Joki 3 in1

22 08 2009

Satu hari aku mengendarai mobilku memasuki daerah 3 in1, seperti biasa aku mencari 2 joki supaya bisa melaju di restricted zone ala Jakarta dengan aman. Pagi itu, mataku terpana karena ada satu joki perempuan yang laen dari yang laen. Pakeannya sih seperti yang laen, pake t shirt dan jeans, tapi toketnya itu lo, montok banget, wajahnya juga lumayan cantik. Sebelum disamber pengendara laen, segera aku menepi, dia masuk dan aku mengajak seorang anak kecil untuk melengkapi 3 orang di mobil. Mobil pun melaju.

“Namanya siapa?” aku membuka pembicaraan.

“Ayu, om”.

“Gak sekolah”, karena wajahnya masih ABG banget.

“Lepas SMU, gak ada kerjaan om, jadi ya sementara ngejoki dulu aja.

“Kok gak sekolah?”

“Gak ada dana om, om mau sekolahin Ayu”.

Aku hanya senyum saja. Tiba-tiba tangannya mengelus pahaku. Aku kaget juga, agresif banget ni prempuan.

“Waduh ramah ya”.

“Kok ramah, om”.

“Iya rajin menjamah”.

“Napa? Gak boleh ya om”.

“Boleh kok, jadi pengen ramah juga ni”.

“Ya elus aja om, Ayu gak apa kok”.

Aku gak perduli si anak yang dibangku belakang mendengar percakapan kita ini atau tidak, biar dia belajar cepet jadi gede, ha ha. Akupun mengelus pahanya, dia menghentikan aksinya biar tangannya gak bertabrakan dengan tanganku. Tanganku menjalar sampe ke selangkangannya, dia sedikit mengangkangkan pahanya, sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku. Karena tempatnya sempit aku gak bisa mengakses selangkangannya, walaupun dia sudah berusaha mengangkangkan pahanya.

“Sering dielus kalo lagi ngejoki ya”.

“Sering om”.

“Terus berlanjut gak”.

“Kadang berlanjut tapi seringnya enggak”.

“Kalo berlanjut kemana”.

“Ya tergantung yang bawa om. Om mo bawa Ayu kemana”.

Agresif juga jualannya ni prempuan.

“Kamu dah pengalaman ya, umur kamu belon 20 kan”.

“Ya abis gimana, si om nya yang ngajakin masa Ayu tolak sih. Tua amat om 20, masih dibawah itu kok om”.

Saat itu, mobil sudah sampe dibatas akhir 3 in1. Aku memberi tip pada anak kecil yang duduk dijok belakang, tapi Ayu tidak beranjak dari tempat duduknya.

“Kita mo kemana om?”.

“Kamu maunya kemana”.

“Om gak sibuk kan, beliin Ayu pakean ya om”.

Wah matre juga ni.

“Gak usah yang mahal om, deket sini kan ada dept store R, disitu murah kok om, lagi sale lagi”.

Memang dept store R tu posisinya untuk menengah ke bawah. Ya udah, gak matre-matre banget kok, pikirku, maka mobil mengarah ke dept store yang disebut Ayu. Sesampainya disana, dept store sepi, maklum pagi dan hari kerja lagi. Gak apa sih, malah enak belanjanya, gak desek-desekan. Ayu dengan agresifnya menggandeng tanganku menuju ke kounter pakean perempuan. Dia memilih jins, t shirt, asesoris.

“Gak beli daleman Yu”, bisikku.

“Boleh ya om”.

“Boleh aja, beli G-string Yu”.

“Ayu sekarang pake om. Beli yang model Ayu belon punya ya om”.

Dia menuju ke kounter pakean dalem perempuan. Aku hanya menunggu dari jauh, risih rasanya ikutan masuk ke kounter khusus perempuan itu. Ayu keliahatannya milih-milih beberapa, sepertinya dia belon punya. Setelah selesai aku membayar semua pakean yang dibelinya. Karena ada diskon yang lumayan besar, gak terlalu mahal lah pakean yang Ayu beli.

“Om, Ayu beli G-string yang ada lobangnya”.

“Jadi bisa langsung masuk ya Yu, gak usah dilepas lagi”.

“Ih om, tau aja”, katanya sambil tersenyum.

Cukup lama rupanya Ayu menghabiskan waktu untuk belanja pakean, karena saat kami keluar dept stor jam dah menunjukkan waktu untuk ngisi bahan bakar.

“Yu, cari makanan yuk”.

“Di basement ada food court, kesana aja om, mur mer’.

“Apaan tu”.

“Aah om kurang gaul neh, murah meriah”.

“Kamu sering kesini ya Yu, sampe apal semua tempat blanja dan makan”.

“Ya yang terjangkau buat Ayu kan disini om”.

“Kamu blanja sendiri?”

“Kadang ditemenin, tapi sering sendiri”.

“Blanjanya abis dapet tip besar ya Yu”.

“Om tau aja”.

Kami memilih makanan.

“Yu, pusing ni, jualannya banyak banget, Ayu yang milihin ya, aku ikut aja”.

“Iya deh, om duduk aja disini, pokoknya om akan makan apa juga yang Ayu beli ya”.

Aku mengeluarkan uang, tapi Ayu bilang

“Bayarnya nanti kok om, ditagih ma petugas kounternya”.

Ayu memilih makanan untuk kami berdua, tak lama dia kembali.

“Kamu sering jalan ma om-om ya Yu”.

“Ya yang Ayu jokiin aja sih om, juga gak semua yang Ayu jokiin ngajakin Ayu jalan”.

“Kamu suka ngelus-elus mereka juga”.

“La iyalah om, kalo gak agresif gitu mana om tertarik ma Ayu”.

“Aku mah dah tertarik ma kamu sejak kamu berdiri di pinggir jalan”.

“Masak sih om, mangnya om tertarik ma apanya Ayu”.

“Toket kamu Yu, montok banget, jadi pengen nyusu”.

“Ih si om, siang-siang dah genit”.

“Mangnya kalo genit gak bole siang ya Yu”.

“Boleh aja si om”.

Pembicaraan terhenti karena pesanan makanan mulai berdatangan.

“Kebanyakan gak om, om suka kan ma pilihan Ayu”.

“Suka banget Yu, orangnya aku juga suka kok”.

Ayu cuma tersenyum, selama makan kami bercanda aja sembari ngobrol kesana kemari. Aku membayar bill semua makanan dan minuman itu, selesai makan Ayu langsung ngajak jalan lagi.

“Om, abis makan gini Ayu suka ngantuk deh”.

“Jadi mo BBS nih”.

“Apaan tu om”.

“Katanya gaul, bobo bobo siang”.

“Terserah om deh, Ayu ngikut aja”.

“Ke apartmenku ya”.

“Siapa takut, Ayu blon pernah diajak ke apartmen deh om”.

“Biasanya kemana Yu”

“Seringnya ke motel om, short time aja”.

“Kan di motel bisa 6 jam”.

“Tapi paling banter 2 muahan om, kan si om nya masi ada acara laennya”.

“Kerja maksud kamu”.

“Kali”.

Mobil kuarahkan ke apartmenku. Sesampe di apartmen, Ayu langsung aja melepaskan t shirt dan jinsnya. Kayanya gak mo buang-buang waktu. Aku terpana melihatnya hanya memake daleman kaya gitu. Toketnya yang besar seperti mo melompat keluar dari bra nya yang kayanya kekecilan. Yang lebi menarik, Ayu pake G-string yang tipis menerawang, sehingga jembutnya yang lebat berbayang dan berhamburan keluar dari kiri-kanan dan bagian atas  G-stringnya.

“Wah kamu naspuin banget Yu, toket kamu besar, jembut kamu lebat gitu. Pasti napsunya besar ya Yu”.

“Om tau aja si, pengalaman ma ABG ya om”.

Aku bangun dalam keadaan telanjang. Aku segera memeluknya dan kutarik ke kamar. Di apartmen cuma ada kami berdua. Branya sebentar saja dah kulepas. Toketnya yang ranum menantang sekali dengan dua pentil yang mencuat. Aku mencium kecil pipi kanannya. Dia tersenyum, kemudian membalas mencium kecil bibirku. Aku pun meraba toketnya. Dia menutup mata merasakan kenikmatan tersebut, kemudian aku mencium bibirnya, sambil sesekali kuhisap bibir bawahnya dan lidahku menjelajah ke rongga giginya dan menghisap lidahnya. Dia benar-benar menikmatinya, kedua tanganku sudah berada pada dua toket ranumnya. Kuremas-remas sambil kupelintir kedua pentilnya dengan ibu jari dan telunjukku. Dia terkadang bergetar tubuhnya ketika kombinasi yang kulakukan yaitu meremas sambil memuntir pentilnya.

“Ah, om pinter deh bikin Ayu terangsang ya”, katanya.

Aku membaringkan tubuhnya diranjang dan langsung kutindih sambil terus meremas dan mencium bibirmya. Kontolku yang sudah ngaceng keras menggesek bibir luar nonoknya dan gerakan kami seperti orang yang sedang ngentot. Aku mendorong ke bawah, dia mendorong pula pantatnya keatas, Aku tarik pinggangku, dia pun demikian. Mukanya bersemu merah menahan napsunya. Langsung kujilati pentil yang memerah muda, karena napsu sambil aku menyedot pentilnya dengan keras. Dia menggigit bibir sendiri menahan napsunya yang kian memuncak. Kakinya sudah menyepak kesana kemari. Sambil menjilat, aku memperhatikan gundukan di bawah pusar yang mumbul dengan jembut yang menyembul keluar. Pinggulnya bergerak tak menentu,

“Hhh, om..hh enak”, erangnya.

Mendapat respon seperti itu tanganku mulai turun menjelajah dari toketnya ke arah perut, mengusap daerah pusar, kemudian turun lagi kebawah pusar yang ditumbuhi jembut, kemudian meraba daerah selangkangannya yang empuk. Aku tekan sekali-sekali sambil kuremas. Hal ini menyebabkan gerakan pinggulnya yang makin panas. Aku dapat melihat butiran-butiran keringat napsu yang menetes dari dahinya yang sedang membasahi rambut panjangnya. Kami langsung berpelukan sambil berciuman panjang.

Setelah pelukan plus ciuman aku rasa cukup, tanganku mulai bermain ke arah selangkangannya dengan mengusap lembut naik turun melewati belahan nonoknya. Dari luar cdnya aku bisa merasakan bahwa di dalam sudah lembab sekali, tentu banyak cairan yang sudah keluar dari nonoknya. Karena dia menggunakan G-string yang memang kurang bahan untuk menutupi nonoknya, jariku dengan mudahnya dapat masuk melalui samping selangkangan dan bermain di sana. Sesekali jariku bermain pada bibir nonoknya agak lama, dia meliukan pinggangnya bergoyang-goyang. Aku tetap tenang mengelus, sesekali seluruh jariku masuk dan meremas nonoknya dengan lembut. Hal ini membuat dia melenguh keras. Sambil tanganku meremas nonoknya, tangan kiriku masih terus aktif meremas toketnya baik yang kiri maupun yang kanan sambil mengisap bibir dan salah satu pentil yang nganggur. Jari tengahku mulai mengilik itilnya. Benar saja, itilnya sudah membesar dan basah. Dmenggeliat tak tentu arah sambil mendesah,

“Oh.. om enak sekali”.

“G-stringmu kubuka ya biar kamu nggak kegencet, liat tuh G-string kamu kekecilan nggak bisa nampung pantat kamu yang bulat besar sama nonok kamu yang tembem, lagian kamu juga udah basah”, jawabku sambil melepasnya, dan kali ini aku benar-benar melihat dia dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dengan keadaan napsu yang memuncak.

Bukan main indahnya bentuk nonoknya, dia mempunyai jembut yang lebat dan halus semua warna hitam. Jembutnya nampak rapih, karena dalam keadaan lurus tidak keriting seperti wanita kebanyakan. Aku mulai menyusuri ke arah pusarnya terus turun dan berhenti tepat dinonoknya. Dia sedikit jengah dan berkata,

“Oh, om jangan liat kayak gitu dong.. Ayu kan malu” sambil tangannya mencoba menutupi.

Tapi dengan cepat tanganku menahannya dan langsung bibirku mencium bibir luar nonoknya sambil kuhisap-hisap kedua belah bibir nonoknya. Dia benar-benar kelojotan,

“Ah om, oh.. enak banget, hmm.. oh iya bener gitu.. ohh..”

Aku menyapukan lidahku naik turun sambil tak lupa itilnya aku emut-emut dan didalam bibirku aku kedut-kedutkan. Lidahku mulai merangsek masuk ke dalam nonoknya yang memang benar-benar sudah basah.

Dalam keadaan tersebut kepalanya tersentak ke kiri dan ke kanan menahan luapan napsu. Aku bisa melihat dan merasakan dia hampir nyampe, dan aku mulai menuntun kontolku yang sudah siap tempur. Kedua belah kakinya aku lebarkan sambil tangan kiriku mempermainkan itilnya dengan ibu jari dan tangan kananku mengarahkan kontolku ke nonoknya. Ketika kontolku bertemu dengan nonoknya, kepala kontolku langsung seperti dihisap oleh nonoknya. Aku peluk dia sambil sedikit aku goyangkan tanpa mendorong masuk kontolku ke dalamnya. Cukup kepalanya saja yang terjepit di dalam nonoknya. Pinggulnya mengimbangi gerakanku yang naik turun menggesek nonoknya. Kepala kontolku benar-benar dijepit erat oleh nonoknya. Dia merem melek keenakan, dan tangannya memelukku dan mengimbangi gerakanku.

“Om, kontol om enak banget sih hangat kena nonok Ayu.”

Setelah kurang lebih tiga menit kami seperti itu, aku merasakan pantatnya naik lebih tinggi, seakan-akan ingin lebih merasakan kontolku. Maka akupun mulai sedikit demi sedikit mendorong lebih dalam, sehingga seluruh kontolku terbenam di dalam nonoknya. Dia mulai meracau lagi,

“Oh om..enak banget kontol om masuk semua ke dalem nonok Ayu.. hh… dorong lagi biar makin dalem masuknya..”

Sambil memompa aku bertanya, “Yu.. kontolku lagi ngapain nonok Ayu?”

“Hhh, skh.. hh kontol om lagi ngentotin nonok Ayu,” jawabnya sambil meremas pantatku gemas.

Aku pura-pura tidak mendengar ingin dia mengulang lagi kata katanya,

“Ha.. lagi ngapain?”

“Lagi dientot.. ohh nikmatnya..”

Aku bertanya lagi, “Emang Ayu mau aku entot?”

Dia menyahut, “Iya jadi ketagihan nih dientot sama om, abis kontol om mantap, nikmat, enak rasanya.”

Sambil begitu aku benar-benar merasakan jepitan-jepitan halus dari dinding nonoknya. Nonoknya mempunyai jepitan yang kuat, kontolku di dalam seperti dirayapi oleh jutaan semut, jadi seperti terkena setrum kecil, tapi hangat dengan sebentar-bentar nonok tersebut mencucup kembang kempis menyedot seluruh kontolku. Setelah lebih 20 menit, dia sudah hampir nyampe.

“Ayo om, Ayu udah mau nyampe, enjot terus, iya teken biar kena itil Ayu oh.. benar begitu.. aduh, enak bener ngentot ama om.”

Akupun merasakan intensitas kedutan nonoknya makin tinggi, dan sepertinya akupun sudah ingin ngecret juga.

“Oh, Yu.. enak banget nonokmu ada empot ayamnya, rasanya legit, rapet, peret, oh, aku mau ngecret, gimana nih didalam atau diluar,” kataku.

“Didalem aja om biar enak, Ayu juga mau ngerasain disemprot peju om, mungkin besok lusa dapet haid, jadi aman,” desahnya yang juga menahan napsu yang siap meledak beberapa saat lagi.

Akhirnya aku merasakan kontolku diremas kuat sekali oleh otot nonoknya, gerakan pinggulnya terhenti, sambil pantatnya ditinggikan, aku mengocok kontolku, lagi dia menggeram dan..

“Oh om Ayu nyampe, ouh.. ahh. nggh ahh enak.. enak hh..”

Aku pun tak tahan kontolku diremas dan disedot oleh nonoknya, dengan satu dan dua kali sentakan kontolku menyemprotkan peju kedalam nonoknya. Ketika aku menyemprotkan peju, nonoknya menyedot kencang hingga kami berdua merasakan nikmat senggama yang sangat indah. Puas aku selesai ngecret dan begitu juga dia, ketika aku ingin melepas kontolku, dia mencegahnya.

“Biarin di dalam dulu sampe ngecil dan keluar sendiri yah.”

Akhirnya kami berbaring menyamping dengan kontolku masih nancep di dalam nonoknya, masih dapat aku rasakan kedutan dalam nonoknya namun sudah melemah, dan kontolku mulai berangsur-angsur mengecil dan akhirnya lepas dengan sendirinya dari nonoknya.

Dia terkulai lemes dan bermandikan keringat. Aku berbaring disebelahnya. Dia meremes-remes kontolku yang berlumuran peju dan sudah lemes. Gak lama diremes-remes, napsuku timbul lagi, kontolku mulai ngaceng lagi.

“Om, Ayu dientot lagi dong, tuh kontolnya sudah ngaceng lagi. Om kuat banget seh, baru ngecret udah ngaceng lagi”.

Aku diam saja, dia berinisiatif menaiki tubuhku. Disodorkannya pentilnya ke mulutku, segera pentilnya kukenyot-kenyot, napsunya mulai memuncak lagi. Dia menggeser ke depan sehingga nonoknya berada didepan mulutku lagi.

“Om, jilat dong nonok Ayu, itilnya juga ya om”.

Aku mulai menjilati nonoknya dan itilnya kuhisap, kadang kugigit pelan,

“Aah, om, diemut aja om, jangan digigit”, desahnya menggelinjang.

Dia gak bisa menahan diri lagi. Segera nonoknya diarahkan ke kontolku yang sudah tegang berat, ditekannya sehingga kontolku kembali amblas di nonoknya. Dia mulai menggoyang pantatnya turun naik, mengocok kontolku dengan nonoknya. Aku memlintir pentilnya, dia mendesah-desah. Karena dia diatas maka dia yang pegang kendali, bibirku diciumnya dan aku menyambutnya dengan penuh napsu. Pantatnya makin cepat diturun naikkan.

Aku dengan gemas menggulingkannya sehingga kembali aku yang diatas, aku segera mengenjotkan kontolku keluar masuk nonoknya. Dia mengangkangkan pahanya lebar-lebar, menyambut enjotan kontolku, dia gak bisa nahan lebih lama lagi, tubuhnya makin sering menggelinjang dan nonoknya terasa berdenyut-denyut,

“Om, aah”.

Akhirnya dia nyampe lagi, dia tergolek lemes, tapi aku masih saja menggenjot nonoknya dengan cepat dan keras, dia mendesah-desah kenikmatan. Aku bisa membuat dia nyampe lagi sebelum akhirnya dengan satu enjotan yang keras kembali aku ngecretkan pejuku di nonoknya. Nikmatnya. Aku menciumnya,

“Yu, nikmat banget deh ngentot sama kamu”.

“Iya om, Ayu juga nikmat banget, kalo ada kesempatan Ayu mau kok dientot lagi sama om”.

“Bole aja Yu, ampe lupa nyobain G-string kamu yang belubang bawahnya”.

“Laen kali ya om, ntar Ayu pake deh tu G-string”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: