Permainan Kami

28 09 2009

Namaku Dina, 25 tahun. Kantorku adalah klien terbesar dari kantor tempat Andrew (26) bekerja. Kami bertemu pertama kali kemarin saat rapat di kantorku. Tak berapa lama setelah Andrew tiba kembali di kantornya, ia menelponku. Sekedar basa basi hingga pada ajakannya untuk sekedar jalan bareng.

“I am new in town. Would you show me around?” ujarnya kemarin.

Andrew seorang Singaporean yang ditugaskan di Jakarta untuk memimpin kantor cabang di Indonesia. Walaupun banyak menggunakan bahasa Inggris, diapun mengerti bahasa Indonesia terlebih karena ibunya adalah orang Indonesia.

“Nggak bisa malam ini, aku harus pergi” ujarku berbohong padahal aku tidak ada acara setelah jam kerja.

Aku masih ingin sendiri setelah hubunganku yang berjalan hampir 1,5 tahun terputus 2 minggu lalu.

“How about tomorrow. Nonton yuk”

“Wah aku mau nonton bareng temen-temen besok juga.”

Kalo yang ini benar karena kami sering keluar bareng. Apalagi hari Jumat. Namun kenyataannya pagi ini aku mendengar satu persatu teman kantorku membatalkan rencana kami. Akhirnya kutelpon Andrew tadi siang.

Dan sekarang, kami sudah berdiri menunggu mobil dinasnya.

“It was a great night” Andrew mencium tanganku.

“Thanks”

“I had a great time, too. Makasih juga ya” sahutku.

Kami baru saja menyelesaikan makan malam setelah nonton film. Sambil berdiri di pintu depan menanti supir kantor, Andrew menghisap rokoknya perlahan.

“Besok kan hari Sabtu dan aku tahu kamu tidak perlu masuk kerja. Mampir ke tempatku dulu, yuk.” ajaknya sambil menghembuskan asap rokok.

“Ok, why not” beberapa saat kemudian.

Kupikir di tempat kost pun tidak ada yang harus aku kerjakan. Sedangkan saat itu jam sudah menunjukkan lewat dari pukul 10 malam.

“Yah, kenapa ngga. Sudah saatnya aku nikmati kembali masa sendiriku” pikirku lagi.

Akhirnya kami meluncur ke rumah dinasnya. Menurutnya milik dari bos kantor cabang di Jakarta.

“Wowww.. what is this?” aku yang bukan peminum alkohol agak kaget setelah mencicipi minuman di depanku.

Yang menurut Andrew, minuman kesayangannya.

“Sweet martini” ujarnya dari balik bar mini.

“Like it?’

“Mmm.. maybe..” sahutku.

“This is for our night” ujarnya sambil menyentuh gelasku.

“Proost”

Aku tidak begitu mengerti apa maksudnya, tapi kuteguk juga minuman tersebut tanda mengiyakan ucapannya. Kuingatkan lagi diriku, aku ingin menikmati hidupku kembali. Aku tersenyum sendiri dengan pikiranku tadi. Tak terasa sambil berbincang sana kemari, aku malah sudah menghabiskan 3 gelas Sweet Martininya. Dan yang kurasakan kemudian, aku tidak ingin pulang ke kostku yang sepi.

“You can stay here if you like but I have only 1 bed” bisiknya di kupingku saat kami duduk di sofa ruang tengahnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Aku sudah tidak tahu lagi berapa kali Andrew mencium pipiku, bibirku, leherku. Walaupun hanya kecupan-kecupan kecil, aku sudah tidak peduli. Mungkin pengaruh alkohol, dan aku menikmatinya.

“I don’t care. Aku pingin tidur sekarang” jawabku sekenanya, kepalaku sudah pening, badanku agak lemas dan ucapanku sudah tidak karuan.

Rasanya ingin merebahkan badan. Andrew mengajakku ke kamarnya. Setelah mengganti baju kerjaku dengan kaos longgarnya, aku duduk di pinggiran tempat tidur. Sedangkan Andrew mengenakan celana pendek saja. Lampu kamar pun sudah dimatikan.

“What’s wrong, Din. Come here.” Andrew mengelus punggungku halus.

Tempat tidurnya terasa amat empuk, seakan memanggilku untuk segera merebahkan diri. Aku sebenarnya tidak yakin kalau bakalan tidur bersama, kukira Andrew akan tidur di sofa.

“Eh iya.. ” sahutku sambil membaringkan tubuh di sebelahnya.

Antara sadar dan tak sadar pikiranku masih sibuk sendiri.

“Duh, ngapain aku di sini ya.. aku baru kenal dia kemarin.. sekarang aku udah tidur bareng di sebelahnya”

Tubuhku masih memunggunginya. Namun usapan halusnya di punggung, membuat lupa akan kebimbanganku. Seakan teringat lagi akan keinginanku sendiri: aku ingin menikmati kebebasanku. Kubalikkan tubuhku. Mataku sudah terbiasa dengan gelapnya kamar dan dalam keremangan bisa kulihat matanya menatap mataku. Tubuhnya bergeser mendekat, meraihku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan betapa hangat dada bidangnya.

Wajah kami saling berdekatan. Aku sudah lupa lagi kenapa aku tadi bimbang. Kumajukan wajahku. Lembut diciumnya bibirku. Aku balas lembut juga. Bibirnya menarik bibirku perlahan. Tangannya memeluk tubuhku lebih erat. Lidahnya mencari-cari lidahku. Nafasnya terasa hangat di wajahku. Sudah tak kupikirkan lagi bau alkohol di antara kami yang masih menyengat. Kumainkan lidahku di antara lidahnya. Andrew semakin erat memelukku hingga aku bisa merasakan gumpalan di balik celana pendeknya.

“Agghh..” serunya sambil melepas pelukan kami.

Tangannya mengelus-elus celananya. Ada yang menyesakkan di sana.

“Sorry, Din” sambil tangannya mengambil tanganku dan diletakkannya di gumpalan itu.

“Wah.. udah bangun ya, Drew” Aku usap-usap halus celana pendeknya.

“Iya, sayang..” Andrew malah bangun dan membuka celana pendeknya.

Pantesan terasa banget, ngga pake celana dalam sih. Tubuh telanjangnya terlihat samar-samar berlutut di hadapanku. Tahu-tahu batang panjang dan besarnya sudah ada di hadapanku. Tanpa sadar aku terduduk dari posisi tidur.

“Suck it, Din” ujarnya sambil menyodorkan penisnya ke mulutku.

Walaupun masih ada rasa kaget, kuraih juga penisnya. Kuusap-usap halus.

“Isep, Din” pintanya lagi.

Kumasukan kepala penisnya ke mulutku pelan-pelan aku masuk keluarkan. Aku berikan ludah sedikit.

“Hhh.. nicee..” seru Andrew keenakan.

“Terus, Din”

Aku teruskan isapanku. Sambil kukocok sedikit demi sedikit. Kumasukan penisnya lebih dalam ke mulut. Sambil kuemut-emut. Sementara erangan Andrew semakin menjadi. Membuatku ingin memuaskannya. Emutan kupercepat, kocokan tanganku pun kukuatkan. Tangan kiriku memainkan buah zakarnya. Kuelus dengan halus, kuberikan sedikit cairan ludah dari penisnya.

Kulepaskan emutanku, kecupanku berpindah ke buah zakarnya. Kujilat perlahan, kumasukan lembut ke mulut. Sementara tangan kananku terus mengocok penis. Usapan tangannya kurasakan di rambut. Kukembalikan mulutku ke penis. Kumasukkan perlahan lagi. Mungkin birahinya sudah semakin memanas, karena kurasakan rambutku semakin acak dibuatnya. Kepalaku pun terasa didorongnya.

Badannya ikut bergoyang maju mundur memasukkan penisnya. Agak sakit sebenarnya sewaktu Andrew mendesak penisnya lebih dalam ke mulutku. Tapi kubiarkan, melihatnya keenakan menikmati blow job ini saja sudah membuatku senang. Semakin membuatku menyedot penisnya lebih keras. Lebih keras berulang-ulang. Apalagi erangannya semakin menjadi-jadi.. Remasan tangannya di rambutku pun semakin mengacak.

“Agghh.. Aku keluarr..” bersamaan dengan itu, semprotan cairan asin terasa di mulutku.

Badannya mengejang keras. Asin.. dengan rakus kunikmati. Kujilat-jilat seperti orang kelaparan. Kujilat terus seraya membersihkan tumpahan di sekitar penisnya.

Akhirnya Andrew terduduk lemas di sebelahku.

“Makasih, Din. You were great. Aku sampe ngga tahan,” ucapnya sambil menciumku.

Dibersihkannya sisa cairan mani di sekitar bibirku dengan jilatannya.

“You’re welcome. Aku juga suka lihat kamu tadi, Drew” akhirnya keluar juga beberapa kata.

Andrew menciumku lagi, kali ini sambil jari kanannya memasuki sela celana dalamku. Karena Andrew tidak punya celana pendek ukuran kecil, aku pakai kaosnya saja tanpa bra tentunya. Daripada nanti sesak tidurku.

“It’s wet, hon” kurasakan jarinya menyentuh celana dalamku.

“Kamu sih, bikin aku basah” sahutku manja.

Jarinya mencari pinggir celana dalamku.

“Suka?” wajahnya dekat sekali ke wajahku.

Memainkan hidungnya di hidungku, bikin nafasku semakin panas. Aku mengangguk dengan tatapan pasrah.

Andrew beranjak dan duduk di antara kedua kakiku. Tangannya kembali mengelus-elus CD ku yang mulai terasa lebih basah. Aku memejamkan mataku menikmati usapannya. Tangannya beranjak ke atas, membuka kaosku perlahan. Kemudian diciumnya pangkal dadaku. Perlahan, turun ke bawah ke bongkahan buah dadaku.

“Hmm..” gumamku mengikuti gerakan kecupannya.

Lidahnya mengelilingi buah dada kiriku perlahan, terus mengarah ke putingku yang sudah mengeras. Sementara tangannya meremas buah dadaku yang kanan. Semakin lama kecupannya semakin rakus, remasannya pun semakin menjadi-jadi. Diulangnya kecupan tadi di buah dada kananku. Lebih rakus dari yang pertama. Usapan tanganku di kepalanya pun semakin menjadi.

Aksinya terhenti sesaat, Andrew memandangku.

“Like it?” aku mengangguk.

“Bangun dikit, Din” tangannya mengajak aku bangun dari dudukku.

Walaupun aku agak bingung apa yang akan dilakukannya, kuikuti maunya.

“Berlutut aja, hadap ke dinding ya” kuikuti pintanya.

Kedua tanganku dibawa menempel ke dinding. Nafas alkoholnya kurasakan dibalik telingaku. Perlahan dikecupnya telinga kiriku. Lidahnya menelusuri daun telingaku. Bibirnya pun ikut menggigit perlahan.

“Ahh.. ” semakin membuatku panas.

Tangan kirinya merayap perlahan di perutku, sementara tangan kanannya bermain di telinga kananku. Kurasakan diriku terbuai dan terbawa irama permainannya.

Bibirnya beranjak dari balik telinga kiriku ke arah tengkuk. Dikecup dan dijilatnya perlahan. Wowww.. aku semakin tak bisa menahan gairah. Badanku pun bergoyang menahan birahi. Tangan kanannya kurasakan merayap menuruni tanganku ke arah belakang pundak. Kemudian ke depan, dielusnya perlahan buah dadaku. Penisnya yang kuyakin sudah membesar lagi, terasa menekan pantatku. Tangan kirinya sudah bermain lagi di cela celana dalamku. Kali ini lebih bernafsu.., mengusap.., menggosok.., menusuk.. gerakannya begitu cepat. Nafasku pun mulai tak teratur. Vaginaku pun sudah semakin basah.

“Masukin sayang, masukin.. aku ga tahan lagi” Tapi Andrew mengacuhkan pintaku.

Diputarnya badanku lagi, ditidurkannya aku melintang di tempat tidur besarnya. Dibukanya celana dalamku yang sudah basah dari tadi. Yang terjadi kemudian tidak pernah kubayangkan. Secepat kilat dibukanya laci kecil di sebelah tempat tidurnya, aku tidak begitu jelas apa lagi yang akan dilakukannya.

“Pernah pake ini sayang?” diulurkannya dildo ke hadapanku.

Sebuah penis buatan dengan ukuran panjang kurang lebih 16 cm berdiameter kurang lebih 4 cm lengkap dengan 2 buah zakarnya.

“Ngga, aku ga pernah. Mau diapain, Drew” tatapku dengan agak terbelalak.

“Rileks aja, Din. Ngga sakit kok. Percaya sama aku ya” aku mengangguk saja perlahan.

Kepalanya mengarah ke vaginaku. Dikecupnya vaginaku, dijilat dengan penuh kerakusan. Membuat aku melupakan keherananku. Bibir vaginaku dijilatnya bergantian. Kadang melingkar. Lidahnya dijulurkannya ke dalam lebih dalam, membuat aku menggelinjang akan sensasi yang diberikannya.

“Aghh.. enak, Drew.”

Tanganku ikut mengusap dan mendorong kepalanya. Minta lebih dalam memasukkan lidahnya.

Jilatannya beranjak dari vagina ke klitorisku. Gigitan kecil dan lembut membuat aku semakin menghentak-hentakkan pantatku. Bukannya kewalahan mengatasi gerakanku jilatannya malah semakin menjadi-jadi. Akupun tak tahan menahan kegilaannya.

“Agghh..” antara kaget dan rasa nikmat, kurasakan sesuatu memasuki lubang vaginaku.

Andrew mempercepat jilatannya di klitorisku. Tak mungkin penisnya. Dildo, pasti dildo.. pikirku menebak-nebak di antara rasa nikmat dan kekagetanku.

Kurasakan Andrew mendorong perlahan dan membiarkan 1/2 dildo menguak vaginaku. Sementara lidahnya masih terus menjilat klitoris. Mengalihkan pikiranku dari permainannya yang lain. Perlahan, akupun mulai menikmati. Melihat aku sudah tidak terkejut lagi dengan dildonya, Andrew memundurkan badannya. Melepas jilatannya. Menikmati pemandangan di depannya. Dikuaknya pahaku lebih lebar lagi. Dibiarkannya barang mainannya bertengger di lubangku.

“Terus, Drew.. please..” pintaku. Andrew tersenyum puas.

“Suka sayang?? ” kuanggukan kepalaku.

Andrew mendorong lebih dalam.

“Agghh..” luapan kenikmatan akan sensasi dildo membuat aku tak bisa menguasai suaraku.

Antara pekik dan nikmat. Gerakan perlahan Andrew, tetap pada iramanya. Semakin membuatku penasaran.

“Terus Drew, terus..”

Di dorongnya lebih dalam. Aku menggelinjang menahan sensasinya. Andrew semakin kegirangan melihat aku menikmati permainannya. Dikeluarkannya perlahan.

“Andrew..??” seperti tak rela dildo dikeluarkan, kurasakan vaginaku menjepit-jepit perlahan.

Ikut berontak meminta sensasi yang lebih.

“Drew please..” aku sudah lupa akan rasa anehku akan benda itu.

Yang kutahu benda itu memberikan kenikmatan yang tiada tara. Andrew memasukkan lagi. Masih 1/2 nya.

“Agghh..” nikmatnya.

Perlahan kemudian dikeluarkan lagi, dimasukkan lagi 1/2 nya. Begitu terus berulang-ulang membuat aku semakin penasaran.

“Andrewww.. semuanyaa.. pleasee..” pintaku di sela-sela nafasku yang semakin tak karuan.

Andrew tersenyum. Di dorongnya lebih dalam, bless.. masuk semua. Aku tersentak, tidak percaya Andrew melakukan langsung apa yang aku pinta. Kepalaku ikut terbangun. Tapi kemudian kurasakan kenikmatan yang luar biasa. Belum lagi kuresapi lebih lama, kurasakan Andrew menarik keluar kembali. Seperti kehilangan yang berharga aku sodorkan pantatku mengikuti gerakan keluarnya. Tapi kemudian dorongan keras ke arah dalam kembali seakan menjawab kelaparanku. Bless.. aku tersentak kembali.

“Gila kamu, Drew..” Andrew hanya tertawa menikmati permainannya.

Dorongannya berubah menjadi lebih cepat, membuat badanku melimbung kian kemari. Bukan hanya semakin cepat, tetapi juga semakin keras.. cepat dan keras terus menerus tanpa memberikan kesempatan bagiku menarik nafasku. Kulihat Andrew pun ikut menahan nafasnya. Tatapan matanya semakin garang, menikmati, mulutnyapun tak henti henti berucap.

“Fuck you.. fuck you..”

“Like that honey..?” posisi tubuhnya kemudian berubah, Andrew berlutut di sampingku.

Tangan kanannya sibuk dengan dildo di vaginaku, tangan kirinya mengocok penisnya yang sudah tegang. Ikut terbawa akan panasnya birahi.

Gerakan yang semakin cepat dan mengeras menguak lubang vaginaku membawa aku ke titik puncak. Hingga aku tak tahan lagi menahan luapan. Kedua pahaku kututup begitu cepatnya, mengejang, menahan, meluap..

“Aghh.. aku keluaarr..” kurasakan cairan membasahi dildo.

Andrew mengeluarkan mainannya dari vaginaku. Tangan kanannya berpindah mengocok penisnya. Kencang semakin kencang. Kulihat genggamannya pun semakin keras. Tubuhnya pun mengejang.

“AAgghh..” bersamaan dengan teriakan puasnya, air maninya muncrat beberapa kali ke perutku.

Pemandangan yang menakjubkan. Andrew terduduk lemas dan memandangku yang masih basah bersimbah keringat. Badanku masih bergelinjang sedikit, masih bereaksi atas kenikmatan tadi.

Kumainkan air maninya di perutku. Andrew memberikan kaosku, kubersihkan perutku.

“Huffhh..” aku menghembuskan nafas panjang.

“Enjoyed it?” Andrew menjilat dildonya dan menyodorkan ke hadapanku.

“Ya..” Aku mengangguk.

Kupegang mainan itu. Woowww.., kayak beneran, kukira keras, tapi hampir sama seperti aslinya.

Selanjutnya kami bercengkerama memainkan dildo. Memegang, menggosok-gosok, mengusap-usap.. Aku masih tidak percaya mainan itu bisa memuaskanku. Akhirnya kami tertidur tanpa melakukan persetubuhan sesungguhnya.

Untuk sesaat, aku merasa asing dengan keadaan sekitar. Mendengar dengkur halus di sebelah, baru kusadar, jika sedang bersama Andrew. Perlahan aku menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Bersihkan tubuhku sekenanya.

“Lapar’ ujarku dalam hati.

Kutengok jam weker di sebelah tempat tidur, sudah jam 10 lewat. Kaos longgar kemarin sudah kotor. Karena tak ada pilihan kupakai saja handuk dari kamar mandi, tanpa bra dan CD. Aku menuju dapur. Kudapati beberapa roti isi di meja kecil. Menurut Andrew, ada bibi yang selalu mengurus rumah dari Senin hingga Jumat. Jadi makanan selalu tersedia. Sambil membawa segelas air jeruk dan roti, aku berjalan ke teras belakang rumah. Taman belakangnya tertata rapih. Kubuka pintu dan melihat sekitar. Mmm.. ada kolam kecil di pojok kanan. Kurasa bukan kolam ikan karena warna kolamnya seperti kolam biasa.

Aku duduk di teras sambil menikmati sarapan kecil. Kembali terbayang apa yang terjadi malam sebelumnya. Tanpa sadar, aku meraba-raba paha hingga ke pangkal. Hingga handukku tersingkap, memperlihatkan bulu-bulu halusku. Mmm..

“Oh.. di sini rupanya” suara di ambang pintu memecahkan keheningan.

“Hey.. pagi..” ujarku.

Andrew duduk di sebelah dengan menggunakan celana pendek sambil menghisap rokoknya perlahan. Pasti cuma celana pendek aja deh.

“Pagi, non. Lagi ngapain?” liriknya ke tanganku di pangkal paha.

“Lagi asik sendiri” Aku hanya tersenyum lebar.

“Itu apa, Drew?” tanyaku sambil menunjuk ke kolam.

“Jacuzzi.”

“Oh..”

“Udah pernah belum duduk-duduk di jacuzzi?” tanyanya sambil menggigit roti dari genggaman tanganku kemudian diteguknya air jeruk dari gelasku.

“Belum” sahutku sambil menggeleng.

“Ya udah, kita basah-basahan aja di situ. Sekalian mandi” sahutnya ringan.

“Haa..? Di luar?”

“Ketutup semua kok. Yuk..” sahutnya sambil bangkit dan berjalan menuju jacuzzi.

Tidak lupa membawa asbak, rokok dan pemantiknya.

Aku melihat sekeliling. Memang benar, tertutup. Tidak ada rumah tetangga yang terlihat. Bagian belakang pun tertutup tembok tinggi. Hanya langit biru yang terlihat.

Andrew menekan salah satu tombol di tembok. Kemudian kulihat air di dalam kolam mulai bergelembung dan berbuih. Ditunggunya beberapa saat, mungkin menunggu temperatur yang tepat.. kemudian Andrew menaruh peralatan rokok di pinggir kolam dan membuka celana pendek.

“Bener kan, ga pake CD” ujarku dalam hati sambil tersenyum.

Sementara Andrew sudah duduk di dalam, aku berjalan mendekat. Hmm.. keliatannya asik juga. Kolamnya ngga terlalu kecil, mungkin cukup untuk 6 orang. Pinggirannya dibuat sedemikian rupa hingga bisa digunakan untuk duduk. Gelembung air keluar dari sisi dan dasar kolam. Kulihat tubuh telanjang Andrew, di antara gelembung air. Kumasukkan kaki ke air, penasaran.

“Mmm.. hangat.”

Kok ada sih yang mau punya jacuzzi di kota sepanas ini.

“Ngga kepanasan, Drew?”

“Ngga kok. Ini kan untuk relax. Ayo sini masuk.”

Yakin akan ucapannya, kutanggalkan handukku. Kulempar begitu saja ke rerumputan di sekitar kolam. Kutahu kalau mata Andrew mengikuti gerakanku. Tentu saja kunikmati diperhatikan begitu. Aku duduk di pinggir kolam. Kakiku masuk di air hangat dan badanku yang telanjang di luar. Sengaja aku agak berlama-lama di luar. Biar dia lebih puas memperhatikan tubuh telanjangku. Kuambil sedikit air dan kusiram perlahan ke paha. Ambil lagi sedikit kusiram di antara bulu-bulu halusku.. wahh.. anget..

Puas melihat Andrew semakin gerah.. perlahan kumasuki jacuzzi. Rasa hangat mulai menjalar ke tubuh. Aku duduk di sebelah Andrew. Kurasa airnya hanya sebatas bawah lipatan dada. Hanya karena bergelembung terus, kadang menutupi juga.

“Wow..” ujarku kemudian.

“Gimana.. enak kan” di tengah hembusan rokoknya

“Iya” kusandarkan tubuhku.

Asik juga.

Tangan kanan Andrew kurasakan mengusap-usap pahaku. Sedikit menggosok lubangku juga.

“Coba deh taruh punggung kamu di dekat situ” Andrew menunjuk sisi yang mengeluarkan banyak gelembung.

Kuikuti sarannya, bergerak perlahan ke kanan. Hati-hati kusandarkan punggung.

“Wahh..” benar-benar enak.

Dorongan gelembung kurasakan seperti pijatan di punggung. Membuat dadaku terdorong ke depan dan menonjolkan buah dada ke atas permukaan air.

“Uhh.. nice..” seruku.

Andrew menghembuskan asap rokoknya panjang, matanya tak lepas dari dadaku. Aku hanya tersenyum menatapnya. Tak berapa lama, rokoknya dimatikan dan mendekati.

“You look so gorgeous” tangannya mengusap-usap buah dadaku.

Aku yang masih menikmati pijatan di punggung, agak kelimpungan menerima usapannya.

“Mmmhh.. that’s nice too..” erangku tertahan.

Sambil berlutut di kolam, Andrew menundukkan tubuh dan mulai mencium dadaku. Menjilat puting dan menggigitnya perlahan.

“Hmm.. enak banget, Drew” aku menatapnya dengan pandangan birahi sambil menjilat bibir bawahku.

“Want more?” tanyanya.

“Iyah..” ujarku tertahan, seirama gigitan kecilnya di puting.

Kuusap-usap kepalanya.

Tangannya meremas halus dadaku sementara lidahnya tak henti-henti menjilat. Tangannya yang lain kurasakan mengusap pahaku. Kugeserkan badanku sedikit menjauh dari dorongan air. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa menjaga keseimbangan. Kuletakkan kedua tangan di pinggir kolam dan menengadahkan kepala keenakan.

“Drew, enak banget” ujarku tertahan.

Sungguh nikmat rasanya, apalagi di alam terbuka. Angin sepoi memberikan sensasi tersendiri.

Andrew semakin mempererat remasannya. Jarinya pun kurasakan sudah bermain di lubang vaginaku.

“Agghh..” kurasakan tusukan jarinya begitu nikmat.

Gerakannya pun hanya perlahan, seakan sangat menikmati apa yang sedang dilakukannya.

“Din.. I wanna fuck you” bisiknya di sela-sela.

“Pleasee..” bisikku tertahan di belantara kenikmatan.

Tusukan jarinya berubah menjadi cepat. Bahkan semakin cepat, menandakan birahinya pun mulai menanjak. Aku semakin tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Mengerang keenakan. Nafas Andrew pun terdengar semakin beringas. Semakin menambah gairahku. Semakin kubuka lebar kedua kakiku. Kecupannya naik ke leher. Mencari-cari bibirku yang tak henti mengerang. Diciumnya dengan nafsu. Lidahnya liar mencari lidahku. Hingga aku sukar bernafas.

“Fuck me, Drew” bisikku tak tahan lagi.

Andrew mengubah posisinya, kembali ke posisi semula. Duduk di tepi masih di dalam kolam, melebarkan tangannya mengajakku ke pangkuannya. Dibuka kakinya lebih lebar lagi. Diputar pantatku hingga membelakanginya. Kuikuti arahan tangannya. Perlahan diturunkan pinggangku sangat hati-hati.. bless..

“Agghh..” bersamaan kami mengerang.

Penisnya masuk ke lubangku. Andrew memelukku, mendekapku. Tak ada gerakan lain, yang kurasa ditekannya pinggulku lebih dalam. Wowww.. akhirnya.. kurasakan juga penisnya. Digigitnya halus punggungku. Sementara suara gelembung-gelembung buih terus menderu. Tak peduli. Kemudian diangkatnya pinggangku perlahan, sungguh mengasyikkan, merasakan gerakan penis yang perlahan. Cengkramannya yang kuat dan kokoh membuat posisiku tak bergeming.

“Aggh..” diletakkannya lagi perlahan.. dilakukannya beberapa kali, naik dan turun perlahan.. perlahan.. hingga gerakannya semakin cepat.

Cipratan air pun kurasakan di sela-sela benturan. Kuikuti gerakan tangannya yang mengangkat dan menurunkan pinggangku. Tiap kali diturunkan, kutekan lebih dalam. Ingin kurasakan seluruh penisnya masuk lebih dalam.

“Andrew..” tubuhku bergerak cepat seirama gerakan tangannya.

Kugigit bibirku menahan gelora. Kuremas-remas buah dadaku, mengalirkan birahi.

“Ya sayang..”

Keceprat.. keceprot.. prat.. prot.. bunyi air ikut memanaskan suasana.

Semakin cepat, semakin menaikkan birahi. Tangannya kemudian lepas dari pinggang mengambil kedua tanganku, membiarkan aku mengontrol. Kutekan telapak tangannya sebagai pijakan. Kini aku bisa menekan-nekan penisnya lebih dalam.

“Agghh.. Din.. enak..” erangnya.

Kugenjot tubuhku. Kuputar-putar pinggulku, menambah erangannya semakin keras. Kocok.. putar.. kocok.. putar.. gerakanku berirama. Keringat pun mulai membasahi muka dan tubuh, tak tahu apakah dari panasnya air ataukah dari panasnya birahi.

“Din.. ganti lagi yuk..” Andrew mendorongku perlahan berdiri tanpa mengeluarkan penisnya.

Dibawanya aku ke posisi doggy style, masih di dalam kolam. Lebih mudah baginya. Tanganku bersandar di pinggiran agak menunduk. Andrew membuka lebih lebar kakiku. Bagian belakangku terbentang di hadapannya. Perlahan lagi Andrew mulai menghujam penisnya. Mendorong lebih dalam.

“Agghh.. ” aku terlena kembali.

Kedua tangannya memegang erat pinggangku. Hujamannya terasa nikmat. Menghentakkan kembali birahi. Tiap kali Andrew mendorong penisnya, kudorong pantatku ke belakang. Eranganku pun semakin menjadi. Andrew mulai lagi dengan kejutannya. Tangan kirinya kurasa menahan perutku, tangan kanannya bermain-main di pantatku. Mengusap-usap. Meremas rakus. Hingga kemudian jarinya kurasa menuju lubang anusku. Diputar-putar sekeliling lubang. Aku ingin protes tapi genjotan di vaginaku semakin membuatku terbuai. Tak ingin kehilangan kenikmatan yang ada.

Andrew semakin terbawa gairahnya, kurasakan jarinya yang basah mulai menusuk-nusuk anusku. Semakin lama semakin dalam. Aku tersentak sesaat. Jarinya terhenti di dalam, tak bergerak lagi. Menanti apa reaksiku. Yang kurasakan.. aneh. Sensasi yang tak terungkapkan. Aneh tapi aku menikmatinya. Jarinya mulai bergerak lagi. Lebih dalam dan semakin dalam. Kemudian bukan hanya masuk, tapi juga dikeluar masukkan. Dan iramanya pun berubah. Kali ini lebih cepat. Seirama sodokannya di vaginaku. Bahkan kurasa bukan hanya satu jari, bertambah menjadi dua. Aku semakin menggelinjang menerima 2 sensasi. Jari kirinya pun berpindah dari perut ke klitorisku. Mengusap-usap nakal. Birahiku pun semakin tak karuan bergulat hendak meledak. Andrew semakin menambah kecepatan. Semakin beringas. Semakin tak terkendali.

“Andrew.. aku hampirr..”

“Me too..”

Andrew memompaku lebih cepat, lebih garang. Nafas nafsunya pun semakin menjadi-jadi. Suara benturan kulit kami pun lebih terdengar. Suasana semakin panas. Semakin penuh dengan gairah birahi. Terbang ke puncak yang sangat panas dan membara.

“Andrew.. aghh..” akhirnya ledakan nafsuku pun tak terbendung.

Bersamaan dengan meracaunya tusukan di anusku. Cairanku membanjiri lubang vagina.

“Agghh.. I’m cuming..” dicabut penisnya.

Diarahkannya ke pinggiran kolam. Tubuhnya terdorong seirama semprotan mani. Wowww..

Sementara aku terduduk lunglai di pinggiran kolam. Mengatur napasku. Rasa nikmat memenuhi pikiranku. Nikmat, nikmat sekali. Kemudian kuraih penisnya. Kujilat dan kubersihkan bekas-bekas mani di sekeliling penis.

Ahh.. berbasah-basah di pagi hari. Di udara segar lagi. Sungguh mengasikkan. Perlahan kami duduk kembali. Berdampingan. Kupandang Andrew yang bersandar dan masih terbawa kenikmatan.

“That was great” tangannya mengusap pipiku perlahan dan menuju bibirku.

Kucium halus jari-jarinya.

“Yah.. it was” ujarku tersenyum.

Kupegang tangannya.

“Nakal ya, masuk-masuk ke anus” ujarku lagi sambil memukul halus jari-jarinya.

“Tapi suka kan..” senyumannya sambil mencium pipiku.

Aku mengiyakan malu. Masih kurasakan sensasi baru di lubang anusku. Bahkan sensasi nikmat di lubang vaginaku pun masih tersisa. Tubuhku masih sedikit bergelinjang. Keenakan.

Aku bersandar. Kuselonjorkan badanku hingga airnya menutupi sampai ke pundak. Mmm.. nikmatnya lebih terasa. Sesaat kemudian, yang ada hanyalah suara burung berkicau, buih-buih air yang berkelanjutan dan hampir saja aku tertidur. Benar-benar rileks. Kututup mataku menikmati.

Entah berapa lama aku terhanyut. Mungkin lebih dari 1/2 jam. Lupa akan sekeliling. Kubuka mata, ternyata, Andrew sedang menatapku sambil menghisap rokoknya. Aku ga dengar dia menyalakan rokoknya tadi.

“Hi sweetie..”

“Hi.. Kok ngga bangunin, Drew?”

“Why? You look so relax”

“Aku haus..” sambil menegakkan dudukku.

“Aku ambilkan air ya” ujarnya sambil beranjak.

Kupandangi tubuh telanjangnya keluar kolam, mengambil celana pendeknya dan menghilang di balik pintu. Aku juga ingin keluar. Sudah terlalu lama berendam. Ujung-ujung jariku sudah mulai mengeriput. Aku beranjak keluar menuju handukku di rerumputan. Brr.. beda temperatur di dalam dan di luar kolam, menerpa tubuhku. Kulap badanku, rambutku, hingga kering. Kukenakan kembali handuk dan berjalan menuju ke dalam rumah.

“Udahan?” tanya Andrew yang sedang berjalan menuju ke pintu.

“Iyah, lama-lama di air ga enak juga”

“Duduk di sofa yuk. Aku ambil kimono dulu” mungkin dilihatnya tubuhku agak menggigil.

Andrew menghilang ke kamar dan aku jatuhkan diri di sofa empuk. Andrew muncul lagi dengan berkimono dan memberikan satu kimono lagi untukku. Agak kebesaran, tapi lumayan menghangatkan badan.

Kami duduk santai sambil ngobrol ringan. Beberapa potong roti dari meja dapurpun ikut menemani.

“Drew.. mm..biasa anal ya?” akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Sudah mengganjal dari tadi.

Andrew hanya tersenyum.

“Kamu belum pernah?”

“Itu tadi yang pertama kali”

“Trus??” tanyanya ingin tahu.

Aku hanya tersenyum.

“Enak kan..?” lanjutnya kemudian.

“Ingin rasa yang beneran?” sambungnya lagi.

Aku terbelalak.

“Beneran? Pake itu kamu? Ngga ah.. takut” aku menggeleng.

“Coba aja dulu.. ” ujarnya santai.

“Coba dulu pake dildo..” matanya menyelidik.

“Ihh..” tanpa sadar aku mencubit lengannya.

“Auhh.. kok nyubit” ujarnya mengelus-elus bekas cubitan

“Abis kamu ada-ada aja sih”

Andrew sangat tahu bagaimana mewujudkan keinginannya. Siang itu kami terbuai lagi dengan panasnya birahi. Kali ini di sofanya yang empuk. Dari kecupan hangat, hingga liar, membara dan akhirnya.. dildo pun masuk ke lubang anusku. Bahkan penisnya. Sungguh pengalaman yang fantastis.. tak bisa kuungkapkan. Nikmat, sungguh nikmat.

Tamat


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: