby dan berbisik ditelingany.

“Jangan takut Bobby. Aku tak akan bilang-bilang,” bisik Annie sambil menggodanya dengan memberikan sebuah remasan ringan pada pantat Bobby.

Penis Bobby terlonjak tiba-tiba saat Annie melakukan hal tersebut dan semakin bertambah membesar saat dia melihat buah dada Annie terayun mengikuti lenggokan tubuhnya yang meliuk dengan sangat menggoda diatas lantai dansa. Gaunnya kini benar-benar basah oleh peluhnya saat dia terus meliukkan tubuhnya dan mulai memegangi buah dadanya lalu menggesekkannya ke tubuh Bobby. Setelah lagu usai Annie merasa kelelahan lalu dia melangkah kembali ke mejanya, namun suaminya masih tersangkut dalam percakapan dengan para sahabatnya. Annie merasa sangat bosan dan saat satu lagu baru berkumandang kembali dan Bobby mengajaknya untuk kembali berdansa dengannya, dia menerimanya.

Kali ini lagunya berirama slow dan kala mereka mulai berdansa Annie merebahkan kepalanya di dada Bobby dan begitu Bobby menghirup parfum yang dikenakan Annie serta sentuhan tubuhnya, batang penisnya kembali mulai membesar. Annie menyandarkan tubuhnya pada Bobby dan dia hirup aroma lelaki dari aftershave-nya, merasakan kekarnya lengan Bobby yang memeluk tubuhnya, dan dia mulai merasa bergairah. Sebuah lagu slow baru mengalun dan keduanya tetap berpelukan. Batang penisnya semakin bertambah membesar dan mulai menusuk tubuh Annie. Annie meresponnya dengan sebuah desahan pelan dan mulai menggesekkan tubuhnya ke tubuh Bobby, sambil tangannya mengelus punggung pria muda ini dengan lembut.

Saat batang penisnya terus membesar, tangan Bobby bergerak turun ke pantat Annie dan mulai memberikan remasan pada daging kencang milik Annie tersebut.

Bobby mulai kehilangan kontrol sekarang. Batang penisnya terasa begitu tegang hingga dia merasakan seakan hendak menyembul keluar merobek celananya kala Annie terus menggesekkan tubuh bawahnya pada tubuhnya.

Akhirnya lagu tersebut usai dan Annie berkata

“I’m sorry aku harus pergi, but thanks for the dance.”

Dia berjalan menuju mejanya kembali dan berkata pada suaminya kalau dia harus pergi ke kamar kecil, tapi dia tak tahu dimana tempatnya.

“Akan kutunjukkan padamu,” kata Bobby.

“Oh baguslah, thanks kid,” jawab suaminya saat keduanya berlalu bersama.

Antrian didepan kamar kecil wanita sangat panjang, lalu setelah memastikan kalau tak ada yang berada di dalam dan berjanji untuk menjaga situasi, Bobby mengajak Annie masuk ke dalam kamar kecil pria. Kamar kecil tersebut berukuran lumayan luas dan terlihat bersih dengan meja washtafel berukuran besar dengan cermin besar di atasnya, beberapa tempat kencing berdiri dan beberapa bilik dengan pintu penuh di salah satu bagian dindingnya.

Annie bergegas memasuki salah satu bilik dan Bobby memakai tempat kencing yang berdiri. Setelah selesai melepas hajatnya Annie lalu keluar dari dalam bilik dan membasuh tangannya pada washtafel, dia melirik ke arah cermin dihadapannya untuk melihat bayangan Bobby yang terpantul di dalamnya. Hanya punggung Bobby yang nampak di cermin namun benak Annie membayangkan seperti apakah bentuk dari batang penis milik pria muda ini, dan kenyataan saat ini bahwa dia berada dalam ruang ini hanya berdua dengan Bobby dan dia berada tak jauh darinya menjadikan thong yang dipakaianya yang telah agak basah itu semakin bertambah basah saja. Bobby membalikkan tubuhnya dan kemudian melangkah mendekati Annie untuk membasuh tangannya juga.

Annie melirik ke arah Bobby dan berkata

“Bobby aku minta maaf soal kejadian dilantai dansa tadi. Aku sudah agak kelewatan.”

Bobby menatap Annie dan tersenyum

“Hey it’s ok, tapi kita masih bisa mendengar suara musiknya dari sini, jadi bisakah kita menyelesaikan dansa tadi?”

Annie tertawa dan menjawab “Tentu saja.”

Lalu keduanya kembali berdansa diiringi alunan musik yang terdengar, pelukan Annie kali ini begitu erat hingga Bobby bisa merasakan puting Annie yang mengeras dibalik pakaiannya. Hal ini berefek pada batang penis Bobby yang segera mengembang besar, namun kali ini sensasi yang dia rasakan berbeda dengan yang tadi. Annie bisa merasakannya mendesak pada tubuhnya dan kembali dia mulai mendesah pelan dan menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke tubuh Bobby seperti sebelumnya, namun dia rasakan desakan batang penis Bobby kali ini lebih intens. Terasa lebih fokus pada satu area dan semakin dia gesekkan tubuh bawahnya maka terasa semakin menjadi keraslah itu terasa. Annie melirik ke bawah dan dia menjadi terkejut dengan pemandangan batang penis Bobby yang menyeruak keluar dari resleitingnya yang terbuka.

“Masukkan lagi Bobby,” kata Annie dengan tegas, namun Bobby tak bergeming hingga Annie kembali mengulang perintahnya namun tetap saja pria muda ini tak mengacuhkannya.

Mau tak mau Annie melayangkan pandangannya ke bawah dan memandang dengan takjub menyadari pria muda berumur 18 tahun ini memiliki batang penis yang sedemikan besar. Yang membuatnya tercekat adalah kenyataan bahwa meskipun batang penis ini terlihat belum ereksi sepenuhnya namun masih tetap terlihat lebih besar dibandingkan dengan milik suaminya saat ereksi penuh. Suamiku!!!!!

Saat hal itu melintasi benaknya Annie segera berkata

“Bobby hentikan ini sekarang. Masukkan punyamu ke dalam celana.”

Kembali Bobby tak menjawab ataupun memberi respon. Dia hanya memandang Annie dengan tajam. Merasa frustrasi dan mencoba untuk mengontrol gairahnya sendiri, akhirnya Annie memegang batang penisnya dan mencoba untuk memaksanya masuk kedalam celananya lagi. Erangan Bobby langsung terdengar saat Annie mencoba meskipun sia-sia memasukkan batang penis Bobby kembali ke dalam celananya, dan pinggang Bobby bergerak kegelian saat Annie terus mencoba usahanya.

Annie merasa kagum selama usahanya untuk memasukkan batang penis Bobby kedalam celananya, batang tersebut terasa semakin bertambah membesar. Api diselangkangannya mulai berkobar saat dia sadari kalau dia ingin melihat seberapa besar lagi batang penis ini bisa berkembang. Akhirnya Annie hentikan usahanya untuk memasukkan batang tersebut dan gerakannya beralir sebuah kocokan pelan mengimbangi gerakan pinggang Bobby.

Cengkeraman tangan Annie sekarang berubah kencang dan kocokannya semakin cepat saat Bobby yang kini menyandarkan tubuhnya ke meja washtafel dan mulutnya semakin meracau.

“Oh God… Oh baby… Oh God Annie… yes!”

Annie semakin bertambah takjub mendapati betapa besarnya batang penis pria muda ini sekarang dan kocokannya semakin bertambah cepat dan cepat. Jauh lebih besar dari milik Frank, pikir Annie. Dahulu dia pernah mempunyai beberapa kekasih sebelum suaminya namun kesemua mereka tak memiliki batang sebesar yang dimiliki pria muda ini.

Tiba-tiba punggung Bobby meregang ke belakang.

“Oh God Annie… Oh YeSSSSSSSS,” dia ejakulasi dengan semburan sperma yang terlontar keras berulang-ulang ke udara dan jatuh ke atas lantai.

Annie hanya mampu memandanginya dan merasa belum pernah melihat seorang pria yang berejakulasi sebanyak dan sedahsyat ini sebelumnya dan dia beri sebuah remasan sekali lagi untuk memastikan bahwa tak ada lagi yang tersisa. Bobby kemudian merengkuh tubuh Annie dan menciumi belahan dadanya, menjilati setiap tetes keringat yang berbaur dengan wangi parfumnya. Dia cengkeram bagian atas gaun yang dikenakan Annie dan menyentakkannya turun hingga sebatas pinggang, membuat buah dada terbungkus bra hitam milik Annie kini terekspos dihadapannya. Bobby meraba-raba dengan gusar kaitan bra dipunggung Annie hingga Annie menghentikan perbuatannya dan melepaskan sendiri kaitan bra yang dipakainya dari depan.

Buah dada kencang nan kenyal tersebut segera melompat keluar begitu penutupnya terlepas dan Bobby langsung memasukkan salah satu putingnya yang sudah sedemikin mencuat keras ke dalam mulutnya lalu tangannya segera memberikan remasan pada buah dada yang satunya lagi.

“Oh Bobby… kamu sangat nakal anak muda… oh Bobby yeah baby… ya… disitu oh… pintar anak manis,” Annie mengerang dan memejamkan matanya rapat sedangkan punggungnya meregang kencang ke belakang membuat buah dadanya semakin mencuat untuk dinikmati Bobby.

Bobby terus menghisap, melumat dan terkadang menggigit pelan puting Annie yang membuat isteri Frank ini menggelinjang tak karuan. Gemuruh ombak kenikmatan meletus dalam tubuh Annie dan dia memeluk tubuh Bobby dengan kencang dan menariknya semakin merapat ke tubuhnya. Hingga setelah ledakan kenikmatan tersebut mereda, Annie melepaskan tubuh Bobby dan bersandar tubuhnya pada meja washtafel, matanya nampak berbinar dengan gairah dan buah dadanya terlihat basah oleh keringatnya yang bercampur dengan air liur Bobby, bergerak naik turun seirama deru nafasnya yang memburu.

Kemudian Bobby mendudukkannya ke atas meja washtafel tersebut, tangannya bergerak keatas paha Annie dan menarik turun thong yang menutupi selangkangan Annie. Annie hanya memandangi apa yang dilakukan pria muda dihadapannya tersebut dan sedikit mengangkat pantatnya untuk mempermudah usaha Bobby. Mata Annie terus memperhatikan apa yang dilakukan Bobby selanjutnya, dia genggam thong tersebut dan mulai mendekatkannya pada wajahnya lalu mulai menjilatinya dihadapan Annie. Lalu Bobby berlutut didepan selangkangan Annie dan membenamkan wajahnya ke vagina isteri Frank ini.

“OH YESSSS…” Annie memekik nikmat kala Bobby mulai menggerakkan lidahnya keluar masuk dengan cepat, dia julurkan lidahnya sepanjang yang dia mampu tak menyisakan satupun area untuk dia eksploitasi, semakin dalam dan bertambah dalam dia membelah ke dalam vagina Annie.

“Oh Bobby… baby… terus Bobby… auww,” dia memekik pelan, mendesis tak terkontrol kala Bobby melanjutkan serangannya.

Kini dia bergerak ke atas untuk mencari kelentitnya dan begitu dia temukan langsung dia hisap dengan lembut pada awalnya namun segera berubah keras dan kasar.

“Aaarghh… Bobby… oh Bobby… oh jangan berhenti… lebih cepat… lebih cepat… Oh BOBBBBBBBBBY,” teriakan Annie terlepas kala dia mencapai orgasme keduanya hari ini.

Bobby menjilat habis seluruh cairan yang dikeluarkan Annie lalu dia bangkit dan menatap lekat ekspresi wajah Annie seusai mendapatkan kepuasannya.

Saat dunia terasa kembali ke hadapan mereka berdua, tiba-tiba saja telinga mereka menangkap suara dan langkah kaki yang melangkah mendekat diantara suara musik yang terdengar. Keduanya tercekat dan mulai panik. Dengan tergesa keduanya menata diri dan bergegas masuk ke dalam salah satu bilik terdekat. Berbarengan dengan Bobby menutup pintu bilik di belakangnya, pintu kamar kecil tersebut terbuka dan kakak Bobby bersama seorang temannya masuk. Kedua lelaki tersebut melangkah menuju washtafel, mencuci tangannya lalu membasuh muka dan terus asik mengobrol tak menyadari kehadiran dua orang lainnya di dalam salah satu bilik tersebut.

Bobby diam tak bergerak dengan celana yang melorot hingga lutut membuat batang penisnya yang mendongak dengan ereksi penuh nampak terayun seiring degup jantungnya yang berdetak kencang. Annie duduk di atas closet, suasana tegang tersebut tak menghalangi pemandangan batang penis Bobby yang tepat dihadapan matanya, seakan mengejek dan terus menggoda. Dia ambil thongnya yang masih dalam genggaman tangan Bobby, lalu menaruhnya diselangkangannya dan menekannya rapat-rapat pada vaginanya untuk memastikan lebih banyak lagi cairan birahinya terserap di kain thong tersebut.

Lalu dia menarik thong yang semakin bertambah basah tersebut dan memberi isyarat pada Bobby untuk duduk di atas closet duduk tersebut dan dia berbisik pelan ditelinga Bobby.

“Kita harus sangat tak bersuara. Aku ingin menghisap penismu Bobby. Buka mulutmu.”

Bobby melakukan apa yang diperintahkan Annie dan kemudian Annie menyumpalkan thong basah tersebut ke mulut bobby, menarik pantat Bobby untuk semakin mendekatinya dan segera melahap batang penis Bobby yang terus menggoda birahinya tersebut.

Suara erangan Bobby tertahan oleh sumpalan thong milik Annie dimulutnya saat Annie mulai menggerakkan mulutnya maju mundur menghisap batang penisnya dengan cepat. Sedangkan kakak Bobby dan temannya tetap asik mengobrol sambil merapikan diri dihadapan cermin diluar bilik tempat Annie mengulum batang penis adiknya dengan rakus.

Tiba-tiba Annie menghentikan gerakannya dan menarik kepala Bobby turun mendekat dan berkata

“Keluarkan dalam mulutku… biarkan aku merasakan spermamu Bobby,” lalu kembali memasukkan batang penis Bobby ke dalam mulutnya, menekannya sejauh mungkin hingga sedalam tenggorokannya mampu mengakomodirnya.

Annie mulai memberikan deep throat pada Bobby dan mendengar suara erangan Bobby yang tertahan sumpalan thong dimulutnya, serta kehadiran kakak Bobby tepat diluar bilik tempat mereka berada begitu membuatnya merasa takut terpergok namun juga semakin membakar birahinya. Hingga akhirnya Bobby mencengkeram kepala Annie dan menekannya ke selangkangannya seerat mungkin kala semburan demi semburan spermanya tumpah ke dalam tenggorokan isteri Frank tersebut.

Setelah merasa tak ada lagi sperma Bobby yang bisa direguknya, Annie menarik kepalanya ke belakang dan bangkit, dia berbalik dan mendekat ke pintu bilik untuk mendengarkan apakah kakak Bobby masih berada di sana atau tidak. Kakak Bobby dan temannya telah keluar tepat sesaat sebelum Bobby menumpahkan spermanya dalam mulut Annie tadi yang tentu saja tak terdengar oleh keduanya yang sedang asik berada di dunia lain.

Kala tubuh Annie berbalik untuk mendekati pintu bilik, pantatnya yang tersuguh dihadapan wajah Bobby tak ayal membuat batang penis Bobby langsung mengeras kembali. Dia raih tubuh Annie dan menariknya ke atas pangkuannya. Tangannya segera bergerak menelusup ke bagian depan untuk mencengkeram kekenyalan buah dada dari isteri Frank, dan jemarinya langsung memilin puting kerasnya.

Annie tersenyum mendapati tingkah laku Bobby tersebut dan senyumnya semakin bertambah lebar sewaktu merasakan kerasnya batang penis Bobby yang menusuk pantatnya. Ah, stamina anak muda… pikirnya. Dia merespon dengan merebahkan tubuhnya ke belakang bersandar pada Bobby dan berbisik manja.

“Aku ingin kamu masukkan penismu ke dalam vaginaku sekarang Bobby. Tunjukkan padaku seberapa hebatnya staminamu anak muda.”

Annie mengangkat pantatnya sedikit untuk mengatur posisinya, dia raih batang penis Bobby dan menempatkannya tepat didepan pintu masuk vaginanya. Lalu dia turunkan tubuhnya dengan sangat pelan, menikmati setiap bagian dari batang penis bobby yang membelah vaginanya. Dia resapi setiap sensasi yang diberikan oleh Bobby yang membelah dan menyeruak di bagian yang belum pernah dijamah oleh suaminya maupun semua kekasihnya sebelumnya. Bobby membungkuk kedepan untuk memeluk Annie dan membelai buah dadanya. Annie melempar tubuhnya sepenuhnya ke pelukan Bobby dan kakinya terjulur ke atas bertumpu pada pintu bilik tersebut, lalu mulai mengangkat pantatnya kemudian menurunkannya lagi menyambut gerakan menusuk Bobby dari bawah.

“Ssshh… ahhh… oh baby… yeah… oh Bobby… kamu begitu besar… oh fuck me Bobby,” racaunya saat Bobby menguburkan dirinya ke dalam tubuh Annie.

Kemudian, tiba-tiba saja terdengar pintu kamar kecil tersebut dibuka lagi dan disusul oleh masuknya suara langkah kaki diiringi oleh suara dua orang pria. Kali ini suara dari salah satu pria tersebut terdengar sangat familiar di telinga Annie.

“Ya dia pergi ke kamar kecil sudah lama tadi, tapi kamu lihat kan panjangnya antriannya tadi. Dia mungkin masih berada didalam menunggu,” Frank tertawa pada sahabatnya.

Annie tercekat, tubuhnya menegang! Itu suaminya!!! Dia ada diluar bilik, di dalam kamar kecil ini, tak jauh darinya. Dia harus menarik kakinya dan berhenti menekan pintu bilik ini, tapi reaksi tubuhnya yang tegang tersebut membuat otot vaginanya mencengkeram batang penis Bobby dengan demikian erat membuat Bobby menggelinjang dibawahnya. Tangan Bobby langsung bergerak mengarah ke depan mencari kelentit Annie dan langsung memainkannya. Hampir saja Annie menjerit karena perbuatan Bobby ini, dengan cepat dia meraih ke belakang dan menarik thongnya yang menyumpal mulut Bobby dan menyumpalkannya ke mulutnya sendiri.

Suara erangannya tertahan oleh sumpalan thong di mulutnya begitu Bobby tak hentinya mempermainkan kelentitnya dan disaat yang bersamaan seluruh batang penisnya terbenam seluruhnya dalam cengkeraman vaginanya. Dan suaminya saat ini berada tak lebih dari beberapa meter jauhnya. Bobby tetap memainkan jemarinya dikelentit Annie dan mulai mengatur kocokannya dalam irama yang pelan. Dengan bantuan Annie yang pinggangnya dicengkeram erat oleh kedua tangannya, Bobby mulai menusukkan batang penisnya sedalam yang dia mampu lalu menariknya hingga hanya tinggal kepalanya saja yang terbenam didalam vagina Annie hingga dia tusukkan kembali lagi.

Gelora demi gelora kenikmatan mulai terbentuk didalam perut Annie yang dengan berusaha sebisanya untuk tak mengeluarkan suara dengan menutup mulut yang sudah tersumpal thongnya sendiri dengan tangannya. Perlahan dia hampir mencapai batas pertahanannya hingga akhirnya telinganya menangkap suara pintu kamar kecil tersebut tertutup dibalik bilik tempatnya berada ini…

Dia renggut lepas thong yang menyumpal mulutnya dan seiring hentakannya ke bawah untuk kali terakhir, dia raih batasnya seiring jeritan mulutnya.

“Aaaaarrrgggghhhh… oh Bobby… Bobby… sssshhhh,” diraihnya moment pelepasan terindah dalam hidupnya yang membuat sekujur sendi di tubuhnya tergetar dan air mata keluar dari sudut matanya.

Tak lama berselang kemudian Bobby menggeram melepaskan gempuran orgasmenya sendiri yang menggempur batas kesadarannya.

“Arrrrggggghhh… Annie…,” semburan disusul semburan berikutnya dia tuangkan ke dalam rahim isteri Frank di atas pangkuannya ini.

Tubuh Annie terhempas ke belakang di atas pangkuan Bobby yang juga merasa seluruh tulangnya seakan dilolosi dari tubuhnya. Annie menoleh ke belakang dan memberi sebuah ciuman yang dalam pada Bobby dan jemarinya bergerak menyusuri rambut pria muda ini.

Setelah sekitar 10 menit berlalu, Annie bangkit membuat sebuah suar ‘plop’ sewaktu menarik keluar batang penis Bobby dari vaginanya. Keduanya kemudian keluar dari dalam bilik tersebut dan merapikan diri di depan kaca di atas meja washtafel yang baru beberapa saat lalu juga digunakan oleh kakak Bobby dan Frank beserta temannya untuk merapikan diri. Setelah merasa semua jejak terhapus keduanya dengan berhati-hati menyelinap keluar bergantian dari dalam kamar kecil pria tersebut. Hanya aroma seks yang masih tertinggal di dalam sana…

“Hey dari mana saja kamu” tanya Frank pada isterinya begitu dia melihat Annie berjalan mendekat mejanya.

“Oh well, antrian di kamar kecil wanita terlalu panjang lalu Bobby mengajakku kamar kecil lainnya yang terletak dibagian lain,” jawab Annie berusaha untuk terdengar senatural dan semeyakinkan mungkin.

“Ok well kita harus segera pulang sayang. Dan Bobby, terima kasih sudah menemani dan mengurus isteriku,” kata Frank sambil menjabat tangan Bobby.

“Sama-sama Frank, tak usah sungkan,” jawab Bobby sambil melirik ke arah Annie yang mengedip kepadanya…


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: