Nafsu Binal Mbak Wulan

1 06 2009

Namaku Benny, peristiwa ini sudah terjadi lama, ketika aku masih SMA kelas 3. Saat itu aku masih perjaka ting-ting, main sabun adalah satu-satu-nya pelampiasan sexku. Aku punya seorang teman akrab, namanya Anton. Dia tinggal menumpang di rumah kakak lelakinya, Mas Har.

Orangtua Anton tinggal di kota kecil Ambon yang jaraknya kira-kira sejam perjalanan dari kotaku. Mas Har sudah beristri, namanya Mbak Wulan. Mereka belum dikaruniai momongan saat itu. Jadi serumah hanya ada mereka bertiga karena Mbak Wulan memang nggak punya pembantu.

Hubunganku dengan keluarga Anton (Mas Har & terutama Mbak Wulan) sudah sangat akrab. Mereka sudah seperti kakak kandung sendiri. Aku sering menginap di tempat Anton demikian pula sebaliknya. Jadi sudah tidak ada kecanggungan sama sekali di antara kami.

Mas Har orangnya agak pendiam, kebalikan dengan Mbak Wulan yang sangat bersahabat. Secara fisik Mbak Wulan tidaklah istimewa. Usianya saat itu sekitar 30 thn. Bodinya pun biasa saja, agak kecil malah. Tingginya sekitar 155 cm, badannya ramping. Kulitnya tidak terlalu putih tapi sangat mulus dan bersih karena dia rajin merawat tubuhnya. Wajahnya tidak terlampau cantik tapi cukup manis, lesung pipit selalu menghias pipinya. Yang paling menyenangkan dari Mbak Wulan adalah pembawaannya. Orangnya sangat ramah dan murah senyum. Diam-diam aku mengidolakan Mbak Wulan, kalau punya istri aku ingin yang seperti Mbak Wulan.

Saat itu aku sedang libur sekolah sehabis ujian. Pagi kira-kira jam 9 aku ke tempat Anton untuk mengajaknya main badminton. Aku masukkan Yamaha kesayanganku ke halaman rumah Anton. Mbak Wulan yang menyambutku di pintu sambil tersenyum.

“Anton mana Mbak?”

“Wah dia barusan pulang ke Ambon, kemarin sore di telpon ibu disuruh pulang. Kamu janjian sama dia, Ben?”

“Ndak Mbak, cuman mau ngajakin badminton kok. Ya sudah Mbak, aku pulang aja.”

Aku sudah hendak menstarter motorku lagi.

“Eh Ben, bisa bantu Mbak ndak? Itu video kasetnya kusut di dalam ndak bisa keluar. Mas Har kan sudah seminggu training di Jakarta, Mbak ndak berani betulin sendiri takut malah makin rusak”.

“Oke Mbak.”

Motor aku standardkan lagi dan aku bergegas masuk ke dalam. Aku langsung ke ruang tengah tempat TV dan videonya berada, ambil obeng di laci, terus aku bongkar itu video. (Tolong jangan ditertawakan ya, waktu itu memang belum ada yg namanya VCD). Mbak Wulan sudah masuk ke kamarnya lagi. Tidak sampai 10 menit kaset kusut yang terselip di rol dalam video itu sudah berhasil aku keluarkan, dan videonya sudah aku rapikan lagi. Aku buka laci tempat kaset video, aku comot sembarang kaset yang paling atas aja. Maksudku aku mau cobain, sudah bagus belum hasil “reparasi”ku.

Kaset aku masukin dan langusng aku Play. Ternyata yang aku comot tadi adalah kaset BF. Aku memang sudah tidak asing dengan film BF, maklum anak umur segitu. Kaset yang aku buat coba itu BF Asia, nggak tahu Thailand atau Filipina.

“Mumpung Mbak Wulan di kamar,” aku pikir sambil coba video aku lihat BF dulu soalya jarang lihat BF Asia.

Sekitar 5 menit aku nonton video, aku mulai terangsang juga, aku jadi agak lupa sama Mbak Wulan.

“Hayo, nonton apa?”

Suara lembut Mbak Wulan mengagetkan aku. Aku tidak sadar kalau Mbak Wulan sudah keluar dari kamarnya karena aku memang membelakangi pintunya sambil duduk di karpet bersandar di sofa. Aku buru-buru bangkit mau mematikan video sambil tersipu malu.

“Anu Mbak. cuman mau coba videonya, ambil kaset sembarang aja.”

“Jangan dimatikan Ben, Mbak juga mau nonton ah, temeni ya?” Mbak Wulan berkata dengan nada menggodaku.

Akhirnya kami berdua nonton BF sambil duduk di karpet bersandarkan sofa yang empuk. Mula-mula aku salah tingkah juga karena kehadiran Mbak Wulan. Tapi lama-lama terbawa oleh panasnya adegan di video, aku jadi lupa akan Mbak Wulan yang berjarak kurang dari semeter di kiriku. Aku sudah terangsang dan tanpa bisa dikomando, penisku sudah menegang dengan sendirinya. Pikiranku sudah betul-betul dimabokkan oleh tubuh-tubuh berkeringat yang ada di pandanganku. Tak sedetik pun aku mengalihkan tatapanku dari layar TV. Apalagi saat adegan blow job diperagakan si cewek terhadap si cowok.

“Ben, .. kamu pengin diemut kayak gitu?”

Suara lembut Mbak Wulan yang medok bahasa Jawanya membuat aku terkejut. Tanpa sadar aku cuman bisa mengangguk pelan. Mbak Wulan beringsut mendekatiku dan dengan kode tangannya menyuruh aku duduk di sofa. Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja duduk di sofa. Celana olahragaku yang komprang dan CD-ku dipelorotkan oleh Mbak Wulan dengan sekali sentakan. Aku sudah tidak ingat lagi siapa Mbak Wulan itu. Batang penisku sudah berdiri tegak. Kepalanya sudah berwarna merah tua tanda darah sudah mengumpul disitu. Lendir sudah membasahi kepala penisku sehingga tampak makin mengkilap.

Sambil masih bersimpuh di karpet di hadapanku, jari-jari lentik Mbak Wulan mulai mengelus batang kemaluanku. Tanpa berkata-kata lagi Mbak Wulan mulai menciumi batang penisku. Lidahnya mulai menari-nari. Dimulai dari bawah di kantong bijiku, lidah Mbak Wulan menggelitik terus merambat ke atas sampai di kepala penisku. Sampai disana, Mbak Wulan memasukkan penisku ke mulutnya, dihisap sedikit. Lalu dikeluarkan lagi dan dia mulai menjilati dari kantong bijiku lagi. Begitu seterusnya sampai tak seinci pun kulit kemaluanku yang tidak dijamah oleh lidah gesit Mbak Wulan. Kadang Mbak Wulan harus bergeser sedikit demi menikmati seluruh permukaan penisku.

Aku betul-betul lupa segalanya. Yang kuingat hanya kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa kegelian karena jilatan lembut Mbak Wulan di penisku. Rasa geli bercampur kenikmatan sampai terasa di ujung jari kakiku. Nafasku mulai memburu. Aku tahu tidak lama lagi penisku akan memuntahkan lahar panasnya.

Tiba-tiba Mbak Wulan merubah gayanya. Sekarang dia memasukkan seluruh batang kemaluanku yang memang tidak terlampau besar itu ke dalam mulutnya yang mungil. Lidahnya terus menggelitik tongkat kenikmatanku yang ada di dalam mulutnya. Aku makin tak tahan dan mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Rupanya Mbak Wulan merasakan tubuhku makin menegang. Mulut dan lidahnya masih sibuk dengan penisku, tangan kirinya mengelus lembut perut bagian bawahku dan jari-jari tangan kanannya meremas serta menggelitik kantong bijiku.

Kepalanya digerakkan mengangguk-angguk sehingga kulit penisku yang sudah sangat sensitif tergesek-gesek bibirnya yang tipis itu.

Makin lama gerakan anggukannya makin cepat. Aku sudah tidak punya pertahanan apa-apa lagi. Tanganku sudah meremas lembut rambut Mbak Wulan sambil sesekali menekan kepala Mbak Wulan. Gerakan kepala Mbak Wulan makin menggila.

“Ahhhhhhhhhhh crotttt crooot crooot”

Aku rasakan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata sambil menyemburkan maniku di dalam mulut Mbak Wulan. Mbak Wulan tampaknya tidak terkejut dengan semburan itu, dia terus saja menggerakkan kepalanya sambil menyedot air maniku. Kenikmatan itu masih belum menghilang sekalipun ejakulasiku sudah tuntas. Mbak Wulan masih terus menghisap penisku tanpa sekali pun pernah mengeluarkannya dari mulut mungilnya. Setelah beberapa saat demikian teganganku mulai menurun. Gerakan kepala Mbak Wulan juga mulai melemah. Dengan gerakan sangat pelan dan lembut, bibirnya tetap mengatup batang kemaluanku, Mbak Wulan mengangkat kepalanya sampai seluruh penisku terlepas dari mulutnya.

Ah, aku betul-betul merasa di puncak surga dunia. Ini untuk pertama kalinya aku di blow job. Penisku masih berdiri sekali pun sudah tidak setegang tadi, mengkilap karena air liur Mbak Wulan tanpa ada tanda setetespun dari air maniku. Mbak Wulan memandangku tersenyum sambil bergerak bangkit duduk di sampingku. Dia mencium pipiku dengan mesra aku pun membalasnya.

“Makasih Mbak, tadi nikmat sekali. Mbak Wulan pinter.”

“Mbak juga seneng kok Ben, pejuhmu enak, ndak amis. Kamu baru pertama kali ini diemut ya Ben?”

“Iya Mbak,” jawabku malu-malu.

Kami meneruskan nonton BF yang memang belum selesai sambil duduk berpelukan. Kadang-kadang kami saling berciuman dengan mesra, tapi aku masih belum berani menjamah Mbak Wulan. Kalau ingat saat itu aku suka geli sendiri. Bagaimana tidak, kami duduk berdampingan, Mbak Wulan masih berpakaian lengkap daster baby-doll, sedangkan aku masih telanjang celana tapi masih pakai kaos olahraga.

Kami terus menikmati adegan demi adegan di layar kaca sambil duduk berpelukan di sofa itu. Saling cium mesra menjadi bumbu menonton kami. Makin lama aku mulai terangsang lagi. Penisku mulai berdiri lagi. Mbak Wulan rupanya memperhatikan hal ini. Tangan kirinya mulai mengelus lembut batang kemaluanku yg baru saja dipuaskan dgn gelitikan lidahnya. Tiba-tiba Mbak Wulan bangkit berdiri dan mematikan video dan TV.

“Kita ke kamar yuk Ben,” ajaknya.

Kami masuk kamar berdua. Lucu juga. Mbak Wulan menarik penisku yang sudah tegak berdiri sambil membimbingku masuk kamarnya.

“Kaosmu copot aja Ben”

Aku pun melepas satu-satu busana yang masih melekat di badanku. Agak malu juga aku telanjang bulat di hadapan Mbak Wulan.

“Mbak Wulan copot juga dong pakaiannya,” pintaku

Tanpa bicara sepatahpun Mbak Wulan mulai melepas baju dasternya. Terlihat kulit mulus pundak dan sebagian perut Mbak Wulan yang rata tanpa lemak sedikitpun. Dia masih mengenakan BH warna krem. Kedua tangannya menjulur ke punggungnya mencopot kaitan BHnya. Perlahan dilepasnya BH krem itu. Wow!. Sungguh pemandangan yang indah. Untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung buah dada wanita. Biasanya aku hanya lihat di video atau foto saja. Buah dada Mbak Wulan tidak terlalu besar, seimbang dengan tubuhnya yang ramping itu. Putingnya kecil sebesar kismis, berwarna coklat tua. Tampak kedua puting Mbak Wulan sudah mengeras. Perlahan dengan sengaja sambil menghadap aku, Mbak Wulan membelai payudaranya, kedua tangannya menopang buah dadanya sambil diangkatnya sedikit. Sungguh pemandangan yang merangsang kelakianku.

Kemudian Mbak Wulan melepaskan celana baby-dollnya sekalian dengan CD nya. Sambil agak meliukkan tubuhnya kedua tangannya memelorotkan celananya. Mbak Wulan sudah bertelanjang bulat di hadapanku. Sungguh pemandangan yang sangat menggiurkan. Kulit tubuh Mbak Wulan, sekalipun tidak terlalu putih tapi sangat mulus. Bulu kemaluan Mbak Wulan sangat tipis dan jarang. Aku terus mengagumi tubuh polos Mbak Wulan. Kayaknya Mbak Wulan agak malu juga aku perhatikan seperti itu. Dia berjalan mendekatiku dan memelukku dari depan. Kami saling berciuman. Bibirku melumat bibir Mbak Wulan yang mungil tipis itu. Lidah kami saling menggelitik. Tubuh kami saling lengket. Buah dada Mbak Wulan yang ternyata sangat padat sekalipun tidak besar menekan keras dadaku. Bulu kemaluannya menggosok geli pahaku.

Kemudian Mbak Wulan melapaskan pelukannya terus berbaring telentang di tengah tempat tidur. Dengan tangannya dia memberi kode agar aku berbaring di sisinya. Tanpa perlu disuruh dua kali aku langsung menurutinya. Sambil berbaring aku mencium bibir Mbak Wulan. Aku mulai berani menjamah tubuh Mbak Wulan. Mula-mula aku belai pundaknya. Tanganku terus mengarah ke buah dadanya. Aku belai lembut payudara Mbak Wulan yang padat itu. Sekali-kali aku remas dengan mesra, sambil kami terus berciuman. Tangan Mbak Wulan membelai lembut punggungku.

Aku lepaskan bibirku dari bibir Mbak Wulan. Aku mulai mempraktekan apa yang sering aku lihat di film-film BF. Aku mulai menciumi leher Mbak Wulan. Tangan kiriku masih meremas-remas buah dada kanan Mbak Wulan. Kadang-kadang putingnya yang sudah mengeras aku pelintir-pelintir dengan telunjuk dan ibu jariku. Mbak Wulan menanggapinya dengan desahan-desahan lembut yang merangsang.

“Ahhhh… Ohhhhh… iya… iya… iya Ben… uuuhhh”

Aku makin PD meneruskan aksiku. Sepertinya Mbak Wulan menyukai apa yang aku lakukan. Ciumanku mulai aku arahkan lebih ke bawah, ke arah payudaranya. Aku jilat-jilat bukit dada Mbak Wulan.

“Ohhhh… iya Ben… uhhhh terus… terus… isep tetek Mbak… ohhh Ben .. iya”

Aku mengikuti instruksi Mbak Wulan. Aku hisap lembut puting susu Mbak Wulan yang sebelah kiri sambil memelintir putingnya yang kanan. Mbak Wulan meliuk kenikmatan.

“Iya… iya… gitu… terus Ben… Be … ahhhhh…”

Kemudian aku balik permainanku. Puting yang kanan yang aku jilat dan hisap dan yang kiri aku mainkan dengan jari-jariku. Mbak Wulan makin menggelinjang.

“Sshhhhh shhhhhh… ahhhh… uhhhhh iya… iya… ohhh…”

Tiba-tiba Mbak Wulan duduk lalu merangkak. Kepalanya mengarah ke penisku yang memang sudah tegak sedari tadi. Mulutnya langsung mencium penisku dan mengulumnya. Lidahnya menggelitik kepala penisku yang ada di mulutnya. Kakinya mulai beringsut sedikit demi sedikit. Kemudian Mbak Wulan mulai mengangkang tepat di depan mukaku yang masih telentang itu. Sungguh pemandangan yang indah. Aku yang belum pernah melihat kemaluan wanita secara langsung bisa menikmati punya Mbak Wulan dari jarak cuman sejengkal. Bibir kemaluan Mbak Wulan sungguh tipis, liang kenikmatannya sedikit menganga, berwarna merah tua dan berlendir. Klitorisnya sudah berdiri mengeras sebesar kacang hijau. Warnanya merah pink. Aku mengangkat kepalaku, langsung aku ciumin kemaluan Mbak Wulan. Baunya agak amis tapi tidak membuat mual, persis seperti bau daging segar.

Aku mainkan lidahku di seputar lubang senggama Mbak Wulan.

“Ohhhh… ahhhh iya Ben.. terus… terus Ben… ahhhh… jilati tempik Mbak…”

Aku memang tidak bermaksud berhenti dari aksi lidahku itu. Seluruh permukaan kemaluan Mbak Wulan aku ciumi dan jilati. Kadang-kadang lidahku aku sodorkan ke dalam lubang kenikmatan Mbak Wulan sambil aku gelitik pelan. Aku rasakan tubuh Mbak Wulan sedikit gemetar. Aku lanjutkan aksiku, kedua tanganku membelai dan meremas pantat Mbak Wulan yang kenyal itu. Kemaluan Mbak Wulan makin terasa berlendir bercampur dengan air liurku.

“Sshhhh… shhhhh… ahhhh… ahhhhh… jilati itilnya Ben .. ahhhh ahhhhh…”

Entah perasaanku saja atau memang demikian, aku lihat klitoris Mbak Wulan sedikit lebih besar dari awalnya. Aku segera menggelitiknya dengan lidahku. Aku tarik bantal di dekatku aku topangkan di belakang kepalaku. Posisiku makin nyaman untuk menikmati seluruh permukaan kemaluan Mbak Wulan. Penisku masih di peras-peras oleh mulut Mbak Wulan. Dia hanya berhenti sekali-kali hanya untuk mengeluarkan desahan-desahan kenikmatan.

“Uuhhh… uhhhh… shhhhh… iya… iya… ohhh nikmaaat .. terus… terus…”

Kami terus di posisi itu beberapa saat. Tubuh Mbak Wulan mulai menegang, desahannya makin menggila. Sedotan mulut Mbak Wulan di penisku juga makin menguat. Lidahku makin giat menari mengitari lubang kemaluan Mbak Wulan. Sodoran lidahku ke liang kenikmatan Mbak Wulan semakin dalam. Tiba-tiba tubuh Mbak Wulan mengejang gemetaran. Selangkangannya menekan kuat ke wajahku sampai aku hampir-hampir tak bisa bernapas. Lidahku masih di dalam liang kenikmatan Mbak Wulan. Aku tidak bisa bergerak kecuali menjulur-julurkan lidahku semakin dalam. Tubuh Mbak Wulan gemetaran makin hebat, himpitan di wajahku semakin kuat, aku semakin tidak bisa bernapas.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhh hhh…….”

Mbak Wulan melenguh panjang sambil berbarengan aku rasakan makin banyak lendir yang meleleh keluar dari liang senggama Mbak Wulan. Lendir itu membasahi bibirku dan sekitar mulutku. Lidahku makin aku julurkan seakan menyambut lendir kenikmatan itu. Aku cengkeram pantat mulus Mbak Wulan dengan kedua tanganku. Tubuh Mbak Wulan sudah kaku  diam tak bergerak. Hanya gemetaran dan suara lenguhan keras yang masih menandakan kehidupan di tubuh Mbak Wulan.

“Ooooooooooohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…”

Tak berapa lama kemudian tubuh Mbak Wulan berangsur melemas. Otot-otot yang tadi mengejang sudah mulai kendur. Perlahan-lahan Mbak Wulan mengangkat selangkangannya dari wajahku. Dengan lembut Mbak Wulan beringsut dan berbaring di sisiku. Diciumnya bibirku dan sekitar mulutku yang belepotan lendir kenikmatannya.

“Makasih Ben… Mbak nikmat sekali… kamu memang jago Ben,” bisik lembut Mbak Wulan di telingaku.

Aku menjawab dengan kecupan lembut di pipinya. Selama ini aku pikir kenikmatan yang paling puncak adalah saat aku ejakulasi seperti ketika di blow job oleh Mbak Wulan di sofa tadi. Ternyata aku keliru, aku justru merasa nikmat secara batin ketika mendengar bisikan lembut Mbak Wulan, lebih dari sekedar kenikmatan badani saat ejakulasi. Dan saat itu aku belum ejakulasi, penisku masih tegak menantang, tapi secara batin aku sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa, belum pernah aku rasakan sebelumnya

Aku mulai mencumbu Mbak Wulan lagi. Payudaranya kembali aku cium dan hisap dengan mulutku. Tampaknya Mbak Wulan sangat menikmatinya. Matanya terpejam, bibirnya menyungging senyum penuh kepuasan. Tangan Mbak Wulan mulai membelai-belai penisku yang memang masih berdiri. Dikocoknya lambat-lambat sambil kadang diremas lembut. Aku mengimbangi dengan menggosok klitoris Mbak Wulan dengan jari tengahku. Kami masih saling raba dan remas seperti ini untuk beberapa saat. Sepertinya Mbak Wulan mulai terangsang lagi. Tubuhnya meliuk mengikuti gosokan jariku di liang kenikmatannya.

Mbak Wulan lalu bangkit, dia berjongkok di atas selangkanganku. Dari sela-sela bulu kemaluannya yang memang tipis dan jarang itu aku bisa mengintip lubang senggama Mbak Wulan sudah menganga merindukan penisku. Dengan masih berjongkok sambil kakinya berjingkat, pelan-pelan dibimbingnya batang kelakianku dengan tangan kirinya, ke arah lubang kemaluannya. Dengan lambat diturunkannya pantatnya sehingga sedikit demi sedikit batang penisku menerobos masuk liang kemaluan Mbak Wulan. Pantatnya terus menurun sampai seluruh batang kejantananku hilang di dalam lubang kenikmatannya.

Kemudian dengan sangat pelan Mbak Wulan menggerakkan pantatnya naik turun. Aku merasakan kehangatan liang kewanitaaan Mbak Wulan menyelimuti batang kelakianku. Tangan Mbak Wulan bertumpu pada kedua lututnya. Gerakan pantatnya naik turun teratur dengan lembut sekali. Aku merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah aku alami. Aku melihat Mbak Wulan terpejam merasakan kenikmatan yang sama. Tanganku mengarah ke pantat Mbak Wulan, aku belai lembut bukit pantatnya yang padat dan kenyal itu. Tanpa terasa dari mulutku keluar erangan kenikmatan.

“Ohhhh… Mbak Wulan… ohhhhh… Mbak Wulan”

Sepertinya eranganku ini malah menambah birahi Mbak Wulan. Dia sedikit mengubah posisi, sekarang pantatnya menduduki pahaku, kakinya dilipat ke belakang dan lututnya bertumpu di kasur. Dengan demikian seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam liang kewanitaan Mbak Wulan. Sekarang pantat Mbak Wulan bergerak maju mundur. Tangan Mbak Wulan mulai meremas buah dadanya sendiri dan kepalanya mendongak ke belakang sambil matanya terus terpejam. Pantatnya bergerak berirama maju mundur. Sungguh pemandangan yang sangat indah, aku tidak akan pernah melupakannya sampai detik ini.

Gerakan pantat Mbak Wulan semakin cepat dan kuat. Tangannya masih meremas payudaranya dan kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan dengan liar. Rambut Mbak Wulan yang lurus sebahu itu ikut tergerai mengikuti gerakan kepalanya. Mulutnya terbuka dan lidahnya tampak menjilati bibirnya yang tipis itu dengan sensual. Sesekali terdengar desahan dari mulutnya.

“Ohhhhh… ooohhhh… aaahhhh… ahhhhh…”

Aku merasakan gesekan dinding liang senggama Mbak Wulan di kepala penisku yang sangat sensitif itu. Sungguh nikmat tak terkatakan. Aku tahu sebentar lagi aku akan mencapai klimaksnya. Dan sepertinya demikian juga dengan Mbak Wulan. Tubuhnya mulai menegang. Tiba-tiba Mbak Wulan merebahkan tubuhnya menindih tubuhku, kakinya diselonjorkan. Pahanya mengatup rapat sehingga batang kemaluanku terjepit di antara kedua bibir kemaluannya. Mbak Wulan menciumi bibirku dan segera aku balas dengan tak kalah liarnya. Pantat Mbak Wulan melakukan gerakan memutar sambil menindih tubuhku. Aku merasakan kenikmatanku akan mencapai puncaknya. Tubuh Mbak Wulan sudah gemetaran hebat tapi dia terus memutar pantatnya tanpa mengangkatnya. Aku sudah tak tahan lagi, bemdunganku jebol saat itu tak tahan menghadapi letusan air maniku. Aku melenguh keras.

“Oooooooohhhhhhhhhhh………”

Sedetik kemudian giliran Mbak Wulan yg mendesis panjang.

“Sssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… aaaaarrrrggggghhhhhhh….”

Kami sama-sama merengkuh kenikmatan lahir bathin. Sungguh perasaan puas yang aku rasakan saat itu. Aku sama sekali tidak menyesal kehilangan keperjakaanku ditukar dengan kenikmatan yang sudah diberikan Mbak Wulan kepadaku. Tubuh Mbak Wulan masih menindihku. Kami masih bercumbu dan saling berciuman mesra. Aku belai rambut Mbak Wulan, aku kecup mata Mbak Wulan yang terpejam. Di dekat telinganya aku bisikan kata-kata.

“Makasih Mbak Wulan.”

“Mestinya aku yang makasih Ben,” Mbak Wulan balas membisik.

“Kamu baru pertama kali ini gituan ama perempuan ya Ben?”

“He eh Mbak,” jawabku lirih dengan sedikit malu.

“Ndak nyesel kamu kehilangan ngasih keperjakaanmu sama Mbak?”

“Sama sekali ndak Mbak. Kalau aku punya lima aku rela semuanya buat Mbak Wulan,” aku mulai berani menggoda.

“Huuu…. dasar bocah gemblung,” tukas Mbak Wulan dengan bahasanya yang medok.

“Cuci dulu yuk ah,” Mbak Wulan bangkit sambil tak lupa menghadiahkan kecupan di pipiku.

Kami pun berdua masuk kamar mandi sambil telanjang.

Selesai cuci di kamar mandi kami kembali berpakaian. Kami sempat makan mie ayam yang kebetulan lewat di depan rumah. Memang perut jadi lapar setelah “pendidikan jasmani” tadi. Sambil makan kami berbincang ngalor ngidul sambil bercanda seperti yang biasanya kami lakukan. Selesai makan, kami duduk di sofa.

“Mbak punya video yang kayak tadi ndak?”

“Kamu pengen nonton yang apa Ben?” jawab Mbak Wulan tanpa canggung lagi.

“Sembarang aja Mbak, yang menurut Mbak bagus aja.”

Mbak Wulan kemudian masuk kamarnya, aku dengar kunci lemari dibuka. Mbak Wulan keluar kamar sambil membawa satu kaset video.

“Ini aja Ben, Mbak juga belum nonton, ndak tahu bagus apa ndak.”

Mbak Wulan menghidupkan TV dan videonya. Kami duduk berdampingan sambil berdekapan. Ternyata yang diputar Mbak Wulan adalah BF barat. Isinya kebanyakan orang masturbasi, ada cewek dan cowok. Kami tonton saja apa yang ada sambil kami ngobrol-obrol. Aku mulai berani bertanya hal-hal yang pribadi-pribadi ama Mbak Wulan. Tentang seks juga aku tanyain. Mbak Wulan orangnya terbuka.

Dia cerita kalau Mas Har, suaminya, orangnya sangat kolot soal seks. Mereka melakukannya hampir tanpa variasi, bahkan oral seks seperti yang kami lakukan tadi, sudah tidak pernah mereka lakukan sejak beberapa tahun terakhir ini. Padahal mereka menikah sudah 5 thn. Kebalikannya, Mbak Wulan sangat menikmati variasi seks. Dia bahkan mengaku kalau sering masturbasi sendiri untuk melampiaskan fantasi seksnya. Makanya dia tadi begitu menikmatinya bersama aku.

Sambil omong-omong kami terus nonton video. Pas adegannya seorang cowok onani. Kayaknya Mbak Wulan sangat menyukainya. Dia sangat memperhatikan sang cowok mengocok penisnya sendiri.

“Mbak terangsang ya lihat cowok ngocok?”

“Iya Ben… Mbak paling terangsang lihat orang laki ngocok, kayaknya nikmat banget. Kamu pernah ngocok kan Ben?”

“Eh… iya Mbak kalau pas kepengen banget ya aku ngocok.”

Mbak Wulan terdiam, dia melanjutkan menikmati adegan si cowok. Sebetulnya aku kurang suka lihat adegan itu, tapi aku diam saja demi Mbak Wulan. Mendekati klimaksnya Mbak Wulan makin gelisah. Aku masih diam saja. Terus si cowok sampai klimaksnya, aku lirik Mbak Wulan sudah sangat terangsang, lidahnya menjilati bibirnya sendiri. Melihat reaksi Mbak Wulan aku jadi agak terangsang. Aku cium lembut bibir Mbak Wulan, dia pun membalasnya. Beberapa saat kami saling berciuman.

Adegan di video sudah berganti, sekarang giliran seorang cewek yang masturbasi. Tangannya meremas buah dadanya yang luar biasa gede, sambil tangan satunya menggosok kemaluannya. Sekarang giliran aku yang terangsang. Aku memang suka melihat adegan cewek masturbasi. Menurutku itu seksi sekali. Mataku tak lepas dari layar TV. Rupanya Mbak Wulan memperhatikan aku.

“Kamu juga suka lihat cewek masturbasi ya Ben?”

“Iya Mbak, paling suka. Merangsang banget.”

“Pernah lihat langsung cewek masturbasi Ben?”

“Pernah gimana Mbak? Lihat cewek telanjang aja baru tadi ama Mbak kok.”

“Kamu mau lihat Mbak masturbasi?”

“Ya pasti mau banget Mbak.”

“Tapi ada syaratnya Ben. Mbak mau masturbasi di depanmu tapi kamu juga mesti ngocok di depan Mbak.”

Sebetulnya aku agak risih ngocok di depan wanita. Belum pernah sih. Tapi demi melihat Mbak Wulan masturbasi langsung di depanku terpaksa aku harus jalani.

“Mau Mbak,” jawabku lirih.

Kami pun kembali masuk ke kamar. Tanpa sungkan Mbak Wulan menelanjangi aku sampai aku bugil. Penisku sudah berdiri menantang. Tanpa di suruh akupun mencopoti pakaian Mbak Wulan satu demi satu sampai Mbak Wulan juga bugil di hadapanku. Kami saling memandangi tubuh bugil kami. Kemudian kami saling berciuman sebentar.

Mbak Wulan lalu tidur telentang di kasur. aku duduk di tepi ranjang memperhatikannya. Mbak Wulan mulai membelai seluruh tubuhnya sendiri. Mula-mula diremasnya buah dadanya yang sudah tegak berdiri itu. Kemudian kakinya membuka memperlihatkan seluruh kewanitaannya di hadapanku. Jari tangan kanannya mulai menggosok-gosok klitorisnya. Sungguh merangsang. Tak terasa aku pun mulai membelai kemaluanku yang tegang sedari tadi. Mata Mbak Wulan tak lepas dari aksiku, mataku pun tak lepas dari gosokan jari lentik Mbak Wulan di liang kemaluannya. Kami melakukan ini beberapa saat.

Kemudian Mbak Wulan merubah posisinya. Sekarang dia nungging membelakangi aku. Kepalanya disandarkan ke bantal, miring sehingga tetap bisa melihat ke arahku. Pahanya agak dikangkangkan. Lubang kewanitaannya terlihat jelas dari tempatku. Jari tangan kirinya mulai lagi menggosok selangkangannya dari bawah. Wow sungguh pemandangan yang sangat indah. Jarinya digerakkan masuk keluar lubang senggamanya. Mulutnya tak henti berdesah.

“Oooh… ooohhh… Ben… oooohhh…. kocok terus Ben ohhhh seksi sekali Ben”.

Pantat Mbak Wulan bergerak meliuk mengikuti gerakan jari tangannya. Kocokanku di penisku juga makin cepat. Kami terus saling mengagumi apa yang kami lakukan sampai beberapa menit berlalu. Hanya desahan dan erangan kenikmatan yang terdengar.

Mbak Wulan bangkit berdiri, sekarang dia berdiri di tepi ranjang, kaki kirinya diangkat bertumpu di tepi ranjang. Aku pun bangkit berdiri berhadapan dengan Mbak Wulan, kaki kananku juga aku angkat di tepi ranjang. Jarak kami kira-kira semeter. Mbak Wulan melanjutkan gosokan jari tangan kanannya di seputar kemaluannya. Aku pun mengimbangi dengan kocokan cepat pada penisku.

Mataku tak pernah berkedip sedetik pun dari aksi Mbak Wulan yang meliuk kenikmatan. Mata Mbak Wulan tak lepas dari penisku yang sedang aku kocok dengan keras. Tubuh Mbak Wulan menggelinjang dan meliuk seirama gosokan jarinya di lubang kewanitannya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya yang kian padat. Aku makin tak tahan menyaksikan Mbak Wulan, kocokanku di batang kemaluanku makin cepat dan kuat. Akhirnya pertahananku jebol juga.

“Uuuhhhhhhhhh croooots croooots…”

Air kenikmatanku menetes membasahi lantai kamar. Melihat itu Mbak Wulan maju selangkah mendekat. Dia membungkuk sambil tetap menggosok-gosok selangkangannya dengan kencang. Seluruh batang penisku dimasukkan kedalam mulutnya dan disedotnya dengan kuat. Tubuh Mbak Wulan bergetar hebat, tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya. Hanya hisapan panjang dan kuat yang aku rasakan di kemaluanku. Kenikmatan yang tiada tara aku alami saat itu.

Gosokan jari-jari lentik Mbak Wulan di organ kewanitaannya mulai melemah. Pelan-pelan dicopotnya penisku dari mulutnya. Aku maju mendekat dan kami saling berpelukan. Bibir Mbak Wulan aku lumat habis dan Mbak Wulan membalas dengan tidak kalah hebatnya. Kami berciuman untuk beberapa saat.

“Makasih Ben… Mbak benar-benar puas.”

“Aku juga Mbak.”

Sejak saat itu kami melakukan aktivitas secara rutin, biar pun tidak bisa dikatakan terlalu sering. Mbak Wulan banyak “mengajari” aku gaya-gaya yang belum pernah aku bayangkan. Dia adalah mentorku dalam hal sex. Tidak hanya praktek, tapi Mbak Wulan juga mengajari aku bagaimana caranya membuat wanita terpuaskan secara teori. Biasanya kami lakukan di rumah Mbak Wulan kalau pas tidak ada orang atau kadang juga di kamar hotel.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: